ANALISIS PENGANGGURAN DI INDONESIA DALAM 5 TAHUN TERAKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro Dosen Pengampu: Ir. Aris Supriyo Wibowo, M.P.
Disusun Oleh Kelompok 4 Kelas: 3E
Astrie Tania Wibowo 4441230040 Sindi Aryanti 4441230078 Setyo Dwi Irawan 4441230212 Nurin Ahriani 4441230214 Syifa Al Fitria 4441230065
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2024
i
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Ekonomi Makro yang berjudul “Analisis Pengangguran di Indonesia Dalam 5 Tahun Terakhir”. Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya dan kita selaku umatnya hingga akhir zaman. Pada kesempatan kali ini kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Ekonomi Makro yang telah memberikan arahan, serta teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungan sehingga makalah ini dapat tersusun sebagaimana mestinya.
Kami berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua dan kami menyadari masih banyak kekurangan pada makalah ini. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk membangun dalam penyempurnaan makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami umumnya bagi pembaca.
Serang, 12 September 2024
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
BAB II ... 3
TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Pengertian Pengangguran ... 3
2.2 Jenis Pengangguran ... 4
2.3 Penyebab Pengangguran ... 5
2.4 Dampak Pengangguran ... 5
2.5 Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Pengangguran ... 7
BAB III ... 9
PEMBAHASAN ... 9
3.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Karakteristik ... 9
3.2 TPT Menurut Jenis Kelamin ... 10
3.3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut kelompok Umur ... 10
3.4 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan ... 11
3.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi ... 12
BAB IV ... 13
PENUTUP ... 13
4.1 Kesimpulan ... 13
4.2 Saran ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dalam proses produksi. Tenaga kerja di Indonesia memiliki standar yang berbeda-beda, baik keterampilan maupun standar lain berupa pendidikan, pelatihan dan lainnya. Pengalaman antar masyarakat yang berbeda-beda merupakan salah satu penyebab pengangguran karena kekurangan tenaga ahli dalam bidang yang dibutuhkan. Ditambah lagi pengangkatan angkatan kerja imigran yang ahli dari luar negeri yang menyebabkan sumber daya manusia Indonesia tersaingi.
Pengangguran merupakan masalah ketenagakerjaan yang sering dihadapi oleh setiap negara, khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Masalah pengangguran ini selalu menjadi persoalan yang perlu dipecahkan dalam perekonomian Negara Indonesia. Jumlah penduduk yang bertambah semakin besar setiap tahunnya membawa akibat bertambahnya jumlah angkatan kerja. Tingginya tingkat pengangguran dalam suatu Negara dapat membawa dampak negatif terhadap perekonomian Negara tersebut.
Pengangguran terjadi karena pertumbuhan angkatan tenaga kerja lebih tinggi dari pertumbuhan lapangan pekerjaan yang ada. Pengangguran merupakan salah satu indikator penting di bidang ketenagakerjaan, dimana tingkat pengangguran dapat mengukur sejauh mana angkatan kerja mampu diserap oleh lapangan kerja yang ada. Pengangguran yang tinggi dapat menjadi sumber utama kemiskinan, dapat yang tinggi serta dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang
Masalah pengangguran dan ketenagakerjaan sampai saat ini masih menjadi perhatian utama di setiap negara di dunia khususnya di negara yang sedang berkembang. Kedua masalah tersebut merupakan satu kesatuan yang keduanya menciptakan dualisme permasalahan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja yang sedikit dapat menimbulkan pengangguran. Dengan bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun, pertambahan angkatan kerja semakin besar, sedang bertambahnya angkatan kerja belum dapat dikejar oleh pertambahan penyediaan kesempatan kerja atau lapangan kerja. Sehubungan dengan hal diatas gejala umum yang terdapat di daerah pedesaan adalah tidak seimbangnya antara jumlah penduduk dalam usia kerja dengan lapangan kerja yang tersedia.
2 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut karakteristik?
2. Bagaimana analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut jenis kelamin?
3. Bagaimana analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut kelompok umur?
4. Bagaimana analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut pendidikan?
5. Bagaimana analisis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut provinsi?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu untuk Mengetahui analisis tingkat terbuka (TPT) berdasarkan karakteristik, jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, dan provinsi di indonesia dalam 5 tahun terakhir, dan kita juga menganalisa apa saja jenis
penganggurannya, penyebab dan dampak dari pengangguran tersebut, lalu apa yang diupayakan oleh pemerintah dalam mengatasi pengangguran.
