Penyimpangan Konten Radikalisme di Twitter terhadap Nilai Moral Agama Islam
Mohammad Afif Nafili1, Muhammad Hanzalah Alfin Arrabbani2, Mecca Aidhan Ghafur3, Moch. Rafli Oktavianda4, Bintang Adi Nugroho5, Naqibul Mujahidin Rahman6, Dani
Darmawan7
Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember, Jalan Kalimantan No. 37, Jember 68121 Indonesia
E-mail: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected],
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penyimpangan konten radikalisme di Twitter dan dampaknya terhadap nilai moral agama Islam. Metode penelitian mencakup analisis konten digital, analisis jaringan sosial, survei opini publik, analisis kualitatif, evaluasi kebijakan Twitter, dan analisis statistik. Melalui pencarian kata kunci dan tagar tertentu, kami mengumpulkan sampel konten yang mencakup teks, gambar, dan tautan terkait radikalisme Islam. Analisis konten mendalam mengungkapkan pemikiran radikal dan cara nilai moral agama Islam diinterpretasikan atau dilanggar dalam konteks digital. Analisis jaringan sosial memberikan wawasan tentang pola hubungan antar pengguna yang menyebarkan konten radikal di Twitter. Survei opini publik mengukur dampak konten radikal terhadap pemahaman dan sikap masyarakat terhadap nilai moral agama Islam. Melalui pengumpulan data dan observasi, dampak sosial konten radikal dijelaskan secara mendalam. Evaluasi kebijakan Twitter menyoroti langkah-langkah yang diambil oleh platform dalam menangani konten radikalisme. Analisis statistik menunjukkan tren dan pola yang signifikan dalam data survei dan demografis. Temuan penelitian ini memberikan pemahaman holistik tentang fenomena penyimpangan konten radikal di Twitter dan memberikan dasar untuk rekomendasi kebijakan yang lebih efektif dalam mengatasi tantangan ini.
Kata kunci: Radikalisme, Twitter, Moral, Islam
Deviation of Radicalism Content on Twitter from Islamic Moral Values
AbstractThis study aims to investigate the deviation of radicalism content on Twitter and its impact on Islamic moral values. Research methods include digital content analysis, social network analysis, public opinion surveys, qualitative analysis, Twitter policy evaluation, and statistical analysis.
Through specific keyword and hashtag searches, we collected content samples that included text, images and links related to Islamic radicalism. In-depth content analysis revealed radical thinking and the way Islamic religious moral values are interpreted or violated in a digital context. Social network analysis provides insights into the patterns of relationships between users spreading radical content on Twitter. Public opinion surveys measure the impact of radical content on people's understanding and attitudes towards Islamic moral values. Through data collection and observation, the social impact of radical content is explained in depth. An evaluation of Twitter's policies highlights the steps taken by the platform in dealing with radicalized content. Statistical analysis shows significant trends and patterns in survey and demographic data. The findings of this study provide a holistic understanding of the phenomenon of radical content drift on Twitter and provide a basis for more effective policy recommendations in addressing this challenge.
Keywords: Radicalism, Twitter, Morals, Islam
PENDAHULUAN
Dalam era globalisasi dan teknologi informasi yang pesat, peran media sosial sebagai saluran komunikasi dan informasi telah mengalami perkembangan yang signifikan. Meskipun media sosial memberikan manfaat besar dalam memfasilitasi pertukaran informasi dan interaksi sosial, namun dalam beberapa kasus, media sosial juga dapat menjadi media penyebaran ajaran radikalisme. Hal ini menjadi semakin kompleks seiring dengan kemampuan media sosial untuk menyampaikan pesan secara cepat dan luas kepada audiens yang sangat besar.
Radikalisme merupakan pandangan atau ideologi yang mendirikan upaya untuk mengubah tatanan sosial, politik, atau agama
yang ada dengan cara yang ekstrim (Sunarto, 2017). Dengan luasnya jaringan internet, penyebaran radikalisme menjadi lebih cepat dan luas, dengan adanya teknologi ini kelompok ekstrimis semakin terbantu dalam peningkatan jaringan dan propaganda paham yang mereka usung (Ghifari, 2017). Media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan WhatsApp telah menjadi ruang baru untuk melakukan propaganda, perekrutan, pelatihan, perencanaan, dan ajakan mendirikan negara yang berbasis pada agama. Penggunaan media sosial ini menargetkan anak muda dan dapat menjadi ancaman bagi kebangsaan di masa depan.
Generasi muda merupakan kelompok yang lebih mudah disasar gerakan radikal karena
pemahaman keagamaan yang dangkal (Wahid dkk., 2020). Pada penelitan yang dilakukan oleh (Ghifari, 2017) tentang radikalisme yang terjadi di internet dan dampaknya yang menunjukkan bahwa perekrutan kaum muda kedalam organisasi radikal banyak dilakukan dengan menggunakan internet.
Artikel ini akan membahas bagaimana pengaruh konten radikalisme berupa tulisan dan gambar di facebook terhadap perilaku, pola pikir, dan sikap pengguna facebook. Dengan begitu kita dapat melihat bagaimana respon dari pengguna media sosial apakah ajaran – ajaran radikalisme dapat mudah diterima melalui jaringan internet atau malah ajaran – ajaran tersebut mendapat penolakan dari pengguna internet.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode penelitian pendeketan kualitatif dengan mengambil data dari fenomena penyimpangan radikalisme pada Twitter dengan menganalisis postingan dan komentarnya, untuk mengetahui bagaimana penyimpangan radikalisme dapat terjadi dilihat dari nilai moral agama islam.
