Apalagi transformasi sistem pendidikan yang dilakukan oleh rumah tinggal Islami secara menyeluruh karena adanya tuntutan dan kebutuhan masyarakat, tuntutan zaman, kebutuhan peserta didik akan kecakapan hidup. Transformasi yang terdapat pada rumah tinggal Islam, sebagaimana disebutkan Laseau, termasuk dalam kategori transformasi gramatikal dekoratif (ornamental) yang dilakukan dengan pergeseran, rotasi, refleksi, pembalikan dan pelipatan.
Latar Belakang Masalah
Kaitannya dengan hunian Islami, dari data awal yang diperoleh peneliti, bahwa di Provinsi Bengkulu terdapat beberapa hunian Islami modern. Dan jiwa hunian Islami inilah yang harus selalu dihidupkan kembali, dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
Rumusan Masalah
Dengan kondisi di atas, jika diabaikan akan mengakibatkan jiwa, karakter dan budaya keilmuan pesantren menjadi hilang dan tidak mampu bertahan dalam menghadapi modernitas, sehingga tidak menjadi kader ulama yang handal dan menghasilkan sumber daya. Dengan demikian, telah gagal memajukan karakter dan keilmuan pesantren sebagai upaya pencerahan bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia, serta bagi dinamika keilmuan yang mampu mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Tinjauan Pustaka
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pendorong transformasi Pondok Pesantren Hasan Jufri Sangkapura Bawean Gresik. 21 Mahfud, Disertasi Transformasi Pendidikan Pondok Pesantren Hasan Jufri Sangkapura Bawean Gresik, (Surabaya: Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, 2014).
Kerangka Teori
Asrama Islam adalah lembaga pendidikan Islam tempat siswa tinggal dan belajar bersama dalam satu kompleks di bawah bimbingan seorang (atau. Dari lima jiwa ini muncul filosofi dan orientasi hidup dari jiwa-jiwa asrama Islam.
Metode Penelitian
Di samping itu terungkap fakta bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki tujuan, kurikulum, metode dan penanaman lima ruh pesantren. Wawancara dilakukan dengan pimpinan pondok pesantren, guru dan santri; berkisar pada sistem pendidikan di pondok pesantren dan penanaman pondok pesantren serta penerapannya.
Sejarah Pondok Pesantren
Dalam Keputusan Menteri Agama (AKM) Nomor 75 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama (Pusat) ditentukan bahwa pejabat yang menangani pembinaan dan pengembangan pondok pesantren adalah pejabat utama. tugas dan fungsi. Wakil Direktur (Kepala Sekolah) Madrasah Diniyah dan Asrama Islam Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama. Artinya pejabat yang menangani pembangunan dan pengembangan pondok pesantren di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat strategis karena ditangani langsung oleh pejabat tingkat II.
Pengertian Pondok Pesantren
Pesantren memiliki karakteristik yang unik sebagai lembaga pendidikan Islam, baik dari segi sistem maupun unsur pendidikan yang dimilikinya. Oleh karena itu, pola pendidikan dalam kehidupan pesantren ditujukan untuk membentuk santri yang mandiri. Berkaitan dengan hal tersebut, pondok pesantren di Provinsi Bengkulu berusaha mewujudkan hal tersebut dalam bentuk pelaksanaan implementasi “Tri Dharma Pondok Pesantren”.
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, jika dicermati kurikulum yang dikembangkan selama ini di pondok pesantren di provinsi Bengkulu terlihat. Dalam hal ini pondok pesantren di provinsi Bengkulu memberikan pendidikan baik dengan materi agama maupun umum. Dengan demikian, para santri di pondok pesantren dapat mengembangkan dan mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang rasional serta mengembangkan wawasannya secara luas.
Unsur-unsur Pondok Pesantren
Karakteristik Pondok Pesantren
Fungsi dan Peran Pondok Pesantren
Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Pengertian Transformasi Pendidikan
Transformasi adalah perubahan baru menuju perbaikan yang berbeda atau berbeda dari sebelumnya, yang disengaja dan direncanakan (tidak disengaja). Poerwadar Minta, dalam bukunya Kamus Besar Bahasa Indonesia, transformasi diartikan sebagai rangkaian tindakan pembaharuan, pengembangan kebiasaan, dan juga disamakan dengan perubahan secara umum.142 Dalam istilah ilmu sosial, khususnya sosiologi, transformasi berarti perubahan sosial dan budaya. . , artinya perubahan - Perubahan yang terjadi pada struktur, fungsi masyarakat dan perilaku masyarakat, serta pengaruhnya terhadap struktur organisasi ekonomi, politik dan budaya. 141 Septi Gumiandari, “Transformasi Pesan Santri Vis-a-Vis Hegemoni Modernitas”, dalam Said Agil Siradj, et.al, Pemberdayaan Pesantren Masa Depan dan Transformasi Pesantren, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), hlm. .
