• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh social trust dan social investment terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pengaruh social trust dan social investment terhadap"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

(Gapoktan Torong Makmur Junrejo, Kota Batu)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Manajemen

Oleh:

ALSABA S. IGOBULA 21902081027

UNIVERSITAS ISLAM MALANG PASCASARJANA

MALANG 2021

(2)
(3)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Social Trust dan Social Investment terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan, Social Trust terhadap Modal Sosial, Social Trust terhadap Kinerja Organisasi, Social Investment terhadap Modal Sosial, Social Investment terhadap Kinerja Organisasi, mediasi Modal Sosial pada Social Trust terhadap Kinerja Organisasi dan mediasi Modal Sosial pada Social Investment terhadap Kinerja Organisasi. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah probability sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah SEM-PLS dengan menggunakan SmartPLS 0.3.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa Social Trust tidak berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja organisasi, Social Trust tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Modal Sosial, Social Investment tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Organisasi, Social Investment tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Modal Sosial, Modal Sosial berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja organisasi, Social Trust secara tidak langsung tidak signifikan mempengaruhi kinerja organisasi, melalui Modal Sosial, dengan kata lain Modal Sosial tidak signifikan dalam memediasi pengaruh Social Trust Terhadap Kinerja organisasi, Social Investment secara tidak langsung tidak signifikan mempengaruhi kinerja organisasi, melalui Modal Sosial, dengan kata lain Modal Sosial tidak signifikan dalam memediasi pengaruh Social Investment Terhadap Kinerja organisasi.

Kata Kunci: Social Trust, Social Investment, Modal Sosial, Kinerja Organisasi.

(4)

This study aims to determine and analyze the effect of Social Trust and Social Investment on Organizational Performance of Gapoktan Farmers, Social Trust on Social Capital, Social Trust on Organizational Performance, Social Investment on Social Capital, Social Investment on Organizational Performance, mediation of Social Capital on Social Trust on Organizational Performance and Mediating Social Capital on Social Investment on Organizational Performance.

The method used in sampling is probability sampling. The data analysis technique used is SEM-PLS using SmartPLS 0.3.

Based on the results of data analysis shows that Social Trust does not have a significant positive effect on organizational performance, Social Trust does not have a significant positive effect on Social Capital, Social Investment does not have a significant positive effect on Organizational Performance, Social Investment does not have a significant positive effect on Social Capital, Social Capital has a positive effect significant effect on organizational performance, Social Trust indirectly does not significantly affect organizational performance, through Social Capital, in other words Social Capital is not significant in mediating the effect of Social Trust on organizational performance, Social Investment indirectly does not significantly affect organizational performance, through Social Capital , in other words, Social Capital is not significant in mediating the influence of Social Investment on organizational performance.

Keywords: Social Trust, Social Investment, Social Capital, Organizational Performance.

(5)

1

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Pertanian adalah aktivitas penggunaan sumber daya hayati yang dilaksanakan oleh manusia guna menghasilkan bahan baku industri, pangan sumber energi dan untuk memanaj lingkungan hidup.

Pertanian ialah suatu model kegiatan produksi yang berlandaskan pada upaya proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dalam pengertian sempit disebut pertanian rakyat, sementara dalam arti luas meliputi kehutanan, peternakan dan perikanan (Soetrisno, Suwandari, 2016). Sektor pertanian merupakan bidang yang begitu strategis berperan penting dalam menyokong perekonomian nasional dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Oleh sebab itu, pembangunan sektor pertanian adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan tanpa ditawar-tawar lagi. Badan Pusat Statstik (BPS) merilis Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020. PDB pertanian tumbuh 16, 24% pada triwulan II 2020 (quarter to quarter) dan bahkan secara year over year, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%. Kemajuan disektor pertanian ini tidak lepas oleh komponen-komponen pendukung, terutama organisasi petani.

