• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGOPERASIAN ALAT PERONTOK PADI (Power Thresher) YANG ADA DI BPP MUNGKID

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PENGOPERASIAN ALAT PERONTOK PADI (Power Thresher) YANG ADA DI BPP MUNGKID"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) 1

PENGOPERASIAN ALAT PERONTOK PADI (Power Thresher) YANG ADA DI BPP MUNGKID

Oleh:

Rafika Kumalasari 07.16.20.045

PROGAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

2022

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

NAMA : RAFIKA KUMALASARI

NIM : 07.16.20.045

PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

JUDUL PROPOSAL : PENGOPERASIAN ALAT PERONTOK PADI (Power Thresher) YANG ADA DI BPP MUNGKID

Menyetujui :

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

Dr. Mardison, S.S.TP., M.Si

Shaf Rijal Ahmad, S.TP., M.Agr NIP. 19770328 200501 1 003 NIP. 19860421 200912 1 006

Mengetahui Ketua Program Studi

Dr. Mona Nur M. S.TP., M.Sc NIP. 19800419 200501 2 001

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyusun Proposal Kegiatan PKL 1 yang berjudul “Pengoperasian Alat Perontok Padi (Power Thresher) Yang Ada Di BPP Mungkid” ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang selalu menjadi tauladan bagi para umatnya. Proposal Kegiatan PKL 1 ini dibuat untuk memenuhi kegiatan Praktik Kerja Lapang 1. Kegiatan Praktik Kerja Lapang 1 ini dilakukan agar pengetahuan dan pengalaman mahasiswa menjadi bertambah.

Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu saya dalam penulisan proposal ini, khususnya kepada:

1. Bpk. Dr. Agr. Sc. Muharfiza, STP., M.Si. Selaku Direktur Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia,

2. Ibu Dr. Mona Nur Moulia,S.TP.,M.Si Selaku Ketua Program Studi Teknologi Hasil Pertanian,

3. Bpk. Dr. Mardison, S.S.TP., M.Si selaku dosen pembimbing 1 Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1,

4. Bpk. Shaf Rijal Ahmad, S.TP., M.Agr selaku dosen pembimbing 2 Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1,

5. Ibu Sarifah Kreatiningsih, SP selaku pembimbing eksternal

6. Ibu Sri Rahayu, S.PKP selaku Koordinator BPP Kecamatan Mungkid 7. Ibu dan Bapak Penyuluh Pertanian yang ada di BPP Kecamatan Mungkid 8. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan kepada penyusun baik

selama mengikuti perkuliahan maupun dalam penyusunan proposal ini.

9. Teman-teman di Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia yang telah memberikan semangat dan motivasi.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan proposal ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu, saya menerima anjuran – anjuran atau masukkan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun.

Tangerang, Juli 2022

Rafika Kumalasari

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Penanganan Pascapanen Padi ... 3

2.2 Perontokan ... 5

2.3 Alat Perontok Padi (Power Thresher) ... 6

2.3.1 Bagian – Bagian Utama Power Thresher Dan Fungsinya ... 7

2.3.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Pengoperasian Power Thresher ... 8

BAB 3. METODOLOGI ... 9

3.1 Waktu Dan Tempat ... 9

3.2 Materi Kegiatan ... 9

3.3 Rencana Pelaksanaan ... 11

3.3.1 Diagram Alir ... 11

3.3.2 Matriks Rencana Kegiatan ... 12

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14

4.1 Gambaran dan Informasi Umum BPP Kecamatan Mungkid ... 14

4.2 Hasil Kegiatan ... 20

(5)

4.3 Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ... 26

BAB 5. PENUTUP ... 30

5.1 Kesimpulan ... 30

5.2 Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA ... 31

LAMPIRAN ... 33

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Materi Kegiatan ... 9

Tabel 2 Rencana Kegiatan ... 12

Table 3 Luas Wilayah Kecamatan Mungkid ... 16

Table 4 Penyuluh BPP Mungkid ... 18

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Padi Menguning Siap Panen ... 3

Gambar 2 Power Thresher ... 6

Gambar 3 Gerbang BPP Mungkid ... 14

Gambar 4 BPP Mungkid ... 14

Gambar 5 Peta Kecamatan Mungkid ... 16

Gambar 6 Pengecekan Power Thresher ... 20

Gambar 7 Proses Penyalaan Mesin... 21

Gambar 8 Penahan V-Belt ... 21

Gambar 9 Pengoperasian Power Thresher ... 22

Gambar 10 Rice Milling Unit (RMU) ... 27

Gambar 11 Power Thresher ... 27

Gambar 12 Pendaftaran Pupuk Bersubsidi ... 28

Gambar 13 Validasi di Balai Desa Paremono ... 28

Gambar 14 Validasi di BPP Mungkid ... 28

Gambar 15 Panen Manual ... 29

Gambar 16 Panen dengan Combine Harvester ... 29

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jurnal Harian Kegiatan PKL 1 ... 33

(9)

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Power Thresher merupakan teknologi pacapanen yang memiliki manfaat besar bagi pertanian. Power Thresher biasanya digunakan dalam proses perontokan padi. Perontokan merupakan tahap dalam mengolah hasil panen dengan melakukan pemisahan bulir gabah dari tangkai malainya. Dengan menggunakan Power Thresher proses perontokan padi berjalan menjadi lebih mudah dan lebih cepat jika dibanding dengan perontokkan menggunakan metode perontokan secara manual. Menurut Ahmad S, 2016. Penggunaan alat perontok padi Power Thereser selain cepat dalam proses perontokkan juga sangat menghemat waktu serta dapat mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga petani memperoleh nilai tambah dalam usaha taninya.

Power thresher sudah banyak digunakan oleh petani – petani di indonesia untuk merontokkan hasil panen mereka. Power thresher mulai berkembang di Indonesia sejak lama hingga pada saat ini sudah banyak petani yang menggunakan Power Threher dalam proses perontokan padi. Namun Menurut Ruswandi A, dkk, 2010. Pemanfaatan Power Thresher di tingkat petani sangat rendah, hal ini disebabkan karena secara umum tenaga kerja panen masih berlimpah, belum berkembang sistem tebasan, adanya sistem ceblokan, dan tingkat kepedulian sosial masih relatif tinggi. Banyak petani yang tidak mengetahui pengoperasian Power Threher secara optimal, sehingga proses perontokan yang dilakukan tidak diperoleh hasil yang maksimal.

Mengingat besarnya manfaat perontokkan padi menggunakan Power Thresher, maka cara pengoperasian Power Threher harus diperhatikan dengan baik. Hal – hal yang harus diperhatikan pada saat pengoperasian Power Thresher meliputi setting kecepatan putar silinder perontok, panjang pemotongan jerami, waktu pemanenan padi, hingga penerapan K3 dalam pengoperasian mesin. Dengan pengoperasian Power Thresher secara optimal maka hasil gabah pecah akan berkurang dah mutu gabah yang dihasilkan menjadi lebih bagus.

Maka dengan adanya PKL ini diharapkan dapat membantu mahasiwa untuk mengidentifikasi mesin Power Thresher serta mengetahui bagaimana perontokan padi menggunakan Power Thresher secara optimal.

