• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan Kawasan Tanpa Rokok di Indonesia

N/A
N/A
ivanna ayudhea

Academic year: 2024

Membagikan " Pembuatan Kawasan Tanpa Rokok di Indonesia"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

POLICY PAPER Naskah Kebijakan

Tentang

Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok

Nama : Ivanna Ayudhea O

NIM : D11.2021.03330

Kelas : D11.71

(2)

Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

PENDAHULUAN

Prevalensi merokok di Indonesia, dengan sekitar 70 juta perokok aktif, menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga oleh perokok pasif. Paparan asap rokok menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, terutama pada anak-anak, wanita hamil, dan individu dengan kondisi medis tertentu. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi salah satu solusi untuk melindungi masyarakat dari bahaya tersebut, namun implementasinya masih menghadapi banyak tantangan. Meskipun beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya telah memiliki peraturan KTR yang ketat, masih terdapat masalah kepatuhan masyarakat dan pengawasan

(3)

yang lemah di banyak daerah. Selain itu, pengaruh industri tembakau yang kuat seringkali menghambat upaya pengendalian tembakau di Indonesia.

Dampak merokok terhadap kesehatan sangat besar, dengan lebih dari 230.000 kematian setiap tahun akibat penyakit terkait merokok. Dari segi ekonomi, merokok juga menyebabkan kerugian yang mencapai lebih dari Rp 200 triliun per tahun, mencakup biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas. Untuk meningkatkan efektivitas KTR, diperlukan peningkatan pengawasan dan penegakan hukum yang lebih tegas, serta peningkatan kampanye edukasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok. Kolaborasi dengan sektor swasta juga penting, terutama dalam mendukung penerapan KTR di tempat-tempat umum. Penguatan regulasi KTR dan perluasan kawasan bebas rokok, termasuk di transportasi umum dan fasilitas publik lainnya, juga sangat diperlukan. Selain itu, dukungan terhadap program berhenti merokok harus diperkuat dengan menyediakan layanan konseling dan aplikasi berbasis komunitas.

Keberhasilan kebijakan ini bergantung pada kerjasama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mengurangi prevalensi merokok di Indonesia.

LATAR BELAKANG MASALAH

Prevalensi merokok di Indonesia merupakan isu kesehatan masyarakat yang sangat serius. Data terbaru pada laman resmi Antara News (2024) menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang, dengan prevalensi di kalangan remaja berusia 10-18 tahun sebesar 7,4%. Meskipun ada penurunan dari 9,1% pada tahun 2018, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang sebesar 5,4%. Selain itu, temuan dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menunjukkan peningkatan prevalensi perokok di kalangan anak sekolah usia 13-15 tahun dari 18,3% pada tahun 2016 menjadi 19,2% pada tahun 2019 (Kemenkes RI, 2024).

Dampak kesehatan dari merokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif tetapi juga oleh perokok pasif yang terpapar asap rokok. Paparan asap rokok dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius seperti infeksi saluran pernapasan, asma, dan pneumonia pada anak- anak. Selain itu, ibu hamil yang terpapar asap rokok berisiko mengalami keguguran, kelahiran prematur, dan berbagai komplikasi lainnya. Oleh karena itu, kebijakan Kawasan Tanpa Rokok

(4)

(KTR) menjadi sangat penting untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya merokok dan paparan asap rokok.

Tujuan Penulisan

Tujuan utama dari penulisan policy paper ini adalah untuk menyajikan analisis kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Indonesia serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan implementasinya. Kebijakan KTR diharapkan dapat mengurangi prevalensi merokok dan melindungi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, dari dampak negatif rokok. Dalam konteks ini, penting untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan yang ada saat ini dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam penerapannya. Dengan demikian, rekomendasi yang disusun akan mencakup langkah-langkah konkret yang perlu diambil oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Sejarah dan Regulasi KTR di Indonesia

Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Indonesia mulai diterapkan sebagai respons terhadap meningkatnya prevalensi merokok dan dampak kesehatan yang ditimbulkannya.

