• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh pemberian dolomit dan pupuk anorganik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh pemberian dolomit dan pupuk anorganik"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

http://jtsl.ub.ac.id 255

PENGARUH PEMBERIAN DOLOMIT DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP SERAPAN FOSFAT, POPULASI BAKTERI PELARUT

FOSFAT DAN PRODUKSI PADI

Effect of Application of Dolomite and Inorganic Fertilizer on Phosphate Uptake, Phosphate-Solubilizing Bacteria Population and Paddy Yield

Fiona Victor Iswara*, Yulia Nuraini

Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran No. 1, Malang 65145

*Penulis korespondensi: [email protected]

Abstrak

Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan di lahan persawahan dapat menurunkan pH tanah. Unsur P pada tanah masam umumnya tidak tersedia bagi tanaman karena terikat oleh unsur Fe dan Al. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengoptimalkan ketersediaan P dalam tanah dengan memperbaiki pH tanah dengan penambahan kapur dolomit yang didukung dengan pupuk anorganik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dolomit dan pupuk anorganik terhadap serapan P tanaman, hubungan antara populasi P tersedia dan populasi bakteri pelarut fosfat, dan pengaruh pemberian dolomit dan pupuk anorganik terhadap hasil padi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap serapan P tanaman dan berat gabah kering. Populasi bakteri pelarut fosfat berkorelasi positif dengan ketersediaan fosfor dalam tanah.

Kata kunci : bakteri pelarut fosfat, dolomit, padi, serapan P

Abstract

Excessive use of chemical fertilizers in rice fields can reduce soil pH. Elemental P in acid soils is generally not available to plants because it is bound by Fe and Al elements; therefore, it is necessary to make an effort to optimize the availability of P in the soil by improving soil pH with the addition of dolomite lime supported by inorganic fertilizers. This study aimed to determine the effect of dolomite and inorganic fertilizers on plant P uptake, the relationship between available P and phosphate-solubilizing bacteria population, and the effect of dolomite and inorganic fertilizer application on rice yield. This study used a randomized block design with eight treatments and three replications. The results showed that the application of dolomite and inorganic fertilizer had a significant effect on plant P uptake and dry grain weight. The population of phosphate-solubilizing bacteria was positively correlated with the availability of phosphorus in the soil.

Keywords : dolomite, paddy, phosphate solubilizing bacteria, P uptake

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang membutuhkan beras sebagai makanan pokok bagi penduduknya. Sehingga seiring bertambahnya jumlah penduduk, mengharuskan produksi padi terus meningkat dengan kualitas yang baik. Namun kenyataannya produksi beras dari tahun ke tahun justru mengalami penurunan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2020), menjelaskan bahwa produksi

padi tahun 2019 sebanyak 54,60 juta ton bobot gabah kering giling (BGKG) atau mengalami penurunan 4,60 juta ton atau 7,76 persen dibandingkan tahun 2018. Apabila produktivitas terus menurun perlu adanya teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sehingga luas lahan dan produksi padi dapat seimbang. Rendahnya laju perkembangan produksi beras tersebut di antaranya diakibatkan oleh pengelolaan lahan pertanian secara intensif. Contoh dari pengelolaan lahan secara

(2)

http://jtsl.ub.ac.id 256 intensif yaitu seperti pemakaian pupuk anorganik

dalam jumlah yang berlebihan sehingga dapat merusak kualitas tanah. Sebagai akibat dari menurunnya kualitas tanah yaitu rendahnya kondisi pH di dalam tanah.

Lahan sawah yang diolah secara intensif memiliki kecenderungan pH rendah dan mempunyai banyak kendala dalam ketersediaan unsur hara. Fosfor (P) merupakan unsur terpenting setelah nitrogen dalam membantu proses fotosintesis, perkembangan akar, pembentukan bunga, buah dan biji (Wulandari, 2020). Siswanto (2018) mengemukakan bahwa ketersediaan fosfor di dalam tanah dipengaruhi oleh banyak faktor, akan tetapi yang paling dominan ialah pH tanah.

Unsur P pada tanah masam umumnya tidak tersedia bagi tanaman diakibatkan karena sebagian besar terikat oleh koloid tanah, Fe dan Al..

Pemanfaatan kelompok mikroorganisme pelarut fosfat merupakan salah satu upaya untuk menangani rendahnya fosfat tersedia dalam tanah.

Asam organik yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat mengkelat logam dalam tanah sehingga fosfat menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroorganisme pelarut fosfat diharapkan dapat mengatasi masalah P pada tanah masam yang juga dapat menekan penggunaan pupuk anorganik serta diperlukan untuk mempertahankan kesuburan tanah dengan menjaga dan meningkatkan fungsi mikroorganisme tanah sehingga dapat meningkatkan ketersediaan hara. Penggunaan dolomit pada tanah menjadi pilihan untuk menaikkan pH tanah masam.

Dolomit merupakan salah satu contoh bahan galian industri penting yang termasuk kelompok mineral karbonat. Kandungan Ca dan Mg dalam dolomit dapat memperbaiki keasaman tanah (meningkatkan pH tanah) yang diakibatkan oleh pupuk urea di dalam tanah (Febriana, 2011). Untuk mencukupi kebutuhan tanaman, perlu dilakukan pemupukan tanah.

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pemberian dolomit dan pupuk N, P, K terhadap serapan P, populasi bakteri pelarut fosfat dan produksi padi (Oryza sativa L.).

Bahan dan Metode

Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2020 hingga Oktober 2021. Terdapat 2 pelaksanaan penelitian. Tahap pertama yaitu budidaya padi yang dilakukan di lahan sawah percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Tahap

kedua yaitu analisis tanah meliputi kimia tanah dan isolasi bakteri pelarut fosfat dilakukan di Laboratorium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.

Alat dan bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain cangkul, meteran, penggaris, kamera, timbangan, karung, plastik, alphaboard, ajir, garu, spidol, ember, sekop, cooling box, serta alat-alat lain yang digunakan di laboratorium untuk analisis tanah dan tanaman.

Bahan yang digunakan adalah benih padi Varietas Ciherang, pupuk anorganik, dolomit, air, tanah serta bahan-bahan kimia untuk analisis tanah dan tanaman.

Rancangan percobaan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), terdiri atas 8 perlakuan dengan 3 kali ulangan (Tabel 1). Dalam satu kali ulangan, petak yang digunakan seluas 5 m

× 3 m, dengan jarak tanam padi 25 cm × 25 cm.

Pelaksanaan penelitian Persiapan

Penelitian diawali dengan pengolahan lahan dan pembuatan petak sebanyak 24 petak dengan ukuran 5 m × 3 m dan diberi kode penelitian. Selanjutnya yaitu pengambilan sampel tanah komposit pada kedalaman 0-20 cm. Aplikasi dolomit dilakukan 1 minggu sebelum tanam dengan cara menebar ke tanah, kemudian dolomit dicampur secara rata dengan tanah menggunakan cangkul hingga dolomit merata pada kedalaman 0-20 cm.

Tabel 1. Deskripsi perlakuan.

Kode Keterangan

D0 Kontrol (tanpa pupuk) D1 Pupuk Anorganik

D2 Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik D3 Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk Anorganik D4 Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik D5 Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk Anorganik D6 Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik D7 Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1

Karakteristik tanah

Analisis kimia dan biologi tanah dilakukan pada saat sebelum tanam. Parameter analisis dasar pada

(3)

http://jtsl.ub.ac.id 257 penelitian ini meliputi populasi bakteri pelarut

fosfat, pH, C organik, dan P tersedia (Tabel 2).

Tabel 2. Analisis tanah dasar sebelum percobaan.

Parameter Nilai Kriteria

pH H2O 5,6 Agak

masam

C organik (%) 1,56 Rendah

P tersedia (ppm) 5,19 Rendah Populasi bakteri pelarut

fosfat (CFU g-1) 6,47 ×

106 Positif Keterangan: Kriteria penilaian hasil analisis tanah mengacu pada Balai Penelitian Tanah (2009).

Hasil analisis dasar, pH bereaksi agak masam.

Tanah masam diakibatkan oleh penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan sehingga menyebabkan degradasi kesuburan tanah. Menurut Maryati et al.

(2014) rendahnya pH diakibatkan koloid didominasi oleh hidrogen, Fe atau Al. Apabila Al dan Fe bereaksi dengan air akan menghasilkan hidrogen sehingga meningkatkan konsentrasi H+, reaksinya sebagai berikut: Al3+ + 3H2O → Al(OH)3

+ 3H+ atau Fe3+ + 3H2O → Fe(OH)3 + 3H+. Kandungan C organik didapatkan kriteria rendah, hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem usahatani yang dilakukan secara intensif tanpa memberikan masukan kembali sumber bahan- bahan organik seperti jerami padi dan sisa-sisa tanaman. Pada daerah penelitian ini jerami sering digunakan petani untuk pakan ternak karena dianggap lama terdekomposisi dan lahan harus digunakan kembali setelah panen. P tersedia pada tergolong kriteria rendah. Menurut Suarjana et al.

(2015) ketersediaan P di tanah erat hubungannya dengan kemasaman (pH) tanah. pada kebanyakan tanah ketersediaan P maksimum dijumpai pada kisaran pH antara 6-7. Ketersediaan P akan menurun bila pH tanah lebih rendah dari 6,0 atau lebih tinggi dari 7. Pada lokasi penelitian nilai pH didapatkan sebesar 5,6 yang tergolong agak masam.

Bahan organik juga berpengaruh terhadap kandungan P secara langsung melalui proses mineralisasi atau secara tidak langsung dengan membantu pelepasan P yang terfiksasi.

Persemaian benih dan pindah tanam

Benih padi Varietas Ciherang sebanyak 5 kg disebar pada petak persemaian. Benih disemai selama 40 HST, kemudian dipindah tanam. Berikutnya benih dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan masing-masing 1 benih per lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan yaitu 25 cm × 25 cm.

Penyulaman

Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang tidak tumbuh dengan baik, mati karena serangan hama penyakit atau pertumbuhan tidak sempurna. Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 1 MST dengan cara mengganti tanaman yang telah mati dengan bibit sisa persemaian. Hal ini dilakukan agar sampel tanaman masih terjaga dan tidak terdapat perbedaan yang terlalu jauh dengan tanaman yang lain.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan pada 1 MST, 3 MST, dan 5 MST. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk tunggal anorganik berupa urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, dan KCl 100 kg ha-1. Pemupukan dilakukan dengan cara menebarkan pupuk di atas tanah pada setiap petak penelitian.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman yang dilakukan berupa pengairan dan pengendalian gulma. Pemberian air dilakukan secara terputus-putus dengan cara memberikan penggenangan yang diselingi dengan pengeringan (pengatusan). Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan mencabut dan membuang gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman menggunakan tangan dan cangkul.

Panen

Tanaman padi siap di panen pada umur 15-16 MST.

Panen ditandai dengan warna malai yang mulai kuning 90%-95% dan gabah sudah terisi. Kegiatan dalam pemanenan meliputi pemotongan, perontokan, pengangkatan, pengeringan, penggilingan, dan penyimpanan.

Pengamatan pertumbuhan

Pengamatan pertumbuhan dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman dan menghitung jumlah daun pada 2, 4, 6 dan 8 MST. Pengamatan tinggi tanaman dilakukandengan mengukur tanaman dari permukaan tanah hingga daun tertinggi.

