• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEK (STUNTING) DI INDONESIA, MASALAH DAN SOLUSINYA

N/A
N/A
podcast sikc

Academic year: 2023

Membagikan "PENDEK (STUNTING) DI INDONESIA, MASALAH DAN SOLUSINYA"

Copied!
218
0
0

Teks penuh

Penulisan buku ini diawali oleh komisi dari Direktorat Pembinaan Gizi Masyarakat, Direktorat Jenderal Gizi dan Kesehatan Ibu. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk menggunakan data Riskesdas untuk melakukan analisis tambahan guna melengkapi informasi yang diperlukan.

RINGKASAN EKSEKUTIF

Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa kelompok anak pendek umumnya dilahirkan oleh ibu yang rata-rata tinggi badannya lebih rendah (150,7 cm) dibandingkan rata-rata tinggi badan ibu pada kelompok normal (152,4 cm). Perbedaan yang cukup besar juga terlihat pada status gizi stunting pada semua kelompok umur: prevalensi stunting di perdesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan, prevalensi stunting pada tingkat kesejahteraan terbawah (kuintil 1) lebih tinggi dibandingkan kuintil 5, namun pola serupa juga tampak pada tingkat pendidikan.

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

BB/U : Berat Badan Berdasarkan Umur BB/TB : Berat Badan Berdasarkan Tinggi Badan BBLR : Berat Badan Lahir Rendah Bayi BPJS : BPJS : BPJS CI : Confidence Interval. Kalimantan Tengah : Kalimantan Tengah Kalimantan Timur : Kalimantan Timur Keluarga Berencana : Keluarga Berencana KEK : Kekurangan Energi Kronis Kepulauan Riau : Kepulauan Riau.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Hasil Survei Gizi Asia Tenggara (SEANUTS) tahun 2010-2011 menempatkan Indonesia di antara negara-negara yang. Pada tahun 2010, standar tinggi badan anak usia 5 tahun adalah 110 sentimeter, namun rata-rata tinggi badan anak usia 5 tahun di Indonesia adalah 6,7 sentimeter lebih pendek untuk anak laki-laki dan kurang dari 7,3 sentimeter untuk anak perempuan.

Gambar 2. Peta pendek dunia, tahun 2007 - 2011
Gambar 2. Peta pendek dunia, tahun 2007 - 2011

RUMUSAN MASALAH

TUJUAN

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, buku ini ditulis untuk menjawab kebutuhan informasi mengenai permasalahan singkat lingkup nasional, permasalahan terkini serta solusinya berdasarkan analisis deskriptif dan analitis. Rekomendasi mengenai strategi intervensi short-response, baik melalui program khusus Kementerian Kesehatan maupun program sensitif di bidang non kesehatan.

MANFAAT

METODE

  • SUMBER DATA
    • Surkesnas (Survei Kesehatan Nasional)
    • Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar)
    • Susenas (Survei sosial ekonomi nasional)
    • Studi kohor tumbuh kembang anak
    • SDT (Studi Diet Total) tahun 2014
    • Studi perumusan IPKM 2013
    • Disertasi para doktor bangsa Indonesia di
  • KERANGKA KONSEP
  • ANALISIS DATA
  • DEFINISI OPERASIONAL
    • Cara penilaian status gizi balita
    • Cara penilaian status gizi anak umur 5-18 tahun
    • Cara penilaian status gizi dewasa (>18 tahun)
  • KETERBATASAN PENELITIAN

Status gizi balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan/panjang badan (TB/PB). Indikator status gizi yang digunakan pada kelompok umur 5 sampai dengan 18 tahun didasarkan pada hasil pengukuran antropometri berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang disajikan dalam bentuk tinggi badan menurut umur (TB/U) dan tinggi badan. massa. Indeks usia (BMI/U).

Tabel 1. Perbandingan Riskesdas 2007/08, 2010 dan 2013
Tabel 1. Perbandingan Riskesdas 2007/08, 2010 dan 2013

KECENDERUNGAN MASALAH PENDEK

KECENDERUNGAN PENDEK PADA BALITA

Tren kejadian stunting pada anak kecil dalam 6 tahun terakhir dapat dilihat dari hasil Riskesdas dan 2013 (Gambar 7). Dibandingkan dengan keadaan tahun 2007, angka kejadian stunting relatif stagnan, beberapa provinsi menunjukkan kemajuan dengan adanya penurunan angka kejadian stunting dibawah lima tahun (Kaltim, Babel, Banten, Sumatera Selatan, Maluku).

Gambar 6. Kecenderungan prevalensi pendek pada balita,  2001 - 2013
Gambar 6. Kecenderungan prevalensi pendek pada balita, 2001 - 2013

KECENDERUNGAN PENDEK PADA USIA SEKOLAH

Analisis pertumbuhan jumlah anak usia sekolah antara tahun 2001 dan 2013 menurut gender disajikan pada gambar berikut. Jika dikaitkan dengan tempat tinggal, kesenjangan pertumbuhan usia sekolah anak Indonesia dengan standar WHO berdasarkan gender dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 12. Kecenderungan prevalensi pendek usia sekolah, 2001 -  2013
Gambar 12. Kecenderungan prevalensi pendek usia sekolah, 2001 - 2013

KECENDERUNGAN PREVALENSI PENDEK PADA DEWASA >18 TAHUN

Tampaknya terjadi perbaikan gizi pada usia dewasa, yang dibuktikan dengan penurunan prevalensi. Demikian pula pada kelompok umur lainnya, meskipun arah grafiknya mengarah ke atas, menunjukkan bahwa prevalensi sesak napas meningkat seiring bertambahnya usia.

Gambar 16.  Kecenderungan prevalensi pendek pada dewasa >18  tahun, 2007 – 2013
Gambar 16. Kecenderungan prevalensi pendek pada dewasa >18 tahun, 2007 – 2013

BESARNYA MASALAH PENDEK

PENDEK PADA BAYI Berat dan panjang badan lahir

Persentase balita yang mempunyai riwayat kelahiran pendek dan BBLR sebesar 4,3 persen seperti terlihat pada Gambar 22, tertinggi di Papua (7,6%) dan terendah di Maluku (0,8%). Persentase bayi dengan riwayat kelahiran pendek dan BBLR pada kelompok umur 0-5 bulan merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Persentase balita yang mempunyai riwayat kelahiran pendek dan BBLR lebih tinggi pada anak perempuan (4,9%) dibandingkan anak laki-laki (3,8%).

Persentase balita dengan berat badan <2500 gram dan panjang badan lahir <48 cm menurut karakteristik, Indonesia 2013. Persentase balita dengan riwayat kelahiran pendek dan BBLR cenderung menurun seiring dengan meningkatnya pendidikan. Persentase bayi lahir pendek (panjang badan saat lahir <48 cm) tertinggi di Nusa Tenggara Timur (28,7%) dan terendah di Bali (9,6%).

Gambar 19.  Proporsi bayi lahir menurut berat badan dan panjang  badan, Riskesdas 2013
Gambar 19. Proporsi bayi lahir menurut berat badan dan panjang badan, Riskesdas 2013

PENDEK PADA BALITA

Persentase atlet pendek tertinggi terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (43,5%), sedangkan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (24,5%).

Tabel 5. Jumlah Proporsi Baduta (0-23 bulan) menurut status gizi (TB/U) di provinsi, Indonesia 2013 ProvinsiStatus gizi menurut TB/USangat PendekPendekNormal N%N%N% 32.65819,626.03815,6107.74064,7 tera Utara87.17820,570.51416,6268.01563,0 tera Barat30.4801
Tabel 5. Jumlah Proporsi Baduta (0-23 bulan) menurut status gizi (TB/U) di provinsi, Indonesia 2013 ProvinsiStatus gizi menurut TB/USangat PendekPendekNormal N%N%N% 32.65819,626.03815,6107.74064,7 tera Utara87.17820,570.51416,6268.01563,0 tera Barat30.4801

PENDEK PADA ANAK USIA SEKOLAH

  • Umur 5–12 tahun
  • Umur 13 -15 tahun
  • Umur 16–18 tahun

Sama halnya dengan anak usia 5-12 tahun, pada kelompok umur 13-15 tahun penilaian status gizi didasarkan pada TB/U dan IMT/U.

Gambar 24. Prevalensi pendek anak umur 5–12 tahun menurut  provinsi, Indonesia 2013
Gambar 24. Prevalensi pendek anak umur 5–12 tahun menurut provinsi, Indonesia 2013

STATUS GIZI DEWASA

  • Pendek pada dewasa (usia 18-65 tahun)
  • Wanita hamil berisiko tinggi
  • Wanita usia subur kurang energi kronis (KEK)

Riskesdas tahun 2013 menyajikan prevalensi ibu hamil berisiko tinggi, yaitu ibu hamil dengan tinggi badan <150 cm (WHO 2007). Ambang batas nilai rata-rata LiLA <23,5 cm digunakan untuk menggambarkan adanya risiko (KED) terkait kesehatan reproduksi pada ibu hamil dan WUS. Prevalensi risiko KEK pada ibu hamil usia 15-49 tahun menurut provinsi, Indonesia 2013 Gambar 29 menunjukkan prevalensi risiko KEK pada wanita usia subur (tidak hamil).

Enam belas provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas nasional yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Papua Barat, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Tabel 14. Jumlah Proporsi orang dewasa pendek menurut provinsi, Indonesia 2013 ProvinsiStatus gizi menurut TB/UPendekNormal N%N% Aceh 1.017.13437,6 1.691.06862,4  Sumatera Utara2.711.62536,8 4.655.01363,2  Sumatera Barat1.140.64441,1 1.636.03358,9  Riau1.1
Tabel 14. Jumlah Proporsi orang dewasa pendek menurut provinsi, Indonesia 2013 ProvinsiStatus gizi menurut TB/UPendekNormal N%N% Aceh 1.017.13437,6 1.691.06862,4 Sumatera Utara2.711.62536,8 4.655.01363,2 Sumatera Barat1.140.64441,1 1.636.03358,9 Riau1.1

KESENJANGAN STATUS GIZI PENDEK

  • Kesenjangan menurut wilayah perdesaan dan perkotaan

Chart Title

  • Kesenjangan menurut tingkat kesejahteraan
  • Kesenjangan menurut tingkat pendidikan
  • Kesenjangan antar provinsi
  • Kesenjangan antar provinsi untuk semua usia
  • Kesenjangan antar kabupaten dalam provinsi
  • Kecenderungan kesenjangan antar provinsi tahun 2007 – 2013

Untuk melihat dampak faktor kesejahteraan keluarga terhadap status gizi pada stunting, ditampilkan perbandingan prevalensi stunting pada kuintil 1 (termiskin) versus kuintil 5 (terkaya). Terlihat terdapat perbedaan prevalensi stunting yang signifikan dan konsisten pada setiap kelompok umur, prevalensi lebih tinggi terjadi pada kelompok dengan tingkat pendidikan kepala keluarga rendah. Melihat besarnya kesenjangan prevalensi stunting pada semua kelompok umur antara provinsi dengan prevalensi tertinggi dan terendah, perbedaan status stunting (panjang badan) pada bayi baru lahir tampak lebih besar dibandingkan dengan perbedaan berat badan pada bayi berat lahir rendah. bayi.

Tampilan tren perbedaan prevalensi stunting antar provinsi untuk semua umur pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2013 dapat dilihat pada gambar berikut. Terlihat perbedaan antar tahun tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan pada kelompok balita perbedaan prevalensi stunting pada tahun 2013 lebih besar dibandingkan tahun 2007.

Gambar 31. Perbandingan prevalensi status gizi pendek untuk  semua kelompok umur antara kuinti 1 dan kuintil 5, tahun 2013.
Gambar 31. Perbandingan prevalensi status gizi pendek untuk semua kelompok umur antara kuinti 1 dan kuintil 5, tahun 2013.

BEBAN DI MASA MENDATANG AKIBAT PENDEK SAAT INI

  • PENDEK LINTAS GENERASI
  • PERKEMBANGAN ANAK
  • MORBIDITAS
  • PENYAKIT TIDAK MENULAR

Perawatan bayi dengan kelahiran normal sangat penting agar status gizinya dapat meningkat. Gambaran prevalensi stunting pada kelompok umur terlihat cenderung meningkat, namun nyatanya terdapat perubahan dinamis pada status gizi stunting pada setiap individu. Studi kohort stunting yang dilakukan Balitbangkes menunjukkan dinamika perubahan status gizi stunting sebagai berikut.

Hal ini menunjukkan pentingnya memastikan bahwa anak-anak normal tidak mengalami status gizi buruk. Penelitian serupa dengan menggunakan data Riskesdas 2007 juga dilakukan untuk menghubungkan status gizi pendek dengan hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tinggi badan di usia dewasa dengan risiko hipertensi.

Gambar 39. Proporsi balita pendek menurut berat badan lahir Telaah lebih lanjut terhadap pertumbuhan bayi pendek dengan  bayi normal didapat dari studi pendek pada 10 Puskesmas di  Kabupaten Bogor
Gambar 39. Proporsi balita pendek menurut berat badan lahir Telaah lebih lanjut terhadap pertumbuhan bayi pendek dengan bayi normal didapat dari studi pendek pada 10 Puskesmas di Kabupaten Bogor

FAKTOR SOSIAL DETERMINAN PENDEK

KERANGKA PENANGGULANGAN MASALAH PENDEK

PENYEBAB PENDEK PADA BAYI

Berdasarkan Studi Kohort Tumbuh Kembang Anak, pertambahan berat badan kehamilan responden pada penelitian ini (lihat garis merah) sejak kehamilan minggu ke-12 berada di bawah rekomendasi IOM tahun 2009 untuk ibu hamil dengan BMI normal kg/m2 sebelum hamil (lihat warna hitam garis). Jika ibu dikelompokkan dengan asupan protein kurang dan cukup berdasarkan AKG, Gambar 59 menunjukkan grafik pertambahan berat badan selama hamil. Selain faktor asupan nutrisi selama hamil, faktor yang berhubungan dengan kondisi ibu sebelum hamil juga turut menentukan pertambahan berat badan ibu. selama kehamilan.

Pertambahan berat badan selama hamil pada ibu dengan berat badan sebelum hamil < 45 kg lebih sedikit dibandingkan pada ibu dengan berat badan ≥ 45 kg. Ibu yang berisiko mengalami KEK tampaknya mengalami kenaikan berat badan selama kehamilan yang jauh dari normal.

Gambar 53. Riwayat pertambahan berat badan selama hamil  menurut panjang lahir bayi
Gambar 53. Riwayat pertambahan berat badan selama hamil menurut panjang lahir bayi

PENYEBAB PENDEK PADA BALITA

Intensitas pertemuan antara anak dan orang tuanya juga semakin lama yaitu 2 hari (Sabtu-Minggu) per minggu. Pengaruh orang tua yang merokok, baik pada tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) maupun pada tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5), membedakan besarnya masalah stunting lebih dari dua kali lipat. Pada kelompok termiskin (kuintil 1), prevalensi anak-anak yang mengalami stunting dari orang tua yang merokok adalah 33,7 persen, dibandingkan dengan 13,7 persen pada anak-anak yang bukan perokok.

Prevalensi anak stunting pada kelompok kuintil 5 juga berbeda secara signifikan antara orang tua yang merokok dan tidak merokok (18,1% dan 9,9%). Jelas terlihat bahwa faktor kemiskinan mempunyai dampak yang besar terhadap angka prevalensi stunting, dan angka ini diperburuk oleh orang tua yang merokok.

Gambar 73. Proporsi pendek balita menurut umur, 2013 Dikaitkan dengan laju pertumbuhan standar WHO, seperti Gambar  9 pada uraian sebelumnya, tampak bahwa grafik pertumbuhan  balita laki-laki maupun perempuan, makin menjauh/melebar
Gambar 73. Proporsi pendek balita menurut umur, 2013 Dikaitkan dengan laju pertumbuhan standar WHO, seperti Gambar 9 pada uraian sebelumnya, tampak bahwa grafik pertumbuhan balita laki-laki maupun perempuan, makin menjauh/melebar

PENYEBAB PENDEK PADA USIA SEKOLAH

Analisis lebih lanjut mengenai lama hari sakit pada usia sekolah (5-18 tahun) dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Nampaknya sekitar 15 - 30 persen anak usia sekolah sakit sebulan yang lalu, yang berlangsung sekitar 4 hari. Sebagai gambaran, proporsi anak usia 5-18 tahun yang menderita diare pada sebulan yang lalu dapat dilihat pada gambar berikut.

Proporsi diare dalam sebulan terakhir pada anak usia 5-18 tahun sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Terdapat sedikit perbedaan proporsional antara wilayah perkotaan dan perdesaan, dimana proporsi ISPA lebih banyak terjadi pada anak usia sekolah di wilayah pedesaan.

Tabel 26. Proporsi anak 5-18 tahun yang menderita sakit sebulan lalu menurut karakteristik Tempat tinggalStatus ekonomiJenis Kelamin KotaDesaSangat  MiskinMiskinMene-ngahKayaTer-kayaLaki-lakiPerem-puan 544,143,746,842,745,544,141,043,144,8 641,840,541,841,
Tabel 26. Proporsi anak 5-18 tahun yang menderita sakit sebulan lalu menurut karakteristik Tempat tinggalStatus ekonomiJenis Kelamin KotaDesaSangat MiskinMiskinMene-ngahKayaTer-kayaLaki-lakiPerem-puan 544,143,746,842,745,544,141,043,144,8 641,840,541,841,

FAKTOR DETERMINAN LAINNYA

  • Faktor lingkungan
  • Faktor pelayanan kesehatan
  • Faktor perilaku
  • Faktor kesehatan reproduksi
  • IPKM 2013
  • Status ekonomi
  • Statu s pendidikan

Analisis korelasi dan regresi linier dilakukan terhadap indeks IPKM tahun 2013 yang merupakan hasil gabungan dari 7 sub indeks yang mencakup 30 indikator dengan prevalensi stunting pada balita dan anak usia 5-18 tahun (Lihat Tabel 30 untuk daftar indeks IPKM 2013). 30 indikator). Analisis korelasi dan regresi dilakukan terhadap kelompok penduduk pada kuintil 1 dan kuintil 5 dengan status gizi singkat pada balita. Korelasi stunting dengan status ekonomi Plot 1 dan 2 merupakan korelasi prevalensi stunting pada balita masing-masing pada kuintil 1 dan kuintil 5.

Melihat kondisi penduduk dengan status ekonomi paling rendah, terlihat prevalensi stunting pada anak balita akan meningkat sebesar 0,19 persen dengan hubungan positif. Hubungan stunting dengan status pendidikan: Semakin tinggi proporsi penduduk berpendidikan tinggi di suatu kabupaten/kota, maka semakin rendah prevalensi stunting pada anak balita dan juga stunting pada anak usia 5 sampai 18 tahun.

Gambar 84. Hubungan pendek dengan kesehatan lingkungan
Gambar 84. Hubungan pendek dengan kesehatan lingkungan

PROGRAM INTERVENSI DI INDONESIA YANG DIUSULKAN

  • KERANGKA PENANGGULANGAN PENDEK
  • PROGRAM INTERVENSI YANG DIUSULKAN DI INDONESIA
  • IBU HAMIL
    • Intervensi 1000 hari pertama kehidupan
    • Menjadi anggota JKN
    • Program pemberian paket makanan TKPM
    • Kualitas pemeriksaan ibu hamil
    • Persalinan ditolong nakes di fasilitas kesehatan
    • Deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular
    • Pendidikan kesehatan reproduksi bagi ibu hamil (buku KIA)
    • IMD dan ASI eksklusif
    • Ikut KB (Keluarga Berencana)
    • Pemberantasan kecacingan
  • BALITA
    • Pemantauan pertumbuhan balita
    • PMT balita
    • Stimulasi dini perkembangan anak
    • Menjadi peserta JKN
    • Pelayanan kesehatan yang optimal
  • USIA SEKOLAH: 6-12 TAHUN (SD)
    • Wajib belajar ditingkatkan, dari 9 tahun menjadi 12 tahun
    • Hari dan jam belajar dibuat menjadi 5 hari/

Oleh karena itu, bagi ibu hamil yang belum menjadi peserta JKN, diimbau untuk segera mendaftar agar biaya persalinan dan intervensi lainnya tidak lagi menjadi kendala. Penelitian Jampersal (Tety Rachmawati, 2013) juga menunjukkan bahwa asuransi kehamilan bagi ibu hamil telah mampu menggeser tempat bersalin dari rumah ke institusi pelayanan kesehatan. Zat gizi mikro yang dibutuhkan ibu hamil terutama adalah kalsium, asam folat, zat besi (Fe), dan vitamin D.

Gambaran terbatasnya pelaksanaan program dapat dilihat pada pemanfaatan buku KIA sebagai sarana pendidikan kesehatan bagi ibu hamil. Data Riskesdas menunjukkan proporsi ibu hamil yang tergolong 4 terlalu muda (terlalu muda untuk melahirkan, terlalu tua untuk melahirkan, terlalu dekat dengan kehamilan dan terlalu banyak anak) menunjukkan gambar berikut.

Tabel 31. Matriks bahasan intervensi untuk menanggulangi stunting No Siklus kehidupan Intervensi
Tabel 31. Matriks bahasan intervensi untuk menanggulangi stunting No Siklus kehidupan Intervensi
  • Program perbaikan gizi di sekolah
  • Pendidikan rohani dan budi pekerti
  • Pendidikan kesehatan perilaku hidup bersih dan sehat
  • Penyediaan air minum dan cuci tangan yang cukup di seluruh sekolah
  • Penyediaan jamban yang sehat dan mencukupi
  • Penyediaan tempat sampah dan pembuangan air limbah
  • Pendidikan kesehatan (intra dan ektra kurikuler)
  • Sekolah sebagai kawasan bebas rokok
  • Sekolah bebas narkoba
  • Pelayanan kesehatan di sekolah
  • Sekolah bebas dari tindakan “bullying”
  • Kerjasama dengan BPJS Kesehatan
  • Usaha kesehatan sekolah menjadi upaya kesehatan wajib Puskesmas
  • REMAJA USIA 13-15 TAHUN
  • REMAJA USIA 16-18 TAHUN
  • USIA KERJA

Kebiasaan hidup bersih dan sehat harus ditanamkan sejak dini, seperti: Mencuci tangan pakai sabun, memperbaiki perilaku buang air besar, makan makanan bergizi seimbang, gemar makan buah dan sayur, sering berolahraga, tidak merokok, tidak tergiur narkoba. , dll. . Hal ini tidak mudah mengingat bisnis narkoba sangat menggiurkan sehingga banyak sekali pengedar yang berkeliaran di sekolah. Banyaknya kejadian “bullying” yang tersebar luas dalam video sebenarnya hanyalah puncak gunung es, jadi memang “bullying”.

Pola hidup bersih dan sehat, terutama perilaku tidak merokok, bebas narkoba, dan alkohol, menjadi tekanan utama. Perbanyak makan buah dan sayur, selain mencukupi kalori dan protein, hendaknya menjadi program pendidikan gizi di sekolah.

Gambar 98. Umur Perkawinan Pertama Ibu Hamil
Gambar 98. Umur Perkawinan Pertama Ibu Hamil

Gambar

Gambar 1.  Anak kelas 4 sekolah dasar dengan tinggi yang berbeda  Studi-studi saat ini menunjukkan bahwa anak pendek sangat  berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama  pendidikan yang menurun dan pendapatan yang rendah sebagai
Gambar 5. Kerangka pembahasan pendek (stunting) di Indonesia,  dimodifikasi dari “Logical framework of the Nutritional Problems”
Gambar 13. Perbandingan rata-rata tinggi badan anak laki-laki dan  anak perempuan usia sekolah 2001-2013
Gambar 14. Tinggi badan rata-rata anak usia sekolah menurut  tempat tinggal dan jenis kelamin, 2013
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Antara Asupan Protein, Besi, Dan Seng Dengan Status Gizi Pada Anak Balita Gizi Buruk Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Semarang.. Faktor Determinan

terjadi dalam tubuh anak balita dapat mempengaruhi status gizi anak

kesehatan dan asuh makan secara langsung memengaruhi status gizi anak balita,. sedangkan asuh diri tidak secara langsung memengaruhi status gizi anak

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis untuk sehingga anak lebih usianya disertai pendek masalah kesehatan dan kurangnya kemampuan

Tujuan dilakukan promosi kesehatan pada kelompok ibu balita, yaitu untuk mencegah atau memperbaiki status gizi balitanya terutama yang berpotensi stunting dengan mendemonstrasikan

Untuk mengetahui status gizi pendek stunting pada anak usia 2-5 tahun di wilayah Puskesmas Patuk 1 Kabupaten Gunungkidul b.. Untuk mengetahui status karies gigi pada anak usia 2-5

Prevalensi Status Gizi Kurus Anak Usia Sekolah tahun 2007, 2010 dan 2013 Riskesdas Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui bahwa prevalensi status gizi kurus pada anak sekolah mengalami

Status gizi pendek (stunting) merupakan masalah kesehatan yang belum bisa diatasi sepenuhnya oleh