Awal mula penerapan KTR dapat ditelusuri dari Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang mencakup pasal 115 yang menegaskan pentingnya perlindungan kesehatan masyarakat dari bahaya asap rokok. Dalam konteks ini, KTR didefinisikan sebagai area yang dilarang untuk merokok, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, dan tempat kerja. Peraturan Menteri Kesehatan juga mendukung implementasi kebijakan ini dengan menetapkan pedoman lebih lanjut mengenai kawasan yang harus bebas dari asap rokok. Meskipun ada landasan hukum yang kuat, implementasi kebijakan KTR di lapangan seringkali menghadapi berbagai tantangan, termasuk kurangnya dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang spesifik dan penegakan hukum yang lemah.

Implementasi KTR di Berbagai Daerah

(5)

Implementasi kebijakan KTR bervariasi di berbagai daerah di Indonesia. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, peraturan mengenai KTR telah diterapkan dengan lebih ketat dibandingkan dengan daerah lainnya. Misalnya, Jakarta memiliki Peraturan Gubernur Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok yang mencakup area publik dan fasilitas umum.

Namun, meskipun peraturan tersebut ada, data menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan ini masih rendah. Di Jakarta, sekitar 87% kabupaten/kota sudah memiliki regulasi terkait KTR, tetapi masih ada 64 kabupaten/kota yang belum menerapkan aturan ini sama sekali (Kompas, 2023).

Di beberapa daerah lain seperti Palembang, meskipun telah ada Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok, pelaksanaannya masih menemui kendala.

Penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada kesadaran akan pentingnya KTR, banyak masyarakat yang tetap merokok di area yang seharusnya bebas asap rokok (Retno, 2021). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dalam penerapan dan penegakan hukum antara kota besar dan daerah lainnya. Sementara kota-kota besar cenderung memiliki struktur regulasi yang lebih baik dan sumber daya untuk pengawasan, daerah lain seringkali kekurangan dalam hal sosialisasi dan penegakan hukum terhadap pelanggaran KTR. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan KTR secara keseluruhan (Permana, 2021).

Perbandingan Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Besar di Indonesia

Kota Tahun

Implementasi KTR

Area KTR yang Ditetapkan

Tingkat Kepatuhan Masyarakat

Pengawasan Pemerintah

Jakarta 2013 Tempat umum,

transportasi umum, rumah sakit, sekolah, fasilitas kesehatan

Tinggi Cukup baik,

dengan pengawasan yang intensif di area tertentu

Bali 2015 Tempat wisata,

restoran, pantai, area publik, terminal bus

Sedang Terbatas,

pengawasan di kawasan wisata lebih ketat

Yogyakarta 2016 Kampus, rumah

sakit, taman kota, sekolah

Rendah Minim,

pengawasan kurang

(6)

konsisten di area publik

Surabaya 2019 Sekolah,

fasilitas umum, terminal bus, pusat

perbelanjaan

Sedang Cukup baik,

namun penegakan hukum masih lemah

Bandung 2016 Taman kota,

fasilitas kesehatan, sekolah, area publik

Sedang Pengawasan

masih terbatas pada beberapa area

Medan 2018 Sekolah, tempat

umum, transportasi umum, rumah sakit

Sedang Pengawasan

masih

membutuhkan peningkatan, kurangnya penegakan hukum

Dampak Kesehatan dari Merokok

Merokok merupakan penyebab utama berbagai penyakit serius yang dapat mengancam kesehatan individu. Penyakit jantung, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah beberapa penyakit yang paling umum terkait dengan kebiasaan merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga dua kali lipat, serta menyebabkan gangguan kardiovaskular lainnya seperti stroke dan aneurisma otak (Dinkes, 2024). Kanker paru-paru adalah salah satu dampak paling fatal dari merokok, di mana sekitar 90% kematian akibat kanker paru-paru disebabkan oleh kebiasaan ini. Selain itu, merokok juga berkontribusi terhadap kanker di berbagai bagian tubuh lainnya, termasuk mulut, tenggorokan, dan kandung kemih. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 230.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang disebabkan oleh merokok, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini bagi kesehatan masyarakat.

