Nama : Wiwid Diniati
NIM : 24/547357/PTK/16149 Mata Kuliah : Teori Pembangunan
Makna Pembangunan dan Indikator Dasar Pembangunan
Berdasarkan sudut pandang ekonomi, pembangunan terbagi menjadi dua pendekatan, yaitu ukuran ekonomi tradisional dan pandangan ekonomi baru. Pendekatan tradisional menekankan kesejahteraan ekonomi masyarakat, yang diukur melalui pendapatan nasional bruto per kapita, dengan fokus utama pada industrialisasi sebagai strategi pembangunan. Pada tahun 1950-1960, meskipun negara-negara berkembang mencapai target pertumbuhan ekonomi, tidak ada perubahan signifikan dalam kualitas hidup masyarakat.
Akibatnya, pada tahun 1970, fokus pembangunan mulai beralih ke pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial. Namun, dari tahun 1980 hingga 2000, banyak negara mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan penurunan pertumbuhan pendapatan nasional bruto. Hal ini memicu redefinisi pembangunan ekonomi, yang kemudian lebih berfokus pada perubahan sistem sosial yang lebih menyeluruh. Lima sumber perbedaan pendapatan riil dibandingkan keunggulan aktual :
1. Heterogenitas pribadi (fisik, penyakit, usia, gender) 2. Perbedaan lingkungan (iklim, penyakit, dampak polusi) 3. Perbedaan iklim sosial (tingkat kriminalitas)
4. Distribusi dalam keluarga (anak Perempuan vs laki-laki) 5. Perbedaan perspektif (standar dalam sebuah komunitas)
Berdasarkan pendekatan “Kapabilitas” oleh Amartya Sen, didapatkan bahwa tingkat pendapatan/konsumsi bukan lagi merupakan suatu ukuran kesejahteraan manusia.
Tiga Nilai Inti & Tujuan Pembangunan
1. Kecukupan (Substance) = Peningkatan ketersediaan dan perluasan distribusi barang pokok 2. Harga diri (Self-Esteem) = Peningkatan standar hidup
3. Kebebasan (Freedom) = Perluasan pilihan ekonomi dan sosial
Indikator Dasar Pembangunan
1. Pendapatan = GNI dan GDP yang disesuaikan dengan paritas daya beli
2. Kesehatan = Harapan hidup, tingkat kekurangan nutrisi, tingkat moralitas anak, tingkat kelahiran
3. Pendidikan = Tingkat melek aksara, tingkat Pendidikan
Kesehatan dan Pendidikan (poin 2 dan 3) merupakan core competencies dalam masyarakat sehingga tidak hanya fokus pada ekonomi saja namun dari sisi Kesehatan dan pendidikan.
Ukuran Holistik Taraf Hidup dan Kapabilitas
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) awalnya menggunakan rata-rata aritmatika untuk mengukur pembangunan sosial ekonomi berdasarkan tiga faktor: umur panjang (longevity), pengetahuan (education), dan standar hidup (living standards).
Namun, pendekatan ini dikritik karena memungkinkan satu komponen menutupi kekurangan pada
komponen lain. Untuk mengatasi ini, IPM baru (NHDI) mengganti rata-rata aritmatika dengan rata-rata geometrik, sehingga ketiga komponen tidak bisa saling menggantikan. Perubahan pada satu faktor akan lebih berdampak pada keseluruhan skor, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang keseimbangan pembangunan suatu negara. Perubahan dari IPM tradisional ke IPM baru dengan rata-rata geometrik adalah langkah untuk meningkatkan akurasi dalam pengukuran pembangunan manusia. Ini menciptakan hubungan yang lebih kuat antara dimensi kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, serta memastikan bahwa ketidakseimbangan dalam pembangunan tidak terabaikan.
Karakteristik Negara Berkembang : Keragaman dalam Kesamaan 1. Standar hidup dan produktivitas rendah
Negara berkembang memiliki pendapatan rendah dibanding negara maju, yang menghambat investasi di pendidikan, kesehatan, dan bidang lain, sehingga produktivitas tetap rendah dan ekonomi stagnan. Kondisi ini dikenal sebagai "kausalitas melingkar dan kumulatif"
atau perangkap kemiskinan.
2. Tingkat modal manusia rendah
Kesehatan, pendidikan, dan keterampilan merupakan modal penting untuk pertumbuhan ekonomi. Namun, negara berkembang tertinggal dalam aspek nutrisi, kesehatan, dan pendidikan, yang tercermin dari tingginya angka kematian balita, rendahnya tingkat literasi, serta kurangnya akses terhadap pendidikan berkualitas.
3. Tingkat ketimpangan dan kemiskinan absolut tinggi
Ketimpangan sosial sangat mencolok, di mana banyak orang miskin tidak dapat memenuhi kebutuhannya, sementara sebagian kecil orang kaya menikmati kekayaan besar. Negara berkembang, seperti Afrika Selatan, menghadapi tantangan ekonomi ini, dan politik serta sosial turut memengaruhi kemiskinan.
4. Pertumbuhan penduduk tinggi
Negara berkembang menghadapi pertumbuhan penduduk tinggi, terutama anak-anak, sementara negara maju didominasi lansia. Di negara berkembang, anak-anak sering tidak mendapatkan hak yang layak, sementara lansia di negara maju hidup dari pensiun atau dukungan negara.
5. Fraksionalisasi sosial tinggi
Perbedaan etnis, bahasa, dan kelompok sosial di negara berkembang meningkatkan risiko konflik sosial dan ketidakstabilan politik. Fraksionalisasi ini membuat peluang konflik lebih besar.
6. Mayoritas penduduk tinggal di pedesaan
Banyaknya penduduk yang tinggal di pedesaan menyebabkan keterbatasan dalam akses terhadap kebutuhan dasar, karena desa cenderung kurang berkembang dibanding perkotaan.
7. Migrasi cepat dari desa ke kota
Meski pedesaan mengalami modernisasi, masih ada keterbatasan pasar dan ekonomi.
Akibatnya, migrasi dari desa ke kota meningkat karena desa dianggap kurang prospektif secara ekonomi.
8. Tingkat industrialisasi dan ekspor rendah
Negara berkembang masih mengandalkan sektor pertanian dan memiliki tingkat industrialisasi rendah. Mereka lebih banyak mengekspor barang mentah dibanding produk industri yang bernilai tambah tinggi.
9. Hambatan geografis
Negara berkembang sering berada di wilayah tropis atau subtropis, yang menghadapi tantangan berupa hama, penyakit endemik, keterbatasan air, dan suhu panas ekstrem.
10. Pasar yang terbelakang
Negara berkembang memiliki sistem hukum, perbankan, dan infrastruktur yang lemah, dengan kelemahan dalam regulasi mata uang, asuransi, informasi pasar, dan norma sosial yang menghambat kemajuan ekonomi.
Pembangunan Sebagai Studi Interdisipliner
Pada era Orde Baru, masyarakat sering beranggapan bahwa kemajuan hanya berfokus pada satu aspek, yaitu ekonomi. Akibatnya, pembangunan sering dianggap sebagai kemajuan di bidang ekonomi yang dicapai oleh masyarakat. Selain itu, terdapat pendekatan interdisipliner, yaitu kolaborasi antara dua atau lebih disiplin ilmu yang berbeda untuk memecahkan masalah atau mengeksplorasi topik tertentu. Pendekatan ini melibatkan integrasi pengetahuan, metode, atau perspektif dari berbagai bidang ilmu. Menurut Prof. Budiman, pembangunan merupakan konsep yang kompleks dan multidimensi, sehingga tidak dapat dianalisis hanya dari satu sudut pandang ilmu, melainkan memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai kemajuan pembangunan.
Ukuran Pembangunan :
1. Kekayaan rata-rata, dilihat dari PNB dan PDB.
2. Pemerataan, dalam hal kemakmuran dan kesejahteraan penduduknya.
3. Kualitas kehidupan dengan melihat rata-rata hidup setelah 1 tahun, rata-rata jumlah kematian bayi, serta presentasi buta dan melek huruf.
4. Kerusakan lingkungan, pembangunan dengan produktivitas tinggi tidak memperhatikan dampak lingkungan sehingga suatu negara dapat menjadi miskin karena habisnya sumber daya.
5. Kerusakan sosial, dapat diukur oleh Indeks Gini dan tingkat kualitas kehidupan fisik.
Sehingga dapat ditarik Kesimpulan bahwa pembangunan yang dapat dikatakan berhasil yaitu terjadi kemajuan secara ekonomi, namun tetap berkesinambungan sehingga tidak terjadi kerusakan sosial dan alam/lingkungan.
Cabang Ilmu Ekonomi
1. Ilmu ekonomi tradisional Fokus pada sumber-sumber produktif yang langka agar dapat digunakan secara efisien.
2. Ilmu ekonomi politik Membahas hubungan politik dan ekonomi dengan fokus pada peran kekuasaan dalam mengambil Keputusan ekonomi.
3. Ilmu ekonomi pembangunan Membahas tentang perubahan struktural dan institusional, serta meliputi seluruh masyarakat.
Faktor manusia juga sangat penting bagi pembangunan. Karena merupakan tujuan akhir dari pembangunan dimana manusia menjadi pengambil inisiatif dan menjadi manusia pembangun.
Manusia yang akan dibangun merupakan manusia kreatif dan memiliki keterampilan.