Baik perubahan yang tidak lagi menyandang atau menunjukkan kemiripan dengan objek aslinya, maupun perubahan yang objek jadinya masih menunjukkan petunjuk objek aslinya 145 Proses transformasi adalah proses penciptaan hal baru yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, yang perubahannya bersifat aspek budaya yang bersifat esensial, sementara norma dan nilai sulit diubah (bahkan ada kecenderungan untuk dipertahankan). Beberapa penjelasan di atas dapat diartikan bahwa transformasi adalah suatu proses perubahan yang bertahap hingga mencapai tahap akhir, perubahan yang dilakukan dengan menanggapi pengaruh unsur luar dan dalam yang akan menimbulkan perubahan dari bentuk yang telah dikenal sebelumnya melalui proses menduplikasi atau mengalikan secara otomatis berulang kali. Dalam konteks hunian Islami, transformasi hunian Islami dapat diterjemahkan menjadi perubahan bentuk yang terdapat pada hunian Islami dari hunian Islami.
Faktor Munculnya Transformasi Pendidikan
Pendidikan transformatif pada dasarnya merupakan model pendidikan yang kooperatif terhadap seluruh kemampuan siswa menuju proses berpikir yang lebih bebas dan kreatif. Menurut teori evolusi, masyarakat berangsur-angsur berkembang dari masyarakat primitif, tradisional dan bersahaja menjadi masyarakat modern. Weber berpendapat bahwa masyarakat berubah secara linier, dan masyarakat yang diliputi oleh pemikiran mistis mengarah ke masyarakat yang rasional.
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada hakekatnya merupakan proses yang berkesinambungan, artinya setiap masyarakat sesungguhnya akan mengalami perubahan. Hal ini karena ada masyarakat yang mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang tidak terlihat atau tidak menunjukkan adanya perubahan.
Teori Transformasi Pendidikan
Kita sering mengetahui bahwa pengaruh modernisasi telah merambah ke bidang sosial, ekonomi dan politik, bahkan lebih buruk lagi telah merambah ke bidang agama dan pendidikan agama, dimana pendidikan agama merupakan salah satu pranata sosial yang paling besar peranannya dalam menentukan pola. perilaku kolektif normatif dalam masyarakat, yaitu pesantren. Mengenai masalah transformasi pendidikan di dunia pesantren, hal ini perlu dilakukan sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana tingkat transformasi pendidikan yang ada di dunia pesantren yang dikenal. bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga yang mencirikan pelestarian pendidikan Islam klasik. Dalam hal ini, pendidikan yang ada tidak hanya diperlukan untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
Integrasi, proses transformasi yang terjadi dalam pendidikan pesantren, merupakan upaya untuk menyatukan tujuan pendidikan Islam (pendidikan pondok pesantren) dengan tujuan pendidikan nasional. Adaptasi, dalam hal ini transformasi pendidikan di lingkungan hunian Islami sebagai upaya menyesuaikan diri dengan perubahan sosial yang terjadi di seluruh dunia. Seringkali kita mengetahui bahwa dampak modernisasi telah merembet ke wilayah sosial, ekonomi, politik, bahkan lebih parah lagi telah merembet ke wilayah pendidikan agama dan keagamaan, dimana pendidikan agama termasuk rumah tinggal Islam merupakan salah satu pranata sosial yang berperan. peran terbesar dalam menentukan pola perilaku kolektif normatif dalam masyarakat.
Konsep Transformasi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mendukung transformasi menjadi masyarakat yang memiliki identitas berdasarkan nilai-nilai Islam dan budaya Indonesia dan dapat menghasilkan individu yang religius, memiliki pengetahuan, keterampilan, teknologi, integritas pribadi, yang mandiri, demokratis, menghormati hukum, manusia. berorientasi global dan memikirkan kehidupan masyarakat lokal. Dari segi manajemen, transformasi pendidikan Islam harus diarahkan pada manajemen sekolah, desentralisasi dan otonomi sekolah dengan keterlibatan aktif orang tua peserta didik, masyarakat dan pengguna lulusan dalam manajemen pendidikan. Dari sisi kurikulum, pendidikan Islam lebih problematis, strategis, antisipatif dan bermanfaat untuk memecahkan persoalan yang dihadapi umat manusia.
Kurikulum pendidikan Islam berorientasi dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik saat ini dan masa depan, yang terkait dengan pembangunan sosial, kesejahteraan sosial, budaya dengan konteks global, teknologi. Program kurikulum pendidikan agama Islam harus berorientasi pada kompetensi pembelajaran (kompetensi pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan sosial budaya) yang memenuhi kebutuhan otonomi daerah serta bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perubahan. Perubahan paradigma pendidikan Islam dari paradigma lama yang berorientasi masa lalu (abad pertengahan) menjadi paradigma yang berorientasi masa depan.
Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Keadaan kurikulum pendidikan pesantren yang demikian (khususnya pada kurikulum fikih, akidah dan tasawuf) memberikan konsekuensi eksklusivitas pemikiran pondok pesantren dari pemikiran lain, kecuali yang dikembangkan oleh Syafi'i, Asi' ari dan al-Ghazali. sekolah. Meningkatkan tujuan kelembagaan pondok pesantren dalam kerangka pendidikan nasional dan mengembangkan potensinya sebagai lembaga sosial di pedesaan. Pesantren merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, oleh karena itu harus selalu mengikuti kaidah pendidikan nasional.
Di tingkat nasional, dinamika kepemimpinan pesantren akan mampu memberikan kerangka teoritis dan filosofis untuk membentuk pendidikan nasional yang sesuai dengan kebutuhan bangsa kita di masa depan. Dalam perkembangannya, pesantren berubah menjadi lembaga sosial yang memberi warna khas bagi perkembangan masyarakat sekitarnya. Yang dibutuhkan adalah penggunaan kepemimpinan yang sudah memiliki keterampilan praktis yang sempit di bidang pengawasan, manajemen dan perencanaan untuk tujuan yang lebih besar: bagaimana mengintegrasikan pesantren ke dalam pendidikan nasional.
Internalisasi Nilai Jiwa Pondok Pesantren
Keikhlasan yang merasuki seluruh suasana kehidupan pesantren begitu kental ketika kita memasuki wilayah pesantren. Jadi, karena mandiri (independen) sedangkan pondok pesantren tidak kaku, sehingga menolak orang yang mau membantu. Imam Zarkasyi, http://www.voa-islam.com/read/citizens-journalism pondok-Pesantren-modern-darussalam-gontor-permain-empadzada-panca-jiwa-dan-motto/ #sthash.BXMfPQCb.dpuf.
Isi ayat di atas diimplementasikan dalam salah satu dari lima jiwa pesantren, yaitu ukhuwah Islamiyah. Di Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyah yang demokratis, hal ini tercermin dari situasi logis dan akrab antar komunitas Pesantren yang dipraktikkan sehari-hari. Semangat yang mengatur suasana kehidupan pondok pesantren inilah yang dibawa para santri sebagai penentu mendasar hidupnya di masyarakat.
Transformasi Pondok Pesantren
Dengan demikian, kurikulum pendidikan pesantren di provinsi Bengkulu merupakan perpaduan kurikulum pesantren dan madrasah, sehingga diharapkan mampu menarik lulusan pesantren. Redesign Kurikulum Berbasis Pendidikan Pondok Pesantren di Provinsi Bengkulu Berdasarkan Temuan Lapangan. Namun pada kondisi aktual di lapangan, keberadaan pesantren di Provinsi Bengkulu yang mengadopsi kurikulum sekolah (madrasah) tidak sepenuhnya berjalan seperti yang diharapkan.
Temuan itu juga mencatat bahwa pesantren di Provinsi Bengkulu menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas, karena telah dibangun madrasah dan sekolah umum di dalamnya. Berdasarkan kondisi empiris tersebut, pesantren di Provinsi Bengkulu telah menyesuaikan kurikulum pendidikan umum dengan kurikulum pendidikan yang diajarkan di pesantren. Dari sebagian pembahasan hasil penelitian di atas, tampak adanya transformasi pesantren di provinsi Bengkulu ditinjau dari tujuan pendidikan, kurikulum pengajaran.
Transformasi Penanaman Jiwa Pondok Pesantren
Dengan gambaran tersebut, penanaman semangat keikhlasan dalam beramal di pondok pesantren masih belum sepenuhnya ikhlas. Kebiasaan hidup sederhana yang diterapkan di pondok pesantren di provinsi Bengkulu akan dengan mudah menanamkan semangat kesederhanaan pada santri. Berdasarkan hasil penelitian di bidang tersebut, di pondok pesantren provinsi Bengkulu, para santri dilatih untuk hidup mandiri, tanpa bergantung pada orang tua.
Seperti kegiatan memasak yang saat ini sedang dihentikan santri di berbagai pesantren. Kebebasan dalam menentukan masa depan santri merupakan hak setiap santri yang tidak dapat diintervensi oleh pesantren. Penanaman kebebasan berpikir yang dilaksanakan di pondok pesantren di provinsi Bengkulu bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada santri untuk menuangkan inspirasi, kreativitas, bakat dan minatnya baik dalam bentuk karya tulis maupun seni.
Kesimpulan
Saran
Implikasi Penelitian