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pengangguran
Pengangguran diartikan sebagai seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja dan secara aktif mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Banyaknya pengangguran di suatu wilayah merupakan masalah yang tidak hanya mencakup bidang perekonomian saja. Di sisi lain, masalah pengangguran juga mempunyai hubungan erat dengan bidang sosial dan pendidikan. Di zaman seperti sekarang bukan hanya masyarakat yang memiliki pendidikan rendah saja yang menganggur, masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi pula juga banyak yang menganggur (Sukirno, 2008).
Menurut Sadono Sukirno (1994), pengangguran adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Pengangguran adalah keadaan dimana orang ingin bekerja namun tidak mendapat pekerjaan. Di Indonesia angka pengangguran semakin meningkat Pengangguran.
Sementara seseorang yang tidak bekerja namun tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai pengangguran. Dengan kata lain, seseorang dapat dikatakan sebagai pengangguran apabila ia benar benar sudah mencari pekerjaan tetapi belum memperoleh pekerjaan tersebut. Pengangguran merupakan masalah ekonomi karena ketika angka pengangguran meningkat sebagai dampaknya suatu negara membuang barang dan jasa yang sebenarnya dapat diproduksi oleh pengangguran. Pengangguran merupakan masalah sosial yang besar karena mengakibatkan penderitaan yang besar untuk pekerja yang menganggur yang harus berjuang dengan pendapatan yang kurang.
Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus semakin dalam tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Jika masalah pengangguran masih terus berlanjut akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi karena naiknya tingkat pengangguran menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun, yang artinya output yang dihasilkan tidak ada. Pengangguran terjadi karena jumlah kesempatan kerja yang tersedia umumnya lebih kecil dari angka yang ada, padahal jumlah penganggur yang ada selama ini sudah cukup besar. Kondisi ini berjalan bertahun-tahun sehingga terjadi akumulasi pengangguran karena pertumbuhan penduduk yang tinggi dan
4
juga karena kelangkaan modal berinvestasi sehingga tidak mampu menyerap pertambahan tenaga kerja.
2.2 Jenis Pengangguran
Mengutip pernyataan Sukirno (2000:8 9), Jenis-jenis pengangguran menurut sebab terjadinya pengangguran dibagi menjadi 2 (dua) jenis pengangguran, yaitu:
1. Pengangguran friksional
Makna dari pengangguran friksional adalah disaat terjadi kesusahan sementara antara pencari pekerjaan dengan lowongan kerja yang tersedia. Maksudnya, disaat pencari pekerjaan belum menemukan lowongan kerja, baik karena alasan waktu, jarak, maupun informasi yang kurang maka seseorang termasuk kedalam jenis pengangguran friksional.
2. Pengangguran struktural
Makna dari pengangguran struktural adalah disaat terjadi permasalahan struktur atau permasalahan komposisi perekonomian. Maksudnya, pada perubahan terjadi pada struktur maka berdampak pada kebutuhan keterampilan dari tenaga kerja. Namun, pencari kerja belum bisa beradaptasi dengan keterampilan yang dibutuhkan tersebut.
Dengan demikian, seorang pencari kerja tersebut termasuk ke dalam jenis pengangguran struktural
Sukirno (1994) membagi pengangguran ke dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
1. Pengangguran terbuka
Penyebab terjadinya pengangguran terbuka adalah disaat kondisi pertambahan tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan lowongan pekerjaan yang tersedia.
2. Pengangguran tersembunyi
Pengangguran tersembunyi terjadi disaat tenaga kerja yang dimiliki kelebihan karena beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya antara lain, berkaitan dengan jenis kegiatan pada perusahaan tersebut, kecil besarnya perusahaan tersebut, jenis intensif yang digunakan oleh perusahaan tersebut dan capaian tingkat produksi suatu
perusahaan. Misalnya: pelayan restoran yang dibutuhkan sudah melebihi kebutuhan sehingga kelebihan pelayan tersebut termasuk kedalam kelompok pengangguran tersembunyi.
