• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF SKRIPSI - digilib.uinkhas.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PDF SKRIPSI - digilib.uinkhas.ac.id"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

MUHAMMAD USMAN NIM: 084 131 310

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

OKTOBER 2017

(2)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (s.pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu kiguruan Jurusan Pendidikan Islam program studi pendidikan Agama Islam

Oleh:

Muhammad Usman Itl"tM: 084131310

Disetujui Pembimbing

IAIN JEMBER

NIP. 1

(3)

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima unruk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S-pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu ke-euruan Jurusan Pendidikan Islam

Program Studi Pendidikan Agama lslam

Hari

: Senin

Tanggal : l6 Oktober20l7 Tim Penguji

Ketua

Sekretaris

Drs. H. Mahrus. M.Pd.I NIP: 19670525 200012 1 001

Anggota:

Dr. H. Moh. Sahlan, M.Ag

As'ari, NI.Pd.I, l\I.Ed

t

1.

2.

(

(

)

)

Menyerujui Dekan FTIK IAIN Jember

Abdulla

97642$ 200212

I

A03

llI

1503100r

(4)

MOTTO

َّ نِإ

َّ

ََّعَم

َّٱَّ ل

َِّ سُع

َّ

َّر سُي اَّ٦ اَذِإَف ََّّ

َّ

َّ غَرَف

ََّت

َََّّف ٱ

َّ ب َصن

َّ٧َّ

َّ

َّى َ لوَإِ

ََّكِ بَر َّ

َََّّف ٱَّ ر بَغ

َّ٨َّ

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.1

1 Al-Qur’an, 94:6-7

(5)

1. Ayahanda (Muhammad Hasan) dan Ibunda (Amyati) yang telah berkorban dengan materi yang tak sedikit serta doa yang selalu dipanjatkan dengan harapan untuk kesuksesan anaknya, hingga tiada kata yang bisa mengungkapkan rasa cinta ini kecuali doaku, semoga engkau selalu disayangi dan dicintai oleh Allah SWT dan Rosul-Nya.

2. Untuk Mbakku dan ponakanku tersayang (Selly Ulum Asiska dan Muhammad Aditya Rifki), yang telah memberikanku semangat untuk selalu melakukan yang terbaik.

3. Serta almamater yang aku banggakan, kampus IAIN Jember yang telah memberikanku kesempatan untuk belajar kepada para ahli yang berkompeten dalam bidangnya, sehingga memberikanku pembelajaran yang begitu sangat mengagumkan.

(6)

Tiada hentinya rasa syukur ini tercurahkan atas Taufik dan Hidayah yang telah Allah SWT berikan sehingga penulisan karya ilmiyah ini dapat terselesaikan pada waktu yang telah ditentukan, serta semoga rasa rindu ini dapat tercurahkan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad Saw yang telah memberikan kita terangnya cahaya Islam dan semoga syafaatnyalah yang akan menaungi kita pada hari kiamat kelak.

Skripsi yang berjudul “Implementasi Metode Pembelajaran Example Non Example Dalam Meningkatkan Daya Pikir Kritis Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VII MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang Jember Tahun Pelajaran 2017/2018”, merupakan upaya yang dilakukan penulis dalam rangka menyelsaikan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.

Penulisan skripsi ini secara tidak langsung melibatkan banyak pihak yang telah memberikan bimbingan maupun motivasi sehingga dalam rangka membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, maka diucapkanlah terima kasih kepada.

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Jember yang selalu memberikan fasilitas yang memadai selama kami menuntut ilmu di IAIN Jember.

(7)

3. Dr. H. Mundir, M.Pd selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam IAIN Jember yang selalu memberikan arahan dalam program perkuliahan yang kami tempuh.

4. H. Mursalim, M.Ag selaku ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam IAIN Jember yang selalu membimbing kami dalam perkuliahan.

5. As’ari M. Ag, M. Ed selaku dosen pembimbing yang telah memberikan nasihat dan arahan selama penyusunan skripsi, serta bersedia meluangkan waktunya demi kelancaran penulisan skripsi ini.

6. Atikurrahman, S. Ag selaku kepala Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian dimadrasah asuhannya.

7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya.

Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis tercatat sebagai amal shalih yang diterima oleh Allah SWT dan penulis memohon agar selalu dalam lindungan dan hidayah-Nya, Amiin.

Jember, 6 September 2017 Penulis

Muhammad Usman NIM. 084 131 310

(8)

ABSTRAK

Muhammad Usman, 2017: Implementasi Metode Pembelajaran Example Non Example Dalam Meningkatkan Daya Pikir Kritis Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VII MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang Jember Tahun Pelajaran 2017/2018.”

Pengangkatan tema ini dilatar belakangi dengan penggunaan metode pembelajaran yang digunakan oleh para pendidik atau guru di sekolah, biasanya guru-guru di sekolah dalam penyampaian materinya mengguanakan metode klasikan (ceramah & tanya jawab). Dengan di terapkannya metode example non example pada mata pelajaran sejarah kebudayaan islam kelas VII MTs Nurur Rohman ini tentu mengajak siswa untuk ikut serta dan aktif dalam proses belajar pembelajaran. Berdasarkan masalah tersebut maka diangkatlah tema

“Implementasi Metode Pembelajaran Example Non Example Dalam Meningkatkan Daya Pikir Kritis Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VII MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang Jember Tahun Pelajaran 2017/2018”

Fokus penelitian pada skripsi ini ada tiga yang disebutkan sebagai berikut.

1. Bagaimana perencanaan penerapan metode Example Non Example pada pembelajaran sejarah kebudayaan islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa? 2. Bagaimana pelaksanaan penerapan metode Example non Example pada pembelajaran sejarah kebudayaan islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa? 3. Bagaimana evaluasi penerapan metode Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa?

Sedangkan Tujuan dari penelitian ini adalah. 1. Untuk mendiskripsikan perencanaan metode pembelajaran Example Non Example dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam menigkatkan berpikir kritis siswa. 2. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan metode Example Non Example pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa. 3. Untuk mendeskripsikan evaluasi pembelajaran metode Example Non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa.

Metode penelitian pada skripsi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dalam menentukan subyek penelitian, menggunakan teknik purposive. sedangkan metode dalam pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan mengambil sumber data dari kepala sekolah, guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam staf dan peserta didik. Adapun analisa data dalam penelitian ini yaitu reduction data, data display, dan penarikan kesimpulan. Dan keabsahan data digunakan adalah trianggulasi sumber triangulasi waktu dan trianggulasi teknik.

Hasil yang didapat dari penelitian yang telah dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman, dalam penerapan metode sebelum melaksanakan proses pembelajaran guru membuat perencanaan yang mencangkup tujuan, media, metode, kegiatan pembelajaran dan sumber belajar. Dan juga dalam pelaksanaannya menggukan media visual berupa gambar. Untuk evaluasinya menggunakan tes formatif, diagnostig dan sumatif.

(9)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Definisi Istilah ... 7

F. Sistematika Pembahasan ... 8

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 10

A. Penelitian Terdahulu ... 10

B. Kajian Teori ... 15

1. Pengertian metode pembelajaran Example Non Example ... 15

2. Perencanaan implementasi metode Example Non Example... 16

(10)

BAB III METODE PENELITIAN ... 34

A. Pendekatan dan Jenis Pendekatan ... 34

B. Lokasi Penelitian ... 34

C. Subyek Penelitian ... 34

D. Teknik Pengumpulan Data ... 35

1. Metode Observasi ... 35

2. Metode Wawancara ... 36

3. Metode Dokumentasi ... 37

E. Analisis Data ... 38

F. Keabsahan Data ... 40

G. Tahap-tahap Penelitian ... 42

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 48

A. Deskripsi Singkat Objek Penelitian... 48

B. Penyajian Data dan Analisis ... 53

1. Perencanaan Implementasi Metode Example Non Example ... 56

2. Pelaksanaan Implementasi Metode Example Non Example ... 60

3. Evaluasi Implementasi Metode Example Non Example ... 65

4. Berfikir Kritis ... 68

C. Pembahasan Temuan ... 72

1. Perencanaan Implementasi Metode Example Non Example ... 72

(11)

BAB V PENUTUP ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 ... 10

Tabel 4.1 ... 51

Tabel 4.2 ... 52

Tabel 4.3 ... 53 LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1: Matrik Penelitian

Lampiran 2: Formulir Pengumpulan Data.

Lampiran 3: Dokumentasi Kegiatan Lampiran 4: Denah Lokasi

Lampiran 5: Surat Keterangan Lampiran 6: Biodata Penulis

(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan adalah sarana yang strategis untuk melahirkan manusia yang terbina seluruh potensi dirinya (fisik, psikis, akal, spiritual, fitrah, talenta, dan sosial) sehingga dapat melaksankan fungsi pengabdiannya dalam rangka beribadah kepada Allah SWT, serta mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.1

Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Bab I ketentuan umum pasal 1. Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara2

Dalam dunia pendidikan ada yang namanya proses belajar mengajar, dimana dalam proses belajar harus menerapkan sebuah metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran agar peserta didik tersebut aktif dalam kelas.

Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu

1 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), 31.

2 Sisdiknas, Undang-undang RI Nomer 20 Tahun 2003 (Bandung: Citra Umbara, 2010), 2-3.

1

(14)

yang tidak dapat diamati.3 Tingkah laku sesudah terjadi proses belajar secara kualitatif lebih baik dari pada sebelumnya.4

Pembelajaran dapat di beri arti sebagai setiap uapaya yang sistematik dan di sengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar.5

Dalam pembelajaran guru harus benar-banar bisa memilih dan memakai metode pembelajaran yang tepat. Metode pelajar disini ialah alat yang merupakan perangkat atau bagian dari suatu strategi pembelajaran.6 Dimana ia harus memperhatiakan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar peggunaan model pembelajaran dapat diterapakan secara efektif dan menunjang keberhasilan siswa.

Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad menegaskan bahwa metode pegajaran adalah cara-cara pelaksanaan daripada proses pengajaran atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah. 7

Sedagkan Purwadarminta mengatakan metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.8 Jadi metode mengajar sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran yang ingin dicapai,

3 Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: Renika Cipta, 2008), 21.

4 Sarwan, Belajar & Pembelajaran (Jemebr: Stain Jember Press, 2013), 5.

5 Sudjana, Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif (Bandung: Falah Production, 2001), 8.

6 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 22.

7 Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah (Jakarta: Renika Cipta, 2002), 148.

8 Sudjana, Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif (Bandung: Falah Production, 2001), 7.

(15)

sehingga semakin baik penggunaan metode mengajar semakin berhasillah pencapaian tujuan.9

Dengan perkembangan teknologi dan informasi, dengan sendirinya proses pembelajaran disekolah juga mengalami perubahan. Perubahan yang dimaksud tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik, sesuai dengan pekrembanga teknologi dan informasi tersebut.10

Untuk membantu Strategi pembelajaran yang aktif ini, guru dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran dan model pembelajaran yang relevan. Salah satu metode yang diterapkan dalam pembelajaran yang relevan adalah metode pembelajaran Examples Non Example.

Metode pembelajaran ini dapat menggeser penerapan strategi klasikal (metode cermah) menjadi suatu metode baru yang dapat mengupayakan siswa lebih aktif dan kritis dalam berfikir, sehingga siswa tidak diposisikan sebagai penerima materi yang pasif.

Dalam meningkatkan hasil belajar siswa perlu adanya penerapan metode pembelajaran yang tepat dan sesui dengan materi pelajaran. Seperti yang diterapkan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII di Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman Desa Tegal Waru Kecamatan Mayang.

Disana guru SKI menerapkan model pembelajaran Example non Example

9 Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar (Surabaya: Usaha nasional, 1993), 144.

10 Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Renika Cipta, 1997), 17.

