• Tidak ada hasil yang ditemukan

peran dinas tata ruang dan cipta karya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "peran dinas tata ruang dan cipta karya"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN BULUKUMBA

AKHMAD AFFANDI Nomor Stambuk: 10564 01093 10

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(2)

i DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN BULUKUMBA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh AKHMAD AFFANDI Nomor Stambuk: 10564 01093 10

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(3)

ii Judul Proposal Penelitian : Peran Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dalam

Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bulukumba Nama Mahasiswa : Akhmad Affandi

Nomor Stambuk : 10564 01093 10 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyetujui:

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Hj. Fatmawati, M.Si Adnan Ma'ruf, S.Sos, M.Si

Mengetahui:

Dekan Ketua Jurusan

Fisipol Unismuh Makassar Ilmu Pemerintahan

Dr. H. Muhlis Madani, M.Si Andi Luhur Prianto, S.IP, M.Si

(4)

iii Telah diterima oleh TIM Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan/undangan menguji ujian skripsi Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor: 12038/FSP/A.1-VIII/VIII/36/2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S.1) dalam program studi Ilmu Pemerintahan Di Makassar pada hari Sabtu tanggal 29 bulan Agustus tahun 2015.

TIM PENILAI

Ketua, Sekretaris,

Dr. H. Muhlis Madani, M.Si Drs. H. Muhammad Idris, M.Si

Penguji:

1. Dr. H. Muhlis Madani, M.Si (Ketua) ( )

2. Drs. H. Muhammad Idris, M.Si ( )

3. Adnan Ma’ruf, S.Sos, M.Si ( )

4. Rudi Hardi, S.Sos, M.Si ( )

(5)

iv Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Akhmad Affandi Nomor Stambuk : 10564 01093 10 Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnyadan apabila kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, 18 Agustus 2014

Yang Menyatakan,

Akhmad Affandi

(6)

v AKHMAD AFFANDI, 2014. Peran Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya Dalam Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba (dibimbing oleh Fatmawati dan Adnan Ma'ruf).

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran dan upaya dari Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dalam melakukan pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian ini adalah Kualitatif dengan informan sebanyak 3 orang. Teknik pengumpulan data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berupa wawancara dan observasi. Data tersebut dianalisis secara deskriktif dan interpretasi kepada informan dengan melakukan wawancara kemudian mengecek kembali data tersebut untuk lebih memahami secara mendalam serta berpedoman pada teori-teori yang sesuai, dan data tersebut dikumpulkan diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang bermutu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam melaksanakan peran sebagai implementor dan pengawas terhadap pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba, Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Bulukumba belum dapat memberikan hasil yang maksimal. Belum maksimalnya hasil tersebut dipengaruhi oleh kurangnya sumber daya manusia serta masih minimnya sarana dan prasarana yang tersedia memiliki pengaruh lebih besar dalam pengelolaan sampah. Meskipun demikian, disisi lain dengan adanya partisipasi masyarakat serta tersedianya lahan tempat pembuangan akhir yang luas bisa mampu menjadi faktor pendukung bagi pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan pengelolaan sampah.

Keyword: Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, Pengelolaan Sampah, Kabupaten Bulukumba

(7)

vi

“Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu”

Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan Syukur Alhamdulillah Rabbil Alamin atas kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, hidayah dan maghfirahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dalam Pengelolaan Sampah di Kabupaten Bulukumba”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih pula kepada ibu Dr. Hj. Fatmawati, M.Si sebagai pembimbing I dan bapak Adnan Ma'ruf, S.Sos, M.Si sebagai pembimbing II, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis sejak pengusulan judul sampai penyelesaian skripsi ini.

Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada :

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.

2. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar Dr. H. Muhlis Madani, M.Si

3. Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Andi Luhur Prianto, S.IP, M.Si yang telah membina Jurusan Ilmu Pemerintahan.

(8)

vii Universitas Muhammadiyah Makassar, Yang telah banyak membantu penulis selama memepuh pendidikan di kampus ini.

5. Kakanda Jusriadi, S.IP yang senantiasa memberi dukungan moril kepada penulis.

6. Terkhusus kepada kedua orang tua (Syarifuddin dan Syamsiah) dan keluarga penulis yang senantiasa membantu penulis baik itu berupa materi maupun non materi.

Semoga bantuan semua pihak senantiasa mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, Amin …

Makassar, 18 Agustus 2014

Penulis

(9)

viii

Halaman Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Penerimaan Tim ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Peranan Pemerintah ... 9

B. Peran Pemerintah Dalam Pelayanan Publik ... 22

C. Konsep Pengelolaan Sampah ... 31

D. Kerangka Pikir ... 41

E. Deskripsi Fokus ... 42

BAB III METODE PENELITIAN ... 43

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 43

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 43

C. Sumber Data ... 43

D. Informan Penelitian ... 44

E. Tehnik Pengumpulan Data ... 44

F. Tehnik Analisis Data ... 45

(10)

ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

A. Deskripsi Obyek Penelitian ... 47

1. Sejarah Singkat Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba .. 47

2. Slogan Kabupaten Bulukumba ... 48

3. Keadaan Geografis Kabupaten Bulukumba ... 50

4. Profil Kecamatan Ujung Bulu ... 52

5. Profil Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya ... 52

B. Karakteristik Informan ