TUGAS MATA KULIAH BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN PENGELOLAAN TANAMAN PENAUNG PADA BUDIDAYA TEH
Disusun Oleh :
Avida Merliana 20200210030
Fitri Tri Wahyuningsih 20200210031
Zulfa Kayla Zahra 20200210032
Bondhan Fatwa Priyangga Muhammad Fakhri Rahman
20200210044 20200210046
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2022
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Perkebunan teh merupakan salah satu bentuk perkebunan yang sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan juga merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang ada di Indonesia. Teh merupakan jenis tanaman yang populer yang dibuat sebagai minuman yang dihasilkan dari pucuk daun tanaman teh (Camellia sinensis). Jenis tanaman ini mengandung potensi antioksidan dari flavonoid yang berasal dari senyawa polifenol (Sudaryat et al., 2015). Beberapa kandungan senyawa kimia dalam teh dapat memberi kesan warna, rasa dan aroma yang memuaskan peminumnya.Teh dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi (1.500-2000 m diatas permukaan air laut).
Tanaman teh yang berasal dari negara subtropis membutuhkan kondisi lingkungan optimal: suhu udara 12-25oC, kelembapan udara di atas 60%, dan intensitas penyinaran matahari 70%. Teh dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi (1.500-2000 m diatas permukaan air laut (mdpl)
Tanaman teh merupakan tanaman yang memiliki kemampuan dalam produksinya relatif cepat jika dibandingkan tanaman perkebunan lainnya (Ayuet al., 2012) . Tanaman teh berasal dari daerah subtropis, oleh karena itu di Indonesia teh lebih cocok ditanam di daerah dataran tinggi. Untuk membudidayakan tanaman teh perlu diketahui syarat tumbuh tanaman dan cara budidaya yang baik. Dengan mengetahui syarat tumbuh dan cara budidaya yang baik maka dapat diperoleh pertumbuhan tanaman teh yang optimal sehingga hasil yang diperoleh pun optimal.
Menurut (Anjarsari, 2016) perkembangan produktivitas teh di Indonesia cenderung berfluktuasi. Hal ini dapat disebabkan karena aspek lingkungan dan biologis tanaman yang tidak sesuai. Untuk meminimalisasi iklim lingkungan pada perkebunan agar sesuai ialah dengan penanaman pohon penaung. Tanaman teh perlu naungan karena tidak tahan terhadap kekeringan dan pertumbuhan pucuk tanaman teh sangat dipengaruhi oleh curah hujan serta penyinaran matahari (Kartawijaya, 1995). Peningkatan intensitas sinar dan suhu udara mencapai 30oC akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman teh melambat (Sakiroh et al., 2021). Tanaman penaung memiliki fungsi akan menurunkan
suhu udara di sekitar perdu teh, mengurangi pengeringan tanah dan juga memperbaiki bahan organik tanah (Wijeratne, 2012). Menurut (Widayat & Rayati, 2011) pada penelitian yang dilakukannya pada musim kemarau, pohon pelindung dapat menurunkan suhu udara (dari 27oC menjadi 24oC), meningkatkan kelembaban relatif (RH) (dari 48%
menjadi 74%), meningkatkan kadar air tanah (dari 18% menjadi 19%), dan menurunkan intensitas penyinaran matahari (dari 100% menjadi 68%).
II. PEMBAHASAN A. Fungsi Tanaman Penaung
Perubahan iklim yang tidak menentu kemudian munculnya hama dan penyakit, tanaman teh perlu adanya penanaman dan pengelolaan pohon penaung. Penanaman dan pengelolaan pohon penaung di perkebunan teh akan menurunkan suhu udara di sekitar perdu teh, memanen hujan, mengurangi pengeringan tanah, dan memperbaiki bahan organik tanah.
Menurut (S Das, 2010), penanaman pohon penaung di perkebunan teh dilakukan sebagai tindakan adaptasi terhadap perubahan iklim global. Kemudian dapat meningkatkan keanekaragaman hayati yang diharapkan dapat menurunkan masalah hama yang biasanya dihadapi perkebunan teh yang diusahakan secara monokultur. Penanaman pohon penaung di perkebunan teh merupakan cara manipulasi habitat yang akan membantu konservasi musuh alami dengan menyediakan perlindungan, nectar, pollen, dan inang alternatif bagi musuh alami. selain itu, tanaman teh termasuk tanaman C3 yang banyak dikembangkan di wilayah tropis maupun subtropis. Kemudian tanaman teh mempunyai mekanisme fotosintesis C3 sehingga memerlukan naungan untuk pertumbuhannya (MS Haq, 2013). Dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman teh ini perlu adanya tanaman penaung guna meningkatkan dan memaksimalkan produksi.
B. Jenis Tanaman Penaung
Jenis tanaman penaung yang biasa digunakan terdapat dua macam yaitu tanaman penaung sementara dan tanaman penaung tetap. Tanaman penaung sementara diperlukan apabila pohon penaung tetap belum berfungsi sempurna karena masih kecil atau intensitas penaungnya masih kurang.
Pada tanaman penaung sementara yang biasa digunakan yaitu jenis tanaman Crotalaria sp dan Tephrosia sp. Tanaman tersebut memiliki fungsi ganda selain sebagai tanaman penaung juga dapat berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah karena bintil akar dapat mengikat unsur hara N, tanaman penaung jenis ini ditanam selang dua baris di antara tanaman teh.
Tanaman penaung tetap ditanam bersamaan atau satu tahun sebelumnya, sehingga pada umur 2-3 tahun sudah ternaungi dengan baik. Pohon penaung tetap dipilih yang memberikan fungsi naungan dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun (Cowan-Gore & Sein,
2020). Jenis pohon pelindung tetap yang dianjurkan adalah : Acacia pruinosa, Acacia decurens, Albizia falcata, Albizia sumatrana, Albizia chinensis, Albizia procera, Albizia odoratissima, kaliandra (Calliandra calothyrsus), Dalbergia assamica, Derris microphylla, Erythrina subumbrans, Erythrina poeppigiana, dadap (Erythrina lithosperm), Gliricidia maculata, Grevillea robusta, Leucaena glauca, Leucaena leucocephala, Leucaena pulverulenta, dan Mediaazedarach(Effendi et al., 2010; Haq & Karyudi 2013, Kalitaet al, 2014).
C. Pengelolaan Tanaman Penaung
Pengelolaan tanaman penaung bergantung terhadap jenis dari tanaman akan digunakan, tanaman penaung sementara atau tanaman penaung tetap. Penaung sementara dapat ditanam setelah tanaman teh ditanam sedangkan pada tanaman penaung tetap penanaman dilakukan bersamaan atau satu tahun sebelumnya, sehingga pada umur 2-3 tahun sudah ternaungi dengan baik.
1. Tanaman penaung sementara
Tanaman penaung sementara dilakukan pemangkasan percabangan menjadi 50 cm apabila sudah lebih dari 1 m karena mengganggu tanaman teh. Pemangkasan tanaman penaung ini pada dua musim hujan dipangkas 4-6 bulan sekali dan sisa pangkasan dijadikan mulsa tanaman teh (Effendi et al., 2010). Penanaman tanaman penaung sementara dijarangkan menjadi 1-2 pohon pada jarak setiap 1 m. tanaman penaung sementara dapat ditebang atau setelah pohon penaung tetap telah mencapai ketinggian tertentu (Cowan-Gore & Sein, 2020).
2. Tanaman penaung tetap
Pada tanaman penaung tetap yang digunakan contohnya pada tanaman pohonsilver oak (G. robusta). Tanaman penaung silver oak ditanam dengan jarak 6 x 6 m dan 8-10 tahun setelah penanaman, dilakukan penjarangan hingga jarak tanam 12 x 6 m. Penjarangan dilakukan kembali setelah 12-15 tahun setelah penanaman hingga pohon silver oak memiliki jarak tanam 12 x 12 m. Pada musim hujan, dilakukan perantingan (topping) pada tanaman pelindung agar ranting pohon pelindung tidak menghalangi air hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman teh (MS Haq, 2013).
III. KESIMPULAN
Pohon penaung pada perkebunan teh memberikan banyak dampak terhadap daya tumbuh tanaman teh. Penanaman dan pengelolaan pohon penaung di perkebunan teh akan menurunkan suhu udara di sekitar perdu teh, memanen hujan, mengurangi pengeringan tanah, dan memperbaiki bahan organik tanah. pohon penaung pada tanaman teh terbagi menjadi tanaman penaung sementara dan tanaman penaung tetap, Tanaman penaung sementara diperlukan apabila pohon penaung tetap belum berfungsi sempurna karena masih kecil atau intensitas penaungnya masih kurang.
DAFTAR PUSTAKA
Ayu, L., Indradewa, D., & Ambarwati, E. (2012). Pertumbuhan, Hasil Dan Kualitas Pucuk Teh (Camellia sinensisL.) Di Berbagai Tinggi Tempat. Vegetalika,1(4), 78–89.
S Das, S. R. (2010). Diversity of arthropod natural enemies in the tea plantations of North Bengal with emphasis on their association with tea pests.Current Science, 99(10).
Dewi Anjarsari, I. R. (2016). Katekin teh Indonesia : prospek dan manfaatnya. Kultivasi, 15(2), 99–106.https://doi.org/10.24198/kultivasi.v15i2.11871
Kartawijaya WS. 1995. Pengaruh iklim pada pertumbuhan tanaman teh. Warta Teh dan Kina. 6(1-2): 29-37.
MS Haq, K. (2013). Upaya peningkatan produksi teh melalui penerapan kultur teknis.
Warta PPTK, 24(1).
Sakiroh, S., Sasmita, K. D., & Astutik, D. (2021). “Sustainable Urban Farming Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Era Pandemi” The Impact of Shade and Altitude on Tea Shoots Production (Camellia sinensisL.).Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal, 209–218.
Sudaryat, Y., Kusmiyati, M., Pelangi, citra ratu, Rustamsyah, A., & Rohdiana, D. (2015).
Aktivitas antioksidan seduhan sepuluh Jenis teh hitam (Camellia sinensis (L.) O.
Kuntze) Indonesia.Jurnal Penelitian Teh Dan Kina,18(2), 95–100.
Widayat, W., & Rayati, D. J. (2011). Pengaruh pohon pelindung tetap pada tanaman teh menghasilkan terhadap iklim mikro, populasi serangga hama dan musuh alami, serta produksi pucuk teh.Jurnal Penelitian Teh Dan Kina,14(1), 1–7.
Wijeratne, M. A. 2012. Combating adverse impacts of climate change on tea production in Sri Lanka with “Noregret Strategies”. http://climatenet.
blogspot.com/2012/02/combatingadverse-impacts-of-climate.html