(16)

karena metode ini selain membuat siswa aktif juga di dalamnya terdapat tiga metode sekaligus yaitu, metode cerama, tanya jawab, dan diskusi.11

Example non Example sendiri yaitu metode pembelajaran yang menggunakan dua media gambar (Visual), menurut pengertian bahasa berarti contoh dan bukan contoh. Jika di terjemahkan menurut cara kerjanya berarti metode pembelajaran yang menggunakan teknik melihat gambar dan menyimpulkan atau menjelaskan konsep apa yang di peroleh siswa dari gambar tersebut. 12

Dengan menerapkan metode seperti ini maka sudah jelas bahwasaanya siswa bukan hanya mendengarkan, akan tetapi harus benar-benar faham dan juga ikut berfikir secara kritis. Dengan penjelasan diatas maka perlu diadakan penelitian dengan judul:

“Implementasi Metode Pembelajaran Example Non Example Dalam Meningkatkan Daya Pikir Kritis Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VII MTs Nurur Roman Tegal Waru Mayang Jember”

B. Fokus Penelitian

Perumusan masalah dalam penelitian kulaitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan di cari jawabannya melalui proses penelitian. Fokus penelitian harus di susun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang di tuangkan

11 Bismi Aris Eko, wawancara, Jember 17 September 2016

12 Jasa Ungguh Muliawan. 45 Model Pembelajaran Spektakuler (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), 89.

(17)

dalam bentuk kalimat tanya.13 Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka dalam penelitian ini di ajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut;

1. Bagaimana perencanaan implementasi metode Example non Example pada pembelajaran sejarah kebudayaan islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa?

2. Bagaimana pelaksanaan implementasi metode Example non Example pada pembelajaran sejarah kebudayaan islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa?

3. Bagaimana evaluasi implementasi metode Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian.14 Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut;

1. Untuk mendiskripsikan penrencanaan implementasi metode pembelajaran Example non Example dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam menigkatkan berpikir kritis siswa

2. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan implementasi metode Example non Example pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam meningkatkan berpikir kritis siswa

3. Untuk mendeskripsikan evaluasi implementasi metode Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa.

13 Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember, IAIN Press, 2017), 44.

14 Ibid., 45.

(18)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan degunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan penelitian harus realistis.15

Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangsih pemikiran untuk memperkaya Khazanah Keilmuan dalam bidang pendidikan khususnya dalam pembelajara model Example non Example.

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

1) Penelitian ini memberikan pengalaman tersendiri bagi peneliti dalam penulisan karya ilmiah baik secara teori maupun secara praktik.

2) Peneliti ini dapat memperkaya wawasan pengetahuan peneliti yang berkaitan dengan model pembelajaran Example non Example

b. Bagi lembaga

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk lembaga MTs Nurur Rohman

15 Ibid., 45.

(19)

dalam mengembangkan/menigkatkan pembelajaran yang berkaitan denga model pembelajaran.

c. Bagi IAIN Jember

Penelitian ini bisa dijadikan literatur tambahan dari segenap karaya ilmiah dan dapat dijadikan tambahan refrensi dalam kajian penerapan model pembelajaran Example non Example.

d. Bagi masyarakat

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi dan dapat menambah wawasan serta kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih dan menerapkan model pembelajaran.

E. Definisi Istilah

Adapun istilah-istilah yang perlu di pertegas dan di perjelas dalam judul penelitian ini, adalah sebagai berikut;

1. Implementasi Metode Pembelajaran

Suatu proses penerapan atau pelaksanaan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan yang di tentukan.

2. Metode Example non Example

Suatu metode yang menggunakan dua gambar dan di jelaskan oleh guru setelahnya peserta didik menganalisis atau menyimpulkan maksud gambar yang ke dua

(20)

3. Berfikir Kritis

Berpikir kritis adalah mode berpikir mengenai hal, substansi atau masalah apa saja dimana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.

4. Sejarah Kebudayaan Islam

Sejarah kebudayaan islam yaitu catatan lengkap tentang segala sesuatu yang di hasilkan oleh umat islam untuk kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia

F. Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan pembahasan dan pemahaman serta hasil yang runtut dan sistematis, maka sistematika penyusunan Skripsi ini adalah sebagai berikut:

Bab I, berisi tentang pendahuluan dalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, sistematika pembahasan. Fungsi dari bab ini ialah untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai pembahasan mengenai ujian skripsi.

Ban II, berisi tentang kajian kepustakaan yang terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti.

(21)

Bab III, Berisi tentang metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, lokasi peneliti, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, tahap-tahap penelitian.

Bab IV, berisi tentang penyajian data dan analisis yang terdiri gambar objek penelitian, penyajian data dan analisis, pembahasan temuan.

Bab V, berisi tentang peutup atau kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan serta saran-saran yang tentunya bersifat konstuktif.

Selanjutnya skripsi ini diakhiri dengan daftar kepustakaan dan beberapa lampiran-lampiran sebagai pendukung didalam pemenuhan kelengkapan data skripsi.

(22)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Kajian Terdahulu

Pada bagian ini akan dicantumkan penelitian yang telah terlebih dahulu dilakukan, hal ini untuk membantu penelitian ini dalam menentukan poin-poin yang akan dimasukkan. Kajian terdahulu yang telah didapat antara lain:

a. Alfiatin Hasanah, 2013. Skripsi dengan judul “Efektivitas metode pembelajaran mandiri mata pelajaran PAI dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis (studi kasus: kelas V SD Negeri Jubung 03 Jember Tahun 2012/2013”.

Penelitian ini membahas tentang efektifitas belajar mandiri pada mata pelajaran PAI dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis di SD Negri Jubung 03. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data obeservasi, wawancara, dokumentasi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan metode belajar mandiri pada mata pelajaran PAI dalam mengembangan kemampuan berfikir kritis mata pelajaran PAI pelaksanaannya sudah cukup efektif terbukti dari hasil yang telah didapat oleh siswa, baik dalam hal nilai maupun pengalaman ilmu pengetahuan yang didapat

(23)

menggunakan metode belajar mandiri dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis siswa.16

b. Maya Derisma’ul Husna, skripsi dengan judul “Penerapan Metode Cooperative Script Dalam Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Dan Ketuntasan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Tsanawiyah Al-Misri Curah Malang Rambupuji Jember Tahun Pelajaran 2013/2014”

Penelitian ini bertempat di curah malang rambipuji jember yang menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan metode Cooperative Script sebagai persiapan awal, guru harus mempersiapkan seperangkat pembelajaran yang di butuhkan dan proses pembelajaran siswa dapat berfikir kritis terhadap materi yang diajarkan dan ketuntasan belajar pun bisa diraih siswa.17

c. Faiqutus Zuhro, skripsi dengan judul “Penerapan Contextual Teaching and Learning Dalam Menanamkan Daya Berpikir Kritis Dan Kreatif Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 2 Ajung Kabupaten Jember Tahun Ajaran 2013/2014”

16 Alfiatin hasanah, Efektivitas metode pembelajaran mandiri mata pelajaran PAI dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis (studi kasus: kelas V SD Negeri Jubung 03 Jember Tahun 2012/2013 (IAIN Jember. 2013)

17 Maya Derisma’ul Husna, Penerapan Metode Cooperative Script Dalam Meningkatkan

Kemampuan Berfikir Kritis Dan Ketuntasan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Tsanawiyah Al-Misri Curah Malang Rambupuji Jember Tahun Pelajaran 2013/2014 (IAIN Jember. 2014)

(24)

Penelitian ini bertempat di Ajung Jember dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat Deskriptif, sedangkan pengumpulan datanya menggunakan observasi, interview dan dokumenter.

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penerapan CTL menanamkan daya berpikir kritis dan kreatif siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam di SMP Negeri 2 Ajung kabupaten Jember Ajaran 2013/2014 di terapkan dalam proses pembelajaran agama islam sesuai dengan apa yang telah di konsepkan guru pada RPP. Yaitu yang berlangsung di kelas dan musholah, hasil belajar siswa kelas VII C pada bab Sholat Jama’ dan Qashar.

(25)

Tabel 2.1

Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu dan penelitian sekarang

No. Judul/Nama Persamaan Perbedaan

1 Efektivitas Metode Pembelajaran

Mandiri Mata Pelajaran PAI Dalam Mengembangkan Kemampuan Berfikir Kritis (Studi Kasus:

Kelas V SD Negeri Jubung 03 Jember Tahun 2012/2013

1. Sama-sama menggunakan metode pembelajara.

2. Sama-sama meneliti tangtang kemampuan berpikir kritis siswa.

Alfiatin Hasanah, menggunakanefektifitas pembelajaran mandiri dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis di SDN jubung 03 Jember, sedangkan

peneliian ini

menggunakan metode Example non Example dalam meningkatkan Kemampuan berpikir kritis siswa di MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang tahun ajaran 2017/2018 2 Penerapan Metode

Cooperative Script Dalam Meningkatkan Kemampuan Berfikir

Kritis Dan

Ketuntasan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Tsanawiyah Al-Misri

Curah Malang

Rambipuji Jember Tahun 2013/2014

1. Sama-sama menjelaskan metode pembelajaran.

2. Sama-sama meningkatkan daya pikir kritis siswa.

Maya Derisma’ul Husna, menggunakan metode Cooperative

Script dalam

meningkatkan berpikir kritis dalam ketuntasan hasuil belajar di curah malang rambi puji.

Sedangkan penelitian ini metode yang di gunakan adalah Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa di MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang tahun ajaran 2017/2018 3 Penerapan

Contextual Teaching and Learning dalam menanamkan daya Berpikir kritis dan kreatif siswa pada mata pelajaran

1. Sama-sama menjelaskan metode pembelajaran.

2. Sama-sama membahas

berpikir kritis

Faiqutus Zuhro, dalam penelitiannya

menggunakan metode contectual Teaching and Learning dalam menanamkan berpikir kritis dan kreatif di

(26)

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 Ajung Kabupaten Jember tahun ajaran 2013/2014

siswa SMP Negeri 2 Ajung.

Sedangkan penelitian ini menggunakan metode Example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa di MTs Nuru Rohman Tegal Waru Mayang tahun ajaran 2017/2018

(27)

B. Kajian Teori

Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang di jadikan sebagai perspektif dalam melakuka penelitian. Pembahasan teori secara luas dan mendalam akan semakin dalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak di pecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.18

1. Pengertian Metode Pembelajaran Example non Example

Example non Example adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. contoh-contoh dapat di peroleh dari kasus atau gambar yang relewan dari KD. Metode pembelajaran Example non Example menggunan media gambar sebagai media pembelajarannya. Metode ini bertujuan untuk mendorong siswa agar belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam conoh-contoh gambar yang telah di persiapkan terlebih dahulu.19

Metode pembelajaran ini merupakan sebuah langkah untuk mensiasati agar siswa dapat mendefinisikan sebuah konsep. Adapun strategi yang bisa di gunakan bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan dua hal yang terdiri dari Example (contoh akan suatu materi yang sedang di bahas), dan non-Example

18 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 46.

19 Imas Kurniasih & Berlin Sani, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Peningkatan Profesionalitas Guru ( kata pena, 2016), 31

(28)

(contoh dari suatu materi yang sedang tidak di bahas), dan meminta siswa untuk mengklasifikasiakan keduanya sesuai konsep yang ada. 20

Guru, sering kali menggunakan alat bantu visual, seperti filem, foto dan lukisan, untuk membantu guru menigkatkan kemampuan dasar dan keseluruhan penampilan mereka. Contoh-contoh visual dapat membantu siswa memahami dengan lebih baik tentang tanggung jawab serta dapat membuat mereka siaga secara mental dan tetap aktif.21

Dengan memperlihatkan contoh gambar yang ada diharapkan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap gambar-gambar dan materi yang sedang di pelajari metode pembelajaran ini juga di rancang agar siswa memiliki kompetensi dalam menganalisis gambar dan memberikan deskripsi mengenai apa yang ada di dalam gambar.22 a. Perencanaan implementasi metode example non example

Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran.

Dengan demikian rencana pelaksanaan pembelajaran upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan ke dalam tindakan pembelajaran.23

20 Ibid., 32.

21 Pat Hollingsworth dan Gina Lewis. Pemebelajaran Aktif, Meningkatkan Keasyikan Kegiatan di Kelas (Jakarta: PT Indeks, 2008), 10.

