• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF ii - Hang Tuah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF ii - Hang Tuah"

Copied!
223
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

(3)

iii

KIAT SUKSES BERWIRAUSAHA

Dr. Beni Agus Setiono, S.Sos., M.Si

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, dengan rahmat dan izinNya, buku “Kiat Sukses Berwirausaha” untuk menunjang kegiatan pembelajaran dapat terselesaikan. mata kuliah kewirausahaan, merupakan salah satu matakuliah wajib bagi mahasiswa. Mata kuliah kewirausahaan diharapkan akan memberikan bekal keilmuan dan kemampuan kepada mahasiswa dalam rangka mengantisipasi perkembangan global khususnya terkait dengan bidang entrepreneurship. Kekhasan dari buku

“Kiat Sukses Berwirausaha” ini berisikan bahasan bagaimana kiat menjadi wirausaha yang sukses dan tangguh, dimana untuk menjadi wirausaha sukses, dibutuhkan kesabaran dan kerja keras.

Menjadi wirausaha tangguh, maka harus memiliki mental kuat dan tahan banting, memperluas pengetahuan, memperluas dan membina jaringan, berfikir untuk memulai bisnis kecil dan sederhana, kreatif dan inovatif, memiliki sikap positif, berani berjuang dan berkorban.

Dengan mempelajari buku “Kiat Sukses Berwirausaha”

penulis berharap pembaca dapat memahami seluk-beluk kewirausahaan dengan baik, meningkatkan ketertarikan menjadi wirausahawan, meningkatkan motivasi untuk menjadi wirausahawan, memanfaatkan dan mengembangkan potensi

(5)

v

setiap orang secara maksimal serta mampu menyebarkan dan membudayakan semangat wirausaha dalam masyarakat.

Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis, bila ada kritik dan saran dari pembaca akan kami terima dengan senang hati. Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada orang tua, istri, dan anak-anak tercinta atas dukungannya, seterusnya terima kasih untuk semua pihak yang telah memberikan dukungan baik berupa moril maupun materil agar terwujudnya buku ini. Semoga apa yang telah kami terima dari semua pihak, mudah-mudahan mendapat imbalan dari Allah Subhanahuwataala dan menjadi amal baik bagi kita semua, amin yarobbil’alamin.

Surabaya, April 2020 Penulis

(6)

vi

DAFTAR ISI

Hal

BAB I

KONSEP KEWIRAUSAHAAN

1.1 Pengertian Kewirausahaan ………... ... 1

1.2 Pengertian Wirausaha …………...……… ... 5

1.3 Kreativitas dan Inovasi dala Kewirausahaan ... 23

1.4 Pola Dasar Wirausaha………... ... 32

BAB II KARAKTER KEWIRAUSAHAAN

2.1 Pengertian Kewirausahaan ………... ... 40

2.2 Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Wirausaha …………...……… ... 62

2.3 Definisi Sukses ... 65

BAB III KARAKTER WIRAUSAHA SUKSES

3.1 Menemukan Peluang Usaha ………... ... 71

3.2 Memilih Lapangan Usaha dan Mengembangkan Gagasan Usaha ... 23

3.3 Ketegasan Dalam Aspek Produksi ………... 76

3.4 Biaya Produksi ………... ... 93

3.5 Proses Produksi ………... ... 95

3.6 Pengendalian Produksi ... 96

BAB IV KOMUNIKASI DAN INTERPERSONAL SKILL

4.1 Pengertian Komunikasi ………... ... 98

4.2 Komponen Komunikasi ... 99

4.3 Tujuan dan Fungsi Komunikasi …… ... 106

4.4 Kegunaan Mempelajari Ilmu Komunikasi ………... 107

4.5 Komunikasi Dalam Organisasi ………... . 109

(7)

vii

BAB V

KEPEMIMPINAN

5.1 Pengertian Kepemimpinan ………... ... 123

5.2 Peran Kepemimpinan Dalam Manajemen ... 124

5.3 Gaya Kepemimpinan …… ... 128

5.4 Syarat-syarat Kepemimpinan ... 135

5.5 Pemimpin Formal dan Informal ………... ... 136

5.6 Kepala Dan Pemimpin ………... ... 138

5.7 Kasus Kepemimpinan Dalam Tim ... 140

5.8. Keterampilan Dasar Kepemimpinan ... 143

BAB VI MOTIVASI

6.1 Konsep Motivasi ………... ... 150

6.2 Teori Motivasi ... 156

6.3 Motivasi dalam Kaitannya dengan Kepuasan Kerja …… ... 162

6.4 Teori Proses Motivasi Kerja ... 165

BAB VII PEMASARAN

7.1 Definisi Pemasaran ………... ... 173

7.2 Tugas, Fungsi dan Orientasi Pemasaran ... 176

7.3 Strategi Pemasaran …… ... 180

5.4 Teori Proses Motivasi Kerja ... 165

DAFTAR PUSTAKA

(8)

1

BAB I

KONSEP KEWIRAUSAHAAN

1.1 Pengertian Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan (entrepreneur) pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18 oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent who buys means of production at certain prices in order to combine them”. Adapun makna secara etimologis wirausaha/wiraswasta berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari tiga suku kata : “wira“,

“swa“, dan “sta“. Wira berarti manusia unggul, teladan, tangguh, berbudi luhur, berjiwa besar, berani, pahlawan, pionir, pendekar/pejuang kemajuan, memiliki keagungan watak. Swa berarti sendiri, dan Sta berarti berdiri. Istilah kewirausahaan, pada dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur, yang dalam bahasa Inggris di kenal dengan between taker atau go between.

Pada abad pertengahan istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seseorang actor yang memimpin proyek produksi.

Konsep wirausaha secara lengkap dikemukakan oleh Josep Schumpeter, yaitu sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah

(9)

2

bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru atau pun yang telah ada. Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sedangkan proses kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi. Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun memiliki substansi yang agak berbeda. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru atau hubungan-hubungan baru antar unsur, data, variabel yang sudah ada sebelumnya.

Definisi Kewirausahaan menurut Instruksi Presiden Republik Indonesia (INPRES) No. 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Me-masyarakat-kan dan Membudayakan Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan/atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu

(10)

3

sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugastugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan.

Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya.

Kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu, kewirausahan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya, kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.

Kewirausahaan adalah proses kemanusiaan (human process) yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber, mengelola sehingga peluang itu terwujud menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan laba atau nilai untuk jangka waktu yang lama.

Definisi tersebut menitikberatkan kepada aspek kreativitas dan

(11)

4

inovasi, karena dengan sifat kreativitas dan inovatip seseorang dapat menemukan peluang.

Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi- kombinasi baru atau hubungan-hubungan baru antar unsur, data, variabel yang sudah ada sebelumnya.

Ciri-ciri orang kreatif adalah : 1. Mandiri.

2. Terbuka terhadap yang baru.

3. Percaya diri.

4. Berani mengambil resiko.

5. Melihat sesuatu dengan tidak biasa.

6. Memiliki rasa ingin tahu yang besar.

7. Dapat menerima perbedaan.

8. Objektif dalam berpikir dan bertindak.

Terdapat beberapa contoh-contoh kreativitas, yaitu : 1. Kreativitas ide

2. Kreativitas material 3. Kreativitas spontan 4. Kreativitas kejadian 5. Kreativitas organisasi 6. Kreativitas hubungan 7. Kreativitas dari hati.

