PROPOSAL
PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI)
KAJIAN FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA TANAMAN LEGETAN WARAK (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze)
SEBAGAI SUMBER OBAT BAHAN ALAM
Oleh:
Ema Dewanti, M.Si.(NIDN.0309017001) Rini Prastiwi, M.Si., Apt.(NIDN.0628097801)
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF DR HAMKA JAKARTA
2021
LEMBAR PENGESAHAN
PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI) Judul Penelitian
KAJIAN FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA TANAMAN LEGETAN WARAK (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze)SEBAGAI SUMBER OBAT BAHAN ALAM
Jenis Penelitian : PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI) Ketua Peneliti :Ema Dewanti, M.Si
Link Profil simakip :http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/652
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978
Fakultas : Fakultas Farmasi dan Sains Anggota Peneliti :Dr. apt.Rini Prastiwi, M.Si.
Link Profil simakip : http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/898
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978
Anggota Peneliti :Click or tap here to enter text.
Link Profil simakip :Click or tap here to enter text.
Contoh link: http://simakip.uhamka.ac.id/pengguna/show/978
Nama Mahasiswa : Mirza Adia Nur NIM: 1504015235
Waktu Penelitian : 10 Bulan Pililhan Fokus Riset UHAMKA
Fokus Penelitian UHAMKA:Obat dan Kesehatan Luaran Penelitian
Luaran Wajib :Jurnal Nasional Terakreditasi SINTA 2 Status Luaran Wajib : Draft
Luaran Tambahan :Prosiding Nasional Status Luaran Tambahan: Draft
Mengetahui, Jakarta, 30 November 2021
Ketua Program Studi Farmasi Ketua Peneliti
Dr. apt. Rini Prastiwi, M.Si. Ema Dewanti, M.Si.
NIDN. 0628097801 NIDN. 0309017001
Menyetujui,
Dekan Fakultas Farmasi dan Sains Ketua Lemlitbang UHAMKA
Dr. apt. Hadi Sunaryo, M.Si. Dr. apt. Supandi, M.Si.
NIDN. 0325067201 NIDN. 0319067801
RINGKASAN
Tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze.) adalah tanaman asli Indonesia yang termasuk dalam keluarga Asteraceae. Secara empiris tanaman legetan warak digunakan sebagai obat penurun panas, sariawan, batuk, radang tenggorokan dan penguat jantung (Najibufahmi, dkk, 2019). Tanaman legetan adalah herba yang biasa tumbuh sebagai gulma akan tetapi memiliki kandungan senyawa yang bermanfaat (Budiarti, dkk, 2019).
Keluarga Asterceae diketahui banyak memiliki manfaat dalam dunia kesehatan (Simanjuntak, 2017) antara lain sebagai antioksidan dan antiglikasi (Budiarti, dkk, 2019). Kandungan kimia pada daun legetan antara lain adalah terpenoid, steroid, alkaloid, dan fenolik (Fauzan, dkk, 2017). Standarisasi merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan pengobatan dengan menggunakan obat bahan alam. Parameter yang dilakukan dalam standarisasi obat bahan alam adalah parameter spesifik dan non spesifik. Diantaranya adalah identifikasi dari segi farmakognosi dan tinjauan secara fitokimianya. Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi secara farmakognosi yaitu dengan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopik dari tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze.). Pada pemeriksaan makroskopis akan diamati morfologi tanaman dan pengamatan mikroskopik dilihat fragmen-fragmen pengenal yang bisa digunakan sebagai identitas spesifik dari tanaman tersebut. Tinjauan secara fitokimia meliputi diantaranya fluoresensi, pemeriksaan kadar air, kadar abu, sari larut etanol, sari larut air, organoleptis, pola kromatogram, pemeriksaan kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam simplisia tersebut yang dimungkinkan punya potensi sebagai dalam pengobatan.
Dari penelitian ini akan diperoleh informasi ilmiah mengenai kajian farmakognosi dan fitokimia dari tanaman legetan dan dapat menjadi standarisasi dalam pengadaan bahan baku obat yang berasal dari bahan alam. Target luaran dari penelitian ini adalah publikasi pada pada Jurnal Nasional terakreditasi dan prosiding seminar nasional POKJANAS TOI.