Pengamatan jumlah daun dengan menghitung jumlah seluruh daun satu rumpun.

Pengamatan jumlah anakan dan anakan produktif Pengukuran jumlah anakan dilakukan pada 4, 6, dan 8 MST dengan menghitung jumlah anakan pada masing-masing sampel di setiap petak perlakuan.

Perhitungan jumlah anakan produktif dilakukan saat 16 MST dengan menghitung anakan yang telah menghasilkan malai pada saat padi masuk fase generatif.

(4)

http://jtsl.ub.ac.id 258 Pengamatan produksi padi

Pengukuran produksi padi dilakukan saat panen dengan mengukur bobot kering biomassa (kg ha-1), bobot 100 biji (g tanaman-1), bobot basah gabah (t ha-1), bobot gabah kering giling (t ha-1).

Pengukuran berat gabah segar per petak, dilakukan dengan memanen semua rumpun padi dalam 1 petak, kemudian dipisahkan antara jerami dan gabah. Untuk mengukur bobot biomassa dengan cara mengambil sampel biomassa utuh kemudian ditimbang. Pengukuran berat 100 bulir padi (g) dilakukan dengan menimbang 100 bulir gabah (berat segar), kemudian dimasukkan ke dalam oven pada suhu 80°C selama 48 jam dan ditimbang berat keringnya.

Analisis data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan aplikasi Genstat Discovery Edition dengan analisis sidik ragam atau Analysis of Variance (ANOVA) dengan uji F taraf 5%, selanjutnya dilakukan uji lanjut BNT taraf 5%. Kemudian untuk mencari hubungan antar parameter menggunakan uji korelasi dan regresi.

Hasil dan Pembahasan Serapan P

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap serapan P pada saat panen (Tabel 3). Rerata Serapan P terendah terdapat pada perlakuan D0 (Kontrol) dengan nilai 3,32 kg ha-1, sedangkan rerata serapan P tertinggi terdapat pada perlakuan D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) dengan nilai 67,92 kg ha-1. Perlakuan D7 memberikan peningkatan tertinggi terhadap kontrol sebesar 82,07%. Perlakuan D0 berbeda nyata dengan perlakuan D3-D7, namun tidak menunjukkan beda nyata dengan perlakuan D1 dan D2. Secara umum, pemberian kapur dolomit menaikkan pH tanah dan mengurangi Al sehingga ketersediaan P dan serapan P oleh tanaman meningkat. Bakteri pelarut P banyak dijumpai pada kondisi pH tanah tidak masam yang dalam aktivitasnya mengeluarkan asam-asam organik sehingga ketersediaan P akan meningkat.

Tanaman menyerap P dalam bentuk ion fosfat, terutama H2PO4- dan HPO4- yang terdapat pada larutan tanah. Ion H2PO4- banyak dijumpai pada tanah yang lebih masam, sedangkan pada pH yang lebih tinggi bentuk HPO42- lebih dominan (Karamina et al., 2017).

Tabel 3. Serapan P oleh tanaman saat panen

Perlakuan Serapan P

(kg ha-1)

D0 (Kontrol) 3,32 a

D1 (Pupuk Anorganik) 7,58 a D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik)

11,46 ab D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik)

20,69 bc D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik)

28,86 c D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 35,26 c

D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik) 31,94 c

D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik) 67,92 d

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

pH tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap pH tanah (Tabel 4). Rerata pH tertinggi terdapat pada perlakuan D7 (6,39), sedangkan pH terendah pada perlakuan D0 (5,93). D7 menunjukkan nilai tertinggi dengan persentase peningkatan sebesar 7,81% terhadap kontrol.

Perlakuan D0 menunjukkan beda nyata dengan perlakuan D3-D7, namun tidak menunjukkan beda nyata dengan perlakuan D1 dan D2. Dolomit di dalam tanah digunakan sebagai substitusi kation seperti Al3+ yang di dalam tanah dapat memasamkan tanah. penurunan konsentrasi Al3+

yang terlarut di dalam tanah diimbangi oleh peningkatan kation basa. Menurut Simanjuntak et al.

(2015) meningkatkan pH tanah, menurunkan Al, meningkatkan kandungan Ca dan MG serta memperbaiki ketersediaan P dapat diupayakan dengan pemberian dolomit. Sehingga semakin tinggi dosis dolomit yang diberikan maka pH tanah juga akan naik.

C organik tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan penambahan dolomit dan pupuk anorganik memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan C organik tanah (Tabel 4). Rerata tertinggi terdapat pada perlakuan D7 sebesar 2,36% dan rerata terendah terdapat pada perlakuan D0 dengan nilai 1,70%.

(5)

http://jtsl.ub.ac.id 259 Tabel 4. pH, C organik, dan P tersedia tanah pada saat panen.

Perlakuan pH tanah C organik (%) P tersedia (ppm)

D0 (Kontrol) 5,93 a 1,70 a 4,60 a

D1 (Pupuk Anorganik) 5,97 ab 1,84 b 7,21 ab

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6,18 abc 1,96 c 8,24 bc D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik)

6,24 bc 2,00 d 11,03 cd

D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6,25 bc 2,06 e 12,69 d D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk

Anorganik) 6,29 c 2,09 e 13,79 de

D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6,39 c 2,18 f 16,62 e D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6,39 c 2,36 g 22,07 f

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

Perlakuan D0 menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan hanya pemberian pupuk anorganik saja dan juga pemberian dolomit dan pupuk anorganik. Namun pada perlakuan D5 dan D6 tidak menunjukkan adanya beda nyata.

