• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Prinsip-Prinsip Bioetika dalam Pengambilan Keputusan Medis

N/A
N/A
nabila Pinaring

Academic year: 2024

Membagikan "Penerapan Prinsip-Prinsip Bioetika dalam Pengambilan Keputusan Medis"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP BIOETIK DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEDIS

Atika Aulya Hasibuan, Nabila Pinaring Gusti BK, Adnan Mustaqim, Nurbaity Situmorang, Ahmad Shafwan S. Pulungan

Program Studi Biologi, Universitas Negeri Medan [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan prinsip-prinsip bioetika dalam pengambilan keputusan medis di rumah sakit. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan lima tenaga medis untuk mendapatkan wawasan mendalam mengenai persepsi dan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip bioetika seperti otonomi, beneficence, non-maleficence, dan keadilan sangat penting dalam pengambilan keputusan medis.

Para tenaga medis menerapkan prosedur standar operasional (SOP) untuk memastikan keputusan yang diambil tidak merugikan pasien, serta menghormati keputusan pasien meskipun berlawanan dengan rekomendasi medis. Temuan ini menekankan pentingnya pelatihan dan pendidikan berkelanjutan dalam bioetika bagi tenaga medis.

Kata kunci: bioetika, pengambilan keputusan medis, prinsip etika, otonomi, SOP

Abstract

This study aims to examine the application of bioethical principles in medical decision- making in hospitals. The method used was interviews with five medical professionals to gain in- depth insights into their perceptions and experiences. The results show that the application of bioethical principles such as autonomy, beneficence, non-maleficence, and justice is crucial in medical decision-making. Medical professionals implement standard operating procedures (SOP) to ensure that decisions made do not harm patients and respect patient decisions even if they oppose medical recommendations. These findings emphasize the importance of continuous training and education in bioethics for medical professionals.

Keywords: bioethics, medical decision-making, ethical principles, autonomy, SOP

Pendahuluan

Biologi merupakan ilmu yang mempelajari aspek fisik beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan. Sebagai cabang ilmu yang memiliki kaitan erat dengan manusia, biologi memiliki posisi sangat strategis dan mempunyai kedudukan unik dalam struktur keilmuan, yaitu pengembangannya diarahkan pada keamanan lingkungan dan kebermanfaatan kehidupan. Biologi merupakan ilmu pengetahuan alam atau natural science yang mempunyai kesamaan dengan cabang atau disiplin lainnya dalam sains, yaitu mempelajari gejala alam, kumpulan konsep prinsip dan teori, cara kerja

atau metode ilmiah, dan terkandung sejumlah nilai dan sikap. Istilah biologi diserap dari bahasa Belanda biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani bios artinya hidup dan logos artinya lambang, ilmu. Perkembangan ilmu biologi telah banyak menyumbang dalam kehidupan manusia dalam berbagai bidang.

Biologi memiliki peran yang penting dalam berbagai aspek kehidupan seperti bidang kedokteran, pertanian, peternakan, budi daya ikan, budi daya pangan, dan lain sebagainya.

Prinsip-prinsip bioetika pada dasarnya merupakan penerapan prinsip-prinsip etika dalam bidang kedokteran dan kesehatan. Etika

(2)

kedokteran terapan, terbagi atas 2 kategori besar:

(1) Principlism: mementingkan prinsip etik dalam bertindak. Termasuk dalam konteks ini adalah etika normatif, empat basic moral principle, konsep libertarianism (mengutamakan.

otonomi) serta beneficence in trust (berbuat baik dalam suasana kepercayaan). Dasar utama dalam principlism adalah bahwa memilih salah. satu prinsip etik ketika akan mengambil norma-norma kemanusiaan yang akan dikorbankan. Dasar:

menghormati norma kebahagiaan. manusia.

Kelemahan: tidak mampu membuat keputusan klinis yang etik karena terlalu bersifat pribadi dan cenderung sangat keputusan, (2) Alternative principlism, termasuk dalam etika ini adalah etika komunitarian, etika naratif dan etika kasih sayang (Ali, 2019).

