• Tidak ada hasil yang ditemukan

penerapan pembelajaran berbasis raos getun, sumelang, meri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penerapan pembelajaran berbasis raos getun, sumelang, meri"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS RAOS GETUN, SUMELANG, MERI, PAMBEGAN DI KELAS VI SD SENDANGSARI PAJANGAN BANTUL YOGYAKARTA (KAJIAN TERHADAP KONSEP DAN PEMIKIRAN KI AGENG SURYOMENTARAM) Herly Setiawan, Dhiniaty Gularso Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Yogyakarta [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana penerapan pembelajaran berbasis rasa menyesal (raos getun), khawatir (sumelang), iri (meri), sombong (pambegan) di Kelas VI SD Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta (Kajian Terhadap Konsep dan Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-September 2017 di SD Negeri Sendangsari, Pajangan, Bantul. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru kelas VI B, teman sejawat guru, dan siswa kelas VI B di SD Negeri Sendangsari, Pajangan, Bantul. Pengambilan data dalam penelitian ini adalah menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis model Bogdan dan Biklen (Dalam Djam’an Satori dan Aan Komariah), yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drwawing)/ verifikation. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber yaitu dengan menggunakan sumber data yang beragam seperti sumber data yang berasal dari guru kelas, teman sejawat guru, dan siswa. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik yaitu menggunakan berbagai teknik dalam pengambilan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa guru menerapkan pembelajaran berbasis rasa menyesal (raos getun), khawatir (sumelang), iri (meri), sombong (pambegan). Penerapan pembelajaran berbasis rasa menyesal (raos getun) dengan menanamkan kebiasaan kepada siswa untuk bisa menyesal (raos getun) bila mendapatkan nilai yang kurang sempurna, dengan tujuan agar anak terus giat belajar dan tidak menyesal dikemudian hari. Penerapan pembelajaran berbasis rasa khawatir (sumelang) saat ada ulangan secara mendadak dan beberapa siswa khawatir mendapatkan nilai kurang sempurna, maka guru dengan mengelola atau memberi pengutan kepada siswa apabila mempunyai rasa khawatir yang berlebih maka siswa harus percaya kepada dirinya bahwa mereka bisa mengerjakannya. Penerapan pembelajaran berbasis rasa iri (meri) dengan memberikan motivasi dan gambaran dari prestasi atau keberhasilan teman yang mendapatkan nilai ulangan sempurna, agar siswa yang lain mempunyai keinginan belajar sama untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Penerapan pembelajaran berbasis rasa sombong (pambegan) dengan mengelola sombong anak di saat- saat tertentu seperti siswa boleh sombong apabila mendapatkan nilai sempurna, dengan tujuan siswa yang lain termotivasi untuk giat belajar agar mendapatkan nilai sempurna. Kata kunci: penerapan pembelajaran, rasa menyesal (raos getun), khawatir (sumelang), iri (meri), sombong (pambegan).. Abstract This study aims to describe and analyze how the application of feeling-based learning regret (raos getun), worry (sumelang), jealous (meri), arrogant (pambegan) in Class VI SD Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta (Study Against the Concept and Perspectiv e of Ki Ageng Suryomentaram) . The research was conducted on July-September 2017 at SD Negeri Sendangsari, Pajangan, Bantul. This research is qualitative research. Sources of data in this research are class VI teacher B, peers of teachers, and students of class VI B at SD Negeri Sendangsari, Pajangan, Bantul. Data collection in this research are by interview, observation, and documentation. Data analysis technique Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 80. (2) used is Bogdan and Biklen model analysis technique (In Djam'an Satori and Aan Komariah), data reduction, presentation data (data display), and conclusion drawing / verification. The validity checks of data use source triangulation and engineering triangulation. The examination of the validity of the data using source triangulation is by using diverse data sources such as data sources derived from classroom teachers, peers, teachers and students. Examination of data validity using technique triangulation that is using various technique in taking data that are interview, observation, and documentation. Based on the results of the research it can be concluded that the teacher apply a feeling based learning regret (raos getun), worry (sumelang), jealous (meri), arrogant (pambegan). Application of taste-based learning regrets (raos getun) by instilling habits to students to be sorry (raos getun) when getting a less than perfect value, with the aim that children continue to study hard and not regret in the future. The application of worry-based learning (sumelang) when there is a sudden repetition and some students are worried about getting a less than perfect score, then the teacher by managing or giving pengutan to students if they have an excessive worry then students must believe in themselves that they can do it. Application of feelings-based learning (meri) by providing motivation and description of the achievements or success of friends who get perfect repetition value, so that other students have the desire to learn together to get perfect value. The application of pompous flavor-based learning (pambegan) by managing arrogant children at certain moments such as students may be arrogant when getting a perfect score, with the aim of other students motivated to study hard in order to get a perfect score. Keywords: application of learning, feeling sorry (raos getun), worry (sumelang), jealous (meri), arrogant (pambegan). anak itu, agar mereka sebagai manusia dan. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha sadar dan. sebagai anggota masyarakat dapat mencapai. terencana manusia untuk mengembangkan. keseluruhan dan kebahagiaan yang setinggi-. kepribadian di dalam maupun di luar sekolah. tingginya. Pendidikan menurut Ki Ageng. dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena. Suryomentaram adalah mengenai cara-cara. itu agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh. mendidik anak. Ilmu pendidikan membahas. rakyat sesuai dengan kemampuan masyarakat,. cara-cara. maka. bahagia sejak dini. Ilmu pendidikan juga. pendidikan adalah tanggung jawab. keluarga,. masyarakat,. dan. menanamkan pengetahuan ilmu. pemerintah.. membahas hal-hal yang bisa menimbulkan. Tanggung jawab tersebut didasari dengan. perselisihan dan cinta. Materi pendidikan ini. kesadaran bahwa tinggi rendahnya pendidikan. ditujukkan agar anak mampu berfikir dan. maka akan berpengaruh pada kebudayaan. mengerti hal yang benar dan mampu mencintai. suatu daerah, karena bagaimanapun juga. orang lain.. kebudayaan itu tidak hanya berpangkal dari. Menurut. ajaran-ajaran. Ki. Ageng. naluri semata-mata, tetapi terutama dilahirkan. Suryomentaram terdapat berbagai ajaran yaitu. dari proses belajar dalam arti yang sangat luas.. wejangan pokok ilmu bahagia, filsafat rasa. Hakikat pendidikan menurut Ki Hajar. hidup, rasa bebas, rasa unggul, dan lain-lain.. Dewantara adalah tuntunan didalam hidup. Yang isinya merupakan pembelajaran semesta. tumbuhnya. Artinya, menuntun. yang menekankan ciri kepribadian bangsa,. segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-. sebab anak walaupun cerdas jika tidak didasari. anak-anak.. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 81. (3) nilai atau moral, maka anak itu akan hancur.. anak dalam menyadari bahwa dirinya belum. Dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram juga. bisa atau bertanya kepada guru tentang materi. membahas tentang raos getun, sumelang,. yang belum paham menjadi rendah, karena. meri, pambegan.. anak didik sekarang itu senjatanya kalau ada. Menurut Grangsang, dkk (1985: 17) raos. getun. dalam. ajaran. Ki. Ageng. tugas dan tidak dibatasi dalam mencari tugas tersebut. maka. akan. mencari diinternet.. Suryomentaram ialah takut akan pengalaman. Jawaban internet walaupun benar tetapi tidak. yang. hasil. ada prosesnya, sebab dalam pembelajaran hal. observasi saya dengan bapak Lejaryono salah. yang paling penting adalah prosesnya. Walau. satu. beliau. hasil akhirnya sama, tetapi anak harus tau. rasa menyesal yang. prosesnya. Raos getun dan sumelang ini akan. dirasakan pada saat akan ujian, tetapi ada. menyebabkan orang bersedih hati, prihatin,. materi yang belum tersampaikan dan hasilnya. hingga merasa celaka.. telah. dialami.. guru. di. SD. menjelaskan bahwa. dibawah. Berdasarkan. standar/. Sendangsari,. yang. Menurut Grangsang, dkk (1985: 9) Meri. diharapkan. Dalam menanggapi hal itu, guru. dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram ialah. sering sharing dengan anak didik diluar jam. merasa kalah terhadap orang lain. Berdasarkan. sekolah. Jadi, posisi anak didik dalam sharing. hasil observasi saya dengan salah satu guru di. ini. sebagai. tidak. juga. perlu. SD Sendangsari, beliau menjelaskan bahwa. pada. saat. kebanyakan anak didiknya adalah anak teman. menyampaikan materi bagi guru anak sudah. beliau sewaktu SMP dahulu, hampir 60%. Ada. paham, tetapi bagi anak mereka tidak jelas,. juga anak yang beranggapan bahwa “orang tua. ketidakjelasan itu terbagi dalam beberapa. saya akrab dengan pak guru, maka saya akan. faktor, yaitu faktor sungkan, faktor malu. diberlakukan istimewa”, disisi lain beliau juga. dengan temannya, faktor komunikasi anak. sering kerumah beberapa anak didik untuk. dalam menterjemahkan materi dari guru yang. bertemu dengan orang tuanya. Beliau juga. kurang jelas.. tidak. mendapatkan. mitra.. sesuai. hak. Anak mereka,. Menurut Grangsang, dkk (1985: 17) dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram. mengistimewakan. didiknya, semua. salah satu anak. anak didiknya. dianggap. sama.. sumelang ialah takut akan pengalaman yang. Menurut Grangsang, dkk (1985: 9). belum dialami. Berdasarkan hasil observasi. pambegan ialah merasa menang terhadap. saya. di SD. orang lain. Berdasarkan hasil observasi saya. Sendangsari, beliau menjelaskan bahwa rasa. dengan salah satu guru di SD Sendangsari,. khawatir. dalam. beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya. setengah-. manusia itu sombong, yang punya potensi. setengah, ibaratnya kita memberi racun kepada. sombong itu anak didik putri, sebab dari segi. anak didik, sebab omongan guru lebih mujarap. pakaian saja sudah sombong. Anak didik itu. daripada omongan orang tua. Serta sekarang. menjadi sombong karena ada pepatah jawa. dengan. salah. terjadi. menyampaikan. satu. saat. materi. guru. guru. secara. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 82. (4) yang tidak tepat mengatakan “tinimbang aku. dengan harapan, guru merasa sumelang. mati ngantuk, aluwung aku mati umuk”,. apabila dalam menyampaikan materi kepada. “mbangane aku meneng wae yo salah, lueh. anak secara setengah-setengah-setengah, guru. apek aku bengok-bengok”. Jadi sombong itu. menjelaskan meri pada saat ada anak yang. harus dikelola dengan baik dan benar, seperti. merasa bahwa bapak dari temannya adalah. halnya didalam kelas guru memetakan sesuai. teman sekolah beliau dahulu pasti lebih. karakter anak didik, dengan disanjung atau. diistimewakan, tetapi beliau tidak pernah. disindir agar anak itu merasa gagah dan mau. mengistimewakan anak didiknya satupun, guru. berusaha. Contohnya: mas gilang itu nilainya. menjelaskan pambegan kepada anak didiknya. paling tinggi dari temannya satu kelas, tapi. itu perlu, agar anak itu menjadi gagah dan. alangkah baiknya kalau didalam kelas jangan. selalu mau berusaha.. sering ramai sendiri. Meri dan pambegan ini. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti. yang menyebabkan orang berusaha keras,. “Bagaimana Penerapan Pembelajaran Berbasis. mati-matian. semat. Raos Getun, Sumelang, Meri, Pambegan di. (kekayaan), derajat (kedudukan), dan kramat. Kelas VI SD Sendangsari Pajangan Bantul. (kekuasaan). Orang yang sedang dihinggapi. Yogyakarta (Kajian Terhadap Konsep dan. meri dan pembegan cenderung mencari guru. Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram)”. Hal. atau dukun. Hal ini digunakan untuk meminta. ini peneliti berharap ajaran tersebut benar-. petunjuk.. benar diterapkan berdasarkan ajaran Ki Ageng. untuk. memperoleh. Saat observasi di SD Sendangsari, Pak. Suryomentaram, serta peneliti ingin menggali. Lejaryono merupakan guru kelas VI B yang. lebih jauh tentang penerapan pembelajaran ini.. menerapkan. METODE. beberapa. ajaran Ki Ageng. Suryomentaram. Guru tersebut menerapkan. A. Latar Penelitian. pembelajaran berbasis raos getun, sumelang,. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-. meri, pambegan. Sebagai contoh guru akan. September. merasa menyesal apabila anak didiknya tidak. untuk. bisa mengerjakan soal ujian, padahal materi. bagaimana penerapan pembelajaran berbasis. sudah disampaikan semua. Selanjutnya guru. raos getun, sumelang, meri, pambegan di. akan merasa menyesal apabila anak didiknya. Kelas VI SD Sendangsari Pajangan Bantul. saling bermusuhan.. Yogyakarta (Kajian Terhadap Konsep dan. Berdasarkan hasil wawancara dengan. 2017.. Penelitian ini bertujuan. mendeskripsikan. Pemikiran. Ki. dan. Ageng. Suryomentaram).. Pak Lejaryono yang mengerti ajaran Ki Ageng. Pendekatan. Suryomentaram tentang raos getun, sumelang,. penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan. meri, pambegan. Menurut Pak Lejaryono di. data yang ada di lapangan dengan cara. SD Sendangsari, guru merasa getun apabila. menguraikan dan menginterpretasikan sesuatu. saat ujian ada materi yang belum tersampaikan. seperti. dan mendapatkan nilai yang tidak sesuai. menghubungkan sebab akibat terhadap sesuatu. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. yang. penelitian. menganalisis. ada. kualitataif. di. lapangan,. dalam. dan. 83. (5) yang terjadi pada saat penelitian, dengan. pembelajaran berbasis raos getun, sumelang,. tujuan memperoleh gambaran realitapenerapan. meri, pambegan di Kelas VI SD Sendangsari. pembelajaran berbasis raos getun, sumelang,. Pajangan Bantul Yogyakarta (Kajian Terhadap. meri, pambegan.. Konsep. Penelitian. ini. dilakukan. di. SD. dan. Pemikiran. Ki. Ageng. Suryomentaram).. Sendangsari. Sekolah tersebut terletak di Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini. C. Data dan Sumber Data. dilakukan di kelas VI B, siswa kelas VI B. Sumber data dalam penelitian adalah. berjumlah 24 siswa. Pada awalnya peneliti. informan dari mana data dapat di peroleh. melakukan observasi awal, ternyata ditemukan. (Suharsimi Arikunto, 2013: 172).Sumber data. beberapa hal yang menarik untuk diteliti.. dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:. Setelah mengajukan izin meneliti kepada. 1. Data Primer. pihak sekolah, ternyata ada respon positif untuk melakukan penelitian di SD ini.. Data primer adalah data yang diperoleh berdasarkan pengukuran secara langsung oleh peneliti dari sumbernya. Misalnya seorang peneliti ingin mendapatkan data mengenai. B. Cara Penelitian Pendekatan penelitian. ini. yang. adalah. digunakan kualitatif.. dalam Menurut. rata-rata berat badan balita di suatu wilayah. Apabila. peneliti. melakukan. penimbangan. Djam’an Satori dan Aan Komariah (2012:22). berat badan balita secara langsung, satu. penelitian kualitatif adalah penelitian yang. persatu, maka data yang diperoleh merupakan. menekankan pada quality atau hal yang. data primer. (Zainal Mustafa, 2009:82).. terpenting darii sifat suatu barang/ jasa. Hal. 2. Data Sekunder. yang terpenting dari suatu barang/jasa berupa. Data Sekunder adalah data yang telah. kejadian/fenomena/ gejala sosial adalah makna. dikumpulkan. dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan. terdokumentasi,. pelajaran berharga bagi