MANAJEMEN BELAJAR BERBASIS MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMPN 7 KOTA BENGKULU. PENDEKATAN STUDENT LEARNING (SCL) PADA KURSUS STRATEGI PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN KEGIATAN STRATEGI BELAJAR FISIKA SISWA, HASIL BELAJAR, DAN SOFT SKILL. DAMPAK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT PADA KELAS X SEKOLAH PROFESIONAL 3 KOTA JAMBI.
INOVASI BAHAN AJAR INTERAKTIF BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN KIMIA ANALITIK DASAR. PENERAPAN INSTRUMEN PENILAIAN PILIHAN GANDA DUA TINGKAT UNTUK MENGUKUR PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP KIMIA. PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA BERBENTUK COMPACT DISC (CD) BERBASIS MULTIMEDIA PADA MATERI SISTEM PERIODIK UNTUK KELAS X.
DAMPAK PENGGUNAAN MEDIA BERORIENTASI KELAS KIMIA DALAM PEMBELAJARAN KOLABORASI, INDIVIDU DAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR KELAS DALAM PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS ILMU INOVATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN ANALISIS KASI.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES ILMIAH DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH KIMIA SISWA KELAS XI IPA SMAN 8 TANJUNG JABUNG TIMUR. PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING/DL UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL PERKULIAHAN BIOLOGI DASAR MAHASISWA SEMESTER III PROGRAM PENDIDIKAN KIMIA FKIP UNIVERSITAS BENGKULU. KEGIATAN 5M DALAM PROSES BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KEGIATAN BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI MIPA SMA NEGERI 3 DUMAI.
PENGEMBANGAN BUKU PELAJARAN BERBASIS LITERASI LINGKUNGAN PADA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN UNTUK SISWA KELAS X SMA/MA.
OPTIMASI PEMISAHAN EKSTRAK METANOL KULIT BATANG TUMBUHAN BINAHONG (Anredera cordifolia) SECARA MPLC
DickySildianto,Noviany, dan Andi Setiawan
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Penemuan struktur molekul baru senyawa metabolit sekunder bioaktif tumbuhan akan mendukung pengembangan ilmu kimia obat. Tumbuhan merupakan sumber senyawa metabolit sekunder terbaik, dengan jumlah metabolit sekunder yang hampir seluruhnya telah teridentifikasi berasal dari tumbuhan (Zhang, et.al., 2004). Tanaman Binahong (Anredera cordifolia) merupakan tanaman obat potensial yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit.
Di Indonesia tanaman ini belum banyak dikenal, sedangkan di Vietnam tanaman ini menjadi makanan wajib bagi masyarakat disana. Tanaman binahong (Anredera cordifolia) yang termasuk dalam famili Besellacae merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai potensi besar untuk penelitian di masa depan, karena tanaman ini masih banyak yang perlu dieksplorasi sebagai bahan fitofarmaka. Di negara-negara Eropa dan Amerika tanaman ini cukup terkenal, namun para ahli di sana belum tertarik untuk melakukan penelitian yang serius dan mendalam, padahal berbagai khasiat obatnya telah diketahui (Feri dan Ballitro, 2009).
Berdasarkan literatur yang ada, hingga saat ini belum dilakukan penelitian lebih intensif terhadap batang tanaman binahong (Anredera cordifolia). Penelitian yang dilakukan Ratu, dkk. 2016) pada tanaman binahong mengandung senyawa flavonoid pada ekstrak metanol batang tanaman binahong. Dari hasil penelitian ini diharapkan diperoleh informasi baru mengenai kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada jaringan batang tanaman binahong.
TINJAUAN PUSTAKA A. Binahong (Anredera cordifolia)
- Senyawa Metabolit Sekunder
- Alkaloid
- Flavanoid
- Saponin
- Terpenoid
- Tanin
- Ekstraksi
- Maserasi
- Perkolasi
- Reflux dan Destilasi Uap
- Pemisahan Senyawa
- Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
- Fraksinasi
- MPLC (Medium Pressure Liquid Chromathography)
- Alat – alat yang digunakan
- Bahan-bahan yang digunakan
- Prosedur Penelitian
- Pengumpulan dan persiapan sampel
- Isolasi dan Ekstraksi
- Pemisahan dan Pemurnian
Dalam penelitian lain disebutkan bahwa tanaman binahong dapat mengobati penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri, bahkan ekstrak daun dan umbi binahong dapat mengobati infeksi penyakit kelamin seperti sifilis (Tshikalange dan Husein, 2005). Tanaman binahong mengandung fenol, flavonoid, saponin, triterpenoid, steroid dan alkaloid, selain memiliki aktivitas antioksidan (Ratu, et al., 2016). Senyawa fenolik dan flavonoid termasuk dalam metabolit sekunder dari tumbuhan yang mempunyai aktivitas biologis dan terdiri dari 8000 jenis senyawa (Marinova dan Allanasova, 2005).
Tanaman binahong mengandung senyawa saponin yang lebih besar dibandingkan senyawa lainnya terutama pada bagian umbinya. Menurut Wink (1999), metabolit sekunder merupakan senyawa organik yang tidak berhubungan langsung dengan pertumbuhan, perkembangan atau reproduksi tanaman. Fungsi metabolit sekunder sangat penting bagi organisme yang memproduksinya maupun bagi organisme lain termasuk manusia.Metabolit sekunder paling melimpah atau sering ditemukan pada tumbuhan, meskipun dapat juga ditemukan pada organisme lain (Edreva, 2005). Beberapa metabolit sekunder bagi tumbuhan bersifat seperti hormon atau mempengaruhi warna dan aroma buah yang menarik serangga, mamalia kecil, dan burung untuk membantu penyerbukan dan penyebaran benih.
Selain itu, karena dibatasi oleh kemampuannya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tumbuhan telah mengembangkan strategi bertahan hidup yang melibatkan berbagai metabolit sekunder sebagai alat untuk mengatasi stres dan perubahan lingkungan. Metabolit sekunder juga diproduksi untuk melindungi tanaman dari berbagai organisme predator, termasuk mikroorganisme, serangga dan herbivora (Cowan, 1999). Metabolit sekunder mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena diproduksi dalam jumlah kecil dan pada kondisi tertentu, misalnya pada kondisi stres, tidak diproduksi secara universal atau hanya diproduksi oleh spesies tertentu, dan bersifat bioaktif khusus untuk proses pertahanan (Edreva et al., 2008).
Efektivitas metabolit sekunder dalam sistem pertahanan tanaman menyiratkan bahwa metabolit sekunder mempunyai kepentingan farmakologis yang penting yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang menyerang manusia (Mans, 2013). Flavonoid merupakan salah satu komponen metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan, yang banyak terdapat pada daun, akar, kayu, kulit kayu, serbuk sari, bunga dan biji. Kata terpenoid mencakup sejumlah besar senyawa tumbuhan dan istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa secara biosintesis semua senyawa tumbuhan berasal dari senyawa yang sama.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah dapat memisahkan banyak senyawa yang berbeda seperti senyawa organik dan anorganik dalam waktu singkat dengan menggunakan peralatan yang tidak terlalu mahal. Komponen senyawa yang dianalisis dapat dipisahkan dan dibedakan berdasarkan nilai Rf (Retention Factor). Selanjutnya KLT menggunakan pelat preparatif C18 untuk melihat pola pemisahan komponen senyawa pada filtrat hasil fraksionasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Ekstraksi
Fraksinasi
Kemudian sebanyak 2 mL ekstrak binahong yang telah dimurnikan dari pengotor diinjeksikan ke dalam alat MPLC (Medium Pressure Liquid Chromatography) untuk dilakukan proses analisis fraksinasi dan diulang sebanyak 5 kali. Fraksinasi dengan MPLC dilakukan dengan fasa diam C18 dan dielusi secara gradien menggunakan fasa gerak MeOH : H2O (7:3).Hasil fraksinasi MPLC dapat dilihat pada Gambar 6. Hasil kromatogram menunjukkan bahwa fraksinasi utama senyawa memberikan serapan pada rentang 220 nm yang menunjukkan adanya serapan karbonil dan pada 254 nm menunjukkan adanya ikatan terkonjugasi atau aromatik pada waktu retensi 1 menit hingga 4 menit 30 detik.
Hasil fraksinasi yang didapat kemudian dikelompokkan menjadi 3 bagian besar, dimana bagian I terdiri dari pecahan sebelum puncak yaitu pecahan nomor 1 sampai nomor 3. Kemudian hasil fraksinasi yang mempunyai puncak dikeringkan menggunakan alat penguap putar vakum yang diencerkan kembali. dengan metanol, yang berguna untuk identifikasi dengan KLT. Setelah pengenceran menggunakan metanol, fraksi yang mempunyai puncak pada kromatogram yang diperoleh sebelumnya (Gambar 6) dipilih untuk diidentifikasi dengan KLT menggunakan eluen etanol:heksena (3:7).
Hal ini terlihat dari terbentuknya titik di bawah pelat yang menandakan bahwa senyawa tersebut bersifat polar karena pada proses KLT digunakan pelat silika yang bersifat polar sehingga menyebabkan titik yang terbentuk berada di bagian bawah karena senyawa yang telah teridentifikasi. bersifat polar.
KESIMPULAN
- Fraksi metanol memiliki pemisahaan komponen senyawa yang lebih baik dibandingkan dengan fraksi etil asetat dan fraksi heksena
- Hasil KLT ekstrak kasar metanol mengindikasi bahwa senyawa yang terkandung adalah flavonoid dengan nilai Rf sebesar 0,7
- Hasil dari proses MPLC (Medium Pressure Liquid Chromathography) menghasilkan fraksi sebanyak 39 fraksi
- Hasil kromatogram proses MPLC (Medium Pressure Liquid Chromathography) menunjukan puncak pada fraksi ke 4 sampai dengan 17
- Hasil KLT fraksinasi ke 4 sampai dengan 17 menunjukan senyawa yang bersifat polar yang ditunjukan pada letak noda yang berada dibawah saat menggunakan plat silika
Hasil kromatogram dari proses MPLC (Medium Pressure Liquid Chromathography) menunjukkan puncak pada fraksi 4 sampai 17. Hasil KLT dari fraksi 4 sampai 17 menunjukkan senyawa bersifat polar, seperti terlihat pada letak titik di bagian bawah jika menggunakan silika. piring. .
DAFTAR PUSTAKA