PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN BENIH TANAMAN PANGAN KACANG HIJAU
Disusun oleh:
Mochammad A.U Nur Rofiq (21.31.024403)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA
TAHUN 2023 M/1444 H
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Rahmat dan Hidayah- Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN BENIH TANAMAN PANGAN KACANG HIJAU”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknologi Benih yang diampu oleh Ibu Pienyani Rosawanti, S.P., M.Si.
Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penulisan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Akhir kata mudah – mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Palangka Raya, 18 November 2023
Tim Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
1. PENDAHULUAN ... 1
2. PEMANEN ... 2
2.1. Panen Dan Pasca Panen Kacang Hijau ... 2
2.2. Panen ... 3
3. KEGIATAN PERSIAPAN BENIH (PEMILIHAN, PENGERINGAN, SORTASI, PENGEMASAN, PENYIMPANAN BENIH, MEMILIH BENIH YANG BAIK DAN BENAR) ... 5
1.1.1 Pengeringan Polong ... 5
2.1.1 Perontokan Biji (Pembijian) ... 6
3.1.1 Pembersihan kotoran ... 8
4.1.1 Pengeringan biji kacang hijau... 8
5.1.1 Pengemasan biji kacang hijau... 9
6.1.1 Penyimpanan biji kacang hijau ... 10
4. KESIMPULAN ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 14
1
1. PENDAHULUAN
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu tanaman pangan penting di Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Penanganan panen dan pascapanen benih kacang hijau memegang peranan penting dalam memastikan kualitas dan kuantitas hasil panen yang optimal. Proses penanganan panen dan pascapanen benih kacang hijau mencakup berbagai aspek, mulai dari teknik panen yang tepat hingga penyimpanan benih yang baik untuk mempertahankan kualitasnya.
Beberapa kegiatan penanganan dan pengelolaan lepas panen sangat diperlukan secara lebih hati- hati, misalnya dalam pengeringan, penyortiran, pengolahan hasil, penyiapan hasil agar mudah diperdagangkan, penyiapan hasil dalam wadah dan tempat yang memenuhi persyaratan agar tidak rusak mutunya. Tujuan dari penanganan dan pengelolaan lepas panen adalah agar hasil tanaman yang telah dipungut tetap dalam keadaan baik mutunya dan agar hasil tanaman dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Dalam konteks kacang hijau, penanganan panen dan pascapanen benih kacang hijau mencakup berbagai aspek, seperti teknik panen yang tepat, pengeringan, pemilahan, dan penyimpanan benih. Beberapa kendala yang dihadapi dalam penanganan pasca panen kacang hijau, terutama dalam proses penyimpanan, perlu diatasi untuk meminimalkan kerusakan dan mempertahankan kualitas benih kacang hijau. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengembangan teknologi penanganan panen dan pascapanen benih kacang hijau yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas benih, serta mendukung keberlanjutan produksi tanaman pangan kacang hijau di Indonesia.
2
2. PEMANEN
2.1. Panen Dan Pasca Panen Kacang Hijau
Setelah proses penanaman dan pemeliharaan kacang hijau tahap selanjutnya adalah panen dan pasca panen. Pasca panen adalah berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada ditangan konsumen. Penanganan pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat untuk dapat segera di konsumsi atau untuk bahan baku pengolahan.
Penanganan pasca panen umumnya dikonsumsi segar dan mudah “rusak” bertujuan untuk mempertahankan kondisi segarnya dan mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki selama penyimpanan, seperti pertumbuhan tunas, pertumbuhan akar, batang bengkok, buah keriput,
3
polong alot, ubi berwarna hijau, terlalu matang , dan lainnya. Keuntungan melakukan penanganan pasca panen yang baik.
a) Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak
b) lebih murah melakukan penanganan pasca ( misal dengan penanganan yang hati-hati, pengemasan) dibandingka peningkatan produksi yang membutuhkan input tambahan ( misal pestisida, pupuk ,dll).
c) Waktu yang diperlukan lebih singkat (pengaruh perlakuan untuk peningkatan produksi baru terlihat 1-3 bulan kemudian. Yaitu saat panen; pengaruh penanganan pasca panen dapat terlihat 1-7 hari setelah perlakuan)
d) Dapat mencegah kehilangan nutrisi; berarti perbaikan nutrisi bagi masyarakat.1 2.2. Panen
Penentuan waktu dan cara panen menjadi snagat penting diperhatikan. Tanpa memperhatikan kedua hal tersebut maka hasil yang akan diperolah tidak akan maksimal. Untuk itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penentuan waktu dan cara panen kacang hijau yang baik sebagai berikut:
a. Ciri umur panen :
Penentuan panen sangat penting, agar tidak terlambat biji berceceran dilapangan. Umur tanaman kacang hijau untuk dapat dipanen tergantung dari varietasnya. Untuk varietas ganjah sekitar 58,65 hari, sedangkan varietas berumur panjang sekitar 100 hari.
Adapun ciri-ciri tanaman kacang hijau yang dapat dipanen sebagai berikut :
1 Duochaveryus, Muh. Ikbal, and Abdul Rahman Kasim, “Pengembangan Desain Konstruksi Mesin Pemisah Kulit Polong Kacang Hijau,” 2021, 1–95.
4
a) Panen dilakukan bila polong telah kering dan mudah pecah, berwarna coklat sampa hitam, tergantung varietas yang ditanam
b) Panen sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari, untuk menghindari pecahnya polong c) Sebelum dikupas, polong telah dipanen di jemur dilantai penjemuran, di saat cuaca panas.
d) Pada waktu penjemuran usahakan supaya varietas yang satu tidak tercampur dengan varietas yang lan.
e) Setelah kering, polong dikupas dengan cara memasukan kedalam karung lalu di tebah (di pukul-pukul).
f) Setelah terlepas dari polong, biji ditampi untuk memisahkan dari kulit dan kotoran lainnya Biji yang sudah bersih dijemur lagi sampai kering, kemudian baru disimpan.
a. Cara panen
Polong kacang hijau di petik satu per satu dengan menggunakan tangan. Untuk varietas yang polongnya maatang secara serempak, pemungutan hasil dapat di lakukan dengan pemotongan tangkai polong. Alat yang di gunakan berupa pisau atau sabit yang tajam. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk menghindari pecah polong saat panen. Polong hasil panen dikumpulkan dan segera dimaukan kedalam tempat yang tidak berlubang (karung atau keranjang yang rapat anyamannya).
b. Pariode panen
Panen polong dari beberapa varietas kacang hijau masuk serempak dapat dilakukan satu kali. Namun, untuk beberapa varietas lainnya, panen dilakukan antara 2-3 kali.2
2 Nanang Dwi Wahyono and Sri Rahayu, “APLIKASI PUPUK BIOURINE PADA BEBERAPA VARITAS
KACANG HIJAU (Vigna Radiata L) TERHADAP PRODUKSI KACANG HIJAU,” Jurnal Ilmiah Inovasi 14, no. 1 (2016): 110–16, https://doi.org/10.25047/jii.v14i1.93.
5
3. KEGIATAN PERSIAPAN BENIH (PEMILIHAN, PENGERINGAN, SORTASI, PENGEMASAN, PENYIMPANAN BENIH, MEMILIH BENIH YANG BAIK DAN BENAR)
3.1. Penanganan pasca panen kacang hijau 1.1.1 Pengeringan Polong
Pengeringan polong kacang hijau harus segera dilakukan selesai pemanenan. Sebab, penundaan pengeringan akan menurunkan kualitas biji,meningkatkan butir rusak, dan penurunan berat kering biji.Di samping itu, juga untuk memudahkan proses pembijian atau perontokan biji (Rukmana. 1997).
6
Cara pengeringan polong kacang hijau dapat dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari, atau dengan alat pengering. Pengeringan dengan caradijemur, yaitu: Polong dihamparkan dilantai penjemuran dari semen atau dihamparkan pada alas anyaman bambu. Hal ini untuk menghindari kacang hijau bercampur dengan tanah atau kerikil. Penjemuran selama 2-3 hari pada saat cuaca cerah, biasanya polong telah kering dan mudah dibijikan (Cahyono.2010).3
2.1.1 Perontokan Biji (Pembijian)
Perontokan biji atau pembijian kacang hijau dapat dilakukan dengan cara-carasebagai berikut: Perontokan kacang hijau dengan cara tradisional adalah polong yang telah kering ditumpuk atau dimasukkan ke dalam karung goni, lalu dipukul-pukul dengan Menggunakan geblok atau gebug yang terbuat dari kayu sampai polong hancur.Selanjutnya kulit polong dipisahkan dari biji-
3 Bambang Cahyono, “Kacang Hijau(Teknik Budi Daya Dan Analisis Usaha Tani),” 2010, 1–122.
7
biji kacang hijau dengan cara ditampimenggunakan nyiru (jawa: tampah). Biji-biji yang busuk dan cacat, kerikil, dantanah juga harus dipisahkan (dibuang) (Cahyono.2010).