3. Pengangguran Musiman
Pengangguran musiman bergantung pada beberapa faktor terutama faktor musim atau cuaca. Misal, pekerja pada sektor pertanian atau perikanan. Dimana apabila cuaca baik maka petani/nelayan dapat memperoleh untung yang besar namun ketika cuaca
5
buruk bisa saja tidak ada penghasilan yang diperoleh dan pekerja tersebut harus menganggur karena tidak memiliki pekerjaan lain selain bertani atau sebagai nelayan.
4. Setengah menganggur Pekerja yang setengah menganggur umumnya terjadi akibat urbanisasi yang berkembang di Indonesia. Sebagian besar dari penduduk tersebut sulit menemukan pekerjaan di kota, ada juga yang bisa bekerja hanya satu kata dua hari dalam satu minggu. Pekerja seperti ini termasuk kedalam kelompok setengah menganggur.
Pengangguran juga dapat digolongkan kepada empat jenis yaitu:
a. Pengangguran friksional adalah pengangguran yang wujud apabila ekonomi telah mencapai kesempatan kerja penuh.
b. Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang disebabkan perkembangan ekonomi yang sangat lambat atau kemerosotan kegiatan ekonomi
c. Pengangguran struktural, terjadi karena adanya perubahan dalam struktur atau komposisi perekonomian.
d. Pangangguran teknologi, ditimbulkan oleh adanya pengantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia yang disebabkan perkembangan teknologi
2.3 Penyebab Pengangguran
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan.
Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu proses
pembangunan.
2.4 Dampak Pengangguran
Adapun beberapa dampak pengangguran menurut Sukirno (2000) antara lain sebagai berikut:
1. Akibat pada kegiatan perekonomian
6
Pengangguran dapat berdampak pada kegiatan perekonomian dimana pengangguran bisa menjadi penyebab pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya) diperoleh masyarakat lebih tinggi daripada pendapatan nasional riil (nyata). Selain itu
penerimaan pajak menjadi rendah apabila pengangguran terjadi. Dampak lainnya, pengangguran dapat menjadi penyebab kurangnya keinginan investasi perusahaan.
2. Akibat pada individu dan masyarakat
Pada individu dan masyarakat, pengangguran memberikan dampak kehilangan pendapatan, hilangnya keterampilan, dan tidak stabilnya sosial dan politik.
Dampak dari pengangguran berimbas pada menurunnya tingkat perekonomian negara, berdampak pada ketidakstabilan politik, berdampak pada para investor, dan pada sosial dan mental. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari
pengangguran. Beberapa dampak yang timbul oleh pengangguran (Riska Franita,2016) 1. Ditinjau dari segi ekonomi pengangguran akan meningkatkan jumlah
kemiskinan. Karena banyaknya yang menganggur berdampak rendahnya pendapatan ekonomi mereka. sementara biaya hidup terus berjalan. Ini akan membuat mereka tidak dapat mandiri dalam menghasilkan finansial untuk kebutuhan hidup para pengangguran.
2. Ditinjau dari segi sosial, dengan banyaknya pengangguran yang terjadi maka akan meningkatnya jumlah kemiskinan, dan banyaknya pengemis, gelandangan, serta pengamen. Yang dapat mempengaruhi terhadap tingkat kriminal, karena sulitnya mencari pekerjaan, maka banyak orang melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok, dan lain-lain untuk memenuhi kehidupan mereka.
3. Ditinjau dari segi mental, dengan banyaknya pengangguran maka rendahnya kepercayaan diri, keputusan asa, dan akan menimbulkan depresi.
4. Ditinjau dari segi keamanan, banyaknya pengangguran membuat para
penganggur melakukan tindak kejahatan demi menghidupi perekonomiannya, seperti merampok, mencuri, menjual narkoba, tindakan penipuan.
5. Banyaknya pengangguran juga dapat meningkatkan Pekerja Seks komersial di kalangan muda, karena demi menghidupi ekonominya.
6. Banyaknya dampak pengangguran yang timbul, menjadi tanggung jawab
pemerintah dan masyarakat untuk segera menanggulangi jumlah pengangguran yang terjadi. Pemerintah harus meningkatkan kegiatan ekonomi di Indonesia. Setiap daerah harus mampu mandiri dalam meningkat laju perekonomiannya.
Menurut Syahrial bahwa pengangguran akan berakibat buruk terhadap perekonomian adalah:
a. Pengangguran menyebabkan masyarakat tidak dapat meminimalkan tingkat kesejahteraan yang mungkin dicapainya. Pengangguran menyebabkan output aktual
7
yang dicapai lebih rendah dari atau dibawah output potensial. Keadaan ini berarti tingkat kemakmuran masyarakat yang dicapai adalah lebih rendah dari tingkat yang akan dicapainya.
b. Pengangguran menyebabkan pendapatan pajak pemerintah berkurang, pengangguran yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kegiatan ekonomi, pada gilirannya akan menyebabkan pendapatan pajak yang diperoleh pemerintah akan menjadi sedikit.
Dengan demikian tingkat pengangguran yang tinggi akan mengurangi kemampuan pemerintah dalam menjalankan berbagai kegiatan pembangunan.
c. Pengangguran yang tinggi akan menghambat, dalam arti tidak menggalakkan
pertumbuhan ekonomi. Keadaan ini jelas bahwa pengangguran tidak akan mendorong perusahaan untuk melakukan investasi di masa yang akan datang.
2.5 Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Pengangguran
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi pengangguran di Indonesia sebagaimana diuraikan sebelumnya. Berikut merupakan analisis dari penulis berkaitan dengan upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah agar pengangguran di Indonesia dapat teratasi secara lebih baik.
Pertama, pemerintah harus memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami tentang lowongan pekerjaan di berbagai tempat, seperti di TV, internet, atau di surat kabar.
Mereka ingin membantu kaum muda, seperti mereka yang menyelesaikan sekolah atau kuliah, mendapatkan pekerjaan sehingga mereka tidak berakhir tanpa pekerjaan. Untuk melakukan ini, pemerintah dapat bekerja sama dengan bisnis yang membutuhkan banyak pekerja. Mereka juga perlu mencari tahu siapa yang mencari pekerjaan dan pekerjaan apa yang tersedia
sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk bekerja.
Kedua, pemerintah harus menawarkan program pelatihan gratis untuk membantu orang mempelajari keterampilan yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan.
Pelatihan ini dapat dimulai saat anak-anak masih bersekolah dan berlanjut bahkan setelah mereka lulus. Pemerintah dapat bekerja sama dengan sekolah dan pusat pelatihan di masyarakat untuk mewujudkannya. Ini sangat penting bagi orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik dan mungkin tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk banyak pekerjaan. Dengan teknologi baru, bahkan orang-orang yang menyelesaikan sekolah perlu mempelajari hal-hal baru untuk mengikutinya.
Ketiga, pemerintah harus mengawasi pendidikan dan membantu anak-anak untuk tetap bersekolah. Sekolah sangat penting karena membantu orang mempelajari apa yang perlu mereka ketahui untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Pemerintah dapat membantu anak- anak yang tidak mampu bersekolah dengan menyediakan pendidikan gratis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan membantu orang mendapatkan pekerjaan. Selain
8
itu, tidak semua orang ingin bekerja di kantor, jadi pemerintah juga harus membantu orang- orang yang ingin memulai usaha sendiri. Dengan cara ini, lebih banyak orang dapat
menemukan pekerjaan yang mereka sukai.
Keempat, Pemerintah perlu membantu masyarakat Indonesia mempelajari cara
mencari dan menggunakan informasi dengan lebih baik sehingga setiap orang dapat ikut serta dan berbagi ide. Ketika masyarakat pandai mencari informasi, mereka dapat mempelajari keterampilan baru dan menciptakan lapangan kerja sendiri.
Pemerintah harus memperhatikan upaya ini dengan saksama untuk memastikan tersedianya lapangan kerja yang cukup bagi setiap orang yang mencari pekerjaan. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang lahir dan tumbuh dewasa, pemerintah perlu mencari cara untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Jika mereka dapat mengatasi masalah pengangguran, perekonomian negara akan membaik, dan masyarakat akan dapat memperoleh uang dan mengurus diri sendiri.
9 BAB III PEMBAHASAN
3.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Karakteristik
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. TPT hasil Sakernas Februari 2021 sebesar 6,26 persen. Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar enam orang penganggur. Pada Februari 2021, TPT mengalami peningkatan sebesar 1,32 persen poin dibandingkan Februari 2020, namun mengalami penurunan sebesar 0,81 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2020. TPT hasil Sakernas Agustus 2023 sebesar 5,32 persen.
Hal ini berarti dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar 5 orang penganggur. Pada Agustus 2023, TPT mengalami penurunan sebesar 0,54 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2022.
Karakteristik Pengangguran Agustus 2021 - Agustus 2023
Karakteristik Pengangguran Februari 2020 - Februari 2021
10 3.2 TPT Menurut Jenis Kelamin
Pada Februari 2021, TPT laki-laki sebesar 6,81 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan yang sebesar 5,41 persen. TPT menurut jenis kelamin memiliki pola yang sama dengan pola nasional, yaitu mengalami peningkatan dibandingkan Februari 2020 dan mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2020. Dibandingkan Februari 2020, TPT laki- laki dan perempuan naik masing-masing sebesar 1,68 persen poin dan 0,76 persen poin.
Dibandingkan Agustus 2020, TPT laki-laki dan perempuan turun masing-masing sebesar 0,65 persen poin dan 1,05 persen poin.
Pada Agustus 2023, TPT laki-laki sebesar 5,42 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan yang sebesar 5,15 persen. TPT laki-laki dan perempuan memiliki pola yang sama dengan TPT nasional yaitu turun dibandingkan Agustus 2022, masing-masing sebesar 0,51 persen poin dan 0,60 persen poin. Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan (6,40 persen) jauh lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah pedesaan (3,88 persen). Dibandingkan Agustus 2022, TPT perkotaan mengalami penurunan sebesar 1,34 persen poin. Sementara itu, TPT perdesaan mengalami peningkatan sebesar 0,45 persen poin.
3.3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut kelompok Umur
Pada Agustus 2023, TPT penduduk kelompok umur muda (15–24 tahun) merupakan TPT tertinggi, yaitu mencapai 19,40 persen. Sementara itu, TPT penduduk kelompok umur tua (60 tahun ke atas) merupakan yang paling rendah, yaitu sebesar 1,28 persen. Pola TPT menurut kelompok umur tersebut juga sama dengan tahun sebelumnya. Dibandingkan Agustus 2022, semua kelompok umur mengalami penurunan TPT dengan penurunan terbesar pada kelompok umur 60 tahun ke atas sebesar 1,57 persen poin. Pada Februari 2021, TPT penduduk kelompok umur muda (15–24 tahun) merupakan TPT tertinggi mencapai 18,03 persen. Sementara itu, TPT penduduk kelompok umur tua (60 tahun ke atas) merupakan yang paling rendah yaitu sebesar 1,29 persen. Pada Februari 2020, TPT penduduk umur muda (15- 24 tahun) tertinggi dibanding kelompok umur lain, yaitu sebesar 16,28 persen. Sedangkan, TPT penduduk lansia (60 tahun ke atas) paling kecil diantara semua kelompok umur yaitu sebesar 1,08 persen. Pada Februari 2019, TPT penduduk umur muda (15-24 tahun) tertinggi dibanding kelompok umur lain, yaitu sebesar 15,38 persen. Sedangkan, TPT penduduk lansia (60 tahun ke atas) paling kecil diantara semua kelompok umur yaitu sebesar 1,17 persen.
11
3.4 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan
Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan kerja, TPT pada Agustus 2023 mempunyai pola yang hampir sama dengan Agustus 2022.
Pada Agustus 2023, TPT tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 9,31 persen.
Sementara itu, TPT yang paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 2,56 persen. Dibandingkan Agustus 2022, penurunan TPT terjadi pada hampir semua tingkat pendidikan, dengan penurunan terbesar pada yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama, yaitu sebesar 1,17 persen poin. Sementara itu, lulusan Diploma I/II/III dan lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami peningkatan TPT, masing-masing sebesar 0,20 persen poin dan 0,38 persen.sedangkan Pada Februari 2021, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya yaitu sebesar 11,45 persen. Sementara TPT yang paling rendah adalah mereka dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah yaitu sebesar 3,13 persen.Dan Pada Februari 2020, TPT Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih yang paling tinggi diantara tingkat pendidikan lain (8,49 persen), sedangkan TPT terendah adalah pada jenjang pendidikan SD ke bawah (2,64 persen).pada Februari 2019, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,63 persen.
TPT tertinggi berikutnya terdapat pada tingkat Diploma I/II/III (6,89 persen) dan TPT ke bawah paling kecil diantara semua tingkat pendidikan yaitu untuk SD sebesar 2,65 persen.