suatu pengembangan. menyalin data tersebut untuk kepentingan. konsep teori.. penelitiannya. Misalnya, seorang peneliti ingin. Penelitian. ini. termasuk. oleh. pihak lain, dan telah. sehingga. peneliti. tinggal. penelitian. mendapatkan data mengenai rata-rata berat. deskriptif kualitatif. Djam’an Satori dan Aan. badan balita di suatu wilayah. Apabila peneliti. Komariah (2012:28), menjelaskan langkah. hanya mendatangi posyandu setempat untuk. kerja untuk mendeskripsikan suatu objek,. mencatat data berat badan balita dari kartu. fenomena, atau setting sosial terejawantahkan. menuju sehat (KMS) atau dari dokumen. dalam suatu tulisan yang bersifat naratif.. catatan yang ada, maka data yang diperoleh. Artinya, data, fakta yang dihimpun berbentuk. disebut data sekunder (dalam hal ini peneliti. kata atau gambar dari pada angka-angka.. tidak. Dalam penelitian ini peneliti bermaksud. melakukan. penimbangan. sendiri).. (Zainal Mustafa, 2009:82).. untuk mendeskripsikan tentang penerapan Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 84. (6) dilakukan oleh sumber data dan hanya sebagai. D. Prosedur Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan. pengamat. independen.. Peneliti. mencatat. langkah yang paling utama dalam sebuah. berbagai kejadian, kemudian menganalisis,. penelitian. Karena, dengan mengetahui teknik. lalu membuat kesimpulan tentang pelaksanaan. pengumpulan data peneliti bisa mendapatkan. penerapan pembelajaran berbasis raos getun,. data yang memenuhi standar yang telah. sumelang, meri, pambegan di Kelas VI SD. ditetapkan.. Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta. Menurut Sugiyono (2015:309) dalam penelitian. kualitatif,. pengumpulan. data. dilakukan pada natural setting (kondisi yang. (Kajian Terhadap Konsep dan Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram). 2. Wawancara Menurut Djam’an Satori dan Aan. alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan observasi. data. lebih. berperan. banyak. serta. pada. (participan. Komariah (2012: 130) “wawancara adalah suatu. teknik. pengumpulan. data. observation), wawancara mendalam (in depth. mendapatkan. interview) dan dokumentasi. Adapun macam-. sumber data langsung melalui percakapan atau. macam teknik pengumpulan data sebagai. tanya jawab”.. berikut.. informasi yang. untuk. Menurut. 1. Observasi. (2015:. 194). wawancara dapat dilakukan secara terstruktur. Menurut Djam’an Satori dan Aan Komariah. Sugiyono. digali dari. (2012:. 105)“observasi. adalah. maupun. tidak. terstruktur. terstruktur.. digunakan. sebagai. pengumpulan. baik secara langsung maupun tidak langsung. pengumpul data telah mengetahui dengan pasti. untuk. tentang informasi apa yang akan diperoleh.. data. yang. harus. dikumpulkan dalam penelitian”.. bila. peneliti. teknik. pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti. memperoleh. data,. Wawancara. atau. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara,. Observasi dapat dibedakan menjadi. pengumpul data telah menyiapkan instrumen. participant observation (observasi berperan). penelitian. dan non participant observation. Observasi. tertulis yang alternatif jawabannya pun telah. berperan yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan. disiapkan. sehari-hari orang yang sedang diamati atau. terstruktur adalah wawancara yang bebas di. yang. digunakan. penelitian.. sebagai. Sedangkan. berupa. pertanyaan-pertanyaan. sedangkan. wawancara. tidak. sumber. data. mana peneliti tidak menggunakan pedoman. observasi. non. wawancara. yang. telah. tersusun. secara. participant yaitu peneliti tidak terlibat dan. sistematis dan lengkap untuk pengumpulan. hanya. datanya.. sebagai. pengamat. independen. (Sugiyono, 2015: 204). Observasi. yang. Wawancara dilakukan. yang. dilakukan. dalam. pada. penelitian ini yaitu menggunakan wawancara. penelitian ini non partisipan, di mana peneliti. terstruktur, di mana dalam melaksanakan. tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang. wawancara,. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. peneliti. sudah. menyiapkan 85. (7) instrumen. penelitian. berupa. pertanyaan-. E. Teknik Analisis Data. pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya. Menurut Bogdan dan Biklen (Dalam. dalam. Djam’an Satori dan Aan Komariah, 2012: 201). penelitian ini melibatkan guru kelas VI untuk. mengemukakan bahwa analisis data kualitatif. mengumpulkan informasi tentang pelaksanaan. adalah upaya yang dilakukan dengan jalan. penerapan pembelajaran berbasis raos getun,. bekerja dengan data, mengorganisasikan data,. sumelang, meri, pambegan.. memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat. 3. Dokumentasi. dikelola,. pun. telah. disiapkan.. Menurut. Wawancara. Suharsimi. Arikunto. mensintesiskannya,. menemukan pola, menemukan apa yang. (2013:201) dokumentasi dari asal katanya. penting. dokumen, yang artinya barang-barang tertulis.. memutuskan apa. Didalam melaksanakan metode dokumentasi,. kepada orang lain.. peneliti. menyelidiki. seperti. buku-buku,. benda-benda. mencari dan. dan. apa. yang. dipelajari,. dan. yang dapat diceritakan. tertulis. Analisis yang dapat dilakukan dalam. dokumen,. penelitian ini adalah reduksi data (data. peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan. reduction), penyajian data (data display), dan. harian, dan sebagainya.. penarikan kesimpulan (conclusion drawing)/. majalah,. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen yang berbentuk tulisan. misalnya. Mereduksi data berarti merangkum,. kehidupan (life histories), ceritera, biografi,. memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan. peraturan,. yang. pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya. berbentuk gambar, misalnya foto, gambar. dan membuang yang tidak perlu. (Sugiyono,. hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang. 2015:238). Dalam penelitian ini reduksi data. berbentuk karya misalnya, karya seni, yang. sangat diperlukan, karena data yang telah. dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-. direduksi akan memberikan gambaran yang. lain. Studi dokumen merupakan pelengkap. jelas,. dari. melakukan pengumpulan data selajutnya dan. kebijakan.. penggunaan. harian,. 1. Reduksi Data (data reduction). sejarah. wawancara. catatan. verifikation.. Dokumen. metode. dalam. observasi dan. penelitian. kualitatif.. (Suharsimi Arikunto, 2013:329).. dan. mempermudah. peneliti untuk. mencari bila diperlukan. 2. Penyajian Data (data display). Teknik dokumentasi yang dilakukan. Setelah data di reduksi, maka langkah. pada penelitian ini yaitu pengumpulan foto-. selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam. foto selama kegiatan pembelajaran dalam. penelitian. menerapan pembelajaran berbasis raos getun,. dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,. sumelang, meri, pambegan, pengumpulan. hubungan antar. dokumen seperti lembar wawancara dan lain-. sejenisnya. (Sugiyono, 2015: 341). Dengan. lain. Hal ini dilakukan untuk melengkapi. mendisplaykan data, maka akan memudahkan. teknik wawancara dan observasi.. untuk. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. kualitatif,. penyajian. data. bisa. kategori, flowchart. memahami. apa. yang. dan. terjadi, 86. (8) merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan. hal ini untuk memastikan data mana yang. apa yang telah dipahami.. dianggap benar.. 3.. Penarikan. Kesimpulan. (conclusion. drawing)/ verifikation.. PEMBAHASAN. Langkah ke-tiga dalam penelitian ini adalah penarikan kesimpulan. Kesimpulan. A. Pemahaman guru tentang rasa menyesal (raos getun). dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah. merupakan. temuan. baru. Berdasarkan hasil di lapangan melalui. yang. pengamatan dan wawancara yang dilakukan. sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat. peneliti tentang bagaimana guru memahami. berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek. raos getun siswa, maka diperoleh hasil bahwa. yang sebelumnya masih remang-remang atau. raos getun siswa bila anak itu menimbulkan. gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas,. banyak masalah, artinya yang pertama anak. dapat berupa hubungan kausal atua interaktif,. didik sering menimbulkan masalah baik di. hipotesis atau teori. (Sugiyono, 2015: 345).. sekolah. maupun. di. masyarakat,. guru. intropeksi diri apakah ada yang salah yang disampaikan saat di sekolah, apa guru salah. F. Pemeriksaan Keabsahan Data Uji keabsahan data dalam penelitian ini. dalam mengajarnya, yang kedua bila anak. menggunakan uji kredibilitas. Adapun cara. tidak bisa mengerjakan, guru menyesal apakah. yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi. kurang jelas dalam menyampaikan kepada. dalam. anak-anak. pengujian. kredibilitas. ini diartikan. atau. mungkin. materi. belum. sebagai pengecekan data dari berbagai sumber. tersampaikan, ketiga bila anak itu tidak. dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.. mampu mengembangkan , sehingga tidak. (Sugiyono, 2015: 372). Kemudian triangulasi. mampu mengembangkan materi yang telah di. yang digunakan dalam penelitian ini adalah. ajarkan, yang ke empat anak didik tidak bisa. triangulasi sumber dan triangulasi teknik.. mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. Triangulasi. dilakukan. ke jenjang yang lebih tinggi. Serta pada saat. dengan cara mengecek data yang telah. observasi dalam pembelajaran matematika. diperoleh melalui beberapa sumber yaitu guru. guru mampu memahami rasa menyesal (raos. kelas. Sedangkan. getun) siswa saat mengalami kesulitan dan. triangulasi teknik dilakukan dengan cara. terlihat bersedih dalam mengerjakan latihan. mengecek data kepada sumber yang sama. soal dengan memberikan dorongan motivasi. dengan teknik yang berbeda yaitu dengan. agar siswa dapat menerima pembelajaran. observasi, wawancara, dan dokumentasi. Bila. dengan. degan ketiga teknik pengujian kredibilitas ini. tentang rasa menyesal (raos getun) siswa,. dihasilkan data yang berbeda-beda, maka. ketika siswa belum mampu menerima materi. peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada. yang telah dijelaskan oleh guru, sehingga. sumber data yang bersangkutan atau yang lain,. dalam mengerjakan soal latihan, siswa masih. dan. siswa. sumber. kelas. ini. VI.. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. optimal.. Jadi,. pemahaman. guru. 87. (9) mendapatkan nilai kurang sempurna atau. menyebabkan orang bersedih hati, prihatin,. kurang dari kreteria ketuntasan minimal.. hingga merasa celaka. Tetapi jika tidak. Rasa menyesal (raos getun) terhadap. dipahami, sesal itu berlarut-larut hingga takut-. kurikulum, kurikulum sering ganti dengan. takut akan hal yang aneh-aneh, seperti takut. maksud kurikulum yang sebelumnya baru. terkutuk atau takut durhaka. (Grangsang, dkk. akan mapan , tapi kurikulum direvisi lagi.. 1985: 17-19).. Lebih baik kurikulum itu kalau sudah baik kita tingkatkan, tapi yang kurang baik kita perbaiki. B. Pemahaman guru tentang rasa khawatir. agar. (sumelang). lebih bagus lagi. Dan setiap ada. kurikulum baru tidak mau mempelajari dan. Rasa khawatir (sumelang) siswa ketika. menerapkannya karena sudah dianggap sulit. siswa pulang dari sekolah bertemu sama orang. terlebih dahulu, itulah yang membuat adanya. tua sangat sebentar sekali bahkan jarang, bisa. rasa menyesal. Jadi, pemahaman guru tentang. dikatakan saat pagi orang tua pergi kerja anak. rasa menyesal (raos getun) kurikulum dengan. belum bangun, dan anak pulang sekolah. sering gantinya kurikulum yang terbaru dan. sendiri, orang tua pulang dari kerja maghrib ,. tidak diterapkan kesemua kelas, maka tidak. sangat sedikit sekali anak bertemu dengan. semua. orang tua, dalam hal tersebut maka anak. siswa. bisa. merasakan kurikulum. terbaru tersebut.. kurang terpantau dalam belajarnya, tetapi. Penerapan pembelajaran berbasis rasa. siswa jarang sekali mempunyai perasaan. menyesal (raos getun), dengan guru memberi. khawatir ketika ada ulangan mendadak, karena. contoh kepada siswa dengan memberikan. sudah dibiasakan oleh guru kelas untuk siap. gambaran kita hidup di Dunia ini terbatas. ulangan setiap saat. Jadi keprihatinan inilah. waktu dan ruang, suka dan tidak suka, mau. yang dirasakan guru kelas VI, dari kurangnya. dan tidak mau pada saat siswa bersekolah. perhatian. harus. mempunyai prinsip sebelum siswa. menjadi malas tidak belajar sehingga prestasi. merasa menyesal yaitu mematuhi amanah. yang didapat tidak optimal. Jadi, pemahaman. orang. guru tentang rasa khawatir (sumelang) siswa,. tua. mungkin.. untuk Jadi,. menimba penerapan. ilmu. sebaik. pembelajaran. dalam. orang. setiap. tua. menyebabkan anak. pembelajaran. guru. selalu. berbasis rasa menyesal (raos getun) dengan. memberikan penguatan agar siswanya tidak. menanamkan kebiasaan kepada siswa untuk. mengalami kekhawatiran apabila ada ulangan. bisa menyesal (raos getun) bila melakukan. mendadak karena siswa sudah belajar setiap. kesalahan, mendapatkan nilai yang kurang. saat untuk mengasah kemampuan mereka.. sempurna dengan tujuan agar anak terus giat belajar dan tidak menyesal dikemudian hari.. Rasa khawatir (sumelang) terhadap kurikulum itu jangan sampai mematahkan. Hal di atas sama dengan pemikiran. semangat dalam mengajar, kalau secara terus. menurut Grangsang, bahwa Sesal ialah takut. menerus dihinggapi rasa khawatir akan tidak. akan pengalaman yang telah dialami. Sesal ini. memiliki kemajuan untuk kearah lebih baik.. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 88. (10) Jadi, rasa khawatir (sumelang) terhadap kurikulum itu harus. Memahami rasa iri (meri) siswa ketika. dengan memberikan. temannya dapat nilai baik saat ulangan, dia. penguatan kepada siswa bahwa harus percaya. dapat nilai yang kurang baik, maka iri ini. dengan kurikulum yang diterapkan pada saat. harus di kelola secara baik dengan memotivasi. ini agar siswa tidak dihinggapi rasa khawatir. temannya yang mendapatkan nilai kurang. terhadap kurikulum secara terus menerus.. sempurna. agar. bisa. mendapatkan. nilai. Penerapan pembelajaran berbasis rasa. sempurna. Ada juga siswa kelas VI iri (meri). khawatir (sumelang) jika dikelola secara. kepada kelas lain yang menerapkan kurikulum. positif. penguatan. terbaru, karena kelas VI belum menerapakan. kepada siswa, dengan memberikan pengertian. kurikulum terbaru ini menjadikan beberapa. bahwa tidak seharusnya mempunyai rasa. siswa kelas VI ingin mencoba kurikulum yang. khawatir (sumelang) yang berlebihan, lalu. terbaru saat ini agar bisa merasakan kurikulum. memberikan pengertian kepada siswa bahwa. terbaru tersebut, dari hal itulah guru selalu. khawatir itu boleh tetapi jangan berlebihan.. memberikan pengertian kepada siswa kelas VI. Jadi, penerapan pembelajaran berbasis rasa. agar. khawatir (sumelang) kalau dikelola dengan. kurikulum yang diterapkan pada kelas VI saat. positif. secara. ini sehingga siswa kelas VI tetap bisa. khawatir. merasakan nyaman dengan pembelajaran. Dari. mendapatkan nilai kurang sempurna maka. hasil pengamatan dan observasi Guru selalu. guru dengan mengelola kepada siswa apabila. memberikan motivasi serta penguatan kepada. mempunyai rasa khawatir yang berlebih maka. salah satu siswa yang mendapatkan nilai. siswa harus percaya kepada dirinya bahwa. kurang sempurna dengan memberikan contoh. mereka bisa mengerjakannya.. teman yang lain saja bisa mendapatkan nilai. maka. maka. mendadak,. selalu. saat. diberikan. ada. apabila. ulangan siswa. Memahami rasa khawatir (sumelang) ini hampir Sugiarto,. sama. dengan. (sumelang). mau menerima dengan. sempurna, mengapa kamu tidak! Dengan motivasi itu anak yang mendapatkan nilai. adalah. kurang sempurna tadi menjadi iri dengan. kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum. teman yang mendapatkan nilai sempurna, dan. terjadi. Dari sini kemudian dikenal dengan. menjadikan motivasi untuk rajin belajar agar. istilah magang cilaka. Magang cilaka adalah. mendapatkan nilai sempurna.. khawatir. khawatir. pendapat menurut. tetap bisa. jika. sesuatu. mengakibatkan. bencana,. dilakukan. akan. Sedangkan rasa iri (meri) kurikulum itu. atau kesusahan.. ketika ada kurikulum yang terbaru tidak. Artinya suatu tidakan belum juga dilakukan. diterapkan kesemua kelas, maka tidak semua. tapi rasa celaka sudah dirasakan (Sugiarto,. pendidik bisa merasakan kurikulum terbaru. 