• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit THT dan Cara Mendiagnosanya

N/A
N/A
Jurnal IJOMSS

Academic year: 2024

Membagikan "Penyakit THT dan Cara Mendiagnosanya"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Penyakit THT adalah penyakit yang menyerang sekitar kepala yaitu telinga, hidung dan tenggorokan. Penyakit telinga terdiri dari 11 jenis penyakit, hidung terdiri dari 8 jenis penyakit dan tenggorokan terdiri dari 17 jenis penyakit. Karena letak penyakit saling berdekatan maka gejala yang timbul hampir sama tetapi yang membedakannya hanya gejala yang spesifik saja. Oleh sebab itu untuk mendiagnosa penyakit ini harus dilakukan dengan secara cermat dan teliti karna memakai pedoman gejala sebagai aturan[1].

Faktor penyebab penyakit THT ada dua yaitu kongenitial dan Acquired.

Kongential merupakan penyakit bawaan sejak lahir , sedangkan Acquired merupakan penyakit yang didapatkan (bukan penyakit bawaan lahir) seperti infeksi, trauma, Neoplasma (keganasan/tumor) dan alergi. Berdasarkan sosiodemografi, sekitar 47,80% pasien rawat inap yang menderita penyakit telinga,hidung dan tenggorokan (THT) banyak terjadi di provinsi manado. Insiden sinusitis adalah penyakit yang cukup parah yang membuat orang memeriksa diri ke dokter yaitu antara 1,3 dan 3,5 per 100 kasus orang dewasa pertahun[2]

(2)

Sistem pakar merupakan suatu program komputer atau informasi yang mengandung beberapa pengetahuan dari satu atau lebih pakar manusia terkait suatu bidang yang cenderung spesifik. Pakar yang dimaksut adalah seseorang yang memiliki keahlian khusus dalam bidangnya masing-masing,contohnya dokter, psikolog, mekanik dan lain sebagainya. Tujuan sistem pakar adalah mentransfer kepakaran seseorang ke dalam komputer ,kemudian melanjutkannya ke orang lain (yang bukan pakar ). Seiring pertumbuhan populasi manusia, maka dimasa yang akan datang sistem pakar ini diharapkan sangat berguna membantu dalam hal pengambilan keputusan [3].

Metode certainty factor adalah salah satu metode yang sering digunakan dalam penelitian sistem pakar, Certainty factor dapat membuktikan apakah suatu fakta itu pasti atau tidak pasti yang berbentuk metric. Penggunaan metode certainty factor ini sangat mudah dengan penentuan bobot yang diberikan, dan dikalkulasi berdasarkan fakta-fakta yang muncul sebagai gejala. Hal yang perlu diperhatikan dalam metode certainty factor ini yaitu pemberian nilai bobot terhadap besaran hasil kesimpulan yang diperoleh[4].

Dengan adanya sistem pakar dalam mendiagnosa penyakit THT dapat memudahkan pihak Rumah sakit Mitra Sejati dan masyarakat dalam mendiagnosa penyakit THT. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan akan dilakukan penelitian di Rs Mitra Sejati Medan dengan judul “SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT THT DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR”.

(3)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas adalah :

1. Bagaimana menerapkan metode certainty factor dalam mendiagnosa penyakit THT di RSU.Mitra Sejati Medan ?

2. Bagaimana merancang dan membangun sebuah aplikasi sistem pakar dalam mendiagnosis penyakit THT dengan menggunakan metode certainty factor di RSU.Mitra Sejati Medan?

3. Bagaimana mengimplementasikan aplikasi yang sudah dibuat ?

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan permasalahan yang akan dibahas pada sistem pakar ini adalah sebagai berikut :

1. Pada analisa sistem pakar ini akan membahas tentang mendiagnosis penyakit THT berdasarkan gejala-gejala klinis yang dialami oleh pasien.

2. Sumber data gejala,penyakit, bobot nilai diperoleh dari dokter rumah sakit umum Mitra Sejati Medan

3. Aplikasi sistem pakar yang akan dirancang adalah berbasis web.

4. Sistem dirancang hanya mendiagnosa tingkatan atau level penyakit sinusitis

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai pada sistem pakar ini adalah sebagai berikut :

(4)

1. Untuk menerapkan metode certainty factor dalam mendiagnosa penyakit THT di RSU.Mitra Sejati Medan.

2. Untuk merancang dan membangun sebuah aplikasi sistem pakar dalam mendiagnosis penyakit THT dengan menggunakan metode certainty factor di RSU.Mitra Sejati Medan.

