• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual

Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur

Mariana

E-mail: [email protected] IAIN PALANGKA RAYA

Abstract

Pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses komunikasi yang melibatkan guru sebagai sumber informasi dan siswa sebagai penerima pesan pembelajaran atau yang di kenal sebagai materi pelajaran. Media komunikasi pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan agar komunikasi berjalan secara efektif dan efisien.

Pembelajaran SKI adalah usaha sadar yang dilakukan guru untuk memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalam peradaban Islam beserta tokoh-tokohnya dengan tujuan untuk memotivasi siswa ke arah perubahan tingkah laku yang mulia. Dalam rancangan penelitian ini peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas, di mana peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Media merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. penggunaan media pembelajaran audio visual dalam proses belajar mengajar tentunya juga membangkitkan minat belajar siswa karena siswa akan merasa belajar menjadi sangat menyenangkan, khususnya di sekolah dasar/madrasah, Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Dalam rancangan penelitian ini peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) di mana peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas. yang dilakukan pada kelas 3 A. Pada penelitian ini dihasilkan: Hasil belajar siswa pada pelajaran SKI menggunakan media audio visual pada siklus I dengan nilai menunjukkan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa yang mencapai ketuntasan belajar secara individu sebanyak 10 orang atau 62,5% sedangkan 6 orang atau 47,22% belum mencapai ketuntasan belajar. Rata-rata hasil diperoleh siswa adalah 37,5% belum memenuhi KKM yang ditentukan oleh MIN 2 KOTIM yaitu 65 pada pelajaran SKI. hasil tes akhir siswa 16 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sesuai dengan ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 73,43. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas III MIN 2 Kotawaringin Timur telah mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru pada pelajaran SKI dan menunjukkan peningkatan selama pembelajaran dengan menggunakan media audio visual

Kata Kunci: Hasil Belajar, Media Audio Visual, Mata Pencaharian Arab sebelum Islam

(2)

Pendahuluan

Pendidikan sebagai sistem memiliki komponen Komponen tertentu yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan. Komponen komponen penting dalam pendidikan antara lain subyek yang dibimbing, Orang yang membimbing atau Pendidik, interaksi edukatif, materi pendidikan, alat dan metode, dan lingkungan pendidikan (Husamah,. Dkk, 2019:41). Pendidikan agama di sekolah merupakan suatu upaya untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta menjadikannya warga Negara yang bertanggung jawab. Salah satu pelajaran agama di Madrasah yaitu Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang menceritakan banyak sejarah Nabi dan Shabat-sahabat beliau.

Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah menekankan pada kemampuan mengambil ibrah/hikmah (pelajaran) dari sejarah Islam, meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena social, budaya, politik, ekonomi, iptek, seni, dan lain-lain, untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam pada masa kini dan masa yang akan datang. Pembelajaran SKI adalah usaha sadar yang dilakukan guru untuk memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalam peradaban Islam beserta tokoh-tokohnya dengan tujuan untuk memotivasi siswa ke arah perubahan tingkah laku yang mulia.

Sejarah kebudayaan Islam merupakan pelajarannya harus dipahami oleh siswa, karena dalam pelajaran sejarah juga banyak kisah kisah yang menunjukkan keteladanan yang bisa diambil Ibrah bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari, maka siswa harus mengetahui bagaimana proses perkembangan serta sejarah Islam pada saat nabi dilahirkan sampai masa penurunan Wahyu yakni turunnya agama Islam yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW serta proses penyebaran agama Islam sampai kepemimpinan nabi Muhammad serta kepemimpinan sahabat sahabat nabi.

Pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses komunikasi yang melibatkan guru sebagai sumber informasi dan siswa sebagai penerima pesan pembelajaran atau yang di kenal sebagai materi pelajaran. Media komunikasi pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan agar komunikasi berjalan secara efektif dan efisien (Humairah, 2019:1). Artinya, media digunakan untuk penerima pesan dapat menangkap secara benar dan utuh segala informasi yang disampaikan sebagai pesan dari pembelajaran.

Media merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Melalui media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh psikologis

(3)

terhadap siswa (Humairah, 2019:1). Jadi Dalam proses pembelajaran Diperlukanya suatu media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran terkhusus pada pelajaran Sejarah kebudayaan Islam.

Berdasarkan beberapa temuan penelitian sebelumnya, penggunaan media pembelajaran audio visual dalam proses belajar mengajar tentunya juga membangkitkan minat belajar siswa karena siswa akan merasa belajar menjadi sangat menyenangkan, khususnya di sekolah dasar/madrasah, Pada penelitian sebelumnya dihasilkan bahwa penggunaan video pembelajaran animasi dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas 3 SKI di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Mun'im Karangayar Paiton Probolinggo. Pembelajaran ini dilakukan oleh guru SKI di kelas 3A dan melibatkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses pembelajaran kemudian berupa video animasi yang didasarkan pada materi pembelajaran dan dilengkapi gambar kartun, suara, dan tulisan. Dibandingkan dengan sebelum menggunakan video pembelajaran animasi, pembelajaran dengan video ini akan lebih baik dan berjalan lebih lancar. Banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan guru setelah ditayangkannya video pembelajaran animasi menunjukkan adanya peningkatan minat siswa terhadap mata pelajaran SKI. Selain itu, mengikuti proses pembelajaran dapat menggairahkan siswa. Implementasi video pembelajaran animasi untuk meningkatkan minat terhadap SKI menghadirkan tantangan dan solusi, antara lain kebutuhan penambahan waktu belajar dan memori laptop yang memadai. sehingga video dapat digunakan secara efektif dalam proses pembelajaran. (Aisyah, 2023:210).

Antusiasme siswa terhadap proses pembelajaran dan minat belajar juga didorong oleh video pembelajaran animasi. Akibatnya, video animasi berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa dan menjadi alat untuk pencapaian siswa (Rahayu dan Prayitno, 2020). Selanjutnya pada penelitian Fitri Humaira dengan judul “Peningkatan hasil belajar siswa mealui media audio visual pada materi Khulafaur Rasyidin Kelas VII Mtsn Aceh Jaya” Hasil penelitian yang diperoleh dari lembar aktivitas guru pada siklus 1 dengan rumus persentase rata-rata 3,45%, dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai persentase ratarata 3,95% (sangat baik) dan hasil dari pengolahan data hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam (SKI) dengan menggunakan media audio visual pada siklus I mencapai 40% dan pada siklus II meningkat 85% termasuk dalam katagori sangat baik. Dengan demikian, penggunaan media visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran SKI di MTsN 2 Aceh Jaya (Humairah, 2019).

Dari pemaparan diatas Penulis merasa perlunya untuk melakukan penelitian dengan topik “Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual pada materi Tradisi Masyrakat Arab sebelum Islam Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur”.

(4)

Metode

Dalam rancangan penelitian ini peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), di mana peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas(kelompok peserta didik) secara bersama.

PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh Pendidik di dalam kelas nya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki mutu serta kualitas proses pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas. PTK harus tertuju atau ber substansi pada hal hal yang terjadi di dalam kelas Kurniawan,2017:8).

penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah tindakan yang terencana untuk memecahkan masalah yang dihadapi di dalam kelas agar dapat memperbaiki kualitas situasi sosial dalam meningkatkan praktek-praktek pembelajaran dikelas secara professional (Humairah, 2019:30). Jadi PTK adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas.

Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.

Populasi adalah wilayah Generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, populuasi dalam penelitian ini ada kelas 3 yaitu 3 A dan 3 B yang seluruhnya berjumlah 52 siswa. Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi misal karena terbatasnya dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel dalam penelitian adalah kelas 3A. Teknik pengambilan sapel yang digunakan adalah Probability sampling yaitu pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Tabel 1.

Keterengan Siklus I Siklus II

Pretest 43,75% -

Postest 62,5% 73,43%

(5)

SIKLUS I

siswa yang memperoleh nilai tes awal di atas 65 adalah 43,75%. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa adalah 60 berdasarkan KKM yang ditetapkan yaitu 65, ini berarti pemahaman konsep siswa secara klasikal belum mencapai 80% maka berarti, pemahaman konsep siswa belum memenuhi KKM yang ditetapkan. Jadi, hanya 7 orang siswa yang mencapai ketuntasan individu.

Sedangkan 9 siswa lainnya masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Setelah dilakukan pre-test, guru melanjutkan kegiatan awal dengan melakukan apersepsi, menyampaikan team pembelajaran yaitu tentang Mata Pencaharian Arab sebelumIslam serta menyampaikan tujuan pembelajaran. Kegiatan selanjutnya yaitu tahap pembahasan (kegiatan inti).

Pada tahap ini, siswa menonton video terkait pembelajaran. Kemudian Guru menjelaskan materi kepada siswa. Kemudian setelah menjelaskan pelajaran, guru membagikan siswa dengan 5 kelompok. Kemudian guru membagikan LKPD kepada setiap kelompok sebagai bahan dalam kegiatan diskusi dengan menjelaskan petunjuk cara mengerjakan LKPD, di dalam LKPD tersebut terdapat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran yang baru dipelajari dan meminta siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut secara berkelompok dengan menuliskan hasil pemikiran-pemikiran anggota kelompok pada LKPD yang telah disediakan. Di dalam kelompok, siswa secara berkelompok mendiskusikan apa yang dipikirkan sampai mendapat jawaban yang terbaik dan guru pun mendampingi siswa dalam kegiatan diskusi kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok diminta perwakilan untuk menjawab soal yang telah didiskusikan di depan kelas. Setelah semua pertanyaan dijawab, guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang telah didiskusikan dari tadi. Pada bagian penutup guru meminta beberapa siswa untuk menyimpulkan pembelajaran kemudian diberi penguatan. Setelah itu guru membagikan dan meminta siswa untuk mengerjakan lembar soal post-test. Hal ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan yang didapatkan siswa setelah dilakukannya tindakan pada siklus ini. Kemudian guru melakukan refleksi dengan menanyakan kepada siswa apakah telah paham dengan materi yang telah dipelajari dan guru memberikan pesan-pesan moral kepada siswa, kemudian dilanjutkan dengan mengucapkanhamdallahsecara bersama-sama dan ditutup dengan salam.

Hasil belajar siswa diperoleh setelah berlangsungnya proses belajar pada modul ajar siklus I, di mana guru memberikan tes akhir ataupost-testdengan jumlah 20 soal yang diikuti oleh 16 siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran media audio visual. maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang memperoleh nilai tes awal di atas 65 adalah

(6)

62,5%. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa adalah 66,87 berdasarkan KKM yang ditetapkan yaitu 65, ini berarti pemahaman konsep siswa secara klasikal sudah mencapai. Jadi, hanya 6 orang siswa yang mencapai ketuntasan individu. Sedangkan 10 siswa lainnya masih belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

peneliti melakukan refleksi dengan melihat hal-hal yang perlu diperbaiki ketika proses pembelajaran berlangsung pada siklus I. Penjelasan tentang hasil permasalahan untuk aspek-aspek yang perlu diperbaiki selama proses pembelajaran pada siklus I sebagai berikut: Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada siklus ini masih terdapat kelemahan. Di antara kelemahannya adalah kemampuan dalam membimbing siswa saat membentuk kelompok, kemampuan guru dalam menjelaskan mengenai aturan dan tata cara dalam menggunakan media audio visual. Serta kemampuan guru dalam mengontrol kelas saat kerja kelompok berlangsung. Namun untuk meningkatkan hasil persentase agar menjadi lebih baik lagi maka harus diadakan kembali peningkatan pada setiap aspek dan kemampuan guru dalam mengajar pada siklus berikutnya.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan siswa yang dianggap masih perlu ditingkatkan yaitu kurangnya antusias siswa dalam mendengarkan penyampaian materi dan mendengarkan penjelasan aturan dan taat cara memperhatikan media audio visual, masih terlihat siswa yang memilih diam dan mendengar pendapat temannya dan juga terlihat beberapa kelompok yang tidak mempedulikan pendapat kelompoknya sehingga hanya beberapa siswa yang bekerja dalam kelompok tersebut, sebagian melakukan kegiatan yang lain seperti berbicara dengan kawannya. Dan ada beberapa aspek lain yang perlu ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya: Hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan di MIN 2 KOTIM yaitu 65 dan masih berada di bawah 80%, maka pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran SKI di siklus I belum mencapai ketuntasan belajar klasikal. Maka perlu diadakan tindakan selanjutnya untuk mencapai ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio visual pada pembelajaran SKI.

SIKLUS II

Hasil tes akhir siswa 16 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sesuai dengan ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 73,43. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas III MIN 2 Kotawaringin Timur telah mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru pada pelajaran SKI dan menunjukkan peningkatan selama pembelajaran dengan menggunakan media audio visual.

(7)

Proses pembelajaran dapat dikatakan optimal apabila terdapat keaktifan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Tolak ukur dari keberhasilan guru dalam mengajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian ini untuk melihat hasil pembelajaran SKI, Berhasil atau tidaknya belajar tergantung kepada bermacam-macam faktor. Salah satunya adalah faktor pengajar yang meliputi pengetahuan tentang materi pelajaran, keterampilan mengajar, minat, motivasi, sikap, perhatian, kesehatan dan kondisi fisik pada umumnya.

Penggunaan media audio, visual, dan audiovisual dalam sebuah pembelajaran di sekolah dirasa sudah tidak asing lagi di dunia pendidikan.

Apalagi di zaman yang sudah modern seperti ini teknologi sudah sangat canggih. Hal ini menuntut guru untuk bisa menguasai dan mengoperasikannya (Naser,2022:468). Sejalan dengan hal ini mata pelajaran SKI yang dipandang sebagai mata pelajaran yang susah dan yang kurang mengasikkan di mata siswa, akan lebih menarik perhatian dan membangkitkan minat belajar siswa ketika guru menggunakan media pembelajaran audio, visual, dan audiovisual dalam melakukan pembelajaran. Setelah peneliti melakukan penelitian di MIN 2 Kotawaringin Timur penggunaan media pembelajaran di sekolah ini, maka hasil penelitian dapat dipaparkan sebagai berikut ini. Dalam suatu pembelajaran, seperti pembelajaran SKI sebagai seorang guru harus dapat mengemas materi pembelajaran dengan sekreatif mungkin sehingga materi tersebut dapat tersampaikan dengan baik oleh siswa dan dapat dipahami dan dimengerti. Dalam prosesnya guru akan menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk memudahkan dalam menjelaskan materi pelajaran khususnya SKI kelas III. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa proses belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Di dalam berkomunikasi sering terjadi penyimpangan, pembiasan dan kesalahpahaman pada saat proses komunikasi berlangsung. Maka penggunaan media secara integratif dalam proses belajar mengajar ini diharapkan dapat meningkatkan keserasian dan penerimaan informasi. Media audio visual yang dapat digunakan dalam pembelajaran banyak ragamnya. Setiap jenis alat memiliki tingkat keefektifan sendiri-sendiri. Penggunaannya untuk meningkatkan dan keaktifan dan keefektifan belajar tergantung pada jenisnya, ketersediaannya dan kemampuan menggunakannya, pemakaian media audio visual sangat mendukung proses pembelajaran ski Kelas III.

Kesimpulan

Berdasarkan analisa data penelitian tindakan dan pembahasan tentang pembelajaran di MIN 2 KOTIM subjek penelitian sebanyak 16 siswa, maka

(8)

dapat disimpulkan bahwa: “Peningkatan hasil belajar Peserta Didik melalui media Audio Visual pada materi Mata Pencaharian Arab sebelum Islam Kelas III di MIN 2 Kotawaringin Timur: Hasil belajar siswa pada pelajaran SKI menggunakan media audio visual pada siklus I dengan nilai menunjukkan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa yang mencapai ketuntasan belajar secara individu sebanyak 10 orang atau 62,5% sedangkan 6 orang atau 47,22%

belum mencapai ketuntasan belajar. Rata-rata hasil diperoleh siswa adalah 37,5% belum memenuhi KKM yang ditentukan oleh MIN 2 KOTIM yaitu 65 pada pelajaran SKI. hasil tes akhir siswa 16 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sesuai dengan ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 73,43. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas III MIN 2 Kotawaringin Timur telah mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru pada pelajaran SKI dan menunjukkan peningkatan selama pembelajaran dengan menggunakanmedia audio visual

Referensi

Abdurrahman, Dudung. 2007.Metodologi Penelitian Sejarah, Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media

Aisyah, Nur, 2023. PENERAPAN VIDEO PEMBELAJARAN ANIMASI DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SKI, Vol. 3, No. 4. Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam

Ananda, Tiara, 2023. Penerapan Media Audio Visual dalam Metode Small Group Discussion Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Di Mts Negeri 4 Jakarta.

Damayanti, 2021. Penggunaan media audio visual dalam meningkatkan hasil belajar Aqidah Ahlaq pada peserta didik kelas enam SDN tiga tiga Lebong. Lebong:

CV Tatakata Grafika

Fachrudin, Yudhi ANALISIS PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM. Jurnal Pemikiran dan Pendidikan dasar.

Hanafi, M. 2012. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

Haryono, 1999. Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya

Humairah, Fitria. 2019. PENINGKATAN HASIL BELAJAR SKI MELALUI MEDIA AUDIO VISUAL PADA MATERI KHULAFAUR RASYIDDIN KELAS VII MTsN 2 ACEH JAYA.Palangka Raya

Husaini,Hinai., Ramayani, Nurmisda. Media Pembelajaran Audio Visual Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran SKI di MTS Al-Hidayah. Vol 01, No 04

(9)

Husamah, dkk., 2019.Pengantar Pendidikan. Malang: Universitah Muhamadiyah Malang.

Kurniawan, Nurhafit, 2017.Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Deepublish.

Kustandi, Cecep. 2020. Pengembangan media pembelajaran konsep dan aplikasi pengembangan media pembelajaran bagi Pendidik di sekolah dan masyarakat edisi pertama. Jakarta: kencana.

Lukman, Suyud, 2020.Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 3. Kementerian Agama RI.

M.Naser, Rahma, 2022. Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Arab Siswa Melalui Media Audio Visual dalam Manajemen Pendidikan Islam Tinjauan (Studi di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Palu), Vol 5, No 8.

Peraturan Mentri Agama RI No 2 tahun 2008 tentang Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan PAI

Rahayu, Ratna Dwi, and Eko Prayitno. 2020. “Minat Dan Pemahaman Konsep Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning Berbantuan Media Video.” Jurnal Pendidikan IPA Veteran 4 (1): 69–80.

doi: 10.31331/jipva.v4i1.1064.

Suryani, Nunuk, dkk,. 2020. Media Pembelajaran Inovatif dan Pengembangannya.

Surakarta: PT.Remaja Rosdakarya.

Sumiharsono, Rudy, Hasanah Hibiyatul., 2017.Media Pembelajaran. Jawa Timur:

CV Pustaka Abadi.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan kualitas proses pembelajaran mengemukakan kembali berita dengan media audio visual pada peserta didik kelas VIII B

PENGARUH MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DI. MIN

Dari hasil penilaian penggunaan media audio visual menunjukkan peningkatan hasil belajar Fiqih materi shalat fardhu peserta didik kelas II MI Muhammadiyah Larangan

Adanya peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar PAI peserta didik kelas V setelah dalam pembelajaran menggunakan media audio visual, dari siklus I yaitu 30% dengan

Terdapat peningkatan hasil belajar IPA menggunakan model pembelajaran Direct Instraction(DI) berbantuan media Audio Visual pada peserta didik kelas IV SDN-3 Panarung

Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar peserta didik setelah kegiatan pembelajaran menggunakan media audio visual, mulai dari prasiklus, siklus 1, dan

Pada penelitian ini peneliti membuat indikator keberhasilan Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan SKI pada materi Kebudayaan Masyarakat Makkah Sebelum Islam Kelas XB

Dari uraian pada bab sebelumnya, dapat diambil simpulan sebagai berikut Media pembelajaran audio visual dapat meningkatan hasil belajar pesertsa didik pada materi Aransemen Musik