PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA MELALUI METODEPAIRED STORYTELLING PADA MATA PELAJARAN
BAHASA INDONESIA KELAS 5 SD INPRES PAMPANG 1 KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Oleh RUSLI RIANG NIM 4512103237
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2017
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA MELALUI METODE PAIRED STORYTELLING PADA MATA PELAJARAN
BAHASA INDONESIA KELAS 5 SD INPRES PAMPANG 1 KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.)
Oleh RUSLI RIANG NIM 4512103237
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR 2017
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA MELALUI METODE PAIRED STORYTELLING PADAMATA PELAJARAN
BAHASA INDONESIA KELAS 5 SD INPRES PAMPANG 1 KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
RUSLI RIANG NIM 4512103237
Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui oleh:
Makassar,Februari 2017 Menyetujui
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dra.Hj. AndiHamsiah, M. Pd Susalti Nur Arsyad, M.Pd NIDN. 0905086901 NIDN.
Mengetahui Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
St. Muriati, S.Pd., M.Pd NIDN: 09090938801
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul
“Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa melalui Metode Paired Storytelling Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar” beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, bukan karya hasil plagiat. Saya siap menanggung risiko/sanksi apabila ternyata ditemukan adanya perbuatan tercela yang melanggar etika keilmuan dalam karya saya ini, termasuk adanya klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Makassar, Februari 2017 Yang Membuat Pernyataan,
Rusli Riang
iv ABSTRAK
Rusli Riang . 2017. Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa melalui Metode Paired Storytelling Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar. Skripsi. Dibimbing oleh Hamsiah dan Susalti Nur Arsyad.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil peningkatan kemampuan berbicara Bahasa Indonesia murid kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar dengan menggunakan metode Paired Storytelling.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas V SD Inpres I Pampang Makassar yang berjumlah30 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes pada siklus I dan II dan melakukan observasi.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hasil belajar peserta didik dalam penelitian ini menunjukan peningkatan yang sangat baik.
Pada data awal nilai rata-rata peserta didik hanya memperoleh nilai rata- rata sebesar 49.75 nilai ini masih kurang dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 65. Kemudian pada siklus II nilai rata-rata peserta didik mengalami peningkatan dari siklus I yaitu 72 yang sudah memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik pada penelitiaini ini telah memenuhi ketuntasan klasikal 86.7%. Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka mengajukan saran bagi guru, agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman bahwa metode paired storytelling dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran agar lebih menarik dan peserta didik merasa senang dan mampu menerima pembelajaran dengan baik.
Kata kunci: Kemampuan Berbicara, Paired Storytelling
v ABSTRACT
Rusli Riang . 2017. Increase Students’ Speaking Ability by Using Paired Storytelling Method on Indonesian Course of Class 5 SD Inpres Pampang 1 Makassar. Skripsi. Guided by Hamsiah and Susalti Nur Arsyad.
This research aimed to find out the students’ speaking ability by using paired storytelling method on Indonesian course of class 5 SD Inpres Pampang 1 Makassar.
This research is Classroom Action Research (CAR) using descriptive quantitative approach. Subject of this research was class V SD Inpres I Pampang Makassar consist of 30 students. In collecting data, the writer given the students test and observed in cycle I and cycle II.
The result of show that there was a good achievement. The mean score in cycle I was 49.75 and unfulfilled the standard of 65. Then, the mean score in cycle II was 72 and fulfilled the standard. Therefore, it can be concluded that the students’ learning achievement has fulfilled the classical standard 86.7%. Based on conclusion, the writer will give suggestion for teacher to use paired storytelling method as the alternative in learning to make the students interest and willing in process of teaching and learning.
Key Word: Speaking Ability, Paired Storytelling
PRAKATA
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah, dan karunia serta kekuatan sehingga penelitian dan penyusunan tesis dengan judul, “Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Melalui metode Paired Storytelling pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar.” dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, bahkan samapai kepada kita ummatnya yang senantiasa berada dalam panutan beliau untuk mencapai kemaslahatan hingga akhir zaman.
Proses penyelesaian skripsi ini, merupakan suatu perjuangan yang panjang bagi penulis. Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, tidak sedikit kendala yang dihadapi. Namun demikian, berkat keseriusan pembimbing mengarahkan dan membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis patut menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih setinggi- tingginya kepada Dr. Hj. Andi Hamsiah, M.Pd dan Susalti Nur Arsyad, S.pd.,M.Pd selaku pembimbing. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada tim penguji, yang banyak memberikan masukan yang sangat berarti dalam penyusunan laporan penelitian ini. Ucapan terima kasih tak lupa pula disampaikan kepada Dr. Mas’ud Muhammadiah, M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bosowa. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu St. Muriati, S.Pd., M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Bosowa yang telah memberikan bimbingan, arahan dan kemudahan
kepada penulis, baik pada saat mengikuti perkuliahan, maupun pada saat pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan. Semoga segala bantuan dan bimbingan yang diberikan bernilai ibadah dan mendapat pahala dari Allah SWT.
Terima kasih pula penulis ucapkan kepada bapak dan ibu dosen Universitas Bosowa pada umumnya dan Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada khususnya yang telah memberikan ilmunya kepada penulis dan segenap pegawai akademik yang selama ini selalu siap melayani segala urusan akademik penulis.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Sebel Yusuf selaku Kepala Sekolah SD Inpres Pampang 1 Makassar yang telah memberikan izin tempat penelitian, Abdul Salam, S.Pd selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SD Inpres Pampang 1 Makassar beserta guru-guru yang telah membantu dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Inpres Pampang 1 Makassar. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih rekan-rekan seperjuangan angkatan 2012 Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas segala bantuan dan kebersamaannya menjalani perkuliahaan hingga penyelesaian skripsi ini.
Terwujudnya skripsi ini juga atas doa, dorongan dan restu keluarga. Oleh karena itu penghargaan dan ucapan terima kasih yang begitu besar penulis persembahkan kepada almarhum bapak Riang dan ibu Rukmini yang senantiasa berjuang, mendoakan, memberi kasih sayang, nasehat dan dukungan kepada penulis dan juga kepada saudara-saudariku Rusni Riang,S.Pd, Rasdiana Riang, S.Pd., M.Pd dan Raihan Riang yang senantiasa memberikan semangat, motivasi dan dukungan kepada penulis dalam menjalani studi hingga selesainya penulisan skripsi ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga segala bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak dapat bernilai ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah SWT serta karya yang masih jauh dari kata sempurnah ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangsi dalam pekembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Amiin.
