Vol. 1, Oktober 2017, 199-208
199 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
PENGARUH PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI EKOSISTEM UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA SMA NEGERI 11 BANDA ACEH
1
Erdi Surya
2Anita Noviyanti
Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Serambi Mekkah
Jln. Teungku Imum Lueng Bata Banda Aceh 23245
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Problem based learning pada materi ekosistem di SMA Negeri 11 Banda Aceh.
Penelitian ini telah dilaksanakan bulan April – Agustus 2017, lokasi penelitian pada sekolah SMA Negeri 11 Banda Aceh.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode eksprerimen (exprerimental research) dengan desain penelitian, Pretest-Postest. Sebagai populasi ditetapkan seluruh siswa kelas X. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XiA1 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XiA2 sebagai kelas kontrol yang di pilih berdasarkan random sampling. Kelas eksperimen diajarkan dengan mengggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sedangkan Kelas kontrol diajarkan dengan model konvensional. Kedua kelas ini di berikan materi dan butir soal yang sama Instrument dalam penelitian ini adalah soal tes sebanyak 25butir soal, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lembar Kerja Siswa (LKS) hasil belajar Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikan 0,05 diperoleh harga t-hitung sebesar 2,54 sedangkan nilai t-tabel 1,68 sehingga t-hitung> tt-
tabel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh penerapan problem based learning dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini akan memberikan manfaat langsung kepada guru Biologi akan dapat mengetahui konsep ekosistem melalui strategi pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Kata kunci : Pembelajaran Problembased Learning, hasil belajar, ekosistem,
1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendali diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Djamarah, 2002:76)
Pendidikan merupakan usaha sadar dalam dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pembelajaran.
Karena pendidikan juga merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsadan dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang seutuhnya. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ryanto (2009:143), pen-didikan merupakan kegiatan untuk me-manusiakan manusia itu sendiri, yaitu manusia yang berbudaya‟ oleh karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat yang beriman
dan bertagwa, cakap dan kreatif dalam berilmu pengetahuan, serta mandiri dan bertanggung jawab dalam kehidupannya.
Sebagai upaya mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional tersebut
Belajar adalah suatu proses Pendidikan merupakan modal utama untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam pembangunan. Dengan pendidikan maka akan menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan berkompeten. Pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan. Pendidikan mempunyai peranan penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
Agar kegiatan belajar mengajar guru dapat memperoleh hasil yang lebih efesien, setiap materi pembelajran memerlukan cara atau metode penyampaian yang menarik dan bervariasi. Oleh karena itu, guru harus mampu memilih/menetapkan berbagai metode
200 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
mengajar yang efektif dan efesien untuk materi tertentu.
Pada dasarnya biologi bukanlah ilmu yang sulit untuk dipelajari, karena pada hakikatnya dengan belajar biologi bearti belajar belajar mengenai diri sendiri dan lingkungan yang ada di sekitar.
banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dipecahkan dengan menggunakan ilmu biologi. Namun, karena proses pembelajarannya biologi cenderung hanya menghafal, maka hal tersebut menjadi kendala bagi siswa dalam memahami materi peljaran biologi. Biologi berkaitan dengan cara mencar tahu dan memahami alam secara sistematis, sehingga biologi bukan hanya penguasaan dan pengumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2004:35)
Hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana (2005, 14) membagi tiga macam hasil belajar (1). Ketrampilan dan kebiasaan. (2).
Pengetahuan dan pengarahan. (3). Sikap dan cita-cita. Mengacu pada filsafat konstruktivisme, siswa merupakan pembelajar aktif yang mengkontruksi sendiri pengetahuannya.
Anni (2006:4) prestasi belajar merupakan perubahan prilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar, atau kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar dan terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional berpengaruh terhadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar (Nashar, 2004:77).
Siswa diberi kesempatan untuk ber- interaksi langsung dengan objek belajar, mengamati, mengembangkan pertanyaan, meng-hubungkan fakta dengan sumber pengetahuan, mengambil kesimpulan dan mengkomunikasikan. Guru menjadi fasilitator agar pengalaman belajar di atas dapat berhasil dilaksanakan Poedjiadi dalam (Sutrisno, 2008, 63).
Salah satu upaya untuk mengem- bangkan kualitas pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang
dapat mengaktifkan siswa, salah satunya dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), yaitu pembelajaran yang dapat memberikan motivasi /dorongan kepada siswa agar dalam melakukan proses pembelajaran dapat lebih aktif, dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip.