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik khusus yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan biologi , kemajuan teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pelayanan rumah sakit yang menghadapi tuntutan persaingan yang semakin ketat akan memerlukan peran sumber daya manusia yang handal, maka dari itu pengadaan magang bagi mahasiswa ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas lulusan yang akan menjadi SDM unggul di bidang keilmuan biologi terutama Kesehatan yang urgensinya sangat penting bagi keberlanjutan hidup semua orang.

Penerapan prinsip bioetik dalam pengambilan keputusan medis di rumah sakit menggambarkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi oleh penyedia layanan kesehatan dalam menjalankan praktik medis yang etis dan berdaya guna. Di tengah kemajuan teknologi medis dan perubahan demografi populasi, rumah sakit sebagai pusat perawatan kesehatan utama sering kali dihadapkan pada situasi yang memerlukan pengambilan keputusan medis yang sulit dan sensitif (Lestari, 2023).

Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Pengambilan keputusan sebagai kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi sebagai pangkal atau permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah secara individual dan secara kelompok baik secara institusional maupun secara organisasional. Di samping itu,

fungsi pengambilan keputusan merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut dengan hari depan, masa yang akan datang, dimana efek atau pengaruhnya berlangsung cukup lama. Pengambilan keputusan adalah suatu proses untuk memilih suatu tindakan yang terbaik dari sejumlah alternatif pilihan yang ada. Menurut Janis dan Mann pengambilan keputusan sangat penting untuk diperhatikan karena terdapat risiko dari segala keputusan yang diambil. Menurut Bazerman dalam Basyid pengambilan.Keputusan adalah sebuah proses keputusan yang berpikir secara rasional dan akan mengarahkan pada hasil yang optimal dan memberikan akurasi terhadap nilai keputusan serta risiko terhadap keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu cara atau proses keputusan yang diambil dari berbagai alternatif yang berasal dari aspek kognitif sehingga akan menimbulkan dampak bagi setiap keputusan yang diambil serta memahami risiko dari keputusan yang diambil (Afandi, 2017)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode wawancara untuk mengumpulkan data kualitatif dari para responden yang terlibat. Metode wawancara bertujuan untuk mendapatkan wawasan mendalam mengenai perspepsi dan pengalaman responden secara luas. Wawancara dilakukan secara tatap muka di lokasi yang telah ditentukan dengan sesi waktu sekitar satu jam.

Setiap wawancara direkam dengan iin responden untuk memastikan bahwa data yang diperoleh dapat dianalisis kembali secara akurat.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Metode wawancara yang digunakan dalam metode ini dengan bantuan 5 orang responden sebagai tenaga medis, kami memperoleh hasil wawancara yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut

No Pertanyaan Jawaban 1. Apa yang Anda

lakukan untuk memastikan bahwa tindakan medis yang Anda ambil tidak merugikan

Langkah pertama dalam memastikan tindakan medis tidak merugikan pasien adalah memastikan tujuan tindakan tersebut jelas,

(3)

pasien? terutama dalam menegakkan

diagnosis. Bagian laboratorium harus memastikan bahwa hasil yang diberikan kuat dan terpercaya.

Proses ini dimulai dari penerimaan spesimen,

pengerjaan

spesimen, hingga keluarnya hasil.

Cross-check

dilakukan untuk menghindari

kesalahan sekecil mungkin.

2. Menurut Anda, apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penerapan prinsip-prinsip bioetika dalam pengambilan keputusan medis?

Dalam setiap

keputusan medis, aspek bioetika seperti otonomi, beneficence, non- maleficence, dan keadilan harus diterapkan.

Contohnya, ketika pasien datang, kita tidak membedakan berdasarkan agama, ras, atau status sosial. Semua pasien dilayani sesuai urutan kedatangan atau berdasarkan urgensi kasus. Selain itu, setiap instansi medis memiliki SOP yang harus dipatuhi untuk meminimalisir kesalahan dan deviasi dalam pelaksanaan

pelayanan medis.

Bisakah Anda memberikan contoh ketika

Anda harus

menghormati keputusan pasien

Ketika saya

berpraktik sebagai tenaga medis, ada kalanya pasien yang menurut penilaian medis harus dirawat

yang mungkin berlawanan dengan rekomendasi medis Anda?

di rumah sakit, menolak untuk dirawat karena alasan

pribadi.Dalam situasi ini, meskipun dari perspektif medis pasien seharusnya tetap dirawat, kita menghormati keputusan pasien dengan syarat pasien menulis surat pernyataan Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS).

Surat ini menyatakan bahwa pasien pulang atas kemauan sendiri

dan memahami

risiko yang mungkin terjadi.

Pernahkah Anda mengalami situasi di mana sulit untuk menentukan apa yang paling bermanfaat bagi pasien?

Dalam pengambilan keputusan medis,

kami selalu

mempertimbangkan

SOP, panduan

praktik medis, dan aturan atau edaran terkait, terutama di bidang penyakit infeksi seperti tuberkulosis, demam berdarah, dan HIV.

Kami mengikuti panduan dari rumah

sakit dan

pemerintah, dan memastikan apakah pasien dalam kondisi darurat atau tidak.

Jika darurat, tindakan prioritas dilakukan.

Pelayanan terbaik selalu diupayakan, dan dalam kasus sulit, keputusan diambil dengan mempertimbangkan

(4)

bahwa manfaat harus lebih besar daripada risikonya. Semua

layanan yang

diberikan selalu berfokus pada kepentingan pasien.

Mohon jelaskan upaya apa saja yang ibu/bapak lakukan guna meningkatkan keterampilan kerja

dikhususkan dalam bidang bioetik?

Kami selalu

mengupdate ilmu melalui webinar,

seperti yang

diselenggarakan oleh rumah sakit bulan lalu, yang fokus pada aspek hukum dan etika.

Webinar ini

menghadirkan narasumber dari bidang hukum untuk membantu kami menjalankan praktik medis secara legal dan memastikan tidak merugikan hak pasien.

Tabel 1. Hasil wawancara dengan salah satu responden

Dari hasil wawancara yang diperoleh dapat kita bahas bahwasanya untuk memastikan bahwa tindakan medis tidak merugikan pasien, langkah pertama adalah memastikan tujuan tindakan tersebut jelas, misalnya dalam menegakkan diagnosis. Laboratorium berperan penting dalam hal ini dengan memastikan bahwa hasil yang diberikan akurat dan terpercaya.

Proses ini dimulai dari penerimaan spesimen, pengerjaan spesimen, hingga keluarnya hasil.

Selain itu, dilakukan juga cross-check untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin. Dalam meningkatkan penerapan prinsip-prinsip bioetika dalam pengambilan keputusan medis, penting untuk mengingat aspek-aspek bioetika seperti otonomi, beneficence, non-maleficence, dan justice. Semua pasien harus dilayani tanpa diskriminasi berdasarkan agama, ras, atau status sosial. Keputusan medis harus didasarkan pada SOP yang ada untuk meminimalkan kesalahan.

Penghormatan terhadap otonomi pasien diwujudkan dengan memberikan informasi mengenai opsi-opsi terbaik yang dapat diambil pasien. Keputusan akhir tetap berada di tangan pasien, kecuali dalam situasi darurat. Hal ini memastikan bahwa hak-hak pasien tetap dihormati.

Menghadapi situasi sulit dalam menentukan manfaat terbaik bagi pasien sering terjadi. Dalam kondisi seperti ini, SOP dan panduan praktik medis yang berlaku harus diikuti. Untuk kasus penyakit infeksi, panduan dari pemerintah dan rumah sakit diikuti.

Keputusan diambil berdasarkan prioritas emergensi dan pertimbangan bahwa manfaat tindakan lebih besar daripada risikonya. Ada situasi di mana pasien menolak rekomendasi medis, misalnya menolak rawat inap meskipun kondisi medisnya memerlukan. Dalam kasus seperti ini, pasien diberikan hak untuk pulang setelah menandatangani surat PAPS (Pulang Atas Permintaan Sendiri), yang menunjukkan bahwa keputusan tersebut diambil atas kehendak pasien sendiri.

Bioetika sangat penting dalam praktek kedokteran karena mengintegrasikan aspek moral, etika, dan kemanusiaan. Dengan adanya bioetika, tenaga medis dapat memperlakukan pasien dengan baik dan memberikan pelayanan terbaik. Bioetika tidak dapat dipisahkan dari praktek kedokteran, khususnya dalam pelayanan kesehatan. Seorang tenaga kesehatan harus memiliki kompetensi yang mencakup pendidikan formal, praktek rumah sakit, serta spesialisasi dan sertifikasi. Kompetensi tersebut diperoleh melalui proses pendidikan yang panjang dan berkelanjutan, seperti menjadi dokter spesialis mikrobiologi klinik. Tenaga kesehatan harus terus belajar dan mengikuti standar kompetensi dari organisasi profesi seperti IDI.

Selain itu, untuk meningkatkan keterampilan dalam bidang bioetik, tenaga medis dapat mengikuti seminar dan webinar terkait bioetik. Aktif dalam organisasi profesi seperti IDI juga membantu dalam memperbarui ilmu dan keterampilan. Keterlibatan dalam kegiatan yang membahas aspek hukum dan etika medis juga penting untuk memastikan praktek yang legal dan tidak merugikan hak pasien.

Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif

(5)

mengenai sesuatu cara bertindak dan inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat (Laudon, 2008 : 148). Pengambilan keputusan juga merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.

Menurut Davis (1979: 5), keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula. Kemampuan seseorang untuk membuat suatu keputusan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar wewenang yang diberikan atasan kepadanya. Tetapi yang paling penting bukanlah banyak atau sedikitnya wewenang, melainkan apakah orang tersebut benar - benar dapat menggunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya untuk membuat keputusan yang terbaik.

Prinsip ini perlu digaris bawahi karena kenyataan menunjukkan bahwa orang gagal membuat keputusan yang baik, tepat pada waktunya, meskipun ia memiliki cukup wewenang, karena ia dilumpuhkan oleh rasa takut bahwa ia akan melakukan kesalahan. Semakin tinggi posisi seseorang, akan semakin besar kekuasaan yang akan diperoleh untuk membuat keputusan yang lebih besar dan lebih penting tanpa campur tangan pihak lain. Posisi yang lebih tinggi tersebut akan memberi mereka kekuasaan yang diperlukan untuk

membuat segala sesuatunya berlangsung seperti apa yang mereka inginkan. Setiap keputusan haruslah diikuti dengan pelaksanaan, dan orang yang membuat keputusan itulah yang pertama-tama bertanggung jawab (Ibnu Syamsi, 1995: 2).

Proses pengambilan keputusan dalam praktik tenaga medis  dipahami sebagai serangkaian keputusan yang dibuat oleh tenaga medis dalam interaksinya dengan pasien mengenai jenis pengamatan yang akan dilakukan dalam situasi yang di alami klien (pengkajian keperawatan), perumusan diagnosa tenaga medis , rencana tindakan tenaga media yang harus diambil, tindakan tenaga medis yang akan diambil serta evaluasi (Dianan Catarina. 2009, Jan Florin. 2007, Mehee, 2014).

Tenaga medis  memiliki tanggung jawab dan kewenangan untuk mengambil langkah - langkah tenaga medis yang diperlukan sesuai dengan standar tenaga medis.

Pelayanan tenaga medis di Indonesia di masa depan diperkirakan juga akan menuju pelayanan atau asuhan tenaga medis profesional yang bersifat holistik dan humanistik, berlandaskan ilmu dan kiat keperawatan dengan etika keperawatan sebagai tuntunan (Husin, 1995). Kemampuan para perawat dalam kondisi-kondisi kritis ketika menangani pasien tentu tidak lepas dari latar belakang pendidikan yang pernah ditempuh serta pengalaman yang pernah dijalani.

Termasuk di sini adalah kemampuan perawat dalam mengambil keputusan saat gawat darurat.

Cooke & Slack (1991) menjelaskan 9 tahap yang dilalui individu dalam mengambil keputusan yaitu:

a. Observasi.

Individu memperhatikan bahwa ada sesuatu yang keliru atau kurang sesuai, sesuatu yang merupa‐

kan kesempatan untuk memutuskan sedang

(6)

terjadi pada lingkungannya. Suatu kesadaran bahwa keputusan sedang diperlukan. Kesadaran ini diikuti oleh satu periode perenungan seperti proses inkubasi.

b. Mengenali masalah.

Sesudah mele‐ wati masa perenungan, atau karena akumulasi dari banyaknya bukti‐ bukti atau tanda‐tanda yang tertang‐ kap, maka individu semakin menyadari bahwa kebutuhan untuk memutuskan sesuatu menjadi semakin nyata.

c. Menetapkan tujuan.

Fase ini adalah masa mempertimbangkan harapan yang akan dicapai dalam mengambil keputusan. Tujuan pada umumnya berkaitan dengan kesenjangan antara sesuatu yang telah diobservasi dengan sesuatu yang diharapkan, berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi.

d. Memahami masalah.

Merupakan suatu kebutuhan bagi individu untuk memahami secara benar permasalah‐ an, yaitu mendiagnosa akar permasa‐ lahan yang terjadi.

Kesalahan dalam mendiagnosa dapat terjadi karena memformulasikan masalah secara salah, karena hal ini akan mempe‐ ngaruhi rangkaian proses selanjut‐ nya. Jawaban yang benar terhadap pemahaman masalah yang salah memiliki makna/akibat sama seperti halnya jawaban yang salah terhadap pemahaman masalah yang benar.

e. Menentukan Pilihan‐pilihan.

Jika batas‐batas keputusan telah didefini‐ sikan dengan lebih sempit maka pilihan‐pilihan dengan sendirinya lebih mudah tersedia. Namun, jika keputusan yang diambil masih didefinisikan secara luas maka proses menetapkan pilihan merupakan proses kreatif.

f. Mengevaluasi Pilihan‐pilihan.

Fase ini melibatkan penentuan yang lebih luas mengenai ketepatan masing‐ masing pilihan terhadap tujuan pengambilan keputusan.

g. Memilih.

Pada fase ini salah satu dari beberapa pilihan keputusan yang tersedia telah dipilih, dengan pertimbangan apabila diterapkan akan menjanjikan suatu kepuasan.

h. Menerapkan.

Fase ini melibatkan perubahan‐perubahan yang terjadi karena pilihan yang telah dipilih.

Efektivitas penerapan ini bergantung pada ketrampilan dan kemampuan individu dalam

menjalankan tugas serta sejauh mana kesesuaian pilihan tersebut dalam penerapan.

i. Memonitor.

Setelah diterapkan, maka keputusan tersebut sebaiknya dimonitor untuk melihat efektivitas dalam memecahkan masalah atau mengurangi permasalahan yang sesungguhnya.

Simpulan dan Saran Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan prinsip-prinsip bioetika dalam pengambilan keputusan medis sangat penting untuk memastikan praktik medis yang etis dan berdaya guna. Tenaga medis harus mengedepankan prinsip-prinsip otonomi, beneficence, non-maleficence, dan keadilan dalam setiap keputusan medis. Selain itu, pelatihan dan pendidikan berkelanjutan dalam bidang bioetika sangat dianjurkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis.

Rekomendasi untuk langkah selanjutnya adalah meningkatkan keterlibatan tenaga medis dalam seminar dan pelatihan bioetika serta mengintegrasikan prinsip-prinsip bioetika lebih mendalam dalam kurikulum pendidikan kedokteran.

Saran

Kami dari kelompok mengetahui bahwa dalam penyelesaian artikel ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan rekomendasi, saran ataupun kritik yang sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas kami ini agar dalam pembuatan tugas kedepannya jauh lebih baik.

Dan jika ada kesalahan penulisan isi maupun sampul buku secara tidak sengaja, kami memohon maaf sebesar-besarnya

Daftar Pustaka

Afandi, D. (2017). Kaidah dasar bioetika dalam pengambilan keputusan klinis yang etis.

Majalah Kedokteran Andalas, 40(2), 111.

https://doi.org/10.22338/mka.v40.i2.p111- 121.2017

Ali, N. (2019). Urgensi Bioetika Dalam

(7)

Perkembangan Biologi Modern Menurut Perspektif Islam. Jurnal Binomial, 2(1), 64–

85.

https://ejournals.umma.ac.id/index.php/bin omial/article/view/186

Andi Mappaware, N., Dewanto, A., Hakimi, M., Sastrowijoto, S., Kusmaryanto, &

Muhammad Mursyid. (2022). Pengambilan Keputusan Dokter dan Pasien terhadap Tindakan Sectio Caesarea Atas Permintaan Sendiri Berdasarkan Kaidah Autonomi.

Window of Health : Jurnal Kesehatan, 5(1), 486–500.

https://doi.org/10.33096/woh.vi.140 Lestari, R. D. (2023). Bioetika dalam Pandanagan

Ilmu Kedokteran dan Multidisiplin Keiluman. MAHESA : Malahayati Health Student Journal, 3(10), 3218–3224.

https://doi.org/10.33024/mahesa.v3i10.111 69

Moordiningsih, & Faturochman. (2004). Proses Pengambilan Keputusan Dokter (Physician Decision Making). Jurnal Psikologi, 33(2), 1–8.

Nusawakan, A. W., Tesabela Messakh, S., &

Jambormias, S. (2019). Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Dalam Penggunaan Layanan Kesehatan Pada Wilayah Kerja Puskesmas Tawiri.

Media Ilmu Kesehatan, 6(2), 129–138.

https://doi.org/10.30989/mik.v6i2.188 Saputra Mokoagow, D., Mokoagow, F., Pontoh,

S., Ikhsan, M., Pondang, J., & Paramarta, V.

(2024). Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam Meningkatkan Efisiensi: Mini Literature Review.

COMSERVA : Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 3(10), 4135–

4144.

https://doi.org/10.59141/comserva.v3i10.1 223

Suryadi, T. (2020). Prinsip Prinsip Etika Dan Hukum Dalam Profesi Kedokteran.

Pertemuan Nasional V JBHKI Dan Workshop III Pendidikan Bioetika Dan Medikolega, 13.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pembahasan, dapat diketahui bahwa Penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan limbah B3 medis di Indonesia belum dapat diterapkan dengan baik, hal

Penerapan Prinsip-Prinsip Hukum Kepailitan harus lebih tegas, tepat dan konsisten dalam setiap pertimbangan hukum yang terdapat dalam setiap amar putusan kepailitan.. Serta

KINERJA PERUSAHAAN BERDASARKAN KOMITMEN ORGANISASI, PENGENDALIAN INTERN DAN PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG) (Survei pada Rumah Sakit Mojosongo 2

Sedangkan di Rumah Sakit Y terdapat 4 dimensi budaya keselamatan pasien berdasarkan AHRQ yang berkorelasi dengan persepsi pelaporan kesalahan medis oleh

8. Meningkatnya penerapan sistem dukungan pengambilan keputusan bagi pimpinan Berdasarkan kondisi yang ada pada BPKP Jatim, maka peneliti bermaksud mengkaji sistematika

– Tenaga yang berhak membuat rekam medis di rumah sakit adalah Tenaga yang berhak membuat rekam medis di rumah sakit adalah • Dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi dan

Keputusan ini mengangkat Kepala Bidang Pelayanan Medis untuk mengendalikan penyelenggaraan kegiatan pelayanan medis di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak

Dengan demikian, evaluasi pengambilan keputusan merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa keputusan yang diambil telah sesuai dengan prinsip-prinsip etika, tujuan organisasi, dan