MEDIA MASSA SEBAGAI
SALAH SATU AKTOR POLITIK
PENGERTIAN MEDIA MASSA (1)
Media adalah bentuk jamak dari medium yang berarti tengah atau
perantara. Massa berasal dari bahasa Inggris yaitu mass yang berarti kelompok atau kumpulan. Dengan demikian, pengertian media massa adalah perantara atau alat-alat yang digunakan oleh massa dalam
hubungannya satu sama lain (Soehadi, 1978:38).
Media adalah sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh
PENGERTIAN MEDIA MASSA (2)
• Aspek Sosial-Budaya
Media adalah institusi sosial yang membentuk definisi dan citra realitas serta dianggap sebagai ekspresi sosial yang berlaku umum; secara ekonomis, media adalah institusi bisnis yang membantu masyarakat untuk memperoleh
keuntungan dari berbagai usaha yang dijalankan.
• Aspek Politik
FUNGSI
• Ashadi Siregar (2004) memetakan tiga fungsi instrumental media massa: 1. Untuk memenuhi fungsi
pragmatis
bagi kepentingan pemilik mediamassa sendiri,
2. Untuk memenuhi fungsi pragmatis bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dari pihak di luar media massa,
TREND KEPEMILIKAN MEDIA
• Pada dasarnya, secara ideal, pemberitaan media massa haruslah sesuai dengan azas danprinsip jurnalistik yang berlaku secara universal, yakni menjunjung tinggi azas objektifitas, akurat, adil, berimbang, dan menegaskan posisi netralitasnya. Selain itu, wajib hukumnya setiap pelaku jurnalistik dalam pemberitaannya untuk menaati kode etik.
• Trend saat ini yang mengarah pada privatisasi atau kepemilikan pribadi maupun kelompok atas perusahaan media massa sebenarnya bukanlah masalah, sepanjang
pemberitaan yang disebarkan kepada masyarakat luas senantiasa tunduk pada azas serta prinsip ideal tersebut.
• Contoh kepemilikan media di Indonesia :
- ANTV dan TV One (Aburizal Bakrie, ketua umum partai Golkar 2009-2014)
- Metro TV dan harian cetak Media Indonesia Group (Surya Paloh, ketua umum partai Nasdem)
INDEPENDEN VS PARTISAN
• Menilik sejarah, jurnalisme politik Indonesia pernah berada pada sebuah persimpangan jalan pada tahun 1950-an. Era ini adalah era menjamurnya
media partisan yang salah satunya bisa dilihat dalam kontestasi pemilu tahun 1955. Mochtar Lubis seperti dikutip Daniel Dakhidae (1991:43) menyebutkan bahwa hanya sedikit koran yang independen dan terlepas dari afiliasi
partai politik. Media partisan menjadi perpanjangan partai dan menjadi senjata untuk berkompetisi dalam gelaran pemilihan elektoral.
• Crawford dilansir oleh Dakhidae (1991:45) menyebutkan jumlah pembaca media independen saat itu hanya sebesar 22,2%. Sementara itu, jumlah pembaca media partisan sebesar 77,8% dengan persentase terbanyak yakni koran kelompok
komunis sejumlah 28,57%. Koran nasionalis menempati posisi kedua dengan
persentase 19,50%, koran sosialis sebanyak 18,14%, dan koran muslim sejumlah 11,56%. Empat media besar yang kala itu menjadi corong ideologi partai di
PARADOKS
• Dalam kehidupan masyarakat demokratis, tiap-tiap orang memiliki hak untuk memperoleh informasi publik yang objektif. Sementara media massa sebagai sarana pemenuhan informasi paling mainstream justru mulai ditunggangi oleh elit politik tertentu yang berkepentingan
mengarahkan pilihan politik masyarakat kepada apa yang dia munculkan sebagai pilihan tunggal.
POLITISASI MEDIA
• Saat ini media massa Indonesia lebih banyak berfungsi pragmatis untuk kepentingan pemilik media dan kekuatan ekonomi-politik dari luar media. • Dua fungsi yang bergabung menjadi satu tersebut menyebabkan banyak
media di Indonesia digunakan untuk kepentingan politik dari partai politik dan kepentingan konglomerasi/bisnis yang berafiliasi kepada partai politik tertentu
• politisasi media, yang mana pemberitaan yang mereka lakukan
MEDIA SEBAGAI AKTOR POLITIK
• Media telah menjadi perpanjangan tangan dari aktor-aktor politik yang
bermain. Perannya melampaui apa yang bisa dikerjakan oleh partai politik melalui cara-cara konvensional. Bisa dilihat dari bagaimana elite-elite
politik mengeluarkan wacana dan gagasan-gagasannya melalui media. • Sebagai aktor politik, ia bisa mengeluarkan atau menahan sebuah isu
yang menguntungkan maupun merugikan aktor-aktor politik yang lain. Pembentukan opini publik terjadi, siapa yang memiliki akses atas media, dia yang menguasai opini. Tesis tersebut dapat diidentifikasi pada
CASE STUDY (PEMILU 2014)
• Media ramai merayakan gegap gempita pertarungan dua kandidat yang maju dalam gelaran Pilpres 2014. Hiruk pikuk tersebut melampaui garis batas antara pemilik media, aktivitas politiknya, dan ruang redaksi.
• Peniadaan batas terlihat dalam kebijakan redaksional. Produk media dari berita, editorial, sampai iklan politik menjadi kanal menyalurkan ideologi pemilik dan jurnalisnya. Hal itu muncul di sejumlah media massa di
PERAN MEDIA DALAM PEMILU
• 5 peran ideal media dalam mewujudkan kehidupan demokratis
• Brian McNair (An Introduction to Political Communication, 2003:21)
1. Media menjadi saluran menginformasikan apa yang sedang terjadi (surveillance). 2. Media mengedukasi masyarakat soal fakta yang ditemukan di lapangan. Pada posisi
tersebut, McNair menggarisbawahi objektifitas jurnalis sebagai edukator.
3. Media menjadi wadah diskursus yang kemudian dapat mempengaruhi opini publik. Pada peran ini, media memiliki kemampuan yang besar dari yang bisa dilakukan seorang politikus dalam membentuk wacana publik.
4. Media sebagai pemantau pemerintah (watch dog), menyanjung dan mengkritik. pemerintah.
5. Media berperan untuk mengadvokasi beberapa pandangan politik (persuasion). Artinya, media sebagai kanal yang digunakan beberapa partai politik untuk
• Shoemaker dan Reese menawarkan dua pendekatan dalam membaca peran
media.
• 1. Pendekatan pasif. Media sebagai kanal yang hanya melaporkan realitas sosial.
Young seperti dikutip Shoemaker dan Reese (1996:33) menawarkan konsep null effects model di mana media merepresentasikan realitas tanpa adanya distorsi. Dalam konteks ini, jurnalis merupakan neutral transmitter yang melaporkan
peristiwa melalui multiperspektif.
• Pendekatan kedua, yakni pendekatan aktif. Media ikut membingkai realitas sosial
menjadi realitas media. Media tidak lagi merepresentasikan peristiwa secara utuh, tapi melalui beberapa sudut pandang yang dianggap menarik. Inilah yang kemudian disebut sebagai manipulasi. Manipulasi bisa dalam bentuk teks dalam media cetak maupun verbal serta video dalam media elektronik. Melalui
FUN FACT MEDIA MASSA DI INDONESIA
ERA PEMILU 2014
• sumber : http://pindai.org/2014/12/03/media-sebagai-aktor-politik /1. Harian The Jakarta Post melalui editorialnya berjudul Endorsing Jokowi menunjukkan
dukungan terbukanya kepada Joko Widodo sebagai presiden. The Jakarta Post memaparkan sejumlah alasan berdasar rekam jejak dan pandangan kedua kandidat. Ini merupakan
tradisi baru di mana dukungan politik disampaikan secara terbuka oleh media.
2. Lembaga Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2Media) menemukan sebanyak 14,29% berita di harian Sindo dari total 35 berita politik yang diteliti, cenderung berpihak pada kepentingan partai politik atau organisasi massa. Sementara itu, berita
demikian juga ditemukan di harian Kompas yakni sebanyak 2,5% dari total 40 berita yang diteliti. Hal serupa juga terdapat di situs okezone.com yakni sebanyak 16,49% produk
GLOBAL TV
CONCLUSION
• Media telah bertransfromasi menjadi aktor politik. Namun, ia tak bergerak sendiri dalammemainkan peran tersebut. Ada kepentingan aktor-aktor politik dan pemilik modal yang membuatnya demikian. Mereka berlindung di balik topeng media untuk melakukan
propaganda politik.
• Pada posisi demikian, independensi media berada pada titik nadir. Kebebasan informasi termasuk bebas mengkritik dan menyampaikan pendapat, beralih menjadi kebablasan informasi. Alih-alih bersandar pada kode etik, penyaringan informasi justru bersandar pada kemauan sang pemilik media yang juga merupakan politikus.
• Saat momen-momen kritis pemilu, media berdiri di dua kaki: kaki kepentingan politik dan
kepentingan ekonomi sang pemilik. Alhasil, berita tak lagi menjadi sebuah upaya
mengungkapkan fakta, tetapi meracik propaganda, cenderung bias dan partisan. Di satu sisi, wartawan tak lagi menjalankan kewajibannya sebagai “neutral transmitter”.
• Pengalaman pemilu yang belum lama usai menunjukkan betapa brutalnya media yang
terbelah menjadi dua kubu. Efeknya bahkan masih terasa sampai sekarang. Pada titik ini, publik yang menjadi tumbal. Konsekuensinya, pemahaman mengenai literasi media