• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan di Indonesia Pada Masa Penjajahan

N/A
N/A
KQ GAME

Academic year: 2024

Membagikan "Pendidikan di Indonesia Pada Masa Penjajahan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan budaya yang memegang peranan penting dalam rangka pembangunan nasional. Melalui pendidikan seseorang dapat membuka cakrawala berfikirnya sehingga menghasilkan kaum intelektual yang disiplin, serta menutup pintu kebodohan. Namun dalam sejarahnya, pendidikan di indonesia pada masa penjajahan sangat sulit didapatkan, walaupun ada tetapi pendidikan pada masa itu hanya dikhususkan bagi tokoh-tokoh terkemuka serta kaum bangsawan.

Pada abad ke-16 akhirnya para penjajah mulai bersimpati untuk menyelenggarakan pendidikan di indonesia, pendidikan yang dihadirkannya pun beragam. Hal ini di peruntukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Namun hal tersebut tidak semata- mata untuk mencerdaskan anak bangsa melainkan demi keserakahan kaum penjajah yang membutuhkan tenaga-tenaga yang cakap, yang kelak akan dipekerjakan pada

pemerintahannya.

Pendidikan bagi anak-anak indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertikal sehingga anak-anak indonesia melalui

pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan sempit

Lahirnya suatu sistem pendidikan bukanlah hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi sosial ekonomi. Perkembangan pendidikan saat ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pendidikan yang terjadi dimasa lampau. Perkembangan pendidikan di zaman penjajahan mampu melahirkan kaum intelektual muda indonesia yang menjadi tokoh sertral dalam pergerakan kebangsaan indonesia. Untuk mengetahui bagaimana sistem kebijakan pendidikan yang di selenggarakan pada masa penjajahan mulai dari

Portugis, Belanda, hingga Jepang semua akan dibahas di dalam makalah ini.

(2)

B. Maksud Dan Tujuan

Adapun maksud dari tujuan penyusunan makalah ini ialah, antara lain : 1. Bagaimana pendidikan di indonesia pada zaman penjajahan ?

2. Adakah perbedaan atau persamaan dari kebijakan pendidikan masing-masing penjajah terhadap rakyat indonesia ?

3. Apa maksud dan tujuan kaum penjajah menyelenggarakan pendidikan di indonesia ? 4. Serta bagaimana pendidikan yang dikelola kaum pribumi itu sendiri ?

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah, antara lain :

1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi pendidikan di indonesia pada zaman penjajahan ?

2. Untuk mengetahui adakah perbedaan atau persamaan dari kebijakan pendidikan masing-masing penjajah terhadap rakyat indonesia ?

3. Untuk mengetahui apa maksud dan tujuan kaum penjajah menyelenggarakan pendidikan di indonesia ?

4. Serta untuk mengetahui bagaimana pendidikan yang dikelola kaum pribumi itu sendiri ?

C.Manfaat

a. adapun manfaat bagi penulis ialah :

1. Melatih penulis untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif 2. Melatih menulis untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber

3. Penulis mengetahui, memahami dan menguasai tentang kajian kepustakaan untuk mengimplementasi dalam penulisan makalah

4. Meningkatkan pengetahuan penulis dalam pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis

b. adapun manfaat bagi pembaca ialah :

(3)

1. Dapat menambah khasanah pengetahuan tentang materi dalam makalah pendidikan di indonesia pada zaman penjajahan.

2. Dapat menginspirasi pembaca agar tidak menyia-nyiakan pendidikan yang di

dapatkannya sekarang, karena telah mengetahui bagaimana sulitnya bangsa indonesia untuk mendapatkan pendidikan pada masa lampau

(4)

BAB II PEMBAHASAN (Mutiara Rahayu)

A. Pendidikan Pada Masa Penjajahan Portugis

Pada permulaan abad ke 16,bangsa Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama datang ke Indonesia. Tujuan utama mendatangi Indonesia adalah mencari (berdagang) rempah rempah yang banyak dihasilkan di melayu. Perdagangan mereka semakin lama semakin maju serta secara berangsur-angsur semakin banyak bangsa Portugis dan Spanyol yang mulai berdatangan ke Maluku. Disamping berdagang,mereka juga bertujuan untuk menyebarkan agama katolik. Untuk mengemban tugas tersebut didatangkanlah para misionaris. Beliaulah yang dianggap sebagai peletak dasar agama katolik di Indonesia. Ia mengatakan untuk memperluas penyebaran nasrani perlu didirikan sekolah sekolah. Sehingga pada tahun 1506-1552 ditunjuklah Fransiskus Xavenus yaitu seorang yokoh nasrani yang telah menyelesaikan studinya di sarekat yesus untuk melaksanakan tugas tersebut.

Pada 1536,di Ternate didirikan sekolah yang mendidik calon calon misionaris/pekerja agama. Sekolah seminari ini juga didirikan dipulau Solor. Banyak anak anak indonesia yang masuk sekolah ini. Dengan adanya usaha usaha sosial dari para misionaris,kehidupan orang orang Maluku semakin menjadi maju (Soemanto dan Soeyarno,1983:34-35)

Pada 1536,Antonio Galvano penguasa Portugis di Maluku mendirikan sekolah seminari untuk anak dari pribumi. Selain ajaran agama,diajarkan membaca,menulis,dan berhitung,sekolah ini didirikan di Solor yang muridnya mencapai 50 orang. Sekolah ini memakai bahasa latin.

Penyebaran agama katolik di Maluku, demikian pula penyelenggaraan pendidikan, tidak banyak kemajuan, dikarnakan hubungan orang Portugis dan Sultan Ternate kurang baik,mereka bersaing dan berperang melawan orang orang Spanyol dan orang Inggris.

Akhirnya kedatangan Belanda dengan agama kristen yang dibawanya dapat menghalau Portugis sampai ke Timor Timor, dan mengambil alih segala harta benda, termaksud gereja katolik beserta lembaga pendidikannya walaupun sebagian penduduk masih ada yang setia kepada agama katolik hingga sekarang.

(5)

(Dila Ikarsini Aima)

B. Pendidikan Pada Masa Penjajahan Belanda

Penjajah dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan bagaimana ia menerapkan kebijakan pendidikan yang diskriminatif dan menghalangi pertumbuhan pendidikan lokal masyarakat yang sudah ada. Tahun 1882, Belanda membentuk pristerraden yang mendapat tugas mengawasi pengajaran agama di pesantren-pesantren. Tahun 1905, Belanda mengeluarkan peraturan orang yang memberi pengajaran harus meminta izin terlebih dahulu.

Tahu 1925, terbit georoe-ordonnantie yang menerapkan bahwa para kiai, yang memberi pelajaran cukup memberitahukan kepada pihak belanda. Peraturan tersebut merupakan rintangan perkembangan pendidikan yang diselenggaran oleh para pengikut islam.

portugis dari indonesia. Mula-mula mereka bermaksud untuk berdagang, sehingga lama kelamaanberusaha mendirikan persekutuan dagang yang disebut V.O.C (Vereneigde Oost Indische Compagnie). Agama khatolik yang disebarkan oleh portugis diganti dengan agama protestan. Untuk ini maka didirikanlah sekolah-sekolah seperti: di Ambon, Ternate dan lain- lain.

Sekolah yang didirikan tersebut belum mengajarkan pengetahuan umum bahasa pengantar yang dipaai adalah melayu, baru pada kelas-kelas yag lebih tinggi dipakai bahasa belanda, pihak belanda juga medirikan sekolah bagi calon pegawai VOC, sekolah itu didirikan di ambon dan dijakarta ( Batavia ). Sekolah ini diperuntukan untuk anak anak pegawai VOC, jemudian pada tahun 1799 VOC jatuh karena pegawaikan kerja tanpa disiplin, korupsi, dan manajemen moratmarit. Sehingga pihak belanda mengambil ahlih kekuasaan VOC. Dan mulai saat itulah egara kita berada dibawah kekuasaan belanda dengan nama hindia-belanda.

Gambaran tingkat pendidikan dasar/ rendah pada masa pemerintahan Hindia-belanda.

 Di Ambon (1645) terdapat 33 sekolah dengan 1300 murid, pada 1708 meningkat menjadi 3966 murid.

 Di daerah-daerah maluku utara/barat laut terdapat 39 sekolah dengan 1057 murid.

 Pulau-pulau lainnya yang juga telah ada disekolah, seperti pulau timur (1710) , pulau Sawu (1756), Pulau Kei (1635), Pulau Kisar, pulau Wetar, pulau Demar,dan pulau Letti (1700).

(6)

 Di Batavia (Jakarta) berdiri tahun 1617

 Menjelang bubarnya VOC,sekolah-sekolah baru dapat didirikan lebih luas dan lebih banyak sehingga meliputu daerah pulau jawa terutama didaerah pantai Suamatra, dan Sulawesi (Ujung Pandang).

Tujuan belanda mendirikan sekolah-sekolah tersebut bukan untuk mencerdaskan anak bangsa melainkan untuk memanfaatkan tenaga-tenaga yang cakap yang telah dapat dipekerjakan pada Pemerintah,Administrasi, dan Gereja.

1.Awal Masa Pendidikan Belanda bagi anak-anak Pribumi

Awal pendidikan belanda bagi anak-anak pribumi ini dimulai sesudah VOC gulung tikar pada tahun 1799, yang mana pada saat itu pendidikan bagi bangsa Indonesia belum baik.

Sehingga hal ini membuat gubernur Daendles agak bersimpati pada nasip bangsa kita.

Sehingga pada tahun 1901, ia mengusulkan bahwasanya perlu diselenggarakan pengajaran bagi anak-anak Indonesia khususnya Jawa, untuk memperkenalkan kepada anak-anak itu tentang kesusilaan, adat istiadat, dan pengertian-pengertian agama.

Akan tetapi, cita-cita dan Daendles tidak dapat terealisasi, dikarenakan tidak adanya anggaran untuk pengajaran bagi anak pribumi. Saat itu penjajahan belanda sempat berhenti ketika dalam konteks Internasional mereka dikalahkan Inggris. Dan Inggri yang sempat menjadikan Indonesia sebagai jajahannya (1811-1816) juga belum sempat memberikan atau mengusahakan pendidikan. Baru setelah belanda merebut Indonesia kembali, keluarlah surat keputusan (konninklijk besluit 1848) yang isinya tentang penetapan belanja pengajaran bagi Indonesia. Pada tahun 1884 keluarlah surat keputusan yang memberikan kesempatan berdirinya sekolah suasta.

(Muhammad Firdaus)

2. Jenis tingkatan pendidikan pada masa pemerintahan hindia-belanda a. Pendidikan Rendah (Langere Onderwijs)

pada tanggal 30 september 1848, kelurlah keputusan Raja Belanda nomor no.95 yang isinya pemerintah hindia-belanda mendirikan sekolah rendah bagi anak-anak bumi putra (inladse lagere school) diPasuruan dan Jepara,Jawa Tengah

(7)

kemudian, sesuai dengan keputusan raja tanggal 25 september 1892 yang dimuat dalam lembaran negara 1883 no.125 pendidikan rendah bagi anak-anak bumi putra dibagi menjadi dua macam yaitu:

 Sekolah kelas I (De scholen Der erste Klasse)

Kemudian berubah menjadi HIS (Holand Inlandse school) pada tahun 1914. Sekolah ini diperuntukan bagi anak-anak pemuka atau tokoh masyarakat, pegawai pemerintah, dan orang-orang Bumi Putra lainnya. Sekolah ini hanya ada di kota keresidenan kabupaten, kecamatan, dan pusat perdagangan perusahaan.

