• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembibitan Tanaman Hutan Secara Vegetatif

N/A
N/A
Agroforestry Agribisnis

Academic year: 2024

Membagikan "Pembibitan Tanaman Hutan Secara Vegetatif"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan”

S

ICS 65.020.20

Badan Standardisasi Nasional

SNI 8750:2019

Standar Nasional Indonesia

Pembibitan tanaman hutan secara vegetatif

(2)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan”

© BSN 2019

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN

BSN

Email: [email protected] www.bsn.go.id

Diterbitkan di Jakarta

(3)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

i

Daftar isi

Daftar isi ... i

 

Prakata ... ii

 

Pendahuluan ... iii

 

1 Ruang lingkup ... 1

 

2 Acuan normatif ... 1

 

3 Istilah dan definisi ... 1

 

4 Penyiapan wadah dan media ... 2

 

5 Penanaman stek ... 2

 

6 Pembentukan akar stek ... 3

 

7 Penyapihan stek ... 3

 

8 Pemeliharaan bibit stek ... 3

 

9 Pengelolaan hama dan penyakit ... 4

 

10 Penguatan bibit (hardening off) ... 4

 

11 Seleksi bibit stek ... 4

 

Bibliografi ... 5

 

(4)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

ii

Prakata

Standar Nasional Indonesia SNI 8750:2019 dengan judul Pembibitan tanaman hutan secara vegetatif merupakan revisi dan penggabungan dari SNI 01-7200-2006 Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn.f.) dengan perbanyakan stek pucuk, SNI 01-7203-2006 Penanganan bibit meranti (Shorea spp.) dari stek pucuk (vegetatif) dan SNI 01-7204-2006 Penanganan bibit akasia (Acacia mangium) dengan perbanyakan stek pucuk. Revisi dilakukan karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pembibitan tanaman hutan penyesuaian istilah dan definisi, penyederhanaan standar untuk mempermudah penerapan standar di lapangan. Bagian yang mengalami perubahan pada Standar ini adalah:

1. Judul standar 2. Ruang lingkup 3. Acuan normatif 4. Persyaratan 5. Penyiapan stek

6. Penanaman (pembentukan akar stek) 7. Pemeliharaan di bak stek

8. Penyapihan 9. Pemeliharaan

10. Aklimatisasi dan pengerasan bibit 11. Seleksi akhir

12. Pengepakan dan pengiriman.

Standar ini disusun oleh Komite Teknis 65-01 Pengelolaan Hutan. Standar ini telah dibahas dan disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 28 Agustus 2018 di Bogor yang dihadiri oleh wakil dari pemangku kepentingan (stakeholders) terkait, yaitu perwakilan dari pemerintah, pelaku usaha, konsumen dan pakar.

Standar ini telah melalui tahap jajak pendapat pada tanggal 19 Februari 2019 sampai dengan tanggal 18 April 2019 dengan hasil akhir menjadi RASNI.

Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari dokumen Standar ini dapat berupa hak paten. Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab untuk pengidentifikasian salah satu atau seluruh hak paten yang ada.

(5)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

iii

Pendahuluan

Maksud dan tujuan penyusunan SNI ini adalah sebagai acuan/pedoman dalam pembibitan tanaman hutan secara vegetatif bagi para pihak.

Standar ini disusun dengan memperhatikan hal-hal yang terdapat dalam:

1. Undang – Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman;

2. Undang – Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.01/Menhut-II/2009 jo P.72/Mehut-II/2009 tentang Penyelenggaraan Perbenihan Tanaman Hutan.

(6)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

1 dari 5

Pembibitan tanaman hutan secara vegetatif

1 Ruang lingkup

Standar ini menetapkan prinsip umum pembibitan tanaman hutan dengan perbanyakan vegetatif (stek pucuk, stek batang, stek akar). Standar ini meliputi penyiapan wadah dan media, penanaman stek, pembentukan akar stek, penyapihan stek, pemeliharaan bibit stek, pengelolaan hama dan penyakit, penguatan bibit dan seleksi bibit stek. Standar ini digunakan pada kegiatan

rehabilitasi hutan dan lahan serta pembangunan hutan tanaman.

2 Acuan normatif

Dokumen acuan berikut diperlukan untuk penerapan standar ini. Untuk acuan tidak bertanggal, digunakan edisi terakhir dokumen acuan (termasuk setiap amandemen).

SNI 8420, Bibit tanaman hutan.

SNI 5006.2, Media bibit tanaman hutan.

SNI 01- 5006.7, Tanaman kehutanan – Bagian 7: Istilah dan definisi yang berhubungan dengan perbenihan dan pembibitan tanaman kehutanan.

3 Istilah dan definisi

Untuk tujuan penggunaan dokumen ini berlaku istilah dan definisi yang terdapat pada SNI 01-5006.7 dan SNI 5006.2, serta istilah dan definisi berikut ini.

3.1

aklimatisasi

proses penyesuaian fisiologi sebagai adaptasi tanaman terhadap ruang dan kondisi tumbuh baru yang akan dimasuki

3.2

bibit siap tanam

bibit yang telah memenuhi standar untuk penanaman sesuai SNI 8420 3.3

eksudat

produk metabolisme tanaman seperti getah dan resin 3.4

higienis

kondisi yang bersih dan bebas hama penyakit 3.5

pembiakan vegetatif

perbanyakan tanaman yang berasal dari bagian vegetatif (pucuk, batang, akar) tanaman induk

(7)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” RSNI3 8750:2019

2 dari 5 3.6

pohon induk

individu pohon sebagai sumber penghasil bahan tanaman baru untuk perbanyakan baik generatif maupun vegetatif

3.7

tunas juvenile

tunas muda yang umumnya berasal dari tunas aksiler dengan fase pertumbuhan vegetatif dan belum memasuki fase kematangan reproduksi (pembungaan)

3.8

tunas pucuk

tunas yang tumbuh dari batang atau cabang baik tunas aksiler (tunas samping) maupun tunas apikal (tunas dari ujung)

4 Penyiapan wadah dan media

a) Wadah dapat berupa kantong plastik (polybag), polytube atau bak media perakaran;

b) Ukuran wadah disesuaikan dengan jenis tanaman yang di stek. Bak media perakaran dapat terbuat dari papan/beton/plastik. Wadah diberi lubang di bagian samping dan bawah;

c) Polybag dan polytube/potray berukuran sama atau seragam. Polytube yang digunakan ulang harus dicuci sampai bersih dan direndam dalam desinfektan;

d) Media yang digunakan bersifat porous, higienis untuk mengurangi hama dan penyakit, mampu menyimpan air dengan baik dan mampu menahan stek tetap berdiri. Higienisasi media dapat dilakukan dengan cara disangrai, dikukus atau dijemur di bawah sinar matahari;

e) Bahan media dapat menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh. Media perakaran dapat berupa perbandingan volume media campuran, seperti pasir + arang sekam padi (2 : 1), tanah + pasir + kompos (2 : 2 : 1), tanah + pasir (1 : 1), tanah + pasir + kompos (1 : 2 : 3), pasir + kompos (1 : 1);

f) Media perakaran disesuaikan dengan jenis tanaman, contoh : ramin dengan mengunakan gambut;

g) Untuk menekan laju pembusukan batang stek, media perakaran untuk jenis-jenis yang periode pembentukan akarnya panjang seperti ulin dan meranti, tidak menggunakan kompos, tapi menggunakan bahan organik yang belum terdegradasi seperti serbuk kulit kelapa (cocopeat) dan sekam padi.

5 Penanaman stek

a) Bahan stek berasal dari organ vegetatif tanaman berupa tunas pucuk, batang, dan akar;

b) Bahan stek diambil dari organ vegetatif tanaman yang sehat.

5.1 Stek pucuk

a) Stek pucuk diperoleh dari tunas juvenile;

b) Potongan stek pucuk ditanam pada wadah dan ditempatkan di bedeng perakaran yang suhu, kelembapan dan cahayanya diatur sesuai dengan jenis tanaman;

CONTOH Jenis pohon yang diperbanyak dengan stek pucuk: jati, kayu putih, pinus, sengon, jabon, ekaliptus, mahoni, kesambi, akasia, meranti, dan merawan.

(8)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

3 dari 5 5.2 Stek batang

a) Stek batang diperoleh dari batang/cabang yang sehat yang memiliki mata tunas minimal 2 (dua);

b) Potongan stek batang/cabang ditanam pada wadah dan ditempatkan di bedeng perakaran yang suhu, kelembapan dan cahayanya diatur sesuai dengan jenis tanaman.

CONTOH Jenis pohon yang diperbanyak dengan stek batang: sungkai, angsana, dan gamal.

5.3 Stek akar

a) Stek akar diperoleh dari akar yang sehat;

b) Potongan stek akar ditanam pada wadah dan ditempatkan di bedeng perakaran yang suhu, kelembapan dan cahayanya diatur sesuai dengan jenis tanaman.

CONTOH Jenis pohon yang diperbanyak dengan stek akar : sukun, sonokeling, dan kayu putih.

5.4 Perlakuan khusus

Untuk mempercepat tumbuhnya akar pada stek dapat dilakukan tindakan antara lain:

a) pemberian hormon tumbuh;

b) memotong pangkal stek dengan sudut 45o untuk memperluas areal pembentukan akar, c) perendaman stek pada larutan karbon aktif untuk menyerap eksudat yang keluar dari

luka sayatan.

6 Pembentukan akar stek

a) Stek pucuk lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan stek batang dan stek akar;

b) Pembentukan akar stek memerlukan pengaturan suhu, cahaya dan kelembapan sesuai dengan jenisnya;

c) Stek pucuk, stek batang dan stek akar perlu penyiraman secara berkala dengan intensitas sesuai dengan jenisnya.

7 Penyapihan stek

a) Stek yang telah berakar dipindahkan ke area aklimatisasi sampai bibit siap tanam;

b) Area aklimatisasi stek dapat berupa bedeng sapih (di lantai atau di rak) yang dilengkapi dengan shading net dan sistem penyiraman.

8 Pemeliharaan bibit stek 8.1 Penyiraman

a) Penyiraman dapat dilakukan secara manual atau mekanis;

b) Penyiraman manual dilakukan dengan menggunakan embrat/gembor atau selang yang dilengkapi sprayer, sedangkan penyiraman mekanis dilakukan dengan menggunakan sprinkle;

c) Penyiraman dilakukan 2 (dua) kali sehari (pagi dan sore hari) sampai media jenuh.

(9)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” RSNI3 8750:2019

4 dari 5 8.2 Penyiangan

a) Penyiangan dilakukan secara rutin dan hati-hati dengan cara mencabut gulma tanpa merusak bibit;

b) Areal di sekitar produksi bibit harus bebas dari gulma.

8.3 Pemupukan

Pemupukan dilakukan secara berkala sesuai jenis bibitnya. Dosis, konsentrasi pupuk, dan frekuensi pemupukan ditentukan berdasarkan jenis dan umur bibit.

9 Pengelolaan hama dan penyakit

Pengelolaan hama dan penyakit perlu dilakukan secara berkala terhadap bibit stek pucuk, stek batang dan stek akar.

10 Penguatan bibit (hardening off)

Penguatan bibit dilakukan 2 minggu sampai 1 bulan sebelum bibit diangkut ke lokasi penanaman dengan cara antara lain mengurangi naungan dan memotong akar yang keluar dari wadah bibit. Hal ini dilakukan agar bibit mempunyai daya adaptasi yang tinggi pada saat ditanam.

11 Seleksi bibit stek

Seleksi dilakukan untuk memisahkan bibit yang siap tanam dan yang belum siap tanam. Bibit yang belum siap tanam dapat dipelihara sampai siap tanam. Bibit siap tanam sesuai dengan SNI 8420 dan siap disertifikasi

(10)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan” SNI 8750:2019

5 dari 5

Bibliografi

[1] SNI 5006.2: 2018, Media bibit tanaman hutan

[2] SNI 5006-3:2016, Persemaian permanen tanaman hutan

(11)

“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 65-01: Pengelolaan Hutan, dan tidak untuk dikomersialkan”

Informasi pendukung terkait perumus standar

[1] Komite Teknis Perumusan SNI

Komite Teknis 65-01 Pengelolaan Hutan

[2] Susunan keanggotaan Komite Teknis Perumusan SNI Ketua : Ir. Noer Adi Wardojo M.Sc.

Wakil Ketua : Yeri Permata Sari, S.Hut., M.T, M.Sc.

Sekretaris : Dra. Nadjmatun Baroroh, M.Hum Anggota : 1. Suci Respati, S.Hut., M.Si.

2. Shelly Novi Handarini Pratamaningtyas, S.Sos. M.Si.

3. Ir. Wesman Endom, M.Sc.

4. Dr. Yayuk Siswiyanti, M.Si.

5. Dr. Dede J. Sudrajat, MT 6. Dr. Ir. Teddy Rusolono, MS 7. Ir. Fatrah Dikusumah

8. Ir. Muhammad Ikhsan, M.Si.

9. Herta Pari

10. Novia Widyaningtyas, S.Hut, M.Sc 11. Dr. Alan Purbawiyatna

12. Ir. Akhmad [3] Konseptor Rancangan SNI

1. Yeri Permata Sari, S.Hut, MT, M.Sc 2. Dra. Nadjmatun Baroroh, M.Hum

3. Shelly Novi Handarini Pratamaningtyas., S.Sos, M.Si 4. Dr. Ernawati

5. Endang Suryaman, B.ScF.SP 6. Dr. Dede J. Sudrajat, MT

7. Dr. Drs. Agus Astho Pramono, M.Si 8. Aris Wibowo, S.Hut., MP

[4] Sekretariat pengelola Komite Teknis Perumusan SNI Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan

Sekretariat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Optimasi Pemupukan Nitrogen dan Kalium terhadap Tanaman Kelapa Sawit di Pembibitan Utama dan Tanaman Belum Menghasilkan

11 Menanam tanaman perkebunan Menerapkan seleksi bibit Menerapkan teknis penanaman 12 Mengendalikan gulma pada. Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman

Dari pendekatan dengan petani, mereka bercerita bahwa tanaman buah mereka yang berasal dari biji menghasilkan buahnya lama sekali dan belum tentu pula buah yang dihasilkan

Hasil penelitian pada RPI Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan telah menghasilkan beberapa IPTEK: o IPTEK pengadaan benih unggul untuk meningkatkan. produktivitas hutan

Dalam rangka melindungi peternak dalam mendapatkan bibit ternak sesuai dengan standar mutu atau persyaratan teknis minimal dan persyaratan kesehatan hewan yang

Dari pendekatan dengan petani, mereka bercerita bahwa tanaman buah mereka yang berasal dari biji menghasilkan buahnya lama sekali dan belum tentu pula buah yang dihasilkan

Perbanyakan tanaman stek batang pada tanaman aglaonema bagian batang pada media cocopeat Perbanyakan tanaman tanaman secara vegetatif buatan yang dilakukan pada kegiatan ini memiliki

• Hal-hal yang menentukan keberhasilan eksplan untuk dikulturkan:  Bagian tanaman tempat pengambilan eksplan  Umur antogenik eksplan  Ukuran eksplan • Umumnya bagian tanaman yang