Dampak Asap Rokok terhadap Non-Perokok (Asap Rokok Pasif)

(7)

Paparan asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok aktif tetapi juga pada non-perokok yang terpapar asap rokok, terutama anak-anak, wanita hamil, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Anak-anak yang terpapar asap rokok berisiko tinggi mengalami infeksi saluran pernapasan, asma, dan gangguan perkembangan kognitif. Wanita hamil yang terpapar asap rokok berisiko mengalami komplikasi serius seperti keguguran, kelahiran prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Selain itu, anak-anak yang lahir dari ibu perokok memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami cacat lahir dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS) (Dinkes, 2024). Individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti penyakit jantung atau asma juga dapat mengalami exacerbasi gejala mereka akibat paparan asap rokok.

(8)

Dampak Ekonomi dari Merokok

Dampak ekonomi dari merokok sangat signifikan dan meliputi biaya sosial serta biaya perawatan kesehatan yang tinggi. Biaya perawatan kesehatan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh merokok mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya di Indonesia. Selain itu, kehilangan produktivitas akibat sakit atau kematian dini perokok juga memberikan dampak negatif pada perekonomian (Dinkes, 2015). Penelitian menunjukkan bahwa biaya langsung dan tidak langsung akibat merokok dapat mencapai lebih dari Rp 200 triliun per tahun di Indonesia, mencakup biaya pengobatan serta hilangnya pendapatan karena ketidakmampuan untuk bekerja. Dengan demikian, tidak hanya kesehatan individu yang terancam oleh kebiasaan merokok, tetapi juga kesejahteraan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Tantangan Sosial dan Budaya

Kebiasaan merokok di Indonesia telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat, terutama di kalangan pria. Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) menunjukkan bahwa prevalensi perokok pria di Indonesia mencapai 70,5%, menjadikan negara ini sebagai salah satu yang tertinggi di dunia dalam hal jumlah perokok. Kebiasaan ini sering kali dipandang sebagai simbol kedewasaan dan status sosial, sehingga sulit untuk mengubah perilaku tersebut. Faktor-faktor yang menghalangi perubahan perilaku merokok meliputi normalisasi merokok dalam keluarga, di mana sekitar 69,33% remaja perokok memiliki anggota keluarga yang juga merokok. Lingkungan sosial, termasuk pengaruh teman sebaya dan iklan rokok yang agresif, turut memperkuat kebiasaan ini. Meskipun pengetahuan tentang bahaya merokok cukup tinggi di kalangan remaja dengan 59,51% menyatakan bahwa mereka memahami risiko kesehatan, kesadaran ini seringkali tidak berbanding lurus dengan tindakan nyata untuk menghindari rokok. Hal ini menciptakan tantangan besar dalam upaya pengendalian tembakau dan perlunya intervensi yang lebih efektif untuk mengubah persepsi dan perilaku masyarakat terhadap merokok.

(9)

Kurangnya Pengawasan dan Penegakan Hukum

Salah satu masalah utama dalam penerapan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah kurangnya pengawasan dan penegakan hukum yang efektif di lapangan. Meskipun ada regulasi yang jelas mengenai KTR, implementasinya sering kali tidak konsisten. Banyak lokasi publik yang seharusnya bebas dari asap rokok masih terlihat banyak perokok, menunjukkan lemahnya pengawasan dari pihak berwenang. Ketidaktegasan dalam memberikan sanksi kepada pelanggar KTR juga menjadi faktor penyebab rendahnya kepatuhan terhadap kebijakan ini.

Dalam banyak kasus, pelanggaran terhadap KTR tidak ditindaklanjuti dengan sanksi yang tegas, sehingga menciptakan persepsi bahwa merokok di area terlarang tidak akan membawa konsekuensi serius. Hal ini semakin diperburuk oleh kurangnya kampanye sosialisasi yang menjelaskan pentingnya KTR bagi kesehatan masyarakat, membuat masyarakat kurang sadar akan kewajiban untuk mematuhi kebijakan tersebut.

Pengaruh Industri Tembakau

Industri tembakau memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan kesehatan di Indonesia, seringkali melemahkan upaya pemerintah dalam mengendalikan konsumsi rokok.

