• Tidak ada hasil yang ditemukan

penelitian terdahulu

N/A
N/A
Arsin Mubarok

Academic year: 2023

Membagikan "penelitian terdahulu"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

No Peneliti Tahun Pembahasan Kesimpulan 1 Rokhmat

Hidayat 2020 Angka aman Lereng menunjukkan perubahan angka aman dari kondisi steady state hingga 3 hari setelah hujan. Pada keadaan ini, nilai angka aman ada pada kondisi aman >1,2. Sedangkan pada akhir hujan satu hari nilai angka aman menurun drastic menjadi 0,775. Pada hujan hari ke dua dan tiga, nilai angka aman tidak berubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa hujan satu hari dengan intensitas 70mm/hari sudah dapat memicu longsor.

Infiltrasi hujan berpengaruh besar

dalam dalam

peningkatan muka air tanah dan penurunan angka aman. Dari hasil pemodelan, pada akhir hujan lereng dalam kondisi stabil.

Sehari setelah hujan nilai angka aman menurun drastis menjadi 0.775. Pada hujan hari ke dua dan tiga, nilai angka aman tidak berubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari hasil pemodelan, hujan satu hari dengan intensitas 70mm/jam sudah dapat memicu longsor.

Oleh karena itu, angka aman dalam penelitian ini sangat dipengaruhi oleh infiltrasi hujan yang mengakibatkan kenaikan pada muka air tanah dan penambahan massa air di dalam tanah

2 Raka Muhamad Syahrifi

2020 Hasil analisis yang berupa nilai faktor

keamanan yang

menunjukkan bahwa nilai safety factor

terbesar tanpa

memperhatikan kondisi awal lereng dari setiap curah hujan dan lama waktiunya, adalah pada saat curah hujan 10

mm/hari yang

merupakan kondisi curah hujan minimum.

Sedangkan nilai safety factor terkecil adalah

Pengaruh curah hujan terhadap stabilitas lereng merupakan salah satu penyebab terjadinya

kelongsoran. Air yang berinfiltrasi ke dalam tanah yang dalam hal ini adalah hujan akan mengurangi kuat geser tanah di lapangan yang bergantung pada kadar air, jika kadar air (tekanan pori) bertambah maka kuat geser akan turun.

(2)

pada saat curah hujan sebesar 150mm/hari yang merupakan kondisi curah hujan maksimum.

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai faktor terbesar terjadi pada lereng dengan curah hujan 10 mm/hari di hari pertama dengan nilai faktor keamanan sebesar 1,1244.

Sedangkan, nilai faktor keamanan terkecil terjadi pada lereng dengan curah hujan 150 mm/hari di hari ketiga dengan nilai faktor kemanan sebesar 1,07157

Selain mengurangi kuat geser, air hujan juga akan menambah berat tanah pembentuk lereng.

3 Farid Sitepu dan Mary Selintung

2017 Hasil pengujian

menunjukkan terjadinya peningkatan besarnya erosi yang terjadi berbanding lurus dengan peningkatan intensitas hujan. Pada kemiringan lereng 200 pada tingkat kepadatan 70% besarnya erosi adalah 48.456 gram, 111.168 gram dan 131,76 gram atau mengalami peningkatan 62.712 gram pada intensitas I12 ke I34 dan 20.592 pada intensitas I34 ke I51

Intensitas curah hujan memiliki pengaruh yang berbanding lurus

dengan erosi.

Intensitas hujan yang tinggi akan menambah besarnya laju erosi tanah yaitu I23, I34 dan I51 masing- masing sebesar 23,04 g/m2 /jam, 59,52 g/m2 /jam dan 61,68 g/m2 /jam.

4 Heriansyah Putra Dan Ahmad Rifa’i

2014 Infiltrasi air ke dalam

tanah akan

menyebabkan

menurunnya stabilitas lereng dan perubahan tekanan air pori tanah.

Pada kondisi kering, tanah memiliki daya hisap (suction) atau tekanan air pori negatif.

Tekanan air pori negatif

Hujan rata-rata berdurasi lama merupakan hujan yang paling berpengaruh terhadap besarnya infiltrasi yang terjadi, sedangkan hujan rata- rata dan hujan deras pada durasi yang sama menghasilkan infiltrasi kumulatif yang relatif

(3)

akan berubah apabila terjadi pembasahan tanah. Tekanan air pori yang awalnya bernilai negatif akan meningkat hingga bernilai nol pada kondisi tanah yang berada tepat setinggi muka air tanah (MAT) dan akan bernilai positif untuk tanah yang berada di bawah MAT.

Perubahan tekanan air

pori ini juga

mengakibatkan

perubahan terhadap parameter kuat geser tanah seperti kohesi dan kuat gesek internal tanah.

sama. Semakin tinggi infiltrasi yang terjadi, maka perubahan tekanan air pori akan semakin besar.

5 Rochmawati

dan Rifa’r 2017 Analisis stabilitas lereng dilakukan pada tiga kondisi hujan yaitu pada kondisi peralihan, penghujan dan kemarau.

Pada kondisi bulan Januari diperoleh nilai SF = 1.162 dengan menggunakan metode Morgenstern-Price seperti pada Gambar 3.9.

Pada kondisi bulan Februari dengan menggunakan metode yang sama namun

berbeda nilai

parameternya diperoleh nilai SF = 0.541 ditunjukkan pada

Gambar 3.10.

Sedangkan bulan September meningkat, nilai SF = 1.582

Terjadi perubahan angka keamanan pada lereng akibat adanya infiltrasi air hujan kedalam tanah. Dari validasi yang telah dilakukan, lereng pada

bulan Januari

mempunyai safety factor (SF) = 1.162 berubah menjadi SF = 0.541 pada bulan Februari dan naik menjadi SF = 1.582 pada bulan September.

Hal ini menunjukkan lereng dalam keadaan tidak aman / berpeluang terjadinya longsor.

6 Jioni Santos Frans dan Muahammad Hafizah

2019 Berdasarkan empat data analisa pada rencana pelandaian sudut

kemiringan lereng

Didapat hasil analisa dari kondisi lereng desain rencana tahunan, menunjukkan

(4)

keseluruhan di atas, diketahui bahwa sudut kemiringan lereng keseluruhan berdampak pada nilai Faktor

Keamanan lereng tersebut. Seperti halnya dengan pengaruh muka air tanah, hasil analisa menunjukkan hubungan berbanding terbalik antara sudut kemiringan lereng keseluruhan dengan nilai Faktor Kamanan lereng.

Semakin landai lereng yang dibentuk, akan menghasilkan nilai Faktor Keamanan yang semakin meningkat.

Adapun nilai pengaruh rata-rata adalah 97,88%

dengan area sidewall Barat memiliki nilai pengaruh terbesar (99,58%). Hasil analisa kestabilan lereng di atas menunjukkan bahwa lereng tambang baik sidewall maupun highwall perlu dilakukan pelandaian (layback)

dengan sudut

kemiringan keseluruhan

≤ 24.

nilai faktor keamanan lereng < 1,3.

Dan Hasil FK<1,3 menunjukkan kondisi lereng desain rencana tahunan didapatkan dalam kelas labil – kritis.

7 Martini 2009 Tekanan air pori dan letak muka air tanah kondisi hidrologi lereng awal, nilai tekanan air pori adalah negatif (suction) berkisar 0 sampai -100 kPa dan faktor aman (F) awal (sebelum hujan) adalah 2,79, hal ini menunjukan bahwa kondisi lereng tidak jenuh, terutama

Perubahan tekanan air pori negatif (suction) akibat infiltrasi air hujan sehingga berpengaruh terhadap tingkat kadar air dan kejenuhan pada lereng. Dan Perubahan besarnya nilai tekanan air pori negative ke tekanan air pori positif sangat dipengaruhi

(5)

pada bagianMekanisme berkurangnya kestabilan lereng akibat hujan terjadi karena hilangnya

suction dan

meningkatnya berat

volume tanah.

Mekanisme yang

disebabkan oleh meningkatnya tekanan air pori karena naiknya muka air tanah tidak terjadi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa hilangnya suction lebih berpengaruh dalam menurunkan kestabilan pada lereng yang diakibatkan oleh hujan.

oleh intensitas hujan yang terjadi.

8 Tri

Handayani dan Sri Wulandari

2014 Perhitungan dan analisis pada lereng ini menggunakan software Geoslope/w 7.12 dengan menggunakan metode irisan, dimana lereng tersebut dibuat kedalam beberapa segmen.

Dengan menghitung luasan masingmasing area segmen, yang nantinya akan diperoleh berat tiap-tiap segmen dengan

memperhitungkan besar sudut busur lingkaran () dan besar sudut pada tiap segmen ().

Berdasarkan hasil analisis dengan ketiga metode tersebut diperoleh nilai faktor

keamanan yang

termasuk kedalam lereng stabil yaitu lereng 1 dan lereng 4 dengan FK = 2,523 – 3,705 . Lereng 2 tergolong lereng kritis dengan FK

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa Jarak muka air tanah terhadap bidang dasar kelongosoran juga dapat mempengaruhi kestabilan suatu lereng, yaitu semakin jauh jarak muka air tanah terhadap bidang dasar kelongsoran dan semakin dekat jarak muka air tanah terhadap tanah permukaan lereng , maka semakin kecil

nilai faktor

keamanannya. Begitu pula sebaliknya semakin dekat jarak muka air tanah terhadap bidang dasar kelongsoran dan semakin jauh jarak dari permukaan lereng, maka semakin besar nilai faktor keamanannya

(6)

= 0,065 – 1,203 , dan lereng 3 tergolong labil dengan FK = 0, 625 – 0,710.

9 Martini dan Sriyati Ramadhani

2011 Faktor keamanan lereng

terhadap waktu

padabeberapa variasi intensitas hujan. Hujan

70 mm/jamyang

berlangsung selama 12

jam dengan

bidanglongsor yang sama seperti pada gambar 5.4.2b,lereng longsor setelah hujan 10 jam. Faktorkeamanan (F) pada kondisi awal besarnya 2,79,saat longsor menjadi 0,9423.

Untuk hujan intensitas30 mm/jam dan 50 mm/jam yang berlangsungselama 12 jam, kondisi lereng masih stabil dimana nilai F masih lebih besar dari 1. Dan untuk hujan 20mm/hari (0,833

mm/jam) yang

berlangsung selama2 hari, lereng masih stabil, dimana faktor keamanan turun menjadi 2,03.

Perubahan kestabilan

lereng karena

perubahan hidrologi lereng akibat hujan juga di pengaruhi oleh parameter kuat geser yaitu kohesi dan sudut geser, koefisien permabilitas serta kondisi hidrologi dalam dal ini adalah letak muka air tanah.

10 Tia Miftahul Khoiriyah dan Selly Feranie

2016 Hasil analisis stabilitas lereng didapatkan FK~1 menunjukan bahwa lereng tersebut dalam kondisi kritis. Pada saat terjadi hujan dengan intensitas 0,1 mm/jam, 5 mm/jam, dan 10 mm/jam maka kondisi lereng masih berada dalam keadaan kritis

hingga belum

menimbulkan longsor.

Sedangkan pada hujan lebat hingga hujan sangat lebat dengan

Penelitian yang

dilakukan di

Lembang-Bandung, daerah berpotensi longsor dengan menggunakan metode geoteknik ini mengindikasikan bahwa perubahan pola curah hujan yaitu 0 mm/jam, 0,1 mm/jam, 5 mm/jam, 10 mm/jam, 20 mm/jam, dan 25 mm/jam menghasilkan

stabilitas lereng yang

(7)

intensitas 20 mm/jam dan 25 mm/jam, intensitas curah hujan ini mengganggu stabilitas lereng yang diartikan dapat menimbulkan longsor.

berbeda-beda. Pola hujan ringan – sedang menunjukan bahwa lereng berada dalam keadaan kritis dengan FK ~1,001 sedangkan saat hujan lebat –

sangat lebat

menunjukan lereng berada dalam keadaan tidak stabil dengan FK<1. Hal ini berpengaruh pada run- out longsor beserta kecepatan tanah.

Semakin tinggi tingkat curah hujan maka lereng akan semakin tidak stabil sehingga tinggi awal pusat

massa berubah

menjadi lebih tinggi maka run-out longsor dan kecepatan pun semakin tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Menjabarkan alat-alat beserta fungsinya dalam penambangan bawah tanah.

Penambangan batubara khususnya di Kalimantan akan dimulai dengan cara tambang terbuka yang memakai alat kerja bersifat mobil..  Penyebaran Batu

Metode tambang bawah tanah atau tambang dalam adalah kegiatan penambangan yang diterapkan terhadap endapan-endapan bahan galian yang tak menguntungkan bila ditambang dengan

Dalam proses penambangan bawah tanah, salah satu hal yang penting adalah dibuatnya ventilasi tambang agar para pekerja di dalam tambang dapat tersuplai

Tambang bawah tanah digunakan jika zona mineralisasi terletak jauh di bawah permukaan tanah sehingga jika digunakan cara tambang terbuka jumlah batuan penutup yang

Rancangan (desain) penambangan batubara dengan metoda tambang bawah tanah di bukaan tambang (pit) Sarang Burung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan

aliran di bawah tanah yang terdapat pada areal tambang dapat menghasilkan air asam tambang, baik pada pertambangan bawah tanah ataupun pertambangan terbuka dengan

penambangan yang dijalankan adalah tambang terbuka (open pit mine) merupakan bukaan yang dibuat dipermukaan tanah, bertujuan untuk mengambil bijih dan akan