Makassar, Juli 2017
Rusli Riang
viii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN
ABSTRAK ABSTRACT
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Hakikat Bahasa Indonesia ... 7
1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 8
2. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 9
3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 10
B. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia ... 11
C. Berbicara ... 14
D. Metode Paired Storytelling ... 20
E. Kerangka Pikir ... 27
BAB III. METODE PENELITIAN... 29
A. Lokasi Penelitian ... 29
B. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian... 30
C. Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ... 30
ix
D. Subjek Penelitian ... 31
E. Instrumen Penelitian ... 31
F. Prosedur Penelitian ... 32
G. Teknik Pengumpulan Data ... 37
H. Teknik Analisis Data ... 39
I. Indikator Keberhasilan ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43
A. Hasil Penelitian ... 43
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
A. Kesimpulan ... 57
B. Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 58 LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Lampiran Halaman
1. Instrumen Penelitian ... 61
2. Lembar Observasi Guru ... 62
3. Lembar Observasi Siswa ... 63
4. Lembar Observasi Siswa ... 64
5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 66
6. Hasil Observasi Guru ... 74
7. Hasil Observasi Siswa Siklus I ... 82
8. Hasil Observasi Siswa Siklus II ... 86
9. Rekapitulasi Hasil Observasi Siswa Siklus I ... 88
10. Rekapitulasi Hasil Observasi Siswa Siklus II ... 92
11. Rekapitulasi Nilai Hasil Observasi Siswa Siklus I dan II... 94
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berpikir.
Guru tidak perlu lagi menjejali siswa dengan materi belajar memakai buku teks. Guru harus lebih kreatif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di dalam maupun di luar kelas.
Berbicara merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dimikili setiap siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Berbicara juga merupakan tolok ukur dalam kegiatan pembelajaran bahasa inggris (speaking) di sekolah. Target berbicara mencakupi kemampuan yang harus dimiliki siswa untuk dapat mengungkapkan gagasan-gagasan penting.
Sayangnya, tujuan pembejaran tersebut belum dapat dicapai oleh setiap siswa disekolah secara maksimal. Masih banyak kesalahan- kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam setiap pembejaran bahasa Inggris pada kemampuan berbicara (speaking) di sekolah. Masalah dan kekurangan tersebut muncul dari pendidik dan juga peserta didik. Penggunaan metode yang kurang tepat menjadi salah satu dari beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
2
Pembelajaran bahasa bersifat monoton dan tidak bervariasi membuat siswa merasa jenuh dan tidak tertarik dalam proses pembelajaran. Walaupun demikian, kemauan siswa untuk belajar juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keaadaan ini terjadi pada pembelajaran di sekolah. Pada dasarnya, kedua unsure ini harus saling mendukung. Hal ini lah yang sering terjadi pada pembelajaran bahasa Inggris berbicara (speaking) di sekolah menengah pertama.
Banyak siswa yang tidak tahu ingin mengeluarkan gagasan atau ide ketika diminta gurunyauntuk berbicara. Mereka lebih memilih diam dan tidak mengeluarkan kalimat apapun kecuali hanya ketika diminta untuk mengulang apa yang telah disampaikan guru. Situasi seperti ini sering kali terjadi dan ditemui pada proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini tentu saja harus diberantas dan jangan sampai bertahan sampai batas waktu yang belum diketahui. Minimnya pelatihan dan pendidikan kilat yang dimiliki oleh seorang guru juga dapat mempengaruhi situasi ini. Tentu saja ini merupakan situasi yang harus dipecahkan dan dicari solusi untuk perbaikan ke depannya.
Diketahui fenomena siswa di sekolah SD Inpres I Pampang Makassar yang semakin malas belajar bahasa Indonesia dan sikap memandang remeh serta acuh terhadap bahasa Indonesia menyelimuti sebagian besar siswa. Gejalanya, siswa sering ngantuk, tidak bergairah, under estimate saat mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia di kelas. Siswa tidak memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup tentang pentingnya keterampilan berbahasa dan tata bahasa praktis bahasa Indonesia. Dalam
3
pembelajaran yang akan dilaksanakan sebaiknya materi yang dibawakan oleh guru jangan terlalu meluas. Guru seharusnya membawakan materi untuk satu topik pembahasan dan melibatkan kreativitas peserta didik.
Dalam pembelajaran peserta didik harus diberi saluran bereksplorasi dalam bercerita. Bereksplorasi bermakna menggali, menemukan, dan mendeteksi cara bercerita melalui pemahaman isi cerita secara berpasangan.
Upaya ini membuat peserta didik lebih nyaman berceritadi depan kelas sebab mampu mengembangkan ekspresi dan kreativitasnya bersama pasangannya. Berdasarkan pengamatan lebih lanjut peneliti pada saat di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal ini diketahui pada saat siswa menyampaikan pesan/informasi yang bersumber dari media yang seharusnya siswa menyampaikan dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar.
Tetapi isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut kurang jelas. Siswa di SD Inpres I Pampang berbicara mereka tersendat- sendat sehingga isi pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas. Selain itu, pada saat guru memerintahkan kepada siswa untuk maju kedepan kelas untuk menceritakan sebuah cerita, siswa ada yang tidak mau maju kedepan kelas karena takut salah dalam berbicaranya. Pada kondisi ini para siswa belum menunjukkan keberanian untuk bercerita. Siswa takut salah
4
didepan teman-temannya apalagi jika siswa berdiri sendiri didepan kelas untuk bercerita.
Olehkarena itu, peneliti ingin menerapkan metode Paired Storytelling untuk memecahkan masalah ini. Metode Paired Storytelling adalah suatu metode yang mendorong siswa untuk mengeluarkan gagasan, topik, ide yang ada dalam pikirannya melalui berbicara secara berpasangan. Pada penerapan metode ini, ada beberapa unsur yang harus diterapkan seperti konsep, prosedur, penilaian, aspek yang harus dilakukan dalam penerapan metode ini.