Melalui lobbying yang intensif, industri rokok berusaha mempengaruhi pembuatan kebijakan terkait pengendalian tembakau, termasuk kebijakan KTR. Mereka menggunakan berbagai strategi pemasaran untuk menarik perhatian konsumen muda, termasuk memanfaatkan media sosial dan influencer untuk mempromosikan produk mereka. Hal ini berkontribusi pada meningkatnya jumlah perokok muda di Indonesia, dengan data menunjukkan bahwa prevalensi merokok di kalangan remaja mencapai 19,2% pada tahun 2019. Selain itu, industri tembakau juga berusaha untuk mempengaruhi persepsi publik mengenai bahaya merokok melalui kampanye yang menekankan manfaat ekonomi dari industri tersebut, seperti penciptaan lapangan kerja dan kontribusi pajak. Dengan demikian, tantangan untuk menerapkan kebijakan kesehatan yang efektif semakin kompleks karena adanya tekanan dari industri tembakau yang kuat dan terorganisir.

(10)

ANALISIS ALTERNATIF KEBIJAKAN

Peningkatan Pengawasan dan Penegakan Hukum

Untuk memperkuat pengawasan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), perlu dilakukan peningkatan jumlah petugas yang bertanggung jawab atas penegakan hukum di lapangan.

Penambahan petugas ini akan memungkinkan pengawasan yang lebih ketat di area publik dan fasilitas umum, sehingga pelanggaran terhadap kebijakan KTR dapat diminimalisir. Selain itu, penggunaan teknologi pengawasan seperti kamera CCTV dan aplikasi pelaporan berbasis masyarakat dapat meningkatkan efektivitas pengawasan. Menetapkan sanksi yang lebih jelas dan tegas terhadap pelanggar juga menjadi langkah krusial; misalnya, denda yang lebih tinggi bagi individu atau instansi yang melanggar ketentuan KTR. Dengan adanya sanksi yang tegas, diharapkan akan tercipta efek jera yang dapat mendorong masyarakat untuk mematuhi kebijakan ini. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas, sosialisasi tentang KTR yang melibatkan kepala desa dan masyarakat setempat menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam pengawasan dan penegakan hukum dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan bebas asap rokok (KIP, 2024).

Sosialisasi dan Edukasi kepada Masyarakat

Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat merupakan elemen penting dalam mendukung penerapan KTR. Penyuluhan secara berkala tentang bahaya merokok dan manfaat KTR harus dilakukan melalui berbagai media untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kampanye di sekolah, tempat umum, dan media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan informasi secara luas. Misalnya, program edukasi di sekolah dapat melibatkan siswa dalam kegiatan anti-rokok, sehingga mereka menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. Di Kabupaten Lebak, sosialisasi melalui radio dan podcast telah dilakukan untuk memberikan informasi tentang Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2023 tentang KTR, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan sehat (Dinkes Kab. Lebak, 2024). Dengan pendekatan yang komprehensif ini, diharapkan masyarakat akan lebih sadar akan dampak negatif merokok dan mendukung penerapan KTR.

(11)

Kolaborasi dengan Sektor Swasta

Kolaborasi dengan sektor swasta sangat penting dalam mendukung penerapan KTR di area publik seperti restoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan. Kerja sama ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi penerapan kebijakan bebas asap rokok.

Misalnya, restoran dapat diajak untuk menerapkan kebijakan tidak merokok di dalam ruangan dan menyediakan area khusus bagi perokok di luar ruangan. Selain itu, pusat perbelanjaan dan tempat hiburan dapat melakukan kampanye bersama untuk meningkatkan kesadaran pelanggan tentang pentingnya menjaga lingkungan bebas asap rokok. Dengan melibatkan sektor swasta, kebijakan KTR tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini akan memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi semua pihak.

Penguatan Regulasi KTR

Penguatan regulasi KTR sangat diperlukan untuk memperluas cakupan kawasan larangan merokok di Indonesia. Meninjau kembali regulasi yang ada dapat mencakup penambahan zona larangan merokok di ruang publik seperti taman, angkutan umum, dan fasilitas umum lainnya yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Misalnya, perluasan area tanpa rokok di transportasi umum seperti bus dan kereta api akan memberikan perlindungan lebih kepada non-perokok dari paparan asap rokok. Selain itu, revisi peraturan juga harus mencakup mekanisme penegakan hukum yang lebih efektif agar setiap pelanggaran terhadap KTR mendapatkan sanksi yang sesuai. Dengan demikian, regulasi yang lebih ketat akan membantu menciptakan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kesehatan masyarakat melalui lingkungan bebas asap rokok.

