• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan tentang Peran dan Tantangan Pendidikan dalam Pembangunan Bangsa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pendahuluan tentang Peran dan Tantangan Pendidikan dalam Pembangunan Bangsa"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) berorientasi HOTS terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) berorientasi HOTS terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan.

Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Model pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah model pengajaran yang membimbing siswa untuk mengerjakan masalah otentik dengan tujuan menyusun pengetahuannya, mengembangkan penelitian dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri Santock (2004). Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah menekankan pada keaktifan siswa sehingga pembelajaran ini.

Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah ( PBL ) Karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut

Inkuiri Otentik PBL mengharuskan siswa untuk melakukan inkuiri autentik yang berupaya menemukan solusi nyata terhadap permasalahan nyata, dalam hal ini siswa harus terlebih dahulu merumuskan masalah, kemudian membuat hipotesis dan mengembangkan prediksi, serta mengumpulkan berbagai informasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Ada beberapa langkah penerapan model PBL, antara lain:.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah ( PBL ) Ada beberapa langkah penerapan model PBL diantaranya adalah

Mengajukan pertanyaan atau permasalahan PBL tidak hanya menyelenggarakan keterampilan akademis tertentu, tetapi juga menyelenggarakan pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan pribadi siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa di dunia nyata tidak dapat diberikan jawaban yang sederhana, dan tidak menutup kemungkinan mempunyai banyak solusi untuk menyelesaikannya. Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas pembelajaran yang berkaitan dengan masalah yang telah diatasi pada tahap sebelumnya.

Fase 4. Membahas danmengevaluasi hasil Guru membimbing diskusi tentang

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)

Pengertian Pembelajaran Berorientasi HOTS

Keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang memerlukan pemikiran kritis, kreatif, analitis terhadap informasi dan data untuk memecahkan masalah (Barrat 2014). Berpikir kritis adalah proses intelektual dalam memahami konsep, menerapkan, menganalisis, mensintesis dan/atau mengevaluasi berbagai informasi yang diperoleh melalui observasi, pengalaman dan refleksi sebagai landasan tindakan (Walker: 2006).

Indikator HOTS

Berpikir tingkat tinggi merupakan suatu bentuk berpikir yang berupaya mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mengenai pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan yang tidak terdefinisi dengan jelas dan tidak mempunyai jawaban yang pasti (Haiq, 2014). Higher Order Thinking Skills (HOTS) dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu pengambilan keputusan, pemecahan masalah, berpikir kreatif, dan berpikir kritis. Pernyataan tersebut didukung oleh pernyataan Hassoubah (2007) yang menyatakan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan memberikan alasan secara terorganisir dan sistematis. Jadi dapat diartikan berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi secara terorganisir dan sistematis.

Salah satu indikator HOTS adalah berpikir reflektif. John Dewey mengemukakan pemikirannya tentang berpikir reflektif, yaitu suatu proses berpikir aktif secara cermat, yang didasarkan pada proses berpikir menuju kesimpulan akhir melalui lima langkah sebagai berikut: 1) siswa harus mengenali masalah, 2) siswa harus menyelidiki dan menganalisis kesulitan , dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi, 3) siswa menghubungkan uraian hasil analisis dan mengumpulkan berbagai kemungkinan untuk menemukan solusi dan langkah tindakan, 4) mengevaluasi kemungkinan solusi atau hipotesis dengan konsekuensinya masing-masing, 5) kemudian siswa mempraktikkan salah satu kemungkinan yang dinilai. solusi terbaik. Hasilnya akan membuktikan apakah pemecahan masalah tersebut benar atau tidak hingga diperoleh pemecahan masalah yang benar. Indikator HOTS yang terakhir adalah berpikir kritis, yaitu kemampuan berpikir untuk mencapai produk yang beragam dan baru.

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis 1. Pemecahan Masalah Matematika

  • Kemampuan Pemecahan Masalah

Implikasinya, kegiatan pemecahan masalah dapat mendukung pengembangan kemampuan matematika lainnya, seperti komunikasi dan penalaran matematika. Oleh karena itu penyelesaian masalah memerlukan kreativitas yang tinggi.Berbicara solusi matematika tidak lepas dari tokoh utama yaitu George Polya (Hartono, Yusuf. 2014). 2014) ada empat tahapan penting yang harus dilalui siswa dalam menyelesaikan masalah, yaitu memahami masalah, mengembangkan rencana solusi, melaksanakan rencana solusi dan memeriksa ulang.

