PENGALAMAN DAN EKSPRESI BERAGAMA (RELIGIOUS EXPERIENCES)
Disusun Oleh:
Keizza Nasheva Briantama 24105040009 Adila Himmati 24105040029
KELAS A
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
2025
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i PENDAHULUAN ... 1
A. Pengalaman Keagamaan ... 1 B. Ekspresi Pengalaman Keagamaan ...
KESIMPULAN ...
DAFTAR PUSTAKA ...
1
PENDAHULUAN
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang memiliki kecenderungan mencari makna dalam kehidupan, termasuk dalam konteks ke-Tuhanan (Saumantri, 2023). Sehingga muncul sesuatu yang disebut pengalaman keagamaan. Pengalaman keagamaan menjadi bagian penting dalam kehidupan individu, karena merupakan sebuah sesuatu yang menjembatani antara individu dengan Tuhannya. Tetapi pengalaman keaagamaan ini tidak muncul secara langsung, dibutuhkan proses untuk mengetahui dan menyadari pengalaman keagamaan tersebut sehingga dapat diekspresikan. Juga tanpa adanya pengaruh dan paksaan dari pihak lain (Pujiastuti, 1834). Karena biasanya orang yang telah memiliki pengalaman keagamaan ingin menunjukkan keyakinannya terhadap suatu agama yang diwujudkan dengan mengekspresikan keagamaannya, bisa dalam bentuk ritual, tindakan sosial dan lain sebagainya. Jadi, pengalaman keagamaan dan ekspresi keagamaan ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Dalam ranah psikologi agama, pengalaman keagamaan (religious expereince) sebagaimana terjadi pada diri AlGhazali dan Ibnu Arabi selalu berkaitan dengan kesadaran beragama (religious counsciousness). Kesadaran agama hadir dalam pikiran yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama, sementara pengalaman keagamaan merupakan unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yakni perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah).1
A. PENGALAMAN KEAGAMAAN
Pengalaman keagamaan merupakan unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yakni perasaan yang membawanya pada keyakinan pada Tuhan yang diperoleh dari suatu tindakan yang pernah dilakukannya. Muncul dari kesadaran pribadi seseorang dalam memahami ajaran- ajaran agamanya. Jika seseorang memperoleh pengalaman keagamaan apabila ia melaksanakan ajaran agamanya, jika ia tidak melaksanakan ajaran agamanya maka akan sulit memperoleh pengalaman keagamaannya (Saumantri, 2023). Hal ini juga sesuai dengan ungkapan Joachim Wach yang memberikan pengertian “pengalaman keagamaan adalah merupakan aspek batiniah dari saling hubungan antara manusia dan fikirannya dengan Tuhan”(Pujiastuti, 1834).
Dengan pengertian di atas dipahami bahwa pengalaman keagamaan merupakan hubungan batin seseorang dengan (Tuhan), hubungan tersebut dapat diciptakan dalam bentuk perasaan dengan cara melaksanakan ajaran-ajaran agama. Tetapi mengukur kondisi batin seorang pelaku keagamaan itu sulit dilakukan, karena tidak ada standar yang bisa mewakili pengalaman batin manusia. Jadi, Joachim Wach mengungkapkan ada dua cara untuk melihat hakikat pengalaman keagamaan seseorang. Pertama, memahami sejarah, akar pemikiran ataupun perkembangan ajaran agama yang mempengaruhi pengalaman kehidupan seseorang.
Kedua, melihat pengalaman seseorang baik individu atau kelompok. Pengalaman individu memang tidak bisa terlepas dari pengalaman kelompok, karena pengalaman individu dapat dilihat dari bagaimana ia berinteraksi dengan kelompoknya, dari mulai perilaku dan tindakan mereka.(Saumantri, 2023) Namun pengalaman keagamaan individu di sini tidak semua sama, berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung pada bagaimana masing-masing mereka menjalankan kehidupan beragamanya. Lalu, Wach juga menegaskan bahwa Pengalaman
1 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 12-15.
2
keagamaan merupakan aktivitas manusia dalam keberhadapannya dengan Sang Pencipta.
Aktivitas tersebut akan meliputi segi bathiniah dan lahiriah sehingga oleh karenanya manusia akan mengembangkan hubungan dengan Tuhan tersebut dalam bentuk polapola perasaan yang sistem-sistem pemikiran (keyakinan religious, ajaran agama, mitos dan dogma), sistem kelakuan sosial (upacara sembahyang bersama, ritus, liturgi) dan organisasi-organisasi dengan orang lain akan terasa berbeda karena pengalaman keagamaan seseorang dengan orang lain akan terasa berbeda, karena pengalaman keagamaan merupakan aspek bathiniah seseorang sehingga akan terasa seolah-olah kondisi subjektif tersebut sangat dominan, namun sesungguhnya bukanlah perihal yang subjektif yang dikehendaki dalam penelitian ini tetapi aspek universal dari pengalaman keagamaan yang dirasakan (Pujiastuti, 1834).
B. EKSPRESI PENGALAMAN KEAGAMAAN
Eskpresi keagaaman ini merupakan bagian terpenting dari agama. Karena ekspresi keagamaan ini ialah sebuah penggambaran perasaan terkait pengalaman keagamaan yang seseorang lakukan.(Ahmad, 2014) Jika pengalaman keagamaan hubungannya dengan Tuhan, ekspresi keagamaan ini hubungannya dengan kewajiban yang harus dijalankan untuk berhubungan dengan Tuhan.
3
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, H. Z. R. (2014). Ekspresi Keagamaan, Dan Narasi Identitas: Studi Program
Pesantren Tahfidz Intensif Daarul Quran Cipondoh Tangerang. Harmoni, 13(2), 51–69.
Pujiastuti, T. (1834). 896-1768-1-Sm. 63–72.
Saumantri, T. (2023). Moderasi Beragama Perspektif Pengalaman Keagamaan Joachim Wach. PATISAMBHIDA : Jurnal Pemikiran Buddha Dan Filsafat Agama, 4(2), 59–72.
https://doi.org/10.53565/patisambhida.v4i2.991
4