3. Untuk mengimplementasikan aplikasi yang sudah dibuat.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan dan terjawabnya rumusan masalah secara akurat.

1. Dapat memudahkan para pihak yang terkait untuk melakukan deteksi dini terhadap penderita yang merasa adanya gangguan pada telinga, hidung dan tenggorokannya.

2. dapat memberikan informasi kepada user penyakit THT yang kemungkinan diderita tanpa harus datang langsung ke dokter sehingga diharapkan dapat menekan biaya konsultasi ke dokter.

3. penulis mendapatkan kesempatan dan pengalaman untuk mengimplementasikan berbagai ilmu dan keterampilan dari bangku kuliah.

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 THT (Tenggorokan,Hidung dan Telinga)

Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat penyerang siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, status sosial, dan lingkungan tempat tinggal. Namun, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit THT menyebabkan keterlambatan dalam melakukan penanganan terhadap penyakit ini. Kurangnya pengetahuan tersebut juga membuat masyarakat cenderung asal dalam dalam mengobati penyakit THT, sehingga dapat berakibat pada kesalahan pengobatan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah sistem yang dapat memberikan diagnosa awal penyakit THT agar mempermudah masyarakat dalam melakukan penanganan sejak dini terhadap penyakit THT dan menggurangi penumpukan antrian pada rumah sakit (RS) serta untuk membantu masyarakat yang kesulitan untuk konsultasi dengan spesialis THT secara langsung dikarenakan biayanya yang cukup mahal[5].

Terdapat perbedaan dalam cara penanganan atau diagnosa penyakit THT.

Walaupun sebagian besar besar jenis penyakit THT pada anak dan orang dewasah adalah sama. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak ditemukan kasus keterlambatan penanganan maupun kurangnya informasi pasien dalam mengidentifikasi jenis penyakit THT pada anak dan penanggulangannya. Salah satu satu solusi yang

(6)

ditawarkan pada permasalahan diagnosa penyakit THT pada cabang ilmu komputer yakni pada kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence)[6].

Proses diagnosa merupakan perpaduan dari aktivitas intelektual dan manipulatif. Diagnosa sendiri disefinisikan sebagai suatu proses penting pemberian nama dan pengklarifikasian penyakit-penyakit pasien, yang menunjukkan kemungkinan nasib pasien dan mengarahkan pada pengobatan tertentu. Proses diagnosa penyakit THT pada penelitian ini dilakukan dengan menanyakan keluhan- keluhan yang dialami oleh pasien, yang kemudian dibandingkan dengan data penyakit THT yang tersimpan pada database.

Diagnosa penyakit THT dimulai sejak permulaan wawancara medis.Dari diagnosa tersebut akan diperoleh pertanyaan-pertanyaan yang terarah pada penyakit tertentu. Data yang berhasil dihimpun, akan dipertimbangkan dan diklarifikasikan berdasarkan keluhan-keluhan dari pasien. Dengan demikian penyebab dari gejala- gejala tersebut dapat diketahui dengan mudah dan akhirnya diperoleh kesimpulan awal mengenai penyakit tertentu.

2.2 Sistem Pakar

Secara umum, Sistem Pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelelasikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli. Dengan sistem pakar ini, orang awampun dapat menyelesaikan

(7)

masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli[7].

Sistem Pakar juga dapat membantu aktivitas para pakar sebagai asistem yang berpenggalaman dalam memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Dalam penyusunannya, Sistem Pakar mengkombinasikan kaidah-kaidah penarikan kesimpulan (inference rules) dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan oleh satu atau lebih pakar dalam bidang tertentu[8].

2.2.1 Konsep Dasar Sistem Pakar

Konsep dasar Sistem Pakar mengandung keahlian, ahli/pakar, pengalihan keahlian, mengambil keputusan, aturan dan kemampuan mengerjakan.

