• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI MELIUK DAN MENERJANG DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI METODE PBL (PROBLEM BASED LEARNING) KELAS III SDN LOWOKWARU 2 KOTA MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI MELIUK DAN MENERJANG DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI METODE PBL (PROBLEM BASED LEARNING) KELAS III SDN LOWOKWARU 2 KOTA MALANG"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

3652 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI MELIUK DAN MENERJANG DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI METODE PBL (PROBLEM BASED

LEARNING) KELAS III SDN LOWOKWARU 2 KOTA MALANG

Nisa Nur Baiti

PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]

ABSTRACT

This study aims to assess the learning outcomes of the "meliuk and menerjang"

topic using audio-visual media through the Problem Based Learning (PBL) method in the third grade of Lowokwaru 2 City Malang Elementary School. The participants of this research were 12 third-grade students. The research employed the Classroom Action Research (CAR) method, and data were collected through end- of-cycle I and end-of-cycle II tests, as well as through observation sheets, student questionnaires/feedback, and reflective questions. The findings of this study indicate that the use of audio-visual media with the PBL method enables students to focus on real-life problems and helps develop their critical thinking skills in problem-solving and generating creative ideas. Students were able to find answers individually and through group discussions. Based on the collected data, it can be concluded that the implementation of audio-visual media with the PBL method in the third grade of Lowokwaru 2 City Malang Elementary School has a positive impact on student learning outcomes.

Keywords: PBL (Problem Based Learning), PTK

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar materi meliuk dan menerjang dengan menggunakan media audio visual melalui metode PBL (Problem Based Learning) pada kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang. Subjek penelitian terdiri dari 12 peserta didik kelas III. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar pada akhir siklus I dan tes akhir siklus II, serta menggunakan lembar observasi, kuesioner/tanggapan peserta didik, dan pertanyaan refleksi peserta didik sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dengan model problem based learning dapat membantu peserta didik dalam memfokuskan pembelajaran pada masalah-masalah sehari-hari dan mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah serta menemukan ide-ide kreatif sebagai solusi. Peserta didik juga mampu menemukan jawaban secara individu maupun melalui diskusi kelompok. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dengan metode PBL (Problem Based Learning) pada kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang memberikan dampak positif terhadap hasil belajar peserta didik.

Kata Kunci: PBL (Problem Based Learning), PTK

(2)

3653 A. Pendahuluan

Menurut (Sectio Rini, 2013), Pendidikan merupakan segala upaya dan usaha yang dilakukan untuk memungkinkan masyarakat dalam mengembangkan potensi manusia.

Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membantu individu agar memiliki kekuatan spiritual dan keagamaan, kemampuan untuk mengendalikan diri, pengembangan kepribadian, kecerdasan, moralitas yang baik, serta keterampilan yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang berperan serta dalam negara.

Dalam era teknologi dan informasi yang terus berkembang, penting bagi para pendidik untuk

memperkenalkan metode

pembelajaran inovatif yang dapat memotivasi peserta didik dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran.

Metode pembelajaran yang efektif dan menarik dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi peserta didik. Salah satu metode yang telah terbukti efektif adalah PBL (Problem Based Learning) atau Pembelajaran Berbasis Masalah.

Model pembelajaran PBL adalah pendekatan yang memperkenalkan

peserta didik kepada sebuah masalah yang perlu mereka selesaikan (Noly &

Eka Wulandari, 2018). Dalam PBL, peserta didik tidak hanya menjadi penerima pasif informasi, tetapi mereka aktif terlibat dalam proses pembelajaran dengan mencari solusi

dan pemahaman melalui

penyelesaian masalah yang dihadapi.

Metode PBL menempatkan peserta didik sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, di mana mereka diajak untuk aktif berpartisipasi dalam memecahkan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari (Nuraini, 2017).

Dalam konteks ini, penelitian ini akan membahas tentang peningkatan hasil belajar materi meliuk dan menerjang dengan menggunakan media audio visual melalui metode PBL pada peserta didik kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang. Materi

"Meliuk dan Menerjang" dipilih karena merupakan salah satu materi yang diajarkan dalam kurikulum sekolah dasar dan melibatkan gerakan fisik yang penting untuk kesehatan dan perkembangan motorik peserta didik.

Pada saat ini, media audio visual telah menjadi salah satu alat yang sangat efektif dalam proses pembelajaran. Penggunaan media

(3)

3654 audio visual dapat memfasilitasi

pemahaman peserta didik dengan cara yang lebih visual dan interaktif (Fadillah, 2020). Video yang menunjukkan contoh gerakan meliuk dan menerjang yang benar dapat membantu peserta didik memvisualisasikan gerakan tersebut dan memahami konsep materi dengan lebih baik.

Penerapan metode PBL dalam pembelajaran meliuk dan menerjang akan memberikan peserta didik kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kerjasama, dan pemecahan masalah.

Selain itu, metode ini juga mendorong peserta didik untuk aktif mencari informasi tambahan melalui sumber- sumber lain, seperti buku, internet, atau wawancara dengan ahli.

Dalam artikel ini, akan dibahas langkah-langkah yang dilakukan dalam implementasi metode PBL dengan media audio visual pada materi meliuk dan menerjang di kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi para pendidik dalam menerapkan metode pembelajaran yang inovatif dan menarik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta

didik dalam menguasai materi meliuk dan menerjang.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK). PTK adalah metode penelitian yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru sebagai praktisi di dalam kelas (N Septantiningtyas, MD Jailani, 2019). Tujuan utama dari PTK adalah untuk meningkatkan praktik pembelajaran dan hasil belajar peserta didik melalui siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanya jawab, demonstrasi, diskusi dan penugasan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang dengan jumlah peserta didik 12.

Penelitian dilakukan dalam beberapa siklus, di mana setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, dengan.

Menggunakan hasil belajar akhir siklus I dan ujian akhir siklus II dan

(4)

3655 menggunakannya lembar observasi,

angket atau jawaban peserta didik dan pertanyaan refleksi peserta didik.

Keberhasilan guru dalam setiap pencapaiannya diukur dengan mencapai dua indikator sebagai berikut: 1) Pembelajaran dengan model PBL (Problem Based Learning) dan media audio-visual meningkatkan pemikiran kritis sebesar 70% setelah implementasi. 2) Pembelajaran dengan model PBL (Problem Based Learning) dan media audio visual

meningkatkan hasil

70% pembelajaran.

C.Hasil Penelitian dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan media audio visual.

Tabel 1 Hasil Angket Keterampilan Berfikir Kritis Peserta didik Pada

Siklus I

No. Skor Kategori F Presentase

1 90-

100

SK 2 16,67%

2 80-

89

K 5 41,67%

3 65-

79

CK 4 33,33%

4 55-

64

TK 1 8,33%

5 <55 STK

Skor tertinggi

92

Skor terendah

55

Rata- rata

80

JUMLAH 12 100%

Keterangan:

CK = Cukup Kritis SK = Sangat Kritis K = Kritis

TK = Tidak Kritis

STK = Sangat Tidak Kritis

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa 12 orang peserta didik dengan persentase (41,67%) mencapai kategori kritis, sedangkan 4 orang peserta didik dengan persentase (33,33%) mencapai kategori cukup kritis. Selanjutnya 2 orang peserta didik dengan presentase (16,67%) mencapai kategori sangat kritis dan 1 orang peserta didik dengan persentase (8,33%) dengan kategori tidak kritis.

Tabel 2 Hasil Angket Keterampilan Berfikir Kritis Peserta didik Pada

Siklus II

No. Skor Kategori F Presentase

1 90-

100

SK 4 33,33%

2 80-89 K 8 66,67%

3 65-79 CK

4 55-64 TK

5 <55 STK

Skor tertinggi

93

Skor terendah

80

Rata-rata 80

JUMLAH 12 100%

Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa keterampilan

(5)

3656 berfikir kritis peserta didik kelas III

SDN Lowokwaru 2 Kota Malang. Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa adanya peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada siklus II.

Adanya peningkatan yang terjadi pada siklus II, dari tabel diatas bahwa ada 4 orang peserta didik yang termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan persentase (33,33%). Sedangkan ada 8 orang peserta didik yang memiliki kategori kritis dengan persentase (66,67%). Adanya 4 orang peserta didik yang memiliki kategori sangat kritis dengan mendapatkan nilai rata- rata diatas 90, sedangkan 11 orang peserta didik lainnya mendapatkan nilai rata-rata 80.

Pada tahap awal penelitian ini, model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan bantuan media audio visual belum diterapkan.

Namun, setelah menerapkan model PBL dengan bantuan audio visual pada siklus I, ditemukan bahwa 4 orang peserta didik (33,33%) mencapai kategori kritis, 5 orang peserta didik (41,67%) mencapai kategori cukup kritis, 2 orang peserta didik (16,67%) mencapai kategori sangat kritis, dan 1 orang peserta didik (8,33%) mencapai kategori sangat tidak kritis.

Selanjutnya, pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh adanya kerjasama antara guru dan peserta didik yang terlibat aktif dalam pembelajaran.

Peningkatan tersebut terlihat dari hasil siklus II, di mana 4 orang peserta didik (33,33%) termasuk dalam kategori sangat tinggi dan 8 orang peserta didik (66,67%) memiliki kategori kritis.

Perubahan ini menunjukkan bahwa adanya kolaborasi antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran, serta bantuan video sebagai media audio visual, memungkinkan peserta didik untuk melihat contoh-contoh terkait materi yang diajarkan. Selain itu, peserta didik dapat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan teman sekelas dalam memecahkan masalah.

Dalam mengatasi masalah, peserta didik perlu mengaplikasikan berpikir kritis.

Temuan penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Yunin Nurun Nafiah, 2014). Penelitian sebelumnya tersebut juga menggunakan model PBL dan menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik.

Peningkatan kemampuan berpikir kritis melalui penerapan

(6)

3657 model PBL dan pendekatan audio

visual memberikan dampak positif bagi guru dalam menunjukkan keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi kepada peserta didik agar lebih termotivasi dalam belajar dan lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat.

Keunggulan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya adalah penggunaan media audio visual sebagai alat untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Dengan demikian, penerapan model PBL dengan pendekatan audio visual dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang. Penilaian kemampuan berpikir kritis peserta didik dilakukan melalui kuesioner, yang dijawab oleh peserta didik sesuai dengan kemampuan mereka. Rubrik evaluasi terdiri dari kategori sangat kritis, kritis, cukup kritis, tidak kritis, dan sangat tidak kritis. Selain itu, peserta didik juga mengikuti instruksi guru untuk melakukan tugas, bekerja dalam kelompok, dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

D. Kesimpulan

Dari hasil-hasil yang telah disajikan di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dalam model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik di Kelas III SDN Lowokwaru 2 Kota Malang. Keberhasilan ini dapat dikonfirmasi melalui pencapaian indikator yang telah ditetapkan, di mana pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan. Terdapat 4 orang peserta didik yang mencapai kategori sangat kritis, sementara 8 orang peserta didik mencapai kategori kritis. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik telah ditingkatkan melalui pendekatan audio visual, yang membantu peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dengan melihat contoh langsung melalui video. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dengan pendekatan audio visual dapat dikategorikan sebagai berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

Fadillah, M. (2020). UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PESERTA DIDIK

DENGAN PEMANFAATAN

MEDIA AUDIO-VISUAL DI

(7)

3658 KELAS RENDAH. Jurnal

Penelitian, Pendidikan Dan Pengajaran, 1, 2–3.

http://jurnal.umsu.ac.id/index.php N Septantiningtyas, MD Jailani, W. H.

(2019). PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

Noly, S., & Eka Wulandari, F. (2018).

MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM

MELATIH SCIENTIFIC

REASONING PESERTA DIDIK.

Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 3, 34.

Nuraini, F. (2017). PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK

MENINGKATKAN HASIL

BELAJAR IPA PESERTA DIDIK

KELAS 5 SD. E-

Jurnalmitrapendidikan, 1, 370.

Sectio Rini, Y. (2013). PENDIDIKAN:

HAKEKAT, TUJUAN, DAN PROSES.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/

files/penelitian/Dra. Yuli Sectio Rini, M.Hum./PENDIDIKAN HAKEKAT, TUJUAN, DAN PROSES Makalah.pdf

Yunin Nurun Nafiah, W. S. (2014).

Penerapan Model Problem- Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Peserta didik. 125–143.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan model Problem Based Instruction berbantuan media audio visual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya PKn pada KD 4.1, 4.2, dan 4.3 ,

dengan media Audio Visual di Kelas IV SDN Ngaliyan 03 Semarang?.. Rumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut. 1) Apakah melalui model PBL dengan media Audio Visual

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Untuk mengetahui kebutuhan terhadap penggunaan media audio visual berbasis problem based learning (PBL) pada pembelajaran geografi

Berdasarkan hasil dari tiga siklus sebanyak enam kali pertemuan secara optimal bahwa penggunaan media audio visual dapat membantu meningkatkan hasil belajar

menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “ Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbantu Media Audio Visual Untuk Meningkatkan Kemampuan

PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP AKTIVITAS EKONOMI YANG BERKAITAN DENGAN SUMBER DAYA ALAM (Penelitian Tindakan Kelas Pada Peserta

Adapun penilitian terdahulu dengan judul “Model Problem Based Learning PBL Berbantuan Media Audio Visual untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis pada Siswa Kelas 5 Sekolah

dapat disimpulkan bahwa: “Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual pada materi Mata Pencaharian Arab sebelum Islam Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur: Hasil