Pimpinan lembaga pendidikan madrasah dituntut untuk mampu menyusun rencana kerja secara lebih rinci dan rinci. Dalam rangka penyempurnaan sistem perencanaan dan pengelolaan anggaran, Kementerian Agama telah mengembangkan platform digital untuk memudahkan madrasah dalam melakukan self-assessment sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan anggaran madrasah. Platform yang selanjutnya disebut e-RKAM atau Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah dan EDM (Madrasah Self-Assessment) berbasis elektronik, diharapkan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan sekolah.
Penerapan e-RKAM dan EDM merupakan terobosan penting untuk mendorong pengelolaan pendidikan yang efektif dan efisien. Aplikasi e-RKAM dan EDM memberikan peluang pengelolaan dana BOS dan dana lainnya secara lebih transparan dan akuntabel, yang dapat diakses secara bertahap mulai dari tingkat madrasah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, Kementerian Provinsi dari Kanwil Agama hingga tingkat Kementerian Agama RI. Transformasi digital ini merupakan upaya nyata untuk mewujudkan pengelolaan anggaran pendidikan yang lebih efektif, efisien, transparan, dan bebas korupsi.
Menyadari hal tersebut merupakan tantangan besar yang memerlukan serangkaian kegiatan seperti sosialisasi, bimbingan teknis dan pendampingan intensif kepada sekolah sebagai salah satu upaya mitigasi risiko kegagalan transformasi digital e-RKAM dan EDM yang direncanakan. Terakhir, kami menginstruksikan seluruh pejabat dan pegawai Kementerian Agama di semua tingkatan untuk bersama-sama mendukung penerapan sistem e-RKAM dan EDM di Madrasah.
Latar Belakang
SPMI direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan dan dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sedangkan SPME direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan dan dikembangkan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, BAN-S/M dan/atau badan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SPMI, siklus kegiatan SPME dan hubungan SPMI dengan SPME di madrasah disajikan seperti pada Gambar 1. Tahap pertama yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan pada siklus SPMI seperti pada Gambar 1 adalah melakukan pemetaan mutu.
Salah satu cara untuk melakukan pemetaan mutu adalah dengan melakukan self-assessment yang hasilnya akan digunakan untuk melakukan tahapan-tahapan berikut, yaitu perencanaan peningkatan mutu, pemenuhan mutu, pemantauan dan evaluasi, serta pengembangan mutu baru. EDM merupakan proses penilaian/pemetaan mutu penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan di tingkat sekolah, berdasarkan indikator-indikator utama yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SPN). Melalui EDM, madrasah dapat mengetahui kondisi terkini yang perlu ditingkatkan, kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada di madrasah.
Tujuan, Pengguna dan Manfaat Pedoman EDM
Dasar Hukum
Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor 4475 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2020-2024.
- Definisi
- Tujuan EDM
- Manfaat EDM
- Prinsip Penyusunan EDM
- Pelaksana EDM
- Tahapan Penyusunan EDM
- Peran Pengawas dalam EDM
- EDM dan Skema Penyusunan Perencanaan dan Penganggaran
EDM dilaksanakan oleh Tim Penjaminan Mutu (TPM) Madrasah yang dibentuk dan diputuskan dalam Surat Keputusan Kepala Madrasah. Pengiriman hasil pengisian EDM oleh TPM yang telah disetujui oleh Kepala Madrasah melalui menu pengiriman yang tersedia di aplikasi. Pengawas diberikan akun oleh pengelola aplikasi EDM kabupaten/kota, sehingga setiap pengawas hanya dapat melihat hasil EDM pada fasilitas yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya kepala madrasah dapat membaca catatan/komentar/saran perbaikan dari pengawas untuk dijadikan dasar perbaikan bila diperlukan. Di tingkat sekolah, hasil EDM digunakan sebagai landasan penyusunan perencanaan program/kegiatan peningkatan dan pengembangan sekolah, baik jangka menengah (Renstra/RKJM/RKM) maupun jangka pendek/tahunan yang bersifat jangka panjang. dituangkan dalam rencana kerja madrasah. dan anggaran (RKAKL/RKAM). Sedangkan bagi Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, Kanwil Kementerian Agama Provinsi dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, hasil EDM menjadi bahan masukan dalam penyusunan perencanaan.
Hasil EDM seluruh Madrasah skala kabupaten/kota dapat dijadikan data masukan bagi kantor Kementerian Agama kabupaten/kota dalam penyusunan rencana strategis. Kanwil Kemenag dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam harus menjadikan hasil EDM sebagai bahan masukan dalam penyusunan rencana strategis dan kebijakan lainnya.