Dalam hal ini siswa dituntut untuk terlibat dala penelitian yang mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut untuk memecahkan masalah.
Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa. Selain itu diharapkan bisa membantu siswa dalam memahami suatu pelajaran sehingga output yang dihasilkan menjadi output yang berkualitas, baik dalam ranah kognitif, afektif, psikomotorik (Syaiful, 2006).
Model pembelajaran ini banyak diadopsi untuk menunjang pembelajaran learning centered dan yang memberdayakan pembelajaran berdasarkan masalah (Amir, 2009:89). Dalam model ini pembelajaran ini, pembelajaran didesain dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan struktur masalah real yang berkaitan dengan konsep- konsep biologi yang diajarkan, permasalahan pada konsep ekosistem bagaimana siswa memahami komponem-komponen satuan dalam ekosistem yang terdiri dari, individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan komponen penyusun ekosistem, bagaimana komponen abiotik dan biotic yang saling berkaitan, serta bagaiamana permasalahan peran aliran energy dalam suatu ekosistem.
Semua informasi akan mereka kumpul-kan melalui penelaah materi ajar, kerja praktik laboratorium, ataupun diskusi dengan teman sebayanya, untuk dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapainya.
Beberapa teori mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat mening- katkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.
Berhubungan dengan berpikir kritis Liliasari (2000) mengemukakan bahwa berpikir kritis terbukti mempersiapkan peserta didik berpikir pada berbagai disiplin ilmu, menuju pemenuhan sendiri akan kebutuhan intelektual dan mengembangkan peserta didik sebagai individu berpotensi. Dengan demikian
Vol. 1, Oktober 2017, 199-208
201 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
kemampuan berpikir kritis perlu dikem- bangkan dalam pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk meneliti‟ pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pada materi Ekosistem untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SMA Negeri 11 Banda Aceh.
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan model pembelajaran problem based learningpada materi ekosistem di SMA Negeri 11 Banda Aceh. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran problem based learning pada materi ekosistem di SMA Negeri 11 Banda Aceh.
2. METODE
Penelitian ini telah di laksanakan di SMA Negeri 11 Banda Aceh. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X sebanyak 105 siswa yang tersebar pada lima kelas paralel, dengan rata-rata jumlah siswa 21 per kelas sampel diambil secara acak sebanyak 21 siswa yang dijadikan sebagai kelas eksperimen dan 20 orang sebagai kelas kontrol. Sedangkan pengelompokkan siswa ke dalam kelas exsperimen dan kelas control berdasarkan kemampuan awal siswa terhadap penguasaan konsep (berdasarkan hasil pretes).
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimen (experimental research) dengan desain penelitian „’Pre-test-Pos-test Control Group Design‟‟ (Arikunto: 2009). Dengan desain experiment seperti padaTabel 1.1.
Tabel 1.1 Desain Experimen
Sampel Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test
Acak A(Experimen) O XI O
Acak B(Kontrol) O X2 O
Keterangan :
XI =Pembelajaran berbasis masalah
X2 =Pembelajaran dengan menggunakan model konvensional
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada proses penelitian ini tigamacam data yaitu (a). data skor tes awal dan skor tes akhir pada kelas exsperimen dan kelas control pada materi sistem pernapasan. (b). hasil observasi terhadap pembelajaran pada materi ekosistem (c) lks berupa pertanyaan petunjuk pembelajaran untuk mengerjakan pertanyaan- pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.
Teknik Analisis Data
Data yang dikumpul berupa hasil pretest dan hasil pos test, kemudian hasil tersebut dianalisis, dan hasil analisis dibandingkan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Prosedur dan langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut:
Data kemampuan pemahaman konsep adalah skor pretes (kemampuan awal) dan skor pos tes (kemampuan akhir). Dari data skor pre-
test dan pos-test tersebut selanjutnya dihitung
“gain” dengan cara mengurangi skor pos-tes dan skor pre-test. Untuk menghindari kesalahan dalam menginterpresentasikan perolehan gain masing-masing siswa, maka dilakukan normalisasi gain dengan menggunakan rumus dari Hake (Cheng, et al., 2004)
N. GAIN =
Dengan kategori perolehan N-Gain : -Tinggi :N-Gain > 70
-Sedang : 30:5 N-Gain <70 -Rendah : N-Gain<30.