Menurut (Yusanto, 2020) Metode peneliti kualitatif adalah mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita. Fakta, realita, masalah, gejala serta peristiwa hanya dapat dipahami bila peneliti menelusurinya secara mendalam dan tidak
hanya terbatas pada pandangan di permukaan saja. Kedalaman ini yang menciri khaskan metode kualitatif, sekaligus sebagai faktor unggulannya.
Untuk mendukung penelitian ini kami, menganalisis konten – konten dan komentar – komentar yang bersifat radikal di Twitter. Dalam menganalisis kami menggunakan teknik pengumpulan data observasi, dimana kami mengumpulkan data dari postingan di Twitter dan melihat komentar – komentar yang bersifat radikal.
Metode ini dimulai dengan pencarian, data, pengamatan, dan analisis, bagaimana konten – konten di Twitter menyimpang menjadi radikalisme. Dari penelitian ini kita dapat mengetahui respon dari pengguna media sosial Twitter tentang ajaran – ajaran radikalisme dapat mempengaruhi nilai moral agama Islam.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penilitian tentang penyimpangan konten radikalisme di twitter terhadap nilai moral agama islam banyak kasus yang berkaitan dengan terorisme.
Salah satu kasus yang bisa kita ambil yaitu pengeboman gereja katredal Makasar.
Menurut keterangan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, pasangan pelaku pengeboman di depan gereja katredal Makassar ialah bagian dari kelompok terorisme jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) (Voidotid, 2021). Pelaku terdiri dari dua orang yaitu pasangan suami istri
berinisial L (suami) dan YSF (istri) mereka adalah pasutri yang baru menikah. Suami istri tersebut mengendarai motor berboncengan, dan sang suami memakai sorban lalu sang istri menggunakan kerudung paniang bercadar. Gerakan ini tercatat pertama kali di gagas oleh Aman Abdurrahman pada 2014 lalu, setelah ia berbaiat pada ISIS dan berkeinginan untuk membentuk Khilafah Islamiyah di Indonesia. Dana yang di pakai untuk merakit dan membeli bahan peledak bom mendapatkan dan dari organisasi tererisme JAD.
Dalam kasus pengeboman ini masyarakat sangat kesal dan komentar dipenuhi dengan rasa kekesalan seluruh masyarakat. Berbagai macam tanggapan msayarakat di komentar ada yang pro dan kontra. Ada juga beberapa masyarakat yang pro terhadap kejadian pengeboman tersebut.
Mereka menanggapinya dengan salah yaitu bagi mereka tindakan radikal itu merupakan salah satu jihad yang benar dan pelaku bom bunuh diri yang meninggal akan meninggal dalam keadaan mati sahid. Kejadian itu pun menimbulkan efek samping, karna ulah si pelaku memakai pakaian islam serba tertutup yaitu dengan memakai cadar jadi mempengaruhi mindset masyarakat bahwa orang yang memakai pakaian islami serba tertutup identik dengan anggota dari terorisme. Terorisme hakikatnya mengandung motif dan tujuan politik, klaim politik dan perjuangan politik. Terorisme
adalah paham yang dalam rangka mencapai tujuan seringkali menghalalkan berbagai cara termasuk kekerasan, intimidasi hingga pembunuhan. Selama ini banyak sekali orang menganggap kategorisasi itu hasil ciptaan barat untuk memecah belah umat islam serta mencegah umat islam untuk bersatu dan maju. Banyak tokoh islam yang menyatakan bahwa teroris tersebut hanya rekaan barat untuk merusak citra islam agar senantiasa terkait dengan teroris dan kekerasan.
SIMPULAN
Pada era globalisasi dan informasi yang pesat, penggunaan media sosial yang rata rata penggunanya adalah anak muda dapat menjadi suatu ancaman tersendiri bagi suatu bangsa. Seiring dengan berjalannya waktu konten radikalisme yang terdapat di internet dan media sosial bertambah banyak, tidak sedikit juga yang bahkan mengajak para remaja untuk bergabung dalam organisasi radikalisme. Berdasarkan data observasi yang terdapat pada postingan Twitter, respon dari pengguna media sosial menunjukkan sikap dan perilaku pro kontra yang berbeda.
Oleh karena itu perlu bagi kita khususnya anak muda untuk lebih memperbanyak ilmu dan informasi mengenai Radikalisme agar kita tidak terjerumus kedalamnya dan terpengaruh dengan apa yang terjadi pada media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ghifari, I. F. (2017). Radikalisme di internet.
Religious: Jurnal Agama dan Lintas Budaya, 1(2), 123–124.
Sunarto, A. (2017). Dampak Media Sosial Terhadap Paham Radikalisme.
Nuansa: Jurnal Studi Islam dan Kemasyarakatan, 10(2).
Voidotid. (2021). Sejarah dan Pola Gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Voidotid.
Wahid, A., Destitry, N. A., & Rakhmawati, F. Y. (2020). Radikalisme di Media Sosial: Penyebutan dan Konteks Sosial Penggunaannya. Jurnal InterAct, 9(1), 60–70.
Yusanto, Y. (2020). Ragam Pendekatan Penelitian Kualitatif. JOURNAL OF SCIENTIFIC COMMUNICATION
(JSC), 1(1).
https://doi.org/10.31506/jsc.v1i1.7764