Kata Kunci: Legetan warak, Adenostemma lavenia, L.Kuntz, kajian farmakognosi, kajian fitokimia
Latar Belakang
Indonesia kaya akan keragaman flora. Banyak tumbuhan asli Indonesia yang masih perlu pengembangan untuk pengobatan, diantaranya adalah tanaman legetan warak. Legetan warak memiliki nama latin Adenostemma lavenia (L.) Kuntze dan termasuk keluarga Asteraceae.
Legetan warak secara turun temurun digunakan oleh masyarakat sebagai obat penuurn panas, sariawan, batuk, radang tenggorokan, dan penguat jantung (Najibufahmi, dkk, 2019). Legetan
Kata Kunci Maksimal 5 Kata
Latar belakang penelitian tidak lebih dari 500 kata yang berisi latar belakang dan permasalahan yang akan diteliti, tujuan khusus, dan urgensi penelitian. Pada bagian ini perlu dijelaskan uraian tentang spesifikasi khusus terkait dengan skema.
Ringkasan penelitian tidak lebih dari 500 kata yang berisi latar belakang penelitian, tujuan dan tahapan metode penelitian, luaran yang ditargetkan,
warak merupakan tanaman herba yang biasa tumbuh liar sebagai gulma (pengganggu). Legetan warak diketahui memiliki banyak manfaat dalam dunia kesehatan. Kandungan senyawa kimia pada legetan warak yang bermanfaat antara lain flavonoid, fenolik, alkaloid, terpenoid dan steroid (Budiarti, dkk, 2019 dan Fauzan, dkk 2017).
Standarisasi merupakan salah satu langkah penting dalam pengembangan pengobatan dengan menggunakan obat bahan alam. Tujuan dilakukan standarisasi adalah untuk menjaga mutu dari simplisia sebagai bahan baku obat. Parameter yang dilakukan dalam standarisasi obat bahan alam adalah parameter spesifik dan non spesifik. Salah satu parameter tersebut adalah kajian farmakognosi dan tinjuaun fitokimia (Depkes RI, 2000).
Hingga saat ini data mengenai farmakognosi dan fitokimia dari tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) belum ada, sehingga perlu dilakukan kajian farmakognosi dan fitokimia dari tanaman tersebut untuk pengembangan tanaman ini sebagai bahan obat yang berasal dari bahan alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk meninjau secara farmakognosi yaitu pengamatan makroskopis dan mikroskopis dan meninjau secara fitokimia tanaman legetan warak yang meliputi parameter spesifik dan non spesifik serta mengidentifikasi senyawa yang terdapat dalam tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) yang dimungkinkan memiliki aktifitas secara farmakologi.
Urgensi Penelitian
Tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) adalah tanaman gulma yang banyak terdapat di Indonesia. Kandungan senyawa dari legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) antara lain adalah golongan fenolik. Golongan fenolik antara lain adalah flavonoid yang diketahui mempunyai banyak aktifitas farmakologi, diantaranya kemampuanya sebagai anti oksidan, anti glikasi, anti tumor, anti virus, anti bakteri, anti jamur, anti kanker, antidiabetes dan lain-lain. Penelitian maupun data ilmiah terkait tinjauan farmakognosi dan fitokimia dari tanaman legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) belum tersedia. Data ini sangat diperlukan dalam pengembangan tanaman tersebut sebagai salah satu bahan alam yang bisa dimanfaatkan dalam pengobatan, Penelitian tentang tinjauan farmakognosi dan fitokimia tentang tanaman ini belum tersedia. Untuk itu sebagai langkah awal dari penelitian ini dilakukan tinjauan tentang farmakognosi dan fitokimia dari tanaman ini, selanjutnya dari data yang ada jika terdapat kandungan senyawa flavonoid dari tanaman ini akan dilanjutkan pada penelitian selanjutnya dengan menguji aktivitas farmakologinya.