Indeks Pembangunan Manusia
United Nations Development Programme (UNDP) pertama kali merumuskan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 1990. IPM adalah indikator capaian pembangunan kualitas hidup masyarakat dengan melihat 3 aspek atau dimensi yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Saat ini Indonesia berada di urutan 112 human development index pada tahun rilis 2022. Pembangunan SDM ini dapat diukur secara kuantitatif melalui HDI (Human Development Index) dengan indikator yang dapat dilihat sebagai berikut:
Umur panjang dan hidup sehat, dapat dilihat dari angka harapan hidup dan indeks kesehatan
Pengetahuan, dilihat dari harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah serta indeks pendidikan
Standar hidup layak dilihat dari PNB Per Kapita serta indeks pengeluaran
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas merupakan lembaga yang berperan dalam perhitungan IPM ini. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 menujukkan bahwa Indonesia dikuasai oleh generasi muda yaitu manusia dengan usia di bawah 40 tahun. Oleh karena besarnya jumlah penduduk usia produktif, maka Indonesia masuk ke dalam bonus demografi.
Dominasi generasi muda ini terbagi pada kelompok milenial, gen z, dan post gen z.
Capaian Pembangunan Manusia di Tingkat Nasional
1. Umur panjang dan hidup sehat Menurut H.L Blum ada empat kategori utama yang memengaruhi derajat Kesehatan yaitu faktor lingkungan, perilaku, layanan Kesehatan, dan genetik.
2. Dimensi pengetahuan Indikator yang Menyusun dimensi ini adalah rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS).
3. Standar hidup layak Kemampuan daya beli masyarakat pada periode tertentu yang digambarkan pada pengeluaran riil per kapita adalah indikator standar hidup layak.
Tantangan dalam Pembangunan Manusia 1. Inklusivitas pembangunan
2. Tingkat Pendidikan 3. Sumber daya manusia 4. Literatur dan budaya
Keterkaitan IPM dan Keilmuan (Perencanaan Wilayah dan Kota)
IPM bisa menjadi acuan atau alat ukur untuk pembangunan suatu negara. Aspek yang ada di dalamnya mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara keseluruhan serta menjadi bahan evaluasi dari waktu ke waktu pada antar wilayah yang berbeda. Capaian IPM juga membantu para stakeholder dalam hal ini pemerintah untuk mengatur prioritas pembangunan dalam suatu daerah.
Dimulai dari penyediaan data informasi, penyusunan rencana pembangunan, hingga tahap evaluasi pembangunan.
Teori Modernisasi : Pembangunan sebagai Masalah Internal
Secara umum, dunia terbagi menjadi dua jenis negara: negara yang berfokus pada produksi hasil pertanian dan negara yang lebih mengandalkan produksi barang industri. Dalam konteks ini,
muncul teori pembagian kerja internasional, yang menjelaskan bahwa setiap negara memiliki spesialisasi berdasarkan teori keuntungan komparatif. Teori ini menyatakan bahwa setiap negara harus fokus pada produksi barang di mana mereka memiliki keunggulan, dan kemudian memperdagangkan hasilnya dengan negara lain. Hal ini menciptakan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan.
Namun, setelah beberapa dekade, terlihat bahwa negara-negara industri menjadi semakin makmur, sementara negara-negara yang mengandalkan pertanian justru semakin tertinggal. Para ahli pun mulai menyelidiki penyebab ketimpangan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah tersebut sebagian besar terletak pada negara-negara berkembang itu sendiri. Banyak dari negara-negara ini mencoba melakukan modernisasi, namun sayangnya mereka belum benar-benar siap untuk menjalankan pembangunan yang efektif.
Peneliti menemukan bahwa negara-negara berkembang cenderung menerapkan pendekatan modern tanpa kesiapan infrastruktur, sosial, dan ekonomi yang memadai. Karena itu, mereka tidak berhasil mencapai kemajuan yang diharapkan. Solusinya, menurut beberapa ahli, adalah perlunya pengenalan nilai-nilai modern dan rasional yang dibawa oleh pihak eksternal. Dengan bimbingan dan dukungan dari negara-negara yang sudah maju, negara-negara berkembang bisa lebih siap untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi lokal.
Pendapat Para Ahli Mengenai Teori Modernisasi 1. Teori Harrod-Domar:Tabungan dan Investasi
Pertumbuhan ekonomi ditentukan dari tingginya Tabungan dan investasi. Teori ini mendapat kritik karena tidak memerhatikan masalah manusia di dalamnya dan hanya menitikberatkan pada ekonomi saja.
2. Max Weber: Etika Protestan
Fokus pada gejala kemasyarakatan. Adanya topik peran agama “Etika Protestan” sebagai faktor munculnya kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Etika ini menceritakan tentang adanya paham bahwa semua manusia sudah ditentukan tempatnya apakah di surge dan neraka.
Namun mereka belum mengetahui dan cemas akan ditempatkan dimana, sehingga jalan untuk menuju surga tersebut adalah dengan bekerja sebaik mungkin tanpa pamrih agar dapat keluar dari kecemasan tersebut. Etika ini menjadi nilai budaya yang diterapkan pula di agama tokoguwa di Jepang.
3. David McClelland: Dorongan Berprestasi (n-Ach)
David tertarik pada teori Max Weber, sehingga konsepnya yang dikemukakan adalah untuk keberhasilan sebuah pekerjaan ditentukan dari sikap terhadap pekejaan tersebut. “The need of achievement” merupakan dorongan untuk berprestasi dengan simbol n-Ach. Masyarakat dengan hasil n-Ach tinggi merasa puas karena hasil kerjanya sempurna dan membuat kenaikan pada perekonomian, bukan karena imbalan yang didapatkan.
4. W. W. Rostow : Lima Tahap Pembangunan
Tahapan-tahapan tersebut terdiri dari masyarakat tradisional, pra lepas landas, lepas landas, menuju kedewasaan, dan konsumsi yang tinggi. Fokusnya pada ekonomi.
5. Bert F. Hoselitz : Faktor-Faktor Non-Ekonomi
Hoselitz mengkritik tahap ketiga teori Rostow yaitu tahap “lepas landas”. Karena belum menerapkan aspek non-ekonomi terkait lingkungan dan kelembagaan. Hal lainnya diperlukan pasokan modal besar, perbankan, serta tenaga ahli dan terampil.
6. Alex Inkeles dan David H. Smith : Manusia Modern
Manusia sebagia faktor penting untuk pembangunan. Bukan hanya pemasokan modal dan teknologi. Manusia dapat menjadi modern setelah usia dewasa karena sudah melalui pendidikan, pengalaman kerja serta media massa.
Teori Rostow : Lima Tahap Pembangunan Tahap 1: Masyarakat Tradisional
Pada tahap ini, fokus masyarakat terletak pada sumber daya pertanian, dengan struktur sosial yang hierarkis dan kaku.
Tahap 2: Prasyarat untuk Lepas Landas
Munculnya pemanfaatan wawasan ilmiah baru yang diterjemahkan ke dalam teknologi, meningkatkan produktivitas di bidang pertanian dan industri. Fokus tahap ini adalah penyebaran pengetahuan modern dan pengembangan kemampuan masyarakat.
Tahap 3: Lepas Landas
Tahap ini menandai awal modernisasi teknologi di sektor pertanian dan industri.
Komersialisasi pertanian mulai terjadi, meningkatkan produktivitas ekonomi, yang berujung pada peningkatan pendapatan.
Tahap 4: Dorongan Menuju Kedewasaan
Tahap ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus hingga mencapai kematangan. Pada titik ini, masyarakat mampu memproduksi barang sesuai kebutuhan mereka tanpa harus memproduksi segala hal.
Tahap 5: Era Konsumsi Massal yang Tinggi
Menurut Rostow, ini adalah puncak perkembangan ekonomi, di mana fokus beralih pada produksi barang dan jasa untuk konsumen.
Pandangan tentang Teori Rostow - Kritik terhadap Teori Modernisasi
- Kematian dan Kebangkitan Teori Modernisasi
Kesimpulannya, negara-negara industri mencapai pembangunan ekonomi dengan meninggalkan metode tradisional dalam mengelola ekonomi dan sosial. Para ahli menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi modern, kapitalisme liberal, serta nilai dan budaya modern untuk membantu negara-negara miskin berkembang. Teori modernisasi perlu mengkaji perubahan sosial yang mendukung pembangunan masyarakat.
Dampak Bagi Pembangunan di Indonesia:
1. Perubahan Fokus Pembangunan: Awalnya menekankan industrialisasi, lalu beralih ke pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial sejak 1970-an.
2. Redefinisi Pembangunan Ekonomi: Krisis ekonomi 1980-2000 mendorong Indonesia untuk fokus pada reformasi sosial-ekonomi dan desentralisasi setelah Orde Baru.
3. Penggunaan IPM: Pengukuran pembangunan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) membuat kesehatan, pendidikan, dan standar hidup menjadi prioritas.
4. Kesenjangan Sosial: Ketimpangan antara kota dan desa memicu urbanisasi, dan pemerataan pembangunan menjadi tantangan besar.
5. Peningkatan Modal Manusia: Investasi dalam pendidikan dan kesehatan menjadi kunci untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia.
6. Pembangunan Berkelanjutan: Pembangunan harus memperhatikan keberlanjutan untuk mencegah kerusakan lingkungan dan social.