• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF TRADISI MAPPATABE' DALAM MASYARAKAT BUGIS DI KECAMATAN ... - Unismuh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF TRADISI MAPPATABE' DALAM MASYARAKAT BUGIS DI KECAMATAN ... - Unismuh"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

Suku Bugis yang termasuk dalam suku Proto Melayu ini berasal dari kata To Ugi yang artinya orang Bugis. Suku Bugis yang tersebar di beberapa kabupaten mempunyai adat istiadat yang masih dipertahankan.

Rumusan Masalah

Tata krama atau budi pekerti yang baik tidak boleh hilang dalam diri manusia. Orang yang sopan akan disukai orang lain. Misalnya, seorang kakak mengajarkan adiknya untuk bersikap sopan kepada orang tua dan kerabatnya.

Tujuan Peneliti

Manfaat Peneliti

Definisi Operasional

Penelitian ini menganalisis makna dan fungsi yang terkandung dalam tradisi tersebut.Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan proses analisis data menggunakan pendekatan fenomenologis yang fokus pada analisis suatu konsep. Peneliti ini menganalisis pola pewarisan nilai budaya lokal masyarakat Bugis dalam membentuk karakter anak.Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan proses analisis data menggunakan pendekatan fenomenologi yang fokus pada analisis konsep.

Tinjauan Tentang Komunikasih Budaya

  • Pengkajian Bahasa Budaya
  • Impementasi Tabe’Sebagai Tata Krama Masyarakat Bugis
  • Tradisi Tabe’dalam konteks Islam
  • Teori interaksionisme simbolik
  • Analisis Teori Talcott Parsons

Sebab, mengaktualisasikan sikap pecundang dalam menghormati orang yang lebih tua ini demi nilai etika dan budaya yang harus diingat. Tabe' yang berarti meminta izin kepada orang lain atau yang dikenal dengan tradisi kesantunan masyarakat Bugi.

Kerangka Konsep

Sistem cenderung menjaga keseimbangan, yang mencakup menjaga batas-batas dan menjaga hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan sistem, mengendalikan lingkungan yang berbeda, dan mengendalikan. Secara formal kebudayaan diartikan sebagai suatu tatanan pengetahuan, pengalaman, keyakinan, nilai, makna, agama serta ruang dan waktu.Tradisi Tabe merupakan adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat Bugis sebagai adat yang santun.Dalam penelitian ini penulis mengkaji atau menganalisis bagaimana tradisi Mappatebe pada masyarakat Bugis digambarkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau mengkaji secara sistematis, faktual dan akurat fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antar fenomena, baik rekayasa alam maupun manusia, yang diselidiki oleh objek penelitian.

Tujuan dari metode penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi dengan kata-kata dan tindakan.Pendekatan kualitatif dapat diartikan dari apa yang diamati.Penelitian deskriptif ini digunakan untuk mendeskripsikan dan mencoba memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi pokok permasalahan.

Lokasi Penelitian

Informan Penelitian

Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif, subjek dalam penelitian ini ditentukan secara purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Misalnya pertimbangan khusus ini adalah seseorang dianggap paling mengetahui apa yang kita harapkan, atau mungkin dia adalah penguasa, sehingga akan memudahkan peneliti dalam meneliti objek atau keadaan sosial yang dipelajarinya (Sugiyono. In Apabila penelitian tidak mencapai hasil yang diinginkan, sebaiknya peneliti melanjutkan penelitian dengan mengambil sampel sonowpall apabila yang meneliti adalah kepala desa dan tokoh masyarakat yang ada.

Snowball sampling merupakan teknik pengambilan sampel sumber data yang awalnya berjumlah kecil namun lama kelamaan menjadi besar.

Fokus Penelitian

Jenis dan Sumber Data

Data diperoleh dari hasil penelitian yang relevan dan data tidak diperoleh langsung dari responden, melainkan diperoleh dengan bantuan dokumen-dokumen yang berkaitan erat dengan pembahasan. Oleh karena itu diharapkan sumber data sekunder berperan membantu mengungkap data yang diharapkan, membantu memberikan informasi sebagai pelengkap bahan pembanding (Bungin, 2001: 129) Jenis data yang digunakan peneliti adalah data primer, data sekunder Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara. Atau observasi, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku referensi atau dokumentasi sumber data dari sumber informan kunci, informan ahli dan informasi biasa.

Teknik Pengumpulan Data

Merupakan penelitian yang dilakukan secara sengaja dan sistematis terhadap fenomena atau peristiwa sosial serta berbagai pengamatan dan pencatatannya. Wawancara merupakan pengumpulan data dengan cara menyajikan pernyataan langsung kepada informan, dan jawaban informan dicatat atau direkam dengan alat perekam. 2. Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data berupa informan, kemudian peneliti dapat menjelaskan informasi tersebut secara lebih luas melalui pengolahan data yang ekstensif, sehingga peneliti dapat mengetahui maksud sebenarnya dari Tabe melalui wawancara tersebut.

Teknik Analisis Data

Teknik Keabsahan Data

Pengujian keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi yaitu pengecekan keabsahan data yang menggunakan sesuatu selain data tersebut untuk keperluan pengendalian atau sebagai pembanding data, dan teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah pengecekan melalui sumber lain. Sebelum menganalisis data lebih lanjut, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar keabsahan data yang diperoleh peneliti benar-benar valid atau valid. Menelaah data yang diperoleh dengan informasi dokumen dan sumber informasi untuk memperoleh tingkat keyakinan terhadap informasi tersebut serta kesamaan pendapat dan pemikiran.

Metode tersebut digunakan untuk memperoleh validitas pada saat penulisan hasil penelitian. Dalam memperoleh data, peneliti memperoleh beberapa informasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan validasi terhadap data yang diperoleh agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Gambaran Lokasi Penelitian

Wilayah Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten di puncak provinsi pintu gerbang Sulawesi Selatan. Secara geografis lokasinya sangat strategis karena merupakan pintu gerbang pantai timur Sulawesi Selatan, pantai barat Bone. Teluk yang mempunyai garis pantai yang cukup panjang membentang dari utara ke selatan sepanjang Teluk Bone, tepatnya 174 kilometer sebelah timur kota Makassar, luas wilayah Kabupaten Bone adalah 4.556 kilometer persegi atau sekitar 7,3 persen dari luas wilayah yang berpenduduk 200 jiwa. 648.361 orang. Kabupaten Bone secara geografis berbatasan dengan Kabupaten Wajo di sebelah utara berbatasan dengan Sungai Cendrana, di sebelah timur berbatasan dengan Teluk Bone, di sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Tangka dan tanah-tanah pemerintahan yang terletak di antara Gunung Katanorang, Bawolongi dan Bontonuli, perbatasan ini merupakan perbatasan yang didirikan pada tahun 1960 setelah Perang Bone usai. Dapat dikatakan wilayah Kabupaten Bone tidak mempunyai pegunungan yang tinggi; sungai utamanya adalah Sungai Wallance yang berhulu di Gunung Bawangkaraeng, mengalir ke arah tenggara Kabupaten Bone dan mengalir melalui Dataran Bengo, dan daerah Soppeng. Sebagian aliran sungai mengalir melalui daerah Lamuru, berlanjut ke daerah lain Mario-rio-awa dan akhirnya bergabung dengan Sungai Cendrana di sebelah timur Danau Tempe, Kabupaten Wajo.

Wilayah Kabupaten Bone terletak pada ketinggian yang berbeda-beda mulai dari 0 meter (pantai sepanjang lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut). Ketinggian wilayah tersebut digolongkan sebagai berikut.

Histori penelitian

Profil kecamatan kajuara

Daerah Landau terletak di sepanjang pantai dan di bagian utara, sedangkan di bagian barat dan selatan umumnya bergelombang hingga curam sebagai berikut. Kecamatan Kajuara berjarak 75 km dari ibu kota kecamatan sampai ibu kota kabupaten dan secara administratif terdiri dari 17 (tujuh belas) desa dan 1 (satu) kelurahan.

TOTAL 17.77 2

Profil Desa Waetuwo

Hal ini disebabkan karena masyarakat yang berprofesi sebagai petani sudah diwariskan secara turun temurun dan juga rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan masyarakat tidak memiliki keterampilan lain dan pada akhirnya tidak mempunyai pilihan selain menjadi buruh tani dan kuli bangunan. Secara umum prasarana dan sarana yang ada di kota perlu ditambah, khususnya di bidang pendidikan anak usia dini yaitu fasilitas gedung taman kanak-kanak. Dari tabel di Dusun Waetuwo hanya ada 1 unit sehingga di wilayah tersebut masih ada 2 unit lagi yang harus bersekolah di TK di desa tetangga.

Mengingat lokasinya yang memiliki mata air yakni mata air Waetwuo menjadikan Desa Waetuwo sebagai pusat kekayaan sumber daya. Mata air Waetuwo menjadikan Desa Waetuwo sebagai pusat kekayaan sumber daya alam berupa air baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk pengairan sawah dan pertanian. dan ada perusahaan air minum dalam kemasan bernama Air Minum Lestari dari PT.

Hasil Penelitian

Peneliti mencatat, anak-anak dan orang dewasa saat ini jarang menggunakan tabe' karena merasa mappatabe' sudah ketinggalan zaman dan bukan bahasa gaul menggunakan kata tabe'. Respon generasi muda saat ini adalah mappatabe tidak lagi didengarkan seolah-olah sudah menjadi kebiasaan yang harus ditinggalkan. Siri' erat kaitannya dengan mappatabe' yang berarti saling mengagungkan dan saling menjaga harga diri serta kepercayaan terhadap orang lain.

Dari hasil wawancara di atas, peneliti berpendapat bahwa mappatabe' dan nilai-nilai yang terkandung dalam siri' kemudian terlupakan seiring dengan perubahan zaman.

Penjabaran Hasil Penelitian

Dalam praktik tradisi Mappatabe pada masyarakat Bone khususnya di desa Waetuwo kecamatan Kajuara, peneliti mengamati bahwa tidak banyak masyarakat yang melakukan adat ini, baik dari kalangan anak-anak maupun orang dewasa, masih ada saja yang mempertahankan adat ini, namun Banyak sekali perbedaan-Walaupun perbedaan yang timbul merupakan bentuk kesopanan dan harga diri terhadap orang lain. Mappatabe' artinya dalam arti sempit menundukkan kepala dan menekuk badan serta menurunkan tangan kanan sambil mengucapkan tape'. Seorang anak tidak boleh berjalan di depan orang lanjut usia, terlepas dari apakah orang tuanya sedang berdiri atau duduk.

Dalam kehidupan masyarakat Bugis, ketika anak-anak ingin berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua, mereka tidak diperbolehkan menatap mata atau menundukkan kepala.

Hasil wawancara

  • Faktor internal
  • Faktor eksternal

Nilai kata Tabe' mulai hilang ketika orang ingin berpapasan dengan orang tanpa mengucapkan kata Tabe'. Jika seorang anak berpapasan dengan orang di kiri atau di kanan, ia harus mengucapkan tabe' dengan kedua tangannya agar orang yang dilewatinya merasa dihormati dan tidak didiskriminasi. Narekkoeloki mallabe di olona padatta rufa tau millau tabe'ki (kalau mau lewat di depan orang minta izin).

Komunikasi verbal yang dimaksud adalah penggunaan kata tabe', seperti yang telah dijelaskan pada hasil penelitian, ketika seorang anak atau seseorang ingin berpapasan atau berjalan di depan orang tua atau orang yang lebih tua, maka pantaslah mengucapkan kata tabe', I ingin lewat atau cukup dengan mengucapkan kata tabe'. Sedangkan komunikasi nonverbal berarti menggunakan tangan ke bawah dan badan membungkuk.

Hasil Wawancara

5 Saparuddin Guru Pembelajaran di sekolah adalah bagaimana seharusnya seorang siswa mempertegas pelajaran yang mengandung unsur moral seperti hormat dan. Dari gambar tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi mappatabe, seorang anak harus menggunakan kata Tabe sambil membungkukkan badan dan menurunkan kedua tangannya ke tanah, baik di hadapan guru maupun orang tua atau orang yang lebih tua.

Cara Kerja Teori

Dari latar belakang teori tersebut, apabila dihubungkan dengan konteks tradisi Mappatabe pada Masyarakat Bugis di wilayah Kajuara Kabupaten Bone, maka diperoleh gambaran bahwa kenyataan menunjukkan bahwa dalam proses interaksi tersebut diikutsertakan simbol-simbol. Perlu diketahui bahwa simbol-simbol yang dimaksud di sini bukan sekedar isyarat tangan seperti yang dipahami secara umum, namun simbol-simbol tersebut dapat berupa kata-kata. Berbagai simbol tersebut kaya akan makna. Karena ini merupakan keistimewaan tersendiri dari proses tradisi Mappatabe pada masyarakat Bugis Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone dan makna dari setiap simbolnya belum dipahami oleh masyarakat luas.

Maka saat ini kami dan masyarakat pada umumnya sedang mempraktikkan gagasan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Gambar

Gambar tabel 1.1

Referensi

Dokumen terkait

motivasi siswa, (a) mendidik siswa dengan mengajarkan sopan santun, (b) guru harus memiliki sikap yang baik untuk di contoh siswa, (c) peran guru dalam pembelajaran yaitu sebagai

Latar belakang permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu mengenai tentang bagaimana peran guru akidah akhlak dalam membentuk perilaku sopan

Kedua Secara umum masyarakat desa Kertosari menerima dengan Tradisi Singgapur ini karena menurut mereka Tradisi Singgapur ini adalah upaya bantuan dari orang tua terhadap

Seperti halnya dikalangan masyarakat Islam bugis kecamatan balusu kabupaten barru terdapat beberapa tradisi dalam prosesi pernikahan salah satunya tradisi

Dari Paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dari sesaji hasil pertanian pada seni tradisi Kubro SiswoPutromudho mengajarkan kita untuk selalu bersyukur

Terdapat 6 peranan penting terkait keterlibatan sanro bola dalam proses tradisi membangun rumah Bugis di Kabupaten Soppeng, meliputi 1 peran pemimpin, 2 pemilihan material, 3 pemilihan

Solidaritas masyarakat desa parenring kecamatan lilirilau kabupaten soppeng dapat kita lihat dari pembagian tugas dalam melaksanakan tradisi Mappadendang dimana masyarakat turut

Bagi Bissu ritual ini sangat bermakna dalam tradisi mattompang arajang, tetapi disisi lain terdapat perbedaan pandangan dengan masyarakat terkait ritual dalam tradisi tersebut