• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN KONSEP DIRI BAGI POSITIF HIV/AIDS PDF

N/A
N/A
Siti najmi haifa munajjah

Academic year: 2024

Membagikan "PENGEMBANGAN KONSEP DIRI BAGI POSITIF HIV/AIDS PDF"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN KONSEP DIRI BAGI POSITIF HIV/AIDS Proposal Penelitian

Diajukan untuk memenuhi nilai mata kuliah Teori Bimbingan Kelompok yang diampu oleh:

Prof. Dr. Nandang Rusmana, M. Pd Dadang Sudrajat, M.Pd

Disusun oleh:

Siti Najmi Haifa Munajjah - 2006819

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2022

(2)

1. Latar Belakang Penelitian

Penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV semenjak ditemukannya pada tahun 1920an di Kota Kinshasha masih tetap menjadi perhatian dunia hingga saat ini. Berdasarkan data dari UNAIDS, terdapat 36,9 juta masyarakat dari berbagai negara yang menderita HIV/AIDS pada 2017 (Kompas.com, 1 Desember 2018). Di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) hingga Juni 2018 sebanyak 640.443 jiwa (depkes.go.id, 1 Desember 2018). Menurut WHO, Human Immunodeficiency Virus Atau HIV adalah Virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh, dan pada akhirnya menyebabkan AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome. AIDS adalah Sekelompok kondisi medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh, sering berwujud infeksi (infeksi oportunistik) dan kanker, yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan. Berdasarkan data dari UNAIDS (United Nations Programme on HIV and AIDS) jumlah kasus HIV dan AIDS di seluruh dunia hampir 38 juta kasus pada tahun 2019. Adapun jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia hampir 57 ribu kasus pada tahun 2019.

HIV merupakan sautu virus yang tidak pandang bulu dan dapat menyerang siapa saja tanpa memamdang jenis kelamin, status, ras, maupun tingkat social. Individu yang terinfeksi HIV/AIDS dikenal dengan sebutan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), dalam hal ini orang yang didalam tubuhnya terdapat HIV (orang terinfeksi), setelah dilakukan pemeriksaan darahnya baik dengan test Elisa maupun Western Blot. Banyak perubahan yang terjadi dalam diri individu setelah terinfeksi HIV/AIDS, penyakit yang mereka derita ini mempengaruhi kehidupan pribadi, social, belajar, karir dan kehidupan keluarga.

Perubahan yang terjadi didalam diri dan diluar diri ODHA membuat mereka memiliki persepsi yang negative tentang dirinya dan mempengaruhi konsep dirinya. Orang yang terinfeksi HIV/AIDS, menunjukan bentuk-bentuk reaksi sikap dan tingkah laku yang tidak benar. Meskipun sebagian tidak menyadari bahwasanya sudah bereaksi dengan sikap dan tingkah laku yang tidak benar, karenannya disebabkan oleh ketidakmampuan ODHA menerima kenyataan dengan kondisi yang sedang dialaminya. Beberapa Masalah tersebut tidak hanya muncul terhadap diri sendiri, tetapi terhadap orang lain karena berkaitan dengan penyebaran/penularan HIV itu sendiri. Masalah yang dialami baik secara psikologis, social, ekonomi serta fisik yang dialami membuat mereka menjadi populasi yang vulnerable. cenderung menarik diri dari masyarakat, merahasiakan masalahnya, interaksi dengan masyarakat pun akan berkurang, keterlibatan dalam organsisasi masyarakat lambat laun akan berkurang serta turunnya produktivitas kerja. Selain itu juga antara lain: muncul nya

(3)

stress, penurunan berat badan, kecemasan, gangguan kulit, frustasi, bingung, kehilangan ingatan, penurunan gairah kerja, perasaan takut, bersalah, penolakan, depresi bahkan hingga kecenderungan untuk bunuh diri. Kondisi ini menghambar aktivitas dan perkembangan ODHA sehingga kehidupan efektif sehari-harinya terganggu.

Secara fisik orang yang terinfeksi HIV/AIDS terlihat seperti orang normal pada umumnya, tetapi dari segi ekpresinya terlihat raut wajah sedih yang disembunyikan dari lingkungan sekitar. Masih banyak nya masyarakat yang minim informasi mengenai HIV/AIDS, hal tersebut memunculkan stigma-stigma serta diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV/AIDS ataupun bagi mereka yang belum menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena takut akan perbedaan perlakuan, stigma, dan diskriminasi dari keluarga, masyarakat bahkan dari tenaga kesehatan, itu semua membuat dampak sosial yang mendalam pada ODHA ataupun hanya gejala saja, yang secara tidak langsung menimbulkan masalah pada psikologis serta ekonominya. Adapun salah satu bentuk upaya yang dapat membantu permasalahan yang dihadapi ODHA yaitu dengan mengadakan konseling khusus untuk membangkitkan semangat hidup agar bisa menerima kondisi dan keadaaan diri dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang dialaminya.

Gambaran situasi kehidupan yang dihadapi ODHA tersebut pada akhirnya mempengaruhi penilaian terhadap konsep dirinya. Secara umum, konsep diri dapat diartikan sebagai pemahaman seseorang tentang dirinya sendiri baik secara fisik maupun non fisik, yang diperoleh melalui pengalaman diri dan interaksi dengan orang lain. Harter dalam Dorner (2006) menyatakan konsep diri memiliki fungsi pengorganisasian yaitu menata informasi secara sistematis, fungsi motivasi yaitu menguatkan individu mencapai tujuannya, fungsi proteksi yaitu memberikan perlindungan rasa aman atau kepuasan dalam pencapaian tujuan atau kebutuhan. Dengan demikian fungsi konsep diri seseorang memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupannya, karena dapat membantu seseorang dalam mengatasi persoalan hidupnya dan memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan dirinya. Upaya pemahaman dan pengembangan konsep diri yang positif dikalangan ODHA perlu dilakukan. Meskipun dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun ditambah dengan faktor penolakan dari lingkungan sosial, para ODHA harus dapat tetap berjuang dan berdaya untuk menjalankan kehidupannya secara normal, sebagaimana yang dia harapkan ketika semasa belum tertular HIV/AIDS.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana konsep diri Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). berbagai aspek yang diteliti adalah gambaran karakteristik ODHA

(4)

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diuraikan beberapa rumusan masalah seperti sebagai berikut.

a. Bagaimana Penilaian ODHA terhadap dirinya sendiri dilihat dari aspek pengendalian keinginan dan dorongan dalam diri, suasana hati, dan banyangan subjektif terhadao kondisi tubuh

b. Bagaimana ODHA menghadapi penilaian lingkungan social terhadap dirinya

c. Bagaiamana self image atau citra diri ODHA meliputi siapa saya, saya ingin jadi apa, dan bagaimana orang lain memandang saya

3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

Focus telaahnya yaitu kepada konsep diri bagi yang positif/terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian menggunakan dua variable dalam penelitian ini, yaitu pengembangan konsep diri yang positif bagi ODHA sebagai variable bebas (X) dan layanan bimbingan dan konseling sebagai variable terikat (Y).

 Definisi Operasional Pengembangan konsep diri yang positif bagi ODHA

Konsep diri merupakan identitas diri seseorang sebagai sebauh skema dasar yang terdiri dari kumpulan keyakinan dan sikap terhadap diri sendiri yang terorganisir (Baron & Dohn, 2003). Konsep diri merupakan pandangan individu mengenai siapa dirinya yag dapat diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain (Mulyana, 2006). Selanjutnya, pengetahuan tentang diri ini digunakan dalam menginterpretasikan informasi dan pengalaman, serta basis pengambilan tindakan dalam kehidupan sehari-hari (Sawarno, 2009). Dengan kata lain, konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku (Ghufron & Rini, 2010;

Pudjijogyanti, 2004).

 Definisi Operasional Layanan Bimbingan dan Konseling

Pelayanan konseling adalah suatu upaya dalam membantu penderita HIV/AIDS untuk membangkitkan semangat hidup agar bisa menerima kondisi dan keadaan diri dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang dialaminya seperti yang dikemukakan oleh Daniel (dalam Prayitno,1994) Bahwa konseling merupakan suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu yang ditunjukan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan lingkungannya.

4. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan penelitian

(5)

1) Untuk mengetahui bagaimana penilaian ODHA terhadap dirinya sendiri yang di lihat dari aspek pengendalian keinginan dan dorongan dalam diri, suasana hati, dan banyangan subjektif terhadao kondisi tubuh

2) Untuk mengetahui bagaimana ODHA menghadapi penilaian orang lain terhadap dirinya

3) Untuk mengetahui bagaimana self image atau citra diri ODHA meliputi meliputi siapa saya, saya ingin jadi apa, dan bagaimana orang lain memandang saya

b. Manfaat Penelitian

1) Menjadi dasar rujukan bagi guru BK dalam membuat rencana pemberian layanan untuk pencegahan HIV/AIDS di sekolah ataupun bagi konselor dalam rencana pemberian layanan bagi ODHA

2) Menjadi dasar rujukan bagi guru BK atau konselor dalam menentukan metode apa saja yang sesuai untuk melakukan layanan pencegahan ataupun layanan bimbingan dan konseling untuk ODHA

5. Asumsi dan Hipotesis Penelitian a. Asumsi

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini akan memberikan pandangan bagaimana konsep diri bagi ODHA dan dapat dijadikan sebagai gambaran karakteristik ODHA yang mana dapat dijadikan sebagai alternative pencegahan HIV/AIDS dalam lingkungan remaja.

b. Hipotesis

Berdasarkan asumsi dan rumusan masalah, maka hipotesis yang diajukan oleh penulis, yaitu sebagai berikut.

1) Dalam pengembangan konsep diri seorang ODHA dapat diterapkan konseling membangkitkan semangat hidup agar bisa menerima kondisi dan keadaan diri dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang dialaminya

2) Hasil dari konseling tersebut menghasilkan Bahwa adanya perubahan konsep diri sebelum dan sesudah diberi konseling, ditunjukan dengan bangkitnya semangat hidup, sehingga berkurangnya stigma negative pada diri ODHA 6. Ringkasan Kajian Teoritis

Konsep Diri

Menurut pandangan Hurlock (2005) konsep-diri dibagi berdasarkan perkembangannya menjadi konsep-diri primer dan konsep-diri sekunder. Konsep-diri

(6)

primer terbentuk berdasarkan pengalaman di rumah, berhubungan dengan anggota keluarga seperti orangtua dan saudara. Konsep-diri sekunder terbentuk berdasarkan lingkungan luar rumah seperti teman sebaya atau relasi sosial lainnya. Konsep-diri juga dapat dikategorikan sebagai positif dan negatif (Calhoun & Acocella, 1978). Konsep-diri positif adalah pemahaman dan penerimaan diri terhadap sejumlah fakta yang bermacam-macam sehubungan dengan diri. Individu yang memiliki konsep-diri positif akan merancang tujuan-tujuan sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dicapai, mampu mengahadapi kehidupan kedepannya serta menganggap bahwa hidup adalah proses penemuan (Gumanti, 2007). Sedangkan konsep-diri negatif, megacu pada Ghufron dan Rini (2010), di satu sisi dikarakteristikan dengan pandangan yang tidak stabil sehubungan dengan diri, yaitu individu tidak mengetahui secara pasti mengenai kekuatan, kelemahan, dan hal-hal yang dapat dihargai dalam hidupnya. Di sisi lain, seorang dengan konsep-diri negatif memiliki pandangan diri yang terlalu teratur, di mana ia tidak membiarkan penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat. Orang-orang dengan konsep-diri negatif cenderung sensitive

Permasalahan yang dihadapi ODHA bukan hanya permasalahan kondisi fisik yang semakin menurun, namun juga timbul permasalahan sosial seperti penerimaan label negatif dan berbagai bentuk diskriminasi dari lingkungan. Penyakit HIV dan AIDS dianggap sebagai penyakit kutukan akibat perbuatan menyimpang karena penyakit HIV dan AIDS begitu melekat pada orang-orang yang melakukan penyimpangan seperti PSK (Pekerja Seks Komersial), gay, pelaku seks bebas dan pengguna narkoba suntik. Diskriminasi adalah perlakuan tidak seimbang terhadap perorangan atau kelompok berdasarkan sesuatu yang bersifat kategorikal. Perlakuan tidak seimbang yang diberikan pada ODHA disebabkan ODHA dianggap sebagai pembawa penyakit menular, berbahaya dan mematikan. ODHA akan menerima label negatif dan berbagai bentuk diskriminasi dari lingkungan seperti keluarga, teman, lingkungan sekitar karena sakit HIV dan AIDS yang diderita dianggap sebagai penyakit yang berbahaya dan mematikan bagi kalangan masyarakat.

Keadaan ini terjadi karena label negatif dan diskriminasi yang diterima ODHA mempengaruhi cara pandang ODHA terhadap dirinya atau konsep-diri. Konsep-diri merupakan pandangan individu mengenai siapa dirinya dan diperoleh melaluin informasi yang diberikan orang lain kepada dirinya (Mulyana, 2006). Label negatif dan bentuk diskriminasi dari lingkungan yang diterima oleh ODHA dijadikan sebagai informasi untuk menilai dirinya sendiri. Diskriminasi dan label negatif dapat mengganggu kehidupan ODHA

(7)

dengan mempengaruhi tekanan fisik, psikologi dan kehidupan sosial bahkan depresi (KPA Strategi Nasional Penanggulangan HIV DAN AIDS, 2007).

ODHA (Orang Dengan HIV DAN AIDS) seringkali mengadapi permasalahan yang komplek artinya mereka harus merasakan sakit di dalam tubuhnya yang semakin hari semakin menurun dan berbagai stigma tentang penyakit yang dideritanya dari lingkungan.

Ketika ODHA berada di lingkungan termasuk keluarga dan lingkungan sosial maka ODHA seringkali merasa tidak tenang karena ODHA sadar bahwa lingkungan akan memberikan label negatif kepada dirinya atas sakit HIV DAN AIDS yang dideritanya. Lingkungan seringkali menganggap bahwa ODHA adalah seseorang yang mengidap penyakit kutukan karena perbuatan yang menyimpang, seseorang yang menderita penyakit berbahaya dan menular ataupun seseorang yang membawa aib buruk untuk keluarga dan orang yang dikenal.

Pandangan seperti itu terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit HIV DAN AIDS dan cara penularannya. Label negatif pada diri ODHA berkembang semakin kuat maka dalam waktu yang bersamaan akan menimbulkan diskriminasi pada ODHA. Lingkungan akan memberikan berbagai bentuk diskriminasi pada ODHA seperti penolakan melakukan perawatan untuk ODHA, pembedaan tempat makan, dikucilkan, mengisolasi dan pemutusan hubungan kerja. ODHA akan memiliki perbedaan cara pandang terhadap dirinya sebelum dinyatakan sebagai ODHA dan sesudah dinyatakan menderita HIV AIDS.

7. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif 8. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deksriptif kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data berbentuk deskriptif kata-kata. Dalam penelitian ini peneliti berupaya untuk memahami dan menggali tentang gambaran/pandangan mengenai konsep diri bagi ODHA.

9. Desain Penelitian

Penelitian ini menerapkan desain kualitatif yaitu penelitian yang pusat perhatiannya bergantung pada prinsip umum yang menjadi dasar wujud suatu gejala kehidupan manusia, atau juga pola yang dianalisa dari indikasi social budaya melalui budaya masyarakat tersebut guna mendapat representasi mengenai contoh yang berlangsung.

Metode penelitian kualitatif merupakan metode untuk menggambarkan, memahami, dan mengembangkan makna oleh beberapa individu atau kelompok yang sumbernya berupa masalah sosial atau kemanusiaan. Upaya penelitian kualitatif dalam prosesnya melibatkan usaha seperti pengajuan pertanyaan dan prosedur, pengumpulan data dari partisipan secara

(8)

spesifik, tema dari khusus ke umum yang dianalisa secara induktif dan menafsirkan makna data. Penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel dalam laporan akhirnya.

Partisipan dalam penelitian ini harus menerapkan cara pandang yang bermodel induktif, berfokus terhadap makna individual dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan.”

(Creswell 2013: 4-5)

10. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1997:108). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005:57).

Populasi dalam penelitian ini adalah orang orang yang sudah terkonfirmasi bahwasanya dirinya terinfeksi HIV/AIDS dikhususkan yang berada di RS (Rumah Sakit) atau komunitas untuk ODHA

b. Sampel

Mengingat keterbatasan waktu dan biaya maka peneliti menentukan sampel, yaitu dengan menentukan RS (Rumah Sakit) yang menerima ODHA ataupun komunitas bagi ODHA

11. Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai sekaligus pengumpul data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manusia, angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan instrumen bantuan lainnya, yaitu alat rekaman (handphone).

12. Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif ini menggunakan Teknik interaktif, yang dikemukakan oleh Miles

& Huberman (1984:23). Dalam teknik analisis interaktif ini, analisis data sudah mulai dilakukan ketika proses pengumpulan data berlangsung di lapangan dan analisis data dilakukan dalam bentuk siklus. Analisis data dimulai dengan proses pengumpulan data yang dilakukan secara terus-menerus hingga peneliti dapat menarik simpulan akhir. Analisis data model interaktif ini memiliki tiga komponen, yaitu mereduksi data, sajian data, dan

penarikan kesimpulan/verifikasi.

(9)

REFERENSI

Wahyu, S., Taufik, & Ilyas, A. (2012). Konsep Diri dan Masalah yang Dialami Orang Terinfeksi HIV/Aids. KONSELOR, 1-12.

Aritonang, A. N., Sutisna, N., Hakim, M. Z., Sakroni, Muryanto, Y., & Pribowo. (2014).

KONSEP DIRI ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) . Bandung: STKS.

Herani, I. (2012). Konsep Diri Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang Menerima Label Negatif dan Diskriminasi dari Lingkungan Sosial. Psikologi Online, 29-40.

Novianti, W., Istiyanto, S. B., & Adi, T. N. (2019). KONSEP DIRI PENDERITA HIV/AIDS DI KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers ”Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan IX” (pp. 445-451). Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.

Agus, D. F., Effendy, E., & Camellia, V. (2019). Screening of anxiety and depression related cd4 count of people living with HIV/aids with anti-retroviral in Medan, Indonesia.

Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 7(16), 2590–2594.

https://doi.org/10.3889/oamjms.2019.396

Prayitno, E. 2006. Psikologi perkembangan remaja. Padang: Angkasa Raya.

Sarwono, W. S. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba

Sinaga, E . S. N. (2007). Konsep diri ODHA (Orang dengan HIV AIDS). Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran.

Ghufron, M. N dan Rini. R. S. (2010). Teori-Teori Psikologi, Ed. 1, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group

Referensi

Dokumen terkait

Mendemonstrasikan konseling pada klien dengan HIV/AIDS and long term

Josep Manurung: Penatalaksanaan Tindakan Ekstrasi Yang Aman Pada Pasien AIDS Dan HIV Positif, 2002... Josep Manurung: Penatalaksanaan Tindakan Ekstrasi Yang Aman Pada Pasien AIDS

Hubungan antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Tingkat Stres pada Penderita Hiv/Aids (Odha).. Perbedaan Respon Sosial Penderita Hiv-Aids Yang Mendapat Dukungan

pasang partisipan ibu dan ayah positif HIV/AIDS yang memiliki anak dalam proses.. identifikasi

Dihentikan oleh keterbatasan waktu, hiperealitas-realitas, dan comprehensive knowledge perancang, perancangan Pusat Rehabilitasi Penderita HIV/AIDS di Manado ini terus

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran self esteem napi wanita penderita HIV/AIDS sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling kelompok

dikembangkan?, 3) bagaimana efektivitas program model lokal yang akan dikembangkan pada penderita HIV-AIDS di Kabupaten Biak Numfor tersebut? dan 4) bagaimana efektivitas program

Penderita HIV dapat terlihat seperti orang yang sehat Konsumsi obat antiretroviral ARV dapat mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak.. Gejala awal infeksi HIV sama dengan gejala