Metode ini diharapkan mampu memecahkan permasalah pembelajaran seperti yang telah dipaparkan di atas. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti termotivasi melakukan penelitian dengan judul
“Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Melalui metode Paired Storytelling pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah maka dirumuskan permasalahan yaitu apakah metode Paired Storytelling dapat meningkatkan kemampuan berbicara murid kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar?
5
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara Bahasa Indonesia murid kelas 5 SD Inpres Pampang 1 Kota Makassar dengan menggunakan metode Paired Storytelling.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat yang mencakup aspek teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
Dimaksudkan bahwa hasil penelitian dapat dijadikan sebagai pengembangan salah satu metode sehingga dapat dipakai sebagai referensi dalam upaya pelaksanaan penelitian lebih lanjut dalam aspek pengembangan metode yang sama namun dalam kelas yang berbeda.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian secara praktis diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak berikut ini.
a. Bagi Sekolah
1) Sebagai inovasi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
2) Memberikan pengalaman pada guru lain untuk menerapkan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dengan model pembelajaran kooperatif metode paired storytelling.
6
b. Manfaat Bagi Guru
1) Menciptakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan sehingga dapat menarik perhatian siswa.
2) Guru dapat mengefektifkan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara siswa, khususnya dengan menggunakan metode paired storytelling.
3) Guru mendapatkan pengetahuan yang lebih konkrit dalam penggunaan metode paired storytelling untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.
c. Manfaat Bagi Siswa
1) Penguasaan bahan pelajaran akan lebih baik.
2) Hasil penelitian diharapakan dapat dimanfaatkan sebagai
“cermin” untuk mengukur kemampuan berbicara yang dimiliki, sekaligus menjadi acuan untuk mengembangkannya.
d. Bagi peneliti diharapakan penelitian ini dapat dipakai sebagai sumber referensi untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas selanjutnya pada masalah upaya meningkatkan berbicara dalam menggunakan Bahasa Indonesia.
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembahasan Teori
Pada tinjauan pustaka ini diuraikan teori-teori yang diungkapkan para ahli dari berbagai sumber yang mendukung penelitian. Landasan teori tersebut terdiri atas berbagai daftar pustaka. Dari sejumlah pustaka tersebut menkaji objek yang sama, namun masing-masing pustaka memiliki cirri tersendiri. Perbedaannya muncul karena adanya latar belakang pandangan dan penelitian yang diperoleh dari masing ahli. Sesuai dengan masalah dan tujuna penelitian, pembahasan dan landasan teori dalam penelitian ini berisi sejumlah kajian yang berkaitan dengan teori-teori tentang variabel peneitian yang digunakan. Dalam penelitian ini akan diuraikan mengenai pembelajaran bahasa Indonesia dan metode paired storytelling
1. Hakikat Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di semua sekolah, termasuk di tingkat sekolah dasar. Bahasa Indonesia juga merupakan mata pelajaran yang membelajarkan peserta didik untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar baik lisan secara lisan maupun secara tertulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal dirinya,
8
budayanya dan budaya orang lain; mengemukakan gagasan dan pikiran;
berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut;
menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinasi yang ada pada dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya mencakup empat aspek keterampilan yaitu: (1) menyimak, (2) berbicara, (3) membaca, (4) menulis. Menurut Hamalik, (2008: 57) mengatakan bahwa “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun yang meliputi unsur-unsur material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat, bahwa tujuan pembelajaran dapat tercapai apabila terdapat kombinasi yang pas antara unsur-unsur material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang memadai.Oleh karena itu, setiap pengajar diharapkan dapat memadukan kombinasi-kombinasi tersebut.Peran pengajar sangat erat kaitannya dengan keberhasilan peserta didik. Walaupun dengan fasilitas yang bagus, jika tidak diikuti dengan strategi pembelajaran yang bagus juga keberhasilan pembelajaran akan sulit dilakukan. Peran pengajar adalah sebagai fasilitator dalam pembelajaran, sedangkan aktivitasnya diharapkan lebih terpusat pada siswa. Kreativitas pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran sangat diperlukan agar siswa dapat aktif di kelas.
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas pada setiap jenjang pendidikan sangat dipengaruhi oleh tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia.Kurikulum Pendidikan Nasional merumuskan tentang
9
tujuan pembelajaran, ruang lingkup pembelajaran, juga prinsip-prinsip pembelajaran yang perlu dikembangkan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk itu, dalam setiap kegiatan pendidikan formal harus mengacu pada aturan yang telah digariskan dalam kurikulum tersebut.
2. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku baik secara lisan maupun tulis;
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;
6. Menghargai dan mengembangkan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya intelektual manusia Indonesia. (Asy’ari, 2006: 11)
3. Pinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menurut Novi (2011) salah seorang dosen di Universitas Pendidikan Indonesia. Prinsip-prinsip dari pembelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan
10
dengan mengacu pada tiga prinsip, yakni humanisme, progresivme, rekonstruksionisme. Prinsip humanisme berisi wawasan sebagai berikut:
a. Manusia secara fitrah memiliki bekal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan ini pada pembelajaran Bahasa Indonesia adalah guru bukan satu-satunya sumber informasi. Siswa disikapi sebagai suatu subyek yang dapat menemukan pemahaman sendiri.
Dalam hal ini, guru hanya sebagai fasilitator atau pendamping siswa dalam kegiatan belajar mengajar;
b. Perilaku manusia dilandasi motif dan minat tertentu. Implikasi dari wawasan ini dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dalam kegiatan belajar siswa harus mengetahui manfaat dari materi yang dia pelajari;
c. Manusia selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan implikasi dari wawasan ini dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah pembelajaran selain bersifat kelompok juga bersifat individual. Karena kemampuan siswa yang satu dengan siwa yang lain dalam memahami pelajaran berbeda-beda.
Selanjutnya, prinsip progresivisme beranggapan bahwa:
a. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan tidak bersifat mekanistis tetapi memerlukan daya kreativitas. Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan melalui kreativitas ini berkembang secara
berkesinambungan;
b. Dalam proses belajarnya siswa seringkali dihadapkan pada masalah yang memerlukan pemecahan secara baru.
11
Prinsip konstruksionismemenganggap bahwa proses belajar disikapi sebagai kreativitas dalam menata serta menghubungkan pengalaman dan pengetahuan hingga membentuk suatu keutuhan. Kreativitas siswa tidak boleh dibatasi, guru harus dapat berperan sebagai pemacu kreativitas siswa.
Paduan dari kreativitas dan pengetahuan akan menciptakan sejumlah kemungkinan baru.
4. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia
Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen keterampilan berbahasa terdiri atas keterampilan menyimak keterampilan membaca, keterampilan menulis, dan keterampilan berbicara.
Pembelajaran keterampilan berbahasa selalu berkaitan satu sama lain. Pada bagian berikut diuraikan secara rinci keempat keterampilan berbahasa sebagai berikut:
a. Keterampilan Menyimak
Menurut Tarigan (1981: 4)menyimak adalah proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.
Mendengarkan merupakan salah satu cara untuk menjaring informasi.
Dengan mendengarkan maka orang dapat menguasai pengucapan fonem, kosakata, dan kalimat.
Rahim (2008: 2) menjelaskan keterampilan menyimak dibagi menjadi dua yakni mendengar ekstensif dan mendengar instensif.
Mendengar ekstensif adalah proses mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, mendengar instensif adalah proses
12
mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi yang tinggi untuk menangkap, menahan, dan mengingat informasinya. Aktivitas mendengar intensif adalah seorang siswa yang mendengarkan pelajaran di kelas. Sedangkan aktivitas mendengarkan ekstensif mencakup semua kegiatan mendengarkan yang kita lakukan sehari-hari. Terkait dengan hakikat membaca,Rahim menyatakan bahwa
“Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumityang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif”.
b. Keterampilan Berbicara
Berbicara, menurut Tarigan (1988:8) dijelaskan sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Aktivitasnya adalah suatu gagasan atau ide yang brilian kalau tidak kita sampaikan atau bicarakan dengan orang lain hanya akan menjadi emas yang terpendam dan tak berharga. Kegiatan berbicara selalu diikuti dengan kegiatan menyimak.Jika penyimak dapat memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara, maka telah terjadi komunikasi yang baik.
c. Keterampilan Membaca
Membaca adalah salah satu dari keempat keterampilan berbahasa dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri. Tarigan (1994:10) menyebutkan bahwa ada tiga komponen dalam keterampilan membaca, yaitu berikut ini.
13
1) Pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca.
2) Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal.
3) Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna.
Tarigan berpendapat bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.
Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
d. Keterampilan Menulis
Tarigan (1986:5) mengatakan bahwa menulis merupakan suatu ketrampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Misalnya, ketika kita menulis surat untuk orang lain. Cukup dengan membaca surat yang kita kirim, orang tersebut dapat memahami maksud dan tujuan kita mengirim surat, walaupun tidak langsung bertatap muka dengan kita.
Penelitian yang dilakukan lebih memusatkan perhatian pada keterampilan berbicara, maka pada bagian ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan berbicara yaitu faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.Faktor kebahasaan yang terkait dengan kemampuan berbicara antara lain ketepatan pengucapan atau pelafalan bunyi;
14
penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme; pemilihan kata dan ungkapan yang baik, konkret, dan bervariasi; ketepatan susunan penuturan.
Sedangkan faktor nonkebahasaan mencakup (1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, (2) pandangan yang diarahkan pada lawan bicara, (3) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (4) kesediaan mengoreksi diri sendiri, (5) keberanian mengungkapkan dan mempertahankan pendapat, (6) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (7) kenyaringan suara, (8) kelancaran, (9) penalaran dan relevansi, dan (10) penguasaan topik. (Hasanuddin, 2010)
B. Keterampilan Berbicara
Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain.
Tarigan (1988: 65) mengatakan bahwa “berbicara adalah kemampuan mengucapakan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara lisan”.
Berbicara merupakan suatu proses berkomunikasi karena di dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain.
Dalam proses komunikasi terjadi pemindahan pesan dari komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar). Menurut Abbas (2006: 83) berbicara adalahsuatu penyampain maksud seorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut mudah dipahami oleh orang lain.
15
Berbicara merupakan kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Haryadi dan Zamzadi (1996) mengartikan berbicara pada hakikat merupakan suatu proses berkomunikasi sebab di dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan suatu proses komunakasi untuk menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan.
2. Tujuan Berbicara
Dalam hidup bermasyarakat, manusia sering mengadakan komunikasi lisan yaitu berbicara. Sewaktu berkumpul bersama keluarga, tetangga, teman sekolah, rekan kerja, atau pun teman sepermainan manusia harus berbicara untuk mengemukakan apa yang dia inginkan. Tujuan utama dari berbicara ini adalah untuk berkomunikasi.
Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
3. Karakteristik Pembelajaran Berbicara
Kegiatan berbicara dapat berlangsung jika setidak-tidaknya ada dua orang yang berinteraksi, atau seorang pembicara menghadapi seorang
16
lawan bicara. Kegiatan berbicara yang bermakna juga dapat terjadi jika salah satu pembicara memerlukan informasi baru atau ingin menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Berikut disajikan sejumlah karakteristik yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran berbicara antara lain:
a. harus ada lawan bicara;
b. penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata;
c. ada tema/topik yang dibicarakan;
d. ada informasi yang ingin disampaikan atau sebaliknya ditanyakan;
e. memperhatikan situasi dan kontek. (Maidar 1991) 4. Keefektifan Berbicara
a. Ketepatan Pengucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi- bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama. Setiap orang mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, dan menyimpang, maka keefektifan komunikasi akan terganggu.
Setiap penutur tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya. Misal- nya, pengucapankan untuk akhiran -kan yang kurang tepat, memasukkan.
Memang kita belum memiliki lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan terlalu diwarnai oleh bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar. Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap suku
17
kata. Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh. (Maidar dan Mukti, 1991).
b. Ketepatan intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara berkurang.
Demikian juga halnya dalam pemberian intonasi pada kata atau suku kata. Tekanan suara yang biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang, kemudian ditempatkan pada suku kata pertama. Misalnya kata peyanggah, pemberani, kesempatan, diberi tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu kedengarannya janggal.
c. Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran.
Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya, kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk dan kata-kata yang
18
berasal dari bahasa asing. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun menghambat kelancaran komu- nikasi. Pilihan kata itu tentu harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar).
d. Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan sebagainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicarannya.
5. Evaluasi Pembelajaran Berbicara
Bicara merupakan suatu kemampuan kompleks yang melibatkan beberapa faktor, yaitu kesiapan belajar, kesiapan berpikir, kesiapan mempraktikkan, motivasi, dan bimbingan; Apabila salah satu faktor tidak dapat dikuasai dengan baik, akan terjadi kelambatan dan mutu bicara akan menurun (Hastuti, 1989). Semakin tinggi kemampuan seseorang menguasai kelima unsur itu, semakin baik pula penampilan dan penguasaan berbicaranya. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan seseorang untuk menguasai kelima unsur itu, semakin rendah pula penguasaan berbicaranya.
Akan tetapi, sangat sulit bagi kita untuk menilai faktor-faktor itu karena sulit diukur.
19
Berdasarkan fakta yang ada kegiatan berbicara cenderung dapat diamati dalam konteks nyata saat siswa berbicara, maka dalam kegiatan berbicara dapat dikembangkan penilaian kinerja yang bertujuan menguji kemampuan siswa dalam mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilannya (apa yang mereka ketahui dan dapat mereka lakukan) pada berbagai situasi nyata dan konteks tertentu.
Penilaian kinerja mempunyai dua karakteristik dasar yaitu (1) siswa diminta untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan), misalnya berpidato, (2) produk dari penilaian kinerja lebih penting daripada kinerja (performance)-nya.
Penilaian mengenai apakah yang akan dinilai itu produk atau kinerjanya akan sangat bergantung pada karakteristik domain yang diukur.
Dalam bidang sastra, misalnya acting dan menari, kinerja dan produknya sama penting.
6. Hubungan Berbicara dengan Keterampilan Bahasa yang Lain.
Berbicara sebagai keterampilan berbahasa berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kemampuan berbicara pada anak akanberkembang, jika didahului oleh keterampilan menyimak. Kemampuan berbicara memanfaatkan kosa kata yang pada umumnya diperoleh melalui kegiatan menyimak dan membaca.Materi pembicaraan banyak diperoleh dari hasil menyimak dan membaca.Kemampuan berbicara diperoleh sebelum kemampuan menulis.
20
Kemampuan menulis tingkat lanjut akan membantu keterampilan berbicara. Hal ini dikarenakan, keterampilan menulis akan membuat keterampilan berbicara lebih terstruktur. Jadi, dapat disimpulkan bahwaketerampilan berbicara sangat dipengaruhi oleh keterampilan bahasa yang lain.
C. Metode Paired Storytelling
Metode pembelajaran adalah cara menyampaikan pembelajaran atau pengalaman belajar kepada siswa. Metode merupakan sarana untuk mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang. Pembelajaran berbicara harus berorientasi pada aspek penggunaan bahasa, bukan pada aturan pemakaiannya.Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran berbicara di kelas semestinya diarahkan untuk membuat dan mendorong siswa mampu mengemukakan pendapat, bercerita, melakukan wawancara, berdiskusi, bertanya jawab, berpidato dan sebagainya.Metode pengajaran yang selama ini kita ketahui adalah ceramah, tanya jawab,demonstrasi, penugasan, diskusi, karyawisata, dan sosiodrama. Namun, untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa, diperlukan metode pembelajaran berbicara yang sesuai, yang menekankan pada siswa aktif atau berpusat pada siswa.Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas harus banyak kegiatan siswa berlatih atau praktik berbicara sehingga diketahui kemajuan kemampuan berbicaranya.Untuk menentukan metode mana yang cocok dalam mengembangkan kemampuan berbicara, guru harus mengacu pada kurikulum (Standar Isi). (Trianto, 2010)
21
Semua kompetensi dasar berbicara pada kurikulum harus dilihat, dicocokkan dengan metode dan model pembelajarannya. Jika metode yang dipilih sesuai dan benar-benar dapat mengembangkan keterampilan berbicara setiap siswa, maka pembelajaran berbicara akan disukai siswa.
Apalagi jika guru dapat memvariasikan kegiatan (tidak monoton) dan pengelolaan kelas, diharapkan siswa lebih termotivasi untuk terus berlatih berbicara.
Berikut ini adalah beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan disekolah dasar antara lain: lihat–ucap, deskripsi, menjawab pertanyan, bertanya menggali, memerikan, melanjutkan, menceritakan kembali, bercakap-cakap, paraphrase, menerka cerita gambar, bercerita, melaporkan, bermain peran,wawancara, diskusi, bertelepon, dramatisasi serta metode paired storytelling. Dalam penelitian ini Metode paired storytelling dipilih sebagai metode pembelajaran berbicara karena melalui metode inisiswa dapat melatih kemampuan berbicara dengan berpasangan dan diharapkan pembelajaran berbicara lebih bermakna bagi siswa.
(Mudinidkk, 2009:21-22)
Menurut Trianto (2009:60) metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Metode paired Storytelling adalah “metode mengajar bercerita berpasangan yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran mendengarkan” .Metode ini biasa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial,
22
agama, dan bahasa.Bahan pelajaran yang paling digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lain.
Lie (2002: 70) Paired Storytelling disebut juga bercerita berpasangan yaitu teknik yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar dan bahan pelajaran. Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara karena teknik ini menggabungkan keempat aspek tersebut. Bahan pelajaran yang paling cocokk digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat narratif dan deskriptif. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan-bahan yang lainnya.
Dari uriaan tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik pembelajaran paired storytelling merupakan salah satu teknik pembelajaran kooperatif yang dalam kegiatannya siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi, buah pemikiran mereka akan dihargai sehingga siswa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa bekerja dengan sesame siswa dalam suasana gotong royong dan mempuyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
1. Langkah-langkah Metode Paired Storytelling
Model pembelajaran kooperatif metode paired storytelling memiliki kekhasan dalam strategi pengajaranny karena sebelum memulai pelajaran, terlebih dahulu guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini. Caranya
23
adalah siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Berikut langkah–langkah penggunaan metode paired storytelling menurut Sugianto (2010:84).
a. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
b. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu.
Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang akan siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
c. Siswa dipasangkan.
d. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama.
Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
e. Siswa ditugasi membaca atau mendengarkan (dalam pelajaran di laboratorium bahasa) bagian mereka masing-masing.
f. Sambil membaca/mendengarkan, siswa ditugasi mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing.
g. Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
24
h. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
i. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa bisa diberi kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka
Kegiatan akhir berupadiskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
Langkah-langkah Paired Storytellingsama dengan yang dituliskan Lie (2002:70). Untuk itu, peneliti juga akan menggunakan langkah yang sama dengan kedua referensi tersebut namun ada sedikit modifikasi untuk menyesuaikan dengan kondisi siswa dalam melakukan penelitiannya. Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan peneliti.
a. Pengajar membagi bahan pelajaran berupa artikel “masalah/persoalan”
yang akan diberikan menjadi dua bagian.
b. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik masalah yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan
25
apa yang akan siswa ketahui mengenai topik tersebut. Dalam kegiatan ini, pengajar perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya, yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
c. Siswa dipasangkan dengan siswa yang lain
d. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama.
Sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
e. Kemudian siswa ditugasi membaca bagian mereka masing-masing.
f. Sambil membaca siswa ditugasi mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing dan sebaliknya mereka saling menukar materi untuk dicatat kata kuncinya.
g. Setelah selesai guru menarik materi yang telah diberikan kemudian siswa diminta menuliskan kembali di kertas yang sudah disediakan oleh guru materi yang diperolehnya tadi dengan berdiskusi dengan teman kelompoknya.
h. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca sendiri,setiap kelompok berusaha untuk mengarang cerita berdasarkan kata-kata/frasa-frasa kunci yang dicatatnya.
i. Setelah selesai setiap kelompok diberi kesempatan untuk menceritakan kembali cerita yang sudah mereka mereka diskusikan secara berpasangan di depan kelas.
j. Kegiatan akhir berupa diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
26
b. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran Paired Storyltelling
Dalam menggunakan suatu model atau metode pembelajaran pastilah tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan. Menurut Lie (2002:45) adapun kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan ( Paired Storytelling ) ini yaitu : Kelebihan model pembelajaran model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling ) antara lain :
1) Dapat meningkatkan partisipasi siswa terhadap materi yang akan dipelajari selama proses pembelajaran berlangsung.
2) Cocok untuk tugas – tugas yang sederhana.
3) Lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk memberikan atau mendapatkan masukan pada masing – masing anggota kelompok.
4) Interaksi yang terjalin lebih mudah, baik antar sesama anggota kelompok satu dengan kelompok lain maupun antara anggota kelompok dengan guru.
5) Lebih mudah dan cepat dalam membentuk kelompok sehingga tidak membuang banyak waktu.
Kekurangan model pembelajaran model pembelajaran kooperatif teknik bercerita berpasangan (Paired Storytelling ) antara lain :
1) Banyak kelompok yang melapor dan dimonitor sehingga guru harus lebih dapat membagi kesempatan pada kelompok – kelompok tersebut.
2) Lebih sedikit ide yang muncul karena satu kelompok hanya terdiri dari 2 orang jadi tiap kelompok hanya dapat berinteraksi dan berdiskusi
27
dengan satu anggota kelompok yang lain sebelum akhirnya diadakan diskusi atau kelompok.
3) Jika ada perselisihan antara anggota kelompok, maka tidak akan ada penengah.
E. Kerangka Pikir
Berdasarkan hasil observasi kondisi kelas sebelum dilakukan tindakan guru masih menggunakan metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran. Guru menjelaskan materi yang berkaitan kemudian menuliskan rangkumannya di papan tulis dan meminta siswa untuk menyalinkan rangkumannya di papan tulis dan meminta siswa untuk menyalinnya pada buku tulis masing-masing. Kemudian guru memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa, namun tidak ada siswa yang berani menjawab. Berdasarkan observasi yang dilakukan, ditemukan permasalahan bahwa siswa kurang secara aktif terlibat dalamkegiatan pembelajaran fokus pada aspek berbicara.
Dengan menerapkan metode paired storytelling pada murid kelas 5 SD InpresPampang 1 Kota Makassar mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Berdasarkan kajian teori di atas penulis dapat menggambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
28
Gambar 2.1: Bagan Kerangka Pikir Pembelajaran Bahasa
Indonesia
Pengajaran Keterampilan Berbahasa
Keterampilan Menyimak
Keterampilan Berbicara
Keterampilan Membaca
Keterampilan Menulis
Metode Paired Storytelling Analisis Data
Temuan
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Metode Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang benar dari aspek yang diteliti sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SD Inpres I Pampang Makassar.Lokasi penelitan terletak di Jl. Pampang 1 No 50. Sekolah ini memiliki 6 ruang kelas, ruang guru, perpustakaan dan luas tanah 2.542M2
B. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif.Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan- hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatanempiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2006:2),
30
Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu bentuk penelitian yang dilakukan di kelas. Penelitian Tindakan Kelas umumnya dilakukan oleh guru bekerja sama dengan peneliti atau dia sendiri sebagai guru berperan ganda melakukan penelitian individu di kelas, di sekolah, atau di tempat dia mengajar untuk tujuan penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan melakukan perubahan kearah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran (Supardi, 2007:105).
Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu tindakan yang sistematik sebagai upaya perbaikan yang dilaksanakan oleh guru dengan melakukan suatu tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi dari hasil setelah dilakukan suatu tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di kelas sehingga terjadi peningkatan hasil kemampuan berbicara siswa. Hal ini sesuai dengan observasi awal yang dilakukan pada kelas V. Dari hasil observasi awal diperoleh data bahwa sebagian besar siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan siswa tidak mampu berbicara dengan baik di depan kelas sehingga dibutuhkan suatu tindakan kelas untuk memperbaiki masalah yang timbul di dalam kelas tersebut
C. Variabel dan Definisi Operasional
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan berbicara siswa dan variabel terikat adalah penerapan metode paired storytelling.
Adapun definisi operasional sebagai berikut:
31
1. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun yang meliputi unsur-unsur material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran
2. Berbicara adalah kemampuan mengucapakan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara lisan
3. Metode paired Storytelling adalah “metode mengajar bercerita berpasangan yang dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran mendengarkan.
D. Subjek Penelitian
Pada kegiatan ini penelitian dilakukan pada siswa kelas V SD Inpres I Pampang Makassar yang berjumlah 30 siswa. Karena kurangnya partisipasi dan motivasi pada kelas tersebut dalam proses belajar mengajar, maka peneliti memanfaatkan penelitian untuk memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan hasil kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan metode Paired Storrytelling bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dan berbicara siswa.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini berupa lembar observasi dan tes.
Lembar observasi terbagi atas dua yaitu lembar observasi guru dan lembar observasi sisiwa. Peneliti juga memberikan tes. Adapun soal tes yaitu menulis cerita pendek berkaitan dengan materi yang tercantum dalam RPP.
32
F. Prosedur Penelitian
Model Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart. Menurut Kemmis dan McTaggart (dalam Arikunto 2006:84) “pelaksanaan tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi empat alur yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Alur pelaksanaan penelitian tindakan kelas menurut Kemmis & McTaggart, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan berikut:
Gambar 3.1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Sumber: Kemmis dan McTaggart Tindakan
Refleksi
Refleksi
Tindakan
Observasi Perencanaan
Perencanaan SIKLUS I Observasi
SIKLUS II
33
Prosedur penelitian dilakukan untuk merencanakan penelitian agar dapat dilaksanakan secara maksimal untuk mencapai tujuan penelitian.Hal yang dilakukan dalam merancang penelitian yaitu mengidentifikasi masalah di lapangan, mencari solusi dari masalah yang telah ditemukan, dan merencanakan pelaksanaan penelitian. Berdasarkan tahapan-tahapan seperti yang digambarkan, selanjutnya penelitian tindakan kelas yang secara rinci prosedurnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
Gambar 3.2: Bagan Prosedur Penelitian
Siklus I Pembelajaran menggunakkan
Metode Paired Storrytelling dan tes awal Menerapkan Metode
Paired Storrytelling Kondisi Awal
Tindakan
Kondisi Akhir
Guru belum menerapkan metode
Paired Storrytelling
Kemampuan berbicara siswa
masih rendah
Hasil Belajar Siswa Meningkat Perencanaan
Refleksi
Tindakan Menerapkan Metode
Paired Storrytelling
Siklus II
34
1. Siklus I
Siklus I dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Kegiatan yang dilakukan pada siklus I meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Masing-masing kegiatan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Perencanaan
Berdasarkan permasalahan yang ada di kelas V SD Inpres I Pampang Makassar yang tercantum pada latar belakang masalah, maka dilakukan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode Paired Storytelling. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) seperti terlihat pada lampiran. Penyusuanan RPP telah didiskusikan dengan dosen pembimbing sebelumnya.
Perencanaan juga dilakukan dengan pembuatan instrumen.
Pembuatan Instrumen juga telah didiskusikan sebelumnya kepada dosen pembimbing dan guru kelas V. Instrumen yang dimaksud di antaranya berupa lembar pengamatan aktivitas siswa (terlampir) dan penyusunan tes lisan untuk mengukur kemampuan berbicara siswa.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah implementasi atau penerapan isi rancangan. Dalam proses pembelajaran guru harus melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan dalam RPP. Jadi pada tahap pelaksanaan merupakan implementasi dari RPP yang telah dibuat (terlampir)
35
c. Pengamatan
Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dan pengamat. Dalam pengamatan yang dilakukan adalah mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk melihat aktivitas siswa dan guru pada proses pembelajaran.
d. Refleksi dan Evaluasi
Refleksi adalah mengevaluasi segala sesuatu yang terjadi selama proses pembelajaran. Evaluasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mencatat semua kekurangan pada proses pembelajaran, kemudian mencari solusi untuk memperbaiki kekurangan yangdilakukan.
Penelitian tindakan kelas ini dapat dikategorikan berhasil apabila memenuhibeberapa syarat sebagai berikut:
a. Hasil perhitungan skor rata-rata tes awaldan skor rata-rata tes akhir meningkat positif
b. Minimal peserta didik 85% dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal(KKM) setelah diterapkannya metode paired storytelling.
Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi terhadap hasil terakhirpeserta didik jika belum memenuhi kriteria, maka peneliti menyusunperencanaan untuk siklus selanjutnya.
2. Siklus II
a. Perencanaan tindakan II
Pada siklus II dilakukan dengan tahapan-tahapan seperti pada siklus I tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus I (refleksi), sehingga kelemahan yang terjadi pada
36
siklus I tidak terjadi pada siklus II. Perubahan tersebut bertujuan untuk meningkatkan siswa dan hasil kemampuan berbicara siswa.
b. Pelaksanaan tindakan II
Dalam pelaksanaan II berisikan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya dengan membuat RPP (terlampir) yang berdasarkan hasil analisis dan refleksi I dan rencana tindakan II.
c. Pengamatan tindakan II
Pengamatan II tidak jauh berbeda dengan pengamatan I. Dalam pengamatan II yang dilakukan adalah mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk melihat aktivitas siswa pada proses pembelajaran serta hasil tes kemampuan berbicara siswa.