1. Keahlian

Keahlian merupakan suatu kemampuan dalam melakukan sesuatu pada sebuah peran, kemampuan yang dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lain.

2. Ahli/pakar

Ahli atau pakar adalah seseorang yang dianggap sebagai sumber terpercaya atas teknik maupun keahliannya tertentu yang bakatnya untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik, sesuai dengan aturan dan status oleh sesamanya atau khayalak dalam bidang khusus tertentu.

3. Pengahlian keahlian

Tujuan dari Sistem Pakar merupakan untuk mentransfer keahlian dari seora ke dalam komputer kemudian kemasyarakat. Proses ini meliputi 4 kegiatan, yakni perolehan pengetahuan, representasi pengetahuan ke komputer, kesimpulan dari pengetahuan dan pengahlian pengetahuan ke pengguna.

(8)

4. Mengambil Keputusan

Kemampuan komputer dalam mengambil keputusan dilakukan oleh komponen yang dikenal dengan mesin inferensi yaitu meliputi prosedur tentang pemecahan masalah.

5. Aturan(Rule)

Sistem Pakar yang dibuat adalah sistem yang berdasarkan aturan-aturan dimana program disimpan dalam bentuk aturan-aturan sebagai prosedur pemecahan masalah. Aturan tersebut biasanya berbentuk IF –THEN.

6. Kemampuan Menjelaskan

Keunikan lain dari Sistem Pakar adalah kemampuan dalam menjelaskan atau memberi rekomendasi serta juga menjelaskan mengapa beberapa tindakan tidak direkomendasikan[9].

2.2.2 Struktur Sistem Pakar

Struktur Sistem Pakar disusun oleh 2 bagian utama, yaitu lingkungan pengembangan (development enviromment) dan lingkungan konsultasi (consultation enviromment). Lingkungan pengembangan Sistem Pakar digunakan oleh pembuat untuk membangun komponen-komponennya sedangkan lingkungan konsultasi memperkenalkan pengetahuan kedalam knowledge base[10].

Berikut ini merupakan gambar yang menunjukkan komponen-komponen yang penting dalam sebuah Sistem Pakar.

(9)

Gambar 2.1 Komponen Sistem Pakar 2.2.3 Ciri-Ciri Sistem Pakar

Ciri-ciri dari Sistem Pakar adalah sebagai berikut : 1. Terbatasnya pada domain keahlian tertentu.

2. Dapat memberikan penalaran data yang tidak pasti.

3. Dapat mengemukakan rangkaian alasan-alasan yang diberikan dengan cara yang tidak dapat dipahami.

4. Berdasarkan kaidah-kaidah /ketentuan/rule yang berlaku.

5. Dirancang untuk dapat dikembangkan secara bertahap.

6. Output bersifat nasehat atau anjuran.

7. Mudah untuk dimodifikasih.

8. Knowledge Base dan Interface Engine terpisah.

9. Memiliki kemampuan untuk belajar beradaptasi[11].

(10)

2.2.4 Kelebihan dan Kelemahan Sistem Pakar

Sistem Pakar memiliki beberapa kelebihan yang ada didalam nya,yaitu sebagai berikut:

1. Memungkinkan orang biasa dapat mengerjakan pekerjaan para pakar.

2. Bisa melakukan proses secara berulang secara otomatis.

3. Menyimpan pengetahuan dan keahlian para pakar.

4. Meningkatkan output dan produktifitas.

5. Mampu beroperasi dalam lingkungan berbahaya.

6. Memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan.

7. Meningkatkan kapasitas Sistem Pakar.

8. Menghinpun data yang cukup besar.

9. Meningkatkan kualitas.

Disamping memilihi kelebihan Sistem Pakar juga memiliki beberapa kelemahan, dibawah ini merupakan kelemahan Sistem Pakar:

1. Pengetahuan tidak selalu mudah didapatkan.

2. Untuk membuat sesuatu sistem yang berkualitas sangat sulit dan memerlukan biaya yang tinggi.

3. Sistem Pakar tidak benar 100%,perlu diuji ulang sebelum digunakan[12].

2.3 Certainty Factor

Certainty Factor (CF) adalah salah satu teknik yang digunakan untuk mengatasi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Certainty Factor menggunakan nilai untuk mengasumsikan derajat keyakinan seorang pakar terhadap suatu data.

(11)

Menurut Giarattano dan Rilley (Sri Hartati dan Sari Iswanti : 2008) Certainty Factor menggunakan suatu nilai untuk mengasumsikan derajat keyakinan seorang pakar terhadap suatu data. Certainty Factor memperkenalkan konsep keyakinan dan ketidakyakinan yang kemudian diformulasikan ke dalam rumusan dasar sebagai berikut :

(Rumus 2.1)

CF(H,E) = MB(H,E) – MD(H,E) dimana,

CF(H,E) : certainty factor hipotesa H yang dipengaruhi oleh evidence (gejala) E.

MB(H,E) : ukuran kepercayaan (measure of increased belief) terhadap hipotesis H yang dipengaruhi oleh evidence E.

MD(H,E) : ukuran ketidakpercayaan (measure of increased disbelief) terhadap hipotesa H yang dipengaruhi oleh evidence E[13].

Ada dua cara dalam mendapatkan nilai keyakinan CF dari sebuah rule adalah:

1. Metode Net Belief yang diusulkan oleh E.H.Shortliffe dan B.G.Buchanan CF(Rule)

𝑀𝐵(𝐻, 𝐸) = max [P(H|E),P(H)]−P(H)

max[1,0]−P(H) P(H)=1 ( Rumus 2.2) 𝑀𝐵(𝐻, 𝐸) = max [P(H|E),P(H)]−P(H)

max[1,0]−P(H) P(H)=0 ( Rumus 2.3)

(12)

Keterangan :

CF (Rule) : Faktor kepastian

MB(H,E) : Measure of Belief (ukuran kepercayaan) terhadap hipotesis H, jika diberikan evidence E (antara 0 dan 1)

MD(H,E) : Measure of Disbelief (ukuran ketidakpercayaan) Terhadap evidence H, jika diberikan evidence E (antara 0

dan 1)

P(H) : Probabilitas kebenaran hipotesis H

P(H|E) : Probabilitas bahwa H benar karena fakta E

Agar dapat menentukan nilai MB dan MD, maka terlebih dahulu menentukan nilai P(H) atau probabilitas darisetiap penyakit dan gejala dengan rumus sebagai berikut :

P(H, E) =𝑃(𝐻)

𝑃(𝐸) (Rumus 2.4)

2. Dengan cara mewawancarai seorang pakar

Nilai CF (Rule) didapat dari interpretasi “term” dari pakar, yang dubah menjadi nilai CF tertentu sesuai dengan tabel kepastian berikut [14] sesuai table berikut :

Tabel 2.1 nilai kepastian

Uncertain Term CF

Definitely not (pasti tidak) -1.0

Almost certainly not (hampir pasti tidak) -0,8 Probably not (kemungkinan besar

tidak)

-0,6

(13)

Tabel 2.1 nilai kepastian ( lanjutan )

Uncertain Term CF

Maybe not (mungkin tidak) -0,4

Unknown (tidak tahu) -0,2 to 0,2

Maybe (kemungkinan) 0,4

Probably (kemungkinan besar) 0,6

Almost certainly (hampir pasti) 0,8

Definitely (pasti) 1,0

Tabel 2.1 didapatkan dari interprestasi “term” yang sudah ditetapkan oleh pakar dan diubah menjadi nilai CF tertentu. Jika belum terdapat nilai CF pada setiap gejala yang menyebabkan penyakit,maka dapat menggunakan rumus dasar yang ditujukan untuk mendiagnosa penyakit.