 Sekolah kelas II (De Scholen Der Tweede Klasse)

Sekolah ini diperunttukkan bagi anak-anak bumi putra pada umumnya. Sekolah ini didirikan di daerah-daerah maju.

Bagi anak-anak Belanda, disediakan sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.

 HIS (Holand-Indlandse School)

 ELS (Europese lagere School)

Selain tersebut diatas,adajuga sekolah rendah, seperti :

 Sekolah rendah untuk anak-anak Ambon (Ambonsce Burger School)

 Sekolah rendah untuk anak-anak serdadu Belanda (Soldaten School)

 Sekolah rendah untuk anak-anak raja/bangsawan, (Hoofdens School)

 Sekolah rendah yang didirikan Missi (dari agama katolik) dan Zending (dari agama protestan) yang kebanyakan merupakan HIS suasta.

b. Pendidikan Menengah (Middelbaar Onderwijs).

Pendidikan menengah terdiri dari:

 MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)

Didirikan pada tahun 1914, yang diperuntukkan bagi golongan bumi putra dan timur asing.

 AMS (Algemene Middelbareschool)

Yang berdiri pada tahun 1915, AMS ini terdi dari 2 jurusan yaitu:

1. Bagian A: pengetahuan Kebudayaan, terdiri dari : Bagian A 1: Sastra Timur

(8)

Bagian A2: Sastra Klasik Barat 2.Bagian B: Pengetahuan Alam.

 HBS (Hoogere Burger School)

Yang didirikan pada tahun 1867, yang diperuntukkan bagi bangsawan negara Eropa, bangsawan bumi putra serta tokoh-tokoh terkemuka.

c. Pendidikan Tinggi

pendidikan Tinggi pada masa pemerintahan Hindia-Belanda terdiri dari:

 Sekolah Tinggi Kedokteran (GHS = Geneskundige Hoge School), didrikan tahun 1928. Namun sebelumnya, telah ada sekolah kedokteran jawa (1851), pada tahun 1902 diubah menjadi STOVIA ( School Tot Opleiding Voor Indische Arsten).

Disamping itu ada NIAS (Nederlandsch Indischearsten Shcool). Pada 1928,semua dijadikan 1 yang disebut GHS, ada dijakarta dan Surabaya.

 Sekolah Tinggi Hukum (RHS = Rechts Hoge School) yang didirikan pada 1924 di Jakarta.

 Sekolah tinggi teknik (THS = Technische Hoge School), didirikan tahun 1920 diBandung

(Nadia Seftiana)

3.Penyelenggaraaan sekolah – sekolah pada masa pemerintahaan hindia-belanda

Penyelenggaraan sekolah lanjutan pada masa hindia-belanda baru dimulai pada abad ke-20 yang di pelopori oleh pihan swasta kristen ( zending ) sekolah-sekolah tersebut antara lain :

a.sekolah sekolah kejuruan

untuk memenuhi tenaga teknis di perusahaan-perusahaan maupun kongsi –kongsi dagang belanda ,di dirikanlah sekolah kejuruan antara lain :

 Sekolah pertukangan (Ambachts Leergeang )

 Sekolah teknik ( technisch onderwijs)

 Sekolah dagang (handals onderwijs)

 Sekolah pertanian ( landbouw onderwijs)

(9)

 Sekolah kewanitaan ( maisjes vakonderwijs ).sekolah ini berdiri atas jasa R.A kartini b.sekolah guru

sekolah ini ditujukan bagi murid yang akan menjadi guru sekolah rendah. Belanda mendirikan sekolah ini dikarenakan perintahnya pada masa itu merasa keberatan jika harus menggaji guru –guru belanda .maka,sebagai penghematan anggaran didirikanlah sekolah guru ini

sekolah –sekolah guru tersebut antara lain:

 Sekolah guru bumiputra ( kweekschool voor inlands nder wijers) didirikan pada tahun 1908

 HIK ( hollandsh inlandsche kweekschool ) didirikan sejak tahun 1851 di surakarta

 HKS ( haogere kweekschool ) pada tahun 1914 didirikan di purworejo kemudian pada tahun 1917 didirikan sekolah yang sama di bandung

 Normal school

 Haoofd acte,sekolah ini didirikan untuk menjadi kepala sekolah maksudnya disini ialah orang –orang indonesia yang ingin menjadi kepala sekolah untuk mengganti kepala sekolah orang belanda melalui pendidikan ini dengan syarat sebelumnya sudah mengikuti pendidikan sekolah guru dan sudah bekerja paling sedikit 5 tahun serta pintar

Pada 1617,dididrikan sekolah yang pertama di Batavia.sekolah ini bersifat pendidikan dasar serta bertujuan untuk memberikan budi pekerti bercorak agama. Kemudian pada tahun 1737 didirikan sekolah untuk anak cina miskin,tetapi tidak lama kemudian sekolah tersebut di tutup dikarenakan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang cina atau yang dikenal dengan peristiwa do dhineezenmoord pada 1740 . namun akhirnya,sekolah tersebut berdiri lagi pada tahun 1753 dan 1787 atas biaya warga cina sebagi lembaga swasta ( gunawan,1995:9-10 )

4. Misi utama pemerintah hindia belanda mendirikan sekolah di indonesia

Sebenarnya pemikiran tentang pendidikan tindak pernah di lakukan oleh pemerintah belanda secara serius . akan tetapi, baru setelah keaadan komersial dan finansial perusahaan menurun pada akhir abad ke-18 ,tokoh-tokoh VOC mulai memperhatikan bidang pendidikan di daerah kekuasaan nya .

