Judul Skripsi: Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa dengan judul “Pengaruh Penggunaan Metode Role Playing Terhadap Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas V SD Inpres Parang Kabupaten Parangloe”. Kabupaten Gowa".
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Tinjauan Pustaka
Penelitian yang Relevan
Pada siklus II diperoleh data hasil tes evaluasi siswa yang mencapai KKM 70 (tuntas) sebanyak 15 siswa dan yang belum mencapai KKM 70 (tidak tuntas) sebanyak 2 siswa dan ketuntasan klasikal sebesar 88%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan berbicara siswa baik pada Siklus I maupun Siklus II. Persentase kemampuan berbicara siswa sebelumnya sebesar 55,13%, pada siklus I meningkat menjadi 58,97% dan pada siklus II meningkat menjadi 80,77%.
Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dihasilkan dari alat tutur yang arbitrer dan konvensional, yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Sedangkan bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang menjadi salah satu ciri bangsa Indonesia dan digunakan sebagai bahasa nasional. Inilah salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia harus diajarkan di semua jenjang pendidikan, terutama di sekolah dasar, karena merupakan dasar dari semua pembelajaran.
Keterampilan Berbahasa
Sekolah dapat menyelenggarakan program pendidikan bahasa sesuai dengan keadaan siswa dengan sumber pengajaran yang tersedia. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar bahasa dengan kondisi daerah tertentu dengan memperhatikan kepentingan nasional (BSNP: 2006). Dalam pemerolehan keterampilan berbahasa biasanya kita melalui hubungan yang teratur, mula-mula pada masa kanak-kanak kita belajar mendengarkan bahasa, kemudian kita belajar berbicara, kemudian kita belajar membaca dan menulis.Keempat keterampilan itu pada dasarnya satu kesatuan, satu buah catur satuan.
Menurut Mulgrave (dalam Tarigan, 2015:26) Secara umum berdasarkan jumlah siswa yang terlibat, pola kelancaran belajar dibedakan berdasarkan kelancaran individual, artinya hanya dilakukan oleh siswa. Kemampuan berbicara dilakukan di . berpasangan seperti dalam kegiatan wawancara, dan keterampilan berbicara oleh siswa secara berkelompok, misalnya dalam diskusi. Anda bisa berlatih membuat soal dengan cara yang menyenangkan, merumuskan sejumlah soal berdasarkan teks bacaan, dll.
Metode Role Playing a. Pengertian Metode
Bermain peran adalah kegiatan pembelajaran terencana yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Amri mengklaim bahwa metode role playing merupakan metode pembelajaran yang ditujukan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan hubungan interpersonal, terutama yang mempengaruhi kehidupan siswa. Dalam metode bermain peran ini, proses pembelajaran lebih ditekankan pada keterlibatan emosional dan pengamatan indrawi terhadap suatu situasi masalah nyata yang dihadapi oleh guru dan siswa.
Kerangka Pikir
Dengan menggunakan metode ini, siswa lebih ekspresif dan memberikan respon belajar yang lebih baik. Dengan menggunakan metode role-playing dalam keterampilan berbicara, siswa akan mengasah keterampilan berbicara mereka dengan lebih mudah dan berani. Penggunaan metode role-playing dalam pembelajaran keterampilan berbicara akan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan, interaktif dan tidak membosankan bagi siswa serta akan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berbicara.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penggunaan Metode Role Play Keterampilan Berbicara yang diterapkan di SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa yaitu skenario Keterampilan Berbicara Menggunakan Metode Role Play berimplikasi pada peningkatan hasil belajar siswa pada aspek keterampilan berbahasa. siswa, khususnya dalam keterampilan berbicara.
Hipotesis
Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Desain Penelitian
Tiro (2000:3) berpendapat bahwa “populasi sebagai keseluruhan adalah aspek tertentu dari karakteristik, fenomena atau konsep yang menjadi pusat perhatian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Berdasarkan data yang diperoleh dari guru kelas V yang berada di semester genap, diketahui bahwa jumlah siswa kelas V.A. ada 24 siswa, dan kelas V.B ada 20 siswa.
Sampel
Definisi Operasional Variabel
Metode pembelajaran bermain peran yang digunakan dalam penelitian ini adalah salah satu metode pembelajaran yaitu bermain peran.
Instrument Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Setelah diberikan perlakuan, tindakan selanjutnya adalah post-test untuk mengetahui pengaruh penggunaan Metode Pembelajaran Role Playing terhadap hasil belajar siswa kelas V.
Teknik Analisis Data
Setelah diberikan perlakuan, tindakan selanjutnya adalah post-test untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran Role Play terhadap hasil belajar siswa kelas V. a) Mean (Mean). Md = Rerata selisih pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (posttest). Jika t Hitung > t Tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima, artinya penerapan metode pembelajaran bermain peran berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa.
Jika t Hitung < t Tabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak, artinya penerapan metode pembelajaran role play tidak berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Dicari t-tabel menggunakan tabel t-distribusi dengan taraf signifikan.. e) Menarik kesimpulan apakah model pembelajaran role play berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa.
