REFRESHING
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Pembimbing : dr. Mushlihani, Sp.OG
Disusun Oleh :
Ubay Nurajeng Susanto 2019730108
KEPANITERAAN KLINIK STASE OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan pembuatan Refreshing yang berjudul pemeriksaan fisik ginekologi.
Laporan ini penulis buat sebagai kewajiban dari suatu proses kegiatan yang penulis lakukan yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk praktik kehidupan sehari-hari. Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada konsulen dr.
Mushlihani, Sp.OG di stase Obstetri dan Ginekologi yang telah membimbing penulis sampai pembuatan Refreshing ini selesai.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya bagi para pembaca.
Jakarta, desember 2023
Penulis
BAB I PENDAHULUAN
Ginekologi berasal dari kata Gynaecology yang secara harfiah berarti "ilmu mengenai wanita" atau science of woman yaitu cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari dan menangani penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita.
(Iskandar, 2021)
Pokok bahasan “masalah ginekologi umum” menekankan pada beberapa penyakit yang berkaitan dengan kelainan gangguan haid, kelainan nyeri panggul dan nyeri haid/dismenore, radang dan beberapa kelainan pada alat genitalia, kelainan tumor jinak kandungan, kelainan tumor ganas kandungan dan kelainan gangguan pubertas. (Otto Gusti Madung, 2011)
Pemeriksaan ginekologi secara tradisional mencakup pemeriksaan alat kelamin luar dan dalam. Dalam beberapa kondisi, pemeriksaan dubur juga mungkin diperlukan. Pemeriksaan ginekologi biasanya diperlukan untuk wanita dengan keluhan ginekologi atau untuk skrining sitologi serviks pada usia 21 tahun.
(Benson, 1975)
Pemeriksaan ginekologi digunakan untuk menilai alat kelamin eksternal dan internal serta uretra dan rektum sesuai kebutuhan. Praktisi harus berhati-hati pada pasien yang sangat tidak stabil, baik secara medis, emosional, atau psikologis. Informed consent perlu diperoleh sebelum melanjutkan pemeriksaan. Berikut ini adalah keluhan yang memerlukan pemeriksaan ginekologi : tes atau skrining infeksi menular seksual, skrining, nyeri, kehamilan atau pasca melahirkan, infeksi, gatal, pembengkakan, berdarahm kelainan menstruasi, kelainan perkembangan seksual, trauma seksual atau fisik, kondisi neurologis, inkontinensia, gangguan dasar panggung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anamnesis
Secara rutin ditanyakan; urutan penderita, sudah menikah atau belum, paritas, siklus haid, penyakit yang pernah diderita, terutama kelainan ginekologik serta pengobatannya, dan operasi yang dialami. (Sarwono, 2016)
Keluhan Utama Keluhan kenapa pasien datang mencari pertolongan (Keluhan yang paling sering : Perdarahan/ Rasa nyeri/ Benjolan.)
Riwayat
Menstruasi Haid terakhir, menarce, panjang siklus haid, teratur/tidak, lama haid, nyeri/tidak
Riwayat
Ginekologi Penyakit ginekologi yang sebelumnya diderita atau operasi ginekologi yang sebelumnya dilakukan
Riwayat Obstetri
Jumlah persalinan dan abortus
Cara persalinan dan hal-hal yang terjadi pada persalinan dan nifas
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit lain yang berhubungan dengan penyakit ginekologi saat ini.
Riwayat
Keluarga Penyakit ginekologi yang pernah diderita anggota keluarga terdekat.
2.2 Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan ginekologik harus lengkap karena dari pemeriksaan umum sering didapat keterangan-keterangan yang menuju ke arah tertentu dalam menegakkan diagnosis. Bentuk konstitusi tubuh mempunyai korelasi dengan keadaan jiwa penderita, penimbunan dan penyebaran iemak mempunyai hubungan dengan makanan, kesehatan badan, penyakit menahun, dan faal kelenjar endokrin. Pertumbuhan rambut, terutama di daerah pubis, betis, dan kumis menunjuk ke arah gangguan endokrin. Perlu diperhatikan
apakah penderita terlampau gemuk (obesitas) atau terlampau kurus (cachexia) dan sudah berapa lama keadaan demikian itu, perlu pula ditanyakan. Cachexia dapat dijumpai pada
tuberkulosis dan pada tumor stadium lanjut. (Sarwono, 2016)
Seandainya perlu pemeriksaan nadi, suhu badan dengan parabaan tangan (kalau perlu dengan termometer) tekanan darah, pernapasan, mata (anemia, ikterus, eksotalmus), kelenjar gondok (struma), payrdara, kelenjar ketiak, iantung, paru-paru dan perut. Adanya edema, lapisan lemak yang tebal, asites, gambaran yena yang;'elas/melebar, dan varises-varises perlu pula mendapat perhatian yang saksama.
(Sarwono, 2016) .
2.3 Pemeriksaan Payudara
Pemeriksaan payudara (mamma) tenrtama mempunyai arti penting bagi penderita perempuan, terutama dalam hubungan dengan diagnostik kelainan endokrin, kehamilan, dan karsinoma mamma. Sambil penderita berbaring terlentang, payudara diraba seluruhnya dengan telapak jari dan tidak boleh lupa untuk meraba kelenjar-kelenjar ketiak. Pemeriksaan dapat pula dilakukan sambil penderita duduk tegak lurus dan pemeriksa berdiri di belakangnya. Yang perlu diperhatikan ialah perkembangan payudara (besar-kecilnya) dihubungkan dengan umur dan keiuhan penderita (amenore, kehamilan, Iaktasi, menopause), selanjutnya bentuknya, konsistensi adakah benjolan dan bagaimana gerakan benjolan itu terhadap kulit dan dasarnya. (Sarwono, 2016)
Hiperpigmentasi areola dan papila mamma, pembesaran kelenjar- kelenjar montgomery dan dapat dikeluarkannya kolostrum merupakan tanda-tanda kehamilan. Apabila terdapat kecurigaan akan keganasan, maka sebaiknya dilakukan biopsi, atau benjolan diangkat (ekstirpasi) sambil diperiksa sediaan beku. Dapat pula dibuat mammografi dengan sinar Rontgen atau USG. (Sarwono, 2016)
2.4 Pemeriksaan Perut
Inspeksi Perlu diperhatikan bentuk, pembesaran/cekungan, pergerakan dengan pernapasan, kondisi kulit (tebal, mengkilat, keriput, striae, pigmentasi, gambaran vena), parut operasi dan lain sebagainya. Masing-masing kelainan tersebut di atas memberi petunjuk apayang harus diperhatikan, misalnya pembesaran perut ke depan dengan batas yang jelas, menunjuk arah kehamilan atas tumor (mioma uteri atau karsinoma ovarii), sedang pembesaran ke samping (perut katak) merupakan gejala dari cairan bebas dalam rongga perfi (lazirn disebut asites, walaupun istilah ini tidak selalu betul). (Sarwono, 2016)
Palpasi atau saat perabaan perut dilakukan perlahan-lahan dengan seluruh telapak tangan dan jari-jari. Mula-mula perut diraba sala (tanpa ditekan) seluruhnya sebagai orientasi dengan satu atau kedua tangan, dimulai dari atas (hipokondrium). Lalu, diperiksa dengan tekanan ringan apakah dinding perut lemas, tegang karena rangsangan paling nyeri. Sekaligus diperiksa pula gejala nyeri lepas. Baru kemudian dilakukan palpasi lebih dalam, sebaiknya bersamaan dengan irama pernapasan, untuk mencari kelainan-kelainan yang tidak tampak dengan inspeksi. Ini sebaiknya dimulai dari bagian-bagianyangtampaknya normal, yaitryangtidak dirasakan nyeri dan yang tidak menonjol/membesar. Karena telapak tangan dan jari-jari bagian ulna lebih peka, maka palpasi dalam dilakukan dengan bagian ulna ini. Rasa nyeri yang Ietaknya lebih dalam menjadi lebih jeias.
Perlu diperhatikan bahwa tidak boleh ditimbulkan perasaan nyeri yang berlebihan karena perempuan sangat menderita, dan secara refleks menegangkan perutnya.
Pada pemeriksaan tumor dapat ditentukan lebih jelas bentuknya, besarnya.
konsistensinya, batas-batasnya, dan gerakannya. Besar tumor dibandingkan dengan bendabenda yang secara umum diketahui misalnya telur bebek, telur
angsa/bola tenis, tinju kecil, tinju besar, kepala bayi, kepala orang dewasa, atau buah nangka. Selanjutnya apakah batas-batas tumor itu jelas/tajam atau tidak, batas atas masuk dalam rongga panggul atau tidak. Perlu pula diperiksa apakah tumor itu dapat digerakkan (bebas atau terbatas) atau tidak. Konsistensi tumor biasanya tidak sulit untuk ditentukan, yaitu padat kenyal, padat lunak, padat keras atau kistik. Kistik lunak kadang-kadang sulit dibebaskan dari cairan bebas dalam rongga perut, terutama apabila penderita gemuk. Kadang-kadang ada bagian padat dan bagian kistik bersamaan. Permukaan tumor ada yang rata dan yang berbenjol- benjol. Tumor padat kenyal dan berbenjol-benjol biasanya mioma uteri, dan tumor kistik biasanya kistoma ovarium.
Rasa nyeri pada perabaan tumor merujuk ke arah peradangan/infeksi, generasi, putaran tangkai, dan hematoma retrouterina akibat kehamilan ektopik terganggu.
(Sarwono, 2016).
Perkusi (periksa ketok) dapat ditentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor (mioma uteri atau kistoma ovari), ataukah oleh cairan bebas dalam perut. Pada tumor, ketokan perut pekak terdapat pada bagian yang paling menoniol ke depan apabila tidur terlentang dan apailla tumornya tidak terlampau besar, maka terdengar suara timpani di sisi perut kanan dan kiri karna usus terdorong ke samping. Daerah pekak itu tidak akan berpindah tempat apabila penderita dibaringkan di sisi kanan atau kiri. Lain halnya perkusi pada cairan bebas. Cairan mengumpul di bagian yang paling rendah, yaitu didasar dan disamping, sedang usus-usus mengambang di atasnya. Apabila penderita berbaring terlentang, maka suara timpani di bagian atas perut melengkung ke ventral, dan sisi kanan dan kiri pekak (pekak sisi). Keadaan ini berubah apabila penderita disuruh berbaring miring misalnya berbaring pada daerah kanan. Ciran berpindah dalam mengisi bagian kanan dan bagian ventral. Jadi, daerah timpani berpindah juga: timpani di perut kiri (kiri menjadi atas karena usus-usus mengambang) dan pekak di perut kanan dan depan (paling rendah diisi oleh cairan). Selain itu, terdapat pula gejala undulasi. Tumor yang disertai cairan bebas menunjuk ke arah keganasan. Pada tuberkulosis peritonei dapat ditemukan daerah- daerah timpani dan pekak itu berdampingan, seperti gambaran papan catur, sebagai akibat perlekatan usus dan omentum. Selain hal tersebut di atas, periksa
ketok penting pula dalam diagnostik ileus dan keadaan lain apabila usus mengembung dan terisi banyak udara (meteorisme). (Sarwono, 2016).
Auskultasi Periksa dengar (auskultasi) sangat penting pada tumor perut yang besar untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan. Detak jantung dan gerakan janin terdengar pada kehamilan yang cukup tua, sedang bising uterus dapat terdengar pada mioma uteri yang besar. Pemeriksaan bising usus penting pula dalam diagnostik peritonitis dan ileus, baik ileus paralitikus (tidak/hampir tidak terdengar bising usus) maupun ileus obstruktivus (hiperperistaltik dan bising usus berlebihan). Kembalinya aktivitas usus ke batas-batas normal sangat penting dalam masa pascaoperasi dan merupakan petunjuk yang baik. (Sarwono, 2016).
2.5 Pemeriksaan Ginekologi a. Persiapan :
Pasien : berikan informasi jelas tentang prosedur pemeriksaan ginekologi, anjurkan untuk berkemih sebelum pemeriksaan.
Tempat pemeriksaan : cukup cahaya dan terjaga kerahasiaannya.
Alat pemeriksaan : minimal alat yang harus disediakan → meja ginekologi, lampu sorot, sarung tangan, spekulum, kapas sublimat, kateter urin, cunam portio(tenaculum), dan sondage uterus.
b. Prosedur pemeriksaan :
Setelah persiapan selesai, baringkan pasien dengan posisi litotomi, letak miring, letak sims. (Sarwono, 2016)
- Letak Litotomi ini yang paling populer terutama di Indonesia. Untuk itu diperlukan meja ginekologik dengan penyangga bagi kedua tungkai. Penderita berbaring diatasnya sambil lipat lututnya diletakkan pada penyangga dan tungkainya dalam fleksi santai, sehingga penderita berbaring dalam posisi mengangkang.
- Letak Miring, penderita diletakkan di pinggir tempat tidur miring ke sebelah kiri, sambil paha dan lututnya ditekuk dan kedua tungkai sejajar. Posisi demikian hanya baik untuk pemeriksaan inspekulo.
- Letak Sims Letak ini hampir sama dengan letak miring, hanya tungkai kiri hampir lurus, tungkai kanan ditekuk ke arah perut, dan lututnya diletakkan pada alas (tempat tidur), sehingga panggul membuat sudut miring dengan alas; lengan kiri di belakang badan dan bahu sejajar dengan alas. Dengan demikian, penderita berbaring setengah tengkurap.
Pemeriksaan genitalia eksterna
Inspeksi
Dengan inspeksi perlu diperhatikan bentuk, warna, pembengkakan, dan sebagainya dari genitalia eksterna, perineum, anus, dan sekitarnya; dan apakah ada darah atau fluor albus. Apakah himen masih utuh dan klitoris normal? Pertumbuhan rambut pubis perlu pula diperhatikan. (Sarwono, 2016)
Terutama dicari apakah ada peradangan, iritasi kulit, eksema dan tumor; apakah orifisium uretra eksternum merah dan ada nanah, apakah ada karunkula, atau polip. Nanah tampak lebih jelas apabila dinding belakang uretra diurut dari dalam ke luar dengan jari. Apakah ada benda menonjol dari introitus vagina (prolapsus uteri, mioma yang sedang, polipus servisis yang panjarg); adakah sistokel dan rektokel; ,apakah glandula Bartholini membengkak dan meradang;
apakah himen masih utuh; apakah introitus vagina sempit atau lebar;
dan apakah ada parut di perineum; dan kondiloma akuminata atau kondiloma lata. (Sarwono, 2016)
Pada perdarahan pervaginam dan fluor albus perlu pula diperhatikan banyaknya, warnany, kental atau encernya, dan baunya.
Dalam menghadapi proiapsus uteri, penderita disuruh batuk atau meneran sambil meniup punggung tangannya, sehingga kelainan tampak lebih jelas. (Sarwono, 2016)
Palpasi
Perabaan Vulva dan Perineum Pemeriksaan dapat dimulai dengan perabaan glandula Bartholini dengan jari-jari dari luar, yang kemudian diteruskan dengan perabaan antara dua jari di dalam vagina dan ibu jari di luar. Dicari apakah ada Bartholinitis, abses atau kista.
Dalam keadaan normal kelenjar Bartholini tidak dapat diraba.
(Sarwono, 2016)
Apabila ada uretritis gonoreika, maka nanah tampak lebih jelas keluar dari orifisium uretra eksternum jika dinding belakang uretra diumt dari dalam ke luar dengan jarr-jari yang berada di dalam vagina.
Perlu pula diperhatikan glandula para uretralis. Selanjutnya, periksa keadaan perineum, bagaimana tebalnya, tegangnya, dan elastisitasnya.
(Sarwono, 2016)
Inspekulo
Untuk perempuan yang belum pernah melahirkan, dan apabila memang mutlak perlu untuk virgo, dipilih spekulum yang kecil; untuk anak kecil, dipilih spekulum yang paling kecil. (Sarwono, 2016)
Terlebih dahulu pasang spekulum Sims ke dalam vagina bagian belakang. Mula-mula ujung spekulum dimasukkan agak miring ke dalam introitus vagina, didorong sedikit ke dalam dan diletakkan melintang dalam vagina; lalu spekulum ditekan ke belakang dan didorong lebih dalam lagi,
sehingga ujung spekulum menyentuh puncak vagina di forniks posterior.
Pada proses yang mudah berdarah di porsio pemasangan spekulum ini harus dilakukan sangat hati-hati, sehingga ujung spekulum tidak menyentuh/menekan porsio yang mudah berdarah itu. Ujung spekulum harus diarahkan lebih kebelakang lagi dan langsung ditempatkan di forniks posterior pada dinding belakang vagina. (Sarwono, 2016)
Setelah spekulum pertama dipasang dan ditekan ke belakang, maka pemasangan spekulum Sims kedua (depan) yang harus lebih kecil dari pada yang pertama, menjadi sangat mudah; ujungnya ditempatkan di forniks anterior dan ditekan sedikit ke depan. Biasanya porsio langsung tampak dengan jelas. (Sarwono, 2016)
Apabila porsio menghadap terlampau ke belakang atau terlampau ke depan, maka posisi kedua spekulum perlu disesuaikan, yaitu ujung spekulum belakang digerakkan lebih ke belakang dan atau yang depan digerakkan lebih ke depan, sehingga letak porsio di tengah antara kedua spekulum. (Sarwono, 2016)
Pemasangan spekulum cocor-bebek dilakukan sebagai berikut. Dalam keadaan tertutup ujung spekulum dimasukkan ke dalam introitus vagina sedikit miring, kemudian diputar kembali menjadi melintang dalam vagina dan didorong masuk lebih dalam ke arah forniks posterior sampai di puncak vagina. Lalu spekulum dibuka melalui mekanik pada tangkainya. Dengan demikian, dinding vagina depan dipisah dari yang belakang dan porsio tampak jelas dan dibersihkan dari lendir atau getah vagina. Waktu spekulum dibuka, daun depan tidak menyentuh porsio karena agak lebih pendek dari daun belakang.
Posisi spekulum cocor-bebek juga perlu disesuaikan apabila porsio belum tampak jelas; dan pemasangan harus dilakukan dengan hatihati apabila ada proses mudah berdarah di porsio. Kini spekulum silindris jarang digunakan.
(Sarwono, 2016)
Pemeriksaan bimanual
Pemeriksaan genitalia interna dilakukan dengan kedua tangan (bimanual), dra jari atat satu jari dimasukkan ke dalam vagina atau satu jari ke dalam rektum, sedang tangan lain (biasanya empat iari) diletakkan di dinding perut. (Sarwono, 2016)
Untuk memperoleh hasil sebaik-baiknya, penderita berbaring dalam letak litotomi; diberitahu bahwa padanya akan dilakukan pemeriksaan dalam dan harus santai, tidak boleh menegangkan perutnya. Pemeriksa memakai sarung tangan dan berdiri atau duduk di depan pulva. (Sarwono, 2016)
Sebelum tangan kanan dimasukkan dibersihkan dengan kapas sublimat atau kapas lisol. Waktu tangan kanan akan dimasukkan ke dalam vagina, jari telunjuk dan jari tengah diluruskan ke depan, ibu jari lurus ke atas, dan dua jari lainnya dalam keadaan fleksi. Vulva dibuka dengan dua jari tangan kiri. Mula-mula jari tengah dimasukkan ke dalam introitus vagina, lalu komissura posterior ditekan ke belakang supaya introitus menjadi lebih lebar.
Baru kemudian jari telunjuk dimasukkan juga. Cara ini dimaksudkan untuk menghindari rasa nyeri, apabila dinding belakang uretra tertekan terlampau keras oleh kedua jari yang dimasukkan sekaligus.
Ini tentu tidak berlaku bagi multipara dengan introitus dan vagina yang sudah lebar. (Sarwono, 2016)
Pada nullipara dan pada virgo apabila memang mutlak diperlukan pemeriksaan dalam dilakukan hanya dengan satu jari (jari telunjuk) pada virgo jika perlu dalam keadaan narkosis. (Sarwono, 2016)
2.6 Pemeriksaan Tambahan a. Laboratorium
o Hb, golongan darah, jumlah trombosit : pasien perdarahan.
o Test kehamilan : kehamilan muda
o Analisa hormonal : gangguan haid, infertilitas.
o Jumlah leukosit, ELISA, Kultur : infeksi genitalia.
b. Patologi Anatomi
Sitologi : Pap smear.
Histologi : tumor jinak atau ganas.
c. Ultrasonografi (USG), kolonoskopi, laparoskopi, Histerosalfingorafi (HSG).
BAB III KESIMPULAN
Pemeriksaan fisik ginekologi mencakup pemeriksaan alat kelamin luar dan dalam. Dalam beberapa kondisi, pemeriksaan dubur juga mungkin diperlukan. Pemeriksaan ginekologi digunakan untuk menilai alat kelamin eksternal dan internal serta uretra dan rektum sesuai kebutuhan. Praktisi harus berhati-hati pada pasien yang sangat tidak stabil, baik secara medis, emosional, atau psikologis. Informed consent perlu diperoleh sebelum melanjutkan pemeriksaan.
DAFTAR PUSTAKA
XSarwono P. Buku ajar ilmu kandungan. Editor: Trijatmo R. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2016
Iskandar, I.-. (2021). Karakteritik Pasien Ginekologi di RSU Cut Meutia Aceh Utara Selama Pandemi Covid-19 Tahun 2020. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 21(3), 298–
305. https://doi.org/10.24815/jks.v21i3.22197
POGI. Buku acuan ultrasonografi obstetri ginekologi dasar: Jakarta; 2013