22 Kurniasih, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran, 31.

23 Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), 94

(29)

Dalam hal ini istilah pembelajar memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (Desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.

Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.24 Perencanaan memiliki beberapa definisi yang berbeda satu dengan yang lainnya, perencanaan menurut William H.

Administrative Active Technigues of organization and Management mengemukakan bahwa “perencanaan adalah menentukan apa yang kan dilakukan. Lebih lanjut perencanaan berisi rangkaian keputusan yang luas dan penjelasan-penjelasan tentang tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari- hari”

Ulbert Silalahi juga menyatakan bahwa “perencanaan merupakan kegiatan menetapkan tujuan serta merumuskan dan mengatur pemberdayaan manusia, iformasi, finansial, metode dan waktu untuk memaksimalkan efisiensi dan efektifitas pencapaian tujuan”.25

Perencanaan pelaksanaan pembelajaran di jabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban

24 Hamzah B. Uno, Perencanaan pemelajaran. (Jakarta; Bumi Aksara. 2012). 2.

25 Zuhairi, Perencanaan Sistem Pembelajaran, (Lampung: STAIN Jurai Siwo Metro, 2015), 5.

(30)

menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menentang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.26

Dasar perlunya perencanaan disini ialah sebagai berikut:

1) Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembelajaran;

2) Untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan siste;

3) Perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar;

4) Pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran;

5) Sasaran akhir dari perenccanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar;

26 Dirman dan Cicih Juarsih, Pengembangan Kurikulum Dalam Rangka Implementasistandar Proses Pendidikan Siswa (Jakarta: Renika Cipta, 2014), 55.

(31)

6) Inti dari deain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan27

Selain harus diawali dengan perencanaan yang baik ada beberapa yang harus di perhatikan dalam merencanakan pembelajaran seperti halnya komponen-komponen dalam perencnaan. Menuru mashitoh dalam bukunya yang berjudul perencanaan pembelajaran bahwa komponen-komponen perencanaan pembelajaran diantaranya terdiri dari:

1) Tujuan pembelajaran 2) Isi (materi pembelajaran)

3) Kegiatan pebelajaran (kegiatan belajar mengajar) 4) Media dan sumber belajar; dan

5) Evaluasi

Sedangkan menurut M. Sorby sutikno dalam bukunya yang berjudul belajar dan pembelajaran mengatakan bahwa komponen pembelajaran itu terdiri atas tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, media, sumber belajar, dan evaluasi.28

Beberapa prinsip perencanaan pembelajaran adalah meliputi;

27 Uno, Perencanaan Pembeajaran, 3.

28 Linda Erviani, “Komponen-komponen Perencanaan Pembelajaran”,

http://ervianilinda.blogspot.co.id/2012/11/komponen-komponen-perencanaan.html?m=1. (05 September 2017).

(32)

Dilakukan oleh SDM yang tepat dan kompeten. 1) Dalam melaksanakan perencanaan pembelajaran maka perencanaan tersebut harus dilakukan oleh orang yang tepat. Untuk merencanakan proses pembelajaran matematika maka yang dapat melaksanakan adalah orang dari jurusan matematika, untuk merencanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam maka yang dapat melaksanakannya adalah orang dari jurursan Agama Islam. 2) Dalam melakukan perencanaan bagaimana perencanaan tersebut dilaksanakan. 3) beracuan pada masa yang akan datang perencanaan yang di buat adalah apa yang akan di upayakan untuk dapat dicapai pada kurun waktu yang akan datang. 4) Perencanaan yang dibuat memeperhitungkan realitas dan kondisi yang ada di sekolah.29

Pembelajaran yang efektif harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa, karena dalam belajar sistem penyampaian dan perintah, tidak semua siswa bisa terlibat dalam proses pengajaran tersebut, bahkan bisa terjadi mereka berada dalam kelas tapi pikirannya bekerja diluar kelas, karena yang bekerja dikelas adalah guru, dan murid disuruh menyaksikan gurunya kerja, dan mendengarkan yang diucapkannya serta melihat yang dibaca dan ditulis. Guru tidak bisa mengontrol intensitas siswa dalam menyerap bahan-bahan ajar tersebut. Untuk itulah, maka guru sebaiknya terus

29 Sugeng Listyo Prabowo dan Faridah Nurmaliyah, Perencanaan Pembelajaran (Malang: UIN- MALIKI PRESS, 2010), 5.

(33)

mengubah dan mengembangkan strategi agar mampu membuat siswa- siswa itu belajar.30

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaat hasil-hasil teknologi dalam proses belajar.31 Sebagai suatu kegiatan yang dibatasi oleh waktu, pembelajaran juga harus mampu memanfaatkan waktu, yang ada atau bahkan mempercepat pencapaian kompetensi yang direncanakana. Untuk hal-hal tersebut itulah kemudian di perlukan media pembelajaran. Media pemelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin di teruskan kepada sasaran atau penerima pesan. Dengan demikian posisi media selalu berada diantara komunikator dan komunikan, antara sumber pesan dan penerima pesan.32

Dalam penggunaan media belajar tidak semua media dapat kita pergunakan. Namun media pembelajaran yang hendak kita pakai, harus dipilih terlebih dahulu dan di sesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Sebab fungsi media tersebut bersifat membantu guru dan peserta didik dalam melakukan efektifitas waktu pembelajaran dan penyajian yang menyenangkan agar di peroleh tujuan belajar yang telah di tentukan.33

30 Dede Rosyada. Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Perdana Media, 2004), 156.

31 Zuhairi, perencanaan sistem pembelajaran, 137

32 Prabowo dan nurmalia, perencanaan pembelajaran, 117.

33 Rif’an Hubaidi, media pembelajaran konsep dan implementasi (Jember: STAIN PRESS, 2013), 67.

(34)

Namun demikian pemilihan media harus tepat dengan sasaran.

