MAKALAH
SURVEILANS KESEHATAN MASYARAKAT
“PANDUAN SURVEILANS”
OLEH
JEFRI NENOSONO 1907010192
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
2023
Daftar Isi
Contents
Daftar Isi...2
BAB I...2
PENDAHULUAN...2
1.1 LATAR BELAKANG...2
1.2 RUMUSAN MASALAH...4
1.3 TUJUAN...4
BAB II...5
PEMBAHASAN...5
WORKING TOLLS...5
PENGOLAHAN DATA MINGGUAN WABAH DI PUSKESMAS...5
PENGELOLAAN DATA SKDR DI PUSKESMAS...5
Pengertian Pengelolaan Data...5
DEFINISI OPERASIONALPENYAKIT SKDR...7
MEREKAM DAN MEMPERBAIKI LAPORAN SKDR ONLINE(IBS DAN EBS)...18
1. SiapkandokumendataIBS/EBS(link)...18
3. AksesaplikasiSKDRonlinedenganmenggunakanURLhttps://surveilans.org...18
5. Kemudianpilih<Sign> tampilDashboardaplikasiSKDRonline ...18
UNTUKLAPORAN EBS...18
UNTUKLAPORANIBS...18
UNTUKTAMBAHLAPORANEBSBARU...18
UNTUKEDITLAPORANEBSYANGPERNAHDIREKAM:...18
UNTUKTAMBAHLAPORANIBSBARU...19
UNTUKEDITLAPORANIBSYANGPERNAHDIREKAM:...19
MELIHAT PENYAJIAN DATA SKDR ONLINE DAN EXPORT(EXCEL)...21
Analisis dan Interpretasi Data Kewaspadaan Dini KLB...21
Distribusikasusbersarakanwaktu:...22
Distribusimenuruttempat...22
Distribusimenurutorang(Umur,Sex,dll)...23
Upayakewaspadaandini...23
Diseminasi Bagian dari Penyelenggaraan SKDR...23
Desiminasi data surveilans yang baik...24
Buletin SKDR...24
Buletin Memuat Feedback SKDR...24
LAPORAN BERKALA & LAPORAN KHUSUS...24
FORUM PERTEMUAN...25
PUBLIKASI ILMIAH...25
KEBERHASILAN DESIMINASI DATA SURVEILANS...25
PENGELOLAAN RUMOR SKDR...25
TAHAPAN RUMOR :...25
PENYARINGAN :...25
FILTER DUPLIKASI :...25
CEK RELEVANSI :...26
VERIVIKASI :...26
PENANGGULANGAN KEJADIAN :...26
ANALISIS RESIKO :...26
KARAKTERISTIK KEJADIAN :...26
VALID :...27
KLB :...27
PENGELOLAAN RESPON KLB PENYELIDIKAN DAN PENANGGULANGAN...27
KLB...27
KRITERIA KLB...28
TAHAPAN PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI...28
PENGELOLAAN SPESIMEN...29
BAB III...30
PENUTUP...30
3.1 Kesimpulan...30
Daftar pustaka:...30
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional, tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan nasional diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu.
Puskesmas merupakan Unit Pelaksanan.Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan garda terdepan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar. Sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan Puskesmas, dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat dinyatakan bahwa
Puskesmas berfungsi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Manajemen Puskesmas mengintegrasikan sumber daya, program, pemberdayaan masyarakat, sistem informasi Puskesmas, dan mutu dalam menyelesaikan masalah prioritas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Agar Puskesmas mampu melakukan upaya kesehatan dengan baik dan berkesinambungan untuk mencapai tujuannya, maka Puskesmas harus menyusun rencana kegiatan periode 5 (lima) tahunan yang dirinci ke dalam rencana tahunan. Semua rencana kegiatan harus berdasarkan atas hasil analisis situasi yang didukung dengan data dan informasi yang akurat (evidence based) agar dapat mencapai sasaran/tujuan secara efektif dan efisien.
Upaya kesehatan Puskesmas yang dilaksanakan secara merata dan bermutu sesuai standar, diwujudkan dengan bukti adanya perbaikan dan peningkatan pencapaian target indikator kesehatan masyarakat dan perseorangan seperti menurunnya angka kesakitan penyakit yang menjadi prioritas untuk ditangani, menurunnya angka kematian balita, angka gizi kurang dan atau gizi buruk balita dan maternal, menurunnya jumlah kematian maternal, teratasinya masalah-masalah kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.
Sesuai dengan Permenkes 45 tahun 2014 tentang penyelenggaraan Surveilans Kesehatan di berbagai tingkatan mulai Puskesmas/RS sampai Pusat. Keberhasilan penanganan suatu KLB ditunjang dari sistem surveilans yang baik. Petugas Surveilans Puskesmas/RS harus mengetahui perkembangan penyakit (data kesakitan dan kematian) menurut karakteristik epidemiologi (waktu, tempat dan orang) sehingga data dan analisis kemungkinan terjadinya KLB bisa dilakukan pencegahan dengan melakukan cara-cara penanggulangan yang efektif.
Peran Petugas Surveilans Puskesmas/RS dalam penanggulangan Covid-19 selama Pandemi memberikan kita pelajaran pentingnya sistem surveilans untuk upaya mengurangi transmisi/penularan yang lebih luas. Dengan ini penting diadakan pelatihan Epidemiologi lapangan Frontline untuk meningkatkan kapasitas petugas surveilans.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimana panduan surveilans kesehatan dalam aplikasi working tools?
1.3 TUJUAN
Mengetahui bagaimana alur dalam surveilans kesehatan masyarakat.
