• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyebab, Pencegahan, dan Cara Mengatasi

N/A
N/A
Zahra Salsabila

Academic year: 2024

Membagikan " Penyebab, Pencegahan, dan Cara Mengatasi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

JERAWAT

Diserahkan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah : Komunikasi dan Konseling

Dosen Pengampu : apt. Sri Wahyuni, S.Farm., M.Farm

Disusun Oleh : KELAS – 7B KELOMPOK – 7

Fitria Siti Zahara (202114006)

Zahra Salsabilla Silalahi (202114102)

Rizka Widya Harahap (202114108)

Hikma Sahrianti Napitupulu (202114118)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUSLIM NUSANTARA AL-WASHLIYAH MEDAN

2023

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur

kami haturkan

kehadirat Allah Swt

yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas Makalah kami yang berjudul ‘Jerawat’’

tepat waktu pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah komunikasi dan konseling

Terimakasih kepada Ibu Sri Wahyuni sebagai Dosen Pengampu

Mata Kuliah

Komunikasi dan Konseling dan tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan

(3)

penyusunan makalah

ini. Sebagai

penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki

makalah ini. Kami berharap semoga makalah yang kami

susun ini

memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca.

Medan, 11 Oktober 2023

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II PEMBAHASAN...3

2.1 Patofisiologi Jerawat...3

2.2 Gejala pada kulit jerawat...3

2.3 Pengobatan Secara Farmakologi...4

2.4 Pengobatan Secara Herbal...5

2.5 Farmakoterapi Non Farmakologi...6

BAB III PENUTUP...7

3.1 Kesimpulan...7

DAFTAR PUSTAKA...8

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Jerawat berasal dari kata Yunani “acme” yang berarti awal kehidupan. Jerawat adalah penyakit kulit kompleks (multifaktorial) yang disebabkan oleh kelebihan produksi kelenjar minyak yang menyebabkan peningkatan produksi sebum. Peningkatan produksi sebum dapat menyebabkan penyumbatan dan peradangan kronis pada folikel polisebasea disertai infeksi bakteri (Dipiro et al., 2015:135).

Ada empat mekanisme patogenesis yang paling mempengaruhi munculnya jerawat, yaitu peningkatan produksi sebum, Hiperproliferasi folikel polisebasea, Kolonisasi P. acnes dan peradangan (Ameliani dkk, 2015)

Acne vulgaris (AV) merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea, gambaran klinisnya umumnya beragam termasuk berbagai kondisi kulit yang bermanifestasi sebagai: komedo, papula, pustula, nodul dan jaringan parut.

Komedo adalah lesi jerawat utama. Lesi jerawat berupa papula datar atau sedikit menonjol dengan permukaan tengah membesar berisi keratin hitam (komedo terbuka atau komedo jerawat). Komedo tertutup (whiteheads) biasanya berukuran 1 mm dan berwarna kekuningan.

Papula dan pustula dengan ukuran mulai dari 1 hingga 5 mm disebabkan oleh peradangan yang menyebabkan eritema dan edema. Komedo ini dapat membesar menjadi nodul dan menyatu menjadi plak yang berfluktuasi, membentuk saluran sinus dan mengeluarkan nanah serosa atau kuning. Penderitanya sering mengeluhkan ruam di area umum, khususnya wajah, bahu, leher, dada, punggung atas, dan lengan atas. ke kelenjar sebaceous aktif di daerah tersebut.

Jerawat adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan sendirinya. Penyakit ini dapat dideteksi pada usia berapa pun. Penyebabnya multifaktorial namun penyebab pastinya belum diketahui. Beberapa etiologi tampaknya berperan, khususnya hipersekresi sebum, hiperkeratinisasi, kolonisasi propionibakterium (P. acnes), dan peradangan. Beberapa faktor lain juga diyakini berperan dalam terjadinya jerawat, seperti faktor internal yaitu genetika, ras, hormon, dan faktor eksternal yaitu stres, iklim, suhu, kelembapan, kosmetik, makanan, dan obat-obatan. Data menunjukkan bahwa 80 hingga 85% penderita VA terjadi pada remaja dengan puncak kejadian antara usia 15 dan 18 tahun, 12% pada wanita > 25 tahun, dan 3%

pada wanita berusia 35 hingga 44 tahun. terlihat pada pria. Berdasarkan data nasional dari Kelompok Penelitian Dermatologi Kosmetik Indonesia, jumlah penderita jerawat umum meningkat dari 60% pada tahun 2006 menjadi 80% pada tahun 2007.Prevalensi jerawat adalah

(6)

80 hingga 100% pada kaum muda, yaitu 14 - 17 tahun pada wanita dan 16 -19 tahun pada pria.

Pada umumnya remaja banyak yang mempunyai masalah dengan jerawat, bagi mereka jerawat merupakan suatu penderitaan psikologis, namun jerawat masih menjadi masalah kesehatan yang umum terjadi pada masyarakat terutama mereka yang peduli dengan penampilan.

Jumlah kejadian dan peningkatan prevalensi AV yang cukup tinggi serta belum pastinya etiologi AV maka terdapat selalu ada perubahan-perubahan dalam tatalaksana AV dari waktu ke waktu.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun tujuan dari rumusan masalah ini ialah : 1. Bagaimana Patofisiologi dari Jerawat?

2. Apa saja yang termasuk gejala dari Jerawat?

3. Bagaimanakah pengobatan secara farmakologi untuk Jerawat?

4. Bagaimanakah pengobatan secara herbal untuk Jerawat?

5. Bagaimanakah farmakoterapi non farmakologi untuk Jerawat?

1.3 Tujuan

1. untuk mengetahui patofisiologi dari jerawat 2. untuk mengetahui gejala dari jerawat

3. untuk mengetahui pengobatan secara farmakologi untuk jerawat 4. untuk mengetahui pengobatan secara herbal untuk jerawat 5. untuk mengetahui farmakoterapi non farmakologi untuk jerawat

(7)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Patofisiologi Jerawat

Perkembangan jerawat disebabkan oleh banyak faktor berbeda seperti genetika, faktor endokrin (androgen, sekresi hipofisis), faktor makanan, aktivitas kelenjar sebaceous, faktor psikologis, musim, faktor stres, infeksi bakteri (asam Propionibacteria), kosmetik dan faktor lainnya. Produk kimia. Kelainan ini dianggap normal dan hanya berhubungan dengan masa pubertas, namun bukti ilmiah menunjukkan bahwa dampak dari kondisi ini jauh lebih besar dibandingkan apa yang terlihat pada bagian luar kulit. Mekanisme timbulnya jerawat yakni diawali peningkatan produksi minyak oleh kelenjar sebaseus. Sebum yang dihasilkan keluar melalui saluran pilosebaseus dan mencapai permukaan kulit. Selama melewati saluran pilosebaseus, sebum memasok asam linoleate ke keratinosit dari folikel rambut

ada beberapa faktor yang berhubungan dengan berkembangnya jerawat, yaitu hiperkeratinisasi, hiperseborrhea, dan kolonisasi bakteri. Akibat interaksi antara faktor-faktor ini, proses inflamasi dapat terjadi. Awalnya, tidak terlihat secara klinis, mikrokomedon berkembang di unit pilosebaceous yang dapat berkembang menjadi lesi yang terlihat secara klinis: lesi non-inflamasi (komedo terbuka , komedo hitam dan komedo tertutup komedo putih) yang kemudian dapat berkembang menjadi lesi inflamasi seperti papula dan pustula.

Pembentukan komedo diakibatkan oleh proliferasi dan diferensiasi abnormal sebosit yang tidak berdiferensiasi. Sel-sel ini, bukannya berdiferensiasi menjadi sebosit matang, malah berdiferensiasi menjadi sel saluran sebasea dan keratinosit infundibular, menyebabkan keratinisasi abnormal dan retensinya di saluran folikular (Nascimento dkk, 2023)

Ada banyak faktor risiko dan penyebab jerawat beberapa, termasuk:

1. Sebum adalah penyebab utama timbulnya jerawat. Produksi sebum dipengaruhi oleh pola makan atau makanan kaya lemak, karbohidrat,yodium, alkohol dan makanan pedas.

Penggunaan produk kosmetik seperti krim wajah, pelembab, tabir surya, dan kondisioner rambut juga berperan dalam meningkatkan produksi sebum.

2. Genetika, faktor genetik sangat mempengaruhi ukuran dan aktivitas kelenjar sebaceous.

Jika kedua orang tuanya memiliki bekas jerawat, besar kemungkinan anaknya juga akan berjerawat.

3. Usia Biasanya, kejadian penyakit ini terjadi pada usia 14 hingga 17 tahun pada wanita, dari 16 hingga 19 tahun pada pria, dan pada saat ini lesi terutama berupa jerawat dan papula, dan lesi parah jarang terjadi pada pasien.

4. Kebersihan wajah: Meningkatkan perilaku kebersihan pribadi dapat mengurangi kejadian jerawat pada remaja. Secara psikologis, pada beberapa orang, stres dan gangguan emosi bisa memperparah jerawat.

5. Stress menyebabkan aktivasi HPA (Hypothalamic Pituitary Axis) (Latifah dan Kurniawaty, 2015 ).

2.2 Gejala pada kulit jerawat

Ciri ciri jerawat adalah munculnya beberapa gejala umum, seperti:

 Benjolan berwarna kemerahan atau kuning (karena mengandung nanah).

 Benjolan kecil (papul) yang muncul di atas kulit.

(8)

 Sensasi panas atau terbakar akibat adanya peradangan.

 Timbul rasa gatal pada benjolan.

 Kondisi ini juga rentan mengalami peradangan apabila kamu sering menyentuhnya atau bahkan dipecahkan secara paksa.

Kondisi yang mengalami peradangan rentan mengalami kondisi berikut:

 Pustula, yaitu benjolan kecil yang di ujungnya terdapat nanah.

 Papula, yaitu benjolan kecil kemerahan yang terasa nyeri.

 Nodul, yaitu benjolan keras yang terbentuk di bawah permukaan kulit dan dapat terasa nyeri.

 Kista, yaitu benjolan besar yang terbentuk di bawah permukaan kulit yang berisi nanah dan rasa nyeri.

2.3 Pengobatan Secara Farmakologi

Perawatan topikal adalah pilihan pertama untuk jerawat ringan sampai sedang dan Pelengkap pengobatan adjuvan jerawat sedang hingga parah diproses secara sistematik.

Retinoid topikal digunakan sebagai first line untuk jerawat ringan dan pilihan kombinasi Untuk jerawat sedang, serta pilihan ini Pertama dalam perawatan jerawat. Biasanya retinoid generasi pertama (all-trans asam retinoat dan isotretinoin) dan retinoid generasi ketiga (adapalene dan tazarotene) mendorong. adapalen topikal direkomendasikan sebagai opsi teratas berkat toleransi yang lebih baik kulit dibandingkan retinoid topikal lainnya.

Agen antibakteri topikal yang digunakan adalah benzoil peroksida (BPO) yang memiliki kemampuan membunuh P. acnes, melarutkan komedo secara ringan, juga memiliki efek anti inflamasi melalui pelepasan tiga jenis oksigen dan asam benzoat, serta memberikan efek anti inflamasi. bakteri resisten terhadap BPO. dilaporkan. BPO direkomendasikan sebagai obat topikal lini pertama untuk lesi inflamasi.

Antibiotik digunakan untuk mengobati jerawat sebagai pengobatan pilihan pertama karena efeknya yang baik terhadap P.acnes dan efek anti-inflamasinya. Antibiotik topikal yang biasa digunakan dalam pengobatan jerawat antara lain eritromisin, linkomisin dan turunannya, klindamisin, kloramfenikol, klindamisin, dan asam fusidat. Antibiotik topikal tidak terlalu mengiritasi kulit dan, secara teoritis, dapat digunakan secara dangkal pada lesi mirip jerawat dan lesi mirip papular. Namun karena antibiotik topikal dapat menyebabkan resistensi terhadap P. jerawat, mereka tidak dianjurkan untuk pengobatan jangka panjang.

Penggunaan Obat jerawat yang paling banyak digunakan adalah sulfur. Hal ini dikarenakan efektivitas sulfur lebih baik dibandingkan obat jerawat lain seperti trentionin atau asam salisilat. Dimana pemberian sediaan sulfur lebih dapat menurunkan jumlah lesi akne vulgaris (Majesta & puguh, 2016: 3). Sufur juga merupakan obat yang dikategorikan bebas sehingga dapat dengan mudah ditemukan. Sulfur bekerja sebagai agen keratolitik dimana sulfur dapat menipiskan lapisan keratin serta dapat menghilangkan bagian kulit yang kasar. Sulfur juga bersifat antibakteri (Depkes, 2007). Benzoil peroksida juga merupakan obat jerawat yang paling banyak digunakan setelah sulfur. Dimana Benzoil peroksida bersifat sebagai antibakteri, Benzoil peroksida akan diuraikan oleh sistein pada kulit sehingga dapat membebaskan radikal bebas oksigen yang dapat menghambat sintesis protein Propionibacterium acnes (Dipiro et al, 2015: 138).Menurut Andrew, 2016. Tatalaksana Acne Vulgaris terdiri dari, (Sibero dkk, 2019).

(9)

Tabel 1.Tatalaksana Acne Vulgaris

Hanya Komedo Derajat Ringan Derajat Sedang Derajat Berat

Topikal retinoid First Line ( Antibiotik topical + retinoid topical, Benzoil Peroksida)

Antibiotik oral, Topikal retinoid, dan Benzoil Peroksida.

Pada Wanita : spironolakton + kontrasepsi oral + retinoid topical ± antibiotic topical dan/

benzoil peroksida

Isotretinoin antibiotic Oral + Topikal retinoid + Benzoil Peroksida

±Ekstaksi komedo Second line

( Antibiotik Topikal + retinoid

topikalalternatif, azelaic acid, sodium sulfacetami, asam salisilat)

2.4 Pengobatan Secara Herbal 1. Daun Binahong

Daun binahong memiliki kandungan antioksidan dan antivirus yang cukup tinggi sehingga bisa menyembuhkan atau menghambat tumbuhnya jerawat. Zat aktif yang berfungsi terhadap penyembuhan jerawat sebagai anti inflamasi, sebagai antioksidan dan analgesik adalah flavonoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol yang mempunyai sifat yang berfungsi dalam menghambat pertumbuhan virus dan bakteri. Kandungan lain yang terkandung dalam daun binahong adalah protein yang mampu meregenerasi kulit yang rusak akibat jerawat sehingga dapat memperhalus kulit dan menyamarkan bekas jerawat serta mengurangi produksi sebum yang memicu munculnya jerawat. Asam askorbat juga terkandung dalam daun binahong berfungsi untuk daya tahan tubuh, mempercepat penyembuhan dan sebagai antioksidan. Asam askorbat berperan penting untuk mengaktifkan enzim prolil hidroksilase yang nantinya akan digunakan dalam pembentukan kolagen dan mempercepat penyembuhan luka (Darma Susetya, 2014).

2. Kulit Pisang

Kulit pisang banyak mengandung antioksidan yang dapat mengurangi atau menghilangkan jerawat atau Acne vulgaris. uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah pisang raja dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium Acne , sehingga apabila terdapat jerawat dan dilakukan pengobatan topikal menggunakan kulit pisang akan menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium Acne . Menurut Saraswati, (2015) manfaat kulit pisang mampu untuk menyembuhkan jerawat dikarenakan kulit pisang mengandung antara lain : kandungan antioksidan mampu mengurangi jerawat dan minyak berlebih; anti jamur

(10)

membantu mengatasi rasa gatal dan iritasi pada kulit, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan; membantu mengangkat sel kulit mati, sehingga mencegah resiko datangnya jerawat yang baru akibat penyumbatan minyak akibat terhalang tumpukan sel kulit mati; dan mampu mencerahkan kulit wajah, sehingga noda merah bekas jerawat akan memudar.

3. Pegagan (Centella asiatica (L.).Urb.)

Pegagan dalam banyak penelitian juga menunjukkan aktivitas sebagai antibakteri baik gram positif dan beberapa gram negatif. Mekanisme kerja pegagan yaitu melalui kemampuan menstimulasi proliferasi fibroblast intraseluler, meningkatkan sintesa kolagen pada jaringan kulit dan juga meningkatkan kekuatan tarikan kulit yang baru terbentuk serta menghambat fase inflamasi pada bekas luka hipertrofik dan keloid. Hal ini sangat baik untuk penanganan jerawat karena kebanyakan kasus pada proses penyembuhan jerawat disertai terbentuknya kerompeng dan scar. Disamping itu pegagan pernah diteliti mempunyai efek antibakteri terhadap Propionibakterium acnes dan menunjukkan hasil MIC (mg/dl) adalah 5 sedangkan MBC dalam mg/dl adalah >5.

4. Tea Tree Oil

Minyak atsiri (EO), senyawa tumbuhan sekunder lipofilik dan mudah menguap dengan berat molekul di bawah 300, diekstraksi dari tunas, bunga, akar, kulit kayu, buah- buahan, biji-bijian, ranting, kayu, dan batang melalui penyulingan uap, melalui proses mekanis dari epikarp tanaman. buah jeruk atau dengan distilasi kering. Minyak Atsiri ini diyakini memiliki sifat antioksidan, antimikroba, antiprotozoal, antivirus, antijamur, dan antineoplastic (Nascimento dkk, 2023).

2.5 Farmakoterapi Non Farmakologi

Salah satu terapi non farmakologi yang dilakukan untuk mengatasi jerawat adalah dengan mencuci wajah. Mencuci wajah secara teratur dan benar dengan menggunakan sabun pembersih yang tepat dapat membersihkan kotoran atau debu, dan keringat yang menempel di wajah (Dipiro et al., 2015). Pola makan yang buruk dapat memperburuk jerawat. Sampai sekarang Saat ini jerawat (acne) berkaitan dengan indeks glikemik makanan. Indeks glikemik merupakan satuan yang mengukur kenaikan gula darah yang disebabkan oleh makanan tertentu. Konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi secara terus-menerus (seperti permen, soda dan minuman bersoda, es krim, coklat, cookies, sereal, gula rafinasi, roti, pasta, dan gorengan) dapat menyebabkan obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan darah tinggi. tekanan. tekanan. Tekanan darah tinggi, serta perubahan komposisi dan produksi sebum dapat menyebabkan peradangan dan jerawat pada kulit. Hal ini bisa terjadi karena makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan fluktuasi hormonal atau menimbulkan perasaan naik turun. Salah satunya adalah hormon insulin yang dapat mendorong munculnya sebum, salah satu penyebab timbulnya jerawat ( Hasan dkk, 2015).

(11)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Jerawat berasal dari kata yunani ‘acme’ yang artinya awal dari kehidupan. Jerawat merupakan suatu penyakit pada kulit yang kompleks (multifactor) yang disebabkan oleh aktivitas produksi kelenjar minyak berlebih sehingga produksi sebum meningkat. Peningkatan produksi sebum dapat menyebabkan penyumbatan dan peradangan kronik pada folikel polisebasea yang disertai adanya infeksi bakteri.