(10)

Menurut Ary Gunawan di dalam salah satu bukunya menunjukan prinsif kebijakan pendidikan kolonial yaitu :

 Pemerintah kolonial berusaha tidak memihak salah agama tertentu

 Pendidikan di arahkan agar para lulusannya menjadi pencari kerja, terutama demi kepentingan kaum penjajah

 Sistem persekolahan disusun berdasarkan stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat

 Pendidikan di arahkan untuk membentuk golongan elite sosial ( penjilat penjajah ) belanda.

 Dasar pendidikannya adalah dasar pendidikan barat dan berorientasi pada pengetahuan dan kebudayaan barat .

Kesempatan mendapatkan pendidikan diutamakan kepada anak- anak bangsawanbumiputra serta tokoh-tokoh terkemuka dan pegawai kolonial yang diharapkan kader pemimpin yang berjiwa kebarat –baratan atau condong ke belanda dan merupakan kelompok elite yang terpisah dengan masyarakatnya sendiri .mereka akan menjadi penyambung tangan –tangan penjajah sebagai upaya belanda untuk memerintah secara tidak langsung kepada masyarakat dan bangsa indonesia .

Jadi kaum bangsawan serta tokoh – tokoh yang telah memperoleh prioritas pendidikan serta kenikmatan hidup itulah yang akan di jadikan tameng bila terjadi ketidak puasan dari rakyat jelata terhadap kaum penjajah. Pembatasan seperti ini terasa sampai tahun 1912, di tahun-tahun berikutnya pendidikan mulai diberikan belanda kepada rakyat biasa walau dalam sekala kecil .

Kemudian dari sekolah-sekolah ini lah lama-kelamaan menjadikan rakyat jelata atau kaun feodal merasakan bahwa hanya melalui pendidikanlah mereka dapat memperbaiki status sosial sehingga memicu munculnya berbagai lembaga pendidikan swasta dengan berbagai asas yang dikelolah oleh kaum pribumi meskipun harus mengakomodasi orientasi penjajah.

Karna bagi rakyat indonesia inilah cela untuk memperbaiki negri ini dari kaum penjajah.

Kemudian pada abad ke-18 berkembanglah gelombang Aufklarung yang di bawa dari eropa yang emberikan pengaruh kepada pendidikan di indonesia .gelombang Aufklarung ini sendiri adalah sebuah pemahaman yang menunjukkan emansifasi manusia, kungkungan wibawa, purba sangka, adat dan tradisi yang semata-mata di sebabkan oleh desakan manusia

(11)

sendiri untuk berpikir lebih bebas tentang masalah kehidupan sendiri. Dengan kata lain paham Aufklarum ini menjadi plopor sistem pendidikan baru, yaitu pendidikan yang di selenggarakan oleh negara yang kemudian menjelma menjadi sekolah-sekolah negeri.

Salah satu pengaruh Aufklarum terhadap pendidikan di indonesian adalah di terbitkannya keputusan raja belanda tanggal 30 september 1848 nomor 95 yang memberi wewenang kepada gubernur jendral Van de bosch untuk menyediakan dana sebesar f25.000 setahun bagi pendirian sekolah-sekolah bumiputra di pulau jawa.

(Zulfa Afrirai’ah)

C. Pengaruh Politik Etis Terhadap Perkembangan Pendidikan

Salah satu faktor penyebab munculnya politik etis di Indonesia adalah seorang anggota parlemen Belanda yang bernama Van Deventer. Ia mengatakan bahwwa kondisi Belanda telah maju dan disegani di dunia Eropa tidak boleh dinafikan oleh penduduk jajahannya, yaitu Indonesia. Belanda telah banyak berhutang budi (ereschuld) kepada Indonesia dan hutang itu harus dibayar. Lalu ia mengusulkan cara baru untuk memberikan jasa kepada Bangsa Indonesia, dengan yang disebut politik etis, yaitu usaha untuk mengangkat tingkat kehidupan bangsa indonesia sebagai balas jasa.

Usaha tersebut ialah dengan membangun irigasi di daerah pertania/perkebunan, menyelenggarakan emigrasi diserah yang sudah terasa padat, dan memberikan pendidikan untuk Indonesia. Namun, masih banyak perbedaan pelayanan bagi anak bumiputra dengan anak anak Belanda, yaitu diturunkannya uang sekolah (hanya) untuk sekolah belanda. Anak anak indoeesia masih banyak yang tidak diterima disekolah Belanda karena masih ragu-ragu.

Soemanto dan Soeyarno (1983:46-48) memberikan penilaian kritis atas kebijakan pendidikan belanda terutama dengan perubahan politik etisnya sebagai berikut:

1. Tujuan pendidikan Hindia-Belanda tidak pernah dinyatakan secara tegas.

2. Semata-mata sekolah terrsebut hanya untuk kepentingan bangsa Belanda.

3. Sekolah untuk anak-anak bumiputra tidak ada manfaatnya.

4. Politik etis sekiranya hanya memberi sedikit perubahan (perkembangan), dalam arti anak-anak bumiputra belum mendapat kesempatan bersekolah sebagaimana sewajarnya.

(12)

5. Hasil pendidikan bumiputra sangat memprihatinkan. Menurut penyelidikan Vastenhow (1904), dapat disimpulkan setelah 5 tahun anak tamat sekolah desa atau sekolah kelas II menjadi buta huruf.

6. Juga untuk bekerja sulit karrna anak lulusan sekolah kelas II harus “Magang” terlebih dahulu ke kecamatan untuk menunggu lowongan (sekertaris desa).

Pada 1867, dalam pemerintahan Hindia-Belanda dibentuk Departemen yang mengurusi masalah pendidikan, agama dan kerajinan, yang disebut Departemant Van Onderwijs En Eeredienst (Departemen pengajaran dan kepentingan kehormatan) yang bertujuan agar penduduk bumiputra, cina, dan golongan lainnya berkesempatan memproleh pendidikan barat, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Dengan maksud dapat menghilangi dasar pendidikan nasional kita, seperti patriotisme, gotong royong, berdikari, dan sebagainnya. Melalui kebijakan politik etis, orang-orang bumiputra harus diperkenalkan kebudayaan dan pengetahuan barat yang menjadikan Belanda bangsa yang besar.

