• Tidak ada hasil yang ditemukan

pembelajaran tahfidzul qur'an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pembelajaran tahfidzul qur'an"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN PELAJARAN 2018/2019

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Oleh:

MISBAHUL UMAM NIM. 084 158 003

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

OKTOBER 2019

(2)
(3)
(4)

















Artinya: Dan sesungguhnya, telah kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang-orang yang mau mengambil pelajaran ?. (al-Qomar: 22)1.

1 Depag RI, Al Qur’an dan Tarjamahnya Special for Women, (Bandung: PT Syaamil Al Qur’an, 2009), 529.

(5)

1. Abah Ahmad Shodiq Subandi QN, Umi Sa’adah, Abah Mertua (alm) H.

Jauhari Shodiq QN, dan Ibu Mertua Hj. Masruroh Jauhari Shodiq yang selalu memberikan do’a, semangat dan bimbingannya untuk selalu berjuang menata masa depan yang lebih baik lagi. Segala do’a semoga tetap tercurah kepada beliau semoga selalu dalam Ridlo Allah SWT.

2. Istri tercinta dan tersayang Nadhifatus Sa’diyah dan Putra pertama saya yang sholeh dan tampan Moch. Fakhruddin Al Ghozali (Faza) yang selalu menemani, menyemangati dan mendukung dalam langkah-langkah kehidupan saya.

3. Semua saudara dan semua keluarga besar saya, saya sampaikan terima kasih banyak atas dukungan, motivasi dan do’anya.

4. Guru-guru saya tercinta yang dengan keikhlasan, do’a dan semangatnya dalam membimbing, mendidik dan mentarbiyah saya, supaya menjadi insan yang sholeh, kafi, dan berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa.

5. Sahabat seperjuangan saya MADIN 7, yang penuh dengan suka cita, ceria, keakraban dan persaudaraan saat bersama kalian.

6. Almamater saya tercinta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.

(6)

yang kesenantiasaannya mengilhamkan inspirasi dalam beribadah taat dan berkarya. Sholawat dan salam kami haturkan kepada sang revolusioner dunia Nabi Muhammad SAW, sebagai ungkapan ta’dhim untuk beliaunya yang dengan syareatnya berhasil telah menciptakan mata air peradaban dengan maslahah yang bisa dinikmati oleh seluruh alam semesta.

Selesainya penyusunan karya ilmiah initidak terlepas dari keterlibatan pihak-pihak baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itulah,sebagai bentuk penghargaan kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya dengan ucapan jazakumullah ahsanul jaza’ kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM, selaku Rektor IAIN Jember, yang telah senantiasa mencurahkan segala pemikiran dan usahanya, sehingga IAIN Jember semakin hari semakin menjadi lebih baik dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

2. Ibu Dr. Hj. Mukni’ah, M. Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember, yang tidak pernah lelah untuk selalu memberikan contoh sebagai seorang pelajar dan pengajar dan sebagai cendekiawan yang baik.

3. Bapak Rif’an Humaidi, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan skripsi ini.

(7)

penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Masturi, S. Ag, M. Pd.I selaku Kepala Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember, yang telah menerima peneliti untuk melakukan penelitian di lembaganya, serta memberikan informasi, data, waktunya demi terselesaikannya skripsi ini.

6. Segenap guru dan siswa Madrasah Mifathul Ulum Rambipuji Jember yang telah membantu dalam memperoleh data dalam penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini masih jauh dari harapan ideal, kekurangan dan ketidak sempurnaan pasti ada di dalamnya, namun dengan waktu yang sangat terbatas penulis mencoba untuk menyusunnya berdasarkan kemampuan yang ada, dan untuk menyempurnakannya tentu tidak lepas dari saran dan kritik yang kontruktif dari para pembaca.

Dalam penulisan ini, kami hanya berharap ridlo Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW, semoga ini dapat memberikan manfaat bagi kami hususnya dan para pembaca umumnya. Amiin ya robbal ‘alamin.

Jember, Agustus 2019

Misbahul

Umam NIM.084158003

(8)

Kata kunci: Fahim Qur’an.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam yang menjabarkan permasalahan- permasalahan dunia, akherat serta agama yang memuat aturan makhluk dan way of life yang kekal abadi. Ironisnya, hasil riset PTIQ Jakarta menyebutkan bahwa jumlah Muslim Indonesia yang tidak mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar ada sekitar 60-70 persen, belum lagi dengan penghafal, pengamal serta yang memahaminya dengan baik dan benar.

Oleh karena itu, metode pembelajaran Fahim Qur’an merupakan suatu alternatife yang lebih menyenangkan untuk mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember merupakan salah satu lembaga pendidikan formal tingkat dasar yang menjadikannya sebagai kurikulum wajib dalam pembelajarannya, untuk ikut andil mempersiapkan generasi yang mampu membaca al-Qur’an dengan baik serta penghafal al- Qur’an di masa mendatang.

Fokus penelitian skripsi ini adalah: 1. Bagaimana perencanaan pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019 ?, 2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019 ?, 3. Bagaimana evaluasi pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019 ?.

Tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019. 2. Untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019. 3. Untuk mendeskripsikan evaluasi pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji tahun pelajaran 2018/2019.

Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif dengan menggunakan purposive. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan tahapan kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta data di analisis dengan teknik trianggulasi sumber dan trianggulasi metode.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember tahun pelajaran 2018/2019 yaitu: 1. Perencanaan pembelajaran tahfidzul Qur’an ini dimulai dengan menentukan target hafalan, pembuatan silabus, pembuatan RPP oleh guru terkait, dengan waktu 35 menit sebelum mata pelajaran kurikulum di mulai, dan pengelompokkan peserta didik yang baik dan kondusif. 2. Pelaksanaan program tahfidzul Qur’an ini yaitu dengan menambah hafalan baru peserta didik, memurojaah materi yang telah dihafalkan, penyelesaian problem peserta didik dengan bijak. 3. Evaluasi pembelajaran tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an ini menggunakan 2 cara yaitu sumatif dan formatif.

(9)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 10

F. Sistimatika Pembahasan ... 11

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 13

B. Kajian Teori ... 17

(10)

C. Subyek Penelitian ... 42

D. Tehnik Pengumpulan Data ... 43

E. Analisis Data ... 48

F. Keabsahan Data ... 53

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 54

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Gambaran Obyek Penelitian ... 56

1. Sejarah Berdirinya MI Miftahul Ulum Rambipuji Jember ... 56

2. Profil MI Miftahul Ulum Rambipuji Jember ... 58

3. Visi dan Misi ... 62

B. Penyajian Data dan Analisis Data ... 66

C. Pembahasan Temuan ... 90

BAB V PNUTUP A. Kesimpulan ... 95

B. Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 98

(11)

3. Pedoman Penelitian 4. Jurnal Penelitian

5. Surat Permohonan Izin Penelitian 6. Surat Selesai Penelitian

7. Denah 8. Dokumentasi 9. Biodata Penulis

(12)

2.1. Perbedaan Penelitian ini dengan Penelitian Terdahulu ... 16

2.2. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 18

2.3. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 19

2.4. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 19

2.5. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 20

2.6. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 20

2.7. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 21

2.8. Target hafalan metode Fahim Qur’an ... 21

2.9. Contoh format buku penghubung ... 36

2.10. Contoh format buku penghubung ... 38

3.1. Lulusan yang hafal 30 juz Tahun Pelajaran 2015/2016... 41

3.2. Lulusan yang hafal juz 30 tahun pelajaran 2016/2017 ... 41

3.3. Lulusan yang hafal juz 30 tahun pelajaran 2017/2018 ... 42

4.1. Daftar Jumlah Siswa ... 59

4.2. Daftar Nama Guru ... 60

4.3. Silabus materi tahfidz al-Qur’an ... 64

(13)

Gambar 4.2 Permainan Game Pembelajaran Tahfidz ... 71 Gambar 4.3 Permainan Game Tahfidz ... 73

(14)

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kalamullah yang merupakan mu’jizat yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai mukjizat dan rahmat bagi alam semesta. Di dalamnya mengandung petunjuk, pedoman, dan pelajaran bagi siapa yang mempercayainya serta mengamalkannya. Sungguh mulia al- Qur’an sehingga dengan hanya membacanya saja sudah termasuk ibadah, al- Qur’an juga sebagai pedoman hidup orang Islam dan berfungsi sebagai penjelas tentang peraturan-peraturan umat dan way of life yang kekal abadi hingga ahir zaman.1

Allah SWT telah berfirman dalam surat al-Baqoroh: 185 yaitu:



























Artinya : Bulan Ramadlan adalah (bulan) yang di dalam nya di turunkan al- Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang baik dan yang bathil]. (al-Baqoroh:185).2

Rasulullah Muhammad saw sendiri sangat memotifasi kepada umatnya untuk menjaga kelestarian isi al-Qur’an tersebut yang mana bisa dilakukan dengan cara membacanya dengan tartil, bertadabbur maknanya dan menghafal kalimat-kalimatnya

1 H. Sadullah, 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2008), 12.

2 Depag RI, Al Qur’an dan Tarjamahnya Special for Women, (Bandung: PT Syaamil Al Qur’an, 2009), 28.

(15)

Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Muzzammil: 4 yaitu:















Artinya : atau lebih dari (seperdua) itu,dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (al-Muzzammil: 4).3

Rasulullah Muhammad saw juga menganjurkan untuk mempelajarinya dengan mendalam yakni dengan tadabbur, yaitu memahami, memikirkan, mempertimbangkan, merenung dan memperhatikan isi kandungan dari ayat- ayat al-Qur’an tersebut.

Allah SWT dalam hal ini telah menjelaskan dalam al-Qur’an surat Shad: 29 yaitu





















Artinya: Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Shad:

29).4

Setelah ditadabbur kandungan makna ayat-ayat al-Qur’an tersebut, tahapan selanjutnya adalah dengan cara dihafalkan lafadz-lafadznya. Hal ini merupakan salah satu bukti terbesar dari maziyyah al-Qur’an yang bisa di buktikan sepanjang masa bahwa al-Qur’an adalah kitab Allah swt yang terjaga sepanjang masa sebagaimana jaminan Allah swt sendiri dalam firman-NYA surat al-Hijr: 9 yaitu

















3 Ibid, 574

4 Ibid, 453

(16)

Artinya: Sesungguhnya kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya kami yang benar-benar akan memeliharanya. (al- Hijr: 9).5

Ayat di atas merupakan garansi langsung dari Allah swt bahwa Dia yang akan memelihara dan menjaga al-Qur’an tersebut dari pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Sehingga bila ada musuh-musuh Islam yang berusaha merubah atau mengganti satu kalimat atau satu kata saja pasti akan diketahui sebelum itu tersebar luas di tengah-tengah masyarakat muslim.6

Lembaga yang fokus dan insten dalam ikut serta menjaga hafalan al- Qur’an antara lain yaitu Pondok Pesantren Yanbuul Qur’an di kota Kudus Jawa Tengah, Pondok Pesantren Bani Taslim di kota Demak Jawa Tengah, Pondok Pesantren al-Jaliq Purwodadi Jawa Tengah, Pondok Pesantren Nurul Qur’an di Jombang Jawa Timur, Pondok Pesantren Yasinat Jember Jawa Timur, dan madrasah yang mempunyai pembelajaran tahfidzul Quran diantaranya yaitu Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember.

Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Hifdzul Qur’an (MHQ) dari tingkat kecamatan, tingkat kabupaten, tingkat propinsi, bahkan sampai ditingkat nasional, dan juga banyaknya bea siswa yang diberikan khusus untuk generasi-generasi penghafal al-Qur’an adalah salah satu bukti kongkrit perhatian dari pemerintah Indonesia terhadap kelestarian al-Qur’an.

Lembaga swasta dan media umum di bulan suci ramadlan juga banyak menanyangkan acara-acara terkait seperti hafidz cilik maupun hafidz Indonesia sebagai salah satu bentuk dukungannya dan dalam rangka

5 Ibid, 262

6 Nur Faizin Muhith, Semua Bisa Hafal Al Qur’an, (Banyuanyar Surakarta: Al Qudwah, 2013), 13-14.

(17)

memotifasi para penghafal al-Qur’an supaya lebih banyak lagi dan semakin meluas di seluruh penjuru dunia. Ini dapat dikatakan bahwa hampir semua lapisan masyarakat juga sangat mendukung dengan hadirnya generasi-generasi al-Qur’an.

Allah SWT memberikan banyak motivasi dan kemudahan bagi yang ingin menghafalkan al-Qur’an, sebagaimana firman-NYA dalam surat al- Qomar: 17, 22, 32, dan 40 yang berbunyi

















Artinya: Dan sesungguhnya, telah kami mudahkan al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang-orang yang mau mengambil pelajaran ?. (al-Qomar: 22)7.

Hasil riset PTIQ Jakarta, menyebutkan bahwa jumlah Muslim Indonesia yang tidak mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar ada sekitar 60-70 persen, sedang menurut KH. Sholahudin Wahid Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, beliau menyebutkan bahwa Muslim Indonesia yang bisa membaca al-Qur’an hanya 23 persen, jumlah ini masih sangat jauh dari harapan, belum lagi dengan para penghafal al-Qur’an, pengamal al-Qur’an dan orang-orang yang mampu memahami al-Qur’an dengan benar dan baik yang jumlahnya semakin sedikit lagi, sehingga al- Qur’an yang seharusnya sebagai pedoman hidup, dijadikan hanya sekedar sebagai hiasan di rumah-rumah.8

7 Depag RI, Al Qur’an dan Tarjamahnya Special for Women, (Bandung: PT Syaamil Al Qur’an, 2009), 529.

8Riset PTIQ, Republika.co.id, Medan, 11 Oktober 2018

(18)

Menurut Syekh Taqiyul Islam Qari, orang yang hafal al-Qur’an itu mampu meningkatkan IQ dan EQnya melebihi mereka yang tidak hafal al- Qur’an, beliau mencontohkan antara lain yaitu Ibnu sina (Bapak kedokteran dunia), Al khowarizmi (Penemu Aritmatika), Al farabi (Filosof Islam), Ibnu Jazari (Perintis teknologi modern & robot), dan lain-lain, kesemua ini telah hafal al-Qur’an 30 juz di usia belia mereka.9 Untuk menghafal al-Qur’an, kecerdasan otak IQ bukanlah salah satu factor menghafal, karena IQ tinggi tidak dapat dijadikan jaminan keberhasilan dalam menghafal. Bahkan hasil tes IQ yang tinggi sekalipun tidak menjamin keberhasilan belajar dibidang-bidang pelajaran yang lain.10

Banyak metode yang ditawarkan dalam mempermudah dan mempercepat tercapainya tujuan tersebut dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, diantaranya yaitu 1. metode Iqro’ yang dicetuskan oleh Ustadz As’ad Humam di Jogjakarta pada tahun 1988 yang terdiri dari 6 jilid ditambah 1 jilid do’a-do’a, dengan 10 ciri has dalam pengajarannya yaitu 1.

Bacaan langsung, 2. CBSA, 3. Privat, 4. Modul, 5. Asistensi, 6. Praktis, 7.

Sistematis, 8. Variatif, 9. Komunikatif, 10. Fleksibel, dengan kelemahan antara lain bacaan tajwid tidak dikenalkan sejak awal, tidak ada media belajar dan tidak dianjurkan menggunakan irama murottal.11 2. Metode Ummi yang di susun oleh Masruri dan A. Yusuf Ms di Surabaya pada pertengahan tahun 2007, yang terdiri dari 6 jilid dengan 3 ciri hasnya yaitu 1. Direct Method

9Syekh Taqiyul Islam Qari, Al ajwibah Al hisan Liman Aroda Bihifdzil Qur’an, t.h

10 Masagus H. A. Fauzan Yayan, SQ, Quantum Tahfidz, ( Surabaya: Erlangga, 2015), 50.

11 As’ad Humam, Buku Iqro’ Cara Cepat Membaca Al-Qur’an. (Yogyakarta: Team Tadarus Amm, 1994)

(19)

(langsung tidak banyak penjelasan), 2. Repetition(diulang-ulang), 3. Kasih sayang yang tulus, dengan kelemahan antara lain pengenalan bacaan huruf yang mirip tidak diajarakan sejak awal, begitu juga tajwid dan tidak adanya peraga.12 3. Metode Fahim Qur’an yang disusun oleh Ustadz Sobari Sutartip di Jakarta Selatan di awal tahun 2000, terdiri satu jilid, dengan ciri hasnya yaitu mengembangkan 3 ranah afektif, kognitif dan psikomotorik yang dikemas dalam games maupun permainan yang sesuai dengan dunia peserta didik, dan juga menggali serta mengasah kecerdasan majemuk yang ada.13

Pemilihan metode yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik adalah hal yang sangat penting untuk di perhatikan untuk tercapainya tujuan yang diharapkan. Dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan pada tiap metode tahfidz Qur’an yang ada, maka Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember mencoba memilih, menerapkan dan mengembangkan metode Fahim Qur’an tersebut dalam pembelajaran tahfidz peserta didiknya, karena dianggap lebih cocok dan sesuai untuk peserta didik usia tingkat dasar dengan berbagai macam simulasi games dan permainan yang sangat menyenangkan serta tidak membuat bosan dan jenuh peserta didik dalam proses pembelajarannya, hingga mampu mengantarkan peserta didiknya tampil sebagai juara-juara tahfidz di even-even perlombaan antar madrasah/sekolah di tingkat kecamatan maupun even-even lainnya.

Pembelajaran tahfidz al-Qur’an ini telah dijadikan sebagai kurikulum wajib bagi semua peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum

12 Masruri dan A. Yusuf Ms, Belajar Mudah Membaca Al-Qur’an Ummi. (Surabaya: KPI, 2007)

13Sobari Sutartip, Menghafal Al-Qur’an Dengan Cepat Dan Ceria,( Jakarta Selatan: Iqra Kreativ, 2009).

(20)

Rambipuji, berbeda dengan lembaga lain yang hanya menjadikannya sebagai eskul dan BTA (Baca Tulis al-Qur’an). Dengan adanya program tersebut sangat diharapkan nantinya semua peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember mampu untuk menghafal al-Qur’an dengan baik dan lancer sesuai dengan target yang dicanangkan.

Berdasarkan dari latar belakang tersebut, penulis sangat tertarik untuk mengadakan sebuah penelitian (riset) yang penulis tuangkan dalam skripsi yang berjudul “Pembelajaran Tahfidzul Qur’an Menggunakan Metode Fahim Qur’an Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka fokus penelitian dalam penelitan kualitatif ini adalah:

1. Bagaimana perencanaan pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

3. Bagaimana evaluasi pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019?

(21)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah di rumuskan sebelumnya.14

Setiap kegiatan pasti mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai, demikian juga dengan penelitian kali ini. Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan perencanaan pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

2. Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

3. Mendeskripsikan evaluasi pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik dalam teoritis maupun praktis bagi semua pihak. Oleh karena itu manfaat yang di harapkan dari penelitian ini sebagai berikut.

14 IAIN Jember, Pedoman Karya Ilmiyah, (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 45.

(22)

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang Pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

b. Penelitian ini di harapkan dapat menjadikan tambahan referensi dan memperkaya hazanah keilmuan di lembaga perguruan tinggi khususnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember tentang adanya pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

1) Sebagai wawasan dari latihan menulis karya ilmiyah bagi penulis dan sebagai bekal awal untuk penelitian lain yang terkait di masa mendatang.

2) Memberikan pengetahuan sekitar pengetahuan Pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember Tahun Pelajaran 2018/2019.

(23)

b. Bagi lembaga pendidikan

1) Diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dalam pembelajaran Tahfidz Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember

2) Penelitian ini tentunya akan menjadi bahan evaluasi lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an.

c. Bagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

Dari hasil penelitian ini akan menambah kualitas mahasiswa dan calon guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), sehingga dapat dijadikan informasi dan referensi bagi seluruh aktifitas akademik untuk menggali lebih dalam membangun suatu pengetahuan lebih mendalam dan lengkap untuk melahirkan pendidik-pendidik yang lebih berkualitas dan berkarakter yang terkait.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi istilah-istilah penting yang akan menjadi titik perhatian penelitian di dalam judul penelitian ini. Dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahfahaman terhadap makna-makna istilah yang di gunakan serta di maksud oleh peneliti.15

15 IAIN Jember, Pedoman Karya Ilmiyah (Jember: IAIN Jember Press, 2007), 45.

(24)

1. Pembelajaran tahfidz al-Qur’an adalah suatu kombinasi yang meliputi unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur dalam proses menghafalkan al-Qur’an.

2. Metode Fahim Qur’an adalah suatu cara (manhaj) dalam pembelajaran menghafal al-Qur’an dengan cepat, aktif, senang dan integral, yang menggabungkan antara simulasi games dan permainan dengan kecerdasan majemuk dalam pembelajarannya yang terdiri dari satu jilid buku.

Jadi, yang dimaksud dengan pembelajaran Tahfidzul Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an adalah sebuah proses kegiatan belajar mengajar dalam menghafalkan al-Qur’an yang dilaksanakan dengan menggabungkan simulasi games, permainan dengan kecerdasan majemuk yang ada yang dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Kecamatan Rambipuji Jember pada tahun pelajaran 2018/2019.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan suatu karya ilmiah mulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.16Format penulisan sistimatika pembahasan adalah dalam bentuk deskriptif naratif, sebagai berikut:

Bab I, pendahuluan, yang terdiri atas latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistimatika pembahasan.

Bab II, kajian kepustakaan, yang meliputi ringkasan penelitian terdahulu

16 IAIN Jember, Pedoman Penulisan, 54

(25)

yang memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan pada saat ini dan kajian teori yang digunakan.

Bab III, metode penelitian, yang berisi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan terahir adalah tahap-tahap penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti.

Bab IV, penyajian data dan analisis data serta pembahasan temuan dari

lapangan. Bab ini berfungsi sebagai bahan kajian untuk memaparkan data yang diperoleh guna menemukan suatu kesimpulan.

Bab V, penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran, serta ditutup

daftar pustaka dan lampiran-lampiran sebagai pendukung di dalam pemenuhan kelengkapan data skripsi.

(26)

A. Penelitian Terdahulu

Kajian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru dalam penelitian selanjutnya. Di samping itu kajian terdahulu juga membantu peneliti dalam memposisikan peneliti dan menunjukkan orisinilitas dari peneliti.

Beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Khuzaimah dengan judul Hafalan al- Qur’an juz 30 (juz ‘Amma) sebagai kewajiban bagi peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Al Fattah Pencalogan Sukosari Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016,” 17

Penelitian ini dilakukan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Fokus penelitian ini membahas tentang (1) Bagaimana proses pelaksanaan hafalan al-Qur’an juz 30 yang diwajibkan atas peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah Bondowoso (2) Bagaimana problematika hafalan al-Qur’an juz 30 yang diwajibkan bagi peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah Bondowoso (3) Bagaiman evaluasi hafalan al-Qur’an juz 30 yang diwajibkan bagi peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah Bondowoso. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan

17 Siti Khuzaimah, “Hafalan al-Qur’an Juz 30 (Juz ‘Amma) Sebagai Kewajiban Bagi Peserta Didik di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah Pencalogan Sukosari Bondowoso Tahun Pelajaran 2015/2016”, (Skripsi Jurusan Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember, 2016).

(27)

menggunakan pendekatan metode pengumpulan data metode observasi, interview (wawancara) dan dokumentasi.18

Persamaan dan perbedaan antara peneliti terdahulu dengan penelitia ini adalah sama-sama meneliti tentang tahfidz al-Qur’an dan sama-sama di lembaga formal, perbedaannya adalah penelitian terdahulu terbatas juz 30 di Madrasah Ibtidaiyah al-Fattah Bondowoso, sedangkan peneliatian ini tidak terbatas juz 30, menggunakan metode Fahim Qur’an dan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Qomariah, dengan judulStrategi Mendidik Anak Menghafal al-Qur’an Sejak Usia Dini (Studi Kasus Terhadap Keluarga Abu Hilyah).” 19

Penelitian ini dilakukan di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fokus dalam penelitian ini yaitu membahas tentang (1) Bagaimana strategi keluarga Abu Hilyah dalam mendidik anak mereka menghafal al-Qur’an sejak usia dini, (2) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat keluarga Abu Hilyah dalam mendidik anak mereka menghafal al-Qur’an sejak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode field research (penelitian lapangan) yang bersifat deskriptif dengan data-data yang diperoleh dari pihak-pihak yang paling mengetahui tentang hal ini

18 Ibid.

19 Nurul Qomariah, Strategi Mendidik Anak Menghafal Al Qur’an Sejak Usia Dini, ( Tesis Jurusan Tarbiyah UIN Kalijaga Yogyakarta, 2016).

(28)

hususnya Bapak Abu Hilyah dan istri, wawancara, dokumentasi serta analisis data.20

Persamaan dan perbedaan antara peneliti terdahulu dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang tahfidz al-Qur’an, perbedaannya adalah peneliti terdahulu terbatas dalam lingkup keluaga Bapak Abu Hilyah, sedangkan dalam penelitian ini yaitu dalam lingkup lembaga pendidikan formal dan menggunakan metode Fahim Qur’an.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Hafidz dengan judul

“Pelaksanaan Program Tahfidz al-Qur’an Di Pondok Pesantren ar-Riyadh 13 Ulu Palembang.” 21

Penelitian ini dilakukan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Fokus penelitian ini membahas tentang (1) Bagaimana pelaksanaan program tahfidz al-Qur’an di Pondok pesantren ar-Riyadh Ulu Palembang (2) Apa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan program tahfidz al-Qur’an di Pondok Pesantren Ar-Riyadh Ulu Palembang.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan data yang berhasil dikumpulkan melalui data-data, wawancara, terjun ke lapangan, dokumentasi gambar-gambar.22

Persamaan dan perbedaan antara peneliti terdahulu dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang tahfidz al-Qur’an, sedangkan perbedaannya adalah peneliti terdahulu dilakukan dalam

20 Ibid.

21Muhammad Hafidz, “Pelaksanaan Program Tahfidz al Qur’an di Pondok Pesantren Ar- Riyadh13 Ulu Palembang.” (Skripsi Jurusan Tarbiyah UIN, 2017)

22Ibid

(29)

lingkup Pondok Pesantren ar-Riyadh, sedangkan penelitian ini dalam lingkup lembaga formal Madrasah Ibtidaiyah dan menggunakan Fahim Qur’an.

Tabel 2.1

Perbedaan Penelitian ini dengan Penelitian Terdahulu

No.

Nama peneliti, tahun dan judul

peneliti

Persamaan Perbedaan Orisinalitas penelitian

1 2 3 4 5

1

Siti Khuzaimah,

“Hafalan al-Qur’an juz 30 (juz

‘Amma) sebagai kewajiban bagi peserta didik di Madrasah

Ibtidaiyah al-Fattah Pencalogan

Sukosari

Bondowoso Tahun Pelajaran

2015/2016

Tahfidz al- Qur’an

Terbatas juz 30 dan di

Madrasah Ibtidaiyah al- Fattah Pencalogan Sukosari Bondowoso

Tidak terbatas Juz 30, di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember dan menggunakan Fahim Qur’an

2

Nurul Qomariah, Strategi Mendidik Anak Menghafal al- Qur’an Sejak Usia Dini (Studi Kasus Terhadap Keluarga Abu Hilyah) ,2016

Tahfidz al- Qur’an

Terbatas dalam lingkup

keluaga Bapak Abu Hilyah

Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember dan menggunakan Fahim Qur’an

3

Muhammad Hafidz, Pelaksanaan

Program Tahfidz al- Qur’an di Pondok Pesantren ar- Riyadh13 Ulu Palembang.

Penelitian ini di lakukan di

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, 2017

Tahfidz al- Qur’an

Terbatas lingkup Pondok

Pesantren ar- Riyadh

Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember dan menggunakan Fahim Qur’an

(30)

B. Kajian Teori

1. Perencanaan pembelajaran tahfidz al-Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an.

Perencanaan pembelajaran tahfidz al-Qur’an adalah serangkaian tahapan program yang disusun sebelum melaksanaan pembelajaran tahfidz al-Qur’an, baik secara person, system, metode yang akan digunakan, penentuan target hafalan, penentuan durasi belajar, penentuan jumlah maksimal peserta didik, ataupun pembuatan silabus. Perencanaan secara person bisa dengan melatih konsentrasi, istirahat yang cukup, konsumsi makanan minuman yang halal dan sehat, melatih focus, olahraga cukup, dan lain-lainnya. Secara system bisa klasikal / kelompok maupun individual. Secara metode yaitu dengan mimilih salah satu metode yang sesuai dengan keadaan peserta didik dan lingkungan. Penentuan jumlah peserta didik dimaksudkan supaya pembelajaran tahfidznya lebih efektif dan efesien.23

Metode yang banyak digunakan dalam pembelajaran tahfidz al- Qur’an secara global dapat dibagi dalam 2 pembagian yaitu: 1. Metode Klasik, meliputi antara lain: a. Metode Talqin yaitu seorang guru membacakan ayat perayat lalu diikuti oleh peserta didiknya berulang- ulang hingga menancap dalam hatinya. b. Talaqqi yaitu presentasi hafalan peserta didik di hadapn seorang guru. c. Muaradhoh yaitu antara peserta didik dan guru saling membaca secara bergantian. 2. Metode Modern,

23Bahirul Amali Herry, Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur’an, (Yogyakarta: ProYou, 2012), 67-70.

(31)

meliputi antara lain: a. Mendengarkan kaset murottal, tape recorder, Walkman, Mp3, dan sejenisnya. b. Merekam suara sendiri dan menyetel berulang-ulang. c. menggunakan program software al-Qur’an penghafal .24

Madrasah Ibtiudaiyah Miftahul Ulum Rambipuji setelah melihat dan mempertimbangkan, maka lebih memilih metode Fahim karena merupakan koraborasi dari beberapa metode yang sudah yang disertai games dan permainan dalam pembelajarannya supaya lebih fariatif dan menyenangkan serta tidak membosankan.

Target hafalan menggunakan metode Fahim Qur’an, dalam keadaan idial bisa mencapai 18-20 juz dalam 6 tahun. Tetapi bila lingkungannya kurang mendukung, maka bisa disesuaikan dengan situasi dan keadaan peserta didik serta lingkungan sekitarnya.25

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, maka target hafalan selama 6 tahun dapat ditentukan misalnya sebagai berikut:

Tabel 2.2

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 30-29 28-26 25-22 21-17 16-12 11 Sumber: Buku Fahim Qur’an

Kelas 6 targetnya lebih sedikit, karena ada persiapan ujian akhir.

Program tahfidz di kelas 6 lebih difokuskan pada murojaah atas materi yang telah dihafalkan. Bila ada komponen yang belum terpenuhi karena

24Ibid, 83-86.

25 Sobari Sutartip, Menghafal Al Qur’an Dengan Cepat Dan Ceria, (Jakarta Selatan: Iqra kreativ,

2009), 36.

(32)

pertimbangan lingkungan yang kurang kondusif atau potensi peserta didik yang kurang mendukung, maka target tersebut bisa di kurangi disesuaikan dengan kondisi dan potensi peserta didik yang ada, misal 10 juz dalam 6 tahun.

Tabel 2.3

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 30 29 28-27 26-25 24-23 22-21 Sumber: Buku Fahim Qur’an

Bila masih belum memungkinkan karena beberapa faktor dan pertimbangan yang tidak memungkinkan peserta didik mencapai 10 juz, maka disarankan minimal 6 juz dalam 6 tahun, dengan perincian 1 juz pertahun.

Tabel 2.4

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 30 29 28 27 26 25 Sumber: Buku Fahim Qur’an

Kalaupun itu belum juga memungkinkan, maka 1 juz selama 6 tahun, dan target ini adalah target minimal, karena target 1 juz ini juga merupakan batas minimal orang Islam mencintai kitab sucinya.26

Durasi pembelajaran tahfidz al-Qur’an yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan jumlah target hafalan yang ditargetkan, baik durasi

26 Ibid, 39.

(33)

waktu dalam setiap harinya ataupun setiap minggunya, sehingga dapat diketahui sebagai berikut:

1) Jumlah jam perminggu untuk target hafalan al-Qur’an 20 juz selama 6 tahun:

Tabel 2.5

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 2 3 4 5 5 1 Jam perminggu 12 14 15 15 15 15 Sumber: Buku Fahim Qur’an.

2) Jumlah jam perminggu untuk target hafalan al-Qur’an 18 juz selama 6 tahun:

Tabel 2.6

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 1 2 3 5 5 2

Jam perminggu 10 12 15 15 15 15 Sumber: Buku Fahim Qur’an

3) Jumlah jam perminggu untuk target hafalan al-Qur’an 10 juz selama 6 tahun:

(34)

Tabel 2.7

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 1 1 2 2 2 2

Jam perminggu 10 10 12 12 12 12

Sumber: Buku Fahim Qur’an

4) Jumlah jam perminggu untuk target hafalan al-Qur’an 6 juz selama 6 tahun:

Tabel 2.8

Target hafalan metode Fahim Qur’an

Kelas 1 2 3 4 5 6

Juz yang dihafal 1 1 1 1 1 1 Jam perminggu 10 10 10 10 10 10 Sumber: Buku Fahim Qur’an

2. Pelaksanaan pembelajaran tahfidz al-Qur’an menggunakan metode Fahim Qur’an.

Menurut Nana Sudjana, pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang telah diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan bisa mencapai hasil yang diharapkan.27

Menurut George R. Terry yang dikutip oleh Rusman menyatakan, pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok

27 Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung,: Sinar Algesindo, 2014), 136.

(35)

sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran.28

Sedangkan menurut Nurdin Usman, Pelaksanaan adalah bermuara pada aktifitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem.

Pelaksanaan bukan sekedar aktifitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.29

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran tahfidz al-Qur’an dengan metode Fahim Qur’an adalah suatu kegiatan untuk melakukan atau melaksanakan serangkaian kegiatan proses belajar yang telah direncanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang diharapkan.

Kegiatan menghafal al-Qur’an merupakan suatu proses untuk mengingat seluruh materi ayat-ayat (rincian bagian-bagiannya seperti waqof, washal, fonetik, bacaannya, dan lain-lainnya) harus dihafal dan diingat secara utuh dan sempurna. Sehingga pengingatan terhadap ayat dan bagian-bagiannya dimulai dari proses awal sampai ahir hingga mengingat kembali dengan tepat dan benar.30

Setiap orang menginginkan pembelajaran tahfidznya cepat, tepat dan efesien. Maka, metode Fahim Qur’an menawarkan cara menghafal dengan cepat dan praktis khususnya bagi peserta didik usia dini atau usia sekolah di tingkat dasar. Karena metode ini sangat sesuai dengan dunia

28 Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), 125

29 Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), 70.

30 Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal al-Qur’an Super Kilat, (Yogyakarta: Diva press.

2015), 15.

(36)

peserta didik di tingkat dasar, dimana di dalamnya mengadopsi aktifitas bermain mereka dengan model games dan permainan-permainan yang mereka kenal dalam keseharian mereka, seperti permainan main kartu, tebak kartu, menggambar, telepon-teleponan, ular tangga, lempar bola, main balon, dan lain sebagainya.31

Pelaksanaan metode tahfidz menggunakan metode Fahim Qur’an ini dimulai dengan pembukaan, pemberian materi hafalan baru dan murojaah dengan menggelar beberapa permainan yang bertujuan mengasah bukan hanya hafalan al-Qur’an mereka saja, tetapi juga mengasah kecerdasan alami lainnya yang ada pada peserta didik.

Berikut adalah contoh panduan dasar pelaksanaan tahfidz al- Qur’an dengan menggunakan metode Fahim Qur’an:

a. Pembukaan (Opening)

Pembukaan adalah usaha untuk memulai suatu kegiatan tertentu, dalam hal ini seorang guru membuka proses pembelajaran dengan mengucapkan salam, berdo’a bersama, brainstorming atau brain gym. Brainstorming di sini adalah pembicaraan yang memancing kemampuan peserta didik. Misalnya berupa pertanyaan tentang pendapat mereka tentang suatu hal, atau pertanyaan tentang liburan kemarin, dan lain sebagainya. Brain gym adalah senam otak ringan berupa gerakan-gerakan yang bertujuan untuk merangsang otak untuk

31 Sobari Sutartip, Menghafal Al Qur’an Dengan Cepat Dan Ceria, (Jakarta Selatan: Iqra kreativ, 2009), 36-59.

(37)

siap belajar, bisa disebut pemanasan otak. Pembukaan (opening) ini berdurasi maksimal 10 menit saja.

b. Mengulang (murojaah) materi yang telah dihafal

Mengulang (murojaah) materi adalah mengulang bacaan ayat atau surat yang telah kita hafal dengan baik.32 Sebelum peserta didik ditambah dengan materi hafalan baru, mereka diajak mengulangi (murojaah) materi hafalan yang telah mereka hafalkan sebelumnya. Ini berlangsung sekitar 15 menit.

Review/murojaah atau pengulangan adalah suatu keharusan dalam program menghafal al-Qur’an. Rasulullah SAW sangat menganjurkan para sahabatnya agar bisa menghatamkan al-Qur’annya minimal sekali setiap bulannya, begitu juga para salafus sholeh. Tiada hari tanpa membaca al-Qur’an. Seberapa banyaknya ayat atau juz yang mereka baca tergantung dari kesibukannya masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang mampu menghatamkan al-Qur’an dalam dua bulan sekali, sebulan sekali, sepuluh hari sekali, seminggu sekali, tiga hari sekali, bahkan ada yang mampu menghatamkan al-Qur’an dalam sehari semalamnya satu kali, ada yang sampai dua kali, tiga kali, empat kali, bahkan ada yang mampu hatam sampai delapan kali dalam sehari semalamnya (empat kali di siang hari dan empat kali di malam hari). Di antara mereka yang mampu menghatamkan al-Qur’an delapan kali hataman dalam sehari semalamnya antara lain as-Sayyid al-Jalil Ibnul

32 Bahirul Amali Herry, Agar Orang Sibuk Bisa Menghafal Al-Qur’an, (Yogyakarta, ProYou Media, 2012), 154.

(38)

Katib as-Shufi, as-Sayid Abdurrahman as-Seqaf, as-Sayid Ahmad Muhammad al-Muhdhor dan lain-lainnya. Dan jumlah ini adalah jumlah maksimal yang ada sampai hari ini.33

Murojaah hafalan ini bertujuan supaya peserta didik lebih mudah dan lancar dalam menghafalkan materi hafalan yang telah dilaluinya serta melatih peserta didik supaya terbiasa dan bisa meneruskannya dengan tanpa adanya beban. Rasulullah SAW dalam hal ini menganalogikan al-Qur’an ini bagaikan onta yang diikat, jika ikatan itu baik dan kuat, maka ia tidak akan mudah lepas, sebaliknya jika onta tersebut tidak diikat dengan baik dan benar maka ia akan mudah lepas dan pergi. Imam Bukhori dan Imam Muslim dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari ra telah meriwatkan bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda:

يرﺎﺨﺒﻟا ﺢﻴﺤﺻ -

ج) ١٥ ص / ٤٤٧ (

ُﻋ ِﰲ ِﻞِﺑِْﻹا ْﻦِﻣ ﺎًﻴﱢﺼَﻔَـﺗ ﱡﺪَﺷَأ َﻮَُﳍ ِﻩِﺪَﻴِﺑ ﻲِﺴْﻔَـﻧ يِﺬﱠﻟاَﻮَـﻓ َنآْﺮُﻘْﻟا اوُﺪَﻫﺎَﻌَـﺗ ﺎَﻬِﻠُﻘ

Artinya: “Buatlah perjanjian (senantiasa perbarui perjanjian dengan memperbanyak membaca) al-Qur’an, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggamannya, Sungguh al-Qur’an itu jauh lebih sulit di kendalikan daripada kuda yang di ikat”.34 Imam Bukhori dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda:

يرﺎﺨﺒﻟا ﺢﻴﺤﺻ -

ج) ١٥ ص / ٤٤٥ (

33 Muhyiddin Zakariya an-Nawawi, Al Adzkar Nawawi, Ihya al-Kutub Arobiyah, (Surabaya: t.h ), 85-86.

34 Ibnu Hajar, Fathul bari sarah Shohih Bukhori,(Bairut Libanon, t.h,), juz 15, 447.

(39)

ِﻞَﺜَﻤَﻛ ِنآْﺮُﻘْﻟا ِﺐِﺣﺎَﺻ ُﻞَﺜَﻣ ﺎَﱠﳕِإ ﺎَﻬَﻜَﺴْﻣَأ ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ َﺪَﻫﺎَﻋ ْنِإ ِﺔَﻠﱠﻘَﻌُﻤْﻟا ِﻞِﺑِْﻹا ِﺐِﺣﺎَﺻ

ﺖَﺒَﻫَذ ﺎَﻬَﻘَﻠْﻃَأ ْنِإَو

Artinya: ”Sesungguhnya perumpamaan penghafal al-Qur’an itu adalah seperti onta yang ditambatkan, jika ia mengikatnya, maka ia akan menguasainya, namun jika ia melepaskannya (membiarkannya) maka iapun akan pergi”.35

Kondisi saat ini dengan kecanggihan IT dan media, sangat membantu dalam proses menghafal, murojaah, maupun menambah hafalan. Mereka bisa mendengarkan lantunan al-Qur’an dimanapun atau kapanpun mereka mau. Sungguh Maha Benar Allah SWT dalam firman-Nya surat al-Qomar : 17.

















Artinya : Kami mudahkan al-Qur’an untuk di ingat namun adakah yang mau mengingatnya.36

c. Games dan Permainan

Games dan permainan adalah suatu usaha untuk mengkonsentrasikan peserta didik dengan yel-yel tertentu atau dengan permainan yang familier bagi mereka. Sisa waktu yang ada digunakan untuk menggelar permainan, ini terutama untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 sekolah ditingkat dasar. Pada tingkat selanjutnya (kelas 4-6), jenis permainan dan kegiatan disesuaikan dengan usianya, misalnya dengan cara cerdas cermat, menulis indah beberapa ayat dan menghiasnya, atau kreatifitas-kreatifitas lainnya.

35 Ibid, 445

36 Depag RI, Al-Qur’an dan Tarjamahnya Special for Women, (QS. Al-Qomar [55]:17)

(40)

Seorang guru bisa mengadopsi semua jenis-jenis permainan yang dijumpai atau sudah dikenal bersama untuk keperluan pembelajaran tahfidz al-Qur’an, bahkan seorang guru bisa berkreatif dengan menciptakannya sendiri. Dalam permainan games ini peserta didik akan mengulang-ulang materi hafalan mereka yang baru atau materi hafalan mereka yang telah lalu. Lebih dari sekedar penguat hafalan, permainan ini juga untuk melatih kecerdasan holistik yaitu berbagai kecerdasan peserta didik berkenaan dengan aspek fisik, emosional serta spiritualnya.37

d. Penutup

Penutup adalah suatu usaha untuk mengahiri suatu kegiatan pembelajaran. Setelah semua rangkaian belajar selesai dilakukan, guru mengumpulkan semua peserta didik dan melakukan dialog sederhana yang intinya mereview secara ringkas apa saja yang telah dicapai, dengan memberikan penekanan-penekanan penting lainnya, juga jangan lupa bertanya kesan peserta didik dan menampung dari mereka apabila ada usulan dari mereka, misalnya: anak-anak, tadi kita sudah belajar surat apa?..., menurut kalian bagaimana permainan tadi, seru tidak?...besok kita mau permainan apa ya ?... Ustadz berpesan, di rumah nanti jangan lupa mengulang lagi hafalannya ya?...dan lain sebagainya. Dan terahir ditutup dengan doa dan salam.38

37 Ibid, 49.

38 Ibid, 49.

(41)

e. Metode pembelajaran tahfidz metode Fahim Qur’an

Filosofi metode Fahim Qur’an ini yaitu sama seperti halnya memakan krupuk, makan sedikit demi sedikit dan penuh suka cita dan penuh ceria. Setiap harinya menambah materi hafalan al- Qur’annya sedikit demi sedikit sesuai dengan target yang telah di targetkan, kemudian mencari referensi makna dan kandungan arti ayatnya.

Sehingga bukan hanya sekedar hafal kalimat-kalimatnya tetapi juga mampu memahami dan mengerti kandungan arti ayat-ayatnya.39

Metode tahfidz Fahim Qur’an ini digagas pertama kalinya oleh al-Ustadz al-Hafidz Sobari Sutartip di awal tahun 2000, dan beliau sendiri sudah membuktikan keberhasilan teori Fahim Qur’an ini secara maksimal di Azhari Islamic School Lebak Bulus dengan target 18 juz.

Fahim Qur’an ini merupakan terobosan terbaru dalam menghafal al- Qur’an dengan cepat dan ceria yang menggabungkan dengan permainan dan games yang juga sangat bermanfaat untuk mengasah semua kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh para peserta didik.

Sehingga bisa dan mampu merasakan menghafalkan al-Qur’an yang maha dahsyat dengan penuh suka cita dan ceria. Metode ini di kembangkan berdasarkan multiple intelligance (kecerdasan majmuk) pada diri manusia. Antara lain kecerdasan visual (cerdas rupa), kecerdasan auditori (cerdas pendengaran), kecerdasan verbal-linguistis (cerdas bahasa), kecerdasan kinestetik (cerdas memahami tubuh),

39 Ibid, 50

(42)

kecerdasan interpersonal (cerdas sosial), dan kecerdasan logis- mathematik.40

Metode Fahim Qur’an ini memiliki beberapa keunggulan dari metode-metode yang ada di antaranya:

1) Fahim Qur’an ini sesuai dengan fitrah peserta didik

Fahim Qur’an selaras dengan fitrah peserta didik tingkat dasar karena menghafal melalui metode Fahim Qur’an, mereka tetap mendapatkan dunianya. Karena selaras dengan dunia mereka, maka menghafal al-Quran bukan menjadi beban bagi mereka, namun menjadi bagian dari dunia mereka. Dengan begitu secara otomatis mereka akan mencintai pelajaran menghafal al-Qur’an.

2) Fahim Qur’an menyentuh 3 ranah pembelajaran

Fahim Qur’an menyentuh tiga ranah pembelajaran peserta didik yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif menitik beratkan pada aspek pikir dan daya nalar, ranah afektif menekankan pada rasa dan sikap belajar peserta didik dan ranah psikomotorik menekankan pada aspek gerak tubuh. Dengan menyentuh 3 ranah pembelajaran ini, diharapkan daya nalar, sikap dan perkembangan motorik kasar serta motorik halus peserta didik bisa terasah dan teroptimalkan dengan baik.

40Masagus, Quantum Tahfidz , (Surabaya: Emir Erlangga, 2015 ),53.

(43)

3) Fahim Qur’an mengembangkan 3 gaya belajar peserta didik.

Fahim Qur’an juga menggali sekaligus mengembangkan 3 gaya belajar peserta didik, yaitu: auditori, visual dan kinestetik.

Peserta didik dengan gaya auditori akan mudah memahami sesuatu melalui pendengaran, peserta didik yang cenderung dengan gaya belajar visual lebih mudah memahami sesuatu dengan jika divisualisasikan, sedang peserta didik dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah memahami sesuatu dengan melibatkan aktifitas gerakan tubuh.

4) Fahim Qur’an menggali dan mengasah kecerdasan majemuk

Fahim Qur’an juga menggali dan mengasah potensi kecerdasan majemuk anak (multiple intelligences) yaitu:

a) Word Smart (linguistic Intelligence) yaitu kemampuan menggunakan bahasa secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.

b) Logic Smart (Logical-Mathematical Intelligence) yaitu kemampuan mengolah angka dan menggunakan logika

c) Picture Smart (Spatial Intelligence) yaitu kemampuan memvisualisasikan keadaan didalam kepala secara cermat.

d) Body Smart (Bodily-Kinesthetic Intelligence) yaitu kemampuan menggunakan seluruh tubuh dan bagian-bagiannya untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan

(44)

e) Music Smart ( Musical Intelligance) yaitu kemampuan mengingat nada dan suara secara tepat dalam berbagai bentuk.

f) People Smart (Interpersonsal Intelligence) yaitu kemampuan memehami orang lain sehingga mudah mengembangkan hubungan antar pribadi dengan baik.

g) Self Smart ( Intrapersonsl Intelligence) yaitu kemampuan menerima dan memahami diri sendiri karenanya bisa mengekspresikan diri secara efektif.

h) Nature Smart ( Natural Intelligence) yaitu kemampuan mengenali bentuk dan gejala alam sekitar dan karenanya memiliki kepekaan dalam membaca perubahan alam.

i) Spiritual Smart ( Existential Intelligence) yaitu kemampuan memahami makna hidup dan kemampuan mengenal diri dan mengenal Allah swt dengan baik, sehingga mempunyai hubungan yang kuat dan dekat dengan Allah swt.41

Target adalah penjabaran dan tujuan secara teratur yang akan dicapai hasilnya secara nyata dalam jangka waktu tahunan dan semesteran.42 Target yang diharapkan sebagaimana diharapkan madrasah dan guru tahfidz yaitu agar semua peserta didik bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan mampu menghafalkannya sesuai dengan target yang telah di tentukan oleh fihak lembaga terkait.

41 Sobari Sutartip, Menghafal Al Qur’an dengan Cepat & Ceria, (Jakarta Selatan: Iqra Kreativ, 2009), 36-38.

42 Departemen Pendidikan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Balai Pustaka, 1991 ), 1011.

(45)

5) Problematika pembelajaran tahfidz al-Qur’an

Problematika dalam menghafal al-Qur’an yaitu suatu permasalahan yang dihadapi oleh para penghafal al-Qur’an dalam proses menghafalkan al-Qur’an tersebut. Beberapa problematika yang sering dihadapi penghafal al-Qur’an yang mana dimulai dari masalah individu maupun masalah yang muncul dari lingkungan sekitar. Problematika ini antara lain sebagai mana berikut:

a) Ayat-ayat yang sudah dihafalkan lupa lagi

Masalah yang sering terjadi dan menimpa pada manusia mengenai ingatan adalah penyakit lupa. Pada dasarnya penyakit lupa hanya karena seseorang tidak berhasil menemukan kembali informasi yang sedang dibutuhkan di dalam gudang penyimpanan memori.43

Lupa merupakan pengalaman manusia yang universal dan sekaligus menjadi tanda keterbatasan daya ingat manusia.

Lupa dapat diartikan sebagai bentuk ketidak mampuan memproduksi kesan-kesan.44

Lupa sebagai sesuatu yang tidak pernah terlewatkan, hingga lupa sering terjadi pada seseorang, bahkan inipun juga terjadi pada orang yang ingin memulai menghafal al-Qur’annya dengan membaca ayat-ayat yang akan dihafalkannya terlebih dahulu. Adapun lupa dalam persepektif al-Qur’an adalah sifat

43 Wahid, Panduan Menghafal, 15.

44Departemen Agama RI, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: t.p, 2004), 38.

(46)

lupa yang sebabkan oleh syaithon yang harus ingat bahwa lupa itu mempunyai sebab-sebab tertentu.45

b) Gangguan lingkungan

Gangguan lingkungan adalah gangguan yang terjadi di lingkungan sekitar seperti lingkungan yang ramai. Adapun keberhasilan seseorang dalam menghafal al-Qur’an perlu diperhatikan lingkungan sekitar terutama masalah tempat.46 Tempat atau lingkungan untuk menghafal usahakan tempat atau lingkungan yang benar-benar kondusif. Tempat yang paling baik untuk menghafal adalah masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya seperti mushola, surau atau memilih tempat-tempat yang sunyi seperti taman-tamanan, di bawah pohon yang rindang dan tempat-tempat yang teduh.

c) Anak masih ingin bermain

Bermain adalah dunia anak-anak, karena sangat menyenangkan hati mereka dan mereka tidak akan merasa lelah dalam bermain tersebut. Tetapi dalam proses belajar guru atau orang tua harus selalu mengingatkan mereka kalau waktu bermain mereka itu ada batas waktunya. Saat mereka sedang bermain, terkadang hal tersebut menjadi penghalang dan kendala dalam proses menghafal al-Qur’an, karena mereka kurang fokus yang menyebabkan mereka sulit untuk menghafal

45 Zen, Tata Cara, 42

46 Ibid, 234

(47)

dan muroja’ah materi-materi hafalan mereka. Dalam hal ini Abu Hilyah memberikan nasehat kepada mereka untuk bisa fokus dan bisa bermain lagi setelah mereka selesai menghafal dan mengulang hafalan-hafalan mereka.47

d) Anak sakit

Saat anak sakit juga menjadi kendala dalam menghafal al-Qur’an. Dalam keadaan ini maka proses menghafal al-Qur’an akan terhenti beberapa saat hingga mereka sehat kembali.

Dengan demikian hafalan mereka tidak akan bertambah. Oleh karena nya Abu Hilyah dan istrinya selalu berusah untuk menjaga kesehatan anak-anaknya agar proses menghafalnya tidak terkendal.48

e) Ketidak sabaran orang tua

Kesabaran merupakan faktor penting dalam mendidik anak dalam pembelajaran tahfidz al-Qur’an. Saat anak dalam menghafal, tidak jarang ia lupa atau salah dalam melafalkannya.

Bahkan terkadang apabila telah di ulang berkali-kali ia masih salah melafalkannya. Hal itulah yang membuat ketidaksabaran orang tua meski tidak sampai marah terhadap anaknya. Terlebih bila sudah lelah atau kurang enak badan, tersendat hafalan anak tentunya sangat mengganggu emosi orang tua. Ketidak sabaran tersebut sangat dihawatirkan akan membuat psikologi anak

47 Nurul Qomariah & Moh.Irsyad, Metode Cepat & Mudah Agar Anak Hafal al-Qur’an, ( Yogyakarta, Semesta Hikmah: 2016 ), 139 .

48 Ibid, 140.

(48)

tertekan. Walaupun orang tua tidak sampai memarahi anaknya.

Namun faktor ketidaksabaran menjadi salah satu penghambat bagi mereka dalam proses menghafal al-Qur’an sejak usia dini.49

3. Evaluasi Pembelajaran

Menurut Suharsimi Arikunto evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu dan informasi tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.50

Evaluasi pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam setiap proses pencapaian sesuatu. Karena dengan evaluasi inilah kita mengukur perkembangan suatu capaian. Dengan evaluasi bisa mendapatkan bahan pertimbangan mengenai banyak hal, misalnya apakah cara yang ditempuh sudah benar? Ada yang perlu dirubah? Ada apakah ada bagian yang perlu dihilangkan? Dan lain sebagainya. Fahim Qur’an memiliki berbagai waktu evaluasi, baik harian, mingguan, bulanan, triwulan, satu semester, dan tahunan.51

Jadi evaluasi merupakan suatu proses mengumpulkan data informasi yang berkesinambungan dalam kegiatan belajar mengajar.

49 Irsyad, Metode Cepat,141.

50 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997 ), 213.

51 Sobari Sutartip, Menghafal Al Qur’an Dengan Cepat Dan Ceria, (Jakarta Selatan: Iqra Kreativ, 2009), 88.

(49)

a. Evaluasi harian

Evaluasi harian ini dilakukan untuk mengontrol perkembangan hafalan peserta didik, bisa berupa buku penghubung dengan orang tua.

Orang tua bisa ikut andil dalam pengontrolan hafalan anaknya. Guru bisa menyampaikan tugas melancarkan hafalan melalui buku penghubung tersebut.

Contoh format buku penghubung:

Nama peserta didik : Ahmad

Sekolah : MI Miftahul Ulum

Kelas : 1 (satu)

Materi : Surat an-Nas

Tabel 2.9

Contoh format buku penghubung

Hari/Tanggal Ayat Hafalan & Bacaan Keterangan Paraf guru

Paraf orang tua Lancar Belum

lancar

Tidak lancar 1

2 3 4 5

Sumber: Buku Fahim Qur’an52

Peserta didik bila belum mampu mencapai target, guru bisa menuliskan pesan kepada orang tua peserta didik yang bersangkutan dalam kolom keterangan, misalnya: “Mohon ananda Ahmad dibantu mengulang hafalannya di rumah”, atau “mohon dilancarkan lagi

52 Ibid, 89

(50)

hafalannya di rumah”. Kalau ada peserta didik yang hafal dengan baik dan lancar, maka guru jangan segan-segan memberi apresiasi tertulis baik bergambar bintang atau yang lainnya.53

b. Evaluasi mingguan

Evaluasi mingguan ini merupakan reviuw materi dalam seminggu, tidak ada materi hafalan baru. Dengan adanya pengulangan mingguan ini, hafaln peserta didik bisa terkontrol dengan baik. Untuk mengubah suasana dan meningkatkan kompetisi antar kelompok, semua peserta didik yang setingkat digabung menjadi satu. Murojaah bersama akan membangun motivasi bersama. Peserta yang awalnya kurang lancar akan termotivasi dengan sendirinya ketika melihat kelancaran dan baiknya bacaan temannya yang lain.54

c. Evaluasi bulanan

Evaluasi bulanan ini dilakukan untuk melatih peserta didik supaya mentalnya lebih kuat. Evaluasi ini dikemas dalam bentuk perlombaan antar kelas, serta ada tim jurinya. Even seperti ini selain sebagai muroja’ah sekaligus sebagai motivasi kepada peserta didik lainnya.55

d. Evaluasi triwulan

Evaluasi triwulan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan jadwal UTS, semua hafalan peserta didik akan di evaluasi sesuai dengan jadwal yang ujiannya.

53 Ibid, 89

54 Ibid, 89.

55 Ibid, 89

(51)

Tabel 2.10

Contoh format buku penghubung No Hari Tanggal Materi evaluasi 1 Senin …. Surat an-Naba’

2 Selasa …. Surat ‘Abasa 3 Rabu …. Surat al a’la

4 Kamis …. Surat al-Qomar

5 Jum’at …. Surat al-Haqoh 6 sabtu …. Surat al-Qolam Sumber: Buku Fahim Qur’an56

e. Evaluasi satu semester

Evaluasi satu semester ini dilaksanakan selain untuk murojaah juga untuk kepentingan

1) Mengontrol hafalan peserta didik 2) Mengontrol target hafalannya

3) Mengumpulkan informasi terkait perubahan cara belajar yang lebih tepat

4) Diskusi terkait proses belajar dengan peserta didik, sesama guru, dan orang tua peserta didik

f. Evaluasi tahunan

Evaluasi tahunan ini sangat penting dilakukan untuk mengevaluasi selama setahun apakah program tahfidz sudah berjalan dengan lancar atau belum. Guru juga bisa merancang strategi baru untuk melengkapi kekurangan yang ada selama proses perjalanan program tahfidz selama setahun.57

56 Ibid, 90

57 Ibid, 90

(52)

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenometa yang tidak bisa dikuantitatifkanyang bersifat deskriptip.58 Obyek yang dikaji adalah obyek yang alamiah, di mana obyek tersebut berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi dinamika obyek tersebut.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Penelitian deskriptip merupakan metode penelitian yang berusaha mengungkapkan fakta suatu kejadian, obyek, aktifitas, preoses dan manusia secara “apa adanya” pada waktu sekarang atau jangka waktu yang masih memungkinkan dalam ingatan responden.59 Ide pentingnya adalah bahwa peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang sesuatu fenomena dalam suatu keadaan yang alamiah.60 Jenis penelitian ini dipilih karena cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis.

58 D’jaman Satori dan Ana Qomariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

Alfabeta,2014), 23.

59 Andi Prastowo, Memahami Metode-Metode Penelitian,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2011), 203

60 Lexy J. Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2009), 3

(53)

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan suatu tempat yang menunjukkan di mana penelitian tersebut hendak dilakukan.61 Penelitian ini dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Rambipuji Jember. Lokasi tersebut dipilih karena beberapa pertimbangan sebagai berikut:

1. Lembaga tersebut merupakan suatu lembaga yang menerapkan metode Fahim Qur’an dalam pembelajaran tahfidz al-Qur’an

2. Lembaga ter

Gambar

Gambar 4.2 Permainan Game Pembelajaran Tahfidz .................................   71  Gambar 4.3 Permainan Game Tahfidz .......................................................
Tabel 4.2  Daftar Nama Guru
Gambar 4.2 Permainan Game Pembelajaran Tahfidz
Gambar 4.3 Permainan Game Tahfidz

Referensi

Dokumen terkait

Seberapa besar pengaruh pembelajaran Tahfidzul Qur‟an dan minat menghafal al- Qur‟an terhadap hasil belajar al - Qur‟an Hadits di Pondok Pesantren Daarul

Berdasarkan dokumentasi Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul Ulum Sakatiga, bahwa terdapat pada tahun pelajaran 2014-2015 jumlah siswa/siswi di Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul

Rumusan masalah dala skripsi ini adalah (1) bagaimana strategi sorogan dalam pembela jaran tahfidzul qur‟an di SDIT Baitul Qur‟an Mangunsari Kedungwaru Tulungagung?(2)

Kegiatan Pemanfatan Media dalam Pembelajaran Konsep Perkalian dan Pembagian di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Serut 01 Hasil penelitian pada tahap pemanfaatan media menunjukkan

Skripsi yang berjudul “Model Pembelajaran Tahfidzul Qur’an pada Siswa Gangguan Kemampuan Komunikasi dan Lambat Belajar Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Ar-Roihan Lawang Malang”

Kedua, faktor penunjang pembelajaran Tahfidzul Qur‟an yaitu adanya metode menghafal Al- Qur‟an yang mudah, bimbingan khusus santri kecil dalam menghafal Al- Qur‟an,

Dari hasil wawancara dan observasi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menerapkan karakter kepada siswa guru Madrasah Ibtidaiyah Al-Qur‟an telah mengarahkan siswa dengan

Seperti hasil dari wawancara kepada Ustadz/Ustadzah sebagai pembinaan Tahfidz Al-Qur‟an di sekolah tahfidzul Qur’an generasi Rabbani medan ini mengatakan bahwa, “[y]ang menjadi faktor