• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Teknik Relaksasi Autogenik Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi

N/A
N/A
sri wulandari

Academic year: 2024

Membagikan " Penerapan Teknik Relaksasi Autogenik Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

JUDUL : Penerapan Teknik Relaksasi Autogenik Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi

NAMA : DEDE ARIS HERDIANSYAH NPM:

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS INDONESIA MAJU

2024

(2)

HALAMAN SAMPUL DALAM

(3)

HALAMAN PENGESAHAN JUDUL: LITERATURE REVIUW

KARYA ILMIAH NERS

Disusun Oleh:

NAMA: DEDE ARIS HERDIANSYAH NPM:

Karya Ilmiah Ners ini telah diuji dan dinilai oleh Dewan Penguji pada Program Studi Profesi Ners

Fakultas Ilmu Kesehatan Di Universitas Indonesia Maju Tanggal ....

Pembimbimg Penguji

(4)

ABSTRAK

(5)

ABSTRACK

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH NERS

(6)

KATA PENGANTAR

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DALAM...2

HALAMAN PENGESAHAN...3

ABSTRAK4 ABSTRACK...5

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH NERS...5

KATA PENGANTAR...6

DAFTAR ISI...7

DAFTAR TABEL...10

DAFTAR GAMBAR...10

DAFTAR LAMPIRAN...10

BAB 1 PENDAHULUAN...11

A. Latar Belakang...11

B. Roadmap Karya Ilmiah Ners...13

C. Urgensi Karya Ilmiah Ners...13

D. Tujuan Karya Ilmiah Ners...13

E. Manfaat Karya Ilmiah Ners...13

1. Manfaat Teoritis...13

2. Bagi Universitas Indonesia Maju...13

3. Bagi Penulis Selanjutnya...14

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...15

A. Pengertian Hipertensi...15

B. Etiologi Hipertensi...15

C. Manifestasi Klinis Hipertensi...15

D. Klasifikasi Hipertensi...15

E. Patofisiologi...16

F. Komplikasi...17

G. Penatalaksanaan...18

(8)

H. Konsep Relaksasi Autogenik...19

1. Pengertian...19

2. Manfaat...19

3. Tujuan...19

I. Alat dan bahan...20

1. Bolpoin...20

2. Catatan...20

3. Video relaksasi autogenik...20

4. Lembar prosedur melakukan relaksasi autogenik...20

5. Bantal...20

6. Tensi...20

7. Stetoskop...20

J. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI AUTOGENIK...20

BAB 3 METODE...20

A. Strategi Pencarian Literature...20

1. Analisis Masalah PICOT...20

2. Kata Kunci dan database...20

B. Kriteria Literature...20

1. Kriteria Inklusi...20

2. Kriteria Ekslusi...20

3. Penilaian kualitas/kelayakan...21

C. Seleksi Literature (PRISMA)...21

1. Hasil Pencarian (ditulis dalam bentuk diagram)...21

2. Proses Pengumpulan Data Literature Reviuw...21

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN...21

A. Hasil...21

(9)

B. Pembahasan...21

C. Implikasi Intervensi...21

D. Keterbatasan Literature Review...21

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN...21

A. Simpulan...21

B. Salam...21

DAFTAR PUSTAKA...21

LAMPIRAN...21

(10)

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang cukup tinggi baik di negara maju maupun negara berkembang. Penyakit hipertensi ini serius di kalangan masyarakat (public heart problem) dan akan menjadi masalah yang lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini. Hipertensi selalu menjadi penyebab utama dalam kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah. Penyakit hipertensi juga dapat terjadi tanpa gejala sehingga akan disadari ketika telah disertai dengan adanya komplikasi yang mempengaruhi fungsi jantung sampai dengan terjadinya stroke. Dalam dunia kesehatan hipertensi ini selalu di sebut dengan the silent killer.

Menurut WHO (World Health Organization) diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 milyar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 9,4 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Angka kejadian hipertensi di dunia cukup tinggi, menurut the American Heart Association setiap 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat menderita hipertensi.Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi suatu masalah kesehatan yang serius dan perlu diwaspadai, 2021 prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%, mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah pada arteri utama di dalam tubuh terlalu tinggi. Hal tersebut terjadi karena kerja jantung yang berlebih saat memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi oleh tubuh.

Hipertensi merupakan penyebab kematian utama yang sering disebut sebagai the silent killer disease. Saat ini penyakit degeneratif dan kardiovaskuler merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang merupakan suatu masalah kesehatan serius dan perlu diwaspadai. Penyakit darah tinggi atau hipertensi ini adalah keadaan dimana tekanan darah seseorang mengalami peningkatan di atas normal ditunjukan oleh angka sistolik (bagian atas) dan diastolik (bagian bawah) pada

(12)

pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa ataupun alat digital lainnya.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2018, provinsi jawa barat menduduki peringkat ke dua yaitu sebesar (39,6%) menjadi provinsi dengan hipertensi tertinggi di indonesia kedua setelah kalimantan selatan sebesar (44,1%).

Berdasarkan data yang diperoleh pada Rt 002/ Rw 001 desa kanoman, kecamatan cibeber, Cianjur terdapat 1 kasus hipertensi. Sementara tahun 2022 sebesar 3584, prevalensi hipertensi yang diperoleh dengan pengukuran usia >18 tahun menempati urutan kedua setalah bangka belitung (30,9%), dan kalimatan selatan (30,8%) menempati urutan ke empat tertinggi kasus hipertensi (29,4%) dan kalimantan timur (29,6%).

Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang merupakan suatu masalah kesehatan serius dan perlu diwaspadai. Penyakit darah tinggi atau hipertensi ini adalah keadaan dimana tekanan darah seseorang mengalami peningkatan di atas normal ditunjukan oleh angka sistolik (bagian atas) dan diastolik (bagian bawah) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa ataupun alat digital lainnya.

Terapi farmakologi menggunakan obat atau senyawa yang dalam kerjanya dapat mempengaruhi tekanan darah pasien, seperti menggunakan golongan obat sejenis diuretik, hidroklorotiazis, vasodilator arteorior langsung, antagonis angiotensin.

Terapi nonfarmakologi merupakan terapi tanpa menggunakan agen obat dalam proses terapinya. Terapi nonfarmakologi yang biasa dilakukan antara lain diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh, olahraga, perbaikan pola makan, dan melakukan teknik relaksasi. Relaksasi yang biasa dilakukan untuk menurunkan tekanan darah adalah relaksasi autogenik.

Teknik relaksasi autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik merupakan salah satu contoh dari relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya tangan merasa hangat dan berat)

(13)

yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri. Relaksasi autogenik merupakan relaksasi dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang, bahkan relaksasi autogenik terbukti dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung serta aliran darah.

Berdasarkan hasil penelitian Farrel terdapat hasil pada penerapan teknik relaksasi autogenik yang telah dilakukan penulis menunjukkan terjadi penurunan tekanan darah setelah diberikan teknik relaksasi autogenik selama 3 hari. Kedua subyek mengalami penurunan tekanan darah derajat II (>160 mmHg) menjadi tekanan darah pre hipertensi (120- 139 mmHg). Teknik relaksasi autogenik berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah.

Bersadasarkan hasil penelitian Sapti Ayubana Tekanan darah sebelum diberikan penerapan adalah 130/90 mmHg Setelah diberikan terapi relaksasi autogenik, tekanan darah subjek mengalami perubahan menjadi 130/80 mmHg.

Bersadasarkan hasil penelitian Sapti Ayubana Tekanan darah sebelum diberikan penerapan adalah 130/90 mmHg Setelah diberikan terapi relaksasi autogenik, tekanan darah subjek mengalami perubahan menjadi 130/80 mmHg.

Berdasarkan latar belakang di atas, hipertensi adalah Suatu kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi.Relaksasi yang biasa dilakukan untuk menurunkan tekanan darah adalah relaksasi autogenik. Autogenik pengaturan diri atau pembentukan diri sendiri, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektifitas “Penerapan Teknik Relaksasi Autogenik Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada pasien Hipertensi

(14)

B. Roadmap Karya Ilmiah Ners C. Urgensi Karya Ilmiah Ners D. Tujuan Karya Ilmiah Ners E. Manfaat Karya Ilmiah Ners

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat mendorong pelayanan asuhan keperawatan dengan memberikan tambahan “Penerapan Teknik Relaksasi Autogenik Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada pasien Hipertensi”

2. Bagi Universitas Indonesia Maju

Laporan akhir studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan materi belajar mahasiswa UNIVERSITAS INDONESIA MAJU dan menambah referensi mata kuliah perpustakaan khususnya dalam Keperawatan Medical Bedah

3. Bagi Penulis Selanjutnya

Diharapkan dapat dijadikan sebagai reference data awal maupun data tambahan untuk penelitian selanjutnya.

(15)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor penyebab utama kematian akibat stroke dan faktor yang dapat memperberat infark miokard (serangan jantung). Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang akan mengalami kenaikan tekanan darah.

Tekanan sistolik akan terus mengalami peningkatan sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, selanjutnya akan berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.

B. Etiologi Hipertensi

Penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi esensial (primer) merupakan hipertensi dimana penyebabnya tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetika, susunan saraf simpatik sistem rennin angiostenin, efek dari ekskresi natrium, psikologis, stress, dan hiperaktivitas. Sedangkan hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui dengan jelas, penyebabnya diantaranya berupa kelainan ginjal dan kontrasepsi hormonal.

C. Manifestasi Klinis Hipertensi

Pasien yang mengidap hipertensi biasanya ditandai dengan nyeri kepala saat terjaga, penglihatan kabur disebabkan karena kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak mantap disebabkan karena kerusakan susunan saraf pusat, kadang-kadang disertai mual dan muntah disebabkan karena peningkatan tekanan darah intrakranial, nocturia disebabkan karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus, edema dependen dan pembengkakan disebabkan karena peningkatan tekanan kapiler.

D. Klasifikasi Hipertensi

Kategori Sistolik Diastolik

Normal <120 mmHg <80 mmHg

Prehipeertensi 120-129 mmHg <80 mmHg

Hipertensi stage I 130-139 mmHg 80-89 mmHg

Hipertensi stage I >140 mmHg > mmHg

(16)

(Sumber : American Heart Association, Hypertension Highlights 2018 : Guideline For The Prevention, Detection, Evaluation And Management Of High Blood Pressure In Adults)

E. Patofisiologi

Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian cardiac output (curahjantung) dengan total tahanan prifer. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari perkalian antara stroke volume dengan heart rate (denyut jantug).

Pengaturan tahanan perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Empat sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vascular.

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di vasomotor, pada medula diotak. Pusat vasomotor ini bermula pada saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar dari kolumna spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk implus yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Titik neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf paska ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.

Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi Meski etiologi hipertensi masih belum jelas, banyak faktor diduga memegang peranan dalam genesis hipertensi seperti yang sudah dijelaskan dan faktor psikis, sistem saraf, ginjal,jantung pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin, angiotensin, sodium, dan air. Sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitasvasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah.

(17)

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran keginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yangpada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cendrung mencetuskan keadaan hipertensi.

F. Komplikasi

Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu.

1. Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak.

2. Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk trombus yang bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah.

3. Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.

Sedangkan hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan.

3. Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi. Penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, disebut dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa.

4. Dapat menyebabkan sesak nafas (eudema) kondisi ini disebut gagal jantung.

5. Ginjal tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Merusak sistem penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh.

(18)

G. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Farmakologis.

1) Terapi oksigen

2) Pemantauan hemodinamik 3) Pemantauan jantung

4) Obat-obatan: Chlorthalidon, Hydromax, Lasix, Aldactone, Dyrenium Diuretic bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan airnya

2. Penatalaksanaan nonfarmakologis

dengan modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan mengobati tekanan darah tinggi.

1) Pengaturan diet rendah garam diet rendah garam dapat menurunkan tekanan darah padaklien hipertensi. Dengan pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi stimulasi sistem renin- angiostensin sehingga sangata berpotensi sebagaianti hipertensi. Jumlah asupan natrium yang dianjurkan 50-100 mmol atausetara dengan 3-6 gram garam per hari 2) Diet tinggi kalium, dapat menurunkan tekanan darah tetapi

mekanismenya belum jelas. Pemberian kalium secara intravena dapat menyebabkan vasodilatasi, yang dipercaya dimediasi oleh oksidanitat pada dinding vaskular.

3) Mencegah terjadinya obesitas Mengatasi obesitas, pada sebagian orang dengan cara menurunkan berat badan mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja jantung dan voume sekuncup. Pada beberapa studi menunjukan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian hipertensi dan hipertrofi ventrikelkiri.

Jadi, penurunan berat badan adalah hal yangs angat efektif untuk menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan (1 kg/minggu).

4) Sangat dianjurkan. Penurunan berat badan dengan menggunakan obat- obatan perlu menjadi perhatian khusus karenan umumnya obat penurunan penurunan berat badan yang terjual bebas mengandung simpasimpatomimetik, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal jantung dan terjadinya eksaserbasi aritmia

5) Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kedaan jantung, olahraga isotonik dapat juga meningkatkan fungsi endotel, vasoldilatasin perifer, dan mengurangi katekolamin plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga meningkatkan

(19)

kadar HDL, yang dapat mengurangi terbentuknya arterosklerosis akibat hipertensi.

6) Memeperbaiki gaya hidup yang kurang sehat dengan cara berhenti merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol, penting untuk mengurangi efek jangka oanjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung

H. Konsep Relaksasi Autogenik 1. Pengertian

Relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan dibacakan kalimat pendek oleh pembaca atau perawat yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Relaksasi autogenic juga adalah relaksasi yang seakan menempatkan diri seseorang ke dalam kondisi terhipnotis ringan. Pasien diperintahkan tungkai dan lengannya untuk merasakan berat dan hangat, detak jantung dan juga kecepatan napas stabil, perut merasa rileks serta dahi merasa bersih dan dingin.

2. Manfaat

Manfaat dari relaksasi autogenik

1) Mempengaruhi fungsi tubuh sehingga dapat mengalirkan hormon- hormon dengan baik keseluruh tubuh dan bisa menurunkan kebutuhan terapi.

2) Menstimulasi sistem saraf parasimpatis yang membuat otak memerintahkan pengaturan rennin angiostenin pada ginjal sehingga membantu menjaga tekanan darah dalam batas normal.

3) Menjaga organ-organ yang terluka, artinya dengan relaksasi autogenik yang teratur maka akan menjaga pasien dari situasi-situasi yang cepat berubah sehingga stressor terkurangi dan relaksasi terjadi.

4) Menstimulasi pankreas dan hati untuk dapat menjaga gula darah dalam batas normal

5) Membantu untuk memperbaiki keseimbangan antara organ tubuh dan sirkulasi tubuh

3. Tujuan

Tujuan dari relaksasi autogenik adalah:

1) Memberikan perasaan yang nyaman 2) Mengurangi stress.

3) Memberikan ketenangan dan mengurangi ketegangan

(20)

4) Membuat tubuh tenang, ringan, hangat yang menyebar ke seluruh tubuh.

5) Menurunkan tekanan darah.

I. Alat dan bahan 1) Bolpoin 2) Catatan

3) Video relaksasi autogenik

4) Lembar prosedur melakukan relaksasi autogenik 5) Bantal

6) Tensi 7) Stetoskop

J. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR TEKNIK RELAKSASI AUTOGENIK

1. Pelaksanaan

Teknik relaksasi dilakukan selama 15 menit sekali pertemuan dan dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore.

a. Atur pernapasan menjadi lebih pelan dan dalam lalu berkata dalam hati

“mata saya terasa berat dan rileks” sambil memejamkan mata

b. Tarik napas sekuat-kuatnya lalu buang secara perlahan sambil katakan dalam hati “saya merasa damai dan tenang”

c. Ulangi tarik napas sekuat-kuatnya lalu buang secara perlahan sambil katakan dalam hati “dahi dan kepala saya terasa dingin”

d. Fokuskan perhatian pada lengan dan bayangkan kedua lengan terasa berat dan kendur lalu berkata dalam hati “lengan saya berat dan rileks”

e. Fokuskan perhatian pada bahu dan punggung lalu berkata dalam hati

“bahu dan punggung saya terasa berat dan rileks”

f. Fokuskan perhatian pada detak jantung lalu berkata dalam hati “detak jantung saya berdenyut dengan teratur dan saya merasa damai dan tenang”

g. Fokuskan perhatian pada pernapasan lalu berkata dalam hati “napas daya teratur, kuat dan dalam, saya merasa damai dan tenang”

h. Fokuskan pada kedua kaki dan berkata dalam hati “kaki saya terasa berat dan rileks”

(21)

i. Mengakhiri relaksasi tarik napas yang kuat lalu buang perlahan dan perlahan membuka mata.

BAB 3 METODE A. Strategi Pencarian Literature

1. Analisis Masalah PICOT 4. Kata Kunci dan database K. Kriteria Literature

1. Kriteria Inklusi

1) Pasien dengan kecemasan ringan hingga sedang.

2) Pasien yang mengalami ketegangan dan stress.

3) Pasien dengan hipertensi 2. Kriteria Ekslusi

1) Pasien yang tidak kooperatif contohnya seperti pasien panik, depresi berat, dan gangguan jiwa.

2) Pasien yang kurang motivasi atau pasien yang memiliki masalah mental dan emosional yang berat.

3) Jika pasien merasa cemas atau gelisah selama latihan, atau mengalami efek samping tidak bisa diam, maka latihan harus dihentikan.

(22)

3. Penilaian kualitas/kelayakan L. Seleksi Literature (PRISMA)

1. Hasil Pencarian (ditulis dalam bentuk diagram) 2. Proses Pengumpulan Data Literature Reviuw

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

B. Pembahasan

C. Implikasi Intervensi

D. Keterbatasan Literature Review

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

B. Salam

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Prayitno (2008) menyatakan bahwa relaksasi autogenik dapat menurunkan nyeri pada penderita ulkus peptikum, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Setyawati, (2010)

Penelitian yang tersebut membuktikan bahwa efek dari relaksasi dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi. Selanjutnya penurunan

Prayitno (2008) menyatakan bahwa relaksasi autogenik dapat menurunkan nyeri pada penderita ulkus peptikum, selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Setyawati,

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul: “Pengaruh

Selain itu terapi relaksasi otot progresif lebih mudah dilakukan dari pada teknk imajinasi terbimbing yang harus memerlukan lingkungan yang tenang (tidak

Pada saat melakukan pengkajian terhadap kedua subyek (Ny. S), didapatkan hasil pengukuran tekanan darah sebelum dilakukan penerapan relaksasi benson dan otot

Bapak/ibu yang tergabung dalam kelompok intervensi akan mendapat terapi relaksasi autogenik selam 3 hari, 2 kali sehari masing-masing ± 15 menit, sehingga keseluruhan 6 kali

Diagnosa utama pada kedua kasus tersebut adalah perfusi perifer tidak efektif dan nyeri akut sehingga tindakan relaksasi otot progresif dapat dilakukan dalam upaya untuk membuat tekanan