Kegiatan yang bersifat kewirausahaan misalnya :

1. Menghasilkan produk baru dengan cara baru pula.

(12)

5

2. Menemukan peluang pasar baru dengan menghasilkan produk baru pula.

3. Mengkombinasikan faktor-faktor produksi dengan cara baru.

4. Mendukung budaya yang mendorong eksperimen yang kreatif.

5. Mendorong perilaku eksperimen dll.

Terdapat beberapa karakteristik dalam pola dasar kewirausahaan, diantaranya :

1. Sikap mental.

2. Kepemimpinan.

3. Tata laksana.

4. Keterampilan.

1.2 Pengertian Wirausaha

Wirausaha adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjual kemudian dengan harga yang tidak pasti (Cantillon). Wirausaha adalah orang yang memindahkan sumber-sumber ekonomi dari daerah dengan produktivitas rendah ke daerah dengan produktivitas dan hasil lebih tinggi (J.B Say). Wirausaha adalah orang yang menciptakan cara baru dalam mengorganisasikan proses produksi (Schumpeter).

Tugas Wirausaha adalah melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sekadar dengan cara yang lebih baik.

(13)

6

Sifat kepribadian wirausaha dipelajari guna mengetahui karakteristik perorangan yang membedakan seorang wirausaha dan bukan wirausaha. David McCleland mengindikasikan ada korelasi positif antara tingkah laku orang yang memiliki motif prestasi tinggi dengan tingkah laku wirausaha. Karakteristik orang-orang yang mempunyai motif prestasi tinggi adalah:

a. Memilih resiko “moderate” Dalam tindakannya dia memilih melakukan sesuatu yang ada tantangannya, namun dengan cukup kemungkinan untuk berhasil.

b. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan- perbuatan. Artinya kecil sekali kecenderungan untuk mencari “kambing hitam” atas kegagalan atau kesalahan yang dilakukannya.

c. Mencari umpan balik (feed back) tentang perbuatan- perbuatannya.

d. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru.

Upaya untuk mengungkapkan karakteristik utama wirausaha juga dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan teori letak kendali (locus of control) yang dikemukakan oleh J.B.

Rotter. Teori letak kendali menggambarkan bagaimana meletakkan sebab dari suatu kejadian dalam hidupnya. Apakah sebab kejadian tersebut oleh faktor dalam dirinya dan dalam lingkup kendalinya atau faktor diluar kendalinya.

Dua kategori letak kendali menurut Rotter yaitu:

(14)

7

Internal, Orang yang beranggapan bahwa dirinya mempunyai kendali atas apa yang akan dicapainya. Karakteristik ini sejalan dengan karakteristik wirausaha seperti lebih cepat mau menerima pembaharuan (inovasi).

Eksternal, Orang yang beranggapan keberhasilan tidak semata tergantung pada usaha seseorang, melainkan juga oleh keberuntungan, nasib, atau ketergantungan pada pihak lain, karena adanya kekuatan besar disekeliling seseorang.

Management Systems International menyebutkan karakteristik pribadi wirausaha (personal entrepreneurial characteristics) sebagai berikut:

1. Mencari peluang 2. Keuletan

3. Tanggungjawab terhadap pekerjaan 4. Tuntutan atas kualitas dan efisiensi 5. Pengambilan resiko

6. Menetapkan sasaran 7. Mencari informasi

8. Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya 9. Persuasi dan jejaring/koneksi

10. Percaya diri

Dalam pandangan Schumpeter, seorang wirausaha adalah inovator. Hanya seseorang yang sedang melakukan inovasi yang dapat disebut sebagai wirausaha. Mereka yang tidak lagi melakukan inovasi, walaupun pernah, tidak dapat lagi dianggap

(15)

8

sebagai wirausaha. Wirausaha bukanlah jabatan, melainkan suatu peran.

Berdasarkan pengertian tentang wirausaha yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan bahwa peran wirausaha yang utama bagi lingkungannya adalah sebagai berikut:

a. Memperbaharui dengan “merusak secara kreatif”.

Dengan keberaniannya melihat dan mengubah apa yang sudah dianggap mapan, rutin, dan memuaskan.

b. Inovator, Menghadirkan hal yang baru di masyarakat.

c. Mengambil dan memperhitungkan resiko d. Mencari peluang dan memanfaatkannya e. Menciptakan organisasi baru

Berikut ini rincian mitos kewirausahaan yang dikumpulkan oleh Michael Robert dan Alan Weiss, dan sejumlah bukti yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang menetang mitos tersebut.

a. Wirausaha adalah pengambil resiko besar.

Wirausaha bukan pengambil resiko besar, melainkan seorang yang menghitung resiko yang akan diambilnya.

Tantangan ada namun dengan upaya akan dapat dicapai.

Wirausaha bijaksana dalam memilih resiko dan bukan penjudi.

b. Wirausaha adalah pemilik usaha, bukan pegawai.

Yang mengubah restoran “fast food” McDonald’s menjadi raja dibidang “franchising” adalah Ray Kroc, pimpinan perusahaan, dan bukan pemiliknya yaitu

(16)

9

McDonald bersaudara. Intrepreneur di dalam perusahaan bukanlah pemilik.

c. Inovasi hanya di perusahaan kecil.

Inovasi dilakukan dengan ketrampilan atau keahlian dan bukan pembawaan atau milik budaya tertentu. Ia dilakukan dimana-mana. Musuh inovasi adalah birokrasi yang terdapat di perusahaan besar ataupun kecil.

d. Inovasi adalah gagasan besar.

Sebagian keberhasilan besar dimulai dari gagasan baru yang sederhana, misalnya “walkman” muncul sebagai produk baru yang sukses berasal dari keinginan tetap mendengar musik secara pribadi selagi berolahraga.

e. Wirausaha adalah pencetus gagasan saja.

Seorang inovator terjun langsung menerapkan gagasannya.

f. Wirausaha menyediakan sarananya termasuk modal sendiri.

Wirausaha tidak sama dengan kapitalis, Wirausaha menggunakan sarana yang ada dengan cara baru.

g. Inovasi datang mencuat bagai kilat dari seorang genius.

Ray Kroc memperbaharui bisnis hamburger dengan mengadakan pengamatan terus-menerus atas restoran McDonald’s. Fred Smith menghasilkan “undergraduate thesis” model distribusi barang kiriman kecil (parcel) dari pengamatan di kantor pos dan perusahaan

(17)

10

pengiriman UPS. Thesisnya dinilai C- oleh dosennya, namun gagasannya setelah diterapkan menjadi perusahaan Federal Express yang sangat sukses.

h. Wirausaha dilahirkan dan kewirausahaan tidak dapat dilatihkan.

Seperti ketrampilan dokter atau pengacara, ketrampilan kewirausahaan dapat dilatihkan.

Peran wirausaha pendiri adalah melahirkan suatu organisasi baru, baik sendiri maupun bersama suatu kelompok. Setelah lahir maka wirausaha pendiri melakukan upaya pengembangan organisasi hingga sampai organisasi tidak lagi tergantung pada pendiri. Pelaksanaan organisasi memerlukan manajemen yang menguatkan organisasi dengan sistem manajemen dan mengurangi ketidak-pastian dan ketergantungan pada faktor subjektivitas pendiri.

Dalam diagram berikut ini diperlihatkan bagaimana orientasi manajemen, yang menciptakan birokrasi, yang berbeda dengan orientasi kewirausahaan, yang menciptakan inovasi:

(18)

11

GAMBAR 1 : MANAJEMEN VS KEWIRAUSAHAAN

MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN

Tertib, Teratur, Dinamis, Baru,

Stabil Melawan tradisi

Adil Unik, dikhususkan

Pasti Beresiko, tidak sama

Dengan yang lalu

BIROKRASI INOVASI

Berdasarkan gambar 1 diatas, manajemen dan kewirausahaan diperlukan dalam organisasi yang ingin sukses.

Dalam tabel berikut dapat digambarkan bagaimana penggabungannya untuk dapat menghasilkan organisasi yang ideal.