Arsyad menyebutkan kriterian dalam pemilihan media dan penggunaan media, hal tersebut di antaranya adalah; 1) sesuai tujuan yang ingin di capai, 2) tepat untuk mendukung isi pelajaran, 3) praktis luwes dan bertahan, 4) guru terampil menggunakannya, 5) pengelompokan sasaran, 6) mutu teknis.34

b. Pelaksanaan implementasi metode example non example

Metode pembelajaran ini bisa dilaksanakan dengan bantuan media lainnya seperti menggunakan OHP, Proyektor, ataupun dengan menggunakan poster. Dan guru harus bisa memastikan bahwa gambar yang digunakan adalah gambar yang betul-betul dapat mencuri perhatian anak, sehingga para siswa betul-betul bisa fokus dalam mengikuti proses pebelajaran.35

1) Persiapan guru untuk menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran yang telah digariskan.

2) Gambar yang ada di persiapkan dengan menggunakan media OHP atau proyektor, dan bisa juga menggunakan poster yang di tempel di papan tulis.36

3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan atau menganalisis gambar.

4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas.

34 Ibid., 72

35 Kurniasih, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran, 32.

36 Ibid., 34.

(35)

5) Setiap kelmpok di berikan kesempatan membacakan hasil diskusi.

6) Mulai di komentar atau hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

7) kesimpulan37

Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertentu pada bahan belajar tertentu.38 Dalam pelaksanaan penerapan metode example non example ini ada beberapa yang harus dilakukan oleh seorang guru:

1) guru harus memberikan waktu kepada siswa untuk mempelajari, menganalisis gambar yang sudah ada.

2) Pendapat siswa bisa diminta secara perorangan dan bisa juga secara kelompok yang sudah di tentukan sebelumnya (terdapat tulisan dan di paparkan dengan waktu yang telah di tentukan).

3) Dari komentar dan hasil diskusi siswa, gurur menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin di capai dan kemudian menyimpulkan.39 Dalam pembelajaran guru harus bisa memilih media pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan metode pembelajaran yang dipakai. Seperti media visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat di

37 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 94.

38 Dimyati & Mudjiono, belajar dan pembelajaran (Jakarta: Renika Cipta, 2002), 17.

39 Kurniasih, model pembelajaran, 34.

(36)

kembangkan dalam berbgai bentuk, seperti foto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu objek atau situasi.

Sementara itu, grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu objek atau situasi.40

Proses pembelajaran sebagai proses komunikasi, media sebagai bahasa guru proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder; Pertama, proses secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang atau simbol sebagai media.

Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagai yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan

Kedua, proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan sarana atau alat sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama, surat, telepon, teleteks, surat kabar, majalah, televisi, dan banyak lagi41

40 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), 102.

41 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pengantar, (Jakarta Selatan: Referensi, 2013) 8.

(37)

Sedangkan tim pengembangan intruksional melaksanakan kegiatan-kegiatan, menentukan stimulus belajar, memilih media, menentukan kondisi belajar, merumuskan strategi intruksional, mengembangkan media, melaksanakan evaluasi dan menyusun pedoman pemanfaatan..42

c. Evaluasi implementasi metode example non example.

Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap komponen yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat di jadikan feed back bagi guru dalam memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.43 Di sisni ada beberapa macam evaluasi, yaitu sebagai berikut;

1) Tes Formatif

Tes formatif merupakan salah satu jenis tes yang diberikan kepada peserta didik setelah mereka menyelesaikan satu/dua unit pembelajaran. Tes formatif tidak di maksudkan untuk memberi nilai kepada peserta didik. Hasil tes formatif terutama di gunakan untuk memonitor apakah proses pembelajaran yang telah dilakukan sudah mencapai tujuan pembelajaran yang di tetapkan.44

Fungsi tes Formatif dikelas

a) Dilakukan saat berlangsungnya proses belajar mengajar

42 Prabowo dan Nurmaliyah, Perencanaan Pembelajaran, 10.

43 Zainal arifin, Evaluasi Pembelajaran (Bandung: rosda karya, 2009), 2.

44 Moh. Sahlan, Evaluaisi Pembelajaran, Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik (Jember, Stain Press Jember, 2013), 10.

(38)

b) Dilaksanakan secara periodik

c) Mencakup semua mata pelajaran yang telah di ajarkan d) Bertujuan mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses

belajar mengajar

e) Dapat digunakan untuk perbaikan dan penyempurnaan proses belajar mengajar.45

2) Tes Diagnostik

Tes diagnogsis adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat, jenis kesukaran yang dihadapi peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan kata lain, tes ini dilaksanakan untuk mengetahui penyebab kesulitan yang dialami peserta didik selama proses pembelajaran.

Tes diagnostik juga bertujuan untuk menemukan jawab atas pertanyaan “apakah peserta didik sudah menguasai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat menerima pengetahuan selanjutnya”.

Karena tes diagnostig di gunakan untuk menemukan kesulitan-kesulitan pemahaman materi yang dialami peserta didik.

Mendiagnosis peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran harus selalu dilakukan oleh guru di sekolah pada saat melakukan proses pembelajaran.

45 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Mengembangkan Standar Kompetensi Guru (Bandung: rosda karya, 2009), 195.

(39)

3) Tes Sumatif

Tes sumatif merupaka jenis penelitian yang orientasinya adalah pengumpulan informasi tentang pembelajaran yang dilakukan pada rentang waktu tertentu atau pada akhir suatu unit pembelajaran. Manfaat utama penilaian sikap adalah untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi peningkatan profesionalisme guru, perbaikan proses pembelajaran, dan pembinaan sikap peserta didik.46

46 Sahlan. Evaluaisi pembelajaran, 244.

(40)

Fungsi Sumatif dikelas

a) Materi yang diujikan meliputi seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran dalam satu program tahunan atau semesteran

b) Dilakukan pada akhir program dalam satu tahun atau satu semester

c) Bertujuan untuk mengukur keberhasilan peserta didik secara menyeluruh.47

2. Berpikir Kritis

Secara umum, kita dapat mengatakan kalau berfikir kritis adalah berfikir jernih, teliti, penuh pengetahuan, dan adil saat memeriksa alasan untuk meyakini atau berbuat sesuatu. 48 Berpikir adalah istilah teknis dari penyerapan informasi.49 Hal seperti ini kadang lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan.