Deskripsi Hasil dan Analisis Data
Dari hasil perhitungan di atas, nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa sebelum diterapkannya metode pembelajaran “Role-play” adalah 42,4. Berdasarkan data yang dapat dilihat pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa berada pada tahap pre-test with. Melihat hasil persentase yang ada, dapat dikatakan bahwa tingkat hasil belajar sebelum penerapan metode pembelajaran Bermain Peran tergolong sangat rendah.
Jika Tabel 4.4 dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditetapkan peneliti, yaitu jika jumlah siswa yang mencapai atau melebihi nilai KKM (70)≥75%, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa belum memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar klasikal karena hanya 15% siswa yang tuntas. Data Perolehan Nilai Hasil Belajar Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa setelah penerapan model pembelajaran bermain peran. Untuk mengetahui mean (rata-rata) nilai postes siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa.
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa Kelas V SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa setelah menerapkan metode pembelajaran Role Play adalah 82,8 dari nilai ideal 100. Berdasarkan Off the data yang ditampilkan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada tahap post test dengan menggunakan instrumen tes dikategorikan sangat tinggi yaitu 40,00%, tinggi 55,00%, sedang 5,00%, rendah 0,00%, dan sangat rendah dengan persentase 0,00%. Jika Tabel 4.8 dikaitkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditentukan peneliti, maka itu adalah jumlah siswa.
Menurut kriteria keaktifan siswa yang telah ditetapkan oleh peneliti yaitu siswa aktif dalam proses pembelajaran jika jumlah siswa yang aktif 70% baik untuk indikator aktivitas siswa maupun rata-rata indikator aktivitas siswa, dari hasil observasi tersebut rata-rata persentase siswa yang aktif yaitu mencapai 70,95% pada saat melakukan kegiatan yang diharapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dalam hal ini keterampilan Berbicara dengan metode pembelajaran Role Play telah mencapai kriteria aktif.
Rata-rata persentase aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia lancar dengan menggunakan metode role playing adalah 70,95%. Pengaruh Penggunaan Metode Role Playing Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V SD Inpres Kecamatan Parang. Artinya penggunaan metode pembelajaran Role Play memiliki pengaruh terhadap keterampilan berbicara bahasa Indonesia kelas V di SD Inpres Parang Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa.
Pembahasan
Selain itu, persentase kategori keterampilan berbicara siswa juga mengalami peningkatan yaitu sangat tinggi sebesar 40,00%, tinggi sebesar 55,00%, sedang sebesar 5,00%, rendah sebesar 0,00%, dan sangat rendah sebesar 0,00%. Berdasarkan hasil analisis statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji-t, diketahui thitung sebesar 43,44. Karena thitung berada pada taraf signifikansi 0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima yang artinya terdapat pengaruh penggunaan metode pembelajaran role play terhadap keterampilan berbicara.
Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan metode pembelajaran Role Playing sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan. Berdasarkan hasil observasi, terdapat perubahan pada diri siswa yaitu pada awal kegiatan pembelajaran ada beberapa siswa yang melakukan kegiatan lain atau cuek pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat pada pertemuan pertama siswa yang melakukan aktivitas lain sebanyak 7 orang, sedangkan pada pertemuan terakhir hanya 1 siswa yang melakukan aktivitas lain selama permainan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat banyak siswa yang menjawab ketika pertanyaan diajukan dan siswa yang secara sukarela melakukan kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran yang menyenangkan berarti siswa tidak lagi keluar masuk selama pembelajaran dan tidak lagi merasa bosan atau tertekan ketika mengikuti proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial yang diperoleh, serta hasil observasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dengan menggunakan Metode Pembelajaran Role Play terhadap keterampilan berbicara siswa V SD Inpres. Parang, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa .
Simpulan
Saran
Penggunaan metode bermain peran berbantuan media audiovisual untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas IV B SDN Gisigdrono 03 Semarang. Upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan motivasi belajar siswa dengan menggunakan strategi sosiodrama di Kelas III B Bahasa Indonesia MI Ma'arif Bego Tahun Pelajaran 2012/2013. Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas Iv Miftahul Huda Kelas Miftahul Huda Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban Menggunakan Metode Role Playing.
PANDUAN PENGEMBANGAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kompetensi Dasar
Indikator
Tujuan Pembelajaran
Materi Essensial
Pendekatan dan Metode Pembelajaran o Pendekatan : Saintifik
- Penilaian
Dialog Sinta, dkk dengan narasumber (Pak Harun) Sinta, dkk: Assalamu Alaikum Pak Harun Pak Harun: Waalaikum Salam Wr.Wb. Pak Harun : Pengolahan lahan dilakukan dengan cara membajak, bisa menggunakan sapi yaitu sapi atau kerbau, bisa juga menggunakan mesin yaitu traktor. Pemirsa, di kawasan Kedir, Jawa Timur, sekitar pukul 22.55 WIB, dari arah Gunung Kelud banyak kilat menyambar.
Dani: Kira-kira apa penyebab munculnya petir di sekitar lereng Gunung Kelud. Pak Sutopo: Petir yang terlihat hari ini di Gunung Kelud bukan akibat aktivitas Gunung Kelud yang meningkat, tetapi karena pada saat itu terjadi hujan lebat di sekitar Belitari, Kediri dan Malangi.