Kerangka Berpikir Penyusunan Indikator EDM
Oleh karena itu, diyakini terjadi perubahan budaya sehingga madrasah memberikan fasilitas penunjang proses pembelajaran, pencapaian standar isi (SI), standar proses (SPR), standar penilaian (SPN), standar sarana dan prasarana (SSP), dan manajemen. standar (SPL). ). Budaya penyusunan rencana efisiensi penggunaan dana dan ditujukan pada peningkatan mutu sangat penting bagi madrasah. Perubahan budaya ini diyakini akan berdampak pada pencapaian Standar Pendidik dan Tenaga Pengajar (SPTS), Standar Sarana dan Prasarana (SSP), Standar Manajemen (SPL) dan Standar Pendanaan (SB) dan sekaligus meningkatkan mutu. dari madrasah.
2 Guru hadir di madrasah dan melaksanakan fungsi pembelajaran, bimbingan dan pelatihan sesuai jadwal dan waktu yang ditetapkan oleh madrasah baik secara daring maupun luring. 2 Guru aktif mengikuti KKG/MGMP atau kegiatan pelatihan/workshop sejenis untuk meningkatkan kompetensi baik secara daring maupun luring. 3 Guru menggunakan media pembelajaran (termasuk media berbasis ICT) yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran.
2 Madrasah memberikan bantuan keuangan kepada guru dan staf pengajar untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan di luar madrasah.
Instrumen EDM
Langkah Penetapan Tingkat Kinerja Indikator
Sedangkan informasi untuk menilai indikator juga dapat diperoleh dari hasil wawancara/FGD atau observasi; TPM menggambarkan kinerja indikator berdasarkan bukti fisik, data/informasi sekunder, dan informasi lain yang dikumpulkan (wawancara, observasi, dll.) pada bagian tertentu. Uraian kinerja pada indikator ini harus ditulis oleh TBM, karena ini merupakan prasyarat untuk menentukan level yang akan dipilih.
Apabila kepala madrasah belum menyetujui hasil EDM TPM, maka TPM harus memperbaiki hasil EDM sesuai catatan kepala madrasah;
- Bobot Indikator
- Menghitung Skor Tertimbang Maksimum (STM) Setiap Aspek
- Menghitung Skor Penilaian Tertimbang (SPT)
- Menghitung Skor Kinerja Pencapaian Mutu (SKPM)
- Pengkategorian Kinerja Pencapaian Mutu
Setelah menghitung SPT tiap indikator, maka dihitung total skor penilaian tertimbang tiap aspek. Ini merupakan penjumlahan SPT seluruh indikator untuk setiap aspek. Jumlah SPT: Aspek budaya Madrasah dalam pengelolaan anggaran yang transparan dan bertujuan untuk meningkatkan mutu = 30. Secara ringkas hasil penilaian kinerja mutu berbasis EDM yang dilakukan oleh TPM Madrasah disajikan pada Tabel 5.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa Madrasah memiliki kinerja pendidikan berkualitas dengan kategori Sangat Baik karena mempunyai skor = 82. Namun dari kelima aspek tersebut, yang masih perlu ditingkatkan adalah Aspek Disiplin dan Perencanaan Pendanaan. . Aspek.
Kurang dari 70% guru telah menggunakan metode pengajaran yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran melalui ceramah, demonstrasi, diskusi, belajar mandiri, simulasi dan ceramah. Kurang dari 70% guru melakukan penilaian autentik, yaitu menilai kesiapan siswa, proses dan hasil belajar secara keseluruhan sehingga mereka akan melakukan hal tersebut. Kurang dari 80% buku teks dan literatur profesional dalam bentuk cetak dan/atau digital tersedia di madrasah.
90%-100% media/alat peraga/alat bantu non digital untuk proses pembelajaran tersedia di madrasah. pembelajaran non-digital tersedia di madrasah. pembelajaran non-digital tersedia di madrasah. Madrasah memberikan bantuan keuangan kepada 80%-<90% guru dan tenaga kependidikan yang mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan di luar madrasah. Madrasah memberikan bantuan keuangan kepada 70% - <80% guru dan tenaga kependidikan yang mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan di luar madrasah.
Madrasah memberikan bantuan keuangan kepada kurang dari 70% guru dan tenaga kependidikan yang berpartisipasi dalam kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan di luar madrasah. Sertifikat dan laporan dari guru dan tenaga kependidikan yang mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan di luar madrasah.