PENINGKATAN PEMAHAMAN MATERI KHOTBAH
MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING KELAS XI SMA NEGERI 2 PALANGKA RAYA
BAHRUDINSYAH
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dalam materi tentang khotbah dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning karena masih banyak peserta didik belum paham tentang khotbah. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua Siklus. Responden yang diteliti 6 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan.
Tahapan tindakan siklus 1 tahapan pemahaman peserta didik dilihat dari hasil tes meningkat dari pada tahapan pra siklus ketika pre tes yaitu siswa yang mendapat nilai tercapai sebanyak 4 orang atau 31 %, nilai cukup tercapai sebanyak 2 orang atau 15 %, nilai kurang baik sebanyak 7 orang atau 54 % dan nilai sangat kurang baik sebanyak 0 orang atau 0%. KKM yang digunakan 70.
Pada tahapan siklus 2 berjalan lebih baik dan terarah sesuai sintak, dan hasil pemahaman peserta didik dilihat dari hasil pos tes sintak 2 lebih meningkat lagi dibandingkan dengan siklus 1 yaitu nilai sangat baik sebanyak 5 orang atau 38
%, nilai terpacai sebanyak 5 orang atau 38 %, nilai cukup sebanyak 3 orang atau 24 %, dan nilai kurang baik tercapai sebanyak 0 orang atau 0 peserta didik banyak mendapatkan nilai 80.
Kata Kunci : Model Problem Based Learning, Materi Khotbah, Peningkatan Pemahaman.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu bentuk pergaulan antara anak dan orang dewasa yang dalam pergaulan itu ada pengaruh yang datang kepada anak, sehingga anak dapat berkembang kearah yang diinginkan, yaitu kearah kedewasaan dalam arti fisik maupun psikis atau ke arah kematangan, baik secara jasmani maupun rohani.
Pemahaman suatu pembelajaran yang diterima seorang peserta didik juga harus ditingkatkan oleh seorang guru, apabila pemahaman materi yang diajarkan oleh guru tidak dimengerti oleh peserta didik maka pembelajaran bisa dikatakan
tidak efektif dan harus dilakukan reflksi untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran, terlebih itu adalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Perkembangan peserta didik apabila di sekolah pastilah guru bisa mengajar dengan baik dan materi juga harus sesuai dengan kebutuhan mereka sehari-hari.
Materi Pembelajaran adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan. Peserta didik harus menguasai materi yang sudah diajarkan oleh guru dan pemahaman materi tersebut juga harus tercapai dengan baik.
Pada hal ini pemahaman tentang khotbah sangatlah dianjurkan kepada peserta didik untuk memahami materi tersebut dengan baik, terlebih itu pada jenjang SMA. Materi khotbah terdapat pada kelas XI semester ganjil, materi ini diajarkan karena pada masa inilah peserta didik banyak yang sudah mengalami masa baligh, jadi shalat jum’at sudah diwajibkan untuk peserta didik yang laki-laki, makanya materi khotbah harus ditingkatkan pemahamannya supaya tujuan dari kompetensi dasar bisa terwujud.
SMA Negeri 2 Palangka Raya pemahaman untuk materi khotbah sangat ditekankan karena peserta didik setiap minggunya melaksanakan shalat jum’at di sekolah, tetapi ketika khatib menyampaikan khotbah masih banyak yang bermain HP dan berbicara dengan temannya disamping, hal ini menunjukkan pemahaman tentang materi khotbah sangat minim dan guru yang mengajar PAI harus lebih esktra dalam menymapaikan materi khotbah supaya peserta didik lebih paham.
Pencapaian tujuan tersebut tentunya diperlukan sebuah model yang tepat, karena model pembelajaran berfungsi sebagai alat untuk membangkitkan belajar peserta didik dengan kata lain penerapan model pembelajaran merupakan cara penyajian pembelajaran yang dapat menarik minat dan perhatian peserta didik.
Materi khotbah pada pembelajaran PAI terdapat di aspek pembelajaran fikih, sebab pembelajaran khotbah merupakan ibadah yang harus dilakukan oleh seorang muslim ketika hari jumat dan peserta didik diharuskan mengerti tentang keutamaan khotbah, syarat dan rukun khotbah. Supaya pembelajaran materi khotbah ini bisa berjalan dengan lancar maka diperlukan model pembelajaran yang harus bisa berpikir kritis supaya peserta didik bisa mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata yang sedang mereka alami maka diperlukanlah model pembelajaran Problem Based Learning.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik (bersifat kontekstual) sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Adapun langkah-langkah Model Problem Based Learning antara lain yaitu 1) mengorientasi peserta didik pada masalah, 2) mengorganisasi peserta didik, 3) membimbing penyelidikan kelompok dan
mandiri, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) analisis dan evaluasi hasil karya.
Kelebihan Problem Based Learning (PBL) antara lain: 1) Menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi peserta didik. 2) Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran peserta didik. 3) Membantu peserta didik dalam mentransfer pengetahuan peserta didik untuk memahami masalah dunia nyata. 4) Membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. 5) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. 6) Memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. 7) Mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir, dan 8) Memudahkan peserta didik dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia nyata.
Kekurangan Problem Based Learning (PBL) diantara lain adalah: 1) Manakala peserta didik tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
2) Untuk sebagian peserta didik beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan ini berbentuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) pada kelas XI SMA Negeri 2 Palangka Raya untuk meningkatkan pemahaman materi khotbah pada peserta didik.
Teknik pengambilan data melalui observasi dan dokumentasi. Analisis data melalui tahapan:
1. Editing, yaitu memperhatikan, melihat dan memeriksa kembali data yang telah terkumpul untuk memastikan apakah data yang diperlukan sudah ada atau belum, guna mengantisipasi adanya kesalahan-kesalahan agar diperoleh data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan.
2. Coding, yaitu pemberian tanda, symbol atau kode-kode tertentu bagi tiap- tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama, sehingga mempermudah dalam pengolahan data
3. tabulating, yaitu memasukkan data yang telah diklasifikasikan ke dalam tabel sesuai dengan masalah yang telah diteliti dan teratur, sehingga data
menjadi lebih kongkrit. Dengan menggunakan rumus distribusi yang dituangkan dalam bentuk angka persenan:
P = 100% N
f
Keterangan :
P = Angka persentase (frekuensi data) f = Frekuensi jawaban
N = Number of Cases (Jumlah frekuensi atau banyaknya individu)
4. Analyzing, yaitu tahapan akhir dalam pengolahan data dengan membuat analisa sebagai dasar untuk menarik kesimpulan, sehingga diketahui hasil penelitian dengan jelas.
Penelitian tindakan ini direncanakan dengan beberapa tahapan, yaitu: Siklus I, 1) Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Pengamatan dalam proses pembelajaran dengan lembar observasi, 4) Menyusun alat evaluasi untuk mengetahui hasil belajar sebelum diajarkan pembelajaran dengan model kooperatif dan sesudah diberikan pengajaran dengan pendekatan model problrm based learning, 5) Membuat laporan tindakan. Siklus II menindak lanjuti hasil siklus I apabila dalam pelaksanaan siklus I belum berhasil.
Adapun gambaran penelitian tindakan kelas sebagai berikut:
Sumber gambar : https://www.arhamsyahban.com/2020/04/
Penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Palangka Raya pada tanggal 7 Desember 2022.
Penlitian pra siklus dilakukan berupa pengamatan atau observasi, dan juga mempersiapkan berbagai macam perencanaan seperti menyiapkan RPP untuk pelaksanaan pembelajaran di siklus I dan siklus, lalu Kegiatan yang dilakukan pra siklus ini seperti melakukan pre tes sebelum memulai pembelajaran di siklus I.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mulai dari tanggal 7 Desember sampai 11 Desember 2022 dengan melalui obesrvasi dan dokumentasi bahwa memproleh hasil dari pre test dan post test dari pembe;ajaran dari siklus I dan siklus II.
Hasil yang dilakukan ketika pre test materi tentang khotbah menghasilkan nilai sebelum menggunakan model problem based learning dalam kegiatan pembelajaran kurang baik / tidak berhasil atau tidak mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan pada nilai standar kriteria ketuntasan minimal ( KKM ) 70. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil peserta didik yang mendapat nilai sangat baik 0 orang atau 0 %, nilai baik 0 orang atau 0 %, nilai cukup baik 2 orang atau 15 %, nilai kurang baik sebanyak 4 orang atau 31 % dan nilai sangat kurang baik 7 orang atau 54%, dari hasil pre test bahwa hasil yang masih kurang pemahaman peserta didik masalah khotbah walaupun mereka sering mengenal kata-kata khotbah tetapi secara teori mereka masih belum menguasai sepenuhnya.
Penelitian di siklus 1 menggunakan model pembelajaran problem based learning dengan menggunakan sintak-sintak yang PBL secara teratur, lalu setelah post Test di siklus I mendapatkan hasil berupa peningkatan yang cukup baik, namun ada juga yang belum mencapai ketuntasan belajar rata-rata kelas yang ditetapkan pada nilai standar kriteia ketuntasan minimal ( KKM ) 70. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai perolehan peserta didik yang mendapat nilai sangat baik yaitu 0 orang atau 0 %, nilai tecapai yaitu 4 orang atau 31 %, nilai cukup baik yaitu 2 orang atau 15 %, dan nilai kurang baik sebanyak 7 orang atau 54 %, dan nilai sangat kurang sebanyak 0 orang atau 0%. Dengan demikian proses kegiatan pembelajaran pada siklus I sedikit mengalami peningkatan dibandingkan dengan pra awal pembelajaran. Namun demikian rata-rata ketuntasan kriteria standar minimal yang telah ditetapkan masih belum tercapai dengan baik. Maka peneliti perlu melakukan usaha-usaha perbaikan lanjutan dengan menganalisa hasil perolehan peserta didik, hasil pengamatan dari observer dan hasil pengamatan kegiatan peserta didik untuk kegiatan lanjutan pada siklus II.
Berdasarkan refleksi dari kegiatan siklus I, perlu mengadakan tindakan ulang yaitu pada siklus II dengan alasan sebagai berikut :
1. Penerapan metode problem based learning masih belum sepenuhnya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
2. Sebagaian peserta didik dalam kelompok masih belum terlibat aktif dalam kelompoknya.
3. Dalam kelompok masih kebingungan menyampaikan kesimpulan atau rangkuman hasil kerja kelompok.
4. Hasil evaluasi belajar belum semua peserta didik mencapai target kriteria ketuntasan minimal ( KKM )
Setelah melakukan analisis dan refleksi di siklus I, maka dilakukan pembelajaran siklus II dengan tetap menggunakan model pembelajaran problem based learning dan langkah-langkah sama dengan siklus I dan hanya ditambah penyegaran maka mendapatkan hasil nilai semua peserta didik mencapai KKM 70 dengan rincian nilai perolehan peserta didik yang mendapat nilai sangat baik yaitu 5 orang atau 38 %, nilai tecapai yaitu 5 orang atau 38 %, nilai cukup baik yaitu 3 orang atau 24 %, dan nilai kurang baik sebanyak 0 orang atau 0 %, dan nilai sangat kurang sebanyak 0 orang atau 0%. Dengan demikian pada pembelajaran siklus 2 ini mengalami kemajuan yang sangat pesat terhadap pemahaman materi tentang khotbah bahwa dilihat dari nilai ketuntasan peserta didik. Semuanya tuntas karena tidak ada lagi nilai dibawah KKM. Jadi peningkatan pemahaman peserta didik pada materi khotbah tercapai di pembelajaran siklus II yang bisa dilihat dari hasil post test yang dilakukan setelah akhir pembelajaran.
Dari pengamatan kegiatan pembelajaan pada siklus II diperoleh temuan-temuan atau informasi sebagai berikut :
1. Pada proses kegiatan pembelajaran siklus II sudah menerapkan pembelajaran sesuai dengan RPP.
2. Tujuan atau indikator pembelajaran tercapai dengan baik.
3. Peneliti menerapkan model problem based learning pada pembelajaran PAI sesuai dengan sintak-sintak PBL.
4. kegiatan kelompok peserta didik terkoordinir dengan baik.
5. Tidak ada lagi kesulitan menggunakan model problem based learning karena sudah dirancang dengan baik.
6. Peserta didik bersemangat dan tertib dalam mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian kelas yang dilaksanakan di kelas XI MIPA 1 SMAN- 2 Palangka Raya, untuk meningkatkan pemahaman materi khotbah dengan model pembelajaran Problem Based Learning, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) harus lebih baik lagi ditingkatkan sesuai dengan sintak-sintak yang ada di PBL, sintak PBL antara lain identifikasi masalah, mengorganisasi kegiatan pembelajaran, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah. Walaupun sudah menggunakan sintak tetapi proses pembelajaran juga harus di dukung juga dengan media lain untuk lebih meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi yang disajikan. Pada Siklus I proses pembelajaran dengan menggunakan model PBL bisa meningkatkan sedikit pemahaman peserta didik karena pada siklus I hanya menggunakan sintak yang melibatkan peserta didik saja untuk menyelesaikan permasalahan yang sesuai dengan materi, sedangkan pada pada siklus II mengalami peningkatan lagi pada proses pembelajaran karena model dikombinasikan dengan media yang bisa membuat peserta didik paham dengan materi karena menampilakan video-video yang berkaitan dengan khotbah, lalu peserta didik mengkritisi materi tersebut dengan kelompok masing-masing. Oleh karena itu pembelajaran berjalan dengan baik dan terarah, peserta didik bisa berpikir kritis untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan dan pemahaman mereka bertambah dengan adanya diskusi.
2. Hasil pemahaman peserta didik materi keutamaan khotbah dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkat dengan baik karena bisa dilihat dari perolehan hasil post test yang dilakukan pada siklus II, nilai peserta didik sudah melawati batas KKM yang ditentukan oleh sekolah dengan kriteria hasil peserta didik peroleh yaitu nilai sangat baiksebanyak 5 orang atau 34 %, nilai tercapai sebanyak 5 orang atau 38 %, nilai cukup sebanyak 3 orang atau 24 %. Dengan nilai rata-rata kelas yang diperoleh 80.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran, Bandzung:Alfabeta Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia Jennah, Rodhatul. 2009. Media Pembelajaran, Banjarmasin:Antarasari Press Majid, Abdul dan Dian Andayani. 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis
Kompetensi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Muhaimin.2002 Peradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mustafa, Mohamad. 2015. Manajemen Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Ramayulis. 2008. Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implemetasi
Kurikulum 2013, Jakarta: Bumi Aksara
Sanjaya, Wina. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung:Kencana Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3
Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sugiono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan:Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung:Alfabeta, cet 17.
Surya, Mohammad, dkk. 2010. Landasan Pendidikan: menjadi guru yang baik, Bogor: Ghalia Indonesia
Syar’i, Ahmad. 2005. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam. Bandung:
Rosdakarya
Usman, M. Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung. Remaja Rosdakarya https://duniapendidikan.co.id/materi-pembelajaran