(10)

1.2 Tujuan

Tujuan dilakukannya Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1 ini adalah untuk:

a. Meningkatkan pengetahuan praktis mahasiswa mengenai alat mesin perontok padi (Power Thresher)

b. Mempelajari cara pengoperasian dan cara kerja mesin perontok padi (Power Thresher)

c. Mengetahui cara pengoperasian mesin Power Thresher yang sesuai dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

d. Mengetahui cara perawatan mesin Power Thresher setelah digunakan.

1.3 Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini diantaranya :

a. Dapat merealisasikan ilmu teoritis yang dimiliki mahasiswa pada saat identifikasi alat.

b. Mendapatkan wawasan baru mengenai penggunaan serta manfaat-manfaat dari penggunaan alat yang di identifikasi.

c. Sebagai data sekunder serta pembanding untuk penelitian selanjutnya.

d. Dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dalam situasi yang akan ditemui kedepannya.

(11)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penanganan Pascapanen Padi

Padi merupakan komoditas tanaman penghasil beras yang sangat penting dalam kehidupan sehari – hari. Dalam kehidupan kita sehari hari beras menjadi makanan utama/pokok yang dikonsumsi masyarakat. Menurut Saragih (2001) dalam Donggulo dkk, 2017. Padi sebagai tanaman pangan dikonsumsi kurang lebih 90% dari keseluruhan penduduk Indonesia untuk makanan pokok sehari- hari. Beras merupakan sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia.

Nasi sebagai makanan pokok sumber karbohidrat sangat sulit digantikan dengan komoditas lain seperti jagung, ubi, singkong, dll (Donggulo dkk, 2017). Menurut Syahri dan Somantri, 2016 dalam Akbar, 2017. Padi sebagai makanan pokok dapat memenuhi 56 – 80% kebutuhan kalori penduduk di Indonesia.

Menurut Nugraha, 2008 dalam Iswari, 2012. Pada tanaman padi umumnya panen optimum dilakukan saat gabah berubah warna menjadi menguning 90 – 95%, dengan kadar air gabah 21 – 24% pada musim kemarau atau pada umur 50 – 60 hari setelah pembungaan dan tergantung pada varietas padi yang digunakan. Menurut Iswari dan Sastrodipuro (1996) dalam Iswari, 2012. Umur panen padi mempengaruhi tingkat beras pecah yang dihasilkan. Umur panen yang digunakan berbeda setiap varietasnya dikarenakan faktor genetik yang berbeda sehingga waktu panen pun akan berbeda.

Gambar 1 Padi Menguning Siap Panen

Sumber : Kompasiana.com

(12)

Waktu panen sangat berpengaruh terhadap jumlah produksi, mutu gabah dan mutu beras yang akan dihasilkan. Umumnya panen padi dilakukan pada saat siang hari. Karena kadar air dan kelembaban padi pada saat siang hari relatif rendah dari pada panen di pagi hari. Pemanenan yang terlambat akan menyebabkan penurunan produksi, karena bulir padi sudah banyak yang rontok sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah produksi yang didapat (Agustina, 2018).

Menurut Erdianti, 2021. Dalam pemanenan padi ada beberapa jenis alat panen yang digunakan antara lain:

1. Alat Panen Padi Tradisional a. Ani – Ani

Bentuk khas ani-ani adalah suatu pisau kecil yang terbuat dari logam tipis dengan panjang kurang lebih 10 cm dan lebar kurang dari 1 cm. dipasang tegak lurus pada kayu pipih untuk tangkainya.

b. Sabit

Sabit adalah pisau yang cekung dengan sisi tajam disebelah dalam. Sabit digunakan sebagai alat pemanen padi yang masih tradisional.

c. Perontok Padi Manual (Thresher)

Perontok padi manual berfungsi untuk melepaskan butiran padi dari malainya dari batang yang baru dimasukkan pada mesin ini.

2. Alat Panen Padi Modern

a. Mesin Ketam Padi (Reaper)

Mesin ketam padi ini hanya bekerja mengait rumput padi, kemudian memotong dan selanjutnya melempar kesebelah kanan mesin diatas permukaan tanah.

b. Mesin Tuai dan Pengikat Padi (Binder)

Mesin ini prinsip kerjanya lebih tinggi setingkat dari mesin ketam padi. Mesin ini bekerja selain memotong padi juga mengikat dan selanjutnya melepar.

c. Mesin Pemanen Padi Combine Harvester

Tahap kerja yang dilakukan mesin panen ini yaitu memotong, merontokkan, membersihkan dan mengarungkan. Sehingga gabah tinggal tinggal dibawa ketempat pengeringan. Mesin ini dilengkapi dengan mesin perontok dan pembersih gabah.

(13)

2.2 Perontokan

Perontokkan adalah proses pemisahan secara mekanis suatu bahan padatan sepanjang garis tertentu oleh alat rontok. Perontokkan menyebabkan suatu bahan mempunyai beberapa bentuk baru yang disebut potongan atau serpihan, yang lebih kecil dari bentuk aslinya (Novianto, 2013). Proses perontokan padi dapat dilakukan secara manual maupun dengan alat/mesin, perontokkan manual dapat dilakukan dengan memukul-mukulkan padi pada sebilah kayu dengan membiarkan gabahnya jatuh pada tempat penampung tertentu hingga menginjak-injak jerami padi dengan tenaga manusia atau hewan, dan perontokan padi dengan menggunakan alat/mesin dapat menggunakan Power Thresher (Iqbal dkk, 2018).

Dalam perontokkan ketepatan perontokkan sangat berpengaruh terhadap kehilangan hasil panen atau losses. Menurut Putri SF, 2011. Kehilangan akibat ketidak tepatan dalam melakukan perontokan dapat mencapai lebih dari 5%.

Untuk menekan kehilangan hasil panen saat perontokkan, maka cara perontokkan harus diperhatikan. Perontokkan dapat dilakukan dengan cara diiles, di banting (gebot), serta dengan menggunakan alat perontok (Putri SF, 2011).

a. Perontokkan dengan diiles

Perontokkan ini dilakukan dengan cara menginjak – injak padi yang sudah di taruh pada alas yang di gelar di tanah. Padi akan terpisah karena gaya gesek yang dihasilkan oleh penginjakan.

b. Perontokkan dengan dibanting

Perontokkan ini dilakukan dengan membanting atau memukul – mukul padi pada papan perontok atau gebotan. Pada proses ini terjadi kehilangan hasil panen yang tinggi karena gabah yang di pukul banyak yang terpental keluar alas.

c. Perontokkan dengan alat perontok

Perontokkan menggunakan alat perontok terbagi menjadi dua, yaitu perontokkan secara manual dan perontokkan menggunakan mesin.

Perontokkan secara manual dilakukan dengan menggunakan alat Pedal Thresher yang menggunakan tenaga manusia. Perontokkan menggunakan mesin dilakukan dengan alat perontok padi (Power Thresher) yang menggunakan tenaga mesin.