Dukungan terhadap Program Berhenti Merokok

Dukungan terhadap program berhenti merokok harus ditingkatkan dengan menyediakan lebih banyak layanan dan dukungan bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok. Program konseling yang terjangkau serta akses ke aplikasi penghentian merokok bisa menjadi alat bantu efektif bagi perokok untuk mengatasi kecanduan mereka. Misalnya, program berbasis komunitas yang menawarkan sesi konseling kelompok atau dukungan individu dapat

(12)

membantu perokok menemukan motivasi untuk berhenti dengan berbagi pengalaman satu sama lain. Data menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam membantu individu berhenti merokok (Renaldi, 2014). Dengan menyediakan sumber daya yang cukup dan dukungan berkelanjutan, pemerintah dapat mendorong lebih banyak orang untuk mengambil langkah positif menuju kehidupan tanpa rokok, sehingga mengurangi prevalensi merokok secara keseluruhan di Indonesia.

Kesimpulan

Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi kesehatan masyarakat, terutama dalam mengurangi paparan asap rokok dan mencegah berbagai penyakit yang disebabkan oleh merokok. Dengan adanya KTR, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih sehat bagi semua individu, termasuk non-perokok dan kelompok rentan seperti anak-anak dan wanita hamil. Keberhasilan implementasi kebijakan ini tidak dapat dicapai tanpa kerjasama yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Setiap pihak memiliki tanggung jawab untuk mendukung penerapan KTR, baik melalui pengawasan, edukasi, maupun penyediaan fasilitas yang mendukung lingkungan bebas asap rokok. Sinergi ini akan memperkuat upaya bersama dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan bahaya merokok.

REKOMENDASI KEBIJAKAN

1. Meningkatkan Penegakan Hukum dengan Pendekatan Teknologi

Penggunaan teknologi seperti CCTV dan aplikasi pelaporan masyarakat perlu dioptimalkan untuk memantau pelanggaran KTR, khususnya di daerah yang kekurangan petugas. Selain itu, denda yang lebih tinggi dan penindakan yang tegas dapat diterapkan untuk meningkatkan efek jera di kalangan masyarakat.

2. Menggalakkan Sosialisasi Berbasis Komunitas

Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif melalui penyuluhan dan sosialisasi berbasis komunitas yang berkesinambungan. Melibatkan komunitas setempat, sekolah, dan lembaga agama dapat memperluas jangkauan edukasi dan menciptakan agen-agen

(13)

perubahan untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan bebas asap rokok.

3. Kolaborasi dengan Sektor Swasta dan Penyediaan Insentif

Kerja sama dengan sektor swasta harus ditingkatkan dengan menyediakan insentif bagi pihak yang mendukung KTR, seperti pemberian penghargaan bagi restoran atau pusat perbelanjaan yang menerapkan kebijakan bebas asap rokok. Insentif ini dapat berupa pengurangan pajak atau bentuk penghargaan lain.

4. Memperluas Area Larangan Merokok melalui Revisi Regulasi

Revisi regulasi untuk memperluas kawasan larangan merokok sangat penting,

mencakup transportasi umum, taman kota, dan area publik lainnya. Pemerintah pusat dan daerah perlu berkoordinasi untuk membuat peraturan yang lebih spesifik, serta memastikan adanya sumber daya yang memadai untuk pengawasannya.

5. Memperkuat Dukungan Program Berhenti Merokok

Pemerintah perlu menyediakan layanan konseling berhenti merokok yang mudah diakses oleh masyarakat, baik secara langsung maupun melalui aplikasi berbasis komunitas. Program berbasis komunitas yang memberikan dukungan berkelanjutan kepada perokok juga dapat membantu mereka berhenti merokok.

6. Mengatasi Tantangan dari Industri Tembakau melalui Regulasi Iklan dan Sponsorship

Pemerintah harus menegakkan pembatasan iklan dan sponsorship rokok, terutama yang ditargetkan pada remaja. Mengontrol pengaruh industri tembakau melalui regulasi yang ketat, seperti pelarangan iklan di media sosial dan pembatasan sponsorship, dapat mencegah peningkatan perokok pemula.

(14)

REFERENSI

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, November 7). Prevalensi merokok usia 10-

18 tahun turun ke 7,4 persen. Antara News.

https://www.antaranews.com/berita/4126569/kemenkes-prevalensi-merokok-usia- 10-18-tahun-turun-ke-74-persen

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, May 29). Perokok aktif di Indonesia tembus 70 juta orang, mayoritas anak muda. Sehat Negeriku.

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240529/1545605/perokok-aktif- di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda/

Kompas. (2023, July 3). Implementasi kebijakan KTR belum optimal. Kompas.id.

https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/03/implementasi-kebijakan-ktr- belum-optimal

Retno, M. S. I. H. A. M. (2021). Implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok guna menunjang pola hidup sehat di Kecamatan Alang-Alang Lebar Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan (Doctoral dissertation, IPDN Jatinangor).

Permana, D. (2021). Penerapan kawasan tanpa rokok (KTR) dalam mewujudkan perilaku hidup sehat. Jurnal Tatapamong Fakultas Hukum Pemerintahan IPDN, 9.

Dinas Kesehatan Kabupaten Inhu. (2024, July 22). Bahaya merokok bagi kesehatan.

https://dinkes.inhukab.go.id/kualacenaku/2024/07/22/bahaya-merokok-bagi- kesehatan/

Dinas Kesehatan Kota Cimahi. (2015). Bahaya merokok bagi kesehatan tubuh.

https://dinkes.cimahikota.go.id/artikel-detail/4-bahaya-merokok-bagi-kesehatan- tubuh

Pemerintah Kabupaten Kapuas. (2024). Sosialisasi kawasan tanpa rokok untuk puskesmas dan

desa wilayah Kabupaten Kapuas.

(15)

https://kip.kapuaskab.go.id/berita/read/7501/sosialisasi-kawasan-tanpa-rokok-untuk- puskesmas-dan-desa-wilayah-kabupaten-kapuas

Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak. (2024). Sosialisasi Peraturan Daerah No 3 Tahun 2023

tentang kawasan tanpa rokok (KTR).

https://dinkes.lebakkab.go.id/berita/detail/sosialisasi-peraturan-daerah-no3-tahun- 2023-tentang-kawasan-tanpa-rokok-ktr

Renaldi, R. (2014). Implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok (KTR) pada mahasiswa di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Komunitas, 2(5), 233-238.

Referensi

Dokumen terkait

bagaimana sikap mahasiswa Unpad terhadap Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kampus Unpad, yang mana sikap merupakan salah satu faktor predisposisi dari perilaku.. Rancangan penelitian

KTR seharusnya bisa menjamin sekolah sebagai kawasan yang bersih dari rokok dan menolong siswa/i untuk bersih dari dampak konsumsi rokok (Jurnal kesehatan Masyarakat

Apakah pernah ada pelanggaran yang terjadi selama penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada sekolah ini?. Siapa saja

KTR seharusnya bisa menjamin sekolah sebagai kawasan yang bersih dari rokok dan menolong siswa/i untuk bersih dari dampak konsumsi rokok (Jurnal kesehatan Masyarakat

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Dalam Upaya Menurunkan Perokok Aktif Di Sumatera Barat Tahun 2013.. Jurnal Kebijakan

Berdasarkan hal tersebut, maka Rektor Universitas Udayana mengeluarkan Surat Keputusan SK mengenai Kawasan Tanpa Rokok KTR pada 8 Mei 2015 yang ditujukan kepada seluruh fakultas yang

EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN Evaluasi merupakan upaya yang di laksanakan secara terus menerus baik oleh petugas kesehatan maupun pengelola Kawasan Tanpa Rokok KTR di semua tatanan

Sumber Daya Anggaran Dana yang dimiliki dianggap belum mencukupi untuk promosi pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok, 9 tahun keberjalanan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Kabupaten Aceh