Jerawat adalah kondisi kulit yang kompleks yang melibatkan sejumlah faktor patofisiologinya. Literatur yang telah kami tinjau menunjukkan bahwa peningkatan sebum, peradangan dan peran bakteri Propionibacterium acnes dalam perkembangan jerawat (James, 2018)

Terapi secara farmakologi, penggunaan Obat Tunggal Obat jerawat yang digunakan paling banyak disukai adalah sulfur . Hal ini dikarenakan efektivitas sulfur lebih baik dibandingkan obat jerawat lain seperti trentionin atau asam salisilat. Dimana pemberian sediaan sulfur lebih dapat menurunkan jumlah lesi acne vulgaris

Salah satu terapi non farmakologi yang dilakukan untuk mengatasi jerawat adalah dengan mencuci wajah. Mencuci wajah secara teratur dan benar dengan menggunakan sabun pembersih yang tepat dapat membersihkan kotoran atau debu, dan keringat yang menempel di wajah (Dipiro et al., 2015).

Salah satu dari farmakologi yang dapat dilakukan Beberapa tumbuhan seperti daun binahong , kulit pisang dan daun pegagan telah terbukti memiliki sifat anti inflamasi dan anti mikroba yang dapat membantu mengurangi peradangan dan mengontrol pertumbuhan bahkteri penyebab jerawat

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Ameliani, H., Suwendar, S., & Yuniarni, U. (2019). Survei Gambaran Pengetahuan dan Pola Swamedikasi Jerawat pada Mahasiswa FMIPA Universitas Islam Bandung. Prosiding Farmasi, 305-312.

Hasan, S. H., Kepel, B. J., & Rompas, S. S. (2015). Hubungan pola makan dengan kejadian acne vulgaris pada mahasiswa semester V (lima) di program studi ilmu keperawatan fakultas kedokteran universitas Sam Ratulangi manado. Jurnal Keperawatan, 3(1).

Latifah, S., & Kurniawaty, E. (2015). Stres dengan Akne Vulgaris. Jurnal Majority, 4(9), 129- 134.

Nascimento, T., Gomes, D., Simões, R., & da Graça Miguel, M. (2023). Tea Tree Oil:

Properties and the Therapeutic Approach to Acne—A Review. Antioxidants, 12(6), 1264.

Sibero, H. T., Putra, I., & Anggraini, D. I. (2019). Tatalaksana Terkini Acne Vulgaris. JK Unila JURNAL KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG, 3(2), 313-320.

(13)
(14)
(15)

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat pengetahuan tentang penyebab dan pencegahan keputihan menunjukkan respon sedang paling tinggi disebabkan faktor lingkungan ketika menjawab kuesioner yang diberi. Pertanyaan 3

: Berbagai Kendala Pada Radiografi Periapikal Dan Cara-Cara Mengata USU e-Repository © 2008... : Berbagai Kendala Pada Radiografi Periapikal Dan Cara-Cara

Pengelolaan lingkungan dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial yaitu dengan cara menghilangkan kuman penyebab infeksi dari sumber infeksi dan mencegah kuman tersebut

Kompetensi : Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran II - 21 Sebagaimana telah diketahui alat deteksi asap dapat memberikan sinyal ke alarm bahaya dengan cara mendeteksi adanya asap

Pemahaman terkait cara pencegahan, penularan, deteksi, dan penanggulangan penyakit HIV-AIDS menjadi sangat penting agar para juru sawer bisa memahami secara utuh,

Jenis-jenis gulma, permasalahan, dan cara mengatasinya pada tanaman

Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem springkler otomatik untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan

Dokumen ini menerangkan mengenai perasaan tidak aman yang dihadapi oleh setiap orang dan cara untuk