1. Certainty Factor untuk aturan (rules) dengan permis / gejala tunggal (single premis rules) :

CF gejala = CF [user]* CF [pakar]... (rumus 2.5) 2. Apabila terdapat aturan dengan kesimpulan yang menyerupai (similiary

concluded rules) atau lebih dari satu gejala maka, CF selanjutnya dihitung dengan rumus persamaan sebagai berikut :

Cfcombine (CF1,CF2) = CF1,+CF2)* (1-CF1)... (rumus 2.6) Cfcombine Cfold +Cfgejala *(1-CFold )... (rumus 2.7) 3. Rumus untuk menghitung perentase terhadap penyakit, digunakan persamaan:

CFperesentase = Cfcombine *100... (rumus 2.8)

(14)

2.4 Unified Modelling Langguage (UML)

UML (Unified Modelling Languange) merupakan suatu metode dalam pemodelan secara visual yang digunakan sebagai sarana perancangan sistem berorientasi objek. UML juga didefinisikan sebagai suatu bahasa standar visualisasi , perancangan, dan pendokumentasian sistem, atau dikenal juga sebagai bahasa standar penulisan blueprint sebagai software. UML diharapkan mampu mempermudah penggembangan perangkat lunak serta memenuhi sebuah kebutuhan pengguna dengan efektif,lengkap dan tepat[15] .

2.4.1 Use Case Diagram

User case diagram adalah bentuk pemodelan untuk melakukan program yang akan dibuat, use case juga merupakan suatu pola atau gambaran yang menunjukkan kelakuan atau kebiasaan sistem[16]. Use case juga digunakkan untuk mengetahui fungsi-fungsi yang ada didalam sistem (user) informasi atau siapa yang berhak menggunakan fungsi-fungsi yang ada didalamnya.

Dengan menggunakan use case diagram maka kita bisa melihat bagaimana sebuah sistem beroperasi dan bagaimana sistem berinteraksi dengan dunia luar sistem seperti user atau sistem yang lain. Tujuan dari use case diagram sendiri yaitu sebagai berikut:

1. Memetakan kebutuhan sistem.

2. Mempersentasikan interaksi pengguna terhadap sistem.

3. Untuk mengetahui kebutuhan diluar sistem.

Syarat penamaan pada user case diagram adalah nama didefinisikan sesimpel mungkin dan dapat dipahami. Ada pun dua hal utama pada use case diagram yaitu adalah:

(15)

1. Aktor adalah orang, proses, atau sistem lain yang berinteraksi dengan sistem informasi yang akan dibuat di luar sistem informasi yang akan dibuat itu sendiri, jadi walaupun simbol aktor adalah gambar orang, tetapi aktor belum tentu merupakan orang.

2. Use case adalah fungsionalitas yang disediakan sistem sebagai unit-unit yang saling bertukar pesan antar unit atau aktor.

Tabel 2.2 Simbol-simbol Use Case diagram

(sumber:Rosa A.S dan M.Shalahuddin,2018)

No Simbol Nama Keterangan

1 Use case

fungsionalitas yang disediakan sistem sebagai unit-unit yang saling bertukar pesan antar unit atau aktor,biasanya dinyatakan dengan menggunakan kata kerja diawal frase nama use case

2 Actor

simbol aktor adalah gambar orang,tetapi aktor belum tentu merupakan orang.

3 Association

Komunikasih antar aktor dan use case yang berpartisipasi pada use case atau use case memiliki interaksi dengan aktor.

4 <<extend>> Extend

Pada pemograman berorientasi objek maka biasanya use case tambahan memiliki nama depan yang sama dengan use case yang ditambahkan, arah panah menunjukkan pada use case yang dituju.

5 <<include>> Include

use case ini untuk menjalankan fungsinya atau sebagai syarat.

User case

(16)

2.4.2 Activity Diagram

Activity diagram merupakan diagram yang menggambarkan dan menjelaskan sifat dinamis secara alamiah sebuah sistem dalam bentuk model aliran dan kontrol dari aktivitas lainnya[17].

Dalam buku Rosa A.S dan M.Shalahuddin mengatakan bahwa activity diagram menggambarkan sebuah workflow atau aliran kerja atau aktivitas dari sebuah sistem atau proses bisnis atau menu yang ada pada perangkat lunak.

Diagram aktivitas juga menggambarkan sistem bukan apa yang dilakukan actor, jadi aktivitas yang dilakukan oleh sistem.

Berikut adalah defenisi diagram aktivitas:

1. Rancangan proses bisnis dimana setiap urutan aktivitas yang digambarkan merupakan proses bisnis sistem yang didefenisikan.

2. Urutan tanpilan dari user interface dimana setiap aktivitas dianggap memiliki sebuah rancangan antarmuka tampilan.

3. Rancangan pengujian dimana setiap aktivitas dianggap memerlukan sebuah pengijian yang perlu didefenisikan kasus ujinya.

4. Rancangan menu yang ditampilkan pada perangkat lunak.

Tabel 2.2 simbol-simbol activity Diagram

No Simbol Deskripsi

1 Status awal Status awal aktivitas sistem, sebuah diagram aktivitas memiliki sebuah status awal.

2 Aktivitas Aktivitas yang dilakukan sistem, pilihah aktivitas lebih dari satu.

activitas

(17)

Tabel 2.2 simbol-simbol activity Diagram (lanjutan)

No Simbol Deskripsi

3 Percabangan/decision Asosiasi percabangan dimana jika ada pilihan aktivitas lebih dari satu.

4 Penggabungan /join Asosiasi penggabungan dimana lebih dari satu aktivitas digabungkan menjadi satu.

5 Status akhir Status akhir yang dilakukan sistem sebuah diagram aktivitas memiliki sebuah status akhir.

6 Swimlane Name swimline

Memisahkan organisasi bisnis yang bertanggung jawab terhadap aktivitas yang terjadi.

Rosa A.S dan M.Shalahuddin(2018) 2.4.3 Class Diagram

Class diagram adalah diagram yang digunakan untuk menampilkan beberapa kelas serta beberapa paket yang ada dalam sistem perangkat lunak yang sedang dikembangkan. Class diagram memberikan gambaran diagram statis tentang sistem perangkat lunak dan relasi-relasi didalamnya.

Dalam buku Rosa.A.S dan M.shalahuddin berikut ini merupakan susunan struktur kelas yang baik pada diagram kelas yang memiliki jenis-jenis kelas sebagai berikut:

1. Kelas main.

Kelas yang memiliki fungsi awal dieksekusi ketika sistem dijalankan.

(18)

2. Kelas yang menangani tampilan sistem(view).

Kelas yang mengatur tampilan ke pemakai.

3. Kelas yang diambil dari pendefinisian use case(controller).

Kelas prose yang menangani proses bisnis pada perangkat lunak.

4. Kelas yang diambil dari pendefinisian data (model).

Kelas yang digunakan untuk memegang atau membungkus data menjadi sebuah kesatuan yang diambil maupun akan disimpan ke basis data.

Tabel 2.3 simbol-simbol class diagram

No Nama simbol Simbol Deskripsi

1 Kelas

Nama_kelas +atribut +operasi()

Himpunan dari objek-objek yang berbagai atribut serta oprasi yang sama.

2 Antarmuka/

Interface

Sama dengan konsep interface dalam pemograman berorientasi objek.

3 Asosiasi

/association

Relasi antar kelas dengan makna umum.

4 Generalisasi Relasi antar kelas dengan

makna generalisasi- spesialisasi(umum-khusus).

5 Kebergantungan/

depedency

Relasi antarkelas dengan makna kebergantungan antarkelas.

(19)

Tabel 2.3 simbol-simbol class diagram (lanjutan)

No Nama Simbol Deskripsi

6 Agregasi/aggregation Relasi antar kelas dengan makna semua-bagian (whole-part).

Sumber: Rosa A.S dan M.Shalahuddin(2018)

2.5 Aplikasi Pengembangan Sistem

Menurut Hasan Abdurahman dan Asep Ririn Riswaya (2014), aplikasi merupakan program siap pakai yang dapat digunakan untuk menjalankan perintah- perintah dari penggunak aplikasi dengan tujuan mendapatkan hasil yang lebih akurat sesuai dengan tujuan pembuatan aplikasih tersebut, apliasih memiliki arti adalah pemecahan masalah yang menggunakan salah satu teknik pemrosesan data aplikasi yang biasanya berpacu pada sebuah komputasi yang diharapkan.

2.5.1 Google Chrome

Google chrome adalah salah satu produk pengembangan perusahaan Google yang tersedia sebagai web browser maupun diandroid. Fungsi utama dari browser ini adalah untuk menjelajahi berbagai web untuk kebutuhan berkirim email, layanan sosial media, search engine dan sebagainya.

