Palangka Raya.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION (GI) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Siti Fatimah1
Email: [email protected]
ABSTRAK
Permasalahan penelitian ini berdasarkan rendahnya hasil belajar siswa kelas VI pada materi keteladanan Rasulullah selama kurun waktu 2 tahun terakhir yaitu tahun 2019/2020 ketuntasan hanya mencapai 42,85% dan tahun 2020/2021 hanya sebesar 50% tidak memenuhi standar KKM 70.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Model Pembelajaran Group Investigation dalam meningkatkan hasil belajar materi keteladanan Rasulullah beserta peningkatannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan Pendekatan kualitatif.
Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat peningkatan aktivitas guru setiap siklusnya, pada siklus I pertemuan 1 70%, pertemuan 2 90%, siklus II pertemuan 1 sebesar 95%, dan pertemuan 2 sebesar 98%. Peningkatan aktivitas siswa juga meningkat pada siklus I pertemuan 1 yang awalnya hanya 55%, pertemuan 2 sebesar 64%, siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 82% dan pada pertemuan 2 sebesar 91%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan ditandai meningkatnya hasil evaluasi kelompok siklus I pertemuan 1 siswa memperoleh nilai rata-rata 55% pada siklus I pertemuan 2 sebesar 73%.
Semakin meningkat pada Siklus II pertemuan 1 memperoleh nilai rata-rata 82% dan meningkat pada siklus II pertemuan 2 mencapai di atas indikator ketuntasan belajar yang ditetapkan sebelumnya yaitu 91%.
Kata kunci: group investigation, keteladanan rasulullah, hasil belajar PENDAHULUAN
Guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran dikelas. Saat ini guru sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Guru sebagai tenaga pendidik harus mempunyai tujuan utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan penuh semangat. Hal ini dapat dilihat dari
Palangka Raya.
keberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran. berdampak positif dalam pencapain hasil belajar yang optimal (Surawan : 2020).
Upaya-upaya yang pernah dilakukan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa biasanya meliputi; 1) Menyusun RPP agar pembelajaran yang disampaikan kepada siswa terarah; 2) Mengulang materi pembelajaran yang telah dibahas; 3) Melakukan tanya jawab secara lisan; 4) Memberi latihan- latihan; 5) Memberikan pekerjaan rumah (PR). Namun, pada kenyataannya, upaya-upaya yang dilakukan guru PAI di atas belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran Pendidikan Agama Islam termasuk materi tentang Keteladanan Rasulullah saw.
Berdasarkan hasil observasi langsung beberapa siswa tampak mengantuk dan tidak aktif ketika pembelajaran PAI materi keteladanan Rasulullah saw dan tes hasil belajar siswa juga rendah. Hal ini dapat dilihat dari data skorhasil belajar siswa dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, yaitu pada tahun 2019/2020 yang menunjukan bahwa jumlah siswa 7 orang yang tuntas belajar materi ini secara klasikal hanya 42,85% yaitu sebanyak 3 orang dan yang tidak tuntas mencapai 57,15% yaitu sebanyak 4 orang. Sedangkan pada tahun 2020/2021 jumlah siswa 10 orang, siswa yang tuntas belajar materi ini secara klasikal hanya 50% yaitu sebanyak 5 orang dan yang tidak tuntas mencapai 50% juga yaitu sebanyak 5 orang. Skor rata-rata kelas yang tidak konsisten dan selalu dibawah standar KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70.
Sehingga di kelas VI SDN Anjir Pasar Seberang Pasar dipilih sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
Melihat kondisi ini, guru sebagai peneliti berupaya memperbaiki proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran lain yaitu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini guru menggunakan model pembelajaran GI (Group Investigation).
GI merupakan model pembelajaran dengan siswa belajar secara kelompok, kelompok belajar terbentuk berdasarkan topik yang dipilih siswa.
Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Dalam pembelajaran kooperatif GI siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota 2-6 orang siswa yang heterogen. Kelompok memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporan di depan kelas.( (Wiratama, 2014)
Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dapat dipakai guru untuk mengembangkan kreatiftas siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran dan berorientasi menuju pembentukan manusia sosial.
Palangka Raya.
Adapun langkah-langkah model GI Menurut Slavin (dalam Hosnan 2014) membagi langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) tahapan. Yaitu : 1) Mengidentifikasikan topik dan membuat kelompok 2) Merencanakan tugas yang akan dipelajari 3) Melaksanakan investigasi 4) Menyiapkan laporan akhir 5) Mempresentasikan laporan akhir 6) Evaluasi.
Penelitian ini bertujuan: a) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) dalam meningkatkan hasil belajar materi Keteladanan Rasulullah di SDN Anjir Pasar Seberang Pasar b) mengetahui peningkatan hasil belajar materi Keteladanan Rasulullah menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) di SDN Anjir Pasar Seberang Pasar.
METODE
1. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan jenis pendekatan kualitatif.
2. Tempat dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SDN Anjir Pasar Seberang Pasar Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala, yang beralamat di Desa Anjir Seberang Pasar RT 02. Subjek penelitian ini adalah Guru Pendidikan Agama Islam di SDN Anjir Pasar Seberang Pasar dan siswa kelas VI yang berjumlah 11.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini adalah data observasi seperti akvitas yang dilakukan guru dan siswa pada saat pembelajaran. Data hasil belajar siswa diperoleh dari tes/peskoran tugas evaluasi pada akhir proses pembelajaran.
4. Teknik Aanalisis Data
Setelah data – data yang diperlukan terkumpul, diadakan suatu analisis data dengan tujuan agar dapat menarik kesimpulan ada atau tidaknya peningkatan hasil bealajar siswa pada materi PAI Keteladanan Rasulullah saw setelah menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) di kelas VI SDN Anjir Pasar Seberang Pasar materi Keteladanan Rasulullah saw. analisis terhadap aktivitas guru ditentukan dengan persentase yang diperoleh pada lembar observasi kegiatan guru dalam melakasanakan pembelajaran, data ini dikumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel persentasi yang dirumuskan skor yang diperoleh dibagi skor maksimum dan dikalikan 100. Apabila hasil yang diperoleh lebih dari 85% dari skor total maka guru sudah menerapkan model Group Investigation dengan baik.
Palangka Raya.
Data hasil observasi siswa diambil dari nilai aktivitas siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian aktivitas siswa diperoleh dengan skor yang diperoleh dibagi dengan skor maksimum dikali 100.
Apabila hasil presentase menunjukkan kenaikkan pada setiap siklus maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik.
Peningkatan hasil belajar siswa diketahui dari hasil tes tertulis dengan perhitungan skor yamg diperoleh dibagi skor maksimum dikali seratus. Seorang siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan individual, apabila siswa tersebut telah menguasai materi keteladanan rasulullah saw dengan kriteria skor akhir ≥ 70 dan Ketuntasan klasikal mencapai indikator keberhasilan apabila terdapat ≥ 85% siswa dapat menguasi pelajaran.
Langkah-langkah analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Tahap pertama dari kegiatan analisis data deskriptif kualitatif yaitu melakukan reduksi data. Reduksi data adalah proses menyeleksi data yang sudah terkumpul, memfokuskan dan menyederhanakan data sampai penyusunan data. Data yang telah terkumpul diklasifikasikan berdasarkan jenisnya atau aspek yang diamati yang bertujuan memudahkan peneliti menarik kesimpulan. Langkah kedua dalam kegiatan analisis data deskriptif kualitatif adalah melakukan penyajian data. Penyajian data dilakukan dengan menyusun dalam bentuk tabel dan narasi, lalu dibandingkan dan dipadukan dengan berbagai informasi atau data yang diperoleh dari hasil reduksi data hingga memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Informasi tersebut berupa uraian kegiatan pembelajaran, aktivitas siswa dalam pembelajaran, respon siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan, serta hasil yang diperoleh siswa.
Penarikan kesimpulan adalah pengambilan inti dari data-data yang telah dikumpulkan. Peneliti ini melakukan penilaian tentang hasil belajar siswa dalam materi keteladan Rasulullah saw melalui model pembelajaran Group Investigation. Penarikan kesimpulan dilihat dari peningkatan aktivitas guru dan siswa serta hasil ketuntasan siswa baik secara individu maupun klasikal selama pembelajaran menggunakan model pembelajaran Group Investigation.
5. Prosedur / Langkah-langkah Penelitian
langkah-langkah Penelitiaan Peneliti menggunakan beberapa tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi seperti yang dijelaskan oleh Arikunto (2010:17). Tahapan yang dilaksanakan oleh peneliti secara lebih rinci sebagai berikut:
1. Perencanaan
Palangka Raya.
Tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan peneliti adalah menyusun rancangan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam tindakan. Perencanaan tersebut meliputi pengkajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, penyusunan RPP, penetapan target keberhasilan pembelajaran dan membuat instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama proses pembelajaran.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas dua pertemuan. Tahap rancangan yang dilaksanakan dalam tahap pelaksanaan menjelaskan mengenai langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam materi keteladanan Rasulullah melalui model pembelajaran Group Investigation.
3. Pengamatan
Tahap ketiga dalam PTK adalah pengamatan. Pengamatan atau observasi yang dimaksud pada tahap III adalah pengumpulan data.
Dalam proses pengumpulan data, peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan berlangsung untuk memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus selanjutnya. Kegiatan pengamatan atau observasi dilaksanakan secara kolaboratif untuk mengamati keterampilan guru, serta hasil belajar siswa pada Pendidikan Agama Islam materi keteladanan Rasulullah dengan model pembelajaran Group Investigation.
4. Tahap Refleks
Pada tahap refleksi peneliti melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Selain itu peneliti juga menganalisis kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan untuk diperbaiki pada siklus selanjutnya sampai masalah yang diteliti dapat dipecahkan secara optimal.
Palangka Raya.
70%
90% 95% 98%
55%
64%
88%
91%
55%
73% 82% 91%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4
Kecenderungan Aktivitas Guru, Aktivitas Siswa, dan Hasil Belajar pada Pertemuan 1, 2, 3 dan Pertemuan 4
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa Hasil Belajar
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat peningkatan aktivitas guru setiap siklusnya, pada siklus 1 pertemuan 1 70%, pertemuan 2 90%, siklus 2 pertemuan 1 sebesar 95%, dan pertemuan 2 sebesar 98%. Peningkatan aktivitas siswa juga meningkat pada siklus 1 pertemuan 1 hanya 55%, pertemuan 2 sebesar 64%, siklus 2 pertemuan 1 meningkat sebesar 82% dan pada pertemuan 2 sebesar 91%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan ditandai meningkatnya hasil evaluasi kelompok siklus I pertemuan 1 siswa memperoleh nilai rata-rata 55% pada siklus I pertemuan 2 sebesar 73%. Semakin meningkat pada Siklus II pertemuan 1 memperoleh nilai rata-rata 82% dan meningkat pada siklus II pertemuan 2 mencapai di atas indikator ketuntasan belajar yang ditetapkan sebelumnya yaitu 91%.
Pada grafik kecenderungan tersebut terlihat bahwa setiap pertemuan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa semakin meningkat. Hal tersebut membuktikan bahwa adanya hubungan antara ketiga aspek tersebut.
Dari data diatas juga dapat diketahui bahwa semakin optimal aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran maka aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut juga meningkat. Dengan meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran, maka hasil belajar siswa tersebut juga dapat ditingkatkan.
Berdasarkan peningkatan-peningkatan yang terjadi pada aktivitas guru dalam proses pembelajaran saat menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) dari pertemuan 1 sampai ke pertemuan 4 hingga mampu mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan oleh peneliti, hal ini menunjukkan bahwa ketepatan guru dalam memilih dan menerapkan model, strategi, dan media pembelajaran yang dilakukan pada saat pembelajaran akan sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
Palangka Raya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Suriansyah, dkk (2014:4) yang menyatakan bahwa guru merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran dikelas. Pada saat ini komponen guru sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menganggap belajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.
Guru yang menganggap mengajar sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik akan memiliki kemauan yang keras untuk menggali metode pembelajaran sehingga dapat menciptakan model-model pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Shoimin (2014:20) yang menyatakan bahwa guru yang memiliki kemauan dalam menggali metode dalam pembelajaran akan menciptakan model-model baru sehingga murid tidak mengalami kebosanan serta dapat menggali pengetahuan dan pengalaman secara maksimal. Sejalan dengan hal tersebut Rusman (2014:78) berpendapat guru diharapkan mampu memilih dan menggunakan metode pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan, setiap metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan namun yang terpenting bagi guru metode manapun yang digunakan harus jelas tujuan yang akan dicapai.
Pada proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, guru memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Contoh nyata yang telah dilakukan peneliti yang bertindak sebagai orang yang memberikan solusi tentunya memerlukan berbagai persiapan dan strategi khusus untuk menangani permasalahan yang sedang dihadapi. Hal tersebutlah yang mendorong keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa keberhasilan proses pembelajaran utamanya berasal dari tindakan-tindakan yang dilakukan guru secara tepat. Tindakan tersebut tergambar secara nyata dari kesungguhan guru ketika menyajikan pembelajaran dengan menggunakan Group Investigation (GI).
Tugas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) yaitu guru membuat kelompok belajar bagi siswa, dalam hal ini guru dituntut untuk mampu menciptakan kondisi kelompok belajar yang kondusif serta dapat membentuk kelompok yang heterogen, meskipun disini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan penata kelas.
Karwati dan Priansa (2014:14) berpendapat bahwa guru sebagai pencipta terbentuknya kelompok belajar yang ada di kelas, kelompok belajar tersebut
Palangka Raya.
memerlukan keterampilan guru untuk menerapkan strategi dalam penciptaan kelompok belajar yang produktif dan efektif. Selain itu, guru perlu mengembangkan kondisi kelompok belajar yang tetap kondusif dalam mengikuti setiap proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas.
Guru sebagai fasilitator dan penata kelas dituntut untuk mampu menciptakan kelompok belajar yang kondusif, produktif, dan efektif, serta mampu menjadi jembatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi agar siswa lebih memahami setiap detail pembelajaran yang diajarkan oleh guru.
Sejalan dengan hal tersebut Rusman (2014:201-202) menyatakan dalam pembelajaran kooperatif ini, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi.
Hal ini juga sejalan dengan pendapat Suriansyah dkk (2014:4) yang menyatakan bahwa guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implemetasi suatu strategi pembelajaran di kelas. Melalui pembelajaran kelompok tersebut, guru menjadi seorang penata kelas dengan strategi kooperatif untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk bekerjasama.
Pada pembelajaran Group Investigation guru memandu siswa pada saat kegiatan Group Investigation berlangsung dengan melibatkan siswa dalam melakukan kerja kelompok yang mengarahkan untuk membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan siswa dengan mudah sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan efesien. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan seorang guru dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa, tetapi sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai fasilitator bagi siswa.
Suriansyah dkk (2014:5) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning), dengan demikian keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru.
Dalam melakukan proses pembelajaran guru harus memperhatikan lingkungan tempat belajar dan juga siswa itu sendiri. Seorang guru diharapkan dapat memberikan lingkungan yang baik untuk dapat membantu perkembangan secara optimal dalam menjalani proses belajar (Suriansyah, 2014: 41).
Guru juga berperan penting dalam pembelajaran yakni sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar, perencana pembelajaran, supervisor, motivator, dan sebagai evaluator, oleh karena itu guru hendaknya guru dapat membangkitkan ide-ide dan pengetahuan serta
Palangka Raya.
pemahaman dalam diri siswa sehinggap pembelajaran dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Sejalan dengan hal tersebut Rusman (2014:58) menyebutkan guru merupakan faktor penentu dalam proses pembelajaran, proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dalam proses tersebut tekandung multiperan dari guru, peran guru meliputi banyak hal, yaitu dapat berperan sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan belajar, perencanaan pembelajaran, supervisor, motivator, dan sebagai evaluator.
KESIMPULAN
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan sebanyak dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1) Aktivtas guru dan siswa melaksanakan pembelajaran muatan PAI materi Keteladanan Rasulullah saw.
menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada siswa kelas VI SDN Anjir Pasar Seberang Pasar telah terlaksana sesuai dengan harapan, dengan kriteria sangat baik. 2) Penggunaan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada materi Keteladanan Rasulullah saw. kelas VI SDN Anjir Pasar Seberang Pasar mencapai ketuntasan hasil belajar baik secara individu maupun klasikal.
Dari hasil penelitian serta perolehan data pada penelitian, agar proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka sebagai guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Bagi guru, Group Investigation dapat menjadi salah satu pilihan model dalam pembelajaran sehari-hari. Guru juga dapat menerapkan model ini untuk materi pelajaran yang lain. Model ini terbukti dapat mengaktifkan proses belajar. 2) Bagi Siswa, Model Pembelajaran Group Investigation terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa sebaiknya tidak perlu takut atau ragu jika ingin mengeluarkan pendapat. Sesama siswa sebaiknya sering berbagi tentang pembelajaran di kelas supaya pembelajaran lebih menyenangkan. 3) Bagi sekolah, sebaiknya menyediakan referensi/buku-buku yang cukup untuk memperluas wawasan guru dan siswa.
REFERENSI
Arikunto, Suharsimi. 2010. ProsedurPenelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
PT. Rineka Cipta
Burhan Nurgianto, 1988. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, Yogyakarta: BPFE.
Palangka Raya.
Dimyati dan Mudjiono, 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta:PT Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar . 2010. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: Bumi Aksara.
Hasbullah, 2013. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pres.
Hosnan, 2014. Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Karwati, Euis dan Donni Juni Priansa. 2014. Manajemen Kelas (Classroom Management. Bandung: Alfabeta
Kunandar. 2012. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mulyadi,2010. Evaluasi Pendidikan Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama Di Sekolah. UIN- Maliki Press.
Mulyasa. 2013. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Purwanto, 2010. Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta:Pustaka Belajar.
Rusman, 2014. Model-Model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme Guru.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Sugiyono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Surawan. (2020). Dinamika Dalam Belajar : Sebuah Kajian Psikologi Penelitian.
Yogyakarta : K-Media.
Suriansyah, A., Sulaiman, Aslamiah, & Noorhafizah. 2014. Strategi Pembelajaran.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Palangka Raya.
Palangka Raya.