Secara umum pengapuran memiliki pengaruh positif terhadap mineralisasi C organik karena dapat memperbaiki kemasaman tanah dan berpotensi meningkatkan aktivitas mikroba. Peningkatan pH tanah dapat meningkatkan C organik terlarut, yang dapat termineralisasi dengan cepat. Pengapuran meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi mikroba, dengan demikian dapat meningkatkan mineralisasi C organik (Wu et al., 2021). Menurut Masrun (2018), pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman tergantung pada laju proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor tanah. Faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban, tekstur, struktur dan suplai oksigen, serta reaksi tanah, ketersediaan hara terutama ketersediaan N P, K dan S.

P tersedia di dalam tanah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian dolomit dan pupuk anorganik memberikan pengaruh nyata terhadap ketersediaan P dalam tanah (Tabel 4). Rerata tertinggi terdapat pada perlakuan D7 dengan nilai 22,07 ppm sedangkan terendah terdapat pada perlakuan D0 dengan nilai 4,60 ppm. Perlakuan D0 berbeda nyata dengan perlakuan D2 hingga D7, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan D1. Terjadinya peningkatan P tersedia diduga akibat dari reaksi tanah (pH) yang meningkat sehingga keberadaan Al dan H+ yang dapat melepaskan fosfor sehingga P total tanah lebih tersedia di dalam tanah. Selain itu juga diduga semakin tinggi dosis dolomit, maka

dekomposisi bahan organik semakin tinggi akibatnya pH, Ca dan Mg semakin tinggi sehingga aktivitas mikroorganisme meningkat. Dengan semakin tingginya dekomposisi bahan organik maka semakin besar P tersedia yang dihasilkan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Syahputra et al. (2014) yang mengatakan bahwa pada reaksi tanah yang netral ketersediaan hara makro cukup optimal.

Didukung juga dengan pernyataan Ilham et al.

(2019) yang menyatakan bahwa pemberian dolomit dengan berbagai dosis yang berbeda memberikan kecenderungan peningkatan fosfat. Peningkatan tersebut terjadi karena pengaruh dekomposisi bahan organik dan kemungkinan adanya aktivitas mikroorganisme.

Populasi bakteri pelarut fosfat

Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan pemberian dolomit dan pupuk anorganik memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap populasi bakteri pelarut fosfat (Tabel 5). Rerata populasi bakteri pelarut fosfat paling tinggi terdapat pada perlakuan D7 (15,33 × 106 CFU g-1) sedangkan populasi bakteri pelarut fosfat paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (7,90 × 106 CFU g-1). Perlakuan D0 tidak berbeda nyata dengan perlakuan D1 namun berbeda nyata dengan perlakuan D2 hingga D7. Menurut Marista et al.

(2013), bahan organik dibutuhkan bakteri sebagai sumber makanan dengan cara menguraikan bahan organik yang masih mengandung karbon, maka dari itu semakin banyak C organik di dalam tanah maka semakin banyak pula populasi bakteri yang ditemukan. Bakteri pelarut fosfat dapat menggantikan kedudukan P dalam ikatannya dengan Al dan Fe sehingga P akan dilepaskan menjadi P tersedia.

(6)

http://jtsl.ub.ac.id 260 Tabel 5. Pengaruh pemberian dolomit terhadap populasi BPF saat panen.

Perlakuan Populasi Bakteri Pelarut Fosfat (CFU g-1)

D0 (Kontrol) 7,90 × 106 a

D1 (Pupuk Anorganik) 8,40 × 106 ab

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 9,12 × 106 b D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 9,47 × 106 bc D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 10,23 × 106 cd D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 10,73 × 106 d D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 12,13 × 106 e D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 15,33 × 106 f

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

Oleh karena itu, semakin tinggi populasi bakteri pelarut fosfat akan semakin banyak asam organik yang dihasilkan sehingga P yang dapat tersedia juga semakin tinggi (Niswati et al., 2008).

Pertumbuhan tanaman Tinggi tanaman

Berdasarkan hasil analisis ragam, pemberian dolomit dan pupuk anorganik di 2 dan 4 MST tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (Tabel 6). Saat 2 MST rerata tanaman yang paling tinggi yaitu pada perlakuan D7 (26,62 cm) sedangkan tanaman paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (16,98 cm). Pada pemberian dolomit dan pupuk

anorganik saat 6 dan 8 MST menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Tanaman paling tinggi pada 8 MST terdapat pada perlakuan D7 (70,69 cm) sedangkan tanaman terendah pada perlakuan D0 (56,37 cm). Saat 2 dan 4 MST tidak berpengaruh nyata. Hal ini diduga disebabkan pada saat fase vegetatif awal unsur hara P sebagian masih terikat dengan unsur Al dan Fe, sehingga menyebabkan unsur hara P belum tersedia pada tanah. Pada fase akhir diduga pemberian dolomit dapat mempengaruhi pH tanah hingga mendekati netral, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan baik sehingga tanaman tumbuh lebih baik (Sudianto et al., 2018).

Tabel 6. Pengaruh pemberian dolomit terhadap tinggi tanaman.

Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST

D0 (Kontrol) 16,98 24,38 42,50 a 56,37 a

D1 (Pupuk Anorganik) 22,50 30,52 46,83 b 59,83 b

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 21,52 30,17 51,65 c 61,96 bc D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 22,62 29,59 52,73 cd 65,59 de D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 22,35 33,17 53,24 d 66,76 e D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 20,94 31,65 53,85 d 66,76 e D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 21,25 30,20 53,42 d 65,70 de D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 26,62 36,40 56,05 e 70,69 f Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

Jumlah daun

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian dolomit pada 2 dan 4 MST tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun padi (Tabel 7). Jumlah daun tertinggi pada 2 MST terdapat pada perlakuan D7 (6 helai) sedangkan jumlah daun paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (3 helai). Pada 6 dan 8 MST menunjukkan hasil berpengaruh nyata terhadap jumlah daun tanaman

padi. Rerata jumlah daun 8 MST paling tinggi terdapat pada perlakuan D7 (92 helai) sedangkan rerata jumlah daun paling rendah terdapat pada perlakuan D5 (50 helai). Pada 2 dan 4 MST tidak berpengaruh nyata diduga karena pada saat fase tersebut padi terserang penyakit hawar daun bakteri (HDB). Hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi. Gejala yang terlihat yaitu mula-mula pada tepi atau bagian daun yang

(7)

http://jtsl.ub.ac.id 261 luka tampak garis bercak kebasahan, kemudian

berkembang meluas, berwarna cokelat keabuan, seluruh daun keriput dan akhirnya layu seperti tersiram air panas (Sudir et al., 2017). Namun pada 6-8 MST berpengaruh nyata diduga dolomit dan pupuk anorganik dapat meningkatkan pH tanah, sehingga dapat memacu aktivitas mikroorganisme di dalam tanah yang berperan dalam dekomposisi bahan organik tanah, sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan pertumbuhan vegetatif tanaman, salah satunya adalah jumlah daun.

Menurut Putra et al. (2018) bahwa kapur dolomit mengandung Ca dan Mg, dimana kedua jenis unsur

ini melalui reaksi hidrolisis dapat melepaskan ion- ion yang dapat meningkatkan pH tanah.

Jumlah anakan

Hasil analisis ragam dari pemberian dolomit dan pupuk anorganik terhadap jumlah anakan pada 4 MST menunjukkan tidak berpengaruh nyata (Tabel 8). Jumlah anakan pada 4 MST memiliki nilai rerata paling tinggi pada perlakuan D7 (6 batang) sedangkan nilai rerata terendah terdapat pada perlakuan D0 (3 batang). Pada 6 dan 8 MST menunjukkan pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata.

Tabel 7. Pengaruh pemberian dolomit terhadap jumlah daun tanaman.

Perlakuan Jumlah Daun (helai)

2 MST 4 MST 6 MST 8 MST

D0 (Kontrol) 3 15 34 a 50 a

D1 (Pupuk Anorganik) 6 21 37 b 54 b

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 22 39 b 61 c D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 22 41 c 68 d

D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 5 30 45 d 71 e

D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 19 49 d 74 e D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 5 26 45 d 72 e

D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 20 59 f 92 f

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

Rerata jumlah anakan paling tinggi pada 8 MST yaitu terdapat pada perlakuan D7 (28 batang) sedangkan rerata jumlah anakan paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (15 batang). Tidak berpengaruh nyata pada 4 MST dapat diakibatkan karena lamanya umur semai bibit.Menurut Misran (2013), bibit yang ditanam dengan umur lebih muda mempunyai kemampuan membentuk anakan lebih besar. Ketersediaan hara pada pH tanah netral

dapat tersedia bagi tanaman karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara larut dalam air.

Fosfor penting pada saat pembentukan anakan, mempercepat kematangan pada pengisian bulir, perkembangan akar, sehingga lebih mampu menyerap hara dalam jumlah yang lebih banyak serta memperbaiki kualitas berat itu sendiri (Azman et al., 2014).

Tabel 8. Pengaruh pemberian dolomit terhadap jumlah anakan.

Perlakuan Jumlah Anakan (batang)

4 MST 6 MST 8 MST

D0 (Kontrol) 3 10 a 15 a

D1 (Pupuk Anorganik) 5 11 ab 16 b

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 7 12 b 18 c

D3 (Dolomit 0,75 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 7 12 b 20 d

D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 14 c 22 e

D5 (Dolomit 1,25 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 5 15 d 23 f

D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 14 cd 22 e

D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan Pupuk Anorganik) 6 18 e 28 g

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5 %.

(8)

http://jtsl.ub.ac.id 262 Produksi tanaman

Jumlah anakan produktif

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian dolomit dan pupuk anorganik berbeda nyata terhadap peubah jumlah anakan produktif (Tabel 9).

Tabel 9. Pengaruh pemberian dolomit terhadap jumlah anakan produktif.

Perlakuan Jumlah Anakan

Produktif (batang)

D0 (Kontrol) 11 a

D1 (Pupuk Anorganik) 13 b D2 (Dolomit 0,5 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 13 b D3 (Dolomit 0,75 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 14 c D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 14 c

D5 (Dolomit 1,25 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 15 d D6 (Dolomit 1,5 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 14 c D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 20 e

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5 %.

Rerata jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan D7 (20 batang) sedangkan rerata paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (11 batang).

Perlakuan D0 berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, namun pada perlakuan D3, D4, dan D6 tidak menunjukkan berbeda nyata satu sama lain.

Pembentukan malai sangat bergantung pada kondisi tersedianya unsur hara dalam tanam.

Terutama unsur hara esensial dalam tanah.

Penambahan pupuk N juga dapat berpengaruh terhadap jumlah anakan produktif padi. Menurut Siswanto (2018) menyatakan bahwa pupuk N berperan penting dalam merangsang pertumbuhan jumlah anakan produktif, unsur P berperan dalam pembentukan akar dan sistem perakaran tanaman dan diperlukan untuk mendorong pembungaan dan pembentukan bunga. Serta unsur K berperan dalam pembentukan vigor tanaman dan mempercepat pertumbuhan jaringan meristem.

Bobot kering biomassa

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap berat kering biomassa tanaman padi (Tabel 10). Perlakuan D7 merupakan perlakuan dengan rerata tertinggi terhadap bobot biomassa (18.865 kg ha-1) sedangkan rerata paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (3.683 kg ha-1).