Meskipun terjadi beberapa kali perubahan, watak kolonialisme tetap tidak bisa diubah. Hal itu menjadi unsur diskriminatif dan elitis kebijakan pendidikan kolonial tidak bisa dielakkan. Pembagian golongan sosial didasarkan pada keturunan, bangsa, dan status. Pembagian tersebut adalah :

Pembagian penduduk menurut hukum pada 1848:

1. Golongan eropa

2. Golongan yang disamakan dengan eropa 3. Golongan bumiputra, dan

4. Golongan yang disamakan dengan bumiputra.

Pembagian pada 1920:

1. Golongan eropa

2. Golong bumiputra, dan 3. Golongan timur asing.

Persoalan bahasa menjadi syarat utama para lulusan pendidikan saat itu. Maka, berdirilah pusat-pusat pengajar melayu. Sebelum 1870 pusat sekolah tersebut sudah tersebar, yaitu :

(13)

1. seperti sekolah militer Semarang (1819), 2. sekolah tinggi leiden (1826)

3. institusi bahasa Jawa Surakarta (1832)

4. sekolah pegawai Hindia-belanda di Delft (1852)

Setelah 1870, tak ada lagi pusat-pusat pendidikan dan pengajar semakin diperluas.

Secara tidak langsung, pengaruh politik etis menaruh dampak positif dalam bidang pendidikan bagi kaum pendidik dan pergerakan di Indonesia. Kesadaran akan pentingnya pendidikan hingga bermunculah tokoh-tokoh pergerakan seperti Raden Tirtoadisoeryo yang mendirikan organisasi sarekat dagang islam, mendirikan koran medan priyayi, disusul oleh organisasi Budi Utomo sebuah organisasi yang memiliki kepedulian pada pelajar dan intelektual saat itu yang kebanyakan anggotanya berkelulusan STOVIA, tokoh organisasi Budi Utomo diataranya adalah Dr. Wahidin Sutomo, dan lainnya.

Melalui pendidikan pertama kali yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Taman Siswa, pendidikan nasional mulai menemukan jati dirinya. Sebagai pendidikan yang diorientasikan pada manusia sejati, manusia merrdeka, berkaitan dengan soal budaya, bahasa, adat istiadat, moral baca tulis, menghitung dan lainnya.

Contoh bagaimana bentuk kebijakan politik pendidikan pemerintahan kolonial terjadi sekitar tahun 1930-an adalah sebagai berikut.

1. Seluruh sekolah swasta yang tidak dibiayai pemerintah (belanda) harus meminta izin.

2. Guru-guru swasta yang mengajar harus mendaapatkan izin terlebih dahulu

3. Materi pembelajaran yang mau disampaikan kepada siswa tidak boleh melanggar peraturan negri dan harus sesuai sekolah pemerintah.

Peristiwa ini menunjukkan diskriminasi terhadap pendidikan yang diselenggarakan kaum pribumi dengan pendidikan yang dilakukan kolonial Belanda. Kebijakan tersebut jelas merugikan sekolah yang dibina anak-anak bangsa.karna hancurnya strategi anak bangsa dalam menghadapi penjajahan melalui jalur pendidikan.

Kita dapat menilai kesulitan yang dialami oleh sekolah dan guru-guru ketika diharuskan meminta izin kepada pemerintah kolonial.

(14)

Pola kebijakan kolonial yang demikian mendapatkan kritikan tajam dari Ki Hajar Dewantara dalam salah satu pidatonya. “politik etis penjajah sepertinya akan lunak dengan kemajuan pendidikan pribumi”, tetapi tetap saja pola kebijakan pendidikan kolonial tersebut menunjukkan sifat intelektualis, elitis,individualis dan materialis.

(Riska Ulfa)

D. Pendidikan Pada Masa Penjajahan Jepang

Bangsa Jepang muncul sebagai negara kuat di Asia. Jepang bercita-cita besar, yaitu menjadi pemimpin Asia Timur Raya dan berhasil menaklukan Belanda yang telah lama menjajah Indonesia. Sekolah yang ada di zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang. Saat Jepang menjajah, hanya sepanjang hari diisi dengan kegiatan latihan perang atau bekerja. Jika ada kegiatan disekolah, maka tidak akan jauh dari konteks berperang. Kegiatan yang berhubungan dengan sekolah tersebut adalah :

1. Mengumpulkan batu dan pasir untuk berperang 2. Membersihkan bengkel-bengkel dan asrama militer

3. Menanam ubi dan sayur dipekarangan sekolah untuk persediaan makanan.

4. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.

Memang kehadiran Jepang di Indonesia dapat menanamkan jiwa “berani” pada bangsa Indonesia. Akan tetapi, semua itu demi kepentingan Jepang. Dibidang politik dan sosial, Jepang merupakan penjajah yang menindas bangsa Indonesia dengan kejam. Tetapi bangsa kita dapat menyadari hal itu. Dengan demikian, bangsa kita semakin gigih memperjuangan kemerdekaan. Jepang melihat semangat bangsa indonesia sebagai sebuah hal yang membahayakan. Maka jepang pun menjanjikan kemerdekaan akan tetapi janji Jepang belum terlaksa karen sebelum tanggal 17 agustus 1945 Jepang sudah harus meninggalkan bumi indonesia.

Pada akhir zaman kedudukan Jepang, terdapat tanda tanda upaya dominasi Jepang terhadap pendidikan Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari hal-hal berikut:

1. Guru

(15)

Agar dapat keseragaman dalam pengertian dan maksud pemerintahan Jepang, beberapa guru dari tiap daerah dan kabupaten wajib mengikuti indoktrinasi khusus yang dipusatkan di Indonesia. Bahan-bahan pokok yang mereka terima dalam latihan adalah :

 Indoktrasi mental mengenai hakko ichiu dalam rangka mencapai kemakmuran bersama diasia raya

 Latihan kemiliteran dan semangat Jepang (nippon seisyin)

 Bahasa dan sejarah Jepang dengan adat dan istiadat nya

 Ilmu bumi ditinjau dari segi politisnya

 Olahraga,lagu-lagu,dan nyanyian Jepang

2. Murid

Murid dibebankan kewajiban dan keharusan sebagai berikut:

 Setiap pagi harus menyanyikan lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo)

 pagi harus mengibarkan bendera Jepang (Kinomaru)

 Setiap pagi harus menghadap kenegara Jepang dan hormat dengan membungkukkan badan 90 derajat yang disebut saikairei kepada kaisar Jepang Tenno Heika

 Setiap pagi harus mengucap sumpah setia kepada Indonesia dalam rangka Asia Raya yaitu Daitoa

 Setiap pagi harus melakukan senam pagi Taiso untuk memelihara semangat jepang

 Melakukan latihan fisik dan kemiliteran (Kyoren)

 Melakukan kerja bakti (Kenrohosyi)seperti membersihkan asrama militer, jalan raya, menanam pohon jarak, menebang hutan jati, mencari iles-iles mengumpulkan bahan keperluan militer dan sebagainya.

Di zaman kerajaan Mataram Islam tidak sedikit orang yang dapat membaca dan menulis dengan huruf jawa. Beberapa raja mengarang buku mengenai pendidikan. Beberapa tokoh yang mengarang adalah sebagai berikut:

1. Sultan Agung, pengarang Nitisastra.

2. Jasa Dipura II, pengarang Sonosumu.

3. Pakubuono IV, pengarang Wulang Reh.

4. Mangkunegaran IV,pengarang Wedatama, Tripama, dan Wirawijata.

(16)

5. Ronggowasito, pengarang pustaka Raj Purwa, Sabda Jati, Sabda Tama, dan lainnya.

Dalam tembang “Maskumambang” Pakubuwono IV menguraikan kebatinan manusia :

 Manusia harus berbakti kepada orangtua

 Harus berbakti pada mertua

 Harus berbakti pada saudara tua,

 Harus berbakti pada guru, dan

 Harus berbakti pada negara.

Lantas,cara mengenal atak manusia boleh dikatakan empiris,yaitu dari :

 Caranya berjalan

 Caranya duduk

 Caranya bertindak tanduk,dan

 Caranya bercakap-cakap

Pada awal abad ke-20, muncul tokoh dan organisasi pergerakan yang peduli pada kemerdekaan,perbaikan harkat dan martabat rakyat dan bangsa Indonesia. Salah satu perwujudannya adalah dengan memajukan dunia pendidikan nasional.

Pada 20 mei 1908, lahirlah suatu perkumpulan yang disebut “Budi Utomo”. Perkumpulan ini meminta pada pemerintah kolonial untuk memperbanyak sekolah-sekolah bagi anak-anak bumi putra. Gerakan- gerakan ini, banyak diikuti oleh gerakan-gerakan lain,termasuk juga partai partai politik.

Kemudian, muncul gerakan muhammaddiyah yang berdiri 8 november 1912 yang berasalkan Agama Islam dan sosial bergerak dibidang pendidikan. Tujuannya adalah menyiapkan kader-kader yang berilmu pengetahuan dan taat kepada agama islam. Dengan cepat, gerakan muhammaddiyah ini berkembang dimana-mana sampai tahun 1925, muhammadiyah telah memiliki :

 29 cabang diseluruh Indonesia

 8 buah HIS

 Satu buah sekolah guru

(17)

 32 sekolah kelas II

 Satu buah Schakelschool

 14 sekolah agama,

 4000 lebih murid dengan 114 tenaga guru.

Kemudian pada saat itu juga muncul tokoh dan gerakan wanita yang peduli pada dunia pendidikan, salah satunya R.A.Kartini beliaulah tokoh wanita yang mempelopori bahwasanya kaum wanita mempunyai hak yang sama dengan kaum pria. Maka, kaum wanita dengan kaum pria sama dalam hal pendidikan. Maka atas usaha beliau yang gigih, berdirilah sekolah gadis di Jepara, dan kemudian di Rembang ( 1903 ). Beberapa tahun kemudian di kota-kota besar didirikan sekolah rendah khusus untuk anak-anak perempuan

Selain R.A.Kartini tokoh gerakan wanita lain yang peduli akan pendidikan ialah Dewi Sartika. Tidak berbeda dengan R.A.Kartini beliau juga bercita-cita mengangkat derajat kaum wanita dengan jalan memajukan pendidikan. Usahanya ini dimulai dengan mengajar membaca dan menulis bagi pelayan-pelayan neneknya. Lalu tahun 1904 ia mendirikan sekolah untuk para istri, ternyata usahanya ini mendapat sambutan yang baik dari istri-istri bupati, sehingga pada tahun 1912 di daerah Pasundan didirikan 9 Sekolah Istri Dewi Sartika.

Kemudian pada tahun 1914 sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri, yang kelak menjadi Sekolah Kepandaian Putri

Sementara itu, tokoh dan gerakan wanita yang lain adalah Rohana Kudus. Tokoh ini berasal dari kota Gendang (Bukit Tinggi).pada usia 12 tahun, ia telah mengajar membaca dan menulis pada teman-temannya di kampung. Pada 1905, beliau mendirikan sekolah Gadis di kota Gedang.

Kemudian, tokoh yang fenomenal dan menjadi legenda gerakan pendidikan sekaligus sebagai Bapak Pendidikan Nasional adalah Ki Hajar Dewantara (1889-1959) dengan Taman Siswa. Pada tahun 1924, barang milik Taman Siswa dilelang di depan umum karena Ki Hajar Dewantara tidak bersedia membayar pajak rumah tangga, akan tetapi barang- barang itu setelah dilelang dikembalikan lagi oleh pembelinya.

Pada tahun 1932, keluar Onderwijs Ordonantie Sekolah Partikiler yang isinya Sekolah Partikiler harus minta izin, guru-gurunya harus mempunyai izin mengajar, dan isi pengajarannya harus sesuai dengan sekolah negeri. Ini berarti keberadaan Taman Siswa

(18)

terancam. Dengan perjuangan yang gigih, Ki Hajar Dewantara menentang ordonantie itu, dan pada tahun 1933 ordonantie itu di cabut

Pada 1935, Taman Siswa dikenakan pajak upah. Ini jelas tidak sesuai karena Taman Siswa tidak mempunyai majikan ataupun buruh. Taman Siswa bekerja atas dasar kekeluargaan. Penderitaan yang paling parah ialah pada masa Jepang . pada waktu itu, sekola-sekolah Partikiler dilarang berdiri. Akibat peraturan itu, Taman Siswa yang sudah mempunyai 199 cabang yang tersebar diseluruh Indonesia ditutup, akan tetapi, diam-diam ada beberapa cabang yang masih dapat meneruskan di dalam pengembangan Taman Siswa ini, Ki Hajar Dewantara menempuh jalan non-kooperasi, harus mampu berdiri sendiri dan atas keyakinan sendiri. Oleh karenanya beberapa kali tawaran subsidi dari pemerintah hidia- belanda datang padanya namun ia menolak(Soemanto dan Socyarno,1983:61-63). Asas-asas Taman Siswa yang dibantu atau disusun pada 1922 merupakan asas perjuangan-perjuangan yang disahkan oleh kongres Taman Siswa tanggal 17 agustus 1920.

Pelaksaan kegiatan Taman Siswa terbagi dalam beberapa hal sebagai berikut : 1. sekolah Taman Siswa menggunakan tingkatan-tingkatan.

 Taman Indria

 Taman Muda: Sekolah Dasar

 Taman Dewasa : SMP

 Taman Mandia : SMA

 Taman Ilmu : Perguruan Tinggi

2. Bahan pengajaran dan kurikulum yang ada di Taman Siswa sesuai dengan sifatnya yang nasionalis.

3. Pendidikan budi pekerti memperoleh perhatian yang lebih besar karena hal itu merupakan dasar pembentukan watak kepribadian anak. Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara ialah agar anak mencapai hidup yang bahagia lahir dan batin

(19)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Pendidikan di indonesia pada zaman penjajahan dapat dikatakan sangat memprihatinkan, dikarenakan tindakan kaum penjajah yang serakah akan negeri ini, membuat mereka seakan-akan takut untuk menyelenggarakan pendidikan, karna mereka tau itu akan menjadi ancaman seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, karena takut akan cerdasnya para kaum pribumi di masa mendatang. Namun karena kondisi pemerintahan kaum penjajah yang membutuhkan tenaga”Cuma-Cuma” kaum pribumi di kursi pemerintahannya seperti pada masa penjajahan Belanda, dan Jepang yang membutuhkan pasukan dalam perang Asia Timur Raya. Mau tidak mau mereka akhirnya menyelenggarakan sistem pendidikan pada masa itu.

Berbeda dengan Portugis dab Belanda yang terdapat sistem kasta dalam mengenyam pendidikannya , pada masa penjajahan Jepang sistem pendidikan di Indonesia sudah agak sedikit melunak, hal ini ditandai dengan di dapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan lebih meluas kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tampa membedakan turunan dan bangsanya. Walaupun masih sama-sama dalam skala kecil, yang tolak ukurnya sangat berbeda seperti pendidikan sekarang namun secara berangsur-angsur melalui pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah inilah lahir tokoh-tokoh Intelektual yang menjadi pendobrak dalam pergerakan nasional, tokoh-tokoh inilah yang memperjuangkan pendidikan dimasa penjajahan sehingga kita dapat mersakan pendidikan dalam tingkat SD, SMP, SMA hingga sampai Perguruan Tingggi

B. Saran

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini, masih terdapat kesalahan ataupun masih terdapat kesalahan ataupun kekeliruan di dalamnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari teman- teman atau para pembaca, terutama dosen pembimbing mata kuliah”Sejarah Pendidikan”

demi kesempurnaan makalah ini di kemudian hari

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Bradjanagara, Sutedjo. 1956. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Depdikbud. 1985. Pendidikan Indonesia Dari Zaman Ke Zaman.

Gunawan: Ary H. 1986. Kebijakan-Kebijkan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

Nasution, S, 2008. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta:Bumi Aksara

(21)

Soal Dan Jawaban:

1. Mengapa para penjajah mau menyelenggarakan pendidikan di indonesia? Bukankah hal ini dapat memicu lahirnya kaum terpelajar pribumi yang dapat mengancam kedudukannya sendiri?

Jawab:

bangsa penjajah menyelenggarakan pendidikan bukan semata-mata ingin mencerdaskan rakyat indonesia melainkan mereka membutuhkan tenaga kerja profesionaluntuk di pekerjakan pada pemerintahan, pasukan perang serta di jadikan alat penyambung tangan penjajah sebagai upaya untuk memerintah secara tidak langsung kepada rakyat indonesia yang di dapatkan secara cuma-cuma dalam arti orang-orang ini tidak digajisecara setimpal sesuai dengan tugasnya, karena mereka hanya dijadikan boneka bagi kaum penjajahuntuk menjalankan aksinya. Tentu kaum penjajah mengerti bahwasanya pendidikan nantinya akan menciptakan kaum-kaum terpelajar,namun penjajah bukanlah orang-orang yang bodoh mereka

menyelenggarakan pendidikan diindonesia dengan sistem yang ketat dan berdasarkan kasta. Artinya tidak semua pribumi dapat merasakan pendidikan. Hanya orang-orang tertentu seperti para bangsawanlah serta tokoh terkemukalah yang dapat mengenyam pendidikan, selain itu taraf pendidikan pada masa penjajahan tidaklah setara pada saat ini, pada waktu itu mereka hanya sekedar di ajarkan membaca dan menulis saja.

Sehingga kaum penjajah merasa bahwasanyaini tidak akan menjadi ancaman yang besar kedepannya.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan gelombang aufklarug pada abad ke-18 dan apa pengaruhnya bagi pendidikan di indonesia?

Jawab:

gelombang aufklarung adalah sebuah paham dari eropa yang berarti sebuah pencerahan atau penerangan yang menunjukkan emansipasi manusia terhadap kekangan yang diberikan oleh suatu kaumsehingga memicu manusia untuk

melakukan gerakan-gerakan baru dalam pemikiran yang lebih bebas tentang masalah kehidupannya sendiri. Pengaruh sendiri terhadap pendidikan di indonesia adalah karena pada abad ke-18 indonesia pada saat itu masih dalam kekuasaan belanda yang dalam pelaksaan pendidikannya masih ada diskriminasi, sengga dengan tersebarnya paham gelombang aufklarung tersebut bangkitlah semangat para kaum pribumi untuk

(22)

memperbaiki setatus sosial kependidikan, karna mereka sadar bahwa hanya melalui pendidikanlah indonesia dapat memperbaiki status sosial sehingga dapat

memunculkan berbagai lembaga pendidikan swasta dalam berbagai asas yang dikelolah kaum pribumi meskipun harus mengakomodasai orientasi penjajah namun setidaknya ini sudah menjadi titik awal dalam merintis pendidikan demi terciptanya kaum intelektual menuju kemerdekaan.

3. Siapakah tokoh Fransiskus Xaverius dan apa perannya bagi perkembangan pendidikan pada masa penjajahan ?

Jawab:

ia adalah seorang tokoh nasrani salah satu kaum misionaris yang telah menyelesaikan studinya di Sarekat Yunus. Ia ditugaskan oleh bangsa Portugis untuk menyebarkan agama katolik di wilayah jajahannya. Beliaulah yang di anggap sebagai peletak dasar agama katolik di Indonesia peran pransiskus dalam pendidikan pada masa itu memang tidak terlalu signifikan, namun dari beliaulah setidaknya indonesia mendapatkan pendidikan berupa pelajaran agama, membaca, menulis, dan berhitung. Saat beliau mengusulkan untuk menyebarkan agama katolik perlu didirikannya sebuah sekolah agar pengajarannya lebih efisien. Sehingga pada tahun 1536 di Ternate didirikan sekolah yang mendidik calon-calon misionaris, kemudian hingga berkembang sampai ke pulau Solor dan didirikan juga sekolah disana.

4. Bagaimana pengaruh politik etis terhadap perkembangan pendidikan di indonesia?

Jawab:

politik etis merupakan politik balas budi pemerintahan kolonial yang memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan pribumi. Politik ini sendiri bukanlah semata- mata hadiah dari pihsk belanda menlaikan hasil pegolakan politik(dari etis dan kau belanda) peegolakan politik itu nampak dalam pertengahan abad ke-19 berupa perlawanan terhadap penerapan politik colonial konservatif di Hindia-Belanda.

Politik konservatif yang bertujuan menerapkan eksploitasi tanah jajahan bagi negara induk yang secara konsekuen di terapkan indonesia itu berupa sistem tanam paksa atau culturstelsel. Dengan adanya politik etis ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan pendidikan di indonesia karena dengan adanya politik ini, masyarakat berkesempatan mendapat pendidikan barat, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Hal tersebut membuat pemuda asal indonesia yang

(23)

bersekolah di luar mendapatkan paparan mengenai semangat perjuangan dan perlawanan terhadap sistem pemerintahan kolonialisme maupun imperialisme.

Pendidikan, pada masa perjuangan pra-kemerdekaanmerupakan kendaraan sosial yang dapat mengantarkan seseorang untuk melakukan hal-hal besar yang berdapak pada perubahan siklus hidup dari banyak orang. Satu contoh, Drs. Mohammad Hatta tak sempat mencicipi kesempatan berkuliah di universitas Leiden,Belanda, bisa jadi ide- ide Soekarno mengenai kemerdekaan tak akan terpahat seperti yang tertera pada narasi sejarah Indonesia kini.

5. Sebutkan 4 kegiatan yang berhubungan dengan sekolah pada masa penjajahan Jepang dalam rangka mempersiapkan perang Asia Timur Raya?

Jawab:

- mengumpulkan batu dan pasir untuk berperang - membersihkan bengkel-bengkel dan asrama militer

-menanam ubi dan sayur di pekarangan sekolah untuk persediaan makanan -menanam pohon jarak untuk bahan pelumas

Referensi

Dokumen terkait

Keadaan umat Islam masa pendudukan jepang, lebih memiliki posisi tawar di bandingkan dengan masa penjajahan Belanda, walaupun di daerah yang lain tetap

Kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia telah menyebabkan kolonialisme dan imperialisme. Hidup dalam penjajahan menyebabkan penderitaan rakyat dalam berbagai bidang.

Untuk itu makalah ini akan menguraikan sistem pendidikan pada masa lalu yang mengacu pada landasan historis pendidikan di Indonesia dan menguraikan sistem pendidikan pada masa

Dengan kehendak Allah swt, pendidikan agama islam yang sekarang dinamakan darul falah, sudah ada jauh dalam masa penjajahan yang bertempat waktu itu di komplek

Dokumen ini membahas tentang dampak penjajahan bangsa Eropa bagi bangsa

Ringkasan sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia dari tahun 1854 hingga 1922, termasuk berdirinya Taman

Perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropah hingga awal abad