Perontokan kacang hijau secara tradisional tidak menguntungkan karenam memiliki banyak kelemahan, antara lain: kehilangan hasil tinggi, mutu fisik bijimenjadi rendah (banyak biji patah/rusak), tenaga kerja yang diperlukan banyak,memerlukan waktu lama, dan biaya tinggi.
Perontokan kacang hijau dengan pedal dapat dilakukan dengan pedalinjak dan pedal kontinyu. Perontokan kacang hijau dengan pedal memberikan hasilyang lebih baik dari perontokan secara tradisional, baik ditinjau dari kapasitas kerjadan mutu fisik biji kacang hijau. Akan tetapi kehilangan hasil dengan cara perontokan pedal tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan perontokan secaratradisional. Kapasitas kerja alat perontok pedal lebih tinggi dari pada alat perontok tradisional. Astuti,dkk. 1994, melaporkan kapasitas kerja perontok pedal injak adalah 11,60 kg/jam/orang dan perontok pedal kontinyu adalah 11,00 kg/jam/orang.
Perontokan kacang hijau dengan menggunakan mesin dapat mempertahankan mutu kacang hijau, kehilangan hasil rendah, tenaga kerja yang di perlukan sedikit, menghemat waktu, menghemat biaya, dan dapat meningkatkan produktifitas petani. (cahyono. 2010).
Mesin perontok kacang hijau memiliki kapasitas prontok bervariasi, dari yang rendah (17,42 kg/jam) sampai dengan tinggi (80,40 kg/jam). Dengan menggunakan mesin perontok kacang hijau berkapasitas perontok 80,40 kg/jam/orang akan menghasilkan biji utuh 98% atau biji rusak 2% dan persenta sektoran 6,5%. Alat (mesin) perontok kacang hijau yang di paka ini juga bisa digunakan untuk merontok padi.
Cara melakukan perontokan kacang hijau dengan mesin perontok menurt cahyono (2010).
8
1) Polong kacang hijau yang sudah dikeringkan dibasahi dengan disiram air secukupnya terlebih dahulu. Tujuannya untuk mencegah biji-biji pada saat dirontok tidak pecah.
2) Disiapkan ember penampung biji kacang hijau, lalu ember di letakan dibawah saluran pengeluaran biji kacang hijau hasil dirontok
3) Polong kacang hijau yang telah dibasahi dimasukan kedalam corong penampungan
4) Roda diputar (mesin di hidupkan), maka kacang polong hijau akan dikupas dan biji kacang hijau kupasan akan keluar melaluli saluran pengeluaran biji.4
3.1.1 Pembersihan kotoran
Selesai perontokan biji, selanjutnya dilakukan pemberisihan biji dari kotoran. Pembersihan kotoran bertujuan untuk membersihkan biji dari kotoran (kulit polong, kerikil, dan lainnya sebagainya). Meningkatkan daya simpan biji, dan meningkatkan kualita biji. Cara pemberian kotoran menurut cahyono (2010) sebagai perontokan biji dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a) Ditampi, yatu biji kacang hijau yang bercampur dengan kotoran dimasukan dalam wadah (jawat tampah) kemudian tampah digerakan naik tirin hingga biji terpisah dari kotoran, lalu kotoran diambil dan dibuang.
b) Menggunakan kipas (blower), yaitu biji kacang hijau yang bercampur dengan kotoran dihembus oleh kipas hingga kotoran-kotoran ringan akan terhempas dan terpisah.
c) Menggunakan mesin pembersih (mesin penampi) yaitu kombinasi ayakan dengan blower.
4.1.1 Pengeringan biji kacang hijau
4 Lady C. Ch. E. Lengkey Reyfhel H. F. Tagah, Dedie Tooy, “Tipe Ayakan Dipasangkan Pada Mesin Perontok Kedelai Mpt001,” Cocos 6 (2021).
9
Selesai perontokan biji, biji kacang hijau harus segera dikeringkan lagi hingga kadar air biji dibawah 12% (sekitar 10%). Biji kacang hijau yang baru dirontok umumnya kadar airnya masih tinggi. Sehingga dengan demikian apabila biji yang baru dirontok tidak di keringkan lagi akan mudah busuk dan mudah terserang hama gudang. Pengeringan biji kacang hijau dapat dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan mesin pengering (cahyono,2010).
Pengeringan biji dengan cara dijemur adalah sebagai berikut: biji kacang hijau dihamparkan pada lantai jemur yang telah diberi alas palstik tenda atau terpal atau biji kacang hijau diletakan pada nyiru (jawa:tampah) yang ditata dilantai jemur. Penjemura selama 3-4 hari pada saat cuaca biasanya biji telah keringat dengan kadar air berkisar antara 8-12%.5
5.1.1 Pengemasan biji kacang hijau
Biji kacang hijau yang telah kering dengan kadar air sekitar 10-12% dapat dikemas ke dalam karung goni, kantong plastik, kaleng (blek), dan karung plastik.
Pengemasan kacang hijau dapat dilakukan secara tersendiri dalam satu macam kantong, misalnya hanya menggunakan karung goni, atau kantor plastik saja ataupun pengemasan dengan menggunakan pengemas kantong plastik polyethylene yang dirangkap dengan karung goni.
Apabila biji kacang hijau akan segera dijual maka biji-biji kacang hijau cukup dikemas dalam karung goni, karung plastik, atau kantong plastik polyethylene yang dirangkap dengan karung goni (cahyono,2010).
5 Sudana Fatahillah Pasaribu, Herviana Herviana, and Wanda Lestari, “Effect of Drying on the Yield and Sensory of Germinated Mung Bean Flour (Vigna Radiata L),” Darussalam Nutrition Journal 7, no. 1 (2023): 1–8,
https://doi.org/10.21111/dnj.v7i1.9768.
10
Cara mengemas biji kacang hijau adalah sebaga berikut : biji kacang hijau dimasukan ke dalam kantong pengemasan sebanyak 20-50 kg. Kemudian kantong pengemas ditutup dengan sistem rapat udara (dijahit atau diikat dengan kuat). Apabila pengemasan dengan kantong rangkap caranya, adalah biji dimasukan ke dalam kantong plastik polythylene sebanyak 50 kg, kemudian dimasukan ke dalam karung goni, kantong plastik polythylene di tuutp dengan sistem rapat udara sedangkan karng goni dijahit yang rapat dan rapi.6
6.1.1 Penyimpanan biji kacang hijau
Didalam kegiatan meyimpan biji kacang hijau banyak hak yang harus diperhatikan agar biji kacang hijau tidak lekas rusak, antara lain adalah ruang penyimpanan, kelembaban udara, dan penyusunan kemasan di dalam ruang penyimpanan (gudang) (cahyono, 2010).
Ruangan penyimpanan atau gudang penyimpanan harus memiliki ventilasi yang baik dan tersedia sarana penerangan yang memadai. Sehingga dengan demikian kelembaban udara yang tinggi dapat dicegah dan udara di dalam gudang tetap kering. Kelembaban udara yang tinggi di dalam gudang akan meningkatkan kadar biji kedele yang disimpang dan biji dapat terserang jamur dan hama gudang (cahyono,2010).
Penataan kemasan di dalam gudang penyimpanan harus ditata dengan baik dan teratur diatas papan kayu (berupa panggung) dan kemasan tidak menyentuh dinding agar aliran udara dapat berjalan baik ddan udara lembab dari lantai dan dinding tidak dapat mencapai kantong. Di dalam gudang juga harus disediakan jalan untuk keluar masuk pekerja.
6 Wahyuningsih Sri, “Daya Tumbuh Benih Kacang Hijau Dalam Berbagai Wadah Penyimpanan,” Prosiding Semnas Pertanian 2016, 2016, 140–46, http://digital.library.ump.ac.id/585/%0Ahttp://digital.library.ump.ac.id/585/1/Cover dan Daftar Isi.pdf.
11
Penyimpanan yang dilakukan lama (lebih dari 2 bulan), maka selama penyimpanan harus dilakukan penjemuran ulang setiap 2 bulan sekali, sehingga kadar biji kacang hijau mencapai 10- 12% kembali. Hal ini karena di indonesia umumnya kelembaban udara di gudang berkisaran 80- 90% sehingga biji kacang hijau yang telah disimpan lama kadar air biji akan meningkat lebih dari 12%. Pada suhu ruangan 25% dengan kelembaban 90%, kadar air biji akan meningkat menjadi 18,8% apabila biji dikemas pada wadah yang tidak kedap udara. Dengan mempertahankan kadar air biji 10-12% selama penyimpanan dapat mencegah biji diserang cendawan dan hama gudang.
Apabila paket teknologi penyimpanan diterapkan secara tepat dan benar, maka daya simpan biji kacang hijau dapat mencapai 1 tahun lebih (cahyono, 2010).
Biji kacang hijau telah disimoan lama dan kadar air biji telah meningkat di atas 14% mudah diserang hama bubuk (bruchus sp). Hama tersebut berpa kumbang kecil berwarna hitam yang memakan biji-bijian kacang hijau. Untuk mengendalikan dan mencegah hama gudang ini dapat dilakukan dengan inseksida, pembersihan gudang, biji yang rusak harus segera dibuang.7
7 Abdillah Muhammad, Setyastuti Purwanti, and SupriyantaDaya Simpan Benih Kacang Hijau ( Vigna radiata (L.) R.
Wilczek) Hasil Tumpangsari dengan Jagung Manis ( Zea mays L. saccharata) dalam Barisan, “Daya Simpan Benih Kacang Hijau ( Vigna Radiata (L.) R. Wilczek) Hasil Tumpangsari Dengan Jagung Manis ( Zea Mays L. Saccharata) Dalam Barisan,” Vegetalika 5, no. 1 (2017): 1–12.
12
4. KESIMPULAN Panen dan Pasca Panen:
Penanganan pasca panen memiliki peran krusial dalam menjaga kualitas hasil pertanian setelah panen hingga sampai ke tangan konsumen.
1) Proses ini membantu menjaga kesegaran produk dan mencegah perubahan yang tidak diinginkan selama penyimpanan.
2) Langkah-langkah pasca panen seperti pengeringan, perontokan biji, pembersihan, pengemasan, dan penyimpanan merupakan tahapan penting untuk menjaga kualitas biji kacang hijau.
Proses Panen:
1) Waktu panen harus dipertimbangkan dengan matang. Polong kacang hijau biasanya dipanen saat sudah kering, berwarna coklat sampai hitam, dan mudah pecah, tergantung pada varietasnya.
2) Penjemuran polong setelah panen menjadi langkah penting sebelum proses pembijian atau perontokan biji.
Persiapan Benih:
13
1) Proses pengeringan, perontokan biji, pembersihan kotoran, pengeringan kembali, pengemasan, dan penyimpanan biji memiliki peran besar dalam mempertahankan kualitas benih.
2) Pengeringan setelah perontokan sangat penting untuk mengurangi kadar air biji dan mencegah kerusakan serta serangan hama selama penyimpanan.
3) Penyimpanan yang tepat, dengan kelembaban yang terkontrol dan ventilasi
yang baik, memungkinkan biji kacang hijau untuk tetap berkualitas.
14
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Cahyono. “Kacang Hijau(Teknik Budi Daya Dan Analisis Usaha Tani),” 2010, 1–122.
Duochaveryus, Muh. Ikbal, and Abdul Rahman Kasim. “Pengembangan Desain Konstruksi Mesin Pemisah Kulit Polong Kacang Hijau,” 2021, 1–95.
Muhammad, Abdillah, Setyastuti Purwanti, and SupriyantaDaya Simpan Benih Kacang Hijau ( Vigna radiata (L.) R. Wilczek) Hasil Tumpangsari dengan Jagung Manis ( Zea mays L.
saccharata) dalam Barisan. “Daya Simpan Benih Kacang Hijau ( Vigna Radiata (L.) R.
Wilczek) Hasil Tumpangsari Dengan Jagung Manis ( Zea Mays L. Saccharata) Dalam Barisan.” Vegetalika 5, no. 1 (2017): 1–12.
Pasaribu, Sudana Fatahillah, Herviana Herviana, and Wanda Lestari. “Effect of Drying on the Yield and Sensory of Germinated Mung Bean Flour (Vigna Radiata L).” Darussalam Nutrition Journal 7, no. 1 (2023): 1–8. https://doi.org/10.21111/dnj.v7i1.9768.
Reyfhel H. F. Tagah, Dedie Tooy, Lady C. Ch. E. Lengkey. “Tipe Ayakan Dipasangkan Pada Mesin Perontok Kedelai Mpt001.” Cocos 6 (2021).
Sri, Wahyuningsih. “Daya Tumbuh Benih Kacang Hijau Dalam Berbagai Wadah Penyimpanan.”
Prosiding Semnas Pertanian 2016, 2016, 140–46.
http://digital.library.ump.ac.id/585/%0Ahttp://digital.library.ump.ac.id/585/1/Cover dan Daftar Isi.pdf.
Wahyono, Nanang Dwi, and Sri Rahayu. “APLIKASI PUPUK BIOURINE PADA BEBERAPA VARITAS KACANG HIJAU (Vigna Radiata L) TERHADAP PRODUKSI KACANG HIJAU.” Jurnal Ilmiah Inovasi 14, no. 1 (2016): 110–16.
https://doi.org/10.25047/jii.v14i1.93.