Tabel 10. Pengaruh pemberian dolomit terhadap bobot kering biomassa, bobot 100 biji, bobot basah gabah, dan bobot gabah kering giling.

Perlakuan Bobot Kering

Biomassa (kg ha-1)

Bobot 100 Biji (g tanaman-1)

Bobot Basah Gabah (t ha-1)

Bobot Gabah Kering Giling

(t ha-1)

D0 (Kontrol) 3.683 a 1,65 1,18 a 0,93 a

D1 (Pupuk Anorganik) 6.314 b 2,20 1,26 a 1,02 b

D2 (Dolomit 0,5 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 7.635 b 2,09 1,81 b 1,44 c

D3 (Dolomit 0,75 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 10.343 c 2,12 2,09 c 1,68 d

D4 (Dolomit 1 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 13.116 d 2,12 2,24 cd 1,79 e

D5 (Dolomit 1,25 t ha-1

dan Pupuk Anorganik) 14.104 d 2,23 2,58 e 2,09 g

D6 (Dolomit 1,5 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 13.888 d 2,10 2,37 d 2,00 f

D7 (Dolomit 2 t ha-1 dan

Pupuk Anorganik) 18.865 e 2,35 3,07 f 2,50 h

Keterangan: Pupuk anorganik diberikan dalam bentuk urea 300 kg ha-1, SP-36 100 kg ha-1, KCl 100 kg ha-1; huruf yang sama menunjukkan tidak terdapat beda nyata antar perlakuan menurut uji BNT taraf 5%.

(9)

http://jtsl.ub.ac.id 263 Perlakuan D0 berbeda nyata dengan perlakuan

lainnya, tetapi pada parameter D4 hingga D6 tidak berbeda nyata satu sama lain. Bobot kering mencerminkan kemampuan tanaman menyerap unsur hara. Tingginya bobot kering tanaman tingginya kemampuan tanaman menyerap hara serta proses fotosintesis, sehingga asimilat yang dihasilkan juga tinggi. Tingginya produksi asimilat menjadikan pertumbuhan tanaman optimal yang akan berpengaruh terhadap bobot kering tanaman.

Arinta dan Lubis (2018) menyatakan bahwa perbedaan jumlah fotosintat yang dihasilkan akan berpengaruh terhadap berat kering tanaman.

Bobot 100 biji

Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan pemberian dolomit dan pupuk anorganik tidak berpengaruh nyata terhadap bobot 100 biji padi (Tabel 10). Rerata bobot 100 biji paling tinggi terdapat pada perlakuan D7 (2,35 g tanaman-1) dan rerata bobot 100 biji paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (1,65 g tanaman-1). Bobot 100 biji padi dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran gabah, semakin besar ukuran gabah bila memiliki bentuk gabah bulat maka semakin besar bobot biji.

Penyebab biji padi yang tidak berisi penuh bisa disebabkan oleh kurangnya penyinaran matahari saat fase pengisian dan jumlah air yang dibutuhkan.

Bobot basah gabah

Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan pemberian dolomit berbagai dosis berpengaruh nyata terhadap bobot basah gabah (Tabel 10).

Bobot basah gabah paling tinggi terdapat pada perlakuan D7 (3,07 t ha-1) sedangkan bobot basah gabah paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (1,18 t ha-1). Perlakuan D0 tidak berbeda nyata dengan perlakuan pemberian pupuk anorganik saja (D1), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan pemberian dolomit dan pupuk anorganik (D2-D7).

Pemberian pupuk urea mempengaruhi hasil pengisian bulir padi. Nitrogren merupakan bagian klorofil, maka dengan pemberian nitrogen pada tanaman dapat meningkatkan fotosintat tanaman.

Sesuai dengan pernyataan Gultom dan Mardaleni (2014) yang menyatakan bahwa penyediaan nitrogen yang optimum dapat meningkatkan luas daun, dengan demikian dapat meningkatkan akumulasi karbohidrat pada bulir padi.

Bobot gabah kering giling

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dolomit dan pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap bobot gabah kering

giling (Tabel 10). Bobot gabah kering giling paling tinggi terdapat pada perlakuan D7 (2,50 t ha-1) dengan persentase peningkatan sebesar 168,82%

terhadap kontrol. Sedangkan bobot gabah kering giling paling rendah terdapat pada perlakuan D0 (0,93 t ha-1). Perlakuan D0 berbeda nyata dengan seluruh perlakuan. Bobot gabah kering giling menunjukkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara dan mengakumulasikan hasil fotosintesis pada bulir padi.Kondisi pH tanah yang semakin meningkat akan menyediakan unsur Ca, Mg dan P yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu tingkat kadar hara mikro dalam larutan tanah juga mencukupi. Pemberian CaCO3

selain dapat menaikkan pH tanah juga dapat menyumbangkan unsur hara Ca dan Mg, sehingga aktivitas dalam fotosintesa akan meningkat. Unsur Mg merupakan bagian dari protoplast yang sangat penting dalam proses fotosintesa tersebut (Gultom dan Mardaleni, 2014).

Hubungan antar parameter

Hubungan populasi bakteri pelarut fosfat dengan P tersedia Berdasarkan hasil analisis korelasi dan regresi antara populasi bakteri pelarut fosfat dengan P tersedia didapatkan nilai (r) 0,94 sehingga dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi populasi bakteri pelarut fosfat maka akan meningkatkan P tersedia di dalam tanah. Didapatkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,8913 yang dapat diartikan bahwa populasi bakteri pelarut fosfat dapat mempengaruhi P tersedia sebesar 89,13% (Gambar 1).

