• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan dan Klasifikasi

N/A
N/A
Khrisna Pangeran

Academic year: 2024

Membagikan " Pengenalan dan Klasifikasi"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

A. Gastritis

1. Pengertian

Gastritis adalah peradangan dinding lambung terutama pada selaput dinding lambung atau inflamasi yang mengenai pada mukosa lambung (Ulumiya, 2021).

Gastritis merupakan kondisi peradangan dan iritasi yang menyebabkan pengikisan lapisan lambung akibat kelebihan asam lambung (Halimah, 2020).

Gastritis merupakan peradangan akut, kronis, menyebar dan lokal yang disebabkan oleh makanan, obat-obatan, bahan kimia, stres serta bakter (Nauri, 2015).

2. Klasifikasi

Menurut Suartum; Cance & Hueter bahwa klasifikasi gastritis terbagi kedalam dua jenis, sebagai berikut (Rukmana, 2018):

a. Gastritis Akut

Gastritis akut merupakan peradangan mukosa lambung yang menyebabkan perdarahan lambung akibat terpapar pada zat iritan. Gastritis akut suatu penyakit yang sering ditemukan dan biasanya bersifat jinak dan dapat disembuhkan.

12

(2)

b. Gastritis Kronis

Gastritis kronis adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang bersifat menahun, yang disebabkan oleh ulkus atau bakteri helicobacter pylory. Gastritis kronis cenderung terjadi pada usia muda yang menyebabkan penipisan dan degenerasi dinding lambung.

3. Faktor Risiko

Penyebab utama gastritis adalah bakteri Helicobacter

Pylori,virus,atau parasit lainnya juga dapat menyebabkan gastritis.

Menurut Elsanti (2009), bahwa faktor risiko pada gastritis dikelompokkan menjadi faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor risiko yang dapat dikontrol, yaitu (Nuramalia, 2021):

a. Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol :

1) Umur

Usia tua memiliki risiko terjadi gastritis lebih tinggi dibandingkan dengan usia muda. Hal ini disebabkan karena seiring bertambahnya usia mukosa gaster cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki infeksi Helicobacter pylori atau gangguan autoimun daripada orang yang berusia lebih muda.

Sebaliknya, jika mengenai usia muda biasanya lebih berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat.

(3)

2) Jenis Kelamin

Penyakit gastritis bisa menyerang semua jenis kelamin. Jenis kelamin perempuan lebih banyak menderita gastritis karena perempuan rentan secara psikologis untuk mengalami stres. Secara teori psikologis juga disebutkan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan perasaan dan emosi daripada rasio sehingga mudah atau rentan untuk mengalami stres psikologis.

3) Riwayat Gastritis Keluarga

Riwayat gastritis keluarga merupakan pengkajian riwayat kesehatan keluarga inti dan riwayat kesehatan keluarga yang meliputi tahap perkembangan keluarga saat ini, perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, riwayat keluarga inti dan riwayat keluarga sebelumnya. Riwayat keluarga yang dimaksudkan bukanlah dikarenakan adanya hubungan secara genetik yang diturunkan dari orang tua responden, melainkan lebih ke arah kebiasaan dalam keluarga sehingga terdapat anggota keluarga yang gastritis.

b. Faktor risiko yang dapat dikontrol 1) Pola Makan

Penyakit gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang kurang baik dan tidak teratur, yaitu frekuensi makan,

(4)

jenis, dan jumlah makanan, sehingga lambung akan menjadi sensitif bila asam lambung meningkat.

2) Kopi

Kopi merupakan salah satu minuman yang mengandung berbagai senyawa kimia termasuk lemak, karbohidrat, asam amino, asam nabati yang disebut dengan fenol, kafein, vitamin dan mineral. Kafein atau kandungan mineral lain dalam kopi bisa memicu tingginya asam lambung sehingga menciptakan lingkungan yang lebih asam dan dapat mengiritasi lambung.