TINJAUAN PUSTAKA
Legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze)
Adenostemma lavenia (L.) Kuntze atau dikenal dengan nama legetan warak adalah herba yang biasa tumbuh sebagai gulma. Legetan warak merupakan salah satu jenis tanaman yang berkhasiat dari keluarga Asteraceae. Tanaman ini tumbuh liar di tanah terbuka, ladang atau
hutan, dianggap sebagai tanaman hama, dengan tinggi tanaman sekitar 30-100 cm. Legetan warak dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi. Tumbuh baik pada tanah yang mengandung bahan organik tinggi, mendapat banyak naungan dan lembab. Legetan warak dapat ditemukan hampir di semua negara Asia Tenggara. Tanaman legetan warak dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah dengan nama lokal yang berbeda–beda yaitu legetan warak (Jawa), jotang leuweung (Sunda), jabun-jabun tana (Makassar), gofo- roki (Ternate) atau udu tai (Dayak, Kalimantan). Secara empiris masyarakat Indonesia telah menggunakan tanaman ini, sebagai obat berbagai macam penyakit seperti penurun panas, sakit kepala, batuk, radang tenggorokan, diare, imunostimulan, mengobati kongestif paru-paru, dan pneumonia. Bagian tanaman yang biasan digunakan adalah bagian daun (Kusumawati et al., 2003; Wiart, 2006).
Standarisasi Obat Tradisional
Standardisasi adalah proses menjamin bahwa produk akhir obat mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan (dirancang dalam formula) terlebih dahulu.
Pengembangan obat tradisional tersebut harus mencakup berbagai tahap pengujian dan pengembangan secara sistematik. Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap dikonsumsi langsung dapat dipertimbangkan 3 konsep untuk menyusun parameter standar umum yaitu bahan simplisia sebagai bahan kefarmasiaan harus memenuhi 3 parameter mutu umum suatu bahan (material) yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurniaan (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis) serta alur aturan penstabilan wadah, penyimpanan, dan transportasi (Depkes RI 2000).Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap diupayakan memenuhi 3 paradigma seperti prosuk kefarmasian lainnya yaitu Quality-Safety-Efficacy (Mutu-Aman-Manfaat). Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologi harus mempunyai spesifikasi kimia yaitu, infomasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan (Depkes RI 2000).
Ekstrak dan Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Depkes RI 1995). Faktor yang mempengaruhi ekstrak yaitu faktor biologi dan faktor kimia. Faktor biologi meliputi: spesies tumbuhan, lokasi tumbuh, waktu pemanenan, penyimpanan bahan tumbuhan, umur tumbuhan dan bagian yang digunakan. Sedangkan faktor kimia yaitu: faktor internal (jenis senyawa aktif dalam bahan, komposisi kualitatif senyawa aktif, komposisi kuantitatif senyawa aktif, kadar total rata-rata senyawa aktif) dan faktor eksternal (metode ekstraksi, perbandingan ukuran alat ekstraksi, ukuran, kekerasan, dan kekeringan bahan, pelarut yang digunakan dalam ekstraksi, kandungan logam berat, kandungan pestisida (Depkes RI 2002).
Ekstraksi (penyarian) adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Zat aktif yang awalnya berada di dalam sel, ditarik cairan penyari sehinga terjadi pelarutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri,
alkaloid, flvonoid, dan lain-lain. Struktur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap pemanasan, udara, cahaya, logam berat, dan derajat keasaman (Depkes RI 1979).
Pelarut adalah suatu zat untuk melarutkan zat farmasi lain atau suatu obat dalam preparat larutan. Pemilihan pelarut yang akan digunakan dalam ekstraksi dari bahan mentah obat tertentu berdasarkan pada daya larut zat aktif dan zat yang tidak aktif. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah n-heksan (non polar), diklorometana (semi polar) dan etanol (polar). Pelarut non polar seperti n-heksan dapat melarutkan senyawa golongan triterpenoid/steroid. Sedangkan pelarut semi polar dapat melarutkan senyawa golongan alkaloid, dan pelarut yang bersifat polar mampu mengekstraksi senyawa metabolit sekunder yaitu, alkaloid kuartener, komponen fenolik, karotenoid, tanin, flavonoid, gula, asam amino dan glikosida (Harbone 1987).
Kajian Farmakognosi dan Fitokimia
Farmakognosi merupakan studi mengenai produk obat yang berasal dari lingkungan hidup kita, terutama yang berasal dari tumbuhan dan fungi (Heinrich et al. 2010). Pada umumnya ilmu farmakognosi di Indonesia meliputi pengamatan mikroskopis, makroskopis, serta organoleptis yang seharusnya juga mencakup identifikasi, isolasi, dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam bahan obat, dan dapat diarahkan ke arah sintesa obat bila perlu. Ilmu farmakognosi berperan penting untuk memilah tanaman yang berkhasiat sebagai obat atau tidak, dengan dilakukannya berbagai tes (Emelda, 2021).
Penapisan fitokimia (skrining fitokimia) bertujuan untuk mengetahui keberadaan golongan senyawa metabolit sekunder yang ada di dalam ekstrak serta dapat pula menjadi gambaran kandungan ekstrak secara kualitatif (Hanani, 2016).
Pemeriksaan Pola Kromatografi dan Fluoresensi
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan yang dipisahkan, yang terdiri dari berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga yang berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Pelat ditaruh didalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan). Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (dideteksi) (Stahl 1985).
Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak berwarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika, maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan pencacahan radioaktif dan dengan fluoresensi dibawah sinar ultraviolet.
Fluoresensi dengan sinar ultraviolet, terutama untuk senyawa yang dapat berfluoresensi, akan membuat bercak terlihat jelas. Jika senyawa tidak berfluoresensi, maka bahan penyerapnya akan diberi indikator yang berfluoresensi, dengan demikian bercak akan kelihatan hitam karena
menjerap sinar ultraviolet sedang latar belakangnya akan kelihatan berfluoresensi. Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak, lempeng KLT disemprot dengan reagen kromogenik yang akan bereaksi dengan secara kimia dengan seluruh solut yang mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna. Lempeng diamati dibawah lampu ultraviolet yang dipasang pada panjang gelombang emisi 254 atau 366nm untuk menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak yang berfluoresensi terang pada dasar yang berfluoresensi seragam (Rohman 2009).
Roadmap Penelitian
Sebelumnya, telah dilakukan penelitian oleh Fauzan dkk (2017) yang meneliti karakteristik kandungan kimia pada genus Adenostemma yaitu A. lavenia dan A. platyphyllum. Hasil penelitian menunjukkan genus Adenostemma mengandung golongan amine, aldehide, asam leamk, terpenoid, steroid, alkaloid, aromatik, fenolik, alifatik hidrokarbon dan oligopeptida.
Najibufahmi dkk (2019) melakukan optimasi ekstraksi daun legetan warak menggunakan metode microwave dan pelarut etanol dengan beberapa variasi konsentrasi. Hasil penelitian menunjukan pada pelarut etanol 80% didapatkan kadar fenolik tertinggi. Budiarti dkk (2019) melakukan pengujian antioksidan dan antiglikasi pada beberapa tanaman Asteraceae dan salah satunya adalah Adenostemma lavenia, hasil penelitian menunjukkan A. lavenia memilik IC50 181,82 ppm dan mampu menghambat glikasi 87,87%. Tanaman legetan warak memiliki potensi untuk dikembangkan sebagaikandidat obat bahan alam. Data tinjauan farmakognosi dan fitokimia dari tanaman ini belum dijumpai. Melalui penelitian ini diharapkan didapat data tinjauan farmakognosi dan fitokimia yang akan menunjang standarisasi obat yang berasal dari bahan alam sehingga tanaman legetan warak dapat dikembangkan sebagai fitofarmaka.
Gambar 2. Roadmap Penelitian
METODE PENELITIAN
1. Penyiapan bahan : bahan diperoleh dari Balittro Bogor dan dideterminasi di Balai Penelitian dan Pengembangan Botani “Herbarium Bogoriense” LIPI, Kebun Raya Bogor.
2. Tinjauan farmakognosi : pengamatan makroskopis terhadap tanaman legetan warak segar dan pengamatan mikroskopis dengan preparat histologi dari berbagai bagian tanaman
3. Penyiapan simplisia: pengeringan bahan hingga didapatkan serbuk
4. Penyiapan ekstrak: Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan 3 pelarut yang berbeda kepolaran. Masing-masing filtrat yang diperoleh kemudian dikentalkan.
5. Kajian fitokimia : pada masing ekstrak kental dilakukan pengamatan parameter non spesifik yang meliputi kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam dan parameter spesifik yang meliputi skrining (penapisan) fitokimia, karakteristik fluorosensi, profil KLT.
Diagram Alir Penelitian
Gambar 3. Diagram alir penelitian
Metode atau cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan ditulis tidak melebihi 600 kata. Bagian ini dilengkapi dengan diagram alir penelitian yang menggambarkan apa yang sudah dilaksanakan dan yang akan dikerjakan selama waktu yang diusulkan. Format diagram alir dapat berupa file JPG/PNG. Bagan penelitian harus dibuat secara utuh dengan penahapan yang jelas, mulai dari awal bagaimana proses dan luarannya, dan indikator capaian yang ditargetkan. Di bagian ini harus juga mengisi tugas masing-masing anggota pengusul sesuai tahapan penelitian yang diusulkan.
Penjelasan Jika diperlukan Click or tap here to enter text.
Jadwal Penelitian
No Nama Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Penyusunan proposal √
2 Persiapan bahan dan alat √ √ √
3 Penelitian √ √ √ √
4 Evaluasi hasil penelitian √ √ √ √
5 Publikasi Ilmiah √ √
6 Pembuatan laporan √ √
Catatan;(informasi tambahan untuk menjelaskan kegiatan)
Click or tap here to enter text.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara I. M.E. Prasetya. 2020. Potensi Tanaman Rempah dan Obat Tradisional Indonesia Sebagai Sumber Bahan Pangan Fungsional. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, Palembang. Hal 24 -38
Budiarti E. I. Batubara. A. Ilmiawati. 2019. Potensi Beberapa Ekstrak Tumbuhan Asteraceae sebagai Antioksidan dan Antiglikasi. Jurnal Jamu Indonesia. Vol 4 (3). Hal 103 -111 Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmkaope Indonesia edisi III Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmkaope Indonesia edisi IV Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standarisasi Ekstrak. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Jadwal penelitian disusun dengan mengisi langsung tabel berikut dengan memperbolehkan penambahan baris sesuai banyaknya kegiatan.
Daftar pustaka disusun dan ditulis berdasarkan sistem nomor sesuai dengan urutan pengutipan. Hanya pustaka yang disitasi pada usulan penelitian yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka. Daftar Pustaka ditulis dengan menggunakan APA Style.
Departemen Kesehatan RI. 2002. Buku Panduan Teknologi Ekstrak. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Emelda. (2021). Farmakognosi Untuk Mahasiswa Kompetensi Keahlian Farmasi, Pustaka Baru Press.Yogyakarta.
Fauzan A. D Praseptiangga. R Hartanto and B Pujiasmanto. 2017. Characterization of the chemical composition of Adenostemma lavenia (L.) Kuntze and Adenostemma platyphyllum Cass. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 102 (2017) 012029
Hanani, E. 2015. Analisi Fitokima, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Harbone JB. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Terjemahan: Padmawinata K, Soediro I. ITB. Bandung. Hal 53,153-155
Heinrich, Michael et al.2009. Farmakognosi dan Fitoterapi. Alih bahasa Winny R. Syarief dkk.
Dari: Fundamentals of Pharmacognosy and Phytotherapy. Buku kedokteran EGC.
Jakarta. Hlm 26, 85,96.Yogyakarta
Kusumawati I, Djatmiko W, Rahman A, Studiawan H, Ekasari W. 2003. Eksplorasi keanekaragaman dan kandungan kimia tumbuhan obat di hutan tropis gunung Arjuno.
Jurnal Bahan Alam Indonesia 2(3): 100-104
Najibufahmi M, M. Walid, D. Azizah. 2019. Optimasi Ekstraksi Fenolik Daun Legetan Warak (Adenostemma Lavenia (L.) Kuntze) Berbantu Gelombang Mikro, Jurnal Farmasi Indonesia, Vol 16 No. 1. Hal 34 – 41.
Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Ed I, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Simanjuntak HA. 2017. Potensi Famili Asteraceae Sebagai Obat Tradisional di Masyarakat Etnis Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Biologi Lingkungan, Industri dan Kesehatan. Vol 4 (1). Hal 11 - 18
Saifudin, A., dkk. 2011. Standardisasi Bahan Obat Alam. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro, 3-17, ITB, Bandung.
Wiart, C. (2006) Medicinal Plant of Asia-Pacific-Drugs for the Future. World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd., British Library Cataloguing-in-Publication Data, 380
Lampiran
Rancangan Anggaran Keuangan
Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Harga satuan
(Rp) Jumlah
Silika gel Gf 254 Uji kandungan senyawa kimia secara KLT 5 lembar plat 20x20 cm
200.000 1.000.000 Etil asetat PA Uji kandungan senyawa kimia secara KLT 1 L 890.000 890.000 Etanol 70 % PA Uji kandungan senyawa kimia secara KLT 1 L 880.000 880.000
Heksan PA Uji kandungan senyawa kimia secara KLT 1 L 850.000 850.000
Chloroform PA Uji kandungan senyawa kimia secara KLT 1 L 800.000 800.000
DCM PA Pelarut ekstraksi 1L 820.000 820.000
Etil asetat teknis Pelarut ekstraksi 1 L 500.000 500.000
Heksan teknis Pelarut ekstraksi 1 L 450.000 450.000
Etanol 70 % teknis Pelarut ekstraksi 5 L 50.000 250.000
Aguades Pelarut 10 L 5.000 100.000
Simplisia segar Bahan ekstrak 5 kg 200.000 1.000.000
Vial kosong Tempat ekstrak 100 2.000 200.000
Bahan kimia Identifikasi kualitatif 1 paket 500.000 500.000
Pemeriksaan kadar air Identifikasi 3 x 50.000 150.000
Pemeriksaan kadar abu Identifikasi 3 x 50.000 150.000
Obyek glass dan pipet Identifikasi 1 pax 250.000 250.000
Kloral hidrat Identifikasi 50 ml 500.000 500.000
Pembuatan preparat awetan Identifikasi 10 100.000 1.000.000
Biaya determinasi Determinasi 1 75.000 75.000
Biaya analisa preparat Kajian farmakognosi 1 paket 500.000 500.000
Sub Total 10865000 Biaya Perjalanan
Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Harga satuan
(Rp) Jumlah
Transport pembelian bahan Beli bahan habis pakai 4 200.000 800.000
Transport determinasi Determinasi tanaman 2 150.000 300.000
Transport seminar Seminar dalam negeri 2 500.000 1.000.000
Sub Total 2.100.000 Biaya Publiaksi
Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Harga satuan
(Rp) Jumlah
Biaya publikasi jurnal Sinta 3 1 500.000 1000.000
Biaya publikasi prosiding Seminar Nasional 1 500.000 1000.000
Sub Total 2.000.000
Total anggaran yang diperlukan 14.965.000
SEMINAR PROPOSAL DI PROGRAM STUDI Link
Zoom
https://us06web.zoom.us/j/7120111997?pwd=ODVRMW41QjhLQndueWRyZ1Jqeml oUT09
Ketika diklik Link zoom judulnya harus seminar proposal program studi Farmasi Fakultas Farmasi dan Sains tanggal 29 November 2021 pukul 16.00 WIB – selesai.
Seminar minimal dihadiri oleh Ketua Prodi/Sekertaris dengan participant dosen minimal 3 Dosen
Lampiran Format Susunan Organisasi Tim Pengusul dan Pembagian Tugas No Nama / NIDN Instansi Asal
Bidang Ilmu
Alokasi Waktu
(jam/minggu)
Uraian Tugas
1 Ema Dewanti, M.Si. Biologi Farmasi 28 jam/minggu Penyusunan proposal, prosedur ekstraksi, kajian farmakognosi, pengolahan data dan penyusunan laporan, penyusunan artikel luaran utama
2 Dr. Apt. Rini
Prastiwi, M.Si
Biologi Farmasi 28 jam/minggu Penyusunan proposal, prosedur ekstraksi, kajian fitokimia,
pengolahan data, penyusunan laporan, penyusunan artikel luaran tambahan
Surat Pernyataan Peneliti
SURAT PERNYATAAN PENELITI Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama lengkap : Ema Dewanti, M.Si.
NIDN : 0309017001
Fakultas / Program Studi : Farmasi/Farmasi dan Sains Jabatan Fungsional : Lektor
Menyatakan bahwa proposal Penelitian Dasar Keilmuan dengan judul TINJAUAN FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA TANAMAN LEGETAN WARAK (Adenostemma lavenia L. Kuntze) SEBAGAI SUMBER OBAT BAHAN ALAM elah dipresentasikan di program studi dan disetujui oleh pimpinan fakultas merupakan karya tulis yang bebas dari plagiarism.
Demikian surat pernyataan ini ditulis untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 29 November 2021
Ketua Program Studi Farmasi, Ketua Peneliti,
Dr. apt. Rini Prastiwi, M.Si. Ema Dewanti, M.Si.
NIDN. 06.280978.01 NIDN. 03.090170.01