• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajari tentang Perancangan Kota A

N/A
N/A
lucky franstama p

Academic year: 2023

Membagikan "Pelajari tentang Perancangan Kota A"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Lucky Franstama Putra NPM : 5221511039

Mata Kuliah : Perancangan Kota A Roger Trancik

Roger Trancik adalah seorang arsitek dan perencana perkotaan yang terkenal dalam bidang perancangan kota. Ia mengembangkan beberapa prinsip dalam bukunya yang mengemukakan tiga teori proses perancangan kota, yaitu teori figure ground, teori linkage, dan teori place (Trancik, 1986).

Teori Figure Ground Roger Trancik

Konsep Figure Ground menggambarkan penampakan suatu ruang dengan menganalisis susunan area dikembangkan dan area kosong. Hal ini mencakup perkotaan padat (lahan terbangun) dan kekosongan perkotaan (lahan terbuka). Kepadatan bengunan di sepanjang jalan dapat menunjukkan tingkat kualitas ruang luar (Trancik, 1986).

Teori Linkage Roger Trancik

Linkage pada dasarnya adalah cara untuk menganalisis bagaimana pergerakan berkaitan dengan perencanaan tata ruang kota. Teori linkage ini memahami semua hubungan antara hal-hal seperti jalan, jalur pedestrian, dan ruang terbuka. Ada tiga pendekatan berbeda untuk mempelajari lingkungan perkotaan yaitu: linkage visual, linkage structural, dan linkage kolektif (Wijayaningsih, 2007). Peneliti menggunakan teori ini untuk mengamati pola koridor jalan pada suatu kawasan tertentu serta menganalisis bagaimana masyarakat dapat mengakses ruang public dan kawasan sekitarnya.

Teori Place Roger Trancik

Teori Place adalah teori yang mengeksplorasi seberapa pentingnya wilayah perkotaan yang mencakup akan sejarah, budaya dan sosialisasinya. Dengan menggunakan teori place, kita dapat menganalisis :

1. Pemahaman tentang ruang kota melalui tanda kehidupan perkotaan.

2. Ruang kota secara umum konstektual (Wijayaningsih, 2007).

(2)

Gambar.

Teori Figure Ground

Teori Linkage

Teori Place

(3)

Kevin Lynch

Kevin Lynch adalah seorang arsitek adan perencana perkotaan yang terkenal dengan kontribusinya dalam bidang perancangan kota. Lynch mengembangkan konsep mengenai bagaimana warga kota memahami, mengenali, dan berinteraksi dengan kota mereka. Ia mengemukakan bahwa proses perancangan kota harus mempertimbangkan persepsi dan

pengalaman individu terhadap kota. Menurut Kevin Lynch (1960) terdapat lima kategori elemen yang digunakan orang untuk menyusun kesadaran atas image kawasan yaitui: paths, edges, district, nodes dan landmarks.

Jalur (Paths)

Daerah ini dapat diidentifikasi sebagai unit tematik. Kualitad fisik suatu wilayah

ditentukan oleh kesinambungan dan konsistensinya, meliputi material, tekstur,

ruang, bentuk, detail, simbol, bangunan, kegunaan, aktivitas, penghuni, warna, topografi, dan langit (Lynch, 1960). Ciri-ciri

tersebut memberikan identitas suatu distrik, membangun bagian-bagiannya, dan memberikan petunjuk mendasar tentang kota

tersebut.

Batas (Edges)

Tepi merupakan elemen linier yang tidak digunakan atau dipandang sebagai jalur oleh

pengamat. Mereka berfungsi sebagai antara dia fase dan mewakili diskontinuitas linier, seperti garis pantai, rel rel kereta api, tepi konstruksi, dan dinding (Lynch, 1960: 47).

Tepi dapat didefinisikan sebagai garis yang memisahkan dua area yang mempunyai fitur

berbeda, baik itu batas alami seperti sungai, jembatan, dan topografi, atau fitur buatan seperti jalur hijau, tepi laut, jalan raya, jalan

layang, dan lain-lain. Tingkat diferensiasi antara dua distrik dapat ditentukan oleh karakteristik tersebut, yang mungkin timbul

dari penggunaan kosa kata arsitektur yang berbeda pada fasad, jenis elemen lanskap tertentu, bentuk cekung, ketinggian bangunan,

jenis rumah, klasifikasi kegiatan, atau kelas sosial.

(4)

Kawasan (District)

Kabupaten merupakan kawasan berkarakter khas yang menonjol secara visual dari lingkungan sekitarnya. Ia mempunyai ciri-ciri

umum dan identitas yang unik. Ciri-ciri fisik kawasan, seperti material yang digunakan dalam bangunan, tata ruang, dan aktivitas yang berlangsung di kawasan tersebut, berkontribusi terhadap identitas keseluruhan dan menciptakan rasa keintiman di kawasan

tersebut. Fitur-fitur ini juga memberikan petunjuk penting tentang kota yang lebih

besar.

Simpul (Nodes)

Menurut Lynch (1960: 72), node adalah titik fokus strategis yang biasanya dapat dimasuki oleh pengamat, seringkali di persimpangan jalan atau area dengan berbagai karakteristik.

Contoh node antara lain alun-alun, stasiun kereta api, plaza, persimpangan, dan bahkan

persimpangan jalan. Node dapat dilihat sebagai sebuah persimpangan, hubungannya

dengan jalur yang menyerupai kotak, atau sebagai konsentrasi tematik seperti area

perbelanjaan. Ini juga bisa merupakan kombinasi dari persimpangan dan

konsentrasi.

Tangeran (Landmark)

Berbeda dengan node yang dapat disisipkan, landmark adalah fitur di luar individu yang

berfungsi sebagai referensi (Lynch, 1960).

Penglihatan berbeda dengan pengalaman pribadi seseorang. Biasanya bersifat statis (objek seperti matahari juga dapat bergerak) dan merupakan objek unik (struktur fisik atau

fitur geografis) yang dapat dipilih dari berbagai kemungkinan. Landmark merupakan

isyarat yang sangat penting dalam proses pencarian jalan, dan penting dalam berbagai

kasus, namun tidak terlalu penting (Kaplan, dkk., 1998).

(5)

Hamid Shirvani

Hamid Shirvani adalah seorang profesor dan perencana perkotaaan yang telah memberikan konstribusi dalam bidang perncangan kota. Shirvani menyusun pendekatan sistematis untuk proses perancangan kota yang mencakup beberapa langkah. Dalam bukunya “the Urban Design Process”, memiliki 8 elemen yang membentuk fisik kota yakni :

1. Tata Guna Lahan (Land Use)

2. Pembentuk dan Tatanan Bangunan (Buillding Form and Mass Building) 3. Sirkulasi dan Parkir (Circulation and Parking)

4. Ruang Terbuka (Open Space) 5. Papan Iklan/Rambu (Signases) 6. Pedestrian Ways

7. Aktifitas pendukung Support Activity 8. Preservasi (Preservation)

1. Tata Guna Lahan (Land Use)

Salah satu permasalahan yang muncul terkait dengan penerapan sistem penggunaan lahan atau zonasi perkotaan menurut Shirvani (1985), yaitu kurangnya diversifikasi kegiatan dalam satu zona yang sama (“terlalu seragam”) yang menyebabkan hanya ramai pada waktu tertentu.

2. Pembentuk dan Tatanan Bangunan (Mass and Form Building)

Menurut Shirvani (1985), salah satu permasalahan yang terkait dengan massa terbangun perkotaan adalah massa perkotaan meliputi bangunan, permukaan tanah, benda-benda dalam ruang yang dapat membentuk ruang kota dan membentuk model operasional, baik dalam skala besar maupun kecil.

3. Sirkulasi dan Perparkiran (Circulation and Parking)

Menurut Shirvani (1985), sistem transportasi perkotaan sebagai penataan fisik kota mencakup berbagai aspek antara lain tata letak jalan dinas, sarana dan prasarana, aspek lalu lintas dan parkir.

4. Ruang Terbuka (Open Space)

Unsur ruang terbuka menurut Shivani (1985) antara lain taman dan lapangan hijau, air, penerangan, paving, kios, pancuran minum, patung, jam, jalur pejalan kaki, dan penanda.

5. Jalur Pedestrian (Pedestrian Ways)

Ketersediaan elemen jalan setapak seperti: bangu, penerangan dan taman menambah nilai elemen keindahan sehingga terdapat perbedaan yang jelas antara lalu lintas pejalan kaki dan lalu lintas kenadaraan (Shirvani, 1985).

(6)

6. Pendukung Kegiatan (Activity Support)

Meliputi seluruh pemanfaatan dan aktivitas turutt memperkuat ruang publik kota, karena aktivitas dan ruang fisik selalu saling melengkapi. Bentuk, letak dan karakter suatu kawasan tertentu akan menarik fungsi, kegunaan dan aktivitas tertentu.

7. Perpapan-nama/penanda (Signages)

Penanda yang dimaksud Shirvani adalah penunjuk arah, rambu lalu lintas, materi iklan, dan bentuk penandaan yang berbeda. Keberadaan rambu akan sangat mempengaruhi visualisasi kota jika jumlahnya cukup dan mempunyai karakter yang berbeda-beda.

8. Preservasi (Preservation)

Upaya yang harus dilakukan untuk melestarikan situs bersejarah, selama situs tersebut penting secara ekonomi dan signifikan secara budaya. Struktur dan situs yang secara historis penting harus mempunyai umur yang lebih panjang.

Tata Guna Lahan (Land Use)

Pembentuk dan Tatanan Bangunan (Mass and Form Building)

Sirkulasi dan Perparkiran (Circulation and Parking)

Ruang Terbuka (Open Space)

(7)

Jalur Pedestrian (Pedestrian Ways)

Pendukung Kegiatan (Activity Support)

Perpapan-nama/penanda (Signages)

Sumber :

Roger Trancik. 16_BAB 2 (TINJAUAN PUSTAKA), Teori Pendekatan Rancangan Kota.

Lynch, Kevin. A Theory of Good City Form. Cambridge, MA : MIT Press, 1981

Shirvani, Hamid.. 1985. The Urban Design Process, Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk fasad bangunan terbangun, pada bagian entrance yang mengacu pada aspek “form follow function” di aman bentuk struktural fasad dan dan atap bangunan utama yang meniru

Bagaimana rancangan gedung Perpustakaan Kota di Yogyakarta yang mencitrakan bangunan pendidikan melalui pengolahan massa dan tampilan bangunan dengan perwujudan. filosofi buku

beberapa massa bangunan yang terpadu dan saling berhubungan secara langsung dengan peruntukan yang berbeda, mix-use building menggabungkan antara fasilitas hunian apartemen,

Gambar 11: Konsep Luas Lahan Terbangun bioskop di Kota Pontianak dengan fasilitas pendukung yang rekreatif Konsep perletakkan bangunan, dalam menentukan perletakan bangunan di

Tata massa bangunan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan ruang pasar ikan dengan pola aliran udara pada tapak sehingga udara yang masuk ke dalam bangunan

Perletakan massa bangunan dibuat lebih rapih dengan Gedung terpisah pisah antara tiap fungsi bangunan bertujuan agar pengunjung maupun penghuni (santri) dapat berkeliling

Penelitian tentang, ”Klinik Spesialis Gigi dan Mulut dengan Mengolah Tatanan Massa dan Fasad Bangunan Melalui Pendekatan Arsitektur Late - Modern” ini bertujuan agar mendapatkan

Form ini tidak dapat digunakan untuk menentukan tingkat kerusakan sekolah, utamanya untuk sekolah yang terdiri dari lebih dari satu massa bangunan dan tingkat kerusakan massa bangunan