Berfikir kritis yaitu proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut bisa didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau melalui media-media komunikasi.50

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan berfikir kritis merupakan kemampuan yang sangat penting untuk kehidupan,

47 Majid, Perencanaan Pembelajaran, 195.

48 Faruddin Faiz, Thinking Skill Pengantar Menuju Berfikir Kritis (Yogyakarta: SUKA Press, 2012), 2-3.

49 Rahmat Kamal, Pedoman Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti (Solo: PT. Tiga serangkai, 2013), 107.

50 Faiz, Thinking Skill, 2.

(41)

pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan.

Keuntungan yang didapatkan sewaktu kita berfikir kritis adalah: kita bisa menilai bobot ketepatan atau kebenaran suatu pernyataan dan tidak mudah menelan setiap informasi tanpa memikirkan terlebih dahulu apa yang sedang disampaikan.

Glaser mendefinisikan berpikir kritis sebagai:

1) Suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah- masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan sepngalaman seseorang;

2) Pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran yang logis; dan

3) Semacam suatu keterampilan untuk menerapkan metode tersebut.51

1) Langkah-langkah berpikir kritis

Arthur L. Costa mengemukakan bahwa langkah berpikir kritis dapat dikelopokkan menjadi tiga bagian:

a) Pengenalan masalah-masalah b) Menilai informasi

c) Memecahkan maslah atau menarik kesimpulan.52

Berpikir kritis merupakan salah satu bentuk diantara berbagai jenis berpikir. Berpikir kritis lebih banyak dalam kendali otak kiri dengan fokus menganalisis dan mengembangkan berbagai

51 Alec Fisher, Berpikir kritis sebuah pengantar (Jakarta: Erlangga, 2008), 3.

52 Hendra Surya, Cara Belajar Orang Jenius (Jakarta: Gramedia, 2013), 179.

(42)

kemungkinan dari masalah yang dihadapi. Berpkir kritis yaitu berpikir untuk; (1) Membandingkan dan memepertentangkan berbagai gagasan; (2) Memeperbaiki dan memperhalus; (3) Bertanya dan verifikasi; (4) Menyaring, memilih, dan mendukung gagasan; (5) Membuat keputusan dan pertimbangan; (6) Menyediakan tindakan untuk suatu tindakan.53

Indikator berfikir kritis yaitu:

a. Pengamatan

Pengamatan merupakan fungsi sensoris yang memungkinkan seseorang menangkap stimuli dari dunia nyata sebagai bahan yang teramati. Objek pengamatan yaitu keinginan, lokalitas dan bermateri.54

Pertama-tama harus dipahami kita memaka bahasa untuk banyak maksud di samping mencoba untuk meyakinkan orang lain akan suatu titik pandang. Tidak selalu mudah untuk mengatakan jika penalaran sedang di sajikan, tetapi, secara umum, keakraban kita dengan bahasa yang digunakan dalam berbagai konteks ini membuat kita mampu mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga mari kita mulai dengan menggunakan intuisi kita terhadap contoh. 55

53 Mohammad Surya, Strategi Kognitif Dalam Proses Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2015), 123.

54 Ibid., 124.

55 Fisher, Berpikir Kritis, 15.

(43)

b. Perhatian

Perhatian adalah cara menggerakkan bentuk umum cara bergaulnya jiwa dengan bahan-bahan dalam medan tingkah laku.

pemusatan tenaga/kekuatan jiwa tertuju pada sesuatu objek dan pendaya gunaan kesadaran untuk menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan.56

Implikasi dalam pengajaran sebagai fasilitator, guru menyediakan fasilitas pedagogis, psikologis dan akademik bagi perkembangan dan dan pembangunan struktur kognitif siswanya.57 Guru merencanakan pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa, guru menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.58

d. Mengklarifikasi

Klarifikasi atau penggolongan adalah sebuah proses dimana benda-benda individual dikelompok-kelompokkan menurut ciri khasnya yang berlaku umum yang secara bersama-sama membentuk sebuah kelas atau golongan.59 yaitu dari barang- barang, kejadian, fakta, atau proses alam kodrat individual yang beraneka coraknya, menuju kearah keseluruhan yang sistematis

56 Syaiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran (Bandung: Alfabeta, 2003), 130.

57 Warsono & Hariyanto, Pembelajaran Aktif Teori Dan Asesmen (Bandung: Rosda Karya, 2013), 20.

58 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar Dan Pemebelajaran (Bandung: Erlangga, 2006), 83.

59 Sumaryono, Dasar Dasar Logika (Yoyakarta: Kanisius, 2015), 49.

(44)

ynang bersifat umum sampai tercaainya genius yang tertinggi.60 Proses penalaran seringkali memerlukan klarifikasi. Mungkin makna istilah-istilah yang digunakan, atau klaim-klaim yang sedang dibuat, tidak jelas, kabur tidak tepat atau bermakna ganda.61

Penggolongan merupakan proses yang individu dengan beberapa ciri khas yang sama dikelompokkan bersama untuk membentuk satu kelas atau golongan. Poin-poin tertentu ynang mirip dan berbeda fungsinya sebagai dasar penggolongan.62

Manfaat klarifikasi klarifikasi juga memungkinkan pikiran kita untuk memahami benang merah yang terdapat dalam hubungan antara objek yang satu dengan objek yang lainnya.63 e. Pemecahan masalah

Secara sangat singkat masalah dapat dipecah menjadi dua kategori: Masalah yang diketahui dengan baik memiliki kondisi- kondisi awal, tujuan dan operator yang sepenuhnya jelas. Masalah yang tidak diketahui dengan baik memiliki beberapa aspek yang tidak sepenuhnya jelas dan kadang memerlukan wawasan untuk melihat masalah tersebut dengan cara berbeda. 64