Skor rata-rata gain ternormalisasi (N- Gain) antara kelas eksperimen dan kelas control digunakan sebagai data untuk membandingkan kemampuan pemahaman konsep Skor rata-rata gain normalisasi (N- Gain) antara kelas eksperimen dan kelas kontrol digunakan sebagai data untuk membandingkan kemampuan hasil belajar.
Perbedaan kedua rata-rata antara kedua kelas dilakukan dengan “uji-t”.
202 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Hasil tes siswa dibuat dalam distribusi frekuensi, setelah itu nilai rata-rata masing-masing kelompok dibandingkan.
Sudjana (2002) menyatakan untuk menyakinkan hasil tersebut dilakukan uji-t dengan rumus sebagai berikut.
t = ̅ ̅
√
Keterangan:
X1 =Nilai rata-rata kelas eksperimen pertama
X2 =Nilai rata-rata kelas eksperimen kedua S =Standar deviasi sehubungan
n1 =Jumlah siswa kelas eksperimen
n2 =Jumlah siswa kelas control 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang ditemukan pada saat penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai untuk kelas exsperimen dibandingkan dengan kelas konstrol. Untuk lebih jelasnya dapat di tampilkan pada tabel berikut ini.
Pembahasan Hasil Belajar Siswa
Daftar nilai rata-rata ( ̅ hasil belajar siswa kelas X IPA4 dan X IPA3 SMA Negeri 11 Banda Aceh Acehpada pembelajaran konsep sistem ekosistem.
Tabel 1.2. Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen No Inisial
Siswa
Kelas Eksperimen
Pret Post Gain N-Gain
1 S1 73 87 14 0.47
2 S2 66 80 14 0.47
3 S3 60 76 16 0.53
4 S4 60 73 13 0.43
5 S5 63 80 17 0.57
6 S6 70 80 10 0.33
7 S7 60 73 13 1.43
8 S8 63 83 20 0.67
9 S9 60 76 16 0.53
10 S10 73 90 17 0.57
11 S11 70 97 27 0.90
12 S12 60 83 23 0.77
13 S13 63 70 7 0.23
14 S14 56 70 14 0.46
15 S15 60 66 6 0.20
16 S16 66 93 27 0.90
17 S17 73 86 13 0.43
18 S18 63 90 27 0.90
19 S19 53 83 30 1,00
20 S20 70 80 10 0.33
21 S21 63 80 17 0.57
Jumlah 1345 1696 351 11,69
Rata-rata 64.04 80.76 16.71 0,55
Berdasarkan Tabel 1.2 . hasil belajar siswa kelas eksperimen, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata ( ̅ pre-test adalah 64,04
sedangkan nilai rata-rata ( ̅ post-test adalah 80,76. Nilai rata-rata ( ̅ gain adalah 16,71 sedangkan n-gain 0,55.
Berdasarkan Tabel 1.3. Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata ( ̅ pre-test adalah 46,9 sedangkan nilai rata-rata ( ̅ post-test adalah
61,15. Nilai rata-rata ( ̅ gain adalah 14,25 sedangkan n-gain 0,67.
Dari data yang diperoleh, maka penulis menganalisa dengan menggunakan
Vol. 1, Oktober 2017, 199-208
203 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
daftar distribusi frekuensi dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan Rentang (R), yaitu nilai tertinggi kurang nilai terendah
2. Menentukan banyaknya interval (K), yaitu:
3. Perhitungan Nilai rata-rata (x), Varians
S2 dan simpangan baku (S).
Tabel 1.3. Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol
No Inisial Siswa Kelas Kontrol
Pret Post Gain N-Gain
1 S1 66 73 7 0.33
2 S2 66 80 14 0.66
3 S3 40 60 20 0.94
4 S4 43 57 14 0.66
5 S5 40 47 7 0.33
6 S6 47 57 10 0.47
7 S7 43 60 17 0.80
8 S8 47 60 13 0.61
9 S9 50 63 13 0.61
10 S10 40 50 10 0.47
11 S11 37 50 13 0.61
12 S12 50 60 10 0.47
13 S13 50 66 16 0.75
14 S14 56 63 7 0.33
15 S15 40 57 17 1.80
16 S16 40 60 20 0.94
17 S17 43 73 30 0.41
18 S18 40 57 17 0.80
19 S19 50 57 7 0.33
20 S20 50 73 23 1,08
Jumlah 938 1223 285 13,4
Rata-rata 46,9 61,15 14,25 0,67
Nilai selisih post-test kelas eksperimen yang di ajarkan dengan menggunakan model problem based learning pada pembelajaran konsep sistem ekosistem yaitu:
Rentang (R) = Nilai tertinggi – Nilai terendah
= 30 – 6
= 24
Banyak Kelas (K) 1 (3,3) Log n
= 1 (3,3) Log 21
= 1 (3,3) (1,32)
= 1 4,35
= 5,35 (dibulatkan 5) Panjang Kelas (P) =
=
= 4,8 (dibulatkan 6) Berdasrkan data yang diperoleh di atas maka tabel distribusi frekuensi untuk kelas eksperimen sebagai berikut:
204 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Tabel 1.4. Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir Siswa Kelas Eksperimen Nilai tes Frekuensi
(fi)
Titik tengah
(xi) xi2 fixi fixi 2
6-10 4 8 64 32 256
11-15 6 13 169 78 1014
16-20 5 18 324 90 1620
21-25 2 23 529 46 1058
26-30 4 28 784 112 3136
Jumlah 21 358 7084
Sumber : Data diolah pada tahun 2017 Berdasarkan tabel di atas dapat di tentukan ( ̅ (s1
2), dan (s). Maka pengolahan data dilakukan sebagai berikut:
Rata-rata ̅ ∑ ̅ ̅
Untuk mencari simpangan baku maka digunakan rumus sebagai berikut:
Varians S1
2 ∑ ∑
S1
2
S1
2
S12 S1
2 S1 √ S1
Nilai selisih post-test kelas kontrol yang di ajarkan dengan menggunakan pembelajaran materi sistem ekosistemyaitu:
Rentang (R) Nilai tertinggi – Nilai terendah
30–7 23
Banyak Kelas (K) 1 (3,3) Log n 1 (3,3) Log 20 1 (3,3) (1,30) 1 4,29
5,29 (dibulatkan 5)
Panjang Kelas (P)
4,6 (dibulatkan 5)
Tabel 1.5. Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir Siswa Kelas Kontrol Nilai tes Frekuensi
(fi)
Titik tengah
(xi) xi2 fixi fixi 2
7-11 7 9 81 63 567
12-16 6 14 196 84 1176
17-21 5 19 361 95 1805
22-26 1 24 576 24 576
27-30 1 29 841 58 841
Jumlah 20 295 4965
Sumber : Data diolah pada tahun 2017 Berdasarkan tabel di atas dapat di tentukan ( ̅ (s1
2), dan (s). Maka pengolahan data dilakukan sebagai berikut:
Rata-rata ̅ ∑
̅ ̅ ,75
Untuk mencari simpangan baku maka digunakan rumus sebagai berikut:
Varians S2
2 ∑ ∑
S2
2
S2
2
Vol. 1, Oktober 2017, 199-208
205 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
S2
2 S22 S2 √
S2
Berdasarkan hasil perhitungan nilai selisih tes awal (pre-test) dan test akhir (post- test) pada kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol di peroleh rata-ratanya yaitu, untuk kelas eksperimen rata-ratanya ̅
= 17,04 dan varians S1
2 = 49,04. Sedangkan untuk kelas kontol diperoleh nilai rata- ratanya ̅ = 14,75 dan varians S2
2 = 32,30, sebelum dicari t-hitung terlebih dahulu dicari standar deviasi gabungan (s). Untuk menghitung deviasi gabungan (s) digunakan rumus sebagai berikut:
S2
S2
S2
S2
S2 S2 = 9,41 S √
S
Langkah selanjutnya adalah menghitung dan membandingkan kedua hasil perhitungan tersebut. Adapun nilai rata-rata, varians, dan simpangan baku sebagai berikut:
X1 = 17,04 S1
2 = 49,04 S1 = 7,00 X1 = 14,75 S2
2 = 32,30 S2 = 6,68
Sehingga dapat ditentukan nilai varians gabungan, yaitu = 3,06
√
√
√
√
= 2,544
Berdasarkan perhitungan di atas, maka diperoleh standar deviasi gabungan adalah 3,06 dan nilai uji-t adalah 2,54.
Berdasarkan hipotesis dilakukan pada taraf signifikan α =0,05 dan berdasarkan hasil penelitian diperoleh t= 2,54 dan t (1-α= 1,68. Hal ini menunjukkan bahwa nilai diperoleh harga t-hitung sebesar 2,54sedangkan nilai t-tabel 1,68 sehingga t-hitung> tt-
tabel.sehingga hipotesis alternative (h0) yang berbunyi‟ diduga ada pengaruh penerapan strategi problem based learning (PBL) sangat signifikan terhadap hasil belajar siswa pada materi ekosistem, dapat diterima dengan baik, sedangkan hipotesis nol (h0) yang berbunyi diduga ada pengaruh penerapan strategi problem based learning (PBL) yang signifikan terhadap kemampuan kemampuan hasil belajar siswa pada materi ekosistem ditolak.
Hasil observasi terhadap pembelajaran Berdasarkan hasil pengumpulan data dengan lembaran observasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran yang diajarkan dengan materi ekosistem dapat dilihat pada tabel 1.6 berikut ini.
Berdasarkan tabel 1.6 dibawah menunjukkan rata-rata aktivitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) pada konsep ekosistem sudah termasuk dalam katagori baik, Berdasarkan tabel 1.6 dibawah menunjukkan rata-rata aktivitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) pada konsep ekosistem sudah termasuk dalam katagori baik,
206 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
Tabel 1.6 Aspek Pengamatan Kegiatan Siswa dalam Pembelajaran konsep Ekosistem
Aktifitas Siswa Skor
Baik Cukup Kurang 1. Ketika guru masuk kelas siswa sudah siap dengan
peralatan dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi
√
2. Sikap duduk yang baik, teratur dan siap menerima pelajaran
√ 3. Siswa memperhatikan penjelasan guru dan siswa
mencatat hasil penjelasan guru
√ 4. Siswa mengikuti saran guru dan duduk sesuai kelompok
yang telah ditentukan oleh guru kelompok heterogen yang beranggotakan 5 – 6 orang
√
5. siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam masing- masing kelompok mereka untuk menguasai materi ekosistem
√
6. Siswa melakukan kegiatan diskusi dalam kelompok √ 7. Setelah memahami materi, setiap kelompok
mengintruksikan dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamau ke kelompok lain, kemudian orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan memberikan informasi kepada tamu mereka
√
8. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka
√ 9. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja
mereka
√
10. Guru membimbing siswa √
Jumlah 8 2 0
Persentase 80% 20% 0%
dengan perolehan nilai sebagai berikut : aktivitas siswa pada katagori baik 8 (80%), kategori cukup 2 (20%), sedangkan katagori kurang tidak ada atau (0%). Jadi berdasarkan perolehan nilai di atas dapat disimpulkan bahwa pengaruh penerapanproblem based learning (PBL) pada konsep ekosistem dapat membuat siswa menjadi aktif dan semangat dalam belajar
Pembahasan
Pembahasan hasil pembelajaran
Hasil pengujian hipotesis memberikan makna uji-t pada taraf signifikan 0,05 diperoleh harga t-hitung sebesar 2,54sedangkan nilai t-tabel 1,68 sehingga t-hitung> tt-tabelbahwa pengaruh problem based learning terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem
ekosistem di SMA Negeri II Banda Aceh.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model problem based learning lebih baik dari hasil pembelajaran dengan menggunakan konvensional.
Proses pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dapat membuat siswa lebih mengingat pada materi yang diajarkan untuk jangka waktu yang lebih lama, hal ini dikarenakan siswa terlibat lebih aktif dalam memahami materi pada proses pembelajaran yang menggunakan model problem based learning atau pembelajarn berbasis masalah. Hal ini menyebabkan siswa tidak mudah lupa materi yang diajarkan. Karena pada proses
Vol. 1, Oktober 2017, 199-208
207 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.
Model pembelajaran problem based learning suatu pembelajaran dalam bentuk kelompok kerja kelompok dalam kerangka pemecahan masalah telah mampu menunjukkan hasil yang sangat baik. Hal ini dapat disebabkan karena proses pengkntruksian pengetahuan dilakukan secara bersama-sama menggantikan proses pembelajaran secara ceramah yang proses pengetahuan dilakukan sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang di tangkap oleh siswa secara individual. Pengkonstruksian pengetahuan besama-sama melalui kerja kelompok memungkinkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, pendapat orang lain dan secara bersama-sama membangun pergertian.
Pendapat Smith (2009:56) dalam Amir (2009:70) yang mengemukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah memberikan manfaat bagi siswa salah satunya dalam hal meningkatkan pemahaman sehingga lebih mudah mengingat, hal ini secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian Erlina (2010) yang menyimpulkan bahwa hasil belajar biologi siswa yang dubelajarkan dengan menggunakan model Problem Based Learning lebih baik dari pada hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini sejalan dengan pendapat Duch (1996:79). Model problem Based Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat permasalahan dari berbagai konstek. Model problem based learning melatih siswa untuk belajar sekaligus mengajari teman lain melalui komunikasi yang efektif tentang apa yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
Dalam proses belajar mereka saling tergantung antara satu dengan yang lainnya untuk menunjukkan kesuksesan pemecahan maslaha yang komplek.
Pembahasan hasil observasi
Berdasarkan hasil observasi pembelajaran yang telah dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan proses pembelajaran problem based learning dan tidak menggunakan
problem based learningpada materi ekosistem. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.5 rekapitulasi persentase aktivitas pengamatan siswabelajar pada ekosistem.
Aktivitas belajar adalah proses keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan manfaat dari kegiatan yang telah dilakukan tersebut Kusnandar, (2008). Aktivitas siswa dalam penggunaan media pada saat proses pembelajaran telah berjalan dengan sempurna dan dapat meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar pada setiap sesi pertemuan berlangsung.
Berdasarkan proses observasi yang telah dilakukan, dapat dilihat rata-rata aktivitas siswa pada proses pengamatan mengalami peningkatan baik. dengan perolehan nilai sebagai berikut : aktivitas siswa pada katagori baik 8 (80%), kategori cukup 2 (20%), sedangkan katagori kurang tidak ada atau (0%). Jadi berdasarkan perolehan nilai di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) pada konsep ekosistem dapat membuat siswa menjadi aktif dan semangat dalam belajar.
Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar.
Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. (Hanafiah & Suhana, 2009:271) membagi aktivitas belajar dalam delapan kelompok, yaitu (a) kegiatan-kegiatan visual, misalnya membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, memperhatikan pekerjaan orang lain, (b) kegiatan-kegiatan lisan, seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi, (c) kegiatan- kegiatan mendengarkan, sebagai contoh mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, atau mendengarkan radio, (d) kegiatan- kegiatan menulis, misalnya menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, mengisi angket, (e) kegiatan-kegiatan
208 SEMINAR NASIONAL KEMARITIMAN ACEH (UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH, 24 AGUSTUS 2017)
menggambar, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram, (f) kegiatan- kegiatan metrik, misalnya melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, berkebun, (g) kegiatan- kegiatan mental, misalnya merenungkan, mengingat, memecahkan soal, menganalisa faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan, membuat keputusan, dan (h) kegiatan- kegiatan emosional, yaitu, minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.
Observasi terhadap aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning ini dilakukan untuk
memperhatikan apakah aktivitas yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran sudah muncul sesuai harapan atau sebaliknya 4. SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang diperoleh dalam penelitian, maka dapat diambil kesimpulan 1) hasil belajar siswa melalui model pembelajaran problem based learning pada materi ekosistem mencapai taraf signifikan 2) siswa memberikan respon yang positif terhadap pengaruh model problem based learning pada materi ekosistem. Siswa merasa senag dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
DAFTAR RUJUKAN
Anni, C.T.2006. Psikologi Belajar. Semarang :UPT UNNES Press
Amir, M.T. 2009. Inovasi Pendidikan melalui problem Based Learning: Bagaimana Pendidik memberdayakan pemelajar di Era Pengetahuan . Jakarta: Kencana Prenata Media Group.
Departemen Pendidikan Nasional , 2004.
Kurikulum 2004 :Konpetensi Standar Mata Pelajaran Sains. Jakarta : Depdiknas Republik Indonesia.
Duch, john W..1996. Biology. Addsison Wesley Publising Company.
Djamarah. 2002. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta:Rineka Cipta
Erlina. 2010. Pengaruh Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Peta Pikiran Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa di SMA Negeri 1 Mrerbau. Tesis, Tidak dipublikasi.
Medan Program Pascasarjana Unimed.
Hanafiah, dkk.(2009) Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung : PT Refika Aditama
Kusnandar. (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. PT Rajawali Pers. Jakarta
Nashar.2004. Belajar dan Pembelajaran.
Bandung.:Erlangga.
Sudjana, A. 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset
Sutrisno. 2008. Konsep awal siswa dan tradisi konstruktivisme. Pontianak FKIP- Untan
Ryanto. 2009. Mendesain Pembelajaran Inovatif-Progretif Edisi, Revisi Jakarta Kencana.
Liliasari. (2000). Pengembanagan model Pembelajaran Berdasarkan Konstruktivisme untuk meningkatkan ketrampilan berpikir kritis Tingkat Tinggi. Makalah :Pusat Studi Komputer Sains IKIP Bandung: Tidak diterbitkan