12
3.5 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi
Pada februari 2019, TPT penduduk Paling banyak yaitu di provinsi Jawa Barat Sebesar 7,73 persen Sementara itu, TPT penduduk paling rendah yaitu di provinsi Bali sebesar 1,19 persen. Pada Februari 2020, TPT penduduk paling banyak berada di Banten sebesar 7,99 persen, dan TPT paling rendah yaitu masih di provinsi yang sama yaitu Provinsi Bali sebesar 1,25 persen. Pada Februari 2021, TPT penduduk paling banyak berada di Kepulauan Riau sebesar 10,12 persen, dan TPT paling rendah yaitu di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 3,28 persen. Pada Februari 2022, TPT penduduk paling banyak berada di Banten sebesar 8,53 persen, dan TPT paling rendah yaitu masih di Provinsi yang sama yaitu Sulawesi Barat sebesar 3,11 persen. Pada Februari 2023, TPT penduduk paling banyak berada di Banten sebesar 7,97 persen, dan TPT paling rendah yaitu masih di provinsi yang sama di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 3,04 persen.
13 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Pengangguran dan ketenagakerjaan sampai saat ini masih menjadi perhatian utama di setiap negara di dunia khususnya di negara yang sedang berkembang. Kedua masalah tersebut merupakan satu kesatuan yang keduanya menciptakan dualisme permasalahan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja yang sedikit dapat menimbulkan pengangguran. Dengan bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun, pertambahan angkatan kerja semakin besar, sedang bertambahnya angkatan kerja belum dapat dikejar oleh pertambahan penyediaan kesempatan kerja atau lapangan kerja.
Lonjakan jumlah pengangguran pada Agustus 2020 disebabkan oleh dampak langsung dari pandemi COVID-19, yang mengakibatkan banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan karyawan. Setelah puncak pengangguran pada tahun 2020, terjadi penurunan secara bertahap dalam jumlah pengangguran hingga Agustus 2023. Hal ini menunjukkan adanya pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang lebih baik.
Meskipun terdapat perbaikan dalam angka pengangguran di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, tantangan tetap ada, terutama dalam menciptakan lapangan kerja yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
4.2 Saran
Pengangguran adalah isu yang mempengaruhi banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, pengangguran di Indonesia mengalami fluktuasi, dengan beberapa periode mengalami penurunan dan beberapa periode mengalami kenaikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pengangguran, seperti kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan tingkat investasi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap data pengangguran dalam lima tahun terakhir untuk memahami tren dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran di Indonesia serta upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan memperluas kesempatan kerja sangat penting untuk mengatasi masalah pengangguran secara menyeluruh.
14
DAFTAR PUSTAKA
At-Tasyri': Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah, 17-26.
Badan Pusat Statistik (BPS). (2019). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,01 persen.
Diakses dari website BPS
Badan Pusat Statistik (BPS). (2020). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,99 persen.
Diakses dari website BPS
Badan Pusat Statistik (BPS). (2021). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,26 persen.
Diakses dari website BPS
Badan Pusat Statistik (BPS). (2022). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,83 persen.
Diakses dari website BPS
Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,45 persen.
Diakses dari website BPS
Ekonomi. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional, 2(3), 98-105.
Franita, Riska, Andes Fuady Dharma Harahap, and Yani Sukriah. "Analisis pengangguran di Indonesia." Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial 1.3 (2016): 88-93.
Ishak, K. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengangguran Dan Inflasi Terhadap Indeks Pembangunan Di Indonesia. Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 7(1), 22-38.
Muslim, M. R. (2014). Pengangguran terbuka dan determinannya. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 15(2), 171-181.
Rianda, C. N. (2020). Analisis dampak pengangguran berpengaruh terhadap individual.
Riska Franita 2016, Analisis Pembangunan Ekonomi Indonesia, Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, volume 1 Desember 2005
Sejati, D. P. (2020). Pengangguran serta Dampaknya Terhadap Pertumbuhan dan Pembangunan
Sukirno,S.(2008). Ekonomi pembangunan .Jakarta:Bima Grafika
15
Sukirno, Sadorno. 2000. Makro Ekonomi Modern, Perkembangan Pemikiran dari Klasik Hingga Keynesian Baru. Jakarta: PT Raja Gra indo persada.