Keterampilan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar secara logis. Pada dasarnya kemampuan berpikir logis, kritis dan kreatif merupakan keterampilan yang harus dimiliki dan dikembangkan siswa ketika belajar matematika. Hal ini sejalan dengan visi matematika, tujuan pendidikan nasional, dan tujuan pembelajaran matematika sekolah serta diperlukan untuk memenuhi suasana persaingan yang semakin kompetitif.

Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel(SPLDV)

Metode gabungan merupakan metode yang digunakan untuk menentukan himpunan penyelesaian suatu sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan dua metode sekaligus, yaitu metode eliminasi dan metode substitusi. Diberikan contoh persamaan linear satu variabel dan persamaan linear dua variabel, tentukan banyaknya variabel pada persamaan di bawah ini. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai permasalahan yang penyelesaiannya menggunakan konsep sistem persamaan linear dua variabel.

Sistem persamaan linear satu variabel mempunyai satu variabel dan hanya mempunyai pangkat satu, sedangkan sistem persamaan linear dua variabel mempunyai dua variabel dan kedua variabel mempunyai pangkat 1. Persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang hanya memuat satu variabel/variabel, dan pangkat tertinggi dari variabel tersebut adalah pangkat satu. Persamaan linier dua variabel adalah persamaan yang mempunyai dua variabel dan pangkat tertinggi dari variabel tersebut adalah satu.

PENELITIAN YANG RELEVAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar menurut model pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan alat peraga mencapai rata-rata 62,8, sedangkan nilai rata-rata tes kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah model dengan bantuan alat peraga gadget (menggunakan metode konvensional) memperoleh rata-rata sebesar 51,63 yang berarti selisih kedua kelas sebesar 10,55. Karena thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti terdapat pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan alat peraga terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa VII. kelas tentang garis dan sudut di SMP Negeri 16 Semarang tahun ajaran 2015/2016.Menurut model pembelajaran dan mata pelajaran dalam penelitian ini sama saja yaitu mata pelajaran matematika menurut model pembelajaran masalah. dengan bantuan alat peraga (menurut metode klasikal) diperoleh mean 51,63 yang berarti selisih kedua kelas adalah 10,55. Aniqotun Nairuzah, “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah yang Didukung Alat Peraga Terhadap Keterampilan Komunikasi Matematis Siswa Kelas VII Tentang Garis dan Sudut di SMP Negeri 16 Semarang Tahun Pelajaran Skripsi (Semarang: Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang, 2016) .

Penelitian ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan dilaksanakan di MI Darul Ulum Wates Ngaliyan. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Abdul Haris, mahasiswa Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Pra-Dasar dan Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah” terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran IPS Siswa IV. kelas di SD Negeri Blondo1 Magelang.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PBL (problem based learning) pada kemampuan pemecahan masalah IPS kelas IV. siswa SDN Pirang 1 Kab. Kedua, siswa dengan kemampuan HOTS tingkat rendah kurang mampu mengidentifikasi gagasan pokok, menganalisis argumen, dan mendemonstrasikan penerapan pengetahuannya untuk menjawab semua pertanyaan, sehingga memiliki kemampuan analisis yang buruk.

Gambar 12.Hasil Pengerjaan Soal Nomor 1 oleh Siswa S201
Gambar 12.Hasil Pengerjaan Soal Nomor 1 oleh Siswa S201

KERANGKA BERPIKIR

Model pembelajaran berbasis masalah ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika, dimana pemecahan masalah merupakan suatu model pengajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang harus diselesaikan berdasarkan data atau informasi yang tepat agar dapat mencapai suatu kesimpulan. Memiliki kemampuan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis siswa dengan cara menyikapi suatu permasalahan matematika dengan kemampuan berpikir logis siswa. Kemampuan berpikir logis dapat membantu siswa memecahkan masalah matematika dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

Jika langkah-langkah pemecahan masalah berjalan dengan baik, maka indikator kemampuan pemecahan masalah matematika dalam proses pembelajaran berjalan dengan baik, sehingga siswa lebih mudah dalam mengerjakan masalah matematika. Pada model pembelajaran berbasis masalah ini siswa diajak untuk berpikir tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan sehingga model pembelajaran berbasis masalah cukup berkaitan dengan penggunaan soal-soal HOTS yang cukup untuk melatih berpikir tingkat tinggi siswa. kemampuan memecahkan masalah matematika. Beberapa penelitian yang telah diteliti oleh peneliti mengenai dampak model pembelajaran berbasis masalah (PBL), terdapat kesamaan yang dilakukan oleh Muhammad Abdul Haris dengan penelitian ini dari segi model pembelajaran dan variabel terikatnya yaitu pembelajaran berbasis masalah. model (PBL) dan variabel terikatnya adalah kemampuan pemecahan masalah.

HIPOTESIS

Perbedaan penelitian ini terletak pada mata pelajarannya, mata pelajaran yang digunakan oleh Muhammad Abdul Haris adalah ilmu-ilmu sosial, sedangkan mata pelajaran yang digunakan peneliti adalah matematika. Oleh karena itu penelitian ini relevan dan dapat dijadikan referensi dalam penelitian ini. Fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah (1) Pembelajaran berfokus pada kemampuan pemecahan masalah matematika tentang keliling dan luas persegi dan persegi panjang, (2) Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah. tidak hanya dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah saja. Model ini juga berorientasi pada HOTS, dimana penelitian ini sebagai saran bagi penelitian selanjutnya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian serupa, baik dalam mengembangkan instrumen peningkatan keterampilan HOTS siswa, maupun dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan tersebut.

TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN a) Tempat penelitian

POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 1. Populasi Penelitian

VARIABEL PENELITIAN

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau merupakan akibat dari adanya variabel bebas. Variabel terikat dilambangkan dengan “Y”, sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah siswa.

JENIS DAN DESAIN PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

PROSEDUR PENELITIAN

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

UJI COBA INSTRUMEN

Jika ≥ 0,7 berarti tes hasil belajar yang diuji reliabilitasnya dinyatakan mempunyai reliabilitas tinggi. Arikunto menyatakan bahwa: “Daya pembeda suatu soal adalah kemampuan suatu soal dalam membedakan antara siswa pintar (berkemampuan tinggi) dan siswa bodoh (berkemampuan rendah. Jika ;< > ;< maka soal tersebut dapat dikatakan baik atau signifikan pertanyaan, anda dapat menggunakan tabel determinan statistik signifikan dengan dk = n-2 pada taraf nyata.

Sebaliknya soal yang terlalu sulit akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya.

TEKNIK PENGOLAHAN DATA

  • ANALISIS REGRESI
    • Persamaan Regresi Linier
    • UjiKelinieranRegresi
    • KoefisienDeterminasi
    • Koefisien Korelasi Pangkat

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL) HOTS dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. H0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL) HOTS dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Setelah uji prasyarat selesai, maka dapat dilanjutkan uji koefisien korelasi untuk mengetahui hubungan antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL) HOTS dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

H0 : Tidak terdapat hubungan yang kuat antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL) berorientasi HOTS dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Ha : Terdapat hubungan yang kuat antara model pembelajaran berbasis masalah (PBL) berorientasi HOTS dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Derajat hubungan yang mengukur korelasi pangkat disebut koefisien korelasi pangkat atau koefisien korelasi Spearman, yang disini akan diberi simbol r'.

Tabel 3.1 TabelAvana  SumberVarians  Db  JumlahKuadrat  Rata-rata
Tabel 3.1 TabelAvana SumberVarians Db JumlahKuadrat Rata-rata

Gambar

Gambar 13. Hasil Pengerjaan Soal Nomor 2 oleh Siswa S201
Gambar 12.Hasil Pengerjaan Soal Nomor 1 oleh Siswa S201
Tabel 3.1 TabelAvana  SumberVarians  Db  JumlahKuadrat  Rata-rata
Tabel 3.2 Tingkat KerataanHubunganVariabel X danVariabel Y  NilaiKorelasi  Keterangan

Referensi

Dokumen terkait

Untuk merencanakan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa agar lebih kontekstual, sesuai dengan level perkembangan anak, dan model pendekatannya tepat dengan

Setiap pelaku usaha dilarang memperdagangkan Barang dan atau Jasa dengan menggunakan sistem elektronik yang tidak sesuai dengan data dan atau informasi dan

Guru membimbing peserta didik untuk mencari kebahasaan yang digunakan dalam teks berita tersebut.. Guru membantu peserta didik untuk merencanakan dan menyiapkan karya

session atau pertemuan). Perencanaan ini memerlukan suatu pemikiran yang matang. Keberhasilan membelajarkan sangat tergantung pada kemampuan pendidik dalam merencanakan

Untuk merencanakan dan mengembangkan pendidikan karakter bangsa agar lebih kontekstual, sesuai dengan level perkembangan anak, dan model pendekatannya tepat dengan

Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah pembelajaran yang bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya

Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti hasil video yang dibuat siswa pada saat siswa

Tahap yang kedua adalah Tahap Transformasi, dimana pada tahap ini siswa menganalisa berbagai informasi yang telah dipelajari dan menginformasikannya kepada orang lain dengan bentuk