BAB II PEMBAHASAN
WORKING TOLLS
PENGOLAHAN DATA MINGGUAN WABAH DI PUSKESMAS
PENGELOLAAN DATA SKDR DI PUSKESMAS
Lingkup Kegiatan
1. LangkahLangkah Pengumpulan Data di unit pelayanan
2. Langkah Langkah Pengiriman Data dari unit pelayanan ke Puskesmas
3. LangkahLangkah Rekap data dengan kode penyakit yang dikirim melalui SMSatau WA ke Pengelola SKDR Puskesmas
4. Langkah – langkah pengelola SKDR Puskesmas melakukan input data kedalamWeb SKDR
Pengertian Pengelolaan Data :
Kegiatan pengelolaan data SKDR mulai dari pencatatan,pengumpulan, pengolahan, analisis, interpretasi data hingga menjadi suatuinformasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan
1. Langkah – langkah pengumpulan data di Unit Pelayanan Petugas Unit pelayanan ( Polindes, Poskeskel, Pustu, Puskesmas ) : Setiap Hari :
Memberikan tanda khusus pada register pelayanan terhadapdiagnosa penyakit sesuai daftar penyakit potensial wabah
Mencatat status kasus sembuh/meninggal dan hasilpemeriksaan laboratorium pada register
Memastikan dan melengkapi identitas pasien (data desa/kelurahan, umur, jenis kelamin, NIK, No HP) telah tercatatdalam register
Setiap Hari Sabtu :
Merekap dari register pelayanan, jumlah penyakit potensialwabah yang telah diberi tanda khusus
Data direkap menggunakan Form Laporan Mingguan Wabahdengan kode 24 penyakit pada SKDR
2. Langkah – langkah pengiriman data dari Unit Pelayanan kePuskesmas
Petugas Unit pelayanan mengirim data mingguan kePengelola SKDR Puskesmas menggunakan kode, dikirimmelalui SMS atau WA
3. Langkah – langkah rekap data dengan kode penyakit yangdikirim melalui SMS atau WA oleh Puskesmas
Koordinator SKDR Puskesmas melakukan :
1. Merekam Data Laporan Mingguan Wabah yang dikirim dari unitpelayanan, pada : a) Formulir Bantu Rekap Laporan Mingguan Wabah UnitPelayanan
b) Formulir Bantu Rekap Laporan Mingguan WabahPuskesmas
c) Formulir Bantu Rekap Laporan Mingguan Wabah menggunakan Format Excell 2. Absensi unit pelayanan yang belum mengirim laporan
3. Verifikasi jika ada data yang mencurigakan atau kode penyakityang tidak benar 4. Umpan balik kepada unit pelayanan bila :
1) Unit pelayanan yang belum mengirim laporan 2) Adanya data yang tidak benar (mencurigakan)
4. Langkah – langkah pengelola SKDR Puskesmas melakukaninput data kedalam Web SKDR
Koordinator SKDR Puskesmas
Mengirim Laporan mingguan Wabah Puskesmas kedalam WebSKDR menggunakan SMS atau WA
Melakukan analisis Mingguan Penyakit Potensial WabahPuskesmas : 1. Membuat grafik mingguan masing-masing jenis penyakitpotensial wabah
2. Membuat table mingguan masing-masing jenis penyakitpotensial wabah menurut unit pelayanan
3. Melakukan analisa perkembangan penyakit pada grafik dantable penyakit potensial wabah 4. Apabila perekaman data laporan mingguan wabahmenggunakan aplikasi Excell maka
grafik dantablebisatampil secara otomatis
DEFINISI OPERASIONALPENYAKIT SKDR KodeSMS PENYAKIT DEFINI
SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX
A Diare akut BAByangfrekuensinyalebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih per hari dengan konsistensi cairdanberlangsungkurang dari 7 hari)
1-3 hari Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
A04(Otherbacterial intestinalinfections)
B Malaria Penderita yang di dalam tubuhnya ditemukan plasmodium atau parasit malaria yang dibuktikan dengan pemeriksaan Mikroskopispositifdanatau RDT (Rapid Diagnostic Test) positif
12-30 hari Fase
Pemberantasan dan Pre- eliminasi:
peningkatan kasus 2 kali dari periode
sebelumnya Eliminasi dan Pemeliharaan:
Jikaditemukan1 kasus
indegenous
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
A08(Rotaviral Enteritis)
C Tersangka
Dengue Demamtinggi(≥39oC) mendadak tanpa
sebab yang jelas 2-7 hari, mual,muntah,sakitkepala, nyeridibelakangbolamata (nyeri retro orbital), nyeri sendi, dan adanya
manisfestasi pendarahaan sekurang-kurangnya uji tourniquet (rumple leed) positif.
4-7 hari Untuk KLB DBD:
Peningkatan kasus 2 kali dari periode waktu sebelumnya Sebelumnya tidak ada kasus Peningkatan kematian >50%
Untuktersangka denguetidakada kriteriaKLB
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
A09 (Other gastroenteritisand colitisofinfectious and unspecified origin)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX
D Pneumonia Padausia<5thnditandai denganbatukDAN/ATAU tandakesulitanbernapas (adanya nafas cepat <
14hr, kadang disertai tarikandindingdadabagian bawah kedalam (TDDK) atau gambaran radiologi foto torak menunjukan infiltrat paru akut), frekuensi
nafasberdasarkanusia penderita:
<2bulan:RR>60/ menit 2-12bulan:RR>50/
menit
1-5tahun:RR>40/
menit
Pada usia >5thn ditandai dengan demam ≥ 38°C, batukDAN/ATAUkesulitan bernafas, dan nyeri
dadasaatmenariknafas
Peningkatan kasus 2 kali dari periode waktu sebelumnya
J13(PneumoniaDue To Streptococcus pnemoniae)
J14(PneumoniaDue To Hemophilus Influenzae) J15(Bacterial Pneomoniae)
J16(PneumoniaeDue To Other Infectious organisms)
J17(Pneumoniaein diseases classified elsewhere)
J18 (Pneumonia organismunspecified) J69 (Pneumonitis)
E DiareBerdarah/
Disentri Diaredengandarahdanlendir dalam tinja dapat disertai dengan adanya tenesmus.
Disentriberatadalahdisentri yang disertai
dengankomplikasi.
1-4hari Peningkatan
kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
A06(Amebiasis) A03(Shigellosis)
F Tersangka
DemamTifoid Penyakit yang disebabkan olehkumanSalmonellatyphi, dengan gejala demam naik turun,gangguanpencernaan,
7-14 hari Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
A01 (Typhoid and paratyphoid fevers) A02(Othersalmonella infections)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX dankadangdisertaigangguan
kesadaran. A75(TypusFever)
G Sindrom
JaundiceAkut Kumpulangejalayangterdiri dari kulit dan sklera
berwarna kuning dan urine berwarna gelap
yangtimbulsecaramendadak
Untuksindrom jaundice:
<14hari
Untukhepatitis A: 10-50 hari, rata-rata 28 hari
klaster≥20kasus Hepatitis A yang berhubungan secara epidemiologi
Klaster≥2kasus HepatitisAyang berhubungan secara epidemiologi
R17(Unspecified Jaundice)
A95 (Yellow fever) B15(Acutehepatitis A)
B17.9(Acuteviral hepatitis,unspecified) H Tersangka
Chikunguny a
Demammendadak
<38,5oCdannyerisendiyang hebat (severe artralgia) dan atau dapat disertai
adanyaruam(rush).
3-7hari Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
Peningkatan kasus2kalidari periode waktu
sebelumnya A92.0(Chikungunya virus disease)
J TersangkaFlu Burung
ILI dengan kontak unggas sakit atau mati mendadak atau produk unggas ATAU leukopeniaATAUpneumonia pada Manusia dalam 7 hari terakhir
1-7hari 1 kasus
konfirmasilab 1 kasus tersangkaflu burung*
J09(Influenzadueto certain identified influenza viruses) J10(Influenzadueto identifiedseasonal Influenza)
J11 (Influenza due to unidentifiedinfluenza virus)
K Tersangka
Campak Setiapkasusdengangejala minimaldemamdanruam makulo papullar.
7-18 hari ●KLBSuspe k Campak:
5 atau lebih kasus suspek campakdalam waktu 4
1 kasus tersangka campak
R50 (Fever of other andunknownorigin) R21(Rash and other nonspecific skin eruption)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX minggu
berturut- turutdanada hubungan epidemiologi
●KLB Campak Pasti/
Konfirmasi:
Apabila hasil labminimum2 spesimen positif IgM Campak dari hasil
pemeriksaan kasuspadaKLB SuspekCampak ATAU hasil pemeriksaan kasus pada CBMSditemukan minimum 2 spesimen positifcampak danadahubungan epidemiologi
B05(Measles) B06(Rubella)
L TersangkaDifteri Gejala faringitis, tonsilitis, laringitis, trakeitis, atau kombinasinya disertai demam atau tanpa demam dan
adanyapseudomembranputih keabu-abuan yang sulit lepas, mudah berdarah apa bila dilepasataudilakukan manipulasi.
1-10 hari 1 kasus
tersangkadifteri denganhasillab konfirm kultur positif atau mempunyai hubungan epidemiologi
1 kasus
tersangkadifteri A36.9(Diphtheria, unspecified) A36 (Diphteria)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX dengankasus
kulturpositif M Tersangka
Pertussis Batuklebihdari2minggu disertai
minimalsatugejaladibawah ini:
●batukyangkhas(terus- menerus/ paroxysmal)
●napasdenganbunyi
“whoop”
●muntahsetelahbatuk tanpasebabyanglain
●untukanakusia
<1 tahun: henti napas denganatautanpasianosis (bibir
kebiruan)
9-10 hari 1 kasus tersangka pertussisdengan hasillabkonfirm positif atau mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus positif
1 kasus tersangka pertussis
A37.9 (Whooping cough,unspecified species)
N AFP(Lumpu
h Layuh Mendadak)
Kasus lumpuh layuh mendadak, BUKAN
disebabkan oleh ruda paksa/
traumapadaanak<15tahun.
1-14 hari 1kasuskonfirm
polio 1kasus AFP G82Paraplegia
(paraparesis)and quadriplegia (quadriparesis) A80 (Acute Poliomyelitis) G83(OtherParalitik Syndrome)
G82(Paraplegidan Tetraplegi)
G81 (Hemiplegia) G73 (Disorder of myoneuraljunction) G72 (Other
Myopathies)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX
G54(Nerveroatand plexus disorder) G56
(Mononeuropathiesof upper limb)
G57
(Mononeuropathiesof lower limb)
G61 (Inflamatory polyneuropathy) G61.0(GuillainBarre Syndrome)
G62 (Other polyneuropathies) G63(Polyneuropathy in diseases classified elsewhere)
G70 (Diseases of Myoneuraljunction and muscle)
G71 (Primary disordersofmuscle) G72 (Other
myopathies) G72.3 (Periodic Paralysis(Hiperkalemi, Myotonic)
E87.6 (Hipokalemi) G73 (Disorders of myoneuraljunction
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX and muscle in diseasesclassified elsewhere)
P KasusGigitan Hewan Penular Rabies
Kasus gigitan hewan (anjing, kucing,monyet,ataupenyakit berdarah panas lainnya) yang dapatmenularkanrabiespada manusia .
2-8minggu 1 kasus lyssa (kematian karenarabies)
Peningkatan2 kali kasus GHPR tanpa diganggu (provokasi)
Z20.3(Contactwith and (suspected) exposuretorabies) A82.9 (Rabies Unspecified) W54(Bittenbydog intial encounter) W55 (Contact with other mammals) Q Tersangka
Antraks (1).AntraksKulit(Cutaneus Anthrax); Papel pada inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa sakit,
2-3 hari vesikel berisi cairan kemerahan, haemoragik menjadi jaringan nekrotik, ulsera ditutupi kerak hitam, kering, Eschar
(patognomonik), demam, sakit kepala dan
pembengkakankelenjarlimfe regional
2).Antraks Saluran
Pencernaan demam, nyeri kepala hebat, kejang, kaku kuduk, dan penurunan kesadaran. Mortalitas hampir 100%.
(Gastrointestinal Anthrax);
Rasa
AntraksKulit:
1- 5 hari Antraks Saluran Pencernaan:
2-5 hari
AntraksParu- Paru:
1-5hari
Daerahbebas antraks:
●KLB terjadi bila
ditemukan1 kasuspositif antraks Daerahendemis antraks:
●Bila ada peningkatan kasusantraks dari periode waktu sebelumnya
Daerahbebas antraks:
●Terdapat 1 kasussuspek antrakspada manusia
●Terdapat hewan ternak sakit/mati mendadak yang
mengeluarkan darah dari lubanghidung, mulut,kuping, dubur. dan
A22(Antrax)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX sakit perut hebat, mual,
muntah,tidaknafsumakan, demam, konstipasi, gastroenteritisakutkadang disertai
darah, hematemesis, pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal, perut membesardankeras,asites dan oede m scrotum, melena.
3).Antraks Paru- Paru (Pulmonary Anthrax);
Gejalaklinisantraksparu- paru sesuai dengan tanda-tanda bronchitis.
Dalamwaktu2-4harigejala semakin berkembang dengan gangguan respirasi berat, demam, sianosis, dispnue, stridor, keringat berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat. Kematian biasanya terjadi2-3harisetelahgejala klinis timbul. (4).
Antraks Meningnitis Kompilasi dari2 bentuk utama antraks (pencernaan danparu),dengangambaran klinis
Daerah endemis antraks:
●Peningkatan suspekantraks pada manusia Terdapat hewan ternak sakit/mati mendadak yang
mengeluarkan darah dari lubanghidung, mulut, kuping, dan dubur.
R Tersangka
Leptospirosis Demamakutdengan
≥38.5o C, dan atau nyeri kepalahebat,dengannyeri otot, malaise, conjunctival suffusion (radang pada
3-7hari Sesuai kriteria KLB di
Permenkes1501 Tahun2010
di daerah yangrentan tertular leptospira
A27.9(Leptospirosis, unspecified)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX konjungtiva), nyeri betis,
disertai dengan adanya riwayat kontak dengan lingkungan yang
terkontaminasi leptospira (daerahbanjir,persawaahan, selokan)
S Tersangka Kolera
Penderitamenjadidehidrasi berat karena diare akut cair secara tiba-tiba (biasanya disertai muntah dan mual), tinjanyacairsepertiair cucian beras.
2jam–5hari 1 kasus
konfirmasikolera 1kasus tersangka kolera
A00.9(Cholera, unspecified)
T Klaster Penyakityang tidak lazim
Didapatkan dua atau lebih kasus/kematiandengangejala samadidalamsatukelompok masyarakat/ desa tidak lazim dalam satu periode waktu yang sama (±7 hari), yang tidak dapat dimasukan kedalamdefinisikasus penyakityanglain.
±7 hari Peningkatan kasus2kalidari periode waktu sebelumnya
2 atau lebih kasus klaster penyakit yang tidak lazim
A20(Pes) A98.4(Ebola)
B34.9(ViralInfection unspecified)
U Tersangka Meningitis /Ensefalitis
Panas > 38°C mendadak, sakit kepala, kaku kuduk, kadang disertai penurunan kesadarandanmuntah.Pada anak < 1 tahun ubun- ubun besar cembung.
1kasusKLBbila belum pernah ditemukan
Peningkatan kasus2kalidari periodewaktu sebelumnya
G03.9(Meningitis, unspecified)
G04.9(Encephalitis, myelitis and
encephalomyelitis, unspecified) Japanese
Encephalitis
AcuteEncephalitisSyndrome (AES) adalah keadaan seseorang pada semua golongan umur yang secara mendadak menunjukkan gejalademamdan
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX perubahan status mental,
termasuk confusion (bingung), disorientasi, koma,ataukesulitanbicara, dan/atau adanya kejang (tidak termasuk kejang demamsederhana)disertai gejala awal meningkatnya iritabilitas, somnolen (mengantuk), atau tingkah laku abnormal yang lebih menonjol dibandingkan dengan penyakit demam lainnya.
V Tersangka Tetanus Neonatorum
Setiapbayilahirhidupumur 3-28 hari sulit
menyusu/menetek,danmulut mencucudandisertaidengan kejang rangsang.
3-28 hari 1kasus KLB 1 kasus
tersangkaTN A33(Tetanus neonatorum)
W Tersangka
Tetanus Ditandaidengankontraksi dan kekejangan otot mendadak, dan sebelumnya ada riwayat
luka.
3-12 hari 1 kasus
kematian(tanya kepada para pakar )
1 kasus tersangka tetanus
A35(Other tetanus)
Y ILI(Influenz a Like Illness)
Penderita dengan riwayat demamdandemam≥38°C disertai batuk <10 hr
J09(Influenzadueto certain identified influenza viruses) J10(Influenzadueto identifiedseasonal Influenza)
J11 (Influenza due to unidentifiedinfluenza virus)
KodeSMS PENYAKIT DEFINI SI
INKUBASIMASA KRITERIA KLB
NILAI AMBANG
BATAS
KODEICDX Z Tersangka
HFMD(Hand , Foot, Mouth Disease)
HFMD:
Demamatauriw.Demam, bercak papulovesikular di telapak tangan dan kaki dengan/
tanpaulcerdimulut.Biasanya terjadi pada anak dibawah 10 tahun.
HFMD dengan satu atau lebihgangguansystemsaraf pusat: Demam ≥39°C atau
≥48 jam, muntah, letargi, iritabilitas, myoclonal jerk, kelemahantungkai,truncal ataxia, dispn/
takipnu.
3-7hari Klaster ≥ 2 kasusdalam satuinstitusi yang memiliki hubungan epidemioogi
Peningkatan kasus 2 kali (cluster) dari periodewaktu sebelumnya Klaster ≥ 2 kasus dalam satuinstitusi yang memiliki hubungan epidemiologi
B08.4 (Enteroviral vesicularstomatitis with exanthem
AC SuspekCovid-
19 Kasus COVID-19
diklasifikasikanmenjadikasus suspek, kasus probable dan kasus konfirmasi
5-6hari 1kasusKLB 1kasussuspek
covid-19 U07.1(COVID-19, virusidentified) U07.2(COVID-19, virus not identified) Z20.8 (Contact with andexposuretoother communicable diseases)
B34.2(CoronaVirus InfectionUnspecified)
X Total
Kunjunga n
Jumlahkunjunganpasienyang datang berobat dan terdaftar di fasilitas kesehatan (puskesmasataupustu)
MEREKAM DAN MEMPERBAIKI LAPORAN SKDR ONLINE(IBS DAN EBS)
1. SiapkandokumendataIBS/EBS(link) 2. Bukalaptopdenganjaringaninternet
3. AksesaplikasiSKDRonlinedenganmenggunak anURLhttps://surveilans.org
4. IsikanusernamedanpasswordAnda(link)
5. Kemudianpilih<Sign> tampilDashboardaplikasiSKDR online
UntuklatihangunakanURLini
https://skdr-latih.surveilans.org/
username:>>latihan.dinas.kesehatan
password:Latihan123
Untuk mendapatkan username dan password,silakan hubungi kontak pengelola SKDR di DinasKesehatanKab/Kota
UNTUKLAPORAN EBS 6. Pilihmenu<EBS>
7. Pilih menu <Formulir EBS>, tampillayar“FormulirSurveilansBer
basisKejadian(EBS)”
UNTUKLAPORANIBS 6. Pilihmenu<SKDRIBS>
7. Pilihmenu<DataAgregat> tampi llayar“EntriPelaporanKasus”
UNTUKTAMBAHLAP ORANEBSBARU
8. Pilih menu
<Tambah> tampilla yar“TambahDataBar u”
9. Rekam data laporan SKDRdengancermatd anlengkap
10. JIka sudah selesai, pilihmenu
<Simpan>kemudianme nu<SimpanKeluar>
UNTUKEDITLAPORANE BSYANGPERNAHDIREK AM:
8. Gulirlayarataugunak anmenu <Cari>
untukmenemukan baris datalaporan EBSyang akandiedit 9. Pilih menu <Edit>yang
adadi sebelah kanan baris datatampildata laporan
yangakandiperbaiki.Klik<View>
10. Perbaiki laporan
tersebutdengancermatdanlengkap
11. Jika sudah selesai, pilihmenu
<Simpan>kemudianmenu<SimpanKelua r>
UNTUKTAMBAHLAPO RANIBSBARU.
8. Pilih menu
<Tambah> tampilTampil layar“TambahDataBaru”
9. Rekam data laporan SKDRdengancermatdan lengkap
10. Jikasudahselesai,pilihmen u
<Simpan>kemudianm enu
<SimpanKeluar>
UNTUKEDITL APORANIBSY ANGPERNAH DIREKAM:
8. Gulirlayarataugunakanmenu
<Cari> untuk menemukan barisdatalapo ran IBS yang akandiedit
9. Pilih menu
<Edit>yang ada disebelah kanan baris data
tampildatala
poranyangaka ndiperbaiki.Kl ik<View>
10. Perbaiki laporan tersebutden gancermatd anlengkap
11. JIkasudahselesai,pilihmenu
<Simpan>kemudianme nu
<SimpanKeluar>
Perkembangankasusdiaremingguke23-32diPuskesmasA30 32
35%
30%
MELIHAT PENYAJIAN DATA SKDR ONLINE DAN EXPORT(EXCEL)
SiapkanusernamedanpasswordAnda 1. Bukalaptopdenganjaringaninternet
2. AkseswebSKDRonlinedenganmenggunakanURLhttps://surveilans.org
3. IsikanusernamedanpasswordAnda(link)Kemudianpilih<Sign>tampilDashboardaplikasiSKDRonline 4. Pilihjenisdatamenu<EBS>ataumenu<SKDRIBS>
5. Pilihmenu<AnalisaData> Tampillayar“Analisa”
6. PilihjenisanalisadiinginkandenganmemilihsalahsatumenuAnalisa->tampilisiankriteriapenyajiandata yang diinginkan
7. Pilihatauisisetiapkriteriapenyajiandatadiinginkan
8. Jikakriteriasudahditetapkanpilihmenu<Proses>tabel/grafiktampildilayar 9. Jikainginunggahdiexcelpilihmenu<excel>yangadadipojokkananatastabel Keluarpilihmenu<Logout>
Analisis dan Interpretasi Data Kewaspadaan Dini KLB
Pengertian :
Analisis dan Interpretasi Data merupakan rangkaian kegiatan surveilans yang dapat digunakanuntuk
1. Mengamati perkembangan kejadian penyakit yang berpotensi KLB 2. Mendeteksi/meramalkan kemungkinan terjadinya peningkatan kejadian
kesehatanatau KLB
3. Menyiapkan data dan informasi yang berguna untuk mendukung upaya program-******program kesehatan
Langkah-langkah analisis data mingguan wabah SKDR
1. Pelajari lebihdahulu pedomanSKDR terkaitpenyakit yangingin dilakukananalisis daninterpretasi.
Deskripsi 1. Difinisi kasus
2. Kriteria KLB dan ambangbatas (alert) 3. Konsep penanggulangan
4. Data/informasi parameterterkait lainnya untukmendukung pelaksanaansurveilans, kewaspadaan diniKLB dan monitoring kinerjaprogram di Puskesmas
Referensi dan contoh
1. Pedoman SKDR Penyakit Potensial KLB2022.(link Pedoman SKDR)) 2. Pedoman Algoritma SKDR 2022 (link algoritmaSKDR)
2.Tetapkan Tujuanterutama tujuanteknis nya
Tujuan melakukan analisisditetapkan spesifik, bisadilaksanakan dan bisa diukur
Referensi dan contoh
Pemantauan Wilayah Setempat untukmendeteksi adanya peningkatan kasus dengue diwilayahPuskesmas Gaya dan kecenderunganpenyakit
a. Perkembangan kasus dengue di PuskesmasGaya, menurut minggu laporan
12 10 8 6 4 2 0
23242526 Desa ADesaB
2728 Desa C
29 Desa D
31 TotalPuskesmas
Jumlahkasusdiaremenurutdesa18%
17%
Desa ADesa BDesa C Desa D
JumlahkasusDiaremenurutumur
1%
11%
33%
JumlahkasusDiaremenurutumur
1%
11%
33%
b. Perkembangan kasus dengue di PuskesmasGaya, menurut minggu laporan dan desa
3. Siapkan desainanalisisnya dalambentuk table,grafik dan petasesuai tujuan.
Dibuat tabel kosong (dummy)dan grafik kosong (dummy)untuk persiapan menghimpundata kasus dengue dari sumberdata laporan mingguanpenyakit potensi wabah
Analisisdata kasus Diaredi Puskesmas A
• Diare merupakan salah satu penyebab angka kematian dan kesakitan tertinggi paadaaanak balita, berdasarkan hasil riskesdas angka insiden diare pada balita sebesar 670per 1000 balita.
• Berikut analisis dari kasus diare di Puskesmas A yang mempunyai 4 desa denganpenduduksebanyak1.700 jiwa dan jumlah balita sebanyak200 balita.
Distribusikasusbersarakanwaktu:
Darigrafikperkembangankasusdiarediatasdiperolehinformasiantaralain:
Adanya peningkatan kejadian kasus diare di Puskesmas dan jika dilihat di masing-masing desadapat dilihat adanya desa yang
menunjukkan angka yang melebihi yaitu desa A dan
cenderungmeningkat.Untukituperludilakukanverifikasiuntukmendapatkaninformasilebihmendalam.
Distribusimenuruttempat
JumlahkasusDiaremenurutumur
1%
11%
33%
55%
<6bln 6-12bln 1-5th
>5th
JumlahkasusDiaremenurutumur
1%
11%
33%
55%
<6bln 6-12bln 1-5th
>5th
DariTabeldiatasdiperolehinformasiantaralain:
DesamenunjukkanjumlahkasustertinggidanyangterendahadalahdesaC.
Pengumpulan data lebih lanjut perlu dilakukan untuk memperoleh informasi faktorrisikosepertisaranaairbersih,jambankeluargamaupunperilakuhidupsehatdimasyarakat..
Distribusimenurutorang(Umur,Sex,dll)
Darigrafikdiatasdiperolehinformasiantaralain:
Pada usia 1-5 tahun menunjukkan kelompok rentan dibandingkan dengan golonganumurlainnyaterhadappenularandiaredilihat darikasusnyayanglebihtinggi.
Hal ini menunjukan perlunya perhatian pada kelompok tersebut untuk perlundunganterhadapkesehatannyamelaluiperilakuk hidupsehat,gizi danimunisasi.
Upayakewaspadaandini
MeskipunbelumterjadiadanyaKLBdiare,makapetugassurveilanPuskesmasdiharapkanmelakukana nalisissederhanasepertidiatassecaraterusmenerusuntukmeningkatkankewaspadaandiniterhadapkasusdiar edanpenyakitmenularlainnya.
Uapayakewaspadaandinidapatdilakukandenganmelakukanpengamatanperkembangankasusdiarey angdilaporkandariunitpelayananmelaluiregistersecaramingguanjikakemudiandibandingkan dengan kriteria KLB. Jika terdapat adanya kecenderungan telah mengarah ke alertmakasegeradilaporkankepadapimpinanpuskesmasuntukditindaklanjut.
Peningkatankasusdiarejugadipengaruhiadanyaperubahaniklim,lingkungan,sanitasidanPHBS.Unt uk pengamatan perkembangan kasus diare (PWS) harus dilakukan disetiap Puskesmas danselaluberkoordiansi denganRSdanlaboratprium.
Diseminasi Bagian dari Penyelenggaraan SKDR
Panduan Penggunaan Aplikasi SKDR untuk Pelaporan Penyakit Berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB) halaman 29-30:
Penyelenggaraan surveilans kesehatan dilakukan melalui, pengumpulan, pengolahan, dan analisis data, dan diseminasi sebagai satu kesatuan tak terpisahkan untuk menghasilkan informasi yang objektif, terukur, dapat dibandingkan antar waktu, antar wilayah, dan antar kelompok masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan (tindakan).
Bentuk dan Metoda Diseminasi Data Surveilans : Bentuk
Buletin
Surat edaran
Laporan berkala
Forum pertemuan
Publikasi ilmiah Metode
Memanfaatkan sarana teknologi informasi yang mudah diakses (Email, WA, SMS, Web Surveilans)
Pertemuan: Presentasi hasil analisis surveilans
Feedback merupakan salah satu kegiatan diseminasi yang bisa dilakukan melalui bentuk-bentuk diatas, yang dimanfaatkan untuk verifikasi dan perbaikan data bagi unit pelapor.
Desiminasi data surveilans sebagai dasar penyampaian informasi ke pihak yang berkepentingan.
Desiminasi data surveilans yang baik
Diseminasi yang baik harus dapat memberikan informasi yang mudah dimengerti sehingga dapat dimanfaatkan dalam menentukan kebijakan, upaya pengendalian serta evaluasi program terkait.
Seringkali diseminasi diartikan sebagai penyampaian data dalam bentuk tabel, grafik dan peta tanpa disertai narasi atau interpretasi tertentu, sehingga cara ini kurang memberikan manfaat yang diharapkan.
Diseminasi hasil surveilans harus didahului proses pengolahan data, analisis serta pengelolaan alert dan respon.
Diseminasi disampaikan dalam bentuk presentasi atau laporan, yang materinya dimuat dalam topik tersendiri.
Buletin SKDR
Buletin terdapat dalam aplikasi SKDR.
Memuat analisis data SKDR yang dilengkapi tabel, grafik dan peta serta interpretasinya.
Perlu perangkat sederhana membuat tampilan tabel, grafik dan peta karena puskesmas tidak memiliki akses terhadap data yang telah diupload di SKDR.
Buletin dapat dikirim tersendiri ke unit fasyankes dibawah puskesmas Buletin Memuat Feedback SKDR
1. Alert (sinyal siaga)
2. Informasi epidemiologi yang relevan 3. Rekomendasi pengendalian KLB.
4. Hasil kegiatan minggu sebelumnya untuk mengendalikan KLB.
5. Indikator kinerja SKDR.
6. Penyaringan (Filtering) sebagai bagian dari pengelolaan rumor
Diseminasi dalam bentuk surat edaran biasanya dilakukan untuk menyampaikan hasil surveilans yang memerlukan tindak lanjut secara formal, terutama kewaspadaan tinggi atas meningkatnya kasus penyakit tertentu.
Surat edaran dilengkapi dengan data hasil analisis surveilans yang memungkinkan para pembacanya cepat memahami dan segera menindak-lanjutinya.
Surat edaran dari Kepala Puskesmas bisa ditujukan ke para kepala desa, sektor terkait, unit fasyankes dibawahnya, maupun para pengelola program terkait.
LAPORAN BERKALA & LAPORAN KHUSUS
Laporan berkala dan laporan khusus disampaikan kepada Kepala Puskesmas dan bila perlu diteruskan ke sektor terkait
Laporan berkala bisa berupa penyampaian aplikasi, laporan mingguan dan laporan bulanan.
Laporan khusus dilakukan sepanjang diperlukan manakala terjadi KLB yang memungkinkan pimpinan puskesmas dan sektor terkait untuk memberikan perhatian dalam pengendaliannya.
Isi laporan berkala dan laporan khusus terdiri dari kecenderungan situasi kasus penyakit tertentu berdasarkan jumlah, tempat dan waktu sebagai hasil analisis serta pengelolaan alert dan respon.
FORUM PERTEMUAN
Diseminasi informasi data surveilans dijadwalkan setiap bulan di Puskesmas dalam bentuk mini lokakarya atau pertemuan khusus bila diperlukan.
Mini lokakarya sebagai forum penyampaian hasil surveilans, baik yang masih dalam proses analisis maupun hasil penyelidikan epidemiologi
Pertemuan khusus dilakukan pada saat terjadi KLB atau ada kunjungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota.
Penyampaian data surveilans juga penting pada saat pertemuan perencanaan, monitoring dan evaluasi program serta penelitian.
PUBLIKASI ILMIAH
Publikasi ilmiah merupakan bentuk diseminasi tertinggi yang memerlukan persiapan khusus karena senantiasa merujuk kepada referensi ilmiah.
Metodenya bisa dalam wujud tulisan berisi kajian epidemiologi yang disampaikan dalam forum pertemuan surveilans tingkat kabupaten/kota atau provinsi dan bahkan nasional.
Tulisan kajian ilmiah ini mengacu kepada pengalaman hasil surveilans yang dilakukan puskesmas, baik kegiatan SKDR maupun pengendalian KLB penyakit tertentu.
Kajian epidemiologi ini selain untuk kepentingan Puskesmas juga untuk kepentingan profesi epidemiologis.
KEBERHASILAN DESIMINASI DATA SURVEILANS
Diseminasi data surveilans dikatakan berhasil bila memenuhi hal-hal sebagai berikut:
Berisi substansi yang berisi hasil analisis dan interpretasi dari data surveilan (tabel, grafik, dan atau peta)
Dilakukan pada saat yang bersamaan atau tidak lama setelah analisis surveilans dilakukan
Disampaikan pada forum atau sasaran yang tepat (Kepala Puskesmas; Kabidkes Kab/ Kota; Pengelola program terkait; sektor terkait).
Dilakukan dengan bentuk dan metoda yang sesuai dengan kondisi di Puskesmas (diusahakan menjadi kegiatan rutin, tidak memerlukan biaya)
PENGELOLAAN RUMOR SKDR Definisi rumor
- Rumor penyakit adalah informasi penyakit yang dapat berpotensi menimbulkan KLB, tetapi belum terverifikasi kebenarannya.
- Rumor penyakit didapatkan dari informasi media, masyarakat, fasilitas kesehatan dan sumber informasi lainnya.
TAHAPAN RUMOR : PENYARINGAN :
Rumor yang diterima perlu penyaringan untuk prioritas respon.
Penyaringan rumor dilakukan dengan triase yang terdiri dari penyaringan dan seleksi.
FILTER DUPLIKASI :
Mengidentifikasi duplikat, yaitu peristiwa yang sama dilaporkan oleh sumber yang sama.
CEK RELEVANSI :
Mengidentifikasi dan membuang informasi yang tidak relevan dengan SKDR, sesuai dengan kebijakan Daerah dan tujuan untuk peringatan
dini.
SELEKSI :
• Seleksi adalah pemilahan informasi menurut kriteria prioritas. “mengeluarkan” informasi dan laporan
tentang penyakit yang tidak diprioritaskan
• Proses seleksi harus berdasarkan daftar prioritas EBS.
a) Kegawatan ( kecepatan penularan, risiko perawatan/kematian tinggi) b) Mendesak (keperluan untuk tindakan segera)
c) Kebutuhan program (menjadi ketentuan di program) VERIVIKASI :
• Verifikasi sangat penting dilakukan untuk mendeteksi hoax dan rumor palsu. Kebenaran kejadian perlu ditetapkan sebelum memulai pada tahap berikutnya (penilaian risiko). Setelah diverifikasi, itu disebut
“kejadian”.
1. Memastikan pelapor dapat dipercaya.
2. Menghubungi pelapor,
3. Menghubungi dokter, perawat atau petugas yang menangani, 4. Pemeriksaan silang dengan sumber lain (lintas sektor terkait);
5. Mengumpulkan informasi tambahan; dan
6. Memeriksa informasi resmi yang tersedia di internet 7. Verifikasi Rumor
• Hasil verifikasi dilaporan ke Dinkes kab.Ko menggunakan Format verifikasi Rumor/Event PENANGGULANGAN KEJADIAN :
Prinsip dan langkah penyelidikan epidemiologi:
a. Konfirmasi diagnosis (informasi tambahan kondisi klinis pasien, pemeriksaan laboratorium, populasi yang terdampak)
b. Investigasi lapangan: mewawancarai kasus pertama, kontak erat dan/atau orang lainnya c. Menganalisis data epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang;
d. Merumuskan hipotesis tentang bahaya, sumber paparan, cara penularan e. Mengidentifikasi kemungkinan sumber kontaminasi;
f. Membuat rekomendasi untuk mengendalikan kejadian tersebut;
g. Memperkuat surveilans (definisi kasus, penemuan kasus aktif);
h. Komunikasi dengan masyarakat dan media (komunikasi risiko);
i. Menerapkan langkah-langkah pengendalian ANALISIS RESIKO :
Analisis risiko dilakukan dengan mempertimbangkan karakterisasi bahaya, paparan dan konteks atau kapasitas.
• Penilaian bahaya : terdapat hasil laboratorium, karakterisasi agent, gambaran klinis, tingkat keparahan, gambaran epidemiologi
• Penilaian paparan : perkiraan jumlah orang atau kelompok yang terpapar dan kelompok rentan / berisiko yang terpapar (tidak memiliki kekebalan)
• Analisis konteks : Analisis konteks mempertimbangkan konteks/ kapasitas yang dapat mempengaruhi risiko, termasuk faktor lingkungan, iklim, musim, kapasitas pengendalian, sosial budaya, dan informasi lainnya.
• Karakteristik risiko : karakterisasi risiko dibagi dalam risiko rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi.
KARAKTERISTIK KEJADIAN :
Karakteristik kejadian menggambarkan :
• Jumlah kasus, jumlah kematian, jumlah dirawat
• Identifikasi Waktu, Tempat, Orang,
• Periode waktu kejadian
• Identifikasi Gejala utama,
• Langkah yang telah dilakukan
• Spesimen yang diambil,
• Mobilisasi TGC
PE
VALID :
• Apabila semua data hasil verifikasi sudah valid dan bisa membuktikan bahwa Rumor dimaksud KLB atau bukan/tidak KLB maka dilaporkan ke Dinas Kesehatan menggunakan Formulir Verifikasi Rumor/Event Valid.
KLB :
Apabila dinyatakan sebagai KLB maka dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kab./Kota menggunakan W1 dan dilakukan penyelidikan epidemiologi lanjut antara Puskesmas bersama Dinas Kesehatan.
PENGELOLAAN RESPON KLB PENYELIDIKAN DAN PENANGGULANGAN Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilakukan secara terpadu oleh Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat. Melipu;: penyelidikan epidemiologi; penatalaksanaan penderita, yang mencakup kegiatan pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita, termasuk ;ndakan karan;na; pencegahan dan pengebalan; pemusnahan
penyebab penyakit; penanganan jenazah akibat KLB/wabah; penyuluhan kepada masyarakat;
dan upaya penanggulangan lainnya, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010.
KLB
1. Respon tatalaksana KLB
• Melakukan tatalaksana danrujukan sesuai dengan SOP bilamenemukan kasus denganmemperhatikan prinsip – prinsippengendalianinfeksi
• Melakukan tatalaksana kasussesuai manifestasi klinis yangmunculpadakasus
• Melakukan perawatan di ruangisolasi(jikadiperlukan)
• Melakukan pengembilanspecimen untuk pemeriksaankonfirmasilaboratorium 2. Respon Kesehatan Masyarakat
• PenyelidikanEpidemiologi
• Koordinasi dengan bidangataufungsiterkait
• Melakukanupayapengendalian factor risiko (pengobatan untukpencegahan masyarakat,vaksinasi,pengendalianlingkungan, perilaku)
• Surveilanssecaraintensif
• KIE terpadu
3. Respon Pelaporan
• PelaporanW1
• HasilPE
• Hasil Pemeriksaanpenunjang/lab
Penyelidikan Epidemiologi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengenalpenyebab, sifat-sifat penyebab, sumber dan cara penularan/penyebaran serta faktor yangdapat mempengaruhi timbulnya penyakit atau masalah kesehatan yang dilakukan untukmemastikanadanyaKLB atausetelahterjadi KLB/Wabah
Alert Respon Penetapan KLB
Penetapan KLB Verifikasi
Terdug HasilDataAnalisis aKLB
Penetapan KLB Verifikasi
Rumor
KRITERIA KLB
KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah 2mbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kema2an yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah
KRITERIA KLB
Suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (2ga) kurun waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurutjenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut jenis penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kema2an kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu
menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kema2an kasussuatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Propor2onal Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
8. Terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbuk2 sebagai sumber keracunan.
Catatan : Jika suatu daerah memenuhi kriteria diatas, maka kepala dinas kesehatan kabupaten/
kota, kepala dinas kesehatan provinsi, atau Menteri yang akan menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB
TAHAPAN PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI 1. Persiapan sebelum ke lapangan
a. Scien4fic and inves4ga4ve issues.
- Mempelajari informasi/karakteristik dari penyakit/ hal yang akan diinvestigasi sebagai bekal pengetahuan (ex/:sumber, cara penularan, dan faktor risiko penyakit) - Koordinasi dengan staff laboratorium
- Persiapan alat dan bahan termasuk APD jika diperlukan b. Management and opera4onal issues
- Penentuan anggota 4m dan jobdesjnya serta alur komunikasi - Kebutuhan operasional dan logistik
2. Konfirmasi Keberadaan KLB
3. Merumuskan definisi kasus sebagai rujukan kerja
4. Konfirmasi diagnosis (memperoleh informasi tambahan kondisi klinis pasien, pemeriksaan laboratorium, populasi yang terdampak pada kejadian tersebut)
5. Investigasi lapangan, termasuk mewawancarai kasus pertama, kontak erat dan/atau orang lainnya untuk
mengumpulkan informasi a. Identifikasi kasus b. Identifikasi risiko c. Identifikasi kontak erat d. Pengambilan specimen e. Biosafety
f. Penanggulangan awal
6. Menganalisis data epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang
7. Merumuskan hipotesis tentang bahaya, sumber paparan, kendaraan kontaminasi dan cara penularan 8. Membuat rekomendasi tindakan kesehatan masyarakat untuk mengendalikan kejadian tersebut 9. Memperkulat atau melaksanakan surveilans (definisi kasus, penemuan kasus ak4f)
10. Berkomunikasi dengan masyarakat dan media (mobilisasi sosial, komunikasi risiko 11. Menerapkan langkah – Langkah pengendalian awal
PENGELOLAAN SPESIMEN
Diagnosis yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan pada kasus-kasus penyakit infeksi agar
penganggulangannya dapat diberikan dengan cepat dan tepat serta dapat mencegah terjadinya penularan.
Untuk itu diperlukan laboratorium kesehatan yang dapat menghasilkan diagnosis bermutu dengan hasil yang cepat Peran laboratorium diagnostik untuk kewaspadaan dini KLB adalah untuk memantau masalah
kesehatan:
1. Mengidentifikasi pola penyakit
2. Mengikuti kecenderungan penyakit, sesaat, jangka menengah dan jangka panjang serta pola penyakit 3. Mendeteksi perubahan mendadak kejadian dan penyebaran penyakit
4. Mengidentifikasi perubahan-perubahan agen, inang, dan factor lingkungan
5. Mendeteksi adanya perubahan-perubahan pola penyakit pada praktek pelayanan kesehatan Hasil pemeriksaan Lab berguna untuk :
1. Mendiagnosa suatu penyakit 2. Memantau hasil pengobatan
3. Memverifikasi penyebab (etiologi) dari suatu KLB yang dicurigai Persyaratan specimen untuk dikirim ke Lab
1. Prosedur pengambilan dilakukan dengan cara yang benar dan aman (memperhatikan universal precaution) 2. Spesimen disimpan di dalam wadah dan media transport yang sesuai.
3. Spesimen dijaga di dalam suatu cakupan temperatur yang spesifik dan dilakukan pengiriman ke laboratorium sesegera mungkin.
4. Tambahkan label identitas pasien (nama dan usia) pada wadah specimen
5. Pengemasan/pengepakan spesimen sesuai dengan ketentuan UN3373 Triple Packaging System (Sistem Pengepakan 3 Lapis)
6. Pengiriman spesimen harus disertai dengan surat pengantar (formulir pemeriksaan, W1, laporan PE jika ada)
Catatan : Kondisi spesimen yang diterima oleh laboratorium sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pemeriksaan
BAB III
PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional, tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Sebagai landasan hukum dalam penyelenggaraan Puskesmas, dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat dinyatakan bahwa Puskesmas berfungsi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya di wilayah kerjanya. Agar Puskesmas mampu melakukan upaya kesehatan dengan baik dan berkesinambungan untuk mencapai tujuannya, maka Puskesmas harus menyusun rencana kegiatan periode 5 (lima) tahunan yang dirinci ke dalam rencana tahunan. Semua rencana kegiatan harus berdasarkan atas hasil analisis situasi yang didukung dengan data dan informasi yang akurat (evidence based) agar dapat mencapai sasaran/tujuan secara efektif dan efisien.
Upaya kesehatan Puskesmas yang dilaksanakan secara merata dan bermutu sesuai standar, diwujudkan dengan bukti adanya perbaikan dan peningkatan pencapaian target indikator kesehatan masyarakat dan perseorangan seperti menurunnya angka kesakitan penyakit yang menjadi prioritas untuk ditangani, menurunnya angka kematian balita, angka gizi kurang dan atau gizi buruk balita dan maternal, menurunnya jumlah kematian maternal, teratasinya masalah-masalah kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.
Petugas Surveilans Puskesmas/RS harus mengetahui perkembangan penyakit (data kesakitan dan kematian) menurut karakteristik epidemiologi (waktu, tempat dan orang) sehingga data dan analisis kemungkinan terjadinya KLB bisa dilakukan pencegahan dengan melakukan cara-cara penanggulangan yang efektif.
Daftar pustaka:
https://sites.google.com/view/panduansurveilans/pedoman
https://www.mutupelayanankesehatan.net/images/2022/Buku%20Panduan%20Penggunaan%20Aplikasi
%20SKDR.pdf
https://siakpel.kemkes.go.id/upload/akreditasi_kurikulum/modul-3-31313830-3534-4431-b130- 323230353239.pdf