3) Rokok

Sebatang rokok terkandung berbagai zat-zat kimia berbahaya yang berperan seperti racun. Kandungan dari rokok seperti fenol, metanol, kadmium, aseton, dan lain- lain yang dapat berdampak terhadap erosi dan mukosa lambung. Efek rokok pada saluran gastrointestinal antara lain melemahkan katup esofagus dan pilorus, meningkatkan refluks, mengubah kondisi alami dalam lambung, menghambat sekresi bikarbonat pankreas, mempercepat pengosongan cairan lambung, dan menurunkan pH duodenum.

(5)

4) Alkohol

Organ tubuh yang memiliki peran besar dalam metabolisme alkohol adalah lambung dan hati, oleh karena itu efek dari kebiasaan mengonsumsi alkohol dalam jangka panjang tidak hanya berupa kerusakan hati atau sirosis, tetapi juga kerusakan lambung. Dalam jumlah sedikit, alkohol merangsang produksi asam lambung berlebih, nafsu makan berkurang, dan mual, sedangkan dalam jumlah banyak, alkohol dapat mengiritasi mukosa lambung dan duodenum

5) Stres.

Stres merupakan reaksi fisik, mental, dan kimia dari tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan dan merisaukan seseorang. Stres memiliki efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehingga berisiko untuk mengalami gastritis

6) Obat AINS

Obat AINS adalah salah satu golongan obat besar yang secara kimia heterogen menghambat aktivitas siklooksigenase, menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekursor tromboksan dari asam arakhidonat. Obat-obatan yang sering dihubungkan

(6)

dengan gastritis erosif adalah aspirin dan sebagian besar obat anti inflamasi non steroid.

4. Tanda dan Gejala

Rendy & Margareth, (2015) menyatakan gastritis akut tanda gejala antara lain: nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, serta hematemesis dan melena. Pada Gastritis kronis tanda gejala berupa;

sebagian besar gejala gastritis kronis tidak ada keluhan, hanya sebagian mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, mual .

Adapun menurut Rukmana, (2018) secara umum gastritis mempunya beberapa gejala yaitu:

a. Nafsu makan menurun drastic b. Sering mual dan muntah

c. Sering bersendawa dalam keadaan lapar

d. Nyeri perut, kembung, dan rasa sesak bagian atas perut (ulu hati)

e. Kepala terasa pusing 5. Komplikasi

Misnadiarly menyatakan komplikasi dari gastritis adalah sebagai berikut (Wahyuni, 2018):

a. Gastritis Akut

Komplikasi yang timbul akibat gastritis akut adalah peradangan akut pada dinding lambung, terutama mukosa

(7)

lambung pada umumnya di bagian antrum. Apabila prosesnya hebat sering juga terjadi ulkus namun jarang terjadi perforasi.

b. Gastritis Kronik

Komplikasi yang timbul pada kasus gastritis kronik adalah gangguan penyerapan Vitamin B12 menyebabkan timbulnya anemia pernisiosa, gangguan penyerapan zat besi, penyempitan daerah pylorus (ujung bawah lambung dekat duodenum).

Etiologinya tidak diketahui dengan pasti gejalanya tidak khas.

Penyakit ini berkaitan dengan indeksi helicobacter pylori, ulkus duodenum dan tumor lambung.

6. Pengukuran Gastritis

Untuk mengukur kejadian gastritis akan menggunakan skala guttman yaitu skala pengukuran yang hanya meyediakan dua jenis jawaban dimana jika jawaban 1 adalah Ya dan jika jawaban 0 adalah tidak.

B. Pola Makan 1. Pengertian

Pola makan merupakan cara atau kebiasaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan yang dilakukan secara berulang-ulang (Barkah & Agustiyani, 2021).

(8)

Pola makan adalah tingkah laku atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan makan yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan (Ketaren, 2018).

Pola makan adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi makanan tersebut sebagai reaksi fisologis, psikologis, budaya, dan sosial (Putri, 2020).

2. Komponen Pola Makan

Pola makan memiliki 3 (tiga) komponen yaitu jenis, frekuensi, dan jumlah makan (Basri, 2020) :

a. Jenis Makan

Jenis makan adalah sejenis makanan pokok yang dimakan setiap hari terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran dan buah yang dikonsumsi setiap hari. Makanan pokok adalah sumber makanan utama di negara Indonesia yang dikonsumsi setiap orang atau sekelompok masyarakat terdiri dari beras, jagung, sagu, umbi-umbian, dan tepung

b. Frekuensi Makan

Frekuensi makan adalah berapa kali makan dalam sehari meliputi makan pagi, makan siang, makan malam dan makan selingan. Frekuensi makan adalah jumlah makan sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif, secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung

(9)

sifat dan jenis makanan yang di makan. Jika rata-rata lambung kosong antara 3-4 jam, maka jadwal makan pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Okviani, 2011).

Pola makan yang baik dan benar mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Pola makan 3 kali sehari yaitu makan pagi, selingan siang, makan siang, selingan sore, makan malam dan sebelum tidur. Makanan selingan sangat diperlukan, terutama jika porsi makanan utama yang dikonsumsi saat makan pagi, makan siang, dan makan malam belum mencukupi. Makan selingan tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan nafsu makan saat menyantap makanan utama berkurang karena sudah kekenyangan oleh makanna selingan (Sari, 2014).

c. Jumlah Makan

Jumlah makan adalah banyaknya makanan yang dimakan setiap orang atau setiap individu dalam kelompok. Jumlah dan jenis makanan sehari-hari merupakan cara makan seorang individu atau sekelompok orang dengan mengkonsumsi makanan mengandung karbohidrat, protein, sayuran dan buah.

Frekuensi 3 kali sehari dengan makan selingan pagi dan siang mencapai gizi tubuh yang cukup, pola makan yang berlebihan dapat mengakibatkan kegemukan atau obesitas pada tubuh 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan

(10)

Pola makan dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi (Mulyati, 2018):

a. Faktor Ekonomi

Kebutuhan material mencukup dalam peningkatan peluang untuk daya beli pangan dengan kuantitas dan kualitas dalam pendapatan menurunan daya beli pangan secara kualitas maupun kuantitas masyarakat. Pendapatan yang tinggi dapat mencakup kurangnya daya beli dengan kurangnya pola makan masysrakat sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih di dasarkan dalam pertimbangan selera dibandingkan aspek gizi.

Kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan impor.

b. Faktor Budaya

Pantangan dalam mengkonsumsi jenis makanan dapat dipengaruhi oleh faktor budaya sosial dalam kepercayaan adat daerah yang menjadi kebiasaan di daerah yang ditinggali.

Kebudayaan di masyarakat memiliki beraneka cara mengkonsumsi pola makan dengan cara sendiri. Dalam budaya mempunyai suatu cara bentuk macam pola makan seperti:

dimakan, bagaimana pengolahanya, persiapan dan penyajian c. Agama

(11)

Dalam agama pola makan adalah suatu cara makan dengan diawali berdoa sebelum makan dengan diawali makan mengunakan tangan kanan.

d. Pendidikan

Dalam pendidikan pola makan adalah salah satu pengetahuan, yang dipelajari dengan berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan penentuan kebutuhan gizi

e. Lingkungan

Dalam lingkungan pola makan adalah berpengaruh terhadap pembentuk perilaku makan berupa lingkungan keluarga melalui adanya promosi, media elektroni, dan media cetak.

f. Kebiasaan Makanan

Kebiasaan makan adalah seseorang yang mempunyai keterbiasaan makan dalam jumlah tiga kali makan dengan frekuensi dan jenis makanan yang dimakan

4. Pengukuran Pola Makan

Untuk mengukur pola makan akan menggunakan skala guttman yaitu skala pengukuran yang hanya meyediakan dua jenis jawaban dimana jika jawaban 1 adalah Ya dan jika jawaban 0 adalah tidak.

(12)

C. Remaja

1. Pengertian

Menurut Brief Notes Lembaga Demografi FEB UI (2020) remaja adalah masa peralihan atau transisi dari anak-anak menuju dewasa. Perubahan dalam interaksi mereka dengan lingkungan mereka menyebabkan mereka mengalami berbagai masalah kesehatan (Nadia, 2023).

Remaja, adalah orang-orang yang berusia antara 10 sampai 19 tahun. Masa remaja adalah titik unit dalam siklus hidup manusia karena periode pertumbuhan cepat yang sensitif secara biologis, didorong oleh hormon, tetapi membutuhkan gizi yang cukup dalam kuantitas dan kualitas untuk pertumbuhan atau perkembangan yang optimal (Manik, 2023).

2. Klasifikasi

Menurut Ibnu (2018) dalam (Arianto & Aminah, 2024), masa remaja dapat diidentifikasi menjadi beberapa kategori :

a. Masa Pra-Remaja (Remaja awal)

Usia sekitar 12 hingga 15 tahun dianggap sebagai masa remaja awal. Namun, berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Masa ini sering dikaitkan dengan perilaku negatif yang khas bagi seorang remaja, sehingga gejala-gejala seperti gelisah, menganggu, pesimis, dan lain-lain sering dikenal.

b. Masa Remaja (Remaja Madya)

(13)

Pada umumnya, remaja madya sering diartikan sebagai kelompok usia antara 16 hingga 18 tahun. Saat ini sudah berkembang pada artian bahwa anak muda memiliki kebutuhan hidup, kebutuhan untuk memiliki teman sebaya yang dapat memahami dan memberikan dukungan kepada mereka, membutuhkan teman sebaya yang dapat berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersama. Remaja madya mencari sesuatu yang membuat mereka merasa dihargai, dihormati dan dipuja, ini adalah masa kerinduan dan gejala kemudaan.

c. Masa Remaja Akhir

Remaja akhir adalah usia dimana seseorang menemukan dasar-dasar kehidupan dan memasuki masa dewasa. Seseorang dikatakan remaja akhir jika berusia antara 19 dan 22 tahun.

3. Ciri-Ciri

Menurut Agustina (2019) ciri-ciri remaja antara lain sebagai berikut.

a. Masa remaja sebagai periode penting

Pada masa remaja, baik akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetaplah penting. Perkembangan fisik yang begitu cepat disertai dengan cepatnya perkembangan mental, terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan ini menimbulkan perlunya penyesuaian mental serta perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.

(14)

b. Masa remaja sebagai masa periode peralihan

Pada fase ini, remaja bukan lagi seorang anak dan bukan juga orang dewasa. Kalau remaja berperilaku seperti anak-anak, ia akan diajari untuk bertindak sesuai dengan umurnya. Kalau remaja berusaha berperilaku sebagaimana orang dewasa, remaja seringkali dituduh terlalu besar ukurannya dan dimarahi karena mencoba bertindak seperti orang dewasa. Di lain pihak, status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun, maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun.

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah

Setiap periode perkembangan mempunyai masalahnya sendirisendiri, namun masalah masa remaja. Sering menjadi persoalan yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Ketidakmampuan mereka untuk mengatasi

(15)

sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesainya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.

e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Pada tahun-tahun awal nmasa remaja, penyesuaian diri terhadap kelompok masih penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman- teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Status remaja yang mendua ini menimbulkan suatu dilema yang menyebabkan remaja mengalami “krisis identitas” atau masalah-masalah identita-ego pada remaja.

f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Anggapan stereotip budaya bahwa remaja suka berbuat semaunya sendiri atau “semau gue”, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.

g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

Masa remaja cenderung memandang kehidupan melalui kacamata berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan

(16)

sebagaimana adanya, terlebih dalam hal harapan dan cita-cita.

Harapan dan cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan temantemannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan ciri dari awalnya masa remaja. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau tidak berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkannya sendiri.

h. Masa remaja sebagai ambang masa depan

Semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum-minuman keras, mengunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks bebas yang cukup meresahkan. Mereka menganggap bahwa perilaku yang seperti ini akan memberikan citra yang sesuai dengan yang diharapkan.

D. Kerangka Pemikiran

(17)

Kerangka pemikiran merupakan sebuah penjelasan atau gambaran sementara berupa konsep terhadap gejala-gejala tentang hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya (Sugiyono, 2019).

Gastritis merupakan salah satu gangguan pencernaan yang terjadi akibat adanya proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung.

Gastritis di pengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu pola makan.

Pola makan merupakan cara atau kebiasaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan yang dilakukan secara berulang-ulang. Pola makan yang kurang baik dan tidak teratur dapat mempengaruhi perubahan pada dinding lambung yang akhirnya mengurangi kekuatan dinding lambung.

Pola makan yang tidak teratur seperti tidak memperhatikan waktu jam makan dalam keseharian dapat mengakibatkan lambung sulit beradaptasi, dan jika berlangsung lama, asam lambung akan menumpuk di lambung dan dapat mengiritasi mukosa lambung sehingga menyebabkan nyeri tumpul, menusuk, seperti terbakar di perut bagian atas dan punggung tengah, dan menyebabkan mual dan muntah, bila hal ini berlangsung secara terus menerus akan terjadi kelebihan asam lambung sehingga dapat mengakibatkan mukosa lambung teriritasi dan terjadilah gastritis. Risiko gastritis merusak fungsi lambung dan meningkatkan risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, tukak lambung, peritonitis, perdarahan saluran cerna, bahkan kematian

(18)

Berdasarkan uraian di atas dapat dibuat bagan kerangka pemikiran tentang Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis pada Remaja Putri di MTS Darul Ulum Cihara Wilayah Kerja Puskesmas Cihara.

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja Putri di MTS Darul Ulum Cihara Wilayah Kerja Puskesmas Cihara

Keterangan :

: Faktor yang diteliti : Hubungan

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan prediksi awal sebuah hipotesis awal penelitian awal yang bisa berupa hubungan variabel bebas dengan variabel terikat (Sahir, 2021).

Ada Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja Putri di MTS Darul Ulum Cihara Wilayah Kerja Puskesmas Cihara.

H0: Tidak Ada Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja Putri di MTS Darul Ulum Cihara Wilayah Kerja Puskesmas Cihara

H1: Ada Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja Putri di MTS Darul Ulum Cihara Wilayah Kerja Puskesmas Cihara

Kejadian Gastritis Pola Makan

Referensi

Dokumen terkait

lambung seperti, merekok, alkohol, sering mengkosumsi makanan pedas, obat-obatan, bakteri, dan banyak hal lainya. Jawaban atau pun pendapat masyarakat menjadi indikasi

7nflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan

Lambung sebenarnya terlindungi oleh lapisan mucus, tetapi oleh karena beberapa faktor iritan seperti makanan, minuman dan obat-obatan anti-inflamasi non-steroid

Dapat disimpulkan jumlah trombosit perokok masih dalam kategori normal kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu obat-obatan, makanan, dan minuman.Jumlah

Pada umumnya miokarditis disebabkan penyakit-penyakit infeksi tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek toksik bahan-bahan

(Daftar ini hanya meliputi stabilitas bahan kimia dan tidak merupakan persetujuan untuk digunakan dalam pengolahan makanan, obat-obatan, kosmetik, dan bahan kimia yang dapat

Sedangkan demineralisasi non karies seperti pada erosi terjadi karena asam yang berasal dari makanan dan minuman, obat-obatan, asam lambung dan dari lingkungan pekerjaan

Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak   jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres,  pemasukan makanan