(14)

2.3 Alat Perontok Padi (Power Thresher)

Proses perontokan padi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, mulai dari memukul-mukulkan padi pada sebilah kayu dengan membiarkan gabahnya jatuh pada tempat penampung tertentu, menginjak-injak jerami padi dengan tenaga manusia atau hewan, dan perontokan padi dengan menggunakan tenaga mesin. Perontokan padi dapat dilakukan dengan menggunakan mesin perontok padi. Jenis mesin perontok padi yang saat ini digunakan juga bervariasi seperti Pedal Thresher dan Power Thresher dengan berbagai tipe. Menurut Rachmat dan Hendiarto, 1998 dalam Ruswanti dkk, 2010.

Perontokan dengan menggunakan Pedal Thresher dan Power Thresher, disamping dapat meningkatkan kapasitas perontokan juga dapat menekan gabah hampa, gabah tidak terontok, dan kehilangan hasil bila dibandingkan dengan cara digebot.

Gambar 2 Power Thresher

Power thresher merupakan alat perontok padi yang biasa digunakan para petani untuk merontokkan padi hasil panen, mesin ini biasanya menggunakan sumber tenaga penggerak dengan daya 4 - 5,5 HP. Prinsip kerja mesin perontok (Power Thresher) adalah dengan menggunakan mesin yang digerakan malalui karet poros untuk menghubungkan cakar yang akan diputar oleh mesin sehingga

(15)

dapat merontokan biji padi pada batangnya, sedangkan pengipas pada mesin tersebut adalah berfungsi untuk memilah antara biji padi yang kosong dan yang berisi (Rizal, M. 2016). Menurut Jufrada, 2014 dalam Wallubi, R, 2018. Power Thresher merupakan alat perontok padi yang menggunakan motor bakar sebagai sumber tenaga penggeraknya. Mesin perontok padi ini memiliki keunggulan kapasitas kerja lebih besar dan efisiensi kerja lebih tinggi serta dapat mengurangi kehilangan hasil pascapanen dibanding menggunakan alat perontok padi lainnya.

2.3.1 Bagian – Bagian Utama Power Thresher Dan Fungsinya

Motor Penggerak

Motor penggerak pada mesin ini ialah motor diesel yang berfungsi sebagai penggerak poros perontok dan bagian kipas blower dengan bantuan v-belt dan pulley.

Bagian Pemasukan (inlet)

Bagian pemasukan berfungsi sebagai tempat memasukkan bahan sebelum dirontokkan kedalam silinder perontokkan.

Unit perontokan a. Silinder perontok

Bagian ini terdiri dari delapan baris bergigi dan memiliki 8 gigi pada masingmasing baris.

b. Penyaring

Bagian ini memiliki dimensi panjang 140 mm dan lebar 10 mm dan berfungsi sebagai tempat penyaringan gabah yang telah rontok dari malainya.

c. Kipas pelempar jerami

Kipas ini berfungsi untuk melempar jerami yang telah dipisahkan dari gabah ke bagian pengeluaran.

d. Outlet jerami

Outlet jerami berfungsi sebagai tempat pengeluaran jerami hasil perontokan.

e. Blower penghembus kotoran halus

Blower ini berfungsi untuk menghembuskan kotoran atau jerami yang turun ke bawah.

(16)

f. Outlet Gabah

Oulet gabah berfungsi sebagai tempat pengeluaran gabah yang sudah dirontokkan.

2.3.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Pengoperasian Power Thresher

Menurut BBPP Batangkaluku, 2016. Pada pengoperasian alsin perontok padi, keselamatan dan keamanan operator harus sangat diperhatikan. Selain itu pengecekan kondisi mesin secara rutin sebelum beroperasi juga sangat perlu, hal ini untuk mendapatkan performansi mesin yang bagus saat dioperasikan di lapangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam operasional alsin perontok padi antara lain :

a. Kondisi fisik operator harus sehat, tidak dibawah pengaruh obat-obatan, tidak mabuk, hamil dan digunakan oleh orang dewasa (18+)

b. Baca dan pahami manual book Alsin Perontok Padi (Power Thresher).

c. Menyiapkan kotak P3K dan mencatat nomor penting disekitar lokasi seperti puskesmas, pemadam kebakaran dan apotik.

d. Selalu perhatikan setiap tanda peringatan/ larangan yang menempel pada beberapa bagian mesin/peralatan.

e. Gunakan perlengkapan keselamatan kerja, berupa : topi (safety helmet), pakaian kerja, penutup mulut dan hidung (masker), penutup telinga (ear plug), sepatu (safety shoes) dan lain-lain yang mendukung keselamatan disesuaikan dengan kebutuhan.

f. Kesalahan dan tidak memperhatikan petunjuk operasional mesin dengan baik dapat mengakibatkan kecelakaan atau cedera yang fatal dan mesin akan cepat rusak.

(17)

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu Dan Tempat

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1 ini dilaksanakan pada 11 Juli 2022 – 5 Agustus 2022 di Balai Penyuluhan Pertanian Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

3.2 Materi Kegiatan Tabel 1 Materi Kegiatan

No Materi kegiatan Rincian kegiatan Hasil kegiatan 1 Keadaan dan

informasi umum BPP Mungkid

- Sejarah dan perkembangan - Profile BPP

Mungkid

- Posisi dan denah - Tata letak (layout) - Struktur organisasi - Personalia, tenaga kerja dan kualifikasi - Tata kerja pegawai

(jam kerja, shift)

Gambaran dan infomasi BPP Mungkid

2 Jumlah dan jenis alsintan yang ada di BPP Mungkid

- Mengidentifikasi jenis alsintan - Menghitung jumlah

alsintan

- Menghitung jumlah alsintan layak pakai

Informasi dan Jumlah Jenis alsintan

3 Pemanfaatan alsintan yang ada di BPP Mungkid

- Merekap data alsintan bantuan pemerintah 5 tahun terakhir

- Mengidentifikasi pemanfaatan alsintan dilapangan

Informasi data pemerintah

(18)

4.

Proses optimalisasi pemanfaatan alsintan dilapangan

- Mengidentifikasi potensi lahan yang bisa ditanam - Koordinasi dengan

BPP Mungkid untuk mobilisasi alsintan untuk mengelola lahan

- Menetapkam target harian pemanfaatan alsintan

- Relokasi alsintan yang tidak dimanfaatkan

Optimalisasi penggunaan lahan dan alsintan yang ada di daerah BPP

5. Mengoperasikan alsintan dilapangan

- Mengoperasikan alat dan mesin teknologi hasil pertanian - Melakukan

perawatan alat mesin Teknologi Hasil Pertanian

Pengalaman dalam

mengoperasikan dan perawatan alat mesin teknologi hasil pertanian 6. Mengidentifikasi

pemanfaatan Power Thresher dalam proses pemanenan padi

- Membuat laporan hasil identifikasi pemanfaatan Power Thresher dalam proses pemanenan padi

laporan hasil identifikasi pemanfaatan Power Thresher dalam proses pemanenan padi 7 Menerapkan prinsip

keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lokasi PKL

- Memeriksa

kelengkapan yang ada

- Menerapkan prinsip K3 dalam

pengoperasian Alsintan

Pengalaman dalam menerapkan prinsip K3 dalam pengoperasian alsintan.

(19)

Hasil Analisis

Kesimpulan

Selesai 3.3 Rencana Pelaksanaan

3.3.1 Diagram Alir

Rencana Pelaksanaan yang akan dilakukan selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di BPP Mungkid seperti pada diagram alir berikut :

Data Primer:

1. Wawancara 2. Data Percobaan

Data Sekunder:

1. Penelitian terdahulu 2. Literatur terdahulu 3. Spesifikasi mesin

Analisia Teknis:

1. Analisis Lokasi Produksi 2. Analisis Teknologi

mesin Yang Digunakan 3. Analisis Proses

Uji Kinerja Mesin:

1. Dimensi Mesin 2. Kapasitas Mesin Mulai

Survei Lapangan

Rumusan Masalah Tujuan

Pengambilan Data

Analisis Data

(20)

1. Survei Lapangan

Survei lapangan dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi yang ada di lapangan atau di BPP Mungkid. Apakah keadaan pada lapangan mendukung untuk melakukan penelitian atau tidak.

2. Pengumpulan Data

Pada pengumpulan data terdapat 2 jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data Primer didapatkan melalui wawancara penggunaan alat perontok padi yang ada pada BPP dan pengoperasian alat perontok padi (Power Thresher). Sedangkan data sekunder didapatkan dari literatur yang sudah ada dan percobaan yang sudah ada.

3. Analisis Data

Analisis data bertujuan untuk menjelaskan data yang sudah didapatkan agar lebih mudah dipahami. Selanjutnya dari hasil analisis data yang dilakukan akan dibuat sebuah kesimpulan.

4. Hasil Dan Kesimpulan

Hasil dan kesimpulan akan didapatkan dari hasil praktikum dan analisis data yang telah dilakukan. Pada hasil praktikum akan dituangkan ke dalam isi dan nantinya akan dibuat kesimpulan yang sesuai dengan tujuan dari penelitian tersebut.

3.3.2 Matriks Rencana Kegiatan Tabel 2 Rencana Kegiatan

No. Materi Kegiatan

Waktu (Minggu)

I II III IV

1. Keadaan dan informasi umum BPP Mungkid

2.

Kegiatan pertanian di Kecamatan Mungkid yang dinaungi oleh BPP Mungkid 3.

Identifikasi dan pendataan Alsintan

4. Proses Pengoperasian dan Pemanfaatan Alsintan di BPP

(21)

Mungkid, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

5. Penerapan K3 dalam bekerja

(22)

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran dan Informasi Umum BPP Kecamatan Mungkid A. Keadaan BPP Kecamatan Mungkid

BPP Kecamatan Mungkid beralamat di jalan Kalangan Blondo, kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Dengan bangunan yang terdiri dari beberapa ruangan seperti Kantor, Aula, Ruang Rapat, Ruang Komputer, Ruang Arsip, hingga Pantry.

Gambar 3 Gerbang BPP Mungkid

Gambar 4 BPP Mungkid B. Tugas BPP Kecamatan Mungkid

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) melaksanakan tugas pokok Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) dalam memberi pelayanan informasi dan menyelenggarakan penyuluhan pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan,

(23)

kehutanan di tingkat desa dan kecamatan, dengan melaksanakan tujuh fungsi yaitu:

1. Menyusun programa dan rencana kerja penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan.

2. Menyediakan dan menyebarkan informasi teknologi dan pasar.

3. Mengembangkan teknologi spesifik lokal melalui kajian-kajian dan menjalin kemitraan dengan peneliti, penyuluh, petani dan LSM.

4. Memfasilitasi terselenggaranya kegiatan belajar bagi petani, 5. Menumbuh kembangkan kelembagaan petani,

6. Menyelenggarakan forum – forum pertemuan bagi petani, penyuluh dan pelaku agribisnis lainnya,

7. Menyelenggarakan evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian dan kehutanan di tingkat desa dan tingkat kecamatan.

C. Posisi dan Denah BPP Kecamatan Mungkid

Kecamatan Mungkid merupakan daerah yang strategis mempunyai topografi berupa hamparan, dengan batas – batas wilayah:

Sebelah Timur : Kecamatan Muntilan Sebelah Barat : Kecamatan Mertoyudan Sebelah Selatan : Kecamatan Borobudur

Sebelah Utara : Kecamatan Sawangan dan Candimulyo

(24)

Gambar 5 Peta Kecamatan Mungkid

D. Keadaan Geografis, Topografis, dan Iklim

Kecamatan Mungkid memiliki luas wilayah sekitar 3.446,72 Km² yang terbagi atas 16 desa/kelurahan dengan 144 dusun/lingkungan.

Berikut adalah tabel luas wilayah per desa/kelurahan:

Table 3 Luas Wilayah Kecamatan Mungkid

No Nama

Kecamatan

Desa/Kelurahan Jumlah Dusun/

Lingkungan

Luas Wilayah

(Ha)

1 Mungkid Progowati 9 280,87

2 Mendut 7 145,00

3 Sawitan 6 129,80

4 Rambeanak 14 282,00

5 Ngrajek 6 301,10

6 Pabelan 10 348,00

7 Paremono 14 400,35

8 Bumirejo 11 247,60

9 Blondo 7 230,00

10 Ambartawang 7 167,20

11 Mungkid 12 171,00

12 Bojong 14 255,00

13 Pagersari 9 214,00

14 Senden 7 216,80

15 Treko 5 133,00

16 Gondang 6 177,00

(25)

E. Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana pendukung kegiatan penyuluhan di BPP Kecamatan Mungkid, antara lain:

1. Fasilitas

a) Ruang Rapat b) Ruang Komputer c) Aula

d) Ruang Koordinator Penyuluh e) Ruang Penyuluh

f) Pantry g) Toilet 2. Mebel

a) Meja kerja

b) Meja Rapat Persegi Panjang c) Kursi Lipat

d) Rak buku e) Papan Mading f) Lemari Arsip g) Peralatan Dapur 3. Pusat Informasi

a) Komputer/Laptop b) Printer

c) Wifi

4. Alat Transportasi a) Roda 2 (Dua) 5. Alat Bantu Penyuluhan

a) Projector b) TV

c) Whiteboard 6. Prestasi

a) Juara 1 Lomba Website (Blogger) Balai Penyuluhan Pertanian & Kehutanan Se Kabupaten Magelang Dalam Rangka Mensukseskan Swasembada Daging Nasional Dan Diversifikasi Pangan Tahun 2013

(26)

b) Juara 3 Olahan Buah – Buahan Hasil Penyuluhan Kabupaten Magelang Tahun 2017

c) Juara Harapan 3 Festival Teknologi Hasil Penyuluhan Kabupaten Magelang Tahun 2017

F. Kelembagaan Penyuluhan Pertanian 1. Personalia Dan Tenaga Kerja

BPP Kecamatan Mungkid memiliki jumlah Penyuluh Pertanian sebanyak 8 orang dengan rincian penyuluh pertanian PNS 3 orang dan PPPK 5 orang. Jumlah penyuluh pertanian yang di BPP Kecamatan Mungkid dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Table 4 Penyuluh BPP Mungkid

No

Nama Jabatan Wilayah Kerja Keterangan

1.

Sri Rahayu, S.PKP

Koordinator PP

Kecamatan Mungkid

PNS

2.

Dian Rintanawati, A.Md

PP

Paremono, Ngrajek, Sawitan

PNS

3.

Dedy Kurniadi, S.ST

PP

Mendut, Progowati, Rambeanak

PNS

4.

Sarifah K, SP PP

Gondang, Pagersari

PPPK

5.

Leily Koerniawati Ock, A.Md

PP

Bojong, Mungkid

PPPK

6.

Tri Wuryanti, SP PP

Pabelan, Ambartawang

PPPK

7.

Triana Purbandari PP

Bumirejo, Blondo

PPPK

8.

Ahmad Saefudin PP

Senden, Treko

PPPK

(27)

2. Tata Kerja Pegawai

Tata kerja merupakan suatu cara dalam pelaksanaan kerja yang dilakukan agar pekerjaan dapat dilakukan seefisien mungkin. Jam kerja penyuluh di kantor BPP Kecamatan mungkid yaitu pada hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dilaksanakan pukul 08.00 WIB hingga 15.30 WIB. Penyuluh pertanian tidak selalu berada di kantor, namun penyuluh pertanian melakukan penyuluhan ke para petani melalui balai desa.

G. Kelembagaan Petani

BPP Kecamatan Mungkid memiliki beberapa kelembagaan petani, yaitu:

1. Terdapat kelompok tani, kelompok ternak, kelompok wanita tani, dan kelompok usaha bersama di tingkat desa sebanyak 133 kelompok tani yang terebar di 16 desa/kelurahan, dengan beberapa tingkat kemampuan sebagai berikut : kelas kelompok pemula sebanyak 115 kelompok tani (85,83%), kelas lanjut sebanyak 18 kelompok tani (14,17%), namun belum ada kelas madya dan utama.

2. Terdapat 16 unit Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan 9 Gapoktan mendapat PUAP

3. Terdapat 16 kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang tersebar di 16 desa/kelurahan, P3A bertugas untuk mengatur pembagian air dari saluran irigasi pada lahan pertanian.

4. Ada 2 unit Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) di kecamatan mungkid yang tersebar di 2 desa, yaitu P4S Taman Anggrek Pabelan dan P4S Lobster Bojong.

5. Terdapat 1 unit asosiasi di bidang perkebunan yaitu APTI (Asosiasi Petani Tembakao Indonesia).

6. Ada 3 unit POSLUHDES (Pos Penyuluh Desa yang sudah terfasilitasi yaitu desa Paremono, desa Pagersari, dan desa Rambeanak.

(28)

4.2 Hasil Kegiatan 4.2.1 Power Thresher

Pada pelaksanaan praktik kerja lapangan 1 yang dilaksanakan di BPP Kecamatan mungkid, digunakan alat perontok padi atau Power Thrasher yang terdapat di lumbung pangan desa rambeanak, Kecamatan mungkid, Kabupaten Magelang. Power Thrasher yang digunakan memiliki merek isoku dengan model PTP 500 GP. Power Thrasher ini memiliki dimensi tinggi 1.240 mm, panjang 1130 mm, dan lebar 825 mm. Power Thrasher ini menggunakan engine Honda GX200 (6,5 PK), mesin ini menggunakan bahan bakar bensin dengan sistem pendinginan menggunakan udara serta penyalaan mesin ini dilakukan dengan cara menarik starter pada mesin.

4.2.2 Mekanisme Pengoperasian

Pengoperasian Power Thresher ini dilakukan di Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang dengan menggunakan Power Thresher dengan merk ISHOKU. Dalam pengoperasiannya terdapat beberapa tahap yang harus diperhatikan, mulai dari kebersihan hingga keamanan penggunaan Power Thresher. Tahapan dalam pengoperasian Power Thresher, yaitu:

1. Sebelum pengoperasian alat mesin Power Thresher dimulai, dilakukan pengecekan Power Thresher mulai dari kebersihan alat hingga pengecekan terhadap baut – baut Power Thresher. Pengecekan dilakukan untuk memastikan bahwa Power Thresher aman digunakan dalam proses perontokkan padi.

Gambar 6 Pengecekan Power Thresher

(29)

2. Setelah dilakukan pengecekan kebersihan dan baut – baut pada power thresher, kemudian dilakukan pengecekan tangki bensin yang akan digunakan. Pastikan saat pengoperasian Power Thresher tangki bensin terisi penuh, hal ini dilakukan agar perontokan Padi dapat dilakukan secara maksimal tanpa ada kendala dalam pengisian bensin.

3. Menyalakan mesin Power Thresher dengan mengubah Switch ke arah On, lalu mengatur kecepatan putar Power Thresher yang sesuai untuk perontokan, setelah itu menyalakan motor penggerak dengan cara menarik starter.

Gambar 7 Proses Penyalaan Mesin

4. Sesuaikan kembali kecepatan putar perontok dengan cara menarik tuas penahan V-Belt. Penahan V-Belt ini difungsikan untuk mengatur kelonggaran V-Belt saat berputar. Jika penahan ini di tarik ke luar maka V-Belt akan tertahan sehingga kecepatan putar silinder perontok menjadi lebih cepat.

Gambar 8 Penahan V-Belt

5. Mulai perontokan padi dengan memasukkan padi secara berkala kedalam corong pemasukan. Pemasukan padi dilakukan dengan mendorong padi

(30)

didepan corong pemasukkan menggunakan tangan yang terbuka. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir resiko terkena gigi perontok.

Gambar 9 Pengoperasian Power Thresher

6. Kemudian padi akan dirontokkan dalam silinder perontok dengan cara gabah akan mengalami gaya gesek antara gigi perontok, jerami, dan penutup drum perontok.

7. Gabah akan melewati saringan dan meluncur menuju lubang pengeluaran gabah. Kemudian gabah kosong akan dihembuskan oleh Blower agar terpisah dari gabah utuh.

8. Jerami yang sudah terpisah dari gabah akan dilempar keluar melalui corong pengeluaran jerami oleh silinder perontok. Pada silinder perontok terdapat kotak pelempar jerami yang berfungsi untuk mendorong derami keluar.

9. Setelah perontokan selesai dilakukan kemudian Power Thresher dimatikan dengan cara mengurangi kecepatan putar lalu memutar Switch ke arah Off.

4.2.3 Perawatan Power Thresher

Perawatan Power Thresher yang digunakan dalam merontokkan padi di lumbung pangan desa rambeanak dilakukan setelah penggunaan Power Thresher. Perawatan yang dilakukan seperti pembersihan dan juga pengisian ulang bahan bakar yang menggunakan bahan bakar bensin.

Perawatan pada Power Thresher antara lain:

1. Membersihkan bagian meja pengumpan setelah digunakan untuk meletakkan padi yang akan dimasukkan ke dalam corong pemasukan.

(31)

Padi yang diletakkan di meja pengumpan tentunya akan meninggalkan butir – butir gabah yang rontok dan juga jerami pendek yang terangkut di sela – sela meja pengumpan, sehingga pembersihan pada meja pengumpan juga harus di lakukan akibat banyaknya butir gabah dan jerami yang tertinggal.

2. Membersihkan bagian corong pengeluaran gabah dari sisa-sisa gabah yang masih Tertinggal dalam seluncur pengeluaran. Gabah yang dirontokkan banyak yang tertinggal di bagian seluncur karena banyak padi yang masih basah. Setelah proses perontokkan berlangsung biasanya bagian peluncur akan dibersihkan menggunakan kayu atau sapu lidi untuk menarik gabah yang tertinggal.

3. Membersihkan bagian dalam perontok dari sisa-sisa jerami yang masih Tertinggal. Bagian dalam perontok tentunya menjadi tempat yang paling kotor karena sisa jerami yang udah di rontokkan terakhir kali akan tertinggal di bagian perontok. Pembersihan ini dilakukan dengan mengambil jerami yang ada di bagian perontok, terutama di bagian saringan.

4. Mengisi kembali tangki bensin yang sebelumnya sudah digunakan untuk perontokan, tangki bensin kembali diisi full setelah digunakan. Pengisian bensin selalu dilakukan setelah penggunaan Power Thresher. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam mengoperasikan Power Thresher selanjutnya, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengisi bahan bakar sebelum menggunakan Power Thresher.

5. Power Thresher disimpan kembali ke dalam gudang setelah selesai dibersihkan. Penyimpanan Power Thresher dalam gudang tentunya bertujuan agar Power Thresher tidak terkena hujan yang akan menyebabkan Power Thresher menjadi lebih cepat berkarat.

4.2.4 Resiko Kerja dan Penerapan K3

Dalam penggunaan alat mesin pertanian tentunya banyak sekali resiko kerja yang dapat kita temui di lapangan. Dalam penggunaan alat mesin pertanian kita harus berhati – hati dalam setiap tindakan yang dilakukan. Dalam penggunaannya tentunya kita harus mengetahui bagaimana pengendalian resiko kerja dengan menerapkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam

(32)

pengoperasian alat mesin Pertanian. Berikut beberapa resiko kerja yang dapat di alami saat mengoperasikan Power Thresher serta bagaimana penanganan dan penerapan K3:

1. Cedera pada saat menyalakan mesin

Alat mesin Power Thresher ini menggunakan sistem penyalaan tarik, dimana operator yang bertugas menyalakan mesin harus menarik Starter mesin sekuat mungkin agar mesin dapat menyala. Dalam penyalaan mesin ini terdapat resiko cedera bahu yang dapat dialami oleh operator. Saat terjadi cedera dapat menimbulkan beberapa kondisi seperti perubahan bentuk bahu, muncul benjolan pada bahu, hingga pembengkakan dan memar di sekitar bahu. Saat terjadi cedera segera lakukan pertolongan pertama dengan cara :

a. Istirahat, pada saat terjadi cedera segera beristirahat dan jangan menggunakan bahu untuk melakukan pekerjaan lain.

b. Kompres dengan es, lakukan pengompresan menggunakan es di bagian bahu yang cedera.

c. Balut menggunakan perban, apabila terjadi cedera kita bisa membalut bagian yang cedera agar bagian tersebut tidak mengalami banyak pergerakan.

d. Apabila cedera sangat serius segera hubungi dokter dan periksakan ke rumah sakit terdekat.

Untuk mencegah terjadinya cedera pada saat menyalakan mesin, maka posisi yang digunakan harus sesuai dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Posisi yang digunakan tidak boleh sembarangan, posisi harus sesuai agar dapat meminimalisir resiko cedera. Pada pengoperasian mesin Power Thresher yang dilakukan di lumbung pangan desa Rambeanak, cara operator menyalakan mesin sudah dapat dikatakan baik sehingga resiko cedera dapat diminimalisir.

2. Terkena putaran gigi perontok saat merontokkan padi

Pada saat melakukan perontokkan padi, kita dapat mengalami resiko terkena gigi perontok yang berputar pada saat pemasukan. Resiko ini dapat terjadi karena kurangnya kehati – harian operator saat memasukkan padi ke lubang pemasukan. Resiko yang dialami dapat berupa luka luar ringan, luka luar berat, hingga patah jari tangan.

(33)

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi resiko yang dialami seperti luka luar antara lain :

a. Pastikan luka yang dialami tidak terkena banyak kotoran.

b. Bersihkan luka menggunakan air mengalir.

c. Bersihkan luka menggunakan alkohol apabila luka yang didapat merupakan luka ringan.

d. Balut luka menggunakan kasa dan plester untuk mencegah terjadinya infeksi luar.

e. Apabila luka yang didapat merupakan luka besar dan harus di jahit segera pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan.

Untuk mencegah terjadinya resiko luka akibat memasukkan padi ke mesin, maka operator harus menerapkan Keamanan kerja dalam pengoperasian alat mesin. Salah satu cara agar resiko luka dapat di minimalisir ialah dengan menggunakan sarung tangan saat mengoperasikan mesin. Selain itu operator juga harus mengetahui bagaimana cara mengoperasikan alat mesin secara baik dan benar.

Dalam pengoperasian mesin Power Thresher yang dilakukan, dapat dikatakan penerapan K3 dalam pengoperasian belum dilakukan dengan baik. Para operator tidak ada yang memakai sarung tangan.

3. Sesak nafas akibat debu dari perontokkan

Pada saat perontokkan terdapat banyak sekali debu halus dan jerami jerami kecil yang beterbangan. Hal ini dapat menimbulkan resiko Sesak nafas yang dapat di alami semua orang. Resiko Sesak nafas dapat terjadi karena debu – debu halus yang beterbangan dapat terhirup oleh pernafasan manusia. Pada saat seperti ini pertolongan pertama yang dapat dilakukan ialah memisahkan diri dari tempat perontokkan ke tempat yang memiliki udara lebih bersih. Penerapan K3 dalam menangani resiko ini juga sangat penting. Operator yang mengoperasikan mesin Power Thresher ini diharapkan dapat menggunakan masker agar debu – debu halus tidak akan terhirup secara langsung oleh pernafasan. Pada pengoperasian Power Thresher ini masih banyak beberapa pekerja yang tidak menggunakan masker dengan benar.

4. Infeksi mata akibat debu dari perontokkan

(34)

Selain dapat menimbulkan Sesak nafas, debu halus yang beterbangan juga dapat menimbulkan infeksi mata. Debu yang beterbangan dapat hinggap di mata apabila kita berada di sekitar lingkungan pengoperasian. Pada saat resiko infeksi mata ini terjadi salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan ialah menjauh dari lokasi dan menggunakan obat tetes mata. Untuk mencegah terjadinya resiko infeksi mata maka penerapan K3 seperti penggunaan kacamata sangat diperlukan. Dalam pengoperasian mesin Power Thresher yang dilakukan, semua pekerja tidak ada yang menggunakan kacamata pelindung. Hal ini dapat menyebabkan resiko mata terinfeksi semakin besar.

4.3 Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian kepada masyarakat adalah suatu kegiatan yang memiliki tujuan untuk membantu masyarakat dalam beberapa aktifitas tertentu.

Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan oleh mahasiswa selama kegiatan PKL 1 berlangsung. Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terdapat beberapa hal yang dilakukan, antara lain:

A. Kunjungan ke Lumbung Pangan Desa Rambeanak

Kunjungan ke Tempat Penggilingan Padi dilakukan di Lumbung Pangan Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Lumbung Pangan tersebut merupakan tempat yang digunakan untuk merontokkan padi, menjemur padi, dan juga penggilingan padi. Ada 2 alat mesin pertanian yang terdapat di Lumbung Pangan tersebut, yaitu Rice Milling Unit (RMU) dan Power Thresher. Kedua alat mesin pertanian itu merupakan sumbangan pemerintah kepada Gapoktan desa Rambeanak yang diketuai oleh bapak Prasetio dan dijalankan secara berkala oleh ibu Suprihatin.

Kunjungan ke Lumbung Pangan yang dilakukan tidak hanya untuk melakukan identifikasi, melainkan juga untuk melakukan proses pengoperasian alat mesin pertanian yang terdapat di lumbung pangan. Proses perontokkan padi yang dilakukan di lumbung pangan tersebut menggunakan Power Thresher, dan proses penggilingan padi dilakukan menggunakan Rice Milling Unit (RMU) Three Phase.

(35)

RMU yang terdapat di lumbung pangan tersebut memiliki 2 Polisher sehingga RMU tersebut masuk ke dalam RMU Three Phase.

Gambar 10 Rice Milling Unit (RMU)

Gambar 11 Power Thresher

B. Membantu Proses Pendaftaran Pupuk Bersubsidi Untuk Petani

Selain mengunjungi tempat – tempat yang memiliki alat mesin pertanian, mahasiswa juga membantu para penyuluh dalam melakukan pendaftaran petani untuk pupuk Bersubsidi tahun 2023.

Proses Pendaftaran Pupuk Bersubsidi Untuk tahun 2023 sudah dilakukan di Kecamatan Mungkid. Para petani diharuskan melakukan pendaftaran dengan mengumpulkan fotocopy Kartu Tani, fotocopy KTP dan juga SPPT asli. Pendaftaran Pupuk Bersubsidi ini dilakukan di Bali Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

(36)

Gambar 12 Pendaftaran Pupuk Bersubsidi

C. Membantu Melakukan Validasi Data Petani

Setelah dilakukan pendaftaran kemudian mahasiswa juga membantu para penyuluh dalam melakukan Validasi Data yang sudah dikumpulkan oleh para petani. Validasi Data ini dilakukan di Balai Desa Paremono dan Kantor BPP Kecamatan Mungkid selama 1 Minggu. Validasi Data ini dilakukan untuk memudahkan input data yang akan di lakukan menggunakan aplikasi TAPE KETAN.

Gambar 13 Validasi di Balai Desa Paremono

Gambar 14 Validasi di BPP Mungkid

D. Mengikuti Kegiatan Panen

Kegiatan panen yang dilakukan di Kecamatan Mungkid biasanya masih menggunakan cara manual. Panen yang dilakukan masih menggunakan jasa para petani untuk memanen padi. Namun selain mengikuti kegiatan panen secara manual, mahasiswa juga

(37)

dapat mengikuti kegiatan panen padi menggunakan alat mesin Combine Harvester yang dilakukan di Desa Pagersari.

Gambar 15 Panen Manual

Gambar 16 Panen dengan Combine Harvester

(38)

BAB 5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

1. Praktik Kerja Lapangan (PKL) 1 yang telah dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan praktis mahasiswa karena mahasiswa dapat merealisasikan ilmu teoritis yang dimiliki ke dalam PKL ini.

2. Cara pengoperasian mesin Power Thresher dapat dilakukan dengan mengecek terlebih dahulu keadaan mesin, bahan bakar, hingga keamanan mesin. Lalu mesin dinyalakan dengan memindahkan switch ke on dan menarik starter. Perontokkan dapat dilakukan setelah mesin dinyalakan dengan memasukkan padi kedalam corong pemasukan.

3. Cara kerja mesin perontok padi yaitu padi yang masuk akan dirontokkan dengan menggunakan gaya gesek yang terjadi antara padi dengan gigi perontok dan penutup drum perontok. Perontokkan terjadi akibat gaya gesek yang dihasilkan oleh perputaran perontok yang cepat.

4. Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada perontokkan padi yang dilakukan di Lumbung Pangan Desa Rambeanak belum diterapkan dengan baik. Masih ada pekerja yang tidak menggunakan masker saat pengoperasian berlangsung.

5. Perawatan mesin Power Thresher dilakukan setelah mesin Power Thresher selesai digunakan. Perawatan dilakukan dengan membersihkan bagian – bagian Power Thresher yang kotor akibat jerami dan gabah, serta pengisian ulang bahan bakar bensin yang digunakan.

5.2 Saran

Dalam pengoperasian mesin Power Thresher sebaiknya para pekerja dapat menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan menggunakan pelindung diri seperti masker dan kacamata. Hal ini bertujuan agar pekerja dapat terlindungi dari resiko bahaya yang dapat terjadi di tempat kerja.

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, N. 2018. Analisis Usahatani dan Fungsi Produksi Padi Sawah di Desa Mukti Jaya Kecamatan Rimba Melintang Kabupaten Rokan Hilir.

Universitas Islam Riau.

Ahmad, S. 2016. Efisiensi Penggunaan Alat Perontok Padi (Power Thresher Dan Gebot) Terhadap Hasil Gabah Di Desa Marayoka Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Universitas Muhammadiyah Makasar.

Akbar, I. 2017. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Pembelian Benih Padi Pada Petani Di Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan.

Universitas Diponegoro.

Anonim. (2016). Mengoperasikan Alsintan Perontok Padi (Power Thresher). Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku.

Donggulo, C., Lapanjang, I. M., & Made, U. (2017). Pertumbuhan Dan Hasil Tanam Padi (Oryza sativa L) Pada Berbagai Pola Jajar Legowo Dan Jarak Tanam, 1(24), 27-35. Retrieved July 2, 2022.

Erdianti, S. 2021. Peralihan Teknologi Alat Panen Padi Dalam Meningkatkan Pendapatan Buruh Tani (Studi Pada Buruh Tani Di Desa Wiwitan Timur Kecamatan Lamasi Kabupaten Luwu). Institud Agama Islam Negeri Palopo.

Iqbal, et al.2018. Uji Unjuk Kerja Alat Dan Mesin Perontok Multiguna, 1(6), 12-16.

Retrieved July 1, 2022, from http://jrpb.unram.ac.id/.

Iswari, K. (2012). Kesiapan Teknologi Panen Dan PascapanenPadi Dalam Menekan Kehilangan Hasil Dan Meningkatkan Mutu Beras, 31(2), Retrieved July 2, 2022.

Kuswoyo, A. (2017). Rancang Bangun Mesin Perontok Padi Portabel Dengan Penggerak Mesin Sepeda Motor, 1(4), Retrieved July 4, 2022.

Novianto, R. (2013). Perancangan Mesin Perontok Padi Yang Portable Dengan Biaya Terjangkau, Retrieved July 3, 2022.

Putri, S. F. (2011). Studi Antropometri Petani Dan Kesesuaiannya Dengan Alat

“Gebot” (Papan Perontok Padi) Di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Retrieved July 4, 2022.

Rizal, M. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Perontok Padi Di Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Barat Daya. Universitas Teuku Umar.

Ruswandi, A., Subarna, T., & Bachrein, S. (2010). Pengkajian Pemanfaatan Mesin Perontok Gabah (Thresher) Dan Mesin Pengering Gabah (Dryer) Padi Sawah Di Jawa Barat, 2(13), 93-106. Retrieved July 3, 2022.

(40)

Wallubi, R., 2018. Modifikasi Alat Perontok Padi (Power Thresher) Menjadi Alat Pencacah Jerami.

(41)

LAMPIRAN Lampiran 1 Jurnal Harian Kegiatan PKL 1

JURNAL HARIAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) I

POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA TAHUN AKADEMIK 2021/2022

Nama : Rafika Kumalasari NIM : 07.16.20.045

Lokasi PKL : Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Mungkid Kab. Magelang Provinsi Jawa Tengah

No .

Hari/

Tanggal Kegiatan Foto Kegiatan

Paraf Pembimbing

Eksternal

Keterangan 1. Senin/

11 Juli 2022

Perkenalan dan Penerimaan Mahasiswa PEPI untuk

melaksanakan PKL di BPP Mungkid, Kec.

Mungkid, Kabupaten Magelang, jawa Tengah.

Kantor BPP Mungkid

2. Selasa/

12 Juli 2022

Mengunjungi rumah Warga Kecamatan Mungkid yang menyediakan jasa sewa Traktor dan Kultivator.

Desa Rambeanak

(42)

Mengikuti kegiatan

perontokkan padi menggunakan Power Thresher Tipe Aksial dan juga penggilingan gabah

menggunakan Rice

Milling Unit (RMU) Three Phase di desa Rambeanak.

Lumbung desa Rambeanak.

3. Rabu, 13 Juli 2022

Mengikuti kegiatan penyuluhan Sosialisasi

Validasi Data

RDKK Pupuk

Bersubsidi.

Balai Desa Sawitan

4. Kamis, 14 Juli

2022

Mengikuti kegiatan penyuluhan

Sosialisasi Validasi Data RDKK Pupuk Bersubsidi di Balai Desa Bojong.

Balai Desa Bojong

Mengidentifikasi

alat mesin

pertanian (Combine Harvester, Disk Mill,

dan Power

Thresher Tipe Aksial)

Desa Bojong, kecamatan

Mungkid.

(43)

5. Jum’at, 15 Juli 2022

Mengikuti kegiatan

peontokkan padi bersama pemilik Power Thresher

Dusun Dendengan, Desa Bojong.

6. Senin/

18 Juli 2022

Melakukan

identifikasi alat pengering

pertanian yang ada di UPT Balai Benih.

UPT Balai Benih Serowol

Melakukan identifikasi pembuatan rengginang

rumahan yang ada di desa Bojong.

Desa Bojong, Dusun Kojor

7. Selasa/

19 Juli 2022

Melakukan pengamatan padi yang terserang hama wereng di desa Pagersari.

Desa Pagersari

(44)

8. Rabu, 20 Juli 2022

Mengikuti proses pembuatan

rengginang di rumah bapak Didit, Dusun Kojor, Desa Bojong.

Desa Bojong, Dusun Kojor

9. Kamis, 21 Juli 2022

Mengikuti kegiatan penyuluhan tentang Pertanggung

Jawaban pengurus Gapoktan Bumirejo.

Balai Desa Bumirejo

10 .

Jum’at, 22 Juli 2022

Mengikuti kegiatan penyuluhan

Kelompok Wanita Tani (KWT) di desa Gondang.

Desa Gondang

11 .

Senin/

25 Juli 2022

Membantu penyuluh

melakukan daftar ulang Kartu Tani untuk pupuk bersubsidi

Desa Bojong

(45)

Mengikuti kegiatan penggilingan padi menggunakan RMU di Lumbung Pangan.

Desa Rambeanak

12 .

Selasa/

26 Juli 2022

Melanjutkan kegiatan daftar ulang Kartu Tani Untuk pupuk Berubsidi.

Desa Bojong

13 .

Rabu, 27 Juli 2022

Melakukan kegiatan

Perawatan mesin RMU yang ada di Lumbung Pangan.

Desa Rambeanak

14 .

Kamis, 28 Juli 2022

Mengikuti kegiatan rapat bersama penyuluh dan pemasok pupuk untuk pupuk bersubsidi.

BPP Mungkid

(46)

15 .

Jum’at, 29 Juli 2022

Melakukan kegiatan

perontokkan padi menggunakan Power Thresher di Lumbung Pangan.

Desa Rambeanak

Mengikuti

kegiatan Monev

Dosen PEPI

bersama Para Penyuluh.

BPP Mungkid

Mengunjungi tempat

pengeringan padi menggunakan Vertikal Dryer bersama Dosen PEPI.

Desa Sawangan

16 .

Senin/ 1 Agustus 2022

Membantu penyuluh

merapihkan data petani untuk pupuk bersubsidi.

BPP Mungkid

17 .

Selasa/ 2 Agustus 2022

Melakukan verifikasi dan validasi data RDKK Pupuk untuk petani.

Balai Desa Paremono

(47)

18 .

Rabu/ 3 Agustus 2022

Melakukan

verifikasi dan validasi data

RDKK Pupuk

untuk petani.

BPP Mungkid

19 .

Kamis/ 4 Agustus 2022

Melakukan

verifikasi dan validasi data RDKK Pupuk untuk petani.

BPP Mungkid

20 .

Jum’at/ 5 Agustus 2022

Melakukan

verifikasi dan validasi data

RDKK Pupuk

untuk petani.

BPP Mungkid

Tangerang, Agustus 2022

Rafika Kumalasari NIM. 07.16.20.045

Gambar

Gambar 1 Padi Menguning Siap Panen
Gambar 2 Power Thresher
Gambar 3 Gerbang BPP Mungkid
Gambar 4 BPP Mungkid  B.  Tugas BPP Kecamatan Mungkid
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini 1) untuk mengetahui profile petani padi organik, 2 ) untuk mengetahui perbedaan produktivitas, 3) perbedaan keuntungan, dan 4) perbedan

Dari hasil penelitian di lapangan peledakan dengan menggunakan sekam padi untuk perbandingan 1:4 itu telah mencapai ukuran standar fragmentasi dari perusahaan

1 Harga sesuai kualitas benih padi yang di tawarkan produsen menjadi pertimbangan saya untuk mengambil keputusan dalam membeli benih padi.. 2 Harga relatif terjangkau benih

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani padi (2) Besarnya efisiensi usahatani padi (3) Faktor-faktor

Tahap selanjutnya merupakan tahap pelaksanaan, yaitu pengabdi merancang mesin perontok padi mini berpenggerak motor bakar dalam bentuk gambar kerja dengan tujuan

Hasil observasi di lapangan menunjukan beberapa perbedaan antara teknologi yang digunakan dengan sistem upah yang diterapkan (lihat Tabel 4.) Sistem upah di lokasi kajian

Pasal 2 Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi pembayaran Biaya Penyelenggaraan Pendidikan BPP seperti disebutkan dalam Pasal 1, maka PIHAK KEDUA bersedia menerima sanksi baik

Praktik Kerja Lapangan merupakan kegiatan yang wajib dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan program Strata 1 S1 di Universitas Teknokrat Indonesia Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer