• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi metode Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis

Dalam dokumen PDF SKRIPSI - digilib.uinkhas.ac.id (Halaman 84-91)

BAB I PENDAHULUAN

C. Pembahasan Temuan

1. Implementasi metode Example non Example dalam meningkatkan daya pikir kritis

Pada hakikatnya bila suatu kegiatan di rencanakan terlebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya kenapa seorang guru harus memiliki kemampuan membuat dan merencanakan pengajaran. Seorang guru sebelum mengajar hendaknya membuat perencanaan pembelaran yang di sebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sehubungan dengan itu perencanaan ini dapat menjadi kontrol bagi guru untuk kedepannya agar lebih baik dan terarah dalam proses belajaran mengajar di kelas.

Perencanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan menerapkan metode Example non Example perencanaan di buat sebelum guru mengisi mata pelajaran atau sebelum guru melakukan proses belajar pembelajaran dengan tujuan proses pembelajaran dapat terarah dan sesuai dengan tujuan. Seperti yang disampaiakan Bpk bismi dalam perencanaan itu sudah di cantumkan metode apa yang akan di pakai pada materi yang akan di sampaikan

Dalam kajian teori ada beberapa komponen dalam perencanaan seperti tujuan, materi belajar, kegiatan pembelajaran, media dan sumber belajar, dan evaluasi. dan menurut Pak Bismi yaitu di jelaskan bahwasannya komponen perencanaan pembelajaran itu mencakup tujuan, kegiatan, materi media dan

juga metode yang di masukkan ke dalam perencanaan. Komponen- komponen tersebut harus ada dalam perencanaan pembelajaran.

Selain komponen perencanaan ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam penyususnan perencanaan pemmbelajaran, agar perencanaan tersebut bisa membawa proses belajar mengajar lebih baik kedepannya, dalam kajian teori hal-hal yang perlu di perhatikan yaitu; perencanaan tersebut harus dilakukan oleh orang yang tepat untuk merencanakan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam maka yang dapat melaksanakannya adalah orang dari jurursan Agama Islam, beracuan pada masa yang akan datang dan perencanaan yang dibuat memperhitungkan kondisi yang ada di sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara bahwasannya dalam pembuatan perencanaan pembelajaran sejarah kebudayaan islam dibuat oleh guru mata pelajaran sendiri dan harus jadi sebelum pelajaran di mulai atau sebelum proses belajar mengajar. Disini yang membuat perencanaan itu adalah orang yang memang di bidangnya.

Dalam perencanaan terdapat media yang digunakan untuk penyampaian materi dan penerapan metode baik itu media visual, audio, atau audio visual, dalam kajian teori di bab II ada beberapa hal dalam menentukan media seperti harus sessuai dengan tujuan

yang ingin di capai, mendukung isi pelajaran praktis luwes dan bertahan, dan juga guru terampil menggunakannya.

Seperti media yang di pakai dalam penerpan metode example non example pada mata pelajaran sejarah kebudayaan islam, medianya yaitu media visual berupa proyektor dan perangkat komputer untuk menampilkan gambar-gambar. Dan juga sudah sesuai dengan langkah-langkah penerapan metode tersebut juga gurunya mudah dalam menyampaikan materinya.

b) Pelaksanaan implementasi metode example non example dalam meningkatakan daya pikir kritis siswa

Dalam kajian teori dalam pelaksanaan metode pebelajaran Example non Example ada beberapa hal yang perlu di persiapkan seperti media OHP, Proyektor, atau menggunakan poster, dan guru juga harus bisa memastikan bahwa gambar yang digunakan harus betul-betul bisa mencuri perhatian siswa dan dapat di selain media.

Dalam pelaksaanaan penerapan metode example non example di pada mata pelajaran sejarah kebudayaan islam di kelas VII MTs Nurur Rohman yang di persiapkan terlebih dahulu yaitu RPP, media yang mendukung penerapan metode seperti proyektor, laptop/perangkat komputer dan gambar-gambar yang sesuai dengan materi yang akan di samapaikan.

Untuk langkah-langkah penerapan metode example non example sebagaimana di sebutkan dalam kajian teori guru

menyiapkan gambar yang revelavan dengan KD, menyiapkan proyektor, poster, guru memberikan petunjuk dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan, di bentuk diskusi kelompok 2-3 orang siswa, setiap kelompok di berikan kesempatan membacakan hasil diskusinya dan guru memberikan kesimpulan akhir.

Dalam proses pelaksanaan penerapan metode example non example kelas VII pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Nurur Rohman guru sudah menerapkan sesuai dengan langkah-langkah metode tersebut. Yaitu dengan adanya gambar yang di tampilkan, guru menjelaskan bagian dari gambar tersebut dan siswa di menyimaknya kemudian guru meminta siswa untuk mendiskusikan, mengamati mengenai gambar-gambar yang di tampilakan oleh guru. Namun tidak semua siswa diminta untuk menjelaskan hasil diskusi kelompok tersebut hanya perwakilan saja.

Dalam pembelajaran guru juga harus bisa memilih media pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan metode pembelajaran yang dipakai. Seperti media visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat di kembangkan dalam berbgai bentuk, seperti foto, gambar/ilustrasi, sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih

Dalam pelaksanaan penerapan metode example non example ini media yang digunakan oleh guru SKI yaitu proyektor, dan laptop atau perangkat komputer untuk menampilkan gambar.

Untuk metode example non example media yang di pakai di MTs Nurur Rohman yaitu sudah sesuai dengan metode yang di terapkannya.

Sehingga peneliti menyimpulkan secara keseluruhan pelaksanaan penerapan metode example non example ini dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa kelas VII mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini sudah sesuain.

c) Evaluasi implementasi metode example non example dalam meningkatkan daya pikir kritis siswa

Evaluasi merupakan komponen penting dan tahap yang harus di tempuh oleh guru untuk mengetahui ke efektifan penerapan metode dalam proses pembelajaran, hasil yang di peroleh dari evaluasi dapat di jadikan Feed back bagi guru dalam perbaikan program pengajaran.

Dalam kajian teori terdapat tes yang dilakukan secara periodik (tes formatif) atau saat proses pembelajaran berlangsung tujuannya yaitu untuk mengetahui apakah proses penerapan metode yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan. dan tes ini tidak di maksudkan untuk memberikan nilai kepada peserta didik

Pada pelajaran sejaran sejarah kebudayaan islam evaluasi ini di berikan dalam bentuk ulangan harian, dari hasil ulangan tersebut guru bisa mengetahui apakan penerapan metode tersebut sudah sesui dengan tujuan yang diharapkan atau mau perlu di kembangkan lagi.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Edwind dan Garald W. Brown evaluasi mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai atau keberhasilan dari sesuatu.

Dan juga ada evaluasi yang berbentuk tes diagnostik yaitu hanya untuk melihat kesukaran atau kesulitan siswa dalam memahami materi yang di sampaikan melalui metode example non example ini bisa di pahami oleh siswa atau malah membuat siswa kebingungan untuk memahami materi.

Dalam penerapan metode example non example di MTs Nurur Rohman jenis evaluasi ini di lakukan oleh guru sejarah kebudayaan islam yaitu mengevaluai di akhir atau di awal pembelajaran berupa tanya jawab dalam persepsi.

Yang selanjutnya dalam kajian teori ada tes yang orientasinya mengumpulkan informasi tentang penerapan metode dalam pembelajaran yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu atau pada akhir pembelajaran (tes sumatif).

Di MTs Nurur Rohman dalam penerapan metode example non example jenis tes ini dilakukan dalam bentuk tanya jawab tiap

pelajaran, ulangan harian dan hasil tengah semester atau hasil semester.

Dengan adanya evaluasi tersebut guru bisa mengetahui apakah perencanaan, pelaksanaan penerpan metode pembelajaran tersebut sudah berjalan dengan baik atu masih perlu adanya perbaikan kedepannya.

Dalam dokumen PDF SKRIPSI - digilib.uinkhas.ac.id (Halaman 84-91)