GAMBAR 2 : MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN (Matrix Posisi Keunggulan & Permasalahan Strategis)

MANAJEMEN (Optimasi &

Penggunaan BAIK Sumber Daya Yang Ada) KURANG

KURANG BAIK

KEWIRAUSAHAAN

(Inovasi dan Pemanfaatan Kesempatan Usaha Baru) MASALAH

JANGKA PANJANG TIDAK LAYAK UNTUK TERUS

IDEAL SIAP DIAMBIL

ALIH

(19)

12

Pengembangan sistem dan budaya organisasi harus dapat menampung manajemen yang baik dan juga adanya kewirausahaan. Salah satu pola yang ada untuk menampung kewirausahaan di dalam organisasi mapan adalah wirausaha-intra (intrapreneurs). Pengembangan kewirausahaan di dalam perusahaan dapat terjadi pada tiga tingkatan, yaitu:

a. Individual (intrapreneurs / product champions) b. Kelompok kerja (entrepreneural team / skunworks) c. Oganisasi / Perusahaan (entrepreneural organization) Di Indonesia tidak jarang ditemui perusahaan yang berada dalam kotak “Tidak Layak Untuk Terus” yaitu baik manajemen dan kewirausahaan yang dimilikinya belum cukup menyiapkan manajemennya dan sudah “meninggalkan” perusahaan untuk membangun bisnis baru. Wirausaha pendiri dapat dianggap sempurna bila organisasi yang didirikannya dapat mencapai kotak

“ideal” yaitu baik manajemennya dan kewirausahaan organisasinya dalam taraf “baik”.

Wirausaha merupakan pelaku dari kewirausahaan, yaitu orang yang memiliki kreativitas dan inovatif sehingga mampu menggali dan menemukan peluang dan mewujudkan menjadi usaha yang menghasilkan nilai/laba. Kegiatan menemukan sampai mewujudkan peluang menjadi usaha yang menghasilkan disebut proses kewirausahaan. Kegiatan wirausaha adalah menciptakan barang jasa baru, proses produksi baru, organisasi (manajemen) baru, bahan baku baru, pasar baru. Hasil-hasil dari

(20)

13

kegiatan-kegiatan wirausaha tersebut menciptakan nilai atau kemampu labaan bagi perusahaan. Kemampulabaan menciptakan nilai tersebut karena seorang wirausaha memiliki sifat-sifat kretaif dan inovatif.

Peranan Wirausaha :

a. Meningkatkan standar / kualitas hidup manusia.

b. Sebagai motor penggerak dalam pembangunan nasional.

c. Menciptakan lapangan kerja baru yang dapat mengatasi pengangguran.

Karakteristik Wirausaha : a. Pekerja keras.

b. Disiplin.

c. Mandiri d. Realitas

e. Prestatif (selalu ingin maju) f. Komitmen tinggi

g. Tajam naluri bisnisnya.

h. Cepat melihat peluang usaha i. Kretaif

j. Ulet dan siap pada tantangan k. Ingin mencapai sesuatu.

Karakteristik yang khas dari wirausaha thetos enterprenerial menurut Moeljanto Tjokrowinoto (1996) adalah:

a. Kejelian melihat peluang untuk memperoleh keuntungan.

(21)

14 b. Selalu mencari perubahan

c. Kemampuan untuk mendefinisikan resiko

d. Kemampuan untuk mengalihkan sunber dari kegiatan prodiktifitas.

Kegiatan menemukan sampai mewujudkan peluang menjadi usaha yang menghasilkan disebut proses kewirausahaan.

Dalam kegiatan mewujudkan peluang tersebut seorang wirausaha diharuskan mempunyai :

a. Memiliki komitmen dan determinasi serta ketekunan.

b. Mengarah kepada pencapaian dan pertumbuhan.

c. Berorientasi kepada sasaran dan peluang.

d. Mengambil inisiatif dan pertanggung jawaban personal.

e. Tidak kenal menyerah dalam memecahkan masalah.

f. Realistis dan memiliki gaya humor.

g. Memanfaatkan dan selalu mencari umpan balik.

h. Dapat mengendalikan permasalahan-permasalahan di dalam perusahaan.

i. Mampu mengelola dan menghitung resiko.

j. Tidak berorientasi kepada status.

k. Memilki integritas dan dapat dipercaya

1.2.1 Peran Wirausaha Dalam Pembangunan

Wirausaha adalah seorang yang mandiri, yaitu orang yang memilki perusahaan sebagai sumber penghasilannya. Dengan perkataan lain ia tidak menggantungkan diri untuk

(22)

15

penghasilannya kepada orang lain. Untuk mendirikan perusahaannya ia menghimpun sumber-sumber atau faktor produksi dan menyusun organisasi perusahaan.

Karena tindakan-tindakan itu mempunyai dampak pertama kepada dirinya sendiri, yaitu menciptakan lapangan kerja bagi diri dan penghasilan, kepada masyarakat dan pemerintah, yaitu menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja yang lain serta penghasilan, mengerjakan sumber-sumber bahan baku yang belum digunakan sehingga menjadi bermanfaat bagi masyarakat, menciptakaan teknologi sehingga menambah akumulasi untuk untuk teknologiyang sudah ada dalam masyarakat, mendorong investasi di bidang-bidang lain, memperluas dasar oajak bagi pemerintah dan meningkatkan citra bagi suatu bangsa, sehingga secara keseluruhan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Kewirausahaan memainkan peran yang berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi dan standar kehidupan negara. Sebagai pendiri startup atau pemilik usaha kecil, Anda mungkin berpikir bahwa Anda hanya bekerja keras untuk membangun bisnis Anda sendiri dan menyediakan untuk diri sendiri dan keluarga Anda.

Tetapi Anda benar-benar melakukan jauh lebih banyak untuk komunitas lokal Anda, negara bagian, wilayah, dan negara secara keseluruhan. Berikut adalah peran Kewirausahaan dalam membangun ekonomi Indonesia dan hal penting yang dimainkan oleh wirausahawan dalam pembangunan ekonomi suatu negara.

(23)

16

1. Penciptaan Kekayaan dan Berbagi

Dengan membentuk badan usaha, pengusaha menginvestasikan sumber daya mereka sendiri dan menarik modal dalam bentuk utang, ekuitas, dll. Dari investor, pemberi pinjaman dan masyarakat. Ini memobilisasi kekayaan publik dan memungkinkan orang untuk mengambil manfaat dari keberhasilan pengusaha dan bisnis yang sedang berkembang. Jenis modal yang dikumpulkan ini yang menghasilkan penciptaan dan distribusi kekayaan adalah salah satu keharusan dan tujuan utama pembangunan ekonomi seperti jenis usaha ekonomi yang dikelola oleh kelompok.

2. Menghasilkan Pekerjaan

Pengusaha pada dasarnya dan definisi pencipta pekerjaan, yang bertentangan dengan pencari kerja.

Terjemahan sederhana adalah bahwa ketika Anda menjadi seorang pengusaha, ada satu pencari kerja yang kurang dalam ekonomi, dan kemudian Anda memberikan pekerjaan untuk beberapa pencari kerja lainnya. Penciptaan lapangan kerja seperti ini oleh bisnis baru dan yang sudah ada lagi adalah salah satu tujuan dasar pembangunan ekonomi. Inilah sebabnya mengapa Pemerintah.

3. Pembangunan Regional yang Seimbang

(24)

17

Pengusaha yang membangun bisnis baru dan unit industri membantu pengembangan regional dengan menempatkan di daerah yang kurang berkembang dan tertinggal. Pertumbuhan industri dan bisnis di bidang- bidang ini mengarah pada perbaikan infrastruktur seperti jalan dan rel kereta api yang lebih baik, bandara, pasokan listrik dan air yang stabil, sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan dan layanan publik dan swasta lainnya yang sebelumnya tidak akan tersedia.

Setiap bisnis baru yang berlokasi di daerah yang kurang berkembang akan menciptakan lapangan kerja langsung dan tidak langsung, membantu mengangkat ekonomi regional dengan berbagai cara. Pengeluaran gabungan oleh semua karyawan baru dari bisnis baru dan pekerjaan pendukung di bisnis lain menambah output ekonomi lokal dan regional. Baik pemerintah pusat maupun negara bagian mempromosikan pengembangan daerah semacam ini dengan menyediakan berbagai bisnis dan konsesi UKM terdaftar seperti contoh ekonomi agriultur.

4. Pendapatan PDB dan Per Kapita

Sektor UMKM Indonesia, yang terdiri dari 36 juta unit yang menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 80 juta orang, kini menyumbang lebih dari 37% dari PDB negara. Setiap penambahan baru untuk 36 juta unit ini

(25)

18

menggunakan lebih banyak sumber daya seperti tanah, tenaga kerja dan modal untuk mengembangkan produk dan layanan yang menambah pendapatan nasional, produk nasional dan pendapatan per kapita negara.

Pertumbuhan dalam PDB dan pendapatan per kapita ini merupakan salah satu tujuan utama pembangunan ekonomi.

5. Standar Hidup

Mereka meningkatkan standar kehidupan masyarakat dalam suatu komunitas adalah tujuan utama pembangunan ekonomi. Pengusaha kembali memainkan peran kunci dalam meningkatkan standar hidup di komunitas. Mereka melakukan ini tidak hanya dengan menciptakan pekerjaan, tetapi juga dengan mengembangkan dan mengadopsi inovasi yang mengarah pada peningkatan kualitas hidup karyawan, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya di masyarakat. Misalnya, otomatisasi yang mengurangi biaya produksi dan memungkinkan produksi yang lebih cepat akan membuat unit bisnis lebih produktif, sementara juga menyediakan pelanggan dengan barang yang sama dengan harga lebih rendah.

6. Ekspor

Setiap bisnis yang sedang berkembang pada akhirnya akan ingin memulai dengan ekspor untuk memperluas

(26)

19

bisnis mereka ke pasar luar negeri. Ini adalah unsur penting dari pembangunan ekonomi karena menyediakan akses ke pasar yang lebih besar, dan mengarah pada arus masuk mata uang dan akses ke teknologi mutakhir dan proses yang digunakan di pasar luar negeri yang lebih maju. Manfaat utama lainnya adalah ekspansi ini yang mengarah pada pendapatan bisnis yang lebih stabil selama kemerosotan ekonomi dalam ekonomi lokal.

7. Pengembangan Masyarakat

Pembangunan ekonomi tidak selalu diterjemahkan ke dalam pengembangan komunitas. Pengembangan masyarakat membutuhkan infrastruktur untuk pendidikan dan pelatihan, layanan kesehatan, dan layanan publik lainnya. Misalnya, Anda membutuhkan pekerja yang berpendidikan tinggi dan terampil dalam suatu komunitas untuk menarik bisnis baru. Jika ada lembaga pendidikan, sekolah pelatihan teknis dan peluang magang, yang akan membantu membangun kumpulan pekerja yang terdidik dan terampil seperti jenis-jenis saham biasa.

8. Berinvestasi Dalam Produk dan Layanan

Apa yang memotivasi seseorang untuk memulai bisnis baru? Menurut model tradisional, wirausahawan menciptakan bisnis baru sebagai tanggapan terhadap kebutuhan dan permintaan yang tidak terpenuhi di pasar.

(27)

20

Artinya, ada peluang untuk menyediakan produk atau layanan yang saat ini tidak ada, atau tersedia. Para ekonom menyebut para pelaku bisnis ini sebagai

“pengusaha peluang” untuk membedakan orang-orang ini dari mereka yang memulai bisnis karena kurangnya kesempatan kerja yang lebih baik.

Apa yang disebut “peluang” wirausaha, yang meluncurkan perusahaan baru sebagai respons terhadap kebutuhan pasar, adalah pemain kunci dalam hal mendorong pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah.

Mereka memungkinkan akses ke barang dan jasa yang dibutuhkan populasi untuk menjadi produktif. Ini bukan untuk mengabaikan “kebutuhan” pengusaha yang meluncurkan perusahaan karena mereka tidak memiliki pilihan lain seperti karakteristik perusahaan dagang.

9. Perdagangan dan Integrasi Ekonomi Regional

Teknologi telah memungkinkan bagi usaha kecil yang dipimpin oleh pengusaha untuk ekspansi ke pasar regional dan global. Ketika bisnis baru mengekspor barang dan jasa ke daerah terdekat, perusahaan- perusahaan ini berkontribusi langsung terhadap produktivitas dan pendapatan daerah. Peningkatan pendapatan ini memperkuat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan populasi secara keseluruhan. Ekonomi yang berdagang satu sama lain hampir selalu lebih baik.

(28)

21

Politik samping, terlibat dalam perdagangan regional dan internasional mempromosikan investasi dalam transportasi dan infrastruktur regional, yang juga memperkuat ekonomi. Ini tidak pernah lebih benar daripada sekarang, karena kita hidup dalam ekonomi global yang semakin saling berhubungan.

10. Teknologi Baru Mempromosikan Efisiensi

Kemampuan mengubah ide menjadi produk dan layanan baru yang dibutuhkan orang adalah sumber kemakmuran bagi negara maju. Pertumbuhan ekonomi, secara umum, didorong oleh teknologi baru dan aplikasi kreatif mereka. Periode inovasi cepat secara historis telah disertai oleh periode pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Dorongan inovasi adalah sumber daya alam terbesar dari semua: pikiran manusia. Menciptakan produk dan solusi inovatif membutuhkan populasi terdidik dan lingkungan di mana kerja kolaboratif dapat dilakukan. Selain menjadi baik untuk bisnis, pendidikan meningkatkan kreativitas dan kualitas hidup pekerja.

11. Mengatasi Tantangan Lingkungan

Inovasi akan terus penting ketika datang untuk mengatasi tantangan lingkungan yang sangat besar yang kita hadapi hari ini: memerangi perubahan iklim, menurunkan emisi gas rumah kaca global, dan melestarikan keanekaragaman hayati di lingkungan.

(29)

22

Tanpa listrik untuk waktu yang lama, perdagangan terhenti. Tanpa air, kita tidak bisa hidup. Akses yang dapat diandalkan untuk inovasi ini seperti teknologi irigasi, listrik, dan infrastruktur perkotaan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pembangunan ekonomi.

Namun, penting untuk memahami bahwa kewirausahaan dan inovasi bergantung pada akses dan partisipasi. Bagi wirausahawan untuk membawa ide-ide baru ke kehidupan, mereka membutuhkan akses ke pendidikan dan lapangan yang bisa bersaing. Dalam hal ini, peran pemimpin pemerintah dan kebijakan publik adalah untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan lebih banyak pengusaha untuk memulai bisnis dengan menerapkan kebijakan yang memelihara lingkungan itu sehingga bisnis tersebut dapat tumbuh. Pertumbuhan ekonomi menderita ketika aktivitas kewirausahaan tersebar tidak merata secara sosio-ekonomi, demografi, dan geografis. Dalam kondisi yang tepat, wirausahawan memiliki kekuatan yang luar biasa:

mereka membantu wilayah-wilayah regional makmur secara ekonomi, dan mereka juga melayani masyarakat ketika mereka membantu merancang solusi inovatif untuk masalah dan tantangan.

(30)

23

1.3 Kreativitas dan Inovasi dala Kewirausahaan

Kreativitas diartikan sebagai penggunaan imaginasi dan kecerdikan untuk mencapai sesuatu atau untuk mendapatkan solusi yang unik dalam mengatasi persoalan (Sahid Susanto, 1999: 3). Kreatif bukan bawaan dari lahir melainkan sesuatu yang dapat diciptakan dan dilatih dengan memberikan stimulus atau pancingan kepada otak. Permainan, atau membuat gambar- gambar dapat merangsang otak untuk berpikir kreatif. Dengan berlatih berpikir kreatif, maka inspirasi untuk melakukan, membuat, dan menciptakan sesuatu terbuka lebar sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang inovatif.

Inovasi merupakan proses mengembangkan ide baru atau memasukkan ide baru dalam kegiatan praktis sehingga terjadi konversi ide baru dalam aplikasi yang bermanfaat. Aplikasi ide baru terjadi dalam bentuk proses inovasi yang menghasilkan cara atau metode yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu akan menghasilkan sesuatu yang inovatif.

Potensi kreativitas ada pada semua orang. Kewirausahaan erat kaitannya dengan kreativitas dan inovasi karena: 1) inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new dan different) melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang. Oleh karena itu wirausaha erat hubungannya dengan kreativitas (Suryana, 2003:2); 2) menurut Milgram (Munandar, 1995) intelegensi atau IQ semata-mata tidak dapat meramalkan

(31)

24

kreativitas dalam kehidupan nyata; 3) selanjutnya Rowe (2004) mengatakan bahwa kecerdasan umum mendukung beberapa tipe kreativitas, tapi belum tentu bisa mendukung atau menjamin semua tipe kreativitas. Kecerdasan kreatif sifatnya terbuka, inovatif, inventif, tak terbatas, berani, spontan, fantasis, imajinatif, tak terduga, revolusioner dan berjiwa bebas, sedangkan kecerdasan umum mempunyai karakteristik fokus, disiplin, logis, terbatas, bersahaja, realistis, praktis, serius, stabil dan konservatif (Susiana, 2005: 13).

Hal utama yang diperlukan untuk mengasah dan mengembangkan kreativitas adalah menyiapkan otak untuk selalu terbuka menerima impuls atau rangsangan dari luar. Karena otak itu luar biasa hebatnya, sehingga sangat disayangkan jika tidak menggunakannya semaksimal mungkin. Setiap peristiwa, pengalaman hidup, bahkan hal-hal kecil yang terjadi dan ada disekitar kita dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas.

Selain itu telah tersedia produk-produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas seseorang.

Pengertian kreativitas (Munandar,1995:47-51) antara lain : a. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat

kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur- unsur yang ada.

b. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berda-sarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan

(32)

25

jawaban terhadap suatu masalah yang penekanannya pada ketepatgunaan dan keragaman jawaban.

c. Secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), orisinal dalam berpikir, dan kemampusan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, mem-perinci) suatu gagasan.

Proses kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan dapat dilihat melalui (Munandar, 1995):

a. Kelancaran, sebagai kemampuan untuk mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal, dan selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.

b. Keluwesan, sebagai kemampuan untuk: 1) menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, 2) dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda- beda, 3) mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, dan 4) mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran .

c. Keaslian, sebagai kemampuan untuk: 1) melahirkan ungkapan yang baru dan unik, 2) memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, dan 3) mampu

(33)

26

membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.

d. Keterperincian, kemampuan untuk dapat mengembangkan suatu gagasan, merincinya sehingga menjadi lebih menarik.

Menurut Cropley (Utami Munandar, 1995:9) kemampuan kreatif adalah kemampuan menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak diduga dan memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim.

Atau dengan kata lain kreativitas mahasiswa adalah kemam-puan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah.

Inovasi adalah proses menerjemahkan ide dan merubahnya menjadi suatu produk, jasa atau metode yang berguna (Robbins dan Coulter, 1999). Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor pendorong inovasi, yaitu:

1. Variabel struktur, meliputi struktur organisasi, sumber daya yang dimiliki, dan komunikasi yang terjadi dalam organisasi.

2. Variabel budaya, meliputi penerimaan terhadap ambiguitas, toleransi terhadap hal-hal yang tidak praktis, rendahnya kontrol ekstrenal, toleransi terhadap resiko, toleransi terhadap konflik, berfokus terhadap hasil, dan sistem yang terbuka.

(34)

27

3. Variabel sumber daya manusia, meliputi komitmen tinggi terhadap pelatihan dan pengembangan, tingkat keamanan pekerjaan, dan sumber daya orang yang kreatif.

Menurut Munandar (1995:150), kegiatan belajar mengajar yang menumbuhkan gagasan kreatif anak dapat dilaksanakan melalui penciptaan lingkungan kelas yang merangsang belajar kreatif dan mengajukan pertanyaan. Penciptaan lingkungan kelas yang merangsang belajar kreatif dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut.

1. Memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan merangsang rasa ingin tahu mahasiswa. Pertanyaan dosen diajukan bersama demon- strasi pada awal pembelajaran (fase pendahuluan).

2. Pengaturan fisik, misalnya pengaturan tempat duduk sesuai kegiatan-kegiatan mahasiswa. Dosen mengelompokkan mahasiswa menjadi delapan kelompok. Mahasiswa duduk berhadapan pada kelompok masing-masing saat praktikum (fase penggalian) dan siswa duduk terfokus menghadap ke depan saat fase pendahuluan, penjelasan, penerapan konsep, dan evaluasi.

3. Kesibukan di dalam kelas yang mengasyikkan, misalnya kegiatan praktikum secara kelompok dan pengalaman langsung dengan benda-benda konkrit.

(35)

28

Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi- kombinasi baru atau hubungan-hubungan baru antar unsur, data, variabel yang sudah ada sebelumnya Kemampuan untuk memecahkan suatu masalah dan memanfaatkan suatu peluang didasari oleh sifat kreativitas dari para pengelolanya, yaitu kemampuan untuk menciptakan gagasan baru dan menemukan cara baru dalam menyikapi masalah dan memanfaatkan peluang.

Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan gagasan-gagasan baru atau pemecahan kreatif terhadapberbagai masalah dan dalam memanfaatkan peluang. Pengertian kreativitas dan inovasi secara singkat sering dianalaogkan : creativity – thinking new things, innovations = doing new things.

Kreativitas tidak selalu dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada sering sekali merupakan perbaikan dari sesuatu yang telah ada. Sering juga gagasan baru timbul secara kebetulan yang penting untuk dipahami mengapa kreativitas dan inovasi tersebut merupakan cirri-ciri yang melekat kepada wirausaha.

Seperti kita ketahui wirausaha merupakan sumber pemikiran kreatif dan inovasi. Bagaimana alam pikiran seseorang wirausaha sehingga menjadi sumber kreativitas dan inovasi?

1. Seorang wirausaha selalu mengimpikan gagasan baru.

2. Selalu mencari peluang baru atau mencari cara baru menciptakan peluang baru.

3. Selalu berorientasi kepada tindakan.

(36)

29

4. Seorang pemimpi besar, meskipun mimpinya tidak selalu cepat direalisasikan.

5. Tidak malu untuk memulai sesuatu, walau dari skala kecil.

6. Tidak pernah memikirkan untuk menyerah, selalu mencoba lagi.

7. Tidak pernah takut gagal.

Ditinjau dari aspek kreativitas dan inovatif seorang wirausaha sering diidentifikasikan sebagai orang yang secara sistematis menerapkan kreativitas/gagasan baru. Ada yang berpendapat bahwa sifat kreativitas adalah sifat “bawaan”

sehingga tidak dapat diajarkan kepada orang lain yang tidak mempunyai sifat bawaan tersebut. Akan tetapi, kebanyakan para ahli berpendapat bahwa pada dasarnya setiap orang adalah kreatif artinya setiap orang dilahirkan membawa potensi sifat-sifat kreativitas, akan tetapi orang menjadi tidak kreatif karena factor lingkungan dan kesalahan-kesalahan cara berpikir. Kesalahan cara berpikir yang merupakan belenggu mental untuk berpikir secara kreatif, antara lain :

a. Selalu mempunyai jawaban yang benar, sehingga tidak pernah menganggap bahwa ada kemungkinan beberapa jawaban yang benar.

b. Memfokuskan berpikir secara logis, tetapi jika terlalu memfokuskan kepada berpikir logis akan menghambat berpikir kreatif.

(37)

30

c. Mentaati peraturan secara menyeluruh, sehingga mematikan prakarsa-prakarsa.

d. Spesialisasi berlebihan, sehingga tidak mengetahui aspek lasin/bidang lain selain yang ditekuni.

e. Takut dikatakan tidak kreatif atau bodoh, sehingga tidak berani mengemukakan pendapat.

f. Takut berbuat salah dan gagal.

g. Rasa rendah diri.

1.3.1 Kiat-Kiat Untuk Menjadi Kreatif

Beberapa kiat untuk medorong kreativitas bagi seluruh sumber daya manuasia dalam organisasi, antara lain :

1. Kreativitas harus dipandang sebagai suatu kebutuhan perusahaan.

2. Mempunyai sikap toleransi terhadap keberhasilan atau kegagalan.

3. Mendorong sikap keingintahuan.

4. Menyikapi masalah sebagai tantangan.

5. Mengadakan pelatihan-pelatihan kreativitas secara teratur.

6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk terlaksananya kegiatan yang kretaif.

7. Memberikan penghargaan bagi kreativitas yang berhasil.

(38)

31

8. Membuat model-model teknik mengembangkan kreativitas untuk dipelajari untuk perorangan maupun kelompok.

Kiat-kiat untuk mendorong kreativitas disosialisasikan kepada sumberdaya manusia dalam perusahaan sehingga semua memahaminya. Perlu dipahami bahwa kebiasaan sehari-hari pada umumnya cara berpikir kita dalam memecahkan masalah mempergunakan pikiran yang logis dengan pendekatan yang bersifat bertahap. Menurut ahli cara berpikir demikian mempergunakan otak sebelah kiri yang fungsinya untuk berpikir secara logis. Otak sebelah kanan fungsinya berpikir secara lateral atau berpikir secara intuitif, tidak terstruktur.

1.3.2 Proses Mempersiapkan Kreativitas

Masih banyak metode untuk mengembangkan kreativitas, akan tetapi ada satu hal yang dipahami bahwa gagasan baru biasanya tidak timbul begitu saja memerlukan suatu proses atau akibat sutu proses kreatif, sehingga perlu dipahami bagaimana proses suatu kreativitas dapat terjadi. Akan tetapi yang sering dianjurkan melalui proses adalah :

a. Persiapan.

b. Penelitian / Investigasi c. Transpormasi

d. Inkubasi e. Iluminasi

(39)

32 f. Verifikasi

g. Implementasi

1.4 Pola Dasar Wirausaha

Sosok wirausahawan yang ideal , menuntut nilai-nilai ke arah kualitas manusia yang semapan mungkin. Kaitannya dengan perpolitikan, mungkin selaras dengan dambaan hadirnya Manusia Indonesia Seutuhnya. Maka dapat dikatakan bahwa ilmu kewirausahaan/ kewiraswastaan adalah ilmu tentang penghidupan. Ilmu yang akan membukakan pengertian tentang bagaimana seharusnya manusia meniti penghidupannya dan nilai-nilai apa yang diperlukan untuk mencapai cita-cita hidup yang hakiki.

Untuk membina manusia menjadi makluk yang berguna, tidak cukup hanya memberikan kecerdasan, ketrampilan atau kepiawaian teknis saja. Prioritas mendasar adalah dengan membangun sikap mental yang baik terlebih dahulu. Sebab, seperti pepatah mengatakan, ilmu tanpa sikap mental menghasilkan kezaliman, sedangkan sikap mental tanpa ilmu adalah kelemahan. Dua aspek ini harus hadir salling isi mengisi, karena jika terjadi absen pada salah satunya, maka akan berdampak buruk.

Struktur prioritas kewiraswastaan terdiri dari 4 (empat) lapisan. Lapisan terdalam merupakan inti (core), sedangkan 3 lapisan berikutnya merupakan pendukung yang ideal untuk

(40)

33

mencapai kesempurnaan prestasi. Struktur ini berlaku universal, tidak hanya bagi mereka yang berkarir dijalur wiraswasta. Para pejabat, karyawan, buruh, kaum-kaum profesional, dan siapapun seyogyanya memiliki pola dasar ini.

Struktur nilai kewiraswastaan dimaksud terdiri dari elemen- elemen :

1. Sikap Mental (attitude)

2. Kepemimpinan atau kepeloporan (leadership) 3. Ketatalaksanaan (management)

4. Keterampilan (skill)

Ketrampilan

Tata Laksana

Sikap Mental

Kepemimpinan

(41)

34

1.4.1 Sikap Mental

Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu dalam keadaan baik. Unsur ini yang menentukan apakah seseorang menjadi sosok yang tinggi budi ataukah seblikinya menjadi orang yang jahat dan culas. Itu sebabnya pembinaan sikap mental menjadi unsur terpenting dalam dunia kewirawastaan. Selain menghadirkan sifat-sifat baik alamiah seperti kejujuran dan ketulusan, sikap mental mencakup juga segi-segi positif dalam hal motivasi dan proaktivitas.

Orang yang bersikap mental baik akan selalu bekerja rajin tanpa harus diperintah, dan konsisten tanpa harus diawasi.

Mereka juga selalu berinisiatif melakukan hal-hal positif dan selalu mempunyai motivasi kuat serta semangat yang mengebu- gebu dalam mencapai cita-cita.

Sikap mental juga amat menentukan keberhasilan seseorang. Harvard, sebuah intitusi di Amerika menyatakan bahwa keberhasilan orang-orang sukses di dunia ini, ternyata lebih banyak ditentukan oleh sikap mentalnya dibandingkan dengan peranan kemampuan teknis yang dimiliki. Dengan angka perbandingan adalah 85% sikap mental, 15 % kemampuan teknis.

Akan tetapi ironisnya, komposisi materi pendidikan yang diterapkan disekolah-sekolah menunjukan perbandingan yang sebaliknya yaitu 90 % pelajaran teknis dan 10% sikap mental.

Sehingga pantaslah kalau banyak didapati manusia yang berpikir

(42)

35

negatif dibanding orang yang berpikir positif, antusias dan percaya diri.

1.4.2 Kepemimpinan

Kepemimpinan yang dimaksud disini adalah kepemimpinan sebagai nilai atau kualitas, bukan pengetahuan tentang manajemen sumber daya manusia. Mungkin akn lebih tepat kalau disebut sebagai “kepeloporan” sedangkan pemimpin adalah orang yang menunjukan arah. Seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan akan selalu tahu arah yang harus dimbil.

Keputusan-keputusanya mantap dan didasari oleh keyakinan diri disertai data-data dan informasi yang akurat.

Dalam dunia usaha, jiwa kepemimpinan dan kepeloporan ini mutlak diperlukan karena secara sadar atau tidak seseorang yang berwiraswasta telah menempatkan dirinya pada posisi pemimpin. Kedudukan tersebut mengharuskannya untuk selalu mampu mengambil keputusan yang menurut perhitungannya paling baik dan bijaksana. Tidak boleh ada keraguan atau kebimbangan karena jika itu terjadi maka keputusan yang diambil akan terlambat dan tidak efektif lagi. Dilain pihak, pengusaha yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan akan condong mengikuti pendapat dari figur yang dominan terhadap dirinya, sehingga pengusaha tersebut biasanya sulit membawa perusahaannya kearah kemajuan yang berarti.

(43)

36

Pengusaha yang berpeluang maju secara mantap adalah pengusaha yang memiliki jiwa kepemimpinan secara menonjol.

Ciri-cirinya biasanya keputusan dan sepak terjangnya sering dianggap tidak lazim/tampil beda.

1.4.3 Tata Laksana

Tata laksana merupakan terjemahan dari kata management, artinya pengelolaan. Manajemen bukan semata-mata konsumsi para manager di perusahaan-perusahaan tetapi diperlukan semua orang. Tata laksana merupakan metode atau serangkaian cara dan prosedur yang berguna untuk menghasilkan efektivitas dan efisiensi setiap pekerjaan agar mendapat hasil yang baik dalam mutu serta tepat waktu dalam penyerahannya.

Berbeda dengan sikap mental dan kepemimpinan yang termasuk dalam klasifikasi nilai atau kualitas, maka manajemen merupakan pengetahuan bersifat praktis. Kalau sikap mental berada di dalam (jiwa), manajemen terdapat di luar, mirip keterampilan teknis atau keprigelan

Manajemen kegunaannya juga sangat universal, dan semua orang atau organisasi memerlukan manajemen. Bila manajemen terabaikan, maka sebuah organisasi akan menjadi kacau dan morat-marit. Perusahaan tanpa manajemen yang baik, bias dipastikan akan mengalami hambatan besar dalam perkembangannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang ingin memulai usaha harus mewaspadai aspek tata laksana sedini

(44)

37

mungkin. Mulailah kegiatan manajemen seketika pada saat perusahaan baru saja dimulai, sekecil apapun ukurannya.

1.4.4 Keterampilan

Lapisan terluar dari struktur prioritas adalah keterampilan.

Keterampilan teknis yang meliputi keterampilan perorangan yang melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memproduksi sesuatu, baik secara fisik dan non fisik termasuk keterampilan manajerial dan keterampilan pemasaran jelas merupakan faktor yang amat penting, karena disinilah nantinya kualitas produk ditentukan tinggi rendahnya.

Banyak pihak berpendapat bahwa dengan berbekal penguasaan keterampilan, seseorang pasti bisa menjdi enterpreuneur (wiraswastawan) yang berhasil. Namun demikian, kalau kita mau meneliti lebih jauh ternyata keberhasilan- keberhasilan itu sebenarnya bukan disebabkan oleh keterampilan semata melainkan lebih oleh jiwa kepemimpinan yang dimiliki si pengusaha. Keterampilan hanyalan sarana, sehingga tidak cukup untuk mengantar orang ke jenjang kehidupan yang sukses, terutama kehidupan dalam dunia usaha.

Ada tiga hal yang memungkinkan seseorang baik terampil maupun tidak, untuk bisa tampil sebagai tokoh yang sukses atau orang berkecukupan, yaitu :

1. Memanfaatkan Leadership yang berasal dari diri sendiri 2. Memanfaatkan Leadership orang lain

(45)

38

3. Faktor keberuntungan (luck and hoki)

Semua disiplin ilmu tidak memperhitungkan adanya factor keberuntungan, demikian juga dengan ilmu kewiraswastaan.

Rata-rata orang besar dan tokoh wiraswastaan sejati mengandalkan sepenuhnya pada jiwa kepeloporan yang dimiliki oleh diri sendiri sehingga mencapai tingkat kemapanan.

1.4.5 Naluri Kewirausahaan

Setiap kegiatan yang mempunyai bobot persaingan, memerlukan ketajaman naluri. Demikian juga dengan wiraswastaanpengusaha bersaing bukan hanya dengan perusahaan-perusahaan pesaing, tetapi juga dengan keadaan dan situasi-situasi tertentu seperti moneter, ekonomi, politik perubahan kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan jyang mungkin terjadi, seorang wiraswastaan perlu melatih naluri kewirausahaannya, agar selalu siap menghadapi hal apapun dan tetap bertahan hidup.

1.4.6 Inti Wiraswasta

Fungsi manusia akan tumbuh sempurna bila pembinaan dilaksanakan menuruti 4 tahap prioritas yaitu sikap mental, kepemimpinan, tata laksana serta keterampilan. Sebaliknya, ketidaksempurnaan dan kerusakan atau kehilangan dari salah satu unsure tersebut, akan mengakibatkan hal-hal negative pada manusia yang bersangkutan, bahkan bias fatal.

(46)

39

Empat lapis prioritas diatas sebenarnya dapat disederhanakan menjadi hanya 2 (dua) kelompok, karena pada dasaranya dua yang pertama dan dua yang terakhir berasal dari rumpun yang sama. Pengelompokan itu terdiri dari :

1. Kelompok Sikap Mental yang mencakup lapisan sikap mental itu sendiri dan

2. Unsur kepemimpinan atau Leadership dan kelompok Ilmu Pengetahuan, yang terdiri dari lapisan manajemen dan keterampilan.

(47)

40

BAB II

KARAKTER KEWIRAUSAHAAN

2.1 Karakter wirausahawan

CustomMenurut David (1996) karakteristik yang dimiliki oleh seorang wirausaha memenuh syarat- syarat keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan/organisasi, seperti inovatif, kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan berintegrasi, kemampuan mengambil risiko atas keputusan yang dibuat, integritas, daya- juang, dan kode etik niscaya mewujudkan efektivitas perusahaan/organisasi.

Disamping itu, dalam suatu penelitian tentang Standarisasi Tes Potensi Kewirausahaan Pemuda Versi Indonesia; Munawir Yusuf (1999) menemukan adanya 11 ciri atau indikator kewirausahaan, yaitu:

1. Motivasi berprestasi 2. Kemandirian

3. Kreativitas

4. Pengambilan resiko (sedang) 5. Keuletan

6. Orientasi masa depan 7. Komunikatif dan reflektif 8. Kepemimpinan

(48)

41 9. Locus of Controll

10. Perilaku instrumental 11. Penghargaan terhadap uang.

Selain ciri-ciri yang telah dikemukakan di awal, berikut ini akan dijelaskan secara lebih mendalam mengenai karakterisitik seorang wirausahawan yang disarikan dari berbagai sumber.

2.1.1 Memiliki Kreatifitas Tinggi

Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda. Menurut Levit, kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru (thinking new thing), oleh karena itu menurutnya, kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer dalam Suryana (2003 : 24) mengungkapkan bahwa, ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda.

Oleh karena itu, kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating something from nothing).

Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persolan-persolan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those problems ang opportunities to enhance or to enrich people’s live Dari definisi diatas, kreativitas mengandung pengertian, yaitu:

(49)

42

1. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.

2. Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara baru.

3. Menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik.

Rahasia kewirausahaan adalah dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi tiap Berinisiatif ialah mengerjakan sesuatu tanpa menunggu perintah.Kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah itu melahirkan inovasi.

2.1.2 Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab

Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat di dalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya, didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. Tanpa usaha yang sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti

(50)

43

menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya.

Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido” (etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”. Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :

1. Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,

2. Yu : berani, ksatria,

3. Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,

4. Re : bersikap santun, bertindak benar,

5. Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh- sungguhnya, tanpa pamrih,

6. Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,

7. Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.

(51)

44

Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jansen H.

Sinamo (1999) mengembangkan 8 Etos Kerja Unggulan sebagai berikut :

1. Kerja itu suci, kerja adalah panggilanku, aku sanggup bekerja benar.

Suci berarti diabdikan, diuntukkan atau diorientasikan pada Yang Suci. Penghayatan kerja semacam ini hanya mungkin terjadi jika seseorang merasa terpanggil. Bukan harus dari Tuhan, tapi bisa juga dari idealisme, kebenaran, keadilan, dsb. Dengan kesadaran bahwa kerja adalah sebuah panggilan suci, terbitlah perasaan untuk melakukannya secara benar.

2. Kerja itu sehat, kerja adalah aktualisasiku, aku sanggup bekerja keras.

Maksudnya adalah bekerja membuat tubuh, roh dan jiwa menjadi sehat. Aktualisasi berarti mengubah potensi menjadi kenyataan. Aktualisasi atau penggalian potensi ini terlaksana melalui pekerjaan, karena kerja adalah pengerahan energi bio- psiko-sosial. Akibatnya kita menjadi kuat, sehat lahir batin. Maka

(52)

45

agar menjadi maksimal, kita akan sanggup bekerja keras, bukan kerja asal-asalan atau setengah setengah.

3. Kerja itu rahmat, kerja adalah terima kasihku, aku sanggup bekerja tulus

Rahmat adalah karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Respon yang tepat adalah bersyukur dan berterima kasih.

Ada dua keuntungan dari bekerja sebagai rahmat, (1) Tuhan memelihara kita, dan (2) disamping secara finansial kita mendapat upah, juga ada kesempatan belajar, menjalin relasi sosial, dsb. Pemahaman demikian akan mendorong orang untuk bekerja secara tulus.

4. Kerja itu amanah, kerja adalah tanggung jawabku, aku sanggup bekerja tuntas

Melalui kerja kita menerima amanah. Sebagai pemegang amanah, kita dipercaya, berkompeten dan wajib melaksanakannya sampai selesai. Jika terbukti mampu, akhlak terpercaya dan tanggung jawab akan makin menguat. Di pihak lain hal ini akan menjadi jaminan sukses pelaksanaan amanah yang akan menguklir prestasi kerja dan penghargaan. Maka tidak ada pekerjaan yang tidak tuntas.

(53)

46

5. Kerja itu seni/permainan, kerja adalah kesukaanku, aku sanggup bekerja kreatif

Apapun yang anda kerjakan pasti ada unsur keindahan, keteraturan, harmoni, artistik seperti halnya seni. Untuk mencapai tingkat penghayatan seperti itu dibutuhkan suatu kreativitas untuk mengembangkan dan menyelesaikan setiap masalah pekerjaan.Jadi bekerja bukan hanya mencari uang, tetapi lebih pada mengaktualisasikan potensi kreatif untuk mencapai kepuasan seperti halnya pekerjaan seni.

6. Kerja itu ibadah, kerja adalah pengabdianku, aku sanggup bekerja serius

Tuhan mewajibkan manusia beribadah (dalam arti ritual) dan beribadah (dalam artian kerja yang diabdikan pada Tuhan).

Kerja merupakan lapangan konkrit melaksanakan kebajikan seperti: untuk pembangunan bangsa, untuk kemakmuran, untuk demokrasi, keadilan, mengatasi kemiskinan, memajukan agama, dsb. Jadi bekerja harus serius dan sungguh-sungguh agar makna ibadah dapat teraktualisasikan secara nyata sebagai bentuk pengabdian pada Tuhan.

(54)

47

7. Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja sempurna

Secara moral kemuliaan sejati datang dari pelayanan. Orang yang melayani adalah orang yang mulia.Pekerjaan adalah wujud pelayanan nyata bagi institusi maupun orang lain. Kita ada untuk orang lain dan orang lain ada untuk kita. Kita tidak seperti hewan yang hidup untuk dirinya sendiri. Manusia moral seharusnya mampu proaktif memikirkan dan berbuat bagi orang lain dan masyarakat. Maka kuncinya ia akan sanggup bekerja secara sempurna.

8. Kerja itu kehormatan, kerja adalah kewajibanku, aku sanggup bekerja unggul

Sebagai kehormatan kerja memiliki lima dimensi : (1) pemberi kerja menghormati kita karena memilih sebagai penerima kerja (2) kerja memberikan kesempatan berkarya dengan kemampuan sendiri, (3) hasil karya yang baik memberi kita rasa hormat, (4) pendapatan sebagai imbalan kerja memandirikan seseorang sehingga tak lagi jadi tanggungan atau beban orang lain, (5) pendapatan bisa menanggung hidup orang lain. Semuanya adalah kehormatan. Maka respon yang tepat adalah menjaga kehormatan itu dengan bekerja semaksimal mungkin untuk menghasilkan mutu setinggi–tingginya. Dengan unggul di segala bidang kita akan memenangkan persaingan.

(55)

48

2.1.3 Mandiri atau Tidak Ketergantungan

Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif didalam mengembangkangkan ide dan pikiranya terutama didalam menciptakan peluang usaha didalam dirinya, dia dapat mandiri menjalankan usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain, seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu menciptakan hal yang baru dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada disekitarnya, mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.

2.1.4 Berani Menghadapi Risiko

Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung risiko.Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil risiko terhadap pekerjaannya karena sudah

(56)

49

diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil risiko yang moderat, artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil.

Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran kegiatannya (Suryana, 2003 : 14-15).

Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan.

Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, “seorang wirausaha yang berani menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik”

(Yuyun Wirasasmita, dalam Suryana, 2003 : 21). Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk lebih mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis.

(57)

50

Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Pilihan terhadap risiko ini sangat tergantung pada :

1. daya tarik setiap alternatif 2. kesediaan untuk rugi

3. kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal

Untuk bisa memilih, sangat ditentukan oleh kemampuan wirausaha untuk mengambil risiko antara lain :

1. keyakinan pada diri sendiri

2. kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan

kemungkinan memperoleh keuntungan.

3. kemampuan untuk menilai situasi risiko secara realistis.

Pengambilan risiko berkaitan dengan berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri.

Artinya, semakin besar keyakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin besar keyakinan orang tersebut akan kesanggupan mempengaruhi hasil dan keputusan, dan semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menurut orang lain sebagai risiko. Oleh karena itu, pengambil risiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan (Suryana, 2003 : 22)

(58)

51

2.1.5 Motif Berprestasi Tinggi

Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede Anggan Suhanda (dalam Suryana, 2003 : 32) Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti yang dikemukakan oleh Maslow (1934) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan kebutuhan, sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological needs), kebutuhan akan keamanan (security needs), kebutuhan harga diri (esteem needs), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualiazation needs).

(59)

52

Menurut Teori Herzberg, ada dua faktor motivasi, yaitu:

Gambar 3. Teori Motivasi Herzberg (2000)

Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryana, 2003 : 33-34)

1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.

2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan

kegagalan.

3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.

4. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.

(60)

53

5. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fifty- fifty). Jika tugas yang diembannya sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.

Motivasi (Motivation) berasal dari bahasa latin "movere"

yang berarti to move atau menggerakkan, (Steers and Porter, 1991:5), sedangkan Suriasumantri (hal.92) berpendapat, motivasi merupaka

Gambar

GAMBAR 1 : MANAJEMEN VS KEWIRAUSAHAAN
GAMBAR 2 : MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN  (Matrix Posisi Keunggulan & Permasalahan Strategis)
Gambar 3. Teori Motivasi Herzberg (2000)
Tabel 3. Jenis Gangguan Komunikasi

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Suherman (2008) kewirausahaan sebagai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya

Kewirausahaan adalah semangat, sikap perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya cara kerja, teknologi dan produk baru

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, serta menerapkan cara

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah kepada upaya cara kerja teknologi dan produk baru

Dengan demikian Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,

Menurut Suherman (2008) kewirausahaan sebagai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan

BAB 2 TARGET CAPAIAN KEGIATAN KEWIRAUSAHAAN Kewirausahaan mempunyai makna semangat sikap kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,