Pendirian ribuan organisai petani memang sudah menjadi program pemerintah semenjak kebijakan pembangunan pertanian, berlangsung sejak era tahun 1970-an hingga sekarang. Merujuk pada

(6)

Undang-Undang No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan mengamanatkan bentuk kelembagaan pelaku utama meliputi Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan Asosiasi atau Korporasi.

Selanjutnya dalam Undang-Undang No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, pasal 71 tertulis “Petani berkewajiban bergabung dan berperan aktif dalam Kelembagaan Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1)”. Secara falsafah organisasi petani dibuat guna mengurai persoalan yang dihadapi petani. Selain itu, tujuan dibentuknya organisasi petani adalah agar dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi petani beserta keluargannya sebagai subjek pendekatan kelompok, agar senanitiasa lebih berperan dalam pembangunan. Organisasi petani bisa meneguhkan petani untuk bersatu dan bekerja secara kolektif untuk kemaslahatan antar petani dan bukan sebaliknya saling menjatuhkan atau terlihat lemah dihadapan para perusahan-perusahan besar dan pasar kapital. Tidak hanya itu, organisasi petani juga dapat membangun hubungan kerja sama secara simbiosis mutualisme dengan pasar modern dan perusahan-perusahan besar. Secara umum organisasi petani dalam skala mikro adalah kelompok tani. Sedangkan skala makro adalah para petani dalam satu lingkungan desa membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan) yang merupakan campuran dari beberapa kelompok tani yang terdapat di desa tersebut (Eymal B Demmallino, dkk, 2018). Gapoktan merupakan gabungan dari

(7)

beberapa kelompok tani yang melaksanakan usaha agribisnis yang mengedepankan prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usahatani bagi anggotanya dan petani lainnya. Gapoktan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjadi penghubung petani satu desa dengan lembaga-lembaga lain diluarnya (Dian Ratnasari, dkk, 2017).

Sebagaimana termaktub dalam Peraturan Menenteri Pertanian Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembinaan Kelembagaan Petani, gapoktan dapat memberikan pelayanan informasi, teknologi, dan permodalan pada anggotanya serta menjalin kerjasama melalui kemitraan usaha dengan pihak lain. Penggabungan kelompok tani lain pada gapoktan, dirahapkan akan menjadikan kelembagaan petani yang kuat dan berdaya saing tinggi. Fungsi gapoktan adalah sebagai unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit usahatani/produksi, unit usaha pengolahan, unit usaha pemasaran dan unit usaha keuangan mikro.

Merujuk pada beberapa penelitian diluar dan didalam negeri, menandakan kinerja organisasi petani sangat berperan penting dalam mendorong kemajuan ekonomi masyarakat. sebagaimana riset Yang dan Liu (2012) menggunakan metode Simultaneous Equations Model, sebanyak 2445 desa di Cina memperoleh bahwa “the development of farmer economic organization is an effective way to raise the level of agricultural specialization”. Latar belakang positifnya disebabkan oleh partisipasi petani dalam organisasi, karakteristik petani, dan situasi lingkungan organisasi. Peran organisasi petani mendorong

(8)

peningkatan pendapatan petani. Senada dengan itu, riset Trebbin (2014) membeberkan, peran strategis organisasi petani dalam meningkatkan posisinya dalam sistem rantai pasok komuditas pertanian. Orgnanisasi petani terbukti menjadi komponen utama pada pasokan komoditas petani. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Feryanto (2015) bahwa kinerja Gapoktan di Jawa Barat dipengaruhi oleh variabel institusi Jumlah anggota, unit usaha, dan ada tidaknya kontrak di Gapoktan. Melihat kinerja organisasi petani ini, maka perlu upaya-upaya untuk lebih mendorong tumbuh kembangnya organisasi tersebut, dengan mengedepankan berbagai macam unsur pendukung, diantaranya social trust (kepercayaan masyarakat), social investment (investasi sosial) dan melibatkan modal sosial.

Salah satu komponen pendukung dalam memajukan organisasi petani gapoktan yaitu modal sosial. Modal sosial menempatkan peran bersama masyarakat guna mencapai tujuan membenahi kualitas hidup mereka yang dijiwai nilai-nilai ideal semacam sikap saling memperhatikan, saling membantu, saling berpartisipatif, dan saling percaya. Coleman (1999) mengatakan, modal sosial merupakan kemampuan masyarakat agar bekerja sama, untuk mencapai tujuan-tujuan bersama dalam ranah kelompok atau organisasi yang berdasarkan pada norma-norma dan sangsi-sangsi sosial. Bertolak belakang dengan pandangan Fukuyama (1995), yang berpendapat bahwa norma-norma dan nilai-nilai kolektif yang dijadikan tumpuan untuk bersikap, bertindak, dan bertingkah laku otomatis

(9)

menjadi modal sosial. Lebih lanjut Fukuyama mengatakan, modal sosial yang sebetulnya hanyalah norma-norma dan nilai-nilai kolektif yang dibangkitkan oleh kepercayaan (trust), yang mana trust menjadi landasan bagi sikap keteraturan, pribadi yang jujur, dan tindakan kooperatif yang lahir dari dalam sebuah komunitas orang yang bersandar pada norma-norma yang dijunjung bersama oleh anggotanya. Modal sosial bisa dipahami menggunakan pendekatan, secara khusus modal sosial memiliki beragam tafsiran, hanya saja beberapa indikator yang menunjukan modal sosial terdiri atas kelembagaan, kekeluargaan, kebersamaan dan nilai-nilai dasar yang senantiasa mengatur interaksi antar masyarakat yang berkontribusi dalam sektor ekonomi dan sosial. Menumbuhkan modal sosial merupakan salah satu instrumen penting yang dapat digunakan oleh masyarakat desa yang tergabung dalam organisasi petani dalam berbagai aktivitas. Sebab dengan adanya modal sosial, para pengurus maupun anggota yang tergabung dalam organisasi petani tersebut akan menimbulkan kerja sama, solidaritas, menciptakan jaringan, merumuskan kebijakan secara kolektif dan mendapatkan keuntungan bersama. Hal demikian bisa kita jumpai di negara berkembang, semacam Malaysia, disana modal sosial yang dimiliki petani berefek positif pada peningkatan kinerja dalam bertani karena dengan adanya hubungan antar petani, selain itu, penumbuhan modal sosial berperan strategis dalam memutus mata rantai kemiskinan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesehatan jasmani keluarga (Yokoyama

(10)

dan Ali, 2009). Modal sosial baru akan bekerja manakala telah terbangun suatu interaksi dengan orang lain yang dipandu oleh struktur sosial. Adanya suatu interaksi antara orang-orang dalam Gapoktan dalam rangka mewujudkan tujuan bersama yang ditetapkan menjadi amat penting dalam kelangsungan sebuah lembaga. Output dari interaksi tersebut kemudian menciptakan terpeliharanya kepercayaan antar elemen dalam lembaga Gapoktan. Sebuah interaksi dapat terjadi dalam skala individual maupun institusional. Secara individual, interaksi terjadi ketika hubungan dekat antara individu terbentuk satu sama lain yang kemudian melahirkan ikatan emosional. Secara institusional, interaksi bisa lahir pada saat tujuan dan visi suatu organisasi memiliki kesamaan dengan tujuan dan visi organisasi lainnya. Di samping itu Perbedaan pandangan, belum terbangunnya rasa saling percaya, belum menyatunya visi dan misi organisasi, komunikasi yang macet, partisipasi yang minim, kerjasama yang belum kompak, dan belum terbangunnya empathy saling membantu serta munculnya konflik kepentingan, menjadi bibit-bibit perpecahan dan terancamnya soliditas kelembagaan Gapoktan. Membangun soliditas kelembagaan akan mewujud melalui tumbuh-kembangnya modal sosial yang dimiliki dalam lembaga tersebut. Sebagaimana halnya pandangan Ftriani (2015), prasyarat penting dalam kelangsungan organisasi adalah membangun modal sosial kelompok. Modal sosial organisasi Gapoktan Torong Makmur bisa diukur berdasarkan sebuah misi “Mengembangkan koordinasi dan hubungan yang harmonis antara lintas sektor, lintas

(11)

pelaku dan lintas wilayah dalam kegiatan perencanaan, implementasi, pemantauan dan evaluasi kebijakan Gapoktan”.

Kepercayaan sosial (social trust) merupakan keinginan seseorang atau kelompok yang mengikatkan keyakinan bersama. Jika kepercayaan sudah muncul, seseorang atau kelompok hendak mengambil keputusan dan kebijakan, maka akan lebih mempertimbangkan keputusan berpangkal pada pilihan dari individu atau kelompok yang lebih dapat dipercaya. Sebetulnya, modal sosial dan kepercayaan sosial ini tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana pendapat Field (2010), modal sosial dalam organisasi dicirikan dengan adanya interaksi sosial secara mutualisme diantara atasan dan bawahan. Upaya interaksi tersebut didasarkan pada sebuah rasa saling percaya antar sesama bertumpu dalam suatu kultur organisasi serta etika sosial. Rasa percaya menimbulkan suatu entitas anggota yang senantiasa memiliki kebersamaan soal nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran dan pentingnya kerja kolektif. Senada dengan pernyataan Putnam (1993) yang mengatakan bahwa rasa saling percaya (trust) adalah sebuah komponen yang sangat penting dari modal sosial. Lanjut Putnam, kepercayaan memiliki dua sumber yaitu norma-norma resiprositas dan jejaring dari pertalian masyarakat. Trust dapat menggerakkan modal sosial karena dengan adanya kepercayaan seseorang atau kelompok bisa merajut hubungan secara baik. Trust juga memberikan ruang pengembangan dan pemeliharaan internal antara beragam kelompok dalam organisasi yang memungkinkan

(12)

terbangun kerjasama yang baik dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Trust menjadi kunci keberhasilan bagi kinerja organisasi petani, sebab trust menghendaki kerjasama tim yang bersifat sukarela.

Penelitian yang dilakukan oleh Munanto, dkk (2019) menunjukan bahwa semakin tinggi kepercayaan maka kinerja kelompok tani juga mengalami peningkatan. Kepercayaan sosial dalam Gapoktan itu sendri termaktub dalam Misi yang diembannya yaitu Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya mengembangkan peningkatan produksi pertanian pada tingkat rumah tangga sesuai sumberdaya dan dukungan lokal.

Investasi sosial (social investment) merupakan suatu komponen investasi yang berpangkal pada sumber daya manusia guna memajukan kesejahteraan diri. Bisa dibilang, invetasi sosial juga bagian dari aspek modal sosial. Sebagaimana pernyataan Giddens (1998), mengembangkankan konsep social investment sebagai investasi yang mengarah pada sumber daya manusia demi menggapai kesejahteraan.

Program investasi sosial sebaiknya menjadi bagian dari perencaan strategis suatu organisasi yang memperoleh dukungan dari setiap lapisan dan menjadi komitmen bagi setiap orang dalam organisasi.

Citra diri sebuah organisasi tidak hanya dibangun melalui proses pengiklanan dan public relation, tetapi juga disebabkan oleh pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian dari program investasi sosial. Pemaknaan istilah menyangkut kegiatan yang bernuansa investasi sosial sangatlah multitafsir. Hal demikian disebabkan karena

(13)

sebagian besar organisasi yang menggunakan istilah investasi sosial tersebut merujuk pada tindakan filantropi, bantuan dana secara suka rela, pemberdayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab sosial perusahan. Investasi sosial dipersepsikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan oleh sebuah organisasi untuk berkontribusi pada masyarakat tanpa ada maksud langsung untuk mendapatkan keuntungan finansial. Menurut riset yang dilakukan oleh Nielsen pada tahun 2014, terdapat sebanyak 55% konsumen berasal dari 60 negara menyampaikan bahwa mereka ikhlas menghabiskan lebih banyak uang demi produk jasa dan barang yang ditawarkan oleh perusahan- perusahan ketika mereka mempunyai komitmen terhadap isu lingkungan dan sosial (Nielsen, 2014). Senada dengan itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Conecom juga membeberkan fakta bahwa 90

% konsumen secara umum mengharapkan perusahan tidak sekedar fokus pada pendapatan finansial perusahan, melainkan juga pada persoalan sosial dan lingkungan sebagai wujud sikap tanggung jawab sosial organisasi (Conecomm, 2015). Sementara di Indonesia, ada satu kebijakan yang mengatur terkait investasi sosial yang diberi istilah tanggung jawab sosial perusahan (CSR), yaitu melalui Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dalam Undang- Undang itu, tepat pada pasal 74, menganjurkan pemberlakuan kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perseroan yang mana kegiatan usahanya berada dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam. Kehadiran gapoktan

(14)

dalam menjalankan peran-peran sosial memberikan dampak postif terhadap keberlanjutan hidup masyarakat petani. Sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok tani “Agromulyo” yang juga tergabung dalam gapoktan “Torong Makmur” menjalankan investasi sosial dengan cara melaksanakan bakti sosial pelebaran jalan alternatif Malang-Batu, meskipun tanpa campur tangan pemerintah desa, dengan menanggung biaya kas sendiri. Inilah salah satu praktik investasi sosial yang dilakukan oleh organisasi petani.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas dan ditambah dengan adanya beragam penelitian terdahulu perlu kiranya untuk diteliti kembali, sehingga dengan harapan penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih dalam Pengaruh Social Trust Dan Social Investment Terhadap Modal Sosial Dan Kinerja Organisasi Petani Gapoktan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian ini akan menganalisis pengaruh Social Trust dan Social Investment Terhadap Modal Sosial dan Kinerja Organisasi Petani Gapoktan. Oleh karenanya, rumusan masalah disusun sebagai berikut:

1. Bagaimana deskripsi Social Trust dan Social Investment berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan ?

2. Apakah Social Trust dan berpengaruh terhadap Modal Sosial ? 3. Apakah Social Trust berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi ? 4. Apakah Social Investment berpengaruh terhadap Modal Sosial ?

(15)

5. Apakah Social Investment berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi

?

6. Apakah Modal Sosial memediasi pengaruh Social Trust berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan?

7. Apakah Modal Sosial memediasi pengaruh social Investment berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan?

1.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mendeskripsikan pengaruh Social Trust dan Social Investment berpengaruh terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan.

2. Untuk menganalisis pengaruh Social Trust terhadap Modal Sosial.

3. Untuk menganalisis pengaruh Social Trust terhadap Kinerja Organisasi

4. Untuk menganalisis pengaruh Social Investment terhadap Modal Sosial.

5. Untuk menganalisis pengaruh Social Investment terhadap kinerja Organisasi.

6. Untuk menganalisis mediasi Modal Sosial pada Social Trust terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan

7. Untuk menganalisis mediasi Modal Sosial pada Social

(16)

Investment terhadap Kinerja Organisasi Petani Gapoktan 1.3.2 Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

1. Hasil Penelitian diharap dapat memberikan sumbang pemikiran dan memperkaya wawasan terhadap Social Trust, Social Investment, Modal Sosial dan Kinerja.

2. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti berikutnya, diharapkan pula dapat bermanfaat bagi pengembangan kajian ilmu manajemen sumber daya manusia.

2. Secara Praktis

1. Hasil penelitian berguna secara teknis untuk memperbaiki serta meningkatkan Modal Sosial dan Kinerja Organisasi.

2. Hasil penelitian diharap dapat menyumbang pemikiran terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan topik penelitian tersebut.

(17)
(18)

6.1 SIMPULAN

Merujuk pada rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Social Trust tidak berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja organisasi.

2. Social Trust tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Modal Sosial.

3. Social Investment tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Organisasi.

4. Social Investment tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Modal Sosial.

5. Modal Sosial berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja organisasi.

6. Social Trust secara tidak langsung tidak signifikan mempengaruhi kinerja organisasi, melalui Modal Sosial, dengan kata lain Modal Sosial tidak signifikan dalam memediasi pengaruh Social Trust Terhadap Kinerja organisasi

7. Social Investment secara tidak langsung tidak signifikan mempengaruhi kinerja organisasi, melalui Modal Sosial,

(19)

Kinerja organisasi

6.2 SARAN

Untuk penelitian selanjutnya perlu menambahkan lebih banyak variabel dengan tujuan agar dapat memberikan kontribusi nilai R-square yang lebih besar serta dapat mengetahui faktor yang mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja organisasi.

Sumberdaya manusia dalam internal Gapoktan Torong Makmur lebih meningkatkan sikap komitmen agar mendapatkan kepercayaan secara sosial. Sebab dalam penelitian ini, indikator komitmen memiliki nilai rendah dibandingkan dengan indikator lain dalam variabel Social trust.

Setiap pengurus maupun anggota Gapoktan Torong Makmur lebih meningkatkan sikap rela berkorban dalam menjalankan program-program demi investasi sosial yang bersifat jangka panjang. Hal demikian dikarenakan, indikator rela berkorban mendapatkan nilai rendah dibandingkan dengan indikator-indikator lain pada variabel Social Investment.

Modal Sosial yang dimiliki Sumberdaya Manusia dalam Internal Gapoktan Torong makmur lebih ditingkatkan dengan tindakan yang dilakukan sesuai dengan jabatan yang diembannya. Hal tersebut, disebabkan indikator kedudukan

(20)
(21)

A Anwar Prabu Mangkunegara. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Achmad S.Ruky, 2010. Sistem Manajemen Kinerja, Bumi Aksara.

Jakarta.

Adella Devi Hardiani, Arik Prasetya, 2018. “Pengaruh Kepercayaan Organisasional dan Kompetensi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Motivasi Kerja: Studi Pada Karyawan PT. PLN Persero Distribusi Jawa Barat Area Bekasi”. Jurnal Administrasi Bisnis. Vol. 61. No. 3.

Akdere, Mesut, 2005. ‘Social Capital Theory and Implications for Human Resource Development’, Singapore Management Review, Volume 27 No 2.

Ancok, D. (2000). Tantangan Milenium Ketiga dan Institusi Pendidikan Psikologi. Psikologika, No. 9, 5-16.

Anik Suwandari dan Soetriono. 2010. Analisa Kebijakan Kopi Rabusta Dalam Upaya Daya Saing Dan Penguatan Revalitasasi Perkebunan, J-SEP Vol 4 No. 3

Azwar, S. (2018). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar.

B. Liu. 2012. Sentiment Analysis and Opinion. Mining, Morgan &

Claypool Publishers.

Barliana, Syaom. 2010. Arsitektur, Komunitas, dan Modal Sosial.

Bandung: Metatekstur Penerbit Diskursus.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distinction A Social Critique of the Judgment of Taste, Cambridge: Hardvard University Press.

Coleman, J. S. 2009. “Social Capital in the Creation of Human Capital”.

The American Journal of Sociology, Vol. 94.

Conecomm. 2015. Global Consumers Willing to Make Personal Sacrifices to Address Social and Environmental Issues.

Dewi Retno Kusuma, Widagdo Bambang, 2012. “Pengaruh Corporate Social Responsibility dan Good corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan”. Jurnal Manajemen Bisnis, Vol 12. No. 1.

(22)

Serumpun (Studi Kasus Gapoktan Serumpun Kota Gorontalo). Jurnal Agrinesia. Vol.2. No. 1.

Edy, Sutrisno, 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Eymal B Demmalino, dkk. 2018. Efektivitas Kinerja Organisasi Kelompok Tani Pottanae. Jurnal sosial ekonomi pertanian. 14 : 285-296.

Feriyanto, Andri dan Shyta, Endang Triana. 2015. Pengantar Manajemen (3 in 1). Kebumen: Mediatera.

Field, Jhon, 2010. Modal Sosial, KreasiWacana: Bantul

Fukuyama, 1995. Trust Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Yogyakarta: Qalam.

Fukuyama, Francis. 1999. The End of History and The Last Man:

Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal.Yogyakarta:

Penerbit Qalam.

Ghozali, Imam. 2009. “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, Imam. 2013. “Aplikasi Analisis Mulvariate dengan program IBM SPSS”. Edisi Ketujuh. Semarang: Universitas Diponegoro.

Giddens, Anthony, 2011. Konsekuensi-konsuensi Modernitas, Bantul:

Kreasi Wacana.

Giddens, Anthony, The Constitution Of Society-Teori Strukturasi untuk Analisis Sosial, Pasuruan: Pedati, 2004.

Hajar Siti, dkk, 2018. “Pengaruh Perilaku Kepemimpinan, Kepercayaan dan Human Relations Terhadap Kinerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Barat”. Jurnal Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Vol. 2. No. 1.

Harahap Yahya Dedy, Agusta Ivanovich, 2018. “Peran Modal Sosial Terhadap Kesejahteraan Pengusaha Sektor Informal: Kasus Pengusaha Sektor Informal di Pasar Jl. Dewi Sartika Bogor”.

Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.

(23)

Bisnis”. Edisi 11. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Indriantoro, Nur. & Supomo, Bambang. 2014. “Metodologi Penelitian Bisnis”. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Jalal dan Kurniawan, F. (2013). Investasi Sosial: Perspektif CSR Strategis untuk Pengembangan Masyarakat oleh Perusahaan. Social Investment Indonesia: The Indonesian Social Investment Forum.

Jannati Ayyada Syifa, dkk, 2020 “Modal Sosial Dalam Revitalisasi Kearifan Lokal (Studi Kasus Desa Wisata Kandri Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang”. Jurnal Analisa Sosiologi. Vol 57. No. 73.

Kasmir. 2016. “Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori dan Praktik).

Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Keban, Yeremias T,2008. Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik: Konsep,Teori, dan Isu. Yogyakarta: Gava Media.

Kiani, M. N., Ahmad, M., dan Gillani, S. H. (2019). Service innovation capabilities as the precursor to business model innovation: a conditional process analysis. Asian Journal of Technology Innovation.

Laksmana, Arsono (2002) “Pengaruh Saling Ketergantungan, Kepercayaan, dan Keselarasan TujuanTerhadap Kooperasi dan Kinerja Perusahaan Manufaktur Pada Hubungan Kontraktual Dengan Pemasoknya”. Jurnal Akuntansi &

Keuangan Vol. 4, No. 1, Hal 1 – 16.

Nielsen. 2014. Konsumen Indonesia Impulsif Dalam Berbelanja.

Retrieved from AC Nielsen.

Parrangan Khristina, dkk, 2014. “Pengaruh Modal Sosial dan Kemitraan Terhadap Kinerja Rantai Pasok Hortiklutrura Sayuran Di Timika-Papua”. Jurnal Sains dan Teknologi.

Vol.14 No.1.

Payaman J. Simanjuntak. 2011. Manajemen Evaluasi Kinerja. Edisi 3.

Jakarta. Fakutas UI.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 67 Tahun 2016.

(24)

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82 Tahun 2013

Prawirosentono, Suyadi. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia, Kebijakan Kinerja Karyawan, Kiat Membangun Organisasi Kompetitif Era Perdagangan Bebas Dunia. Yogyakarta:

BPFE.

Priansa, Donni Juni. 2017. Perilaku Konsumen: Dalam Persaingan Bisnis Kontemporer. Bandung: Alfabeta.

Priyatno, D. 2012. “Cara Kilat Analisis Data dengan SPSS 20.

Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Putnam, R. 1993. Making democracy work: civic. Tradition in modernItaly. Princeton: Princeton University Press.

Putnam, R.D. 1993. The Prosperous Community: Social Capital and Public Life. American Prospect, 13, Spring, 35-42. In Elinor Ostrom and T.K. Ahn. Foundation of Social Capital.

Massachusetts: Edward Elgar Publishing.

Putranto Yohanes Andri, Suramaya Suci Kewal, dkk (2014).

Pengaruh Corporate Social Responsibility Berbasiskan Karakteristik Social Bank Terhadap Kinerja Perusahan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi, Vol 18, No 3.

Rachmawati, Titik dan Daryanto. 2013. Penilaian Kinerja Profesi Guru dan Angka Kreditnya. Yogyakarta: Gava Media.

Sedarmayanti, 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Refika Aditama Eresco.

Sekaran , U. 2006. “Research Methods For Bussiness”. Jakarta:

Salemba Empat.

Sugiyono. 2009. “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D”.

Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2012. “Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D”. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2013. “Metode Penelitian Bisnis”. Bandung: Alfabeta.

Syahra, Rusydi. 2003. “Modal Sosial: Konsep dan Aplikasi”. Jurnal

(25)

Grasindo.

Taylor, D.R.F. dan McKenzie. 1992. Development From Withins.

London Routledge. Chapter 1 dan 10.

Trebbin, A. 2014. Linking Small Farmers to Modern Retail through Producer Organizations –Experiences with Producer Companies in India. Food Policy 45: 35-44.

Ubaididillah Hasan, 2017. Analisa Pengaruh Modal Sosial Terhadap Organizational Citizenship Behaviors Dengan Mediasi Kepercayaan Pada Manajemen BUMDESA”. WAHANA, volume 68, Nomer 1.

Undang-Undang No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Undang-Undang No.16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.

Veithzal Rivai Zainal, S. 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan. Edisike-7. Depok: PT RAJAGRAFINDO.

Wade, Lydiadan Rossi Robison. 2012.The Psychology of Trust and Its Relation toSustainability. Cambridge: Anglia Ruskin University.

Walenta Sakti Abdi, 2019. “Pengaruh Modal Sosial Terhadap Peningkatan Kinerja Pada UMKM Rumah Makan di Kota Tentena Kabupaten Poso”. Pinisi Business Administration Review. Vol. 1, No. 2

Yokoyama, S. and A. K. Ali. 2009. Social capital and farmer welfare in Malaysia. Japan Agricultural Research Quarterly 43: 323-328.

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian berdasarkan analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel komunikasi dan motivasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja akuntan pendidik, motivasi berpengaruh positif dan

disiplin kerja berpengaruh positif secara langsung terhadap budaya organisasi , 2.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan disiplin kerja tidak berpengaruh positif secara

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan Corporate Social Responsibility dan kinerja perusahaan berpengaruh signifikan positif terhadap return saham

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, pengembangan karir tidak berpengaruh positif dan signifikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asimetri informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap budgetary slack, karakter personal, reputasi dan trust in superior berpengaruh

Hasil yang diperoleh yaitu kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan dengan hasil sig 0.0007 < 0.05, kepribadian berpengaruh positif dan signifikan

Pengaruh Promosi dan Brand trust secara simultan terhadap minat beli Hasil analisis menunjukkan bahwa Promosi dan Brand trust secara simultan berpengaruh signifikan terhadap minat