Gambar 1. Hubungan populasi bakteri pelarut fosfat dengan P tersedia.

Ginting et al. (2016) menyatakan bahwa mikroorganisme pelarut fosfat yaitu mikroorganisme yang dapat melarutkan fosfat tidak tersedia menjadi tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman. Pemanfaatan mikro-organisme pelarut fosfat dapat mengatasi masalah P pada

y = 2.2194x - 11.081 R² = 0.8913

0 10 20 30

0 5 10 15 20

P tersedia (ppm)

Populasi BPF (×106 CFU g-1)

(10)

http://jtsl.ub.ac.id 264 tanah masam. Dalam aktivitasnya, bakteri pelarut P

akan mengeluarkan asam-asam organik. Di antaranya yaitu asam sitrat, asam glutamat, asam suksinat dan asam laktat. Asam tersebut akan membentuk senyawa kompleks dengan ion Fe dan Al sehingga unsur P akan dibebaskan dan menjadi P tersedia di dalam tanah dan dapat diserap oleh tanaman. P terikat di dalam tanah berupa Ca-P, Mg- P, Fe-P, dan Al-P.

Hubungan populasi bakteri pelarut fosfat dengan produksi padi

Parameter produksi yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara populasi bakteri pelarut fosfat dengan produksi padi yaitu bobot gabah kering giling. Berdasarkan hasil korelasi antara populasi bakteri pelarut fosfat dengan bobot gabah kering giling didapatkan nilai korelasi (r) sebesar 0,89. Sehingga dapat diasumsikan bahwa setiap kenaikan dari populasi bakteri pelarut fosfat akan dapat meningkatkan bobot gabah kering giling. Nilai koefisien determinasi (R2) didapatkan sebesar 0,7917 (Gambar 2), sehingga dapat diartikan bawa populasi bakteri pelarut fosfat dapat mempengaruhi bobot gabah kering giling sebesar 79,17%. Bakteri pelarut fosfat bekerja secara sinergis mengeluarkan enzim fosfatase dalam proses mineralisasi dan imobilisasi untuk mengubah P organik menjadi P anorganik. Sinergi tersebut membantu menyediakan P bagi tanaman padi sehingga pengisian bulir-bulir padi meningkat (Fitriatin et al., 2017).

Gambar 2. Hubungan populasi bakteri pelarut fosfat dengan BGKG.

Hubungan serapan P dengan produksi padi

Berdasarkan hasil analisis korelasi serapan P dengan bobot gabah kering giling didapatkan nilai korelasi sebesar (r) 0,88 yang berarti bahwa semakin tinggi serapan P tanaman diikuti dengan kenaikan bobot

gabah kering giling. Nilai koefisien determinasi (R2) yang didapatkan sebesar 0,8793 sehingga dapat diasumsikan bahwa serapan P dapat mempengaruhi produksi padi sebesar 87,93% (Gambar 3). Serapan P tanaman menunjukkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara P tersedia di dalam tanah. Pemberian dolomit yang ditambahkan dengan SP-36 sebagai sumber P sehingga akan menjadi P tersedia dalam jumlah tinggi dan mudah larut sehingga mudah untuk diserap oleh tanaman.

Menurut Setyanti et al. (2013), tanaman menyerap sebagian besar hara P dalam bentuk ion primer (H2PO4-). Sejumlah kecil diserap dalam bentuk ion sekunder (HPO4-2), sehingga serapan fosfor yang tinggi dapat menyebabkan bobot jaringan tanaman menjadi lebih berat dan warna daun menjadi lebih gelap.

Gambar 3. Hubungan serapan P dengan BGKG.

Kesimpulan

Pemberian dolomit dan pupuk anorganik memberikan pengaruh nyata terhadap serapan P dan produksitanaman padi. Terdapat korelasi posistif antara populasi bakteri pelarut fosfat (BPF) dan ketersediaan Fosfor di dalam tanah.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasihatas arahan dan izin penggunaan fasilitas di lahan percobaan Jatimulyo dan Laboratorium Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.

Daftar Pustaka

Arinta, K. dan Lubis, I. 2018. Pertumbuhan dan produksi beberapa kultivar padi lokal Kalimantan.

Buletin Agrohorti 6(2):270-280.

Azman, E.A., Jusop, S., Ishak, C.F. and Ismail, R. 2014.

Increasing rice production using different lime sources on an acid sulphate soil in Merbok, Malaysia.

Pertanika 37(2):223-247.

y = 0.1956x - 0.3561 R² = 0.7917

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5

0 5 10 15 20

BGKG (t ha-1)

Populasi BPF (×106 CFU g-1)

y = 0.0233x + 1.0551 R² = 0.8793

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5

0 50 100

BB Gabah (t ha-1)

Serapan P (kg ha-1)

(11)

http://jtsl.ub.ac.id 265 Badan Pusat Statistik. 2020. Luas Panen dan Produksi

Padi di Indonesia 2019. Jakarta: BPS.

Balai Penelitian Tanah. 2009. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.

Febriana, E. 2011. Kalsinasi Dolomit Lamongan Untuk Pembuatan Kalsium-Magnesium Oksida Sebagai Bahan Baku Kalsium dan Magnesium Karbonat Presipitat. Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Jakarta.

Fitriatin, B.N., Agustina, M. dan Hindersah, R. 2017.

Populasi bakteri pelarut fosfat, P-potensial dan hasil jagung yang dipengaruhi oleh aplikasi MPF pada tanah Ultisols Jatinangor. Agrologia 6(2):75-83.

Ginting, R.C.B., Saraswati, R. dan Husen, E. 2016.

Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Gultom, H. dan Mardaleni, M. 2014. Uji adaptasi beberapa varietas padi sawah (Oryza sativa L) dan kapur dolomit pada tanah gambut. Dinamika Pertanian 29(2):145-152.

Ilham, F., Prasetyo, T.B. dan Prima, S. 2019. Pengaruh pemberian dolomit terhadap beberapa sifat kimia tanah gambut dan pertumbuhan serta hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L). Jurnal Solum 16(1):29-39.

Karamina, H., Fikrinda, W. dan Murti, A.T. 2017.

Kompleksitas pengaruh temperatur dan kelembaban tanah terhadap nilai pH tanah di perkebunan jambu biji varietas kristal (Psidium guajava L.) Jurnal Kultivasi 16(3):430-434.

Marista, E., Khotimah, S. dan Linda, R. 2013. Bakteri pelarut fosfat hasil isolasi dari tiga jenis tanah rizosfer tanaman pisang nipah (Musa paradisiaca var. nipah) di Kota Singkawang. Jurnal Protobiont 2(2):93-101.

Maryati, Nelvia, dan Anom, E. 2014. Perubahan sifat kimia tanah sawah saat serapan hara maksimum oleh padi (Oryza Sativa L.) setelah aplikasi campuran kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dengan abu boiler. JOM Faperta 1(1):11-16.

Masrun, A. 2018. Analisa Kadar C organik pada Tanah Dengan Metode Spektrofotometri di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Medan: Universitas Sumatera Utara.

Misran, M. 2013. Percepatan peningkatan produksi padi sawah melalui umur bibit. Dinamika Pertanian XXVIII(3):175-180.

Niswati, A., Yusnaini, S. dan Arif, M.S.S. 2008. Populasi mikroba pelarut fosfat dan P-tersedia pada rizosfir beberapa umur dan jarak dari pusat perakaran jagung (Zea mays L.). Jurnal Tanah Tropika 13(2):123-130.

Putra, I., Jasmi dan Setiawan, O. 2018. Pengaruh pemberian dolomit dan pemupukan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil okra (Abelmoschus esculentus L.) pada tanah Histosol. Jurnal Agrotek Lestari 5(2):47- 60.

Setyanti, Y.H., Anwar, S. dan Slamet, W. 2013.

Karakteristik fotosintetik dan serapan fosfor hijauan alfalfa (Medicago sativa) pada tinggi pemotongan dan pemupukan nitrogen yang berbeda. Animal Agriculture Journal 2(1):86-96.

Simanjuntak, W., Hapsoh dan Tabrani, G. 2015.

Pemberian dolomit dengan pupuk fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.). JOM Faperta 2(2).

Siswanto, B. 2018. Sebaran unsur hara N, P, K dan pH dalam tanah. Buana Sains 18(2):109-124.

Suarjana, I.W., Supadma, A.A.N. dan Arthagama, I.D.M.

2015. Kajian status kesuburan tanah sawah untuk menentukan anjuran pemupukan berimbang spesifikasi lokasi tanaman padi di Kecamatan Manggis. Jurnal Agroekoteknologi Tropika 4(4):314- 323.

Sudianto, E., Ezward, C. dan Mashadi. 2018. Pengaruh pemberian dolomit dan pupuk kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah (Oryza sativa L.) menggunakan tanah sawah bukaan baru. Jurnal Sains Agro 3(1):21-16.

Sudir, B. Nuryanto, dan Kadir, T.S. 2017. Epidemiologi, patotipe, dan strategi pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi. Jurnal IPTEK Tanaman Pangan 7(2):79-87.

Syahputra, D., Alibasyah, M.R. dan Arabia, T. 2014.

Pengaruh kompos dan dolomit terhadap beberapa sifat kimia Ultisol dan hasil kedelai (Glycine max L.

Merril) pada lahan berteras. Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan 4(1):535-542.

Wu, H., Hu, J., Shaaban, M., Xu, P., Zhao, J. and Hu, R.

2021. The effect of dolomite amendment on soil organic carbon mineralization is determined by the dolomite size. Ecological Process 10, Article number: 8.

Wulandari, P.U. 2020. Pengaruh Kapur dan Pupuk P terhadap pH Tanah, Serapan P, dan Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.) di Lahan Rawa Lebak. Palembang: Universitas Sriwijaya.

Referensi

Dokumen terkait

Dari analisa ragam dapat dijelaskan bahwa pada perlakuan pupuk anorganik pengamatan diameter tongkol antar perlakuan tidak berbeda nyata, hal ini diduga pH tanah

ERKWAN MARTINUS: Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Kerbau dan Dosis Pupuk Anorganik Terhadap Hara N, P, K Tanah, Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah

Dari hasil analisis ragam diperoleh bahwa interaksi antara pupuk hayati dengan kapur dolomit dapat berpengaruh nyata meningkatkan pH tanah sedangkan tinggi

Penggunaan varietas kacang hijau kutilang serta pupuk dolomit dan pupuk kandang sapi dengan beberapa dosis penggunaan menjadi salah satu alternatif perbaikan kesuburan sifat

Hal ini disebabkan karena tanah yang digunakan merupakan tanah andosol yang banyak mengandung bahan organik, sehingga penambahan pupuk anorganik dalam tanah tidak

Data Rataan Kemasaman Tanah (pH) Ultisol dengan Perlakuan Pupuk Trichoderma dan Waktu Pemberian Pada Tanaman Kedelai Umur 12 MST. Dwikasta Kemasaman Tanah (pH)

Hal ini disebabkan karena tanah yang digunakan merupakan tanah andosol yang banyak mengandung bahan organik, sehingga penambahan pupuk anorganik dalam tanah tidak

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa aplikasi kombinasi pupuk anorganik dengan pupuk hayati tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan N- total tanah Tabel 4.. Hal ini diduga karena