(20)

Gambar 2.2 Logo Google Chrome 2.5.2 XAMPP

Pengertian Xampp menurut M.Rudiyanto Arief (2011:44) menyebutkan XAMPP merupakan aplikasi yang mengintegrasikan beberapa aplikasi web utama didalamnya. Dalam XAMPP terdapat instalasi modul PHP,MYSQL, dan web server Apache.

Gambar 2.3 Logo XAMPP 2.5.2 Sublime Text

Sublime Text Editor merupakan editor teks untuk berbagai bahasa pemograman termasuk pemograman PHP, Sublime Text Editor juga merupakan editor text lintas platfrom dengan Python Application Programming Interface (API).

(21)

Gambar 2.4 Logo sublime Text 2.5.3 Hyper Text Markup Language(HTML)

Menurut (Kurniawan,2008:1) dalam jurnal Siswanto dan Suwarni, CSS adalah kependekan dari Cascanding Style Sheet yang berfungsi untuk mengatur tampilan dengan kemampuan jauh lebih baik dari tag maupun atribut standar HTML(Hyper Text Markup Language).

Gambar 2.5 Logo HTML

(22)

2.5.4 Hypertext Preprocessor (PHP)

Pengertian PHP, M.Rudiyanto Arief (2011:43) menjelaskan bahwa PHP adalah bahasa server-side scripting yang menyatu dengan HTML untuk membuat halaman web yang dinamis. HTML digunakan sebagai pembangun atau pondasi, dari kerangka layout web sedangkan PHP berfungsi sebagai prosesnya[18].

Gambar 2.6 Tampilan PHP 2.5.6 Cascanding Style-Sheet(CSS)

CSS adalah suatu kumpulan atribut untuk fungsi format tampilan dan dapat digunakan untuk mengontrol tampilan banyak dokumen secara bersamaan.

Gambar 2.7 Tampilan CSS

(23)

DAFTAR PUSTAKA

[1] F Ilma,"Sistem pakar Pendiagnosa Penyakit THT Menggunakan Metode Certainty Factor Berbasis Web",2021-

joernal.pancabudi.acid.

[2] K. E. Setyaputri, A. Fadlil, and S. Sunardi, “Analisis Metode Certainty Factor pada Sistem Pakar Diagnosa Penyakit THT,” J.

Tek. Elektro, vol. 10, no. 1, pp. 30–35, 2018, doi:

10.15294/jte.v10i1.14031.

[3] L. A. Latumakulita, “Sistem Pakar Pendiagnosa Penyakit Anak Menggunakan Certainty Factor (Cf),” J. Ilm. Sains, vol. 12, no. 2, p. 120, 2012, doi: 10.35799/jis.12.2.2012.705.

[4] L. F. Putri, “Perancangan Aplikasi Sistem Pakar Penyakit Roseola Dengan Menggunakan Metode Certainty Factor,” J. Sist. Komput.

dan Inform., vol. 1, no. 2, p. 107, 2020, doi:

10.30865/json.v1i2.1956.

[5] N. Febriani, A. Tenriawaru, A. N. Basyarah, L. O. Saidi, N. Ransi, and L. Surimi, “Penerapan Metode Teorema Bayes untuk Diagnosa Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT),” Konf. Nas.

Ilmu Komput., pp. 328–335, 2021.

(24)

[6] D. Anggraini, B. Irawan, and T. Rismawan, “Diagnosa Penyakit Telinga Hidung Dan Tenggorokan (THT) Pada Anak Dengan Menggunakan Sistem Pakar Berbasis Mobile Android,” J. Coding Sist. Komput. Univ. Tanjungpura, vol. 2, no. 2, pp. 8–14, 2014.

[7] E. Jodie, A. Purwadi, and A. Calam, “Sistem Pakar Untuk

Mengetahui Kerusakan Pada Mesin Motor Dengan Menggunakan Metode Certainty Factor,” vol. 3, no. 3, pp. 482–488, 2020.

[8] M. Arifin, S. Slamin, and W. E. Y. Retnani, “Penerapan Metode Certainty Factor Untuk Sistem Pakar Diagnosis Hama Dan

Penyakit Pada Tanaman Tembakau,” Berk. Sainstek, vol. 5, no. 1, p. 21, 2017, doi: 10.19184/bst.v5i1.5370.

[9] I. Suhardi, S. Haryoko, and H. Jaya, “Pengembangan sistem pakar menggunakan Metode Forward Chaining untuk penelusuran dan publikasi manuskrip ilmiah pada Jurnal Internasional Bereputasi,”

Semin. Nas. LP2M UNM, 2019.

[10] S. Rijal, M. Sarjan, and S. Syarli, “Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Tbc,” J. Peqguruang Conf. Ser., vol. 3, no. 1, p. 134, 2021, doi: 10.35329/jp.v3i1.1232.

[11] A. Fadli, “Sistem Pakar Dasar,” pp. 1–8, 2010.

(25)

[12] J. B. Sanger, F. Insani, and P. P. Nugroho, “Pengembangan Sistem Pakar Untuk Mengidentifikasi Permasalahan Layanan Jaringan Internet,” J. Lasallian, vol. 14, no. 1, pp. 41–50, 2017.

[13] H. Maros and S. Juniar, “済無No Title No Title No Title,” no.

2015, pp. 1–23, 2016.

[14] M. K. Puji Sari Ramadhan and M. K. Usti Fatimah S. Pane, Mengenal Metode Sistem Pakar. Uwais Inspirasi Indonesia.

[Online]. Available:

https://books.google.co.id/books?id=lYV_DwAAQBAJ [15] E. I. Wahyuni, S. A. Gani, H. Aryanto, and A. K. Siregar,

“PENDAFTARAN SISWA BARU TK PUTIEK NANGGROE BERBASIS,” pp. 855–863.

[16] Y. P. . Simaremare, A. P. S, and R. P. Wibowo, “Perancangan dan Pembuatan Aplikasi Manajemen Publikasi Ilmiah Berbasis Online pada Jurnal SISFO,” J. Tek. Pomits, vol. 2, no. 3, pp. 470–475, 2013, [Online]. Available:

http://ejurnal.its.ac.id/index.php/teknik/article/view/5163/1552 [17] S. Hidayatuloh and F. Setyaningsih, “Analisis Dan Perancangan

Sistem Informasi Penerimaan Praktek Kerja Lapangan (Studi

(26)

Kasus: Suku Dinas Komunikasi, Informatika Dan Statistik

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat),” Tekinfo, vol. 22, no.

1, pp. 88–99, 2021, [Online]. Available: https://journals.upi- yai.ac.id/index.php/TEKINFO/article/download/1188/965 [18] R. Agusli, M. Iqbal, and F. Saputra, “Sistem Pakar Diagnosa

Penyakit Pada Ibu Hamil Dengan Metode Certainty Faktor Berbasis Web,” Acad. J. Comput. Sci. Res., vol. 2, no. 1, 2020, doi:

10.38101/ajcsr.v2i1.264.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagian besar penyakit telinga luar yang dirawat di telinga hidung dan tenggorokan Klinik Rumah Sakit Umum Wahidin Sudirohusodo Makassar pada periode

Latar belakang: Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) merupakan penyakit Telinga Hidung Tenggorokan (THT) yang paling banyak di negara sedang berkembang yang

Dari penelitian dihasilkan sebuah perangkat lunak (software) baru tentang sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit telinga hidung dan tenggorokan menggunakan - Studi

Diagnosa Penyakit THT (Telinga, Hidung, Tenggorok) Masuk Tambah Penyakit Ubah Penyakit Laporan Penyakit Tambah Gejala Ubah Gejala Laporan Gejala Relasi Keluar Id Relasi :

Soedjati soemodiharjo kabupaten Grobogan telah mempunyai 11 poliklinik, meliputi : penyakit dalam, bedah, anak, Telinga Hidung Tenggorokan (THT), fisioteraphi,

Web interaktif dan mudah dimengerti yang berisi mengenai informasi kesehatan khususnya penyakit Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan cara penanganannya pada balita usia 0 hingga 2

Implementasi aplikasi kodefikasi diagnosis penyakit telinga, hidung dan tenggorok terhadap 50 dokumen rekam medis pasien rawat jalan dengan diagnosis penyakit THT dilakukan setelah

Dokumen ini membahas anatomi dan fisiologi hidung dan nasofaring yang relevan dengan bidang kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan