P A R T I S IP A S I P O N D O K P E S A N T R E N A L - M A N A R B E N E R DALAM PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN P A D A M A SA K E P E M IM P IN A N K Y A I M U H A M A D IM A M F A U Z I SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Mempe

134  Download (0)

Full text

(1)

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Strata Satu dalam Ilmu Tarbiyah

Jurusan Pendidikan Agama Islam

Oleh: NUR SHOKHEH

NIM. I l l 02 022

J U R U S A N T A R B I Y A H

S E K O L A H T I N G G I A G A M A I S L A M N E G E R I (S T A I N ) S A L A T I G A

(2)

D E P A R TE M E N A G A M A Rl

Assalam u’alaikum. Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudara;

Nama : NUR SHOKEH

NIM : 111 02 022

Jurusan / Progdi : Tarbiyah/PAI

(3)

P E N G E S A H A N

Skripsi Saudara Nur Shokeh dengan Nomor induk Mahasiswa 111 02 022 yang berjudul: “ PA R TISIPA SI P O N D O K P E SA N TR EN A L -M A N A R B E N E R D A LA M P E N D ID IK AN K E M A S Y A R A K A T A N P A D A M A S A KE P E M IM P IN A N K Y A I M U H A M A D

IM A M FAUZI TA H U N 2006/2007” . Telah dimunaqosahkan dalam sidang panitia ujian

Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga pada hari: Rabu, 28 Februari 2007 M yang bertepatan dengan tanggal 10 Shafar 1428 H dan diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.

Salatiga 28 Februari 2007 M 10 Shafar 1428 H

Panitia Ujian

trs. Imam Sutomo. M.Ag NIP. 150 216 814

Sekretaris Sidang

Dr. H. Muh Saerozi. M.Ag. NIP. 150 247 014

Pengujil

(4)

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion No. 03 Salatiga 50721 * (0 2 9 8 ) 323706

D E K L A R A S I

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pemah ditulis oleh orang lain atau pemah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran orang lain,

kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan. Apabila di kemudian had temyata terdapat materi atau pikiran-pikiran orang lain di luar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan kembali keaslian skripsi ini dihadapan sidang

monaqosah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.

(5)

^e la jju tL d i/ s m i kcviMa/ dmycuv serw hidup/ rmnjaAi/ indaU

clfhelajmlah/llmwaqama> kw ienadengarvaqam w fudup/m snpidlW iaw b

fU difaA cUdunia, in i fa y r tfa * <vt**t<? tfo n f *UK$c*t&<vui atax, <yuutf y u t?

tccUmy- *Kcleid&aH&&4*c ftevjtU etnaK.

&>adio'uiang/ setup i&a/uunang&a'

<@j& dado uiany senty uunang&O' i&a/

g iv e yo u r smiCefor any person 6ut g ive yo u r Cove f o r one person

Persembaban

Sfifipsiyang sederbana mi penuBs pcrsembafd&n bfpadd

> (Bapa^dan ibu yang tercinta serta bfCuargabu yang teCab mendo’aban

dan memeberibgn perbatian baif moriC maupun materiiC daCam

pem6uatan sbripsi ini, dengan teriring do’a:

> Bapai ‘Kyai A s’ad Haris Wasution, (Bapai Kyai Tatbburrobman dan

Ibunya Tatibab VCfab, seCabu Pengasub PP AC-Manar yang teCab

mem6eriban informasi daCam penyeCesaian sbripsi ini

(6)

BAB i n : POTRET PESANTREN AL-MANAR

A. Gambaran umum pondok pesantren Al-Manar... 67

1. Sejarah berdirinya... 67

2. Letak geografis... 70

3. Pendidikan dan pengaj aran... 71

4. Sistem pengajaran dikelas... 75

5. Kurikulum pondok pesantren Al-Manar... 76

B. Struktur organisasi... 80

C. Keadaan santri... 81

D. Aktivitas santri... 82

E. Keadaan guru atau ustadz... 86

F. Keadaan bangunan atau fisik... 87

BAB IV : PASTISIPASI PONDOK PESANTREN AL-MANAR DALAM PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN A. Partisipasi pondok pesantren dalam pendidikan kemasyarakatan... 89

1. Bentuk pendidikan kemasyarakatan... 91

2. Jalur pendidikan Formal... 93

3. Jalur pendidikan non formal... 94

4. Jalur pendidikan in formal... 97

B. Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan partisipasi pondok pesantren dalam

Problem utama yang dihadapi oleh masyarakat antara lain masalah pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Dalam hal ini

pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat sendiri di bawah kyai. Sebagai suatu sistem telah mampu turut serta manampung minat rakyat untuk belajar di saat sebagian masyarakat Indonesia belum mampu memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan formal di masa penjajahan dan juga setelah merdeka. Sitem

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

(7)

rangka ikut serta mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup rakyat dan warga Negara Indonesia.

Sebagai lembaga kemasyarakatan pondok pesantren mempunyai peranan dalam mengembangkan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Pesantren adalah milik masyarakat luas sekaligus menjadi anutan berbagai keputusan sosial, politik, agama dan etika.

Penulis memilih masalah pendidikan karena pendidikan adalah kegiatan yang melibatkan setiap orang dan seluruh lapisan masyarakat.

Setiap orang sejak awal sampai akhir hayatnya berurusan dengan pendidikan baik itu pendidikan untuk diri sendiri, anak-anak (keluarga) maupun untuk lingkungan masyarakatnya. Pendidikan ini pada dasamya adalah merupakan kewajiban untuk selalu menyempumakan dirinya, kualitas hidup dan bertanggungjawab atas amanah sebagai kholifah.

Penulis memilih obyek penelitian pondok pesantren karena pondok pesantren merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan agama Islam di daerah pedesaan yang belum banyak di ketahui umum khususnya desa Bener. Gambaran umum tentang pesantren dengan kyai sebagai top figur

sering diasosiasikan dengan tokoh yang kolot, fanatik, sulit diajak bicara hingga masyarakat enggan untuk membicarakannya.

(8)

kemasyarakatan yang telah banyak sumbangannya dalam membina dan meningkatkan kualitas hidup di desa Bener.

Pondok pesantren al-Manar adalah salah satu pondok pesantren yang mengajarkan pendidikan agama Islam dan ilmu pengetahuan umum. Dan mengambil panca jiwa pondok sebagai landasan yakni keikhlasan, kesederhanaan, kebebasan, berdikari dan ukhuwah diniyyah. Telah memperbaiki sistem pendidikan dan pengajarannya sesuai dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan masyarakat.

Pengembangan masyarakat oleh pondok pesantren al-Manar pada awalnya dikarenakan berbagai persoalan yang menyangkut masalah kemerosotan ekonomi, kehidupan sosial dan kegiatan penduduk yang belum beijalan dengan baik, kemudian banyaknya angka pengangguran dan rendahnya tingkat pendidikan.

Kemudian yang menjadi dasar dalam segala mobilitas adalah kyai sebagai pemimpin dan pengasuh sebuah pondok pesantren. Dalam hal ini,

K.M. Imam Fauzi adalah pimpinan pondok pesantren Al-Manar yang mana beliau telah mencetuskan gagasan dan ide-ide kreatif berkaitan dengan pengembangan masyarakat dan pendidikan di pondok pesantren itu sendiri sehingga antara keduanya mampu beijalan bersama-sama untuk mencapai tujuan.

Berkat perjuangan dan kepemimpinan K. Muhamad Imam Fauzi kemajuan pondok pesantren semakin dapat dirasakan oleh masyarakat. Tetapi dalam perjalanan selanjutnya pondok pesantren Al-Manar

(9)

mengalami perubahan-perubahan ke arah kemunduran yang disebabkan munculnya beberapa masalah yang justru datang dari intern pondok pesantren.

Beberapa tahun kemudian ketika usaha-usaha perbaikan dan renovasi sedang dilaksanakan dan belum mencapai titik maksimal, K.Muhamad Imam Fauzi wafat pada Kamis, 11 Mei 2000, bertepatan dengan tanggal 6 shofar 1421 H. pukul 06.00 wib abah kyai yang telah 6 hari berbaring sakit dibawa ke RSU Boyolali. Kamis sore pukuL 17.00 tanggal itu juga, beliau berpulang ke rahmat Allah SWT dengan meninggalkan sejumlah peijuangan yang wajib diteruskan para santri. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap semua aktivitas pondok pesantren termasuk upaya pengembangan masyarakatnya.

Pengembangan pondok pesantren Al-Manar setelah wafatnya K.Muhamad Imam Fauzi mengalami beberapa dinamika di bawah kepemimpinan K. As'ad Haris Nasution sebagai pengganti yang mana beliau merupakan adik ipar dari kyai terdahulu. Pada pereode ini beliau melaksanakan berbagai macam kegiatan untuk membangkitkan kembali pondok pesantren Al-Manar, seperti pembangunan flsik menunjukkan arah yang lebih baik dan semakin maju.

(10)

5

kemasyarakatan oleh pondok pesantren Al-Manar, dalam hal ini penulis ingin mengetahui kontribusi pemikiran K. Muharnad Imam Fauzi dan partisipasi dari pondok pesantren tersebut terhadap pendidikan kemasyarakatan.

Jadi pesantren dan masyarakat bekerja sama untuk memajukan kedua belah pihak serta mengusahakan terciptanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Keijasama ini menjadi suatu kebutuhan pesantren untuk menjaga eksistensi pesantren dan masyarakat secara keseluruhan juga menjadi alat bagi pembinaan dan pendidikan agama terutama bagi masyarakat sekitar, tersetenggaranya usaha dan kelancaran program pesantren.

B. Penegasan Istilah

Skripsi ini berjudul “Partisipasi Pondok Pesantren Al-Manar Bener Dalam Pendidikan Kemasyarakatan Pada Masa Kepemimpinan K. Muharnad Imam Fauzi”. Untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman dalam penafsiran judul yang penulis maksudkan, ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan

disini:

1. Partisipasi

Partisipasi berasal dari Bahasa inggris Participation yang berarti pengambilan bagian atau pengikutsertaan.1 Makna lain dari partisipasi adalah pengambilan bagian (di dalamnya), keikutsertaan, peranserta,

‘John. M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT.

(11)

penggabungan did (menjadi peserta).2 Jadi yang di maksud partisipasi disini adalah keikutsertaan Pondok Pesantren Al-Manar Bener dalam pelaksanaan pendidikan kemasyarakatan termasuk juga di dalamnya

pembangunan dan pengembangan masyarakat desa sekitamya. Dalam hal ini pondok pesantren berperan sebagai inovator dan motivator dalam pendidikan kemasyarakatan, pengembangan dan pembangunan masyarakat desa.

2. Pondok Pesantren Al-Manar Bener

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam umumnya dengan cara non klasikal dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santrinya yang berdasarkan kitab-kitab yang di tubs dalam bahasa arab oleh ulama abad pertegahan, para santri biasanva tinggal dalam pondok (asrama) dalam pesantren.

Pondok pesantren al-Manar merupakan sebuah Lembaga pendidikan Islam yang didalamnya mengajarkan ilmu keagamaan dan juga ilmu pengetahuan umum. Sistem yang digunakan dalam pendidikan dan pengajarannya menggunakan model klasikal atau madrasah.

3. Pendidikan Kemasyarakatan

Pendidikan berasal dan kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “an” mengandung arti perbuatan (hal, cara). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani yaitu Paedagogie, yang berarti bimbingan yang diarahkan kepada anak. Istilah ini kemudian

2Pius. A. Partanto dan M. Dahlan A1 Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya :

(12)

7

diteijemahkan ke dalam bahasa Inggris education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diteijemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.3

Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang

dewasa agar ia menjadi dewasa. Pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekolompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti segala usaha orang,dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rokhaninya kearah kedewasaan4

Sedangkan kemasyarakatan berasal dari kata dasar “masyarakat” dan mendapat imbuhan “ke” dan akhiran “an”. Masyarakat itu sendiri

mempunyai makna sejumlah orang yang hidup bersama disuatu tempat yang terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.5 Kata lain dari masyarakat yang semakna adalah sosial, dalam Bahasa Inggris “social” yang artinya pergaulan dan perhubungan manusia dengan kehidupan kelompok yang teratur 6

3Ramayulis, llm u Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Kalam Mulia, 1994), hal. 1

4Ib id , hal. 2

5Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta : Modem English Press,

1991), hal. 945.

6Sidi Gazalba, M asyarakat Islam, Sosiologi dan Sosiografi, (Jakarta : Bulan Bintang,

(13)

Kemasyarakatan bisa juga berarti perihal atau mengenai masyarakat atau suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan mempunyai tujuan tertentu serta berguna bagi masyarakat.

Jadi pendidikan kemasyarakatan adalah sebuah usaha atau kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dapat mengajarkan peserta didik atau siswa dan anggota masyarakat untuk mengetahui berbagai persoalan yang ada di masyarakat sehingga ia mampu memasyarakat dan menjadikan diri sebagai anggota masyarakat Desa Bener.

4. Masa kepemimpinan

Masa adalah waktu, jangka waktu yang agak lama terjadinya atau berlangsungnya suatu peristiwa penting, zaman, jangka waktu tertentu yang ada permulaan dan ada batasnya.7 8

Sedangkan kepemimpinan berasal dari kata dasar “pemirnpin” mendapatkan imbuhan “ke” dan akhiran “an” sehingga mempunyai makna sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pemirnpin. Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain. Definisi lain mengenai kepemimpinan adalah tindakan atau perbuatan diantara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik seseorang maupun

o

kelompok bergerak kearah tujuan tertentu.

Jadi yang dimaksud masa kepemimpinan adalah tindakan atau perbuatan yang dilakukan seorang pemimimpin diantara perorangan dan

7Peter Salim, op. cit., hal. 939

8Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, ( Jakarta : CV. Haji Masagung,1989 ),

(14)

9

kelompok yang menyebabkan kelompok itu bergerak kerah tujuan tertentu yang terjadi pada jagka waktu tertentu, telah lampau yang mana mempunyai pemiulaan dan barasannya. Kepemimpinan K. Muhamad Imam Fauzi berlangsung dari tahun 1993-2000, namun data diambil pada

masa kepemimpinan K. As’ad Haris Nasution tahun 2000-2007. 5. K. M. Imam Fauzi

Kyai Muhammad Imam Fauzi adalah putra K. Soekamo (pionir Pon-Pes A1 Ittihad, Poncol) yang lahir pada tanggal 09 September 1964. Pada awalnya beliau adalah santri Pondok Pesantren Al-Manar yang

dinikahkan dengan Putri sulung K. Fatkhurrohman (Nyai Fatekhah ulfa) pada tanggal 23 Maret 1989. dari pemikahan ini beliau dikaruniai 4 putra; Evah Fauziyah, Nur Faizah lathifah, Itqon Faza ‘ Arof dan Rahma Adibatul Fauziyah.

Beliau diangkat menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Manar sejak sepeninggal K. Fatkhurrohman (sejak 1993) sampai tahun 2000. Selama itu banyak kemajuan yang dicapai. Yaitu masalah pendidikan dan kemjuan Pondok Pesantren Al-Manar. Penambahan saran-prasarana berupa gedung, dibukanya program khusus setingkat SLTA yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pada tahun 1994/1995 yang sebelumnya adalah MA umum. Serta peningkatan kuantitas santri.

(15)

kecil, kaya miskin, rakyat atau berpangkat. Beliau juga sangat sufi. Beliau tidak pemah menyimpan uang serupiahpun9. Menolak dengan halus jabatan DPR tingkat II kab. Semarang dan tawaran berupa mobil dan

handphone. Dari segi pakaian dan dhahar, beliau sering berpakaian seadanya ketika ngaji dengan santri, dengn kaos yang sudah sobek. Dan jarang dhahar, terkadang hanya minum air putih. Sebenamya sejak

kepemimpinan beliau, Ponpes Al-Manar semakin maju. Namun Allah berkehendak lain. Kamis, 11 Mei 2000, bertepatan dengan tanggal 6 shofar

1421 H. pukul 06.00 wib abah kyai yang telah 6 hari berbaring sakit dibawa ke RSU Boyolali. Kamis sore pilkuL 17.00 tanggal itu juga, beliau berpulang ke rahmat Allah SWT dengan meninggalkan sejumlah perjuangan yang wajib diteruskan para santri.

C. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang, maka dapat diangkat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana partisipasi pondok pesantren Al-Manar dalam pendidikan kemasyarakatan.

2. Apa Kontribusi pemikiran K. Muhamad Imam Fauzi terhadap

iT

pendidikan kemasyarakatan dalam pondok pesantren Al-Manar.

3. Kendala dan apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan pendidikan kemasyarakatan.

(16)

11

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin di capai pada penelitian ini adalah sebagai berikut

a. Untuk mengetahui partisipasi pondok pesantren Al-Manar terhadap pendidikan kemasyarakatan.

b. Untuk mengetahui beberapa kontribusi pemikiran K. Muhamad Imam Fauzi tentang pendidikan kemasyarakatan dalam pelaksanaannya di pondok pesantren Al-Manar.

c. Untuk mengetahui kendala dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan aari program pendidikan kemasyarakatan.

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Memberikan masukan bagi dunia pendidikan Islam, khususnya pendidikan dan pengembangan masyarakat di sekitar pondok pesantren.

b. Berguna untuk mengangkat citra lembaga pendidikan Islam terutama pondok pesantren.

(17)

d. Bagi penulis menjadi pengalaman melakukan penelitian, menerapkan

ilmu yang teJah di peroleh dan dapat mengembangkan disiplin ilmu yang telah di pelajari.

E. Telaah Pustaka

Judul skripsi ini adalah “Partisipasi Pondok Pesantren Al-Manar Dalam Pendidikan Kemasyarakatan Pada Masa Kepemimpinan K. Muhamad Imam Fauzi)”. Pengembangan masyarakat dalam skripsi ini adalah di ungkap oleh Manfred Oepen dan Wolfgang Karcher, “Dinamika

Pesantren, dampak pesantren dalam 'pendidikan dan pengembangan masyarakat” yang berisi tentang fungsi pesantren dalam pengembangan masyarakat, hambatan dan permasalahan serta pendidikan ketrampilan di pesantren.

Adapun kekhususan penelitian yang dilakukan penulis adalah mencoba mengkaji tentang pemikiran-pemikiran, ide dan gagasan dari K. Muhamad Imam Fauzi tentang pendidikan kemasyarakatan dan pengembangan pendidikan di pondok pesantren Al-Manar.

1. Tinjauan Tentang Pendidikan Kemasyarakatan

(18)

13

luar sekolah, bias berfungsi sebagai suplemen, komplemen dan atau pengganti dan pendidiakan system persekolahan.

Pendidikan kemasyarakatan sudah wajar kalau perlu ditata dan

terpadu didalam system pendidikan Nasional. Dalam hubungan tersebut, komisi pembaharuan pendidikan Nasional berpendapat bahwa: “Pendidikan kemasyarakatan sebagai satu gerakan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan jenis pendidikan yang

mempunyai jangkauan luas. Oleh karena itu, pendidikan kemasyarkatan harus di dukung oleh sistem pengolahan yang kuat dan jelas. Dalam hubungan ini perlu di pertimbangkan upaya pendidikan kemasyarakatan di

kelola oleh satu badan pemerintahan non-departemen yang merupakan badan koordinasi pendidikan kemasyarakatan dengan lingkup kewenangan dan tanggungjawab sendiri dan memperoleh anggaran secara tersendiri.10

Wujud konkrit dari pendidikan kemasyarakatan digambarkan oleh komisi pembaharuan pendidikan nasional sebagai berikut:

1. Lembaga pendidikan kemasyarakatan yang memberi efek social budaya dan keagamaan seperti pondok pesantren, pengajian, pusat budaya spiritual, pusat inovasi pendidikan, pembinaan generasi muda, pendidikan melalui TV/radio, pendidikan wanita.

2. Pendidikan kemasyarakatan yang memberikan ketrampilan dan keahlian seperti kursus-kursus, latihan-latihan keija/magang pendidikan keprofesian, pembinaan generasi muda, pendidikan wanita

10Sanapiyah Faisal, Pendidikan Luar Sekolah, D i Dalam Sistem Pendidikan dan

(19)

3. Pendidikan kemasyarakatan yang memberikan efek akademis dan efek sipil seperti lembaga pelaksana program kejar, pendidikan melalui radio/tv, pendidikan pengajaran dan lain-lain.11

Sedang menurut Sanapiah Faisal istilah “learning society”

menunjukkan pada kenyataan dimana warga secara aktif menggali pengalaman belajar di dalam setiap segi kehidupannya. Dalam hubungan ini, bukan lagi warga masyarakat yang di tarik unutk mengikuti pendidikan pada suatu lembaga resmi (sekolah atau kursus), akan tetapi warga masyarakat secara sadar melakukan aktivitas belajar individual

mandiri. Aktivitas belajar mandiri tesebut bukan hanya dengan jalan membaca buku, majalah/surat kabar, mendengarkan radio arau menyaksikan TV akan tetapi ada kesengajaan dengan penuh kesadaran untuk memburu pengetahuan, ketrampilan dan pandangan-pandangan hidup dari manapun, dari siapapun, dari apapun, kapanpun jadi di tern pat keija, di organisasi profesi, di kelompok keagamaan, di tengah masyarakat, di perpustakaan dan di pusat-pusat studi lainnya.12

Menurut Abdur Rohman Wahid, bahwa pengembangan masyarakat di pandang penting untuk mengembangkan kekuatan sosial ekonomi masyarakat yang mulai menurun. Kemudian jalan yang di pilih oleh pesantren untuk mengatasi kesulitan ini adalah menggalakkan pelajaran ketrampilan atau mengajarkan sesuatu yang praktis.

"ib id ., hal. 57.

(20)

15

Dari refleksi di atas muncul dua kerangka yang dijadikan sebagai dasar pengembangan masyarakat yaitu kerangka teologis dan kerangka strategis. Pengembangan masyarakat di lihat dari sudut teologi terdapat

komponen utama mengenai pengaturan masyarakat yaitu watak kehidupan dan cara penggunaan kekuasaan. Pengembangan masyarakat melalui pesantren harus berdiri pada tiga prinsip yakni prinsip persamaan, prinsip keadilan dan prinsip musyawarah atau demokrasi.

Sedangkan kerang strategis dalam pengembangan masyarakat menggunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan sosiopolitik yang

mempersoalkan segi kelembagaan, pendekatan kultural yang berbicara tentang perilaku masyarakat dan usaha pencerahan, dan terakhir dengan pendekatan sosiokultural yang membicarakan dan mengaitkan lembaga dengan prilaku lembaga.13

Sedangkan menurut Mansur Faqih salah satu gagasan yang selalu disertakan dalam setiap proyek kerjasama adalah perlunya ideologi pengembangan masyarakat yang mana menggunakan pendekatan partisipasi dan swadaya serta gagasan demokratisasi masyarakat.

Pengembangan masyarakat adalah suatu integrasi antara penelitian dan aksi di mana masyarakat yang menjadi pelaku utamanya. Setiap

kegiatan dipastikan benar menjadi kebutuhan nyata (real need) masyarakat. Dengan begitu taksiran kebutuahan (need asessment) menjadi pusat keseluruhan kegisatan. Tugas dari pesantren sebagai motivator

13Abdurrohman Wahid, Menggerakkan Tradisi, Esai-esai Pesantren, ( Yokyakarta :

(21)

adalah mengalih kelolakan kemampuan untuk melakukan taksiran kebutuhan.14

Program pengembangan masyarakat berorientasi kepada

pemecahan masalah (problem solving), yaitu membantu masyarakat untuk memecahkan maslahnya sendiri. Keberadaan masyarakat di hormati hak- haknya, ketrampilan dan aspirasi juga di bantu dalam menata nilai lingkungan budayanya. Artinya seluruh proses kegiatan ini merupakan proses pendidikan bagi masyarakat.15

Dengan mengembangkan komponen-komponen di pondok

pesantren, maka peranan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan akan segera terwujud. Hal ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pondok pesantren diharapkan mampu memenuhi tuntutan pembangunan masyarakat.

Pada zaman dahulu bagi masyarakat desa yang terpencil, pesantren telah menampung dan berperan memberikan pendidikan dasar

kepada anak-anak yang tidak tertampung pada sekolah-sekolah model klasikal, baik karena alasan biaya maupun keadaan wilayah. Pendidikan yang diberikan oleh pesantren telah cukup untuk membekali para santri

14Mansoer Faqih, Pengembangan M asyarakat di Pesantren, hambatan dan

permasalahan dalam Manfred Oepen, Dinamika Pesantren, (Jakarta : P3M, 1988), hal. 152-153.

15M. Dawam Rahardjo, Pegulatan Dunia Pesantren, Membangun dari Bawah, ( Jakarta

(22)

17

supaya mampu menjalani dan menghadapi kehiduan dengan berbagai macam problematika.16

Menurut Ki Hajar Dewantoro bahwa di dalam kehidupan anak-

anak mempunyai tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang sangat penting baginya yaitu alam keluarga, alam perguruan (sekolah), dan alam pergerakan pemuda (kemasyarakatan).

Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan terpenting oleh karena sejak timbulnya adab kemanusiaan hingga kini, kehidupan keluarga itu selalu mempengaruhi tumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Sedangkan Alam Perguruan (sekolah) adalah pusat

pendidikan yang teristimewa dan berkewajiban mengusahakan kecerdasan fikiran (perkembangan Intelektual) beserta pemberian ilmu pengetahuan (balai wiyata). Dan terakhir Alam Pemuda (masyarakat) yaitu tempat pergerakan pemuda pada zaman sekarang ini, dan digunakan untuk menyokong dan mendukung terlaksananya pendidikan.17 18

2. Tinjauan Tentang kepemimpinan a. Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses pengaruh mempengaruhi antar pribadi atau orang lain dalam situasi tertentu, melalui suatu aktivitas

1R

komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

16M.Dawam Rahardjc (editor), Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta :LP3ES, 1994),

hal. 5.

17Ki Hajar Dewantoro, Pendidikan Bagian Pertama, (Yokyakarta :Majelis Luhur

Persatuan Taman Siswa, 1977), hal. 70-74.

18Pariata Westra, SH., dkk, Ensiklopedi Administrasi, ( Jakarta : CV. Mas Agung, 1989),

(23)

Kepemimpinan juga dapat diartikan tingkah laku untuk mempengaruhi orang lain agar mereka memberikan keija sama dalam

mencapai suatu tujuan yang menurut pertimbangan mereka adalah perlu dan manfaat.19

Kepemimpinan merupakan suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang lain supaya mereka dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.20

Dari banyak definisi tentang kepemimpinan tersebut, Dr. Hamzah Ya’kub memberikan kesipulan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan untuk memberikan atau mengajak orang lain dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan adalah proses pemberian bimbingan dan contoh teladan, proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) atas pekerjaan orang-orang yang terorganisasi guna mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Atau dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah usaha untuk mencapai tujuan dengan menggunakan tenaga orang lain.21

Dengan demikian jelaslah bahwa kepemimpinan merupakan soal

penilaian masyarakat terhadap pribadi tertentu dalam kaitannya dengan sistem sosial yang berlaku. Interaksi yang dinamis antara kedua unsur pribadi dan sistem sosial ini adalah faktor utama yang

19H.M. Sya’roni, Manajemen, ( Semarang : Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

1998 ), hal. 58.

20Emil H. Tambonan, MA, Kunci Mertuju Sukses Dalam Manajemen dan Kepemimpinan,

(Bandung : Indonesia Publishing House, 1994), hal. 36.

2‘Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam Teknik Dakwah dan Leadership, ( Bandung : CV.

(24)

19

memapankan kepemimpinan itu. Hal ini dianggap atau di nilai telah memenuhi kebutuhan dan sistem sosial dan komunitasnya, maka

selama itu pula dapat mempertahankan ikatan emosional dengan para pengikutnya dan selama itu pula kepemimpinan berlanjut.

b. Tipe-tipe kepemimpinan

Ada beberapa tipe kepemimpinan yang lazim di dapati dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari.

1) Tipe autocratic (bersifat otokrasi)

Pemimpin ini cenderung menentukan sendiri tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok maupun cara keijanya yang harus dipatuhi. Pemimpin ini bertindak dictator, tidak mau menerima saran dan kritik, ia hanya mementingkan kekuasaan dan

dianggapnya kekuasaan tidak dapat di ganggu gugat.22

Menurut Bimo Walgito, kepemimpinan yang otoriter adalah suatu cirri kepemimpinan yang menentukan segala kegiatan kelompok secara otoriter, orang lain tidak boleh ikut andil dalam memutuskan segala sesuatu. Ini mengakibatkan adanya jurang pemisah antara pemimpin dan bawahannya.23

Dari pendapat itu arti pemimpin otoriter yaitu tidak mengenal musyawarah, jadi semua keputusan, kekuasaan dan kepemimpinan hanya ada pada seorang pemimpin.

22H.M. Sya’roni, loc.cit.

(25)

2) Tipe Laisesez Faire (bersifat libera^ebas)

Kepemimpinan tipe ini memberikan kesempatan kepada para pengikutnya untuk bertindak sebanyak mungkin sedangkan ia banyak bersifat pasif.24

Menurut Hendiyat soetopo, pemimpin liberal adalah pemimpin yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada semua anggota untuk berinisiatif sendiri dan membuat kebijaksanaan sendiri. Pemimpin tidak usah memberikan dorongan, bimbingan dan pengarahan dengan harapan supaya semua usaha dapat tercapai.25

Dari pendapat di atas, arti kepemimpinan liberal adalah seorang pemimpin menyerahkan sepenuhnya segala kehendak atau inisiatif anak buah untuk mengerjakan sesuatu yang ingin dikeijakan.

3) Tipe participative or democratic (bersifat demokrasi atau partisipan)

Kepemimpinan ini biasanya dilakukan oleh orang yang menghargai hakekat manusia dan di dalam mengambil keputusan selalu musyawarah sebagai ciri utamanya.26

Menurut Hendiyat Soetopo, kepemimpinan demokratis adalah cara kepemimpinan yang mengikutsertakan semua anggota kelompok dalam mengambil keputusan.27

24H.M. Sya’roni, loc.cit.

25Hendiyat Soetopo, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Usaha Nasional, 1990), hal. 285

(26)

21

Dan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa arti kepemimpinan demokratis adalah seorang pemimpin yang selalu

mengggunakan sistem musyawarah dengan semua anggota dalam menentukan segala keputusan.

4) Tipe Kharismatik

Tipe kepemimpinan ini biasanya di terima oleh masyarakat karena kepribadiannya yang berpengaruh dan di percayai sehingga pendapat dan keputusannya banyak di ikuti.27 28

Dan uraian pengertian-pengertian kepemimpinan di atas dapat disimpulkan dan keempat macam sifat kepemimpinan tersebut, demokrasilah yang paling ideal atau efektif bila

diterapkan dalam bimbingan, pengarahan terhadapa bawahan, karena seorang pemimpin yang demokratis memberikan arah atau bimbingan yang baik kepada anak buah. Sedangkan tipe

kepemimpinan yang biasanya dimiliki oleh kebanyakan kyai adalah tipe kharismatik, yang mana beberapa pendapat dan kebijakannya banyak di ikuti oleh masyarakat.

c. Syarat dan Fungsi Kepemimpinan

Pada garis besamya ada dua faktor yang mempenaruhi kepemimpinan seorang yaitu menyangkut sifat dan kemampuan seseorang. Dalam hal ini Amin Rais menjelaskan bahwa:

27Hendiyat Soetopo, loc.cit

(27)

Seorang pemimpin Islam, hendaklah memiliki syarat-syarat: pertama, ia harus mujtahid mutlak yang dapat memahami ajaran Islam secara mendalam. Kedua, ia harus memiliki kepribadian yang bersih mencerminkan ketundukan pada Allah dan kemauan menaklukkan hawa nafsunya. Ketiga, ia harus mempunyai kemampuan (kifaah) untuk mengatur masyarakat, ilmu-ilmu yang berkenaan dengan filsafat dan soal-soal kemasyarakatan.29

Hadari Nawawi membagi fungsi kepemimpinan menjadi enam macam:

1) Fungsi instruktif

Setiap pemimpin perlu memiliki kemampuan dalam memberikan perintah yang bersifat komunikatif, agar bisa menjadi kegiatan yang dilaksanakan oleh para penerima perintahnya.

2) Fungsi Konsultatif

Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah, karena berlangsung dalam bentuk interaksi antara pemimpin dan anggota organisasinya.

3) Fungsi Partisipasi

Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah, tetapi juga merupakan perwujudan hubungan manusiawi yang kompleks. Dalam menjalankan tugasnya seorang pemimpin harus selalu berusaha mengaktifkan anggotanya, sehingga menimbulkan komunikasi antara pemimpin dan bawahan juga sesama staf atau karyawan.

(28)

23

4) Fungsi Delegasi

Setiap pemimpin tidak mungkin dapat melaksanakan tugasnya tanpa bantuan orang lain. Maka untuk itu seorang pemimpin harus melimpahkan sebagian wewenangnya kepada stafnya.

5) Fungsi Pengendalian

Fungsi ini dilakukan melalui control atau pengawasan. Juga bisa dilakukan melalui bimbingan kerja, termasuk memberikan penjelasan dan contoh dalam bekeija.

6) Fungsi Keteladanan

Para pemimpin mempakan tokoh utama dalam lingkungan organisasi. Oleh karena itu setiap penampilan dan sikap akan dijadikan teladan bagi stafnya.30

Dari uraian beberapa fungsi kepemimpinan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang calon pemimpin harus dapat menjalankan fungsinya dengan baik agar tujuan dari organisasinya

dapat tercapai.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Metode-metode yang digunakan adalah:

30Hadari Nawawi, Kepemimpinan M enurut Islam, ( Yokyakarta : Gadjah Mada

(29)

1. Metode Penentuan Obyek

Penyusunan skripsi ini berupa penelitian lapangan (field research) dimana data yang dipergunakan berasal dari kancah penelitian yaitu Pondok Pesantren Al-Manar Bener Tengaran Semarang Jawa Tengah.

Penelitian ini mengambil metode penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan histories. Penelitian deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada sekarang, tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang data itu.31

Sedangkan penelitian historis adalah prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data masa lalu terlepas dari keadaan masa sekarang maupun untuk memahami kejadian atau keadaan masa lalu, selanjutnya kerap kali juga hasilnya dapat dipergunakan untuk meramalkan kejadian atau keadaan masa yang akan datang.

Metode historis dapat dilakukan dengan dua cara yakni, pertama untuk menggambarkan gejala-gejala yang terjadi pada masa lalu sebagai suatu rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri, terbatas dalam kurun waktu

tertentu di masa lalu. Yang kedua, menggambarkan gejala-gejala masa lalu sebagai sebab suaiu keadaan atau kejadian pada masa sekarang sebagai

akibat. Data masa lalu itu dipergunakan sebagai informasi untuk

31Sutrisno Hadi, M etodologi Research 1, (Yokyakarta : Fakultas Psikologi UGM), hal.

(30)

25

mempeijelas kejadian atau keadaan masa sekarang sebagai rangkaian yang tidak terputus atau saling berhubungan satu dengan yang lain.32

2. Teknik Pengumpulan Data

a. Teknik Observasi

Adalah sebuah pengamatan dan pencatatari dengan sistematik mengenai fenomena yang diteliti.33 Metode ini digunakan untuk mengetahui dan mengenai situasi umum lokasi penelitian, keadaan pondok pesantren, keadaan fasilitas yang ada, keadaan masyarakat sehingga dapat diperoleh diskripsi umum mengenai keadaan lembaga

pendidikan pondok pesantren Al-Manar. b. Teknik Interview

Adalah metode pengumpulan data dengan proses tanya jawab lisan di mana dua orang atau lebih saling berhadapan secara fisik, yang satu melihat muka yang lain mendengarkan dengan telinganya sendiri.34

Jenis interview yang digunakan adalah interview bebas terpimpin artinya perpaduan antara interview terpimpin dengan interview tidak terpimpin, yakni pewawancara sudah menyusun inti pokok pertanvaan yang akan diajukan. Dalam interview selalu ada dua

pihak atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang

32Hadari Nawawi, M etode Peneliticm Bidang Sosial, (Yokyakarta :Gadjah Mada

University Press, 1995), hal. 78.

autrisno Hadi, op.cit., hal. 131.

34Winamo Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar, M etode Teknik, (Bandung:

(31)

berlainan. Pihak yang satu dalam kedudukan sebagai pengejar informasi sedangkan pihak yang lain sebagai pemberi informasi.

Interview ini penulis lakukan kepada: 1. Pimpinan pondok pesantren

2. Tenaga pengajar dan stafatau karyawan 3. Tokoh masyarakat

Dengan metode ini penulis mendapatkan informasi tentang pemikiran K. Muhamad Imam Fauzi terhadap pendidikan kemasyarakatan dan partisipasi dari pondok pesantren Al-Manar dan juga akan di ketahui hambatan-hambatan dan faktor yang

mempengaruhinya.

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode atau alat untuk mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip buku, surat kabar, notulen, agenda dan lain sebagainya.35 Atau pengumpulan data yang bersifat dokumenter atau catatan. Metode dokumentasi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu dalam arti luas adalah berupa monument, foto, tape dan lain sebagainya. Dokumentasi dalam arti sempit adalah pengumpulan data verbal dalam bentuk tulisan-tulisan.36

35Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta PT

Rineka Cipta, 1998), hal. 236.

36Koencoroningkrat (ed), M etode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT. Gramedia,

(32)

27

Dalam penelitian ini digunakan dokumentasi dalam arti sempit, karena data yang dikumpulkan hanya berupa catatan atau arsip yang

ada hubungannya dengan penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang gambaran umum pondok pesantren, struktur kepengurusan dan jadwal seluruh kegiatan pondok pesantren.

3. Metode Anal isis Data

Setelah data selesai terkumpulkan dengan lengkap dari laporan, tahapan berikutnya adalah tahap analisis data untuk dapat di ambil kesimpulan sesuai dengan jenisnya. Analisis data adalah proses

penyederhanaan data ke-dalam bentuk*yang lebih mudah di baca. Atau usaha yang konkrit untuk membuat data berbicara.37

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sehingga dalam menganalisis data juga menggunakan analisis data kualitatif. Yaitu berpikir berdasarkan realitas proses sehingga yang penting bukan prosentasenya tetapi upaya dalam memecahkan berbagai macam persoalan dalam arti pemaknaan proses tersebut.

Analisis kualitatif adalah analisa data dengan menggunakan analisis deskriptif non statistic melalui penjelasan kata-kata yang akhimya dapat di tarik suatu kesimpulan. Secara garis besar langkah-langkah dalam menganalisis data yaitu persiapan, tabulasi atau perumusan data dan penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian.38 Dalam

37Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Transito, 1985), hal. 163

(33)

menganalisis data yang bersifat kualitatif ini, maka menggunakan pola berpikir deskriptif analisis induktif.

Induktif yaitu cara berpikir yang berangkat dari faktor-faktor khusus, peristiwa yang konkrit, kemudian dari faktor dan peristiwa konkrit itu di tarik generalisasi yang mempunyai sifat umum.39 Adapun langkah- langkah pengolahan data adalah sebagai berikut:

a. Penelaahan seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan, dokumentasi, gambar, foto dan lain sebagainya.

b. Mereduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti.

c. Penyusunan dal am satuan-satuan, pertama satuan itu harus mengarah pada satu pengertian atau tindakan yang diperlukan peneliti, dan kedua satuan-satuan itu harus dapat disatukan.

d. Kategori, yaitu penyusunan kategori yang dalam hal ini salah satu tumpukan dan seperangkat tumpukan yang telah disusun atas dasar pikiran, intuisi, pendapat atau kriteria tertentu.

e. Pemeriksaan keabsahan data, yaitu pemeriksaan data yang di dapat secara keseluruhan untuk memastikan apakah sudah falid atau masih ada yang dilakukan pengulangan atau revisi.40

Sedangkan proses analisis data dilakukan setelah data yang diperoleh sudah final artinya tidak lagi melakukan wawancara atau

39Sutrisno Hadi, op.tit., hal. 42.

40Lexi J. Moleong, M etodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosda Karya,

(34)

29

observasi untuk mencari informasi. Analisis data dilakukan untuk menemukan makna setiap data atau informasi kemudian ditafsirkan dengan akal sehat (common sense) lantas di pilah-pilah kemudian dibandingkan satu dengan yang lain. Apabila data-data yang ada sudah dapat di pahami, maka dapat dilakukan usaha pencarian kekeliruan atau kekurangan yang utama untuk kemudian diselesaikan, untuk menemukan konsep-konsep pemecahan masalah dari sudut pandang sumber data itu.41 G. Sistematika Pembahasan

Penyusunan skripsi ini dalam pembahasannya di bagi menjadi 5 bab yang sebelumnya diawali dengan halaman formalitas, yaitu halaman judul, nota dinas, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar dan daftar isi.

BAB I : Pendahuluan

Bab ini meliputi latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB II : Profil Pesantren

Dalam bab ini memuat gambaran umum tentang pesantren yang

meliputi Pengertian pesantren, jenis pesantren, sistem pendidikan dan pengajaran. Pondok pesantren dalam pengembangan masyarakat, hubungan kyai dengan santri, hubungan pesantren dengan masyarakat.

4lHadari Nawawi dan H.Mimi, Penelitian Terapan, ( Yokyfkana : Gadjah Mada

(35)

BAB ffl

BABIY

BABY

: Potret Pesantren Al-Manar

Dalam bab ini berisi sejarah berdiri, letak geografis, pendidikan dan pengajaran, kurikulum pondok pesantren Al-Manar, struktur organisasi, keadaan santri aktivitas santri dan keadaan ustadz, sarana dan prasarana.

: Pastisipasi Pondok Pesantren Al-Manar Dalam Pendidikan Kemasyarakatan

Pada bab ini berisi partisipasi pondok pesantren dalam pendidikan kemasyarakatan, bentuk pendidikan kemasyarakan, faktor-faktor pendukung dan penghambatnya. '

: Penutup

(36)

BAB II

PROFIL PESANTREN

A. GAMBARAN UMUM TENTANG PESANTREN 1. Pengertian pesantren

Pesantren, nama dan asal usul sejarahnya sampai sekarang masih menjadi sebuah perdebatan bagi para tokoh, karena U u m jelas tentang kapan dan di mana pondok pesantren itu berdiri pertama kali. Baik itu juga para tokoh mengartikan tentang pesantren beraneka ragam, baik asal usulnya maupun sejarah berdirinya.

Menurut Zamakhsari Dhofier bahwa sebelum tahun enam puluhan, pusat-pusat Islam pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih di kenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang di buat dari bambu, atau barang kali berasal dari kata arab Fundug, yang berarti hotel atau asrama.1

Karel A. Steen Brink, mendefinisikan secara terminologi dapat dijelaskan bahwa pondok pesantren, dilihat dari segi bentuk dan

sistemnya, berasal dari india. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia sistem tersebut sudah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama hindu di Jawa setelah Islam masuk terbesar di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Istilah

Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES,

hal. 16

(37)

pesantren sendiri secara halnya mengaji bukan dad istilah arab melainkan dan india, demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa Surau di Minangkabau dan rangkang di Aceh bukanlah merupakan istilah arab, tetapi arti istilah yang terdapat di India.2

Sedangkan pengertian pesantren itu sendiri berasal dan kata santriy yang dengan awalan pe di depan dan diakhira.. an berarti tempat tinggal para santri. Johns berpendapat bahwa istilah santri berasal dan bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedangkan C.C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dan istilah Shastri yang dalam bahasa india berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Shastri dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.3

Pendapat diatas terdapat berbagai macam-macam versi dalam mengartikan pesantren, yang mengartikan pesantren adalah bersal dari

sejarah hindu di zaman dulu, Maslikhah mempertegas kembali bahwa kata pondok jelas merupakan penyesuaian ucapan funduk, dalam bahasa Arab berarti tempat menginap4.

Kata pondok yang diartikan sebagai tempat menginap tidak seperti manginapnya orang-orang yang hanya tinggal diasrama, melainkan

2Karel A. Stenbrink, Pesantren M adrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern.

Dharma Aksara Perkasa, Jakarta 1974. hal 20-21

3Pusat Inform asi Keagamaan & Kehumasan Departemen Agam a R I Designed and developed by Digitalkafe Indonesia Emai: webmasteri@humasdepag.or.id.

4Maslikhah, Harmonisasi dan Humanisasi lingkungan hidup, STAIN Salatiga Press 2004,

(38)

33

sebagai salah satu tempat belajar, baik belajar yang sudah ditentukan maupun belajar secara individual.

Pendapat Maslikhah diatas dibantah kembali oleh Sudirman Hasan, bahwa istilah pesantren bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa India atau lebih tepatnya sansekerta, yakni dari kata Sastri. Yang artinya melek huruf. Pendapat ini berdasarkan atas kaum adalah kelas terpelajar (litery) bagi orang jawa yang mendalami agama melalui kitab-kitab berbahasa Arab5

Hal senada diperkuat oleh Hasbi Indra, Bahwa kata pesantren berasal dari bahasa sansekerta yang kemudian memiliki arti tersendiri dalam bahasa Indonesia, pesantren berasal dari kata santri yang diberi awalan ge dan akhiran an yang menunjuk arti tempat, jadi berarti tempat santri, kata santri itu sendiri merupakan gabungan dari dua suku kata yakni (manusia baik) dan tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia menjadi baik6

Makna pesantren yang dijabarkan Hisbi Indra pesantren tidak hanya tempat santri semata, melainkan menciptakan kader santri menjadi manusia yang baik dan suka menolong, seperti yang dijelaskan dalam al- Qur’an.

fjyuWj jA\

ARTINYA: Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan Jcebaikan dan taqwa.7

5 Sudirman Hasan, M engkritisi Pola Pendidikan. Pesantren Tradisional dalam majalah

Pesantren edisi IX, Lakpesdam NU, Jakarta 2002 hal 38

6Hasbi Indra, Pesatren ditengah Pergolakan M asyarakat dalam M ajalah Pesantren edisi

VIII, Lakspendam NU, Jakarta 2002 hal 32

(39)

Pendapat Hisbi diatas diperkuat kembali oleh Karel A. Steenbrink bahwa istilah pesantren berasal dari bahasa India yang meskipun nantinya

memiliki arti yang berlawanan. Bahwa secara terminologi dapat dijelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya,

berasal dari India. Sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, sistem tersebut telah dipergunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa, sistem tersebut kemudian diambil dari Islam.8

Tokoh lain memberikan sanggahan yang sama bahwa istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji bukanlah berasal dari bahasa Arab melainkan dari India, demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, Surau diminangkabau rangkang di Aceh bukanlah istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.

Karel kemudian memperkuat kembali yang diambil dari pendapat Soegarda Poerbakawatja, misalnya menyebut persamaan itu dalam penyerahan tanah oleh negara bagi kepentingan agama yang terdapat dalam tradisi Hindu.9

Sedangkan menurut Mahmud Junus menyatakan, bahwa asa usul pendidikan yang dimulai dengan pelajaran bahasa Arab, temyata dapat dikemukakan di Baghdad ketika menjadi pusat dan ibu kota wilayah Islam.10

8Karel A. Steenbrink, Pesantren M adrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam kurun

Modern, LP3ES, Jakarta 1986, hal. 21

9Ib id , hal. 21

(40)

35

Tokoh lain seperti Muhaimin dan Abdul Mujib mengatakan, pada hakikatnya pondok adalah penyatuan dari pesantren begitu juga pesantren

adalah salah satu elemen dari pondok, maka kedua kata ini diartikan dalam bahasa Arab Khuttab khuttab ini dengan karakteristik khasnya, merupakan wahana dan lembaga pendidikan islam yang semula sebagai lembaga baca tubs dengan sistem halaqoh (sistem wetonan).11

Makna khuttab di atas dapat diartikan sebagai sebuah tradisi dimana pendidikan yang digambarkan tersebut menggambarkan sebuah tradisi dimasa lampau, dimana lembaga seperti ini dulu dijadikan sebagai

lembaga baca tulis dengan menggunakan sistem halaqoh.

Kemudian Muhaimin dan Abdul Mujib mempertegas kembali di Indonesia istilah “khuttab” lebih di kenal dengan istilah “Pesantren” yaitu suatu lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat orang kyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (anak didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut serta didukung adanya pondok sebagai tempat tinggal para santri.12

Sedangkan menurut Hasbullah mendefinisikan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu.13

1'Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Tri genda karya Bandung,

1993 hal. 298

12Ib id , hal. 299

13Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

(41)

Has bull ah memandang pengertian pondok diibaratkan rumah yang masih sederhana, hal ini Hasbullah masih mengacu pada sebuah tatanan pondok zaman klasik seperti asal mulanya pondok pesantren.

Sedangkan perkataan pesantren menurut Jusuf Amir Faisal (1995:194) yang ditulis dalam bukunya Maslikhah mengatakan, kata pesantren berasal dari akar kata Cantrik yang merupakan kata benda kongkrit, kemudian berkembang menjadi kata benda abstrak yang di imbuhi dengan awalan pe dan akhiran an karena pergeseran tertentu kata cantrik berubah menjadi shastri. Dengan demikian proses kejadiannya

sesuai dengan hukum tata bahasa Indonesia. Fonem berubah menjadi en sehingga lahirlah kata pesantren.14

Pengertian sampai sekarang masih menjadi perdebatan yang

belum jelas bagi para tokoh karena pola mendefinisikan asal mula pesantren dengan makna dan corak yang berbeda.

Apapun nama penafsiran asal mula dari pesantren, yang jelas sebuah pesantren bisa dikatakan sebagai pesantren apabila memenuhi lima elemen dasar dari tradisi pesantren, yaitu pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan kyai.15

Dalam konteks yang lain asal usul pesatren masih dipertanyakan,

namun pengertian pesantren itu sendiri secara garis besar pondok pesantren merupakan benteng pertahanan kebudayaan, karena peran sejarah yang dimainkannya. Selain diproyeksikan sebagai pusat

14Maslikhah. Op.Cit., hal. 66

(42)

37

pengembangan ilmu yang bersifat relegius, pesantren juga dipersiapkan sebagai motor transformasi kebudayaan masyarakat.16

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu.17 18

Dari banyak pengertian dan asal-usul pesantren yang disebutkan oleh berbagai tokoh tersebut, maka penulis dapat menarik sebuah benang merah, bahwa makna pondok pesantren menurut perspektif kebanyakan pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah

berdiri ratusan tahun yang ditempati oleh para santri yang digunakan sebagai tempat belajar untuk mendalany imu agama Islam, agar menjadi muslim yang baik, konotasi muslim yang baik berarti memberikan pengertian nilai, moral, ilmiah yang kuat dalam lingkup proses pendidikan pesantren.

2. Jenis-jenis Pesantren

Jenis-jenis pesantren didefinisikan bermacam-macam, menurut Zamakhsari Dhofier jenis pesantren dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:

IO

pesantren salafi dan Khalafi.

Namun apabila pesantren di zaman sekarang pesantren yang berdiri tidak hanya pesantren-pesantren salafi dan khalafi, namun banyak juga pesantren yang berkombinasi, karena mengalami suatu perubahan

tuntunan zaman.

16Abdurrahman Kasdi, Pesanren dan M ultukluturalisme dalam M ajalah Pesantren Edisi

III, Lakspedam NU Jakarta 2002, hal. 5

1'Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, Kencana Jakarta 2004, hal. 25

(43)

Secara garis besar yang ditulis oleh Departemen Agama, pondok pesantren dapat dikategorikan kedalam 3 bentuk, yaitu: (a) Pondok Pesantren Salafiyah (b) Pondok Pesantren Khalafiyah dan (c) Pondok Pesantren Campuran/kombinasi.19

a. Pondok Pesantren Salaf

Makna Assalaf di pandang dari beberapa segi 1) Assalaf dipandang dari sudut bahasa

Kata assalaf dipakai untuk satu jamaah (golongan) mutaqoddimin (yang ada lebih dulu), seperti firman Allah:

jlilui \ \ * y q

Artinya: Maka kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orangyang kemudian (Q.S Al-Zukhruf (43):(56).

Menurut Imam Azzujaj, bahwa “salaf ’ adalah bentuk jama’ dari kata usalif' yang berarti golongan terdahulu.

Kalau disebut “AjaHilUAV'” berarti umat terdahulu, karena kata

(kata keija lampau) berarti (telah lalu).

Dalam kamus “Lisan Al-Araby” jilid 9 halaman 158, kata “assalaf berarti segala sesuatu yang dihadapkan oleh seorang hamba,

baik yang berupaamal sohih atau baik.

Ada juga “assalaf ’ yang berarti orang yang adanya lebih dahulu dan orang yang mempunyai keutamaan.

19Depag RI, Pondok Pesantren dan M adrasah Diniyah pertumbnhan dan

(44)

39

2) Assalaf dipandang dari sudut sejarah

Sebagian ulama menetapkan bahwa “assalaf ialah segala golongan yang hidup sebelum abad V H.

3) Assalaf dilihat dari sudut Aqdiyah

Yang dimaksuid dengan “assalaf dilihat dari sudut ini adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’it, serta ulama di lingkungan usulussunah (pokok-pokok sunah) dan thariqat-thariqatnya, mereka adalah penjaga Aqidah, pemelihara syari 'at dan pengalaman segala ushul-Nya20.

Sedang dalam bukunya Depag R1 salaf artinya ‘lama \ ‘dahulu \ atau ‘tradisional’. Pondok pesarttren salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelejaran dengan pendekatan Nasional, sebagaimana yang berlangsung sejak awal pertumbuhannya, pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam dilakukan secara individual atau kelompok dengan konsentrasi pada kitab-kitab klasik, berbahasa arab. Penjenjangan tidak didasarkan satu waktu, tetapi berdasarkan tamatnya kitab yang dipelajari. Dengan selesainya satu kitab tertentu, santri dapat naik jenjang dengan mempelajari kitab yang tingkat kesukarannya lebih tinggi. Demikian seterusnya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan modem yang dikenal dengan sistem belajar tuntas. Dengan cara ini, santri dapat lebih insentif mempelajari suatu cabang iimu.21

20Irfan Hielmy, M odernisasi Pesantren (meningkatkan kualitas umat menjaga ukhuwah)

Nuansa, Bandung. Hal.24-26

(45)

Pendapat di atas diperkuat kembali o!eh Zamakhsyari Dhofer Pesantren Salafi yang tetap mempertahankan pengajaran-pengajaran

kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Sistem madrasah diterapkan untuk memudahkan sistem soromn yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengajarkan pengetahuan umum.22

Hal senada diungkapkan kembali oleh Wardi Bakhtiar (dan kawan-kawannya) dalam bukunya Ahmad tafsir mengemukakan pesantren salafi yaitu pesantren yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Sistem madrasah ditetapkan untuk mempermudah teknik pengajaran sebagai pengganti metode sorogan, pada pesantren ini tidak diajarkan pesantren umum23.

Dalam konteks ini, istilah salafi bukanlah antonim dari istilah khalafi sebagaimana istilah yang sering digunakan oleh para lingers Arab dalam membuat klasifikasi terhadap Qoul Nuhat. Muslim Abdurrahman dalam buku Islam Transformatif menjelaskan bahwa

“pesantren salafi’ lebih diidentikkan kepada dunia pesantren yang berusaha menjaga kesinambungan tradisi klasik pesantren dan

kemumian ajaran Islam dari tarikan akulturatif berbagai unsur ekstrernal khususnya arus modernisasi24

Pesantren salafi biasanya sesuatuya identik dengan hal-hal klasik, dimana para santri dilatih dengan hidup sederhana, ikhlas dan

22Zamakhsari Dhofier, Op.Cit., hal. 41

23Ahmad Tafsir, Op, Cit., hal. 49

(46)

41

suka menolong, serta biasanya santri-santri dilingkungan salaf senang hidup terikat dengan cara berpuasa dan tirakat-tirakat yang lain berkaitan dengan prihatin.

Apabila kita tinjau lebih jauh kebanyakan dari mereka yang mendirikan pesantren salaf adalah para kiai suni (alumnus Timur tengah) yang sepaham dengan ajaran-ajaran Al-Ghozali25

Pada dasamya, penafsiran ini kontradiktif dengan tradisi pesantren salaf yang menjadi tradisi berguru kepada seorang kiai sebagai syarat untuk dapat memahami dan mengajarkan kita manapun.26

Adanya pesantren salaf orang-orang dengan menyebutnya sebagai lembaga Islam tradisional yang terdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Dan kebanyakan pesantren salaf tokoh-tokohnya dari kalangan Nahdlatul Ulama,27 sehingga apa yang dikatakan Ahmad

25Imam Al-Ghozali, nama lengkapnya ialah M uhamad bin M uhamad bin M uhamad bin Ahmad, Imam besar Abu H am id Al-Ghozali Hujjatul-lsl&m dilahirkan di Thusia, suatu kota

dikhurasan dalam tahun 450H (1058) ayahnya bekerja membuat pakaian dari bulu (wol) dan

menjualnya dipasar Thusia (lihat terjemah ismail Y a’kub, Ihya Al-Ghozali, Jilid IC .V

Faizan, Semarang. hal. 24

26M. Khoiron, Op.Cit., hal. 50

27Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi keagamaan di Indonesia. Didirikan 31 Januari 1926 di kota Surabaya. Dua tokoh penting dalam upaya pembentukan NU ini adalah

K.H. Hasyim A s'ari dan K.H. Wahab Hasbullah. Latar belakang sejarah berdirinya NU di mualai

dari suatu kelompok diskusi Taswilul AJkar (potret pikiran) yang dibentuk oleh K.H. Wahab

Hasbullah bersama rekannya K.H. M as Mansur. Sebelum yang kedua ini masuk kedalam

organisasi Muhammadiyah. Dari diskusi-diskusi inilah kemudian dibentuk organisasi yang diberi

nama dengan jami’iyah Nahdlatul Wathan (perkumpulan kebangkitan tanah air). Organisasi ini

bertujuan untuk memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan madrasah. Namun pada 1922,

KH. M as M ansur keluar dari Ja m i’iyah N ahdlatul Wathan dan kemudian masuk kedalam

Muhammadiyah

Pada 1924 dunia Islam digemparkan oleh tindakan Kemal Pasya Hattaturk di Turki yang

menghapus Khilafah. Untuk menjawab tindakan Kem al Pasya H attaturk Mesir bermaksud

melaksanakan konggres tentang Khilafah. Indonesia mendukung langkah Mesir itu dengan

membentuk komite Khilafah pada 4 Oktober 1924. komite ini di pimpin Wondoa M iseno dan dari

(47)

Zubaidi, bahwa dimasa lalu kalau ada orang menyebut pesantren,

maka tidak lepas dari lembaga pendidikan yang dikelola oleh para kiai-kiai yang berkembang pesat saat ini, tidak dikalangan NU saja, tetapi banyak ormas-ormas diluar NU-pun sudah mendirikan pesantren.

Pendapat di atas diperkuat kembali oleh Muhsin Jcimail, yang mengatakan bahwa, tidak dipungkiri bahwa sejak awal kelahiran NU sangat berkepentingan untuk melindungi praktek-praktek agama tradisional yang.sering disebutkan sebagai agama Islam.28 29

Adapun untuk mengetahui tentang pendidikan tradisional

secara lebih jauh maka akan penulis jelaskan ciri-ciri dari pesantren salaf.

Pertama : Pengkajian kitab-kitab klasik semata-mata.

Kedua : Memakai metode sorogan, metonan, dan hafalan didalam berlangsungnya proses belajar mengajar. Ketiga : tidak memakai sistem klasikal, pengetahuan

seseorang diukur dari sejumlah kitab-kitab yang pemah dipelajari dan kepada ularna mana dia

berguru.

ketua dan wakil ketua. Lewat konggres Islam yang Ke III di Surabaya yang berlangsung Desember 1924, ditunjuklah 3 orang utusan kekonggres kairo tersebut. Ketiga utusan itu masing-masing

Suryo Pranoto dari Syarikat Islam, H Fakhrudin dari Muhammadiyah dan K.H. A Wahab dari

Nahdlatul Wathan. Selanjutnya lihat Enseklopedi Islam anggota IKAPI Djembatan Jakarta 1992. hal 724.

28Ahmad Zubaidi, Pesantren dan Tarikh ulur Kepentingan antara Pemerintah dan

Masyarakat, dalam M ajalah Pesantren edisi II Lakspendam NU, Jakarta 2002. hal 33

(48)

43

Keempat : Tujuan pendidikan adalah untuk meninggikan moral, melatih mempertinggi semangat, menghargai nilai- nilai spiritual dan kemanusiaan.30

b. Pondok Pesantren Khalafiyah (‘Ashriyah)/Modem

Pondok pesantren khalafiyah sering disebut juga seoagai pondok pesantren modem, sebelum berbicara panjang mengenai pondok modem, sebelumnya kita hams mengetahui arti dari khalafiyah itu sendiri.

Khalaf artinya “kemudiarT atau “helakang”, sedangkan ashri artinya “sekarang” atau “modern” pondok pesantren khalafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan kegiatan dengan

pendekatan modem, melalui suatu pendidikan formal, baik madrasah (MI, MTs, MA atau MAK), maupun sekolah (SD, SMP, SMU, dan SMK) atau nama lainnya, tetapi dengan pendekatan klasikal.31

Dalam pembahasan pesantren salaf di atas apabila dilihat dari sistem pembelajarannya menggunakan metode sorogan, wetonan dan bandongan yang sudah menjadi kurikulum unggulan bagi pesantren salaf sedangkan pesantren modem lebih didominasikan pada sistem klasikal yang terpimpin secara terorganisir dalam bentuk pengelolaan kelas dalam waktu yang telah ditentukan, sehingga boleh dibilang

30Haidar Putra Daulay Op.Cit., hal. 28

(49)

kurikulum yang dipakai hampir mirip atau bahkan mirip dengan kurikulum pendidikan formal.

Meskipun pendidikan pesantren modem telah menyesuaikan arus zaman, namun tidak mempengaruhi nilai-nilai Islam. Cuma perbedaan yang timbul dari pesantren modem seperti yang diungkapkan Moh Khoirun bedanya, pesnatren modem lebih Inklusif atau tidak teijebak dalam terminologi Wahid-politik atau komperative dalam menentukan materi pendidikannya. Artinya pesantren modern dalam penyusunan kurikulumnya tidaklah Ghazali Oriented. Pada arus ini pesantren modem lebih terbuka untuk menerima hasil karya intelektual muslim kontemporer dari mulai Muhammad Abduh hingga Yusuf Qordawi.32

Pesantren modem tidak seperti layaknya pesantren salaf pesantren modem telah mengajarkan pendidikan-pendidikan umum serta kegiatan ekstra kurikuler, sehingga para santri sudah memiliki jam kegiatan diluar pelajaran mengaji, seperti pondok modem Gontor

sistem pembelajarannya seperti pendidikan formal.

Disisi lain yang lebih menonjol dari pesantren modem adalah terlihat lebih terfokus kepada sebuah pendalaman bahasa. Karena dianggapnya sebuah bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang penting, seperti yang diungkapkan M Khoirun kembali bahwa keterfokusan pendidikan pesantren modem pada penguasaan bahasa

(50)

45

sebagai alat komunikasi menjadi nilai lebih dibanding salaf. Tingkat penguasaan vocabulary, baik Arab maupun dalam bahasa inggrispun cukup mumpuni.33 *

Fokus pada pendalaman bahasa yang diterapkan di pondok

pesantren Gontor tersebut, menjadikan para diwaktu siang dan malam harus dapat menggunakan bahasa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Bahasa arab dan bahasa inggris temyata menjadi tolak ukur kurikulum utama dalam sistem pembelajaran. Karena dianggap dengan

penguasaan bahasa, santri nantinya akan memiliki suatu keahlian tersendiri, meskipun hal itu tidak 'didasari dari pembelajaran kitab nahwu shorof4 seperti yang digunakan pesantren dizaman dahulu

lebih mementingkan suatu hasil yang nyata berbeda dengan pesantren salaf,\ pendalaman bahasanya melalui pembelajaran ilmu alat atau

Nahwu Sorof yang ditempuh cukup lama.

Seperti yang diungkapkan Nurcholis Madjid yang didasarkan atas pemikirannya terhadap pendalaman institusi pesantren telah

33M. Khoiron,Op.C/r., hal. 53

MIlmu Nahwu dicetuskan pertama kali oleh Abu Al-Aswad Al-D auly Abu Al-Aswad terlahir

di kota Basrah, pada tahun 605 M dengan nama Dahlim bin Umar Jandal bin Sufyan t sedang ibu

beliau termasuk bani Abdu Al-Dar bi Qushoy. Seorang cendikiawan muslim, bermental baja,

menurut Ibnu Al-Ahdal Abu Al-Aswad termasuk salah satu dari orang-orang khusus Sayidina A li

yang ikut dalam perang Shiffin.

Dibarisan gramitisi Arab Abu Al-Aswad Al-Dauly, berada di posisi terdepan setelah

Kholifah A li bin Abi Tholib. Dialah pelaksana peng-konsepan nahwu di bawah komando Ali, Karomallahu Wajhah, A m irulM u’minin saat itu.

Di tahun 67 H/688 M kota Basroh di landa tho’un (pagebluk-jw) selama tiga hari berturut-

turut. Menurut salah seorang korban bencana yang selamat-diceritakan oleh AL-Madani- bencana

tho’un perharinya bisa menelan korban sampai tujuh puluh ribu jiwa. Bahkan Imam Anas bin Malik pun harus bersabar, karena kehilangan ketujuh puluh putranya. Dihari ke empat, jumlah manusia yang tersisa tinggal tujuh orang; enam laki-laki dan seorang perempuan. Sebagian riwayat

ada yang mengatakan bahwa Abu Al-Aswad turut wafat dalam insiden ini. Selanjutnya lihat.

Tamatn Al-Fiyah Ibnu Malik Suluk Andalus tentang Gramatisi dari generasi kegenerasi MHM

Figure

Tabel I Jumlah Santri

Tabel I

Jumlah Santri p.83
Tabel IIIPekerjaan Orang TuaSantri

Tabel IIIPekerjaan

Orang TuaSantri p.84
Table IV Kegiatan Harian

Table IV

Kegiatan Harian p.85

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in