• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Proposal Penelitian Pengembangan Iptek (Ppi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Proposal Penelitian Pengembangan Iptek (Ppi)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI)

UJI AKTIVITAS ANTIAGREGASI PLATELET EKSTRAK ETANOL 70%

DAUN MURBEI (Morus alba L.) PADA DARAH MANUSIA SEHAT SECARA IN VITRO

TIM PENGUSUL

Ani Pahriyani, M.Sc., Apt. (NIDN : 0302048504)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI DAN SAINS

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF DR HAMKA

TAHUN 2017

(2)

ii

(3)

iii DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN... ii

DAFTAR ISI... IDENTITAS USULAN PENELITIAN... iii iv RINGKASAN... v

BAB I PENDAHULUAN... 1

BAB II KAJIAN PUSTAKA... 4

BAB III METODE PENELITIAN... 11

A. Alat dan Bahan... 11

B. Prosedur Penelitian... 11

C. Analisa Data... 15

D. Bagan Alir... BAB IV BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN... 16

A. Biaya Penelitian... 16

B. Jadwal Penelitian... 16

DAFTAR PUSTAKA... 17

LAMPIRAN... 20

(4)

iv

IDENTITAS USULAN PENELITIAN

1. Judul penelitian : Uji Aktivitas Antiagregasi Platelet Ekstrak Etanol 70% Daun Murbei (Morus alba L.) Pada Darah Manusia Sehat Secara In Vitro

2. Tim Peneliti

No Nama Jabatan Bidang

Keahlian

Institusi Asal

Alokasi Waktu

(Jam/Minggu) 1. Ani Pahriyani,

M.Sc., Apt.

Ketua Pengusul

Farmakologi UHAMKA 10

3. Objek penelitian (Jenis material yang akan diteliti)

: Parameter agregasi platelet dari darah manusia secara in vitro

4. Masa Pelaksanaan : Mulai Tahun 2017, Berakhir tahun 2018 5. Usulan Biaya : Rp. 15.000.000

6. Lokasi Penelitian : Laboratorium UHAMKA 7. Instansi lain yang terlibat : Tidak ada

8. Temuan (Produk) yang ditargetkan

: Obat tradisional 9. Kontribusi mendasar

pada suatu bidang ilmu

: Farmakologi 10. Rencana Luaran yang

Menjadi Sasaran

: Prosiding Internasional atau Jurnal Nasional Terakreditasi

11. Rencana Luaran HKI, buku, purwarupa

: -

(5)

v

RINGKASAN

Penyakit degeneratif masih menduduki peringkat pertama penyakit di Indonesia dan bahkan di dunia. Beberapa penyakit degeneratif yang menjadi penyebab kematian tertinggi adalah gangguan kardiovaskular dan gangguan metabolisme. Pada tahun 2012 diperkirakan 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskular. Angka tersebut merupakan 31% dari jumlah kematian di dunia. Kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular tersebut, diperkirakan 7,4 juta kasus penyebabnya adalah penyakit jantung koroner dan 6,7 juta lainnya oleh stroke (WHO 2015).

Salah satu agen terapi yang digunakan dalam tatalaksana terapi penyakit kardiovaskular diantaranya menggunakan antiplatelet. Tujuan penggunaan antiplatelet adalah untuk mencegah pembentukan trombus dengan menghambat agregasi platelet sehingga mengurangi risiko terjadinya aterotrombosis. Salah satu obat antiplatelet yang paling banyak digunakan adalah aspirin. Aspirin dinilai efektif dalam mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular seperti stroke iskemik (Sacco et al. 2006). Namun, sekitar 15%- 5% pasien dilaporkan mengalami resistensi terhadap aspirin (Alberts 2010).

Resistensi yang terjadi pada aspirin dapat meningkatkan resiko kejadian stroke iskemik berulang bahkan kematian pada pasien. Pada penelitian ini akan dikembangkan agen antiplatelet dari bahan alam yakni daun murbei yang selama ini belum dimanfaatkan sebagai tanaman yang berkhasiat obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 70% daun murbei (Morus alba L.) dalam menghambat agregasi platelet terhadap darah manusia sehat secara in vitro. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah diperolehnya sediaan herbal terstandar dari daun murbei yang dapat dimanfaatkan dalam terapi penyakit kardiovaskuler.

Penelitian aktivitas ekstrak etanol 70% daun murbei dalam menghambat agregasi platelet pada darah manusia sehat secara in vitro menggunakan metode turbidimetrik (cara Born) (Inayah 2015), yaitu dengan cara mencampurkan PRP (Platelet Rich Plasma) yang berasal dari darah manusia sehat dengan ekstrak etanol 70% daun murbei yang kemudian diukur serapan plasmanya, lalu ditambahkan ADP (Adenosine diphosphate) dan kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 20 menit menggunakan shaker, lalu ukur serapan plasmanya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 600 nm (Inayah 2015). Semakin besar penurunan serapan plasma, maka semakin banyak agregat platelet yang terbentuk.

(6)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang menyerang jantung dan sistem pembuluh darah, menjadi penyebab utama kematian di dunia. Pada tahun 2012 diperkirakan 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskular.

Angka tersebut merupakan 31% dari jumlah kematian di dunia. Kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular tersebut, diperkirakan 7,4 juta kasus penyebabnya adalah penyakit jantung koroner dan 6,7 juta lainnya oleh stroke (WHO 2015). Penyakit jantung dan pembuluh darah bisa disebabkan oleh faktor genetik, perilaku atau gaya hidup, kadar lipid darah, faktor pembekuan (koagulasi), fibrinolisis darah, protein, inflamasi, dan infeksi serta imunologik.

Salah satu penyebab penyakit kardiovaskular adalah agregasi platelet yang abnormal (Lindholm 2007).

Agregasi platelet adalah kemampuan platelet melekat satu sama lain di lokasi cidera vaskular untuk membentuk sumbatan dengan mensekresi adenosine diphosphat (ADP) dan tromboksan A2 (TXA2) (Babalola 2013). Agregasi platelet memiliki pengaruh penting terhadap proses terbentuknya pembekuan darah.

Namun, jika terbentuk agregasi platelet secara terus menerus, maka akan menyebabkan pembentukkan trombus dan emboli yang dapat menghambat aliran darah. Terbentuknya trombus dan emboli ini terjadi akibat bekuan darah terlepas dari perlekatannya pada dinding pembuluh darah dan mengalir secara bebas ke jantung. Jika bekuan tersebut berukuran besar mampu menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan beberapa penyakit kardiovaskular, yakni stroke, infark miokardium dan penyakit jantung (Guyton 2008).

Salah satu agen terapi yang digunakan dalam tatalaksana terapi penyakit kardiovaskular diantaranya menggunakan antiplatelet. Tujuan penggunaan antiplatelet adalah untuk mencegah pembentukan trombus dengan menghambat agregasi platelet sehingga mengurangi risiko terjadinya aterotrombosis. Salah satu obat antiplatelet yang paling banyak digunakan adalah aspirin.

1

(7)

2

Aspirin dinilai efektif dalam mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular seperti stroke iskemik (Sacco et al. 2006). Namun, sekitar 15%- 5% pasien dilaporkan mengalami resistensi terhadap aspirin (Alberts 2010). Resistensi yang terjadi pada aspirin dapat meningkatkan resiko kejadian stroke iskemik berulang bahkan kematian pada pasien. Selain itu, aspirin yang tergolong dalam Non- Steroidal Anti-Inflammatory Drug (NSAID) tersebut memiliki efek samping yaitu menyebabkan iritasi lambung. Kerugian dalam pemakaian aspirin tersebut menjadi dasar pencarian alternatif obat baru yang dapat menekan agregasi platelet (Georgiadis et al. 2011). Salah satu alternatif yang dinilai aman untuk terapi antiagregasi platelet yaitu dengan menggunakan bahan alam.

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ekstrak etanol 70%

daun murbei (Morus alba L.) mempunyai aktivitas antiagregasi platelet pada darah manusia sehat secara in vitro?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 70% daun murbei (Morus alba L.) dalam menghambat agregasi platelet terhadap darah manusia sehat secara in vitro.

D. Manfaat Penelitian

Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai manfaat ekstrak daun murbei (Morus alba L.) sebagai antiplaletet sehingga dapat digunakan sebagai obat alternatif dan untuk mengembangkan penggunaan bahan- bahan alam sebagai bahan obat serta menambah data penelitian obat tradisional dari daun murbei (Morus alba L.).

E. Urgensi Penelitian

Pada tahun 2012 diperkirakan 17,5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskular. Angka tersebut merupakan 31% dari jumlah kematian di dunia (WHO 2015). Antiagregasi platelet digunakan sebagai salah satu terapi untuk

(8)

3

mengobati penyakit kardiovaskular seperti stroke, infark miokard dan penyakit jantung (Sacco et al. 2006).

Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antiagregasi platelet yaitu daun murbei (Morus alba L.). Secara tradisional, tanaman ini dimanfaatkan untuk membersihkan darah, pengobatan bisul, antiinflamasi, diuretik, antidiabetes dan antihipertensi (Ramandeep 2013). Daun murbei diketahui mengandung senyawa alkaloid, flavonoid (kuersetin-3-triglukoside, rutin, morasetin, isokuersetin), fenolik, triterpenoid (lupeol) (Chan et al. 2016).

Daun murbei diharapkan dapat dijadikan sebagai suatu sediaan herbal antiplatelet. Sediaan herbal adalah sediaan obat tradisional yang dibuat dengan cara sederhana seperti infus, dekok dan sebagainya yang berasal dari simplisia.

Penelitian terhadap bahan alam, khususnya tanaman sebagai alternatif pengobatan dan obat tradisional juga dapat dilakukan untuk meningkatkan taraf kesehatan di Indonesia. Pengembangan obat tradisional di Indonesia meliputi jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Obat-obatan tradisional itu telah diuji khasiatnya berdasarkan pengalaman nenek moyang secara turun-temurun. Ilmu pengetahuan modern pada umumnya dan ilmu kedokteran khususnya meminta pembuktian secara ilmiah mengenai adanya khasiat obat bahan alam tersebut dan juga ingin mengetahui zat apa yang bertindak sebagai zat aktif. Kemudian dikehendaki suatu takaran yang sama dari zat aktif tersebut yang biasa disebut standarisasi

Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 70% daun murbei (Morus alba L.) dalam menghambat agregasi platelet terhadap darah manusia sehat secara in vitro yang dilihat dari nilai serapan PRP dengan penginduksi ADP. Semakin besar penurunan serapan plasma, maka semakin banyak agregat platelet yang terbentuk.

(9)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Uraian Tanaman Murbei (Morus alba L.)

Murbei adalah tanaman yang berasal dari Cina yang tersebar luas hampir di seluruh tempat baik di daerah dengan iklim tropis maupun sub tropis (Ramandeep 2013) dan tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl (BPOM RI 2010).

Tanaman murbei ini berupa pohon yang tingginya kurang lebih 9 m. Bagian batang berkayu, bulat, batang muda berwarna ungu, batang tua berwarna coklat.

Salah satu bagian tanaman yang dapat digunakan dalam pengobatan yaitu bagian daunnya. Bagian daun tunggal, bulat telur, panjang kurang lebih 20 cm, lebar kurang lebih 11 cm, ujung meruncing, tepi bergerigi, pangkal tumpul, pertulangan menyirip, tangkai panjang kurang lebih 51/2 cm, berwarna ungu. Bagian bunga majemuk, bentuk tandan, kelopak segi tiga, benang sari dan putik kecil, berwarna putih, mahkota bentuk tajuk, kecil, berwana ungu. Bagian buah buni, bulat, masih muda berwarna hijau, sudah tua berwarna hitam. Bagian biji keci, berwarna hitam. Bagian akar tunggang, berwarna putih kekuningan (Depkes RI 2000).

Gambar 1. Daun Murbei (BPOM RI 2008) a. Kandungan Kimia Daun Murbei

Daun murbei diketahui mengandung senyawa alkaloid, flavonoid (kuersetin-3- triglukoside, rutin, morasetin, isokuersetin), fenolik, triterpenoid (lupeol) (Chan 2016). Tiga flavonol glikosida rutin, kuersetin-3-triglukosidase, isokuersetin, diidentifikasi sebagai senyawa antioksidan utama dalam ekstrak etanol daun Morus alba L (Katsube 2006). Salah satu senyawa terbesar dari Morus alba adalah flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung di dalam daun murbei

(10)

5

yaitu golongan rutin dan kuersetin yang berperan sebagai unsur bioaktif (Chan et al. 2016).

b. Manfaat Tanaman

Murbei dikenal sebagai tumbuhan sutra karena merupakan makanan pokok ulat sutra. Selain bermanfaat sebagai pakan ulat sutra, murbei juga memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai peluruh air seni, antipiretik, antimalaria, antihipertensi (Depkes RI 2000) dan antidiabetes (BPOM RI 2010). Dalam pengobatan tradisional di Cina, tanaman ini dimanfaatkan untuk membersihkan darah, pengobatan bisul, antiinflamasi, diuretik, anti demam, anti hipertensi, dan antidiabetik (Ramandeep 2013).

2. Simplisia, Ekstrak dan Ekstraksi

Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 60˚C. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.

Tujuan pembuatan ekstrak tumbuhan obat adalah untuk menstandarisasi kandungannya sehingga menjamin keseragaman mutu, keamanan dan khasiat produk akhir. Standarisasi adalah serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait seperti paradigma mutu yang memenuhi standar dan jaminan stabilitas produk (BPOM 2005). Ekstraksi adalah proses penarikan zat yang dapat larut dari simplisia dengan pelarut yang sesuai (BPOM RI 2013). Secara umum cara penyarian dapat dibedakan menjadi 4 cara, yaitu infundasi, maserasi, perkolasi, dan penyarian berkesinambung (sokletasi) (Depkes RI 2000).

3. Metode Maserasi

Metode maserasi digunakan untuk simplisia kering. Cairan penyari yang direkomendasikan adalah etanol atau campuran etanol-air. Keuntungan dari maserasi adalah pengerjaannya mudah dan peralatannya murah dan sederhana.

Sedangkan kekurangannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraki bahan cukup lama, penyarian kurang sempurna, pelarut yang digunakan jumlahnya banyak jika harus diremaserasi (BPOM RI 2013). Maserasi dilakukan

(11)

6

dengan cara satu bagian simplisia direndam selama 6 jam pertama sambil sekali- sekali diaduk agar zat aktif yang terdapat pada simplisia terlarut, kemudian didiamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Maserat yang diperoleh dipekatkan dengan menggunkan vacuum rotary evaporator. Ekstrak kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50˚C (Depkes RI 2008).

4. Platelet

Platelet disebut juga trombosit merupakan fragmen megakariosit berbentuk lempeng bulat atau oval yang kecil, garis tengahnya sekitar 2 mikron. Platelet dibentuk di sumsum tulang dari megakariosit, yaitu sel yang sangat besar dalam susunan hematopoietik dalam sumsum, megakariosit pecah menjadi trombosit kecil, baik disumsum tulang atau segera setelah memasuki darah, khususnya ketika memasuki kapiler. Konsentrasi normal platelet dalam darah adalah antara 200.000 dan 400.000 per millimeter kubik. Platelet merupakan struktur yang sangat aktif dengan waktu paruh dalam darah 8-12 hari, setelah itu proses kehidupannya telah berakhir. Platelet kemudian diambil dari sirkulasi terutama oleh makrofag jaringan (Guyton 2008).

Fungsi platelet atau trombosit diatur oleh tiga substansi. Kelompok pertama adanya senyawa yang berada di luar trombosit yang berinteraksi dengan reseptor pada membran trombosit seperti: katekolamin, kolagen, trombin, dan prostasiklin.

Kelompok kedua adalah senyawa yang terdapat didalam trombosit yang berinteraksi dengan reseptor membran seperti ADP, prostaglandin D2, prostaglandin E2, dan serotonin. Kelompok ketiga adalah senyawa yang berada di dalam trombosit dan bekerja didalam trombosit seperti prostaglandin endoperoksida dan tromboksan A2, nukleotida siklik cAMP dan cGMP, dan ion kalsium. Dari senyawa- senyawa tersebut, beberapa target dari obat antiplatelet telah diidentifikasi: inhibisi sintesis prostaglandin (aspirin), inhibisi aggregasi platelet yang diinduksi ADP (clopidogrel, prasugel, ticlopidine), dan penghambat reseptor glikoprotein IIb/IIIa (abciximab, tirofiban dan eptifibatide). Dipiridamol dan cilostaxol merupakan obat antiplatelet lain (Katzung 2015).

a. Agregasi Platelet

Agregasi platelet merupakan tingkat kemampuan darah untuk menggumpal ketika aktivitas platelet bereaksi dan melakukan perbaikan terhadap pembuluh

(12)

7

darah yang rusak. Pada waktu platelet bersinggungan dengan permukaan pembuluh darah yang rusak, maka sifat dari platelet ini akan segera berubah secara drastis. Platelet mulai berbentuk irregular dengan tonjolan-tonjolan yang mencuat dari permukaannya.Sifat platelet menjadi lengket dan melekat pada jaringan kolagen (Guyton 2008).

Proses agregasi awal terjadi akibat kontak permukaan dengan pembebasan ADP yang berasal dari membran plasma. Kemudian dengan seiring banyaknya platelet terlibat, maka lebih banyak ADP yang dibebaskan sehingga terjadi gelombang agregasi yang disertai dengan rekrutmen lebih banyak platelet.

Agregasi berkaitan dengan perubahan bentuk platelet dari discoid menjadi bulat (Siahaan 2013).

Pada setiap lokasi dinding pembuluh darah yang luka, menimbulkan suatu siklus aktivasi platelet yang jumlahnya terus meningkat. Maka dari itu perlu dilakukan suatu pemeriksaan agregasi platelet yang bertujuan untuk memeriksa abnormalitas dari fungsi platelet (Guyton 2008).

b. Mekanisme Agregasi Platelet dalam Proses Pembekuan Darah

Secara in vitro, agregasi dapat dipicu dengan beberapa reagen, salah satunya adenosine diphosphate (ADP). Pengikatan ADP yang dibebaskan dari platelet aktif ke membran platelet akan mengaktifkan enzim fosfolipase, yang menghidrolisis fosfolipid di membran platelet untuk menghasilkan asam arakidonat. Asam arakidonat adalah prekursor mediator kimiawi yang sangat kuat baik pada agregasi maupun inhibisi agregasi yang terlibat dalam jalur prostaglandin. Melalui proses ini, asam arakidonat diubah di sitoplasma platelet oleh enzim siklooksigenase menjadi endoperoksida siklik. Stimulator kuat untuk agregasi platelet, senyawa tromboksan A2, dihasilkan oleh kerja enzim tromboksan sintetase pada berbagai endoperoksidase sklik ini. Tromboksan A2

adalah senyawa yang sangat aktif, tetapi tidak stabil. Tromboksan A2 juga merupakan vasokontriktor kuat yang akan mencegah pengeluaran darah lebih lanjut dari pembuluh yang rusah (Tselepis et al. 2011).

Mekanisme adhesi platelet juga dapat dijelaskan pada proses perubahan model plateletnya. Platelet didorong ke subendotelium menjadi aktif, kemudian faktor yang berperan mampu mengekspresikan fungsi platelet sehingga mampu bergerak

(13)

8

(tethers). Kemudian sebagian besar dari platelet mentranslokasi atau melepas diri.

Proses adhesi tahapan ini mampu bekerja dengan baik pada arteri dan vena.

Proses ini menjadi mekanisme dominan pada agregasi secara in vivo (Kulkarni 2000).

5. Platelet Rich Plasma (PRP) dan Platelet Poor Plasma (PPP)

Platelet Rich Plasma (PRP) adalah fraksi plasma darah dengan konsentrasi platelet 3-5 kali diatas nilai normal (konsentrasi platelet pada whole blood) mengandung 1 juta platelet per mikroliter dengan volume 5 mL plasma (Johan 2011), sedangkan Platelet Poor Plasma (PPP) merupakan fraksi plasma darah dengan konsentrasi platelet sangat sedikit (< 10 x 103/μL). Normal platelet darah berkisar antara 150.000/μL dan 350.000/μL san rata-rata sekitar 200.000/μL.

Konsentrasi platelet dalam PRP 2-8 kali lebih tinggi dibandingkan nilai normal (Marx 2001).

Secara luas, plasma kaya platelet diketahui mengandung 7 macam growth factor yaitu : PDGF-AA. PDGF-BB, PDGF-AB, TGF-β1, TGF-β2, VEGF, EGF.

Kadar growth factor in vivo tetap terjaga setelah dilakukan pembuatan PRP.

Konsentrasi platelet dalam PRP dapat meningkatkan delapan kali dari kadar platelet di dalam darah sehingga kadar growth factor di dalam PRP juga meningkat delapan kali kecuali IGF-1 (Marx 2001).

6. Aspirin

Aspirin adalah agen antiplatelet yang paling banyak digunakan karena aspirin efektif mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular seperti stroke iskemik (Sacco et al. 2006). Aspirin bekerja dengan mengambat sintesis tromboxan A2 di dalam trombosit dan prostasiklin PGI2 di pembuluh darah dengan menghambat secara irreversibel enzim siklooksigenasi.Penghambatan enzim siklooksigenase terjadi karena aspirin mengasetilasi enzim tersebut. Aspirin dosis kecil hanya dapat menekan pembentukan tromboxan A2, sebagai akibatnya terjadi penurunan agregasi trombosit. Dosis efektif aspirin sebagai antiplatelet adalah 80-320 mg per hari, dosis lebih tinggi selain menyebabkan toksisitas (pendarahan saluran cerna) dan timbul rasa tidak enak di perut dan mual (Gunawan 2007).

(14)

9 7. Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri merupakan suatu metode yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif dalam analisis kimia yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya.

Spektrofotometri UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190 nm – 380 nm) dan sinar tampak (380 nm – 780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer.

Prinsip kerja dari spektofotometri UV-Vis yaitu interaksi yang terjadi antara energiyang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Spektrofotometer UV-Vis mempunyai bentuk yang lebar dan hanya sedikit informsi tentang struktur yang bisa didapatkan dari spektrum ini.

Spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Khopkar 1990).

8. Uji Aktivitas Antiagregasi Platelet

Uji agregasi platelet in vitro dilakukan dengan metode turbidimetrik seperti yang dikemukakan oleh Born’s. Prinsip ini adalah perubahan trasmisi cahaya sebelum penambahan platelet agonist (agregator), transmisi cahaya melalui PRP rendah karena trombosit masih tersuspensi homogen dalam PRP. Setelah penambahan agregator maka trombosit akan mengalami agregasi kemudian agregat trombosit tersebut mengendap, sehingga plasma menjadi jernih akibatnya plasma akan meningkat. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan serapan plasma darah sebelum dan sesudah diinduksi ADP menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Semakin besar penurunan serapan plasma, maka semakin banyak agregat platelet yang terbentuk (Wirawan 2007).

B. Studi Pendahuluan

Beberapa penelitian menyatakan bahwa daun murbei juga mempunyai khasiat sebagai antioksidan (Hilwiyah 2015) dan antihiperlipidemia (Kartikasari 2015). Penelitian lain yang dilakukan oleh Rahayuningrum (2016) menyatakan bahwa ekstrak etanol 70% daun murbei dengan dosis 200 mg/kgBB memiliki efek

(15)

10

antiagregasi platelet yang dilihat perpanjangan waktu perdarahan pada mencit jantan galur Swiss Wesbter. Banyaknya khasiat yang ditimbulkan oleh daun murbei diduga karena pengaruh senyawa kimia yang terkandung di dalamnya.

Daun murbei diketahui mengandung senyawa alkaloid, flavonoid (kuersetin- 3-triglukoside, rutin, morasetin, isokuersetin), fenolik, triterpenoid (lupeol) (Chan et al. 2016). Tiga glikosida flavonol yang terkandung pada daun murbei yakni, kuersetin-3-triglukosidase, rutin, dan isokuersetin yang diidentifikasi sebagai senyawa antioksidan utama dalam ekstrak etanol daun Morus alba L. dengan nilai IC50 77,8565 μg/mL (Katsube 2006; Hilwiyah 2015). Flavonoid merupakan salah satu jenis antioksidan yang dapat menghambat pelekatan, agregasi dan sekresi platelet dengan cara menghambat metabolisme asam arakidonat oleh cyclooxygenase (Middleton et al. 2000).

Kandungan flavonoid yang terdapat pada ekstrak etanol 80% daun belimbing wuluh diduga dapat menghambat pembentukan agregasi platelet pada darah manusia yang diinduksi dengan adenosine diphosphate (ADP) (Inayah 2015). Senyawa yang diduga mempunyai aktivitas antiagregasi platelet tersebut adalah senyawa flavonoid jenis kuersetin. Kuersetin secara signifikan mampu menghambat agregasi platelet pada trombosit manusia dengan penambahan agregator (Mosawy 2015). Senyawa kuersetin yang mempunyai aktivitas antiagregasi platelet tersebut terkandung dalam daun murbei.

(16)

11 C. Road Map Penelitian

Gambar 2. Road map penelitian antiagregasi platelet

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

WAKTU Terdahulu

2016

2017-2018

Ekstrak daun murbei memiliki aktivitas antiagregasi platelet pada mencit

Uji ekstrak antiagregasi platelet pada darah manusia sehat.

2018-2019

Pengujian keamanan toksisitas ekstrak daun murbei

Penelitian terdahulu (2015) Daun murbei sebagai

antioksidan dan anti hiperkolesterol pada tikus

(17)

12 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Alat dan BahanPenelitian 1. Alat Penelitian

Alat yang digunakan pada penelitian adalah wadah maserasi, blender, kain flannel, vacuum rotary evaporator, spuit injeksi, kapas, sarung tangan, torny quette, vaccute, vortex, tabung sentrifuse, sentrifuse, mikrotube, mikropipet, spektrofotometer UV-Vis, kuvet, neraca analitik, labu ukur, ultrasonic homogenizer, kuvet, shaker, dan waterbath, serta alat lain

2. Bahan Penelitian

Bahan uji berupa daun murbei, aspirin serta bahan kimia meliputi etanol 70%, aquadest, pereaksi Mayer, pereaksi Dragendorf, pereaksi Bouchardat, asam asetat anhidrat, asam sulfat, Na CMC, natrium klorida 0,9%, natrium sitrat, Reagen adenosine diphosphate (ADP) (Sigma-Aldrich). Sampel yang digunakan untuk uji antiagregasi platelet adalah PRP (Platelet Rich Plasma) yang berasal dari darah manusia sehat berjumlah 5 orang yang diambil melalui vena sebanyak 20 mL dari masing-masing orang.

B. Prosedur Penelitian 1. Determinasi tumbuhan

2. Pembuatan simplisia dan serbuk simplisia berupa serbuk kering yang telah disortas

3. Pembuatan ekstrak etanol 70% daun murbei dengan cara maserasi yaitu dengan satu bagian simplisia dimasukkan kedalam maserator, lalu ditambahkan 10 bagian cairan penyari yaitu etanol 70% (Depkes RI 2008).

4. Penapisan Fitokimia

5. Pemeriksaan Karakteristik Mutu Ekstrak

6. Orientasi Dosis Ekstrak Etanol 70% Daun Murbei

Dengan melihat nilai IC50 ekstrak etanol daun murbei yaitu 77,85 µg/mL dan konsentrasi aspirin 1000 µg/mL, maka dilakukan orientasi dosis ekstrak etanol

(18)

13

daun murbei dengan cara titrasi dosis yaitu konsentrasi 10 µg/mL, 100 µg/mL dan 1000 µg/mL

7. Pembuatan Sampel Uji Darah a. Pemilihan Relawan Sehat

Sampel yang digunakan untuk uji antiagregasi platelet menggunakan darah vena dari relawan sehat yang sedang tidak menggunakan obat kontrasepsi dan antikoagulan. Darah yang diambil sebanyak 20 cc tiap subjek. Pemilihan relawan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi antara lain pria atau wanita sehat berusia >19 tahun, tidak memiliki penyakit (riwayat tekanan darah normal, tidak menderita diabetes, tidak menderita penyakit kardiovaskular, kadar lipid darah normal), memiliki pola hidup sehat (tidak merokok, tidak sedang mengkonsumsi kopi, teh atau coklat 24 jam sebelum pengujian, serta tidak mengkonsumsi alkohol dan nikotin). Sedangkan kriteria eksklusi meliputi hamil, sedang menstruasi, meminum obat-obatan (kontrasepsi oral, antitrombosit, NSAID, antibiotik β-laktam, vitamin E dan suplemen antioksidan dosis tinggi).

b. Pengambilan Darah Subjek c. Pembuatan Na. Sitrat 3,8%

Na. sitrat ditimbang sebanyak 3,8 g Na. sitrat ditimbang, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquades hingga larut. Selanjutnya ditambahkan aquades sampai volume 100 mL.

d. Pembuatan PRP (Platelet Rich Plasma) dan PPP (Platelet Poor Plasma) Pembuatan PRP dan PPP dilakukan melalui pengambilan sampel darah pada pembuluh darah vena relawan sehat yang kemudian dipindahkan dalam tabung yang telah berisi natrium sitrat 3,8% (dibutuhkan 1 mL natrium sitrat untuk 9 mL darah). PRP dibuat menggunakan darah yang disentrifugasi selama 15 menit pada 1000 rpm. PPP dibuat menggunakan darah yang disentrifugasi selama 15 menit pada 3500 rpm. Lapisan plasma (bagian atas berwarna bening) dipisahkan secara hati-hati dan disimpan pada tabung plastik tertutup pada suhu ruang. PPP dibuat dengan menggunakan sisa darah dalam tabung sitrat yang telah dipisahkan PRPnya. PPP digunakan sebagai blanko pada pengujian antiagregasi platelet.

Plasma untuk PPP adalah plasma dari pasien yang sama dengan PRP. Untuk

(19)

14

menjamin jumlah platelet tetap konstan, pengujian harus diselesaikan 3 jam setelah pengambilan darah (Vogel 2008).

8. Pembuatan Bahan Pembanding dan Sediaan Uji a. Pembuatan Larutan Na CMC 0,5%

Sebanyak 500 gram Na CMC ditimbang kemudian dimasukkan dalam lumpang yang berisi 10 mL aquades yang telah dipanaskan, lalu digerus kuat sampai terbentuk suspensi yang homogen, diencerkan dengan aquades dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dicukupkan volumenya hingga tanda batas.

b. Pembuatan Suspensi Aspirin

Aspirin ditimbang sebanyak 100 mg yang kemudian disuspensi dengan Na CMC 0,5% dalam lumpang dan digerus sampai terdispersi homogen, lalu dicukupkan dengan aquades hingga tanda batas ke dalam labu ukur 100 mL sehingga didapat konsentrasi aspirin 1 mg/mL 1000 μg/mL.

c. Pembuatan Larutan Adenosin diphospat (ADP)

Larutan ADP yang dibuat adalah ADP dengan konsentrasi 5 μM. ADP 5 μM dibuat dengan mengencerkan 25 μL ADP 5 mM ke dalam 25 mL salin. ADP 5 mM dibuat dengan melarutkan 20,0 mg ADP ke 40 mL dalam salin.

d. Pembuatan Suspensi Ekstrak untuk Uji Antiagregasi Platelet

Suspensi ekstrak etanol daun murbei dibuat beberapa konsentrasi yaitu 0,01 mg/mL; 0,1 mg/mL; dan 1 mg/mL. Ekstrak kental etanol ditimbang sebanyak 100 mg, dilarutkan dengan sedikit suspensi Na CMC 0,5% lalu digerus sampai terbentuk suspensi yang homogen, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dicukupkan volumenya dengan aquades hingga tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak 1 mg/mL. Pengenceran dari konsentrasi 1 mg/mL dipipet 10 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dicukupkan volumenya dengan aquades hingga tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak 0,1 mg/mL.

Pengenceran dari konsentrasi 0,1 mg/mL dipipet 10 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dicukupkan volumenya dengan aquades hingga tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak 0,01 mg/mL.

9. Kelompok Perlakuan

(20)

15

Larutan uji dalam berbagai konsentrasi diuji aktivitas antiagregasi plateletnya terhadap PRP. Masing-masing larutan kontrol negatif, positif, dan ekstrak uji diinkubasi selama 20 menit pada suhu 37oC. Pengukuran agregasi platelet dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali untuk masing-masing larutan dengan cuplikan baru.

Kelompok I (Negatif) : PRP 500 μL yang ditambah dengan NaCl 0,9% 1 mL, lalu ditambahkan larutan Na CMC 0,5% 100 μL  ukur serapan plasma, lalu tambahkan ADP 5 μM sebanyak 100 μL  inkubasi  ukur serapan plasma.

Kelompok II (Positif) : PRP 500 μL yang ditambah dengan NaCl 0,9% 1 mL, lalu ditambahkan suspensi aspirin 1 mg/mL 100 μL  ukur serapan plasma, lalu tambahkan ADP 5 μM sebanyak 100 μL  inkubasi  ukur serapan plasma.

Kelompok III (Larutasn Konsentrasi Uji 1) : PRP 500 μL yang ditambah dengan NaCl 0,9% 1 mL, lalu ditambahkan larutan ekstrak uji 1 dengan konsentrasi 0,01 mg/mL 100 μL  ukur serapan plasma, lalu tambahkan ADP 5 μM sebanyak 100 μL  inkubasi  ukur serapan plasma.

Kelompok IV (Larutan Konsentrasi Uji 2) : PRP 500 μL yang ditambah dengan NaCl 0,9% 1 mL, lalu ditambahkan larutan ekstrak uji 2 dengan konsentrasi 0,1 mg/mL 100 μL  ukur serapan plasma, lalu tambahkan ADP 5 μM sebanyak 100 μL  inkubasi  ukur serapan plasma.

Kelompok V (Larutan Konsentrasi Uji 3) : PRP 500 μL yang ditambah dengan NaCl 0,9% 1 mL, lalu ditambahkan larutan ekstrak uji 3 dengan konsentrasi 1 mg/mL 100 μL  ukur serapan plasma, lalu tambahkan ADP 5 μM sebanyak 100 μL  inkubasi  ukur serapan plasma.

10. Uji Aktivitas Antiagregasi Platelet

Sampel uji yang telah disiapkan dalam konsentrasi 0,01; 0,1; dan 1 μg/mL serta kontrol positif aspirin mg/mL dan kontrol negatif Na CMC 0,5% dipipet dengan mikropipet sebanyak 100 μL, kemudian ditambahkan kedalam 500 μL platelet preparation (PRP) pada tabung mikrosentrifuse kemudian diinkubasi kurang lebih 5 menit. Diukur serapannya sebelum dan sesudah diberi ADP pada panjang gelombang 600 nm dan sampel PPP dijadikan sebagai blanko (Inayah 2015). Setelah diberi ADP dilakukan inkubasi selama 20 menit pada shaker inkubator pada suhu 37oC (Vogel 2008)

(21)

16 C. Analisis Data

Data yang diperoleh berupa persentase agregasi platelet. Data yang diperoleh sebelumnya dilakukan uji kenormalan dan uji homogenitas, kemudian dianalisa secara statistik menggunakan uji Anova satu arah dengan taraf kepercayaan 95%

atau α=0,05 untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok perlakuan.

Kemudian dilihat ada tidaknya perbedaan yang bermakna, jika terdapat perbedaan yang bermakna dilanjutkan dengan uji tukey (Priyatno 2009).

D. Bagan Alir

Pengumpulan bahan

Etical clirence

Ektraksi

Persiapan Sampel

Uji Pendahuluan

Pengujian antiagregasi

platelet

Daun murbei

Pembuatan perizinan EC ke komite etik

Daun murbei kering diekstaksi dengan pelarut etanol 70%

Penyiapan sampel manusia sehat yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi

Orientasi dosis dan uji pendahuluan pembuatan serapan blanko

Pengambilan darah manusia Pengujian in vitro

Pengukuran serapan pada spektrofotometer UV-VIS

(22)

17 BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

A. Biaya Penelitian

Penelitian ini akan membutuhkan dana sebesar Rp 17.500.000 dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 1. Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian

No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)

1 Honor Peneliti (30%) 4.500.000

2 Alat, Bahan dan Luaran (50%) 7.500.000

3 Perjalanan (20%) 3.000.000

JUMLAH 15.000.000

B. Jadwal Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Fitokimia, Mikrobiologi, Patologi Klinik dan laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA. Waktu penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Oktober 2017 – Maret 2018.

Tabel 2. Rencana Penelitian

Kegiatan Oktober November Desember Januari Februari Maret Pengumpulan dan

penyediaan bahan penelitian

Fermentasi kacang komak

Karakteristik Mutu Yoghurt

Persiapan hewan Perlakuan uji Analisa data hasil penelitian

Penulisan Laporan Penelitan

(23)

18

DAFTAR PUSTAKA

Alberts MJ. 2010. Platelet Function Testing for Aspirin Resistance is Reasonable to Do: Yes. Dalam: Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, Amerika. Hlm. 2400-2401.

BPOM RI. 2008. Acuan Sediaan Herbal Volume Keempat Edisi Pertama.Jakarta:

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Hlm. 30-32.

BPOM RI. 2013. Pedoman Teknologi Formulasi Sediaan Berbasis Ekstrak.

Jakarta: Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen. Hlm. 10.

Chan EWC, Lye PY, Wong SK. 2016. Phytochemistry, pharmacology, and clinical trials of Morus alba Review. Dalam : . Chinese Journal of Natural Medicines, Malaysia. Hlm. 17-20.

Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Jendral Pengwasan Obat dan Makanan. Hlm. 10, 13 dan 31.

DepartemenKesehatan RI. 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I). Jilid I.

Jakarta: Departemen Kesehatan. Hlm. 161-162.

Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hlm. 171

Georgiadis AL, Cordina SM, Vazquez G, Tariq N, Suri MFK, Lakshminarayan K, Adam HP, Qureshhi AI. 2013. Aspirin Treatment Failure and The Risk of Recurrent Stroke and Death Among Patients with Ischemic Stroke. Dalam : Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, Amerika. Hlm. 103-105.

Gunawan SG, Editor. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta:

Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Hlm. 53-55

Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Hlm 480-482.

Hilwiyah A, Betty L, Nugrahaningsih. 2015. Skraining Fitokimia dan Uji Antioksidan serta Kadar total Fenol-Flavonoid Ekstrak Etanol Daun Murbei (Morus alba L.). Dalam : Jurnal Biolgi FMIPA Universitas Negeri Malang, Malang. Hlm. 4-8.

Inayah PW. 2015. Uji Aktivitas Antiplatelet, Antikoagulan dan Trombolisis Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa blimbii L.) In Vitro.

Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Jember, Jember. Hlm. 28.

Kartikasari R. 2015. Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Murbei (Morus alba L.) Terhadap Kadar Kolesterol Total pada Tikus Putih Hiperlipidemia. Skripsi.

Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Hlm. 11.

(24)

19

Katsube T, Naoto I, Yasuhiro K, Yoshimitsu Y, Kuninori S, Yosuke Y. 2006.

Antioxidant flavonol glycosides in mulberry (Morus alba L.) leaves isolated based on LDL antioxidant activity. Dalam : Journal Food Chemistry, Jepang. Hlm. 29-30.

Katzung BG, Anthony JT. 2015. Basic & Clinical Pharmacology Thirteenth Edition. San Fransisco: McGraw-Hill. Hlm. 612-614.

Kurlkarni, Suhasini, et al. 2000. A Revised Model of Platelet Aggregation.

Dalam: Journal of Clinical Investigation, Australia. Hlm. 783-791.

Lindholm LH, Mendis S. 2007. Prevention of cardiovascular disease in developing countries. Dalam: Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, Amerika. Hlm. 720–722.

Marx RE. 2001. Platelet-Rich Plasma (PRP): What is PRP and What is Not PRP?.

Dalam: Journal Implant Dentistry, USA. Hlm. 225-226.

Middleton E, Kandaswarni C, Theoharides TC. 2000. The Effect of Plant Flavonoids on Mammalian Cells: Implications for Inflammation, Heart Disease and Cancer. Dalam: Journal The American Society for Pharmacology and Experimental Therapeutics, Amerika. Hlm. 698.

Moriyama H, Hosoe, Wakana D. 2009. Assay-guided Informatory Screening Method for Antiplatelet Effect of Adenosine Isolated from Malbranceafilamentosa IFM 41300: Inhibitory Behaviors of Adenosine in Different Solvent. Dalam: Journal of Health Science,Tokyo. Hlm. 103-108.

Mosawy S. 2015. Effect of the Flavonol Quercetin on Human Platelet Function: A Review. Dalam : Journal Food and Public Health, Australia. Hlm. 4-5.

Priyatno D. SPSS untuk AnalisaKorelasi, Regresi, dan Multivariate. Yogyakarta:

Penerbit Gava Media. Hlm 73-76.