2015: 64-65).. tersebut. Jadi, rasa iri (meri) kurikulum itu ketika ada kurikulum yang terbaru tidak. C. Pemahaman guru tentang rasa iri (meri). diterapkan kesemua kelas, maka tidak semua. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 89. (11) pendidik bisa merasakan kurikulum terbaru. melakukan pengamatan salah satu siswa. tersebut.. sombong (pambegan) dengan memperlihatkan. rasa. Serta penerapan pembelajaran berbasis. hasil. iri (meri). sempurna, dengan tujuan agar teman yang lain. ini dengan memberikan. pekerjaan. yang. termotivasi. mendapatkan. untuk. belajar. nilai. motivasi dan gambaran dari prestasi atau. bisa. dan. keberhasilan teman yang mendapatkan nilai. mendapatkan nilai sempurna. Dan pemahaman. ulangan sempurna, agar siswa yang lain. guru tentang rasa sombong (pambegan) siswa,. mempunyai keinginan belajar yang sama. ketika ada salah satu siswa yang mendapatkan. untuk mendapatkan nilai yang sempurna.. nilai ulangan tertinggi dari teman-temannya. Dalam memahami rasa iri diatas hampir. maka guru membolehkan siswa tersebut untuk. sama dengan pendapat menurut Grangsang. sombong asal seperlunya saja tidak berlebihan,. yaitu iri (meri) merasa kalah terhadap orang. tapi. lain. Iri inilah yang menyebabkan orang. membantu. berusaha. mendapatkan nilai kurang sempurna untuk. keras,. memperoleh. semat. mati-matian,. untuk. (kekayaan),. derajat. sombong. disini. memotivasi. bertujuan. untuk. teman. yang. rajin belajar.. (kedudukan), dan keramat (kekuasaan). Orang. Sedangkan pemahaman guru tentang. yang sedang dihinggapi iri dan sombong. rasa sombong (pambegan) kurikulum itu. cenderung mencari guru-guru atau dukun-. ketika tidak diterapkan kesemua kelas maka. dukun. Pada guru atau dukun itu dimintanya. tidak perlu disombongkan karena seharusnya. petunjuk (Grangsang, dkk 1985: 9-11).. kurikulum yang kurang baik maka diperbaiki, kalau yang sudah baik tentunya dipertahankan. Serta penerapan pembelajaran berbasis. D. Pemahaman guru tentang rasa sombong (pambegan). rasa. Rasa sombong (pambegan) siswa ketika. sombong. (pambegan). ini. dengan. mengelola sombong anak di saat- saat tertentu. ada salah satu siswa yang mendapatkan nilai. seperti. yang sempurna akan lebih merasa bangga, dan. mendapatkan nilai sempurna, dengan tujuan. menyebabkan siswa lainnya akan termotivasi. siswa yang lain termotivasi untuk giat belajar. untuk. agar memperoleh nilai sempurna.. belajar. lebih. rajin.. Beliau. juga. siswa. boleh. sombong. apabila. memberikan contoh apabila siswa menjawab. Hal di atas hampir sama dengan. pertanyaan harus keras/ lantang walaupun. pendapat menurut Suryomentaram sombong. belum tepat jawabannya, setidaknya mereka. (pambegan) itu timbul karena orang tidak. sudah berani menjawab, jika ada siswa yang. mengerti akan kenyataan hidup, bahwa hidup. suka ramai sendiri di dalam kelas, beliau juga. itu rasanya sebentar senang dan sebentar susah. akan menyalurkan untuk menjadi pemimpin. yang abadi dan silih berganti. Rasa sombong. upacara. untuk. adalah dirinya merasa menang terhadap orang. mengumandangkan adzan di mushola saat. lain. Rasa sombong inilah yang menyebabkan. waktu sholat telah tiba. Serta pada saat. orang mati-matian mengejar semat, drajat, dan. atau. dimanfaatkan. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 90. (12) kramat, sebagai tindakan unggul-unggulan dan. 5. Pemahaman guru tentang rasa menyesal. menjadikan anak, istri, dan suami sebagai. (raos getun) kurikulum dengan sering gantinya. garan moncer (Suryomentaram dalam Abdul. kurikulum yang terbaru dan tidak diterapkan. kholik, 2017: 225).. kesemua kelas, maka tidak semua siswa bisa merasakan kurikulum terbaru tersebut.. KESIMPULAN. 6. Pemahaman guru tentang rasa khawatir. 1. Pemahaman guru tentang rasa menyesal. (sumelang). (raos getun) siswa, ketika siswa belum mampu. memberikan penguatan kepada siswa agar. menerima materi yang telah dijelaskan oleh. tidak. guru,. kurikulum secara terus menerus.. sehingga. dalam. mengerjakan. soal. terhadap. dihinggapi rasa. kurikulum khawatir. dengan terhadap. latihan, siswa masih mendapatkan nilai kurang. 7. Pemahaman guru tentang rasa iri (meri). sempurna atau kurang dari kreteria ketuntasan. kurikulum itu ketika ada kurikulum yang. minimal.. terbaru tidak diterapkan kesemua kelas, maka. 2. Pemahaman guru tentang rasa khawatir. tidak. (sumelang) siswa, dalam setiap pembelajaran. kurikulum terbaru tersebut.. guru selalu memberikan penguatan agar. 8. Pemahaman guru tentang rasa sombong. siswanya tidak mengalami kekhawatiran, dan. (pambegan). apabila ada ulangan mendadak siswa sudah. diterapkan disemua kelas maka tidak perlu. siap untuk mengasah kemampuan mereka,. disombongkan karena seharusnya kurikulum. karena siswa selalu belajar setiap saat.. yang kurang baik maka diperbaiki, kalau yang. 3. Pemahaman guru tentang iri (meri) siswa. sudah baik tentunya dipertahankan.. ketika ada salah satu siswa yang mendapatkan. 9. Penerapan pembelajaran berbasis rasa. nilai. nilai. menyesal (raos getun) dengan menanamkan. tertinggi di kelas, maka siswa yang belum. kebiasaan kepada siswa untuk bisa menyesal. mendapatkan nilai sempurna akan merasa iri. (raos. (meri), dengan rasa iri ini siswa akan. mendapatkan nilai yang kurang sempurna. termotivasi. dengan tujuan agar anak terus giat belajar dan. sempurna. atau. untuk. mendapatkan. rajin. belajar. agar. semua. pendidik. kurikulum. getun). bila. bisa. itu. merasakan. ketika. tidak. melakukan kesalahan,. mendapatkan nilai sempurna.. tidak menyesal dikemudian hari.. 4. Pemahaman guru tentang rasa sombong. 10. Penerapan pembelajaran berbasis rasa. (pambegan) siswa, ketika ada salah satu siswa. khawatir (sumelang) saat ada ulangan secara. yang mendapatkan nilai ulangan tertinggi dari. mendadak dan khawatir mendapatkan nilai. teman-temannya maka guru membolehkan. kurang. siswa tersebut untuk sombong asal seperlunya. mengelola kepada siswa apabila mempunyai. saja tidak berlebihan, tapi sombong disini. rasa khawatir yang berlebih maka siswa harus. bertujuan untuk membantu memotivasi teman. percaya kepada dirinya bahwa mereka bisa. yang mendapatkan nilai kurang sempurna. mengerjakannya.. sempurna. maka. guru. dengan. untuk rajin belajar. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 91. (13) 11. Penerapan pembelajaran berbasis rasa iri. mendapatkan nilai yang tidak sempurna untuk. (meri). belajar lebih giat lagi.. dengan memberikan motivasi dan. gambaran dari prestasi atau keberhasilan teman. yang. mendapatkan. nilai ulangan. DAFTAR PUSTAKA. sempurna, agar siswa yang lain mempunyai keinginan belajar sama untuk mendapatkan nilai yang sempurna. 12. Penerapan pembelajaran berbasis rasa sombong. (pambegan). dengan. mengelola. sombong anak di saat- saat tertentu seperti siswa boleh sombong apabila mendapatkan nilai sempurna, dengan tujuan siswa yang lain termotivasi. untuk. giat. belajar. agar. mendapatkan nilai sempurna. 13. Dampak dari guru yang menerapkan pembelajaran berbasis menyesal (raos getun) siswa. bisa. hormat. dan. menjunjung tinggi kesopanan, anak-anak. tersebut. ketika. Abdul Kholik. 2017. Psikoterapi Jawa Pendekatan Kawaruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2012. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta. Grangsang Suryomentaram dan Ki Oto Suastika. 1985a. Ajaran-Ajaran Ki Ageng Suryomentaram jilid 1. Jakarta: PT Inti Idayu Press. _________ .1985b. Ajaran-Ajaran Ki Ageng Suryomentaram jilid 2. Jakarta: PT Inti Idayu Press. _________. 1985c. Ajaran-Ajaran Ki Ageng Suryomentaram jilid 3. Jakarta: PT Inti Idayu Press.. berargumen selalu mempunyai dasar-dasar yang valid serta berdampak positif ketika. Ryan. siswa mendapatkan nilai kurang sempurna maka mereka akan terus giat belajar untuk mendapatkan nilai sempurna. 14. Dampak dari guru yang menerapkan pembelajaran berbasis khawatir (sumelang) akan berfikir dan bertindak dengan cermat dan. Sugiarto. 2015. Psikologi Raos Saintifikasi Kawaruh Jiwa Ki Ageng Suryometaram. Yogyakarta: Pustaka Ifada.. Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Suharsimi Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.. penuh perhitungan karena menjadikan siswa termotivasi dan tertantang untuk belajar lebih giat lagi.. Zainal Mustafa. 2009. Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.. 15. Dampak dari guru yang menerapkan pembelajaran berbasis iri (meri) menjadikan siswa. berfikir. jauh. kedepan. untuk. mendapatkan prestasi yang membanggakan. 16. Dampak dari guru yang menerapkan pembelajaran berbasis sombong (pambegan) akan. menjadikan. motivasi. siswa. yang. Jurnal PGSD Indonesia, Volume 4, Nomor 1, April 2018. 92. (14)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan profil peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa sebagai hasil penerapan model pembelajaran berbasis masalah..

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara peningkatan pemahaman konsep fisika siswa setelah penerapan pembelajaran berbasis masalah

PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS PRODUKSI MANDIRI PADA PRAKTIK PEMESINAN Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu.. PENERAPAN PEMBELAJARAN

Penerapan model pembelajaran berbasis sains budaya lokal adalah penerapan pembelajaran yang memanfaatkan sains budaya lokal atau sains asli yang terdapat dalam suatu daerah

Pendapat Guru Penjas Sekolah Dasar Terhadap Persiapan Pembelajaran Sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Untuk mendapatkan hasil yang baik, sempurna serta yang lebih

Sintaks Model Pembelajaran Digital Marketing Berbasis Proyek Tahap Kegiatan Dosen Kegiatan Mahasiswa Penerapan pembelajaran digital marketing berbasis proyek • Dosen

2, September 2021 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN MEDIA VIRTUAL DALAM MENELAAH KETEPATAN STRUKTUR DAN KEBAHASAAN TEKS PERSUASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN

Dari hasil pembahasan Penerapan Metode Cooperative Learning Pada Aplikasi Pembelajaran Siswa Berbasis Website dapat disimpulkan bahwa aplikasi berbasis web ini dapat membantu siswa