1) Alat transformasi masalah a) Apa yang telah kita lakukan

60 Surajiyo. Dkk, Dasar-Dasar Logika (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), 28.

61 Fisher, berpikir kritis, 59.

62 Ravael Raga Maran, Pengantar Logika (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), 55.

63 Sumaryono, Dasar Dasar Logika, 52.

64 Jonathan Ling & Jonathan Catling, Psikologi Kognitif (Jakarta: Erlangga, 2012), 175.

(45)

b) Berapa banyak waktu dan uang yang telah kita gunakan c) Masalah-masalah apa yang selama ini menghambat

d) Berdasarkan pada apa yang terjadi, apa yang harus kita lakukan.65

65 Emmett c. Murphy, IQ Kepemimpinan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), 125-126.

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan/penelitian kualitatif Deskriptif. Pendekatan kualitatif adalah suatu langkah prosedur untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dari sudut perspektif partisipan.66 2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menunjukkan dimana penelitian tersebut hendak dilakukan.67 Dalam penelitian ini yang di jadikan tempat penelitian adalah MTs Nurur Rohman Tegal Waru Mayang Jember. Alasan peneliti memilih lokasi ialah karena lokasinya lebih terjangkau oleh peneliti dan sekolah ini bisa di bilang masih membutuhkan eksperimen metode pembelajaran, karena saat peneliti survei lokasi selama ini metode yang di pakai hanya metode ceramah, diskusi, tanya jawab dan siswa hanya menyimak saja.

3. Subjek Penelitian

pada bagian ini di laporkan jenis data dan sumber data. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang ingin di peroleh, siapa yang hendak di jadikan informan atau subjek penelitian, bagaimana data akan di cari

66 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), 6.

67 Penyusun IAIN Jember, pedoman penulisan (Jember: IAIN Press, 2017), 48.

(47)

dan di jaring sehingga validitasnya dapat di jamin.68 Dalam penelitian ini yang di jadikan subjek penelitian ialah orang yang di anggap paling tahu atau mungkin penguasa, sehingga memudahkan peneliti untuk menjelajahi objek atau situasi sosial yang akan di teliti. Yang di jadikan Informan dalam penelitian ini ialah:

a. Kepala Madrasah

b. Guru Sejarah Kebudayaan Islam c. Siswa kelas VII

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang di tetapkan.69

Adapun teknik pengumpulan data yang di gunakan pada penelitian yang akan di lakukan sebagai berikut:

a. Metode Observasi

Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatan perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.70

Observasi dibutuhkan untuk memahami proses terjadinya wawancara , observasi dilakukan terhadap subjek, perilaku subjek

68 Penyusun IAIN Jember, pedoman penulisan, 47.

69 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2014), 224.

70 Ibid., 226.

(48)

sama peneliti selama wawancara, interaksi subjek peneliti dan hal-hal lain yang di anggap relevan sehingga dapat memberikan informasitambahan terhadap hasil wawancara.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan obsevasi partifipatif pasif, dimana peneliti hanya fokus ke tempat atau objek penelitian tanpa melakukan apa-apa. Dengan kata lain peneliti tidak ikut terlibat dengan kegiatan tersebut.

Adapun yang akan diperoleh dengan metode observasi ini adalah sebagai berikut:

1) Letak geografis di Tegal Waru Mayang Jember 2) Penerapan metode Example non Example 3) Peningkatan daya pikir kritis

b. Metode Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat di konstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Pada penelitian ini digunakan metode wawancara tidak terstruktur, wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas, dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap, melainkan hanya beberapa garis-garis besar permasalahan yang akan di tanyakan.71 Hal ini dilakukan agar oeneliti memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai subjek

71 Ibid., 233.

(49)

yang diteliti serta mendapatkan informasi yang valid dengan susana yang santai.

Disini penelita akan menggali informasi mengenai:

1. Sejarah berdirinya MTs Nurur Rohman 2. Pelaksanaan metode Example non Example

3. Langkah-langkah penerapan metode Example Non Example 4. Media yang digunakan

5. Hasil penerapan metode Example Non Example pada sisiwa.

c. Metode Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misanya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yag berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, filem, dan lain-lain.72

Adapun data yang akan diperoleh sebagai berikut:

1) Searah singkat Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman 2) Denah lokasi Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman 3) Visi dan misi Madrasah Tsanawiyah Nurur Rohman 4) Foto kegian belajar mengajar.

72 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed methoods) (Bandung: Alfabeta, 2014), 326.

(50)

5. Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan secara berulang-ulang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian.

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Aktivitas dalam analisis data, yaitu terdiri dari tiga alur yaitu terjadi secara bersamaan, (1) reduksi data (2) penyajian data (3) dan penarikan kesimpulan. Adapun aktivitas dalam analisis data sebagai berikut:

a. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan tranformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan atau suatu bentuk yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengordinasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan diverifikasi.

b. Penyajian Data (Data Deskripsi)

Dalam hal ini penyajian data merupakan langkah merancang dengan berkesinambungan terhadap deretan, kolom-kolom sebuah matrik untuk data kualitatif dan menemukan jenis serta bentuk data

(51)

yang harus dimasukkan dalam laporan selama memperoleh data dilapangan.

c. Penarikan Kesimpulan (Data Display)

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang kredibel adalah jawaban atas perumusan masalah atau pertanyaan penelitian.

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebenarnya belum pernah ada. Temuan yang berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih belum jelas sehingga setelah diteliti menjadi jelas. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif hanyalah bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan.73

Berikut beberapa langkah yang akan dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis data:

73 Ibid., 252.

(52)

1. Mengumpulakn beberapa data yang di perlukan, data tersebut di peroleh dari lapangan.

2. Menyajikan dalam bentuk kotak-kotak metrik 3. Menyimpulkan data yang telah disajikan.

6. Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data sangat perlu dilakukan agar data yang dihasilkan dapat dipercaya dan tipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Maka peneliti menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan pengecekan data dari berbagai sumber dari berbagai cara, dan berbagai waktu. Ada tiga macam triangulasi yakni triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu74.

a. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber untk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

Data yang telah dianalisis oleh peeliti sehingga menghasilakan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check).

b. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibiltas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang

74 Ibid., 273-274.

Gambar

Tabel 4.3  No  Kelas  Jenis

Referensi

Dokumen terkait