Rahayuningrum IH. 2016. Efektifitas Ekstrak Etanol daun Murbei (Morus alba L.) Terhadap Perpanjangan Waktu Pendarahan Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster. Skripsi. Fakultas Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, Bali. Hlm. 8-9.

Sacco RL, Greg A, Karen F, Philip G. 2006. Guidelines for Prevention of Stroke in Patients With Ischemic Stroke or Transient Ischemic Attack. Dalam : Journal American Heart Association, Amerika. Hlm. 424.

Siahaan, Fuentes, et al. 2013. Chlorogenic Acid Inhibits Human Platelet Activation and Thrombus Formation. Journal of Medicine National Institute. Singapore. Hlm. 145.

Tselepis, A. D, et al. 2011.Review Article: Mechanismof Platelet Activation and Modication of Respons to Antiplatelet Agent. Dalam: Journal of Medicine National Institute. Singapore. Hlm. 225-226

(25)

20

Ramandeep S, Anindya B, Alok S. 2013. Traditional uses, phytochemistry and pharmacology of Morus alba Linn. Dalam : Journal of Medicinal Plants Research, India. Hlm. 461-469.

Vogel HW, Bernward AS, Jurgen S, Gunter M, Wolfgang FV. 2008. Drug Discovery and Evaluation Pharmacological, NewYork: Spinger. Hlm. 401- 402.

Wirawan R. 2007. Nilai Rujukan PemeriksaanAgregasi Platelet dengan Adenosin Difosfat pada Orang Indonesia Dewasa Normal di Jakarta. Dalam : Jurnal Kedokteran Indonesia, Jakarta. Hlm. 213.

World Health Organization. 2015. The Top 10 Causes of Death, http://www.who.int, 10 Maret 2017.

(26)

21 Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian

1. Honor

Peneliti Honor/Jam Waktu

Total Jam/Minggu Minggu

Ketua Rp 18,000 10 25 Rp 4,500,000

Total Rp 4,500,000

2. Alat dan Bahan

Rincian bahan kebutuhan Jumlah satuan harga satuan Total harga

Bahan

Daun murbei 5 kg Rp 75,000 Rp 375,000 NaCl 0.9% 2 liter Rp 30,000 Rp 60,000 Aspirin 100 mg Rp 5,000 Rp 500,000 Natrium sitrat 1 pc Rp 100,000 Rp 100,000 Etanol 70% 20 liter Rp 60,000 Rp 1,200,000

ADP 5 gram Rp 200,000 Rp 1,000,000

Na CMC 1 kg Rp 50,000 Rp 50,000 aquadest 5 liter Rp 15,000 Rp 75,000

Total Bahan Rp 3,360,000

Alat

lempeng KLT 2 pack Rp 150,000 Rp 300,000 Spuit 3 cc 100 Pack Rp 3,000 Rp 300,000 vacute (EDTA) 50 Buah Rp 5,000 Rp 250,000 Wadah penyimpanan ekstrak 10 Petri Rp 20,000 Rp 200,000 Tabung mikrotube 1 Pack Rp 50,000 Rp 50,000 Tip biru, kuning, putih 3 Pack Rp 30,000 Rp 90,000 Handscoon 1 Box Rp 40,000 Rp 40,000 Disposible masker 1 Box Rp 30,000 Rp 30,000

Total Alat Rp 1,260,000

Biaya Lainnya

Determinasi simplisia 1 Rp 100,000 Rp 100,000 Pemeriksaan relawan 5 Rp 100,000 Rp 500,000 souvenir relawan 5 orang Rp 150,000 Rp 750,000 kertas 80g 2 rim Rp 40,000 Rp 80,000 penggandaan & jilid laporan Rp 200,000

Tinta Printer Rp 100,000

penelusuran pustaka Rp 100,000

dokumentasi Rp 50,000

pembuatan etical clirence 1 Rp 200,000 Rp 200,000

(27)

22

publikasi jurnal 1 Rp 800,000 Rp 800,000

Total Biaya Lainnya Rp 2,880,000

Total Keseluruhan Rp 7,500,000

3. Perjalanan

Material Justifikasi pemakaian Kuantitas Harga satuan Total Biaya seminar keikutsertaan seminar 1 Rp 1,000,000 Rp 1,000,000 Transport seminar Pulang pergi 1 orang Rp 1,000,000 Rp 1,000,000 Transport harian 4 hari 1 orang Rp 125,000 Rp 500,000 Transport relawan 1 hari 5 orang Rp 100,000 Rp 500,000

Total Rp 3,000,000

(28)

23

Lampiran 2. Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian

Sarana dan prasarana penelitian yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian

No. Nama Barang Lokasi

1. Rotary evaporator vacuum, oven Laboratorium Fitokimia

2. Timbangan analitik Laboratorium Mikrobiologi

3. Spektrofotometer uv vis Laboratorium kimia

4. Mikropipet Laboratorium Patologi Klinik

(29)

24

Lampiran 3. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas Tabel 4. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas

No Nama/NIDN Instansi

Asal Bidang Ilmu

Alokasi Waktu (jam/mgg)

Uraian Tugas 1 Ani Pahriyani,

M.Sc., Apt.

0302048504)

UHAMKA Farmakologi Farmasi Klinik

10 Desain penelitian secara menyeluruh serta

Pengujian

Antiagregasi platelet

(30)

25 Lampiran 4. Daftar Riwayat Hidup Peneliti

1. Biodata Ketua Peneliti

(31)

26

(32)

27

Lampiran 5. Surat Pernyataan Ketua Penelitian

SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI/PELAKSANA

Gambar

Gambar 1. Daun Murbei (BPOM RI 2008)  a.  Kandungan Kimia Daun Murbei
Gambar 2. Road map penelitian antiagregasi platelet
Tabel 1. Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian
Tabel 3. Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Undoubtedly, the following contributes into the language learning process acquisition and promotes the efficiency of mastering Kazakh, Russian and foreign languages: the use of

Fitosom sebagai pembawa bahan kosmetik memiliki keuntungan karena lipid yang terhidrasi dengan baik dapat mengurangi kekeringan pada kulit yang merupakan penyebab utama penuan dini