• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Ulama terhadap Etika Politik Islam

N/A
N/A
Adila Nurhaliza (Dila)

Academic year: 2025

Membagikan "Pemikiran Ulama terhadap Etika Politik Islam"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pemikiran Ulama Terhadap Etika Politik Islam

Para ulama memainkan peran penting dalam merumuskan prinsip-prinsip etika politik yang tidak hanya berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Hadis, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan tantangan zaman masing-masing. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai moral, hukum syariah, dan filsafat, pandangan para ulama ini memberikan landasan etis yang mendalam bagi penyelenggaraan politik yang adil, bermartabat, dan sesuai dengan tujuan syariah (maqasid al-shariah).

1. Al-Mawardi

Al-Mawardi selalu mendasarkan pemikiran politiknya pada prinsip-prinsip Islam sesuai dengan keahliannya. Pemikirannya menjadi kontribusi penting yang hingga kini bisa dijadikan referensi dalam politik.

Al-Mawardi berpendapat bahwa politik dan agama saling terkait, dan pembentukan negara memerlukan kerja sama antar manusia sebagai makhluk sosial. Menurutnya, manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain, sehingga mereka hidup dalam keberagaman dan bergotong royong untuk membangun negara.

Dalam pemikiran Al-Mawardi, terbentuknya sebuah negara itu memiliki enam sendi utama.

Pertama adalah Agama. Agama sangat berperan penting dalam kehidupan manusia bermasyarakat, agama mampu menaikkan semangat untuk membangun dalam melestarikan alam. Fungsi dari agama ialah mengontrol tingkah laku manusia serta hawa nafsunya, sehingga agama dapat menjadi dasar atau acuan dalam mensejahterahkan manusia.1

Sendi kedua adalah Pemimpin Yang Berkharisma. Dalam karyanya, Al-Ahkam As- Sultaniyyah, Al-Mawardi menekankan pentingnya seorang pemimpin yang adil dan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Ia menganggap bahwa kekuasaan merupakan amanah dari Allah, sehingga pemimpin harus menegakkan keadilan dan menghindari

1 Sarifuddin, "Konsep Etika Politik Al Mawardi Dan Penerapannya Pada Masa Pemerintahan Jokowi (2019-Sekarang)," Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2020, hlm.

59

(2)

tindakan yang merugikan rakyat. Al-Mawardi juga menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki sifat-sifat tertentu seperti adil, berpengetahuan, dan memiliki kapasitas untuk memimpin dengan bijaksana serta melindungi agama dan umat Islam secara keseluruhan.2

Sendi ketiga Keadilan Bersifat Universal. Salah satu syarat menciptakan negara yang damai dan rukun setiap warga negara, pemimpin harus mampu bersikap berkeadilan yang tidak membeda-bedakan suatu kalangan di masyarakat, hingga rakyat dapat menciptakan rasa menghormati terhadap pemimpin.

Sendi keempat Keamanan Yang Kuat. Dengan adanya keamanan yang kuat, dapat memberikan rasa aman bagi orang-orang yang lemah dan mampu mendongkrak jiwa yang kreatif dalam membangun bangsa. Ketika rakyat merasa aman, maka akan semakin taat terhadap seorang pemimpin.

Sendi kelima Kesuburan Tanah. Kebutuhan sandang dan pangan negara sangat bergantung pada tingkat kesuburan tanah, hal ini merupakan syarat kesejahteraan rakyat sehingga dapat hidup yang layak dan tingkat konflik antar masyarakat berkurang. Dan sendi yang terakhir keenam adalah Harapan. Generasi mendatang adalah pewaris dari generasi terdahulu. Harapan bagi generasi saat ini dan dan berikutnya begitu bergantung pada pengaturan negara dari sendi-sendi sebelumnya secara sistematis.3

2. Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa meskipun mengatur urusan masyarakat adalah kewajiban penting dalam agama, agama tetap bisa bertahan tanpa adanya negara. Jadi, dia menolak gagasan ijma (kesepakatan ulama) sebagai dasar kewajiban untuk membentuk pemerintahan. Berbeda dengan pemikiran al-Mawardi yang lebih teologis, Ibnu Taimiyah mendekati isu ini dengan perspektif sosiologis. Dia berargumen bahwa kesejahteraan manusia hanya dapat tercapai jika ada tatanan sosial di mana setiap orang saling bergantung. Karena itu, diperlukan seorang pemimpin untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat. 4

2 Al-Mawardi, *Al-Ahkam As-Sultaniyyah*, terj. oleh Wahbah Zuhaili (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1996).

3 Sarifuddin, "Konsep Etika Politik Al Mawardi Dan Penerapannya Pada Masa Pemerintahan Jokowi (2019- Sekarang)," Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2020, hlm. 59

4 Mummad Iqbal & Amin Husein nasution, Pemikiran Politik Islam : Dari masa klasik hingga Indonesia Komtemporer, (Jakarta, Kencana, 2010). Hal. 33

(3)

Mengurus kepentingan umat manusia merupakan salah satu kewajiban agama yang sangat penting. Bahkan, agama tidak dapat ditegakkan dengan baik tanpa adanya pengaturan tersebut. Oleh karena itu, manusia tidak akan bisa mencapai kesejahteraan yang sempurna tanpa adanya interaksi sosial, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain.

5

Pengangkatan pejabat untuk mengurus urusan kaum Muslim merupakan hal yang wajib dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu adanya proses seleksi yang sangat ketat untuk memilih orang-orang yang benar-benar layak (al-mustahiqqin) menduduki jabatan tersebut.

Pejabat-pejabat ini nantinya akan menjadi perwakilan atau deputi (nuwwab) di berbagai kota (amshar), serta gubernur (umara’) yang akan mewakili kepala pemerintahan (dzawi as- sulthan) di wilayah masing-masing.

Dalam Siyasah Syar’iyyah, ia menekankan bahwa kekuasaan politik adalah alat untuk mencapai kebaikan dan mencegah keburukan dalam masyarakat. Menurut Ibnu Taimiyah, pemimpin harus bertindak sesuai dengan syariat dan berperan sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai tiran yang hanya mementingkan kekuasaan.

3. Al-Farabi

Pemikiran Al-Farabi mengenai etika politik dalam Islam sangat dipengaruhi oleh gagasan filsafat Yunani, khususnya Plato dan Aristoteles, namun disesuaikan dengan ajaran Islam dan konteks masyarakat Muslim. Bagi Al-Farabi, tujuan utama dari politik adalah mencapai kebahagiaan tertinggi (sa‘adah), baik di dunia maupun di akhirat, yang hanya dapat diperoleh jika masyarakat hidup dalam keteraturan dan harmoni sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan kebajikan.6

Al-Farabi membayangkan negara ideal sebagai negara yang menyerupai "Kota Utama" (al-Madinah al-Fadhilah), di mana setiap warga memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas dan masing-masing mengarah kepada kebaikan bersama. Menurutnya, untuk menciptakan negara yang baik, masyarakat harus dipimpin oleh seorang pemimpin

5 Ibnu taimiyah, Kebijakan Politik Nabi SAW, terj. Muhammad Munawir al-Zahidi, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997), hal. 158

6 Al-Farabi, The Political Regime, ed. Fauzi Najjar (Cambridge: Islamic Texts Society, 1998), hlm. 42-43.

(4)

yang sempurna (al-Imam al-Kamil) yang tidak hanya memiliki pengetahuan praktis tentang administrasi dan tata kelola negara, tetapi juga kebijaksanaan filsafat dan pemahaman mendalam tentang kebenaran yang hakiki. Al-Farabi berpendapat bahwa pemimpin ideal adalah filsuf-rasul yang mampu menjembatani antara dunia fisik dan dunia spiritual, dan yang dapat mengarahkan masyarakat kepada kebahagiaan kolektif melalui hukum-hukum yang etis dan bermakna.7

Dalam konsepnya, Al-Farabi membagi struktur masyarakat dalam negara menjadi beberapa kelas atau tingkatan, yang masing-masing memiliki peran tertentu. Masyarakat yang ideal terdiri dari kelas-kelas yang mencerminkan struktur jiwa manusia, yaitu jiwa yang memiliki tiga bagian: akal, kemauan, dan keinginan. Berdasarkan ini, pemimpin dan para filsuf menempati puncak struktur karena mereka dianggap sebagai bagian "akal"

negara yang memahami kebenaran dan nilai-nilai tertinggi. Di bawahnya, ada prajurit dan orang-orang yang bertugas mempertahankan negara, mencerminkan "kemauan" yang kuat dalam jiwa manusia. Sementara itu, masyarakat biasa, yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar negara, mencerminkan "keinginan.". 8Dengan membagi masyarakat ke dalam peran-peran tertentu ini, Al-Farabi menekankan bahwa harmoni sosial dapat dicapai jika setiap orang bekerja sesuai dengan kemampuannya dan mematuhi aturan serta etika yang sudah ditentukan.9

Al-Farabi juga mengaitkan pentingnya pendidikan dalam membangun etika politik dan negara yang baik. Pendidikan dianggap sebagai sarana utama untuk menanamkan nilai-nilai moral dan kebajikan di dalam masyarakat, agar setiap individu dapat mengembangkan potensi maksimalnya dan memberikan kontribusi yang positif bagi negara. Ia menekankan bahwa pemimpin yang ideal harus memastikan bahwa pendidikan diarahkan untuk mengembangkan karakter dan budi pekerti rakyat, bukan sekadar keterampilan teknis atau praktis. 10Dengan demikian, tujuan politik menurut Al-Farabi bukan hanya menciptakan negara yang kuat secara fisik, tetapi juga masyarakat yang beradab, bijaksana, dan berkeadilan.

7 Fauzi, H. "Political Ethics in Al-Farabi's Thought," Journal of Islamic Ethics, vol. 4, no. 1 (2020), hlm.

56-58.

8 Mahdi, M. "Al-Farabi’s Philosophy of Political and Religious Authority," Islamic Studies, vol. 45, no. 2 (2015), hlm. 35-37.

9 Butterworth, C. E. Al-Farabi: The Political Writings (New York: Cornell University Press, 2001), hlm.

76-78.

10 Netton, I. R. Al-Farabi and His School (London: Routledge, 1992), hlm. 101-102.

(5)

Secara lebih luas, Al-Farabi melihat politik sebagai cerminan dari prinsip-prinsip etika individu. Ia percaya bahwa kebahagiaan kolektif hanya dapat dicapai jika setiap individu dalam masyarakat memiliki etika yang baik, yang memungkinkan mereka untuk berperilaku adil, sabar, dan berusaha untuk mencapai kebaikan bersama. 11Dalam hal ini, etika politik tidak terpisah dari etika pribadi, melainkan saling berhubungan erat, karena masyarakat yang baik terdiri dari individu-individu yang baik pula. Sebagai tambahan, pemimpin yang bijaksana menurut Al-Farabi harus mampu memanfaatkan pengetahuan metafisik untuk memahami asal-usul dan tujuan hidup manusia, dan dengan itu memimpin masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip yang lebih dalam daripada sekadar hukum duniawi.

12

Pemikiran politik Al-Farabi ini memiliki dampak yang signifikan pada pemikiran politik Islam klasik, terutama dalam gagasannya tentang hubungan antara agama dan politik. Bagi Al-Farabi, seorang pemimpin tidak hanya harus menguasai ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama, karena tujuan politik dalam Islam tidak hanya untuk mencapai kemakmuran di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat. Negara ideal Al-Farabi pada akhirnya menjadi model yang menginspirasi konsep negara teokratis atau religius, di mana pemimpin adalah figur yang tidak hanya memiliki legitimasi politis tetapi juga otoritas moral dan spiritual.13

11 De Cillis, M. Free Will and Predestination in Islamic Thought (London: Routledge, 2014), hlm. 119-120.

12 Parens, J. "The Metaphysical Basis of Ethics in Al-Farabi's Political Thought," American Catholic Philosophical Quarterly, vol. 66, no. 4 (1992), hlm. 537-539.

13 Rida, R. "The Influence of Al-Farabi on Islamic Political Thought," Arabica, vol. 20, no. 3 (1973), hlm.

243-245.

Referensi

Dokumen terkait

Dan tujuan dari dakwah itu sendiri bisa terwujud untuk mencapai terbentuknya masyarakat Islami, yang pada akhirnya mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (Munir

Tawazun : menyeimbangkan antara pendidikan ruhiyah dan madiyah, individu dan sosial, kebahagiaan dunia dan akhirat, idialis dan pragmatis; berdasar pada ajaran

tujuan pemberian bantuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat dalam bimbingan konseling islam dengan menggunakan terapi realitas yang dilakukan dengan

Pendidikan Islam tradisional selalu menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting.Namun,

Menurut Al-Ghazali, bahwa ilmu pengetahuan itu dasar dari segala kebahagiaan di dunia sekarang maupun di dunia yang akan datang (akhirat). Sementara itu kebahagiaan

Menurut Al-Ghazali, bahwa ilmu pengetahuan itu dasar dari segala kebahagiaan di dunia sekarang maupun di dunia yang akan datang (akhirat). Sementara itu kebahagiaan

Manusia menurut Al-Ghazali hidup di dunia ini mempunyai tujuan yang jelas yaitu tercapainya kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat, sedangkan tujuan

Untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dengan memperhatikan kebahagiaan hidup di dunia dalam tatanan masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi ALLAH SWT, dan dengan keyakinan bahwa