d. Refleksi II
Berdasarkan data yang diperoleh selama tindakan II maka selanjutnya akan dianalisis dan diolah. Hasil analisis tersebut akan dijadikan sebagai bahan untuk merefleksikan hasil tindakan II. Hasil refleksi akan dipergunakan untuk menentukan hasil akhir dengan kegiatan pada akhir siklus. Hasil dan analisa data tersebut barulah dapat disampaikan apakah pemberian tindakan perlu diulangi atau tidak. Jika tindakan perlu di ulangi maka peneliti perlu merancang kembali tindakan yang akandiulangkan pada tindakan berikutnya, sehingga siklus subjek penelitian benar-benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan
37
G. Teknik Pengumpulan Data
1. Metode Observasi
Metode ini digunakan untuk mengamati kegiatan siswa dalam pembelajaran sehingga dapat diketahui apakah proses pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pengamatan mengoptimalkan kemampuan menganalisis masalah dengan melatih keterampilan komunikasi sosial. Pengamatan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subyek, sehingga memungkinkan peneliti sebagai sumber data (Moleong, 2005). Lembar observasi guru dan siswa pada setiap pertemuan dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 3.1. Lembar Observasi Guru
NO Aspek Yang Dinilai Skor
1 2 3 4
1 Guru menjelaskan materi
2 Guru memandu dalam kegiatan kelompok 3 Guru memberi motivasi dalam mengerjakan
tugas
4 Guru memberikan kesempatan bertanya 5 Guru memberikan waktu untuk presentase
kelompok
6 Guru memberikan penilaian terhadap siswa dalam proses penyelesaian tugas
7 Guru memberi umpan balik terhadap hasil presentase
8 Guru menciptakan suasana menyenangkan sehingga siswa aktif
9 Guru mengajar tepat waktu
10 Guru menerapkan model pembelajaran yang menarik sesuai materi
38
Tabel 3.2. Lembar Observasi Siswa
NO Aspek Yang Diamati Indikator Hasil
SK S C B SB 1 Kemampuan siswa
dalam membacakan hasil karangannya dengan gaya dan bahasanya sendiri.
Keberanian bercerita di depan kelas.
Keberanian bercerita di depan kelas.
Kelancaran berbicara
Gerak
2 Kemampuan Siswa dalam menceritakan poin-poin penting materi
Menceritakan poin-poin penting
Menceritakan materi secara kronologis
3 Kemampuan siswa
dalam merespon pertanyaan
dantanggapan dari rekannya.
Mampu menjawab
pertanyaan rekannya dengan
benar
Cara dalam merespon tanggapan
Keterangan:
5= Sangat Baik, 4 = Baik, 3 = Cukup, 2 = Sedang, 1 = Sangat Kurang 2. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006: 193). Pelaksanaan tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tes awal dan tes akhir, juga untuk membandingkan kemampuan siswa sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran.
39
Tes awal adalah jenis tes yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai siswa. Tes akhir adalah tes yang ditunjukan untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar siswa setelah pelaksanaan pembelajaran (Sudijono, 2012: 69-70). Bentuk tes yang digunakan adalah.media gambar dimana siswa dituntut untuk menceritakan apa yang diketahui dan mendeskripsinya ide-ide siswa berkaitan dengan gambar yang dilihat.
H. Teknik Analisis Data
Penilaian mengenai kemampuan berbicara siswa dapat juga dilakukan dengan menggunakan skala penilaian (rating scale). Walaupun cara ini serupa dengan checklist, tapi skala penilaian memungkinkan penilai menilai kemampuan peserta didik secara kontinum tidak lagi dengan model dikotomi. Dengan kata lain, kedua cara ini sama-sama berdasarkan pada beberapa kumpulan keterampilan atau kemampuan berbicara siswa yang hendak diukur: checklist hanya memberikan dua kategori penilaian, sedangkan skala penilaian memberikan lebih dari dua kategori penilaian.Selain itu, alat penilaian dalam berbicara dapat berwujud penilaian yang terdiri atas komponen-komponen tekanan, tata bahasa, kosakata, kefasihan, dan pemahaman. Penilaian ini adalah deskripsi masing-masing komponen (Nurgiyantoro, 2005: 156).Berikut adalah contoh lembar penilaian berdasarkan komponen-komponen itu.
40
Tabel 3.8 Lembar Penilaian Nama Siswa :
Kelas :
Tanggal :
No Butir Penilaian 1 2 3 4 Skor
1 Tekanan/Intonasi 20
2 Tata Bahasa 20
3 Kosakata 20
4 Kelancaran 20
5 Pemahaman 20
Jumlah Skor 100
Sumber Nurgiantoro (2005) Nilai = jumlah skor: 4
(Nilai tertinggi 4, terendah 1)
Dalam penelitian ini, dilakukan pembobotan nilai dengan berdasarkan pada tujuan atau fokus penilaian, serta melakukan modifikasi berbagai butir penilaian sesuai dengan tujuan, situasi, dan kondisi yang melatari. Setelah sumber data diperoleh, langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Teknik analisis data merupakan kegiatan yang sangat penting dan memerlukan ketelitian. Penelitian ini menganalisis tentang hasil kemampuan berbicara yang dicapai siswa, juga untuk mengetahui aktivitas siswa selama pembelajaran dalam bentuk kualitatif. Data tersebut kemudian dipaparkan, dibahas dan disimpulkan.Data yang dianalisis diantaranya yaitu:
41
1. Analisis Penerapan Metode Paired Storytelling
Analisis penerapan metode paired storytelling diperoleh dari data aktivitas siswa selama proses pembelajaran melalui lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Alat penilaian yang digunakan untuk menilai aktivitas siswa adalah dengan pengamatan (observasi). Analisis data hasil observasi menggunakan analisis persentase dari lembar observasi siswa yang dijadikan sebagai penentu tingkat keberhasilan tindakan pada saat pembelajaran.Persentase keberhasilan tindakan siswa ini dihitung dengan menggunakan tahapan perhitungan sebagai berikut: Observer memberi skor untuk setiapdeskriptor dengan selang skor skala penilaian 1 sampai dengan 5 dengan rincian pada tabel berikut:
Tabel 3.9
Rentang Nilai dan Kategori Berbicara Siswa
N0 Rentang nilai Presentase Kategori Nilai
1 16-20 80 – 100 Sangat Baik A
2 11-15 66 -79 Baik B
3 6-10 56 – 65 Cukup C
4 1-5 40 – 55 Kurang D
0 – 39 E
Moeleong ( 2002: 4)
Data hasil pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran dihitung dengan menggunakan persentase (%) sebagai berikut:
jumlah skor aktivitas yang muncul
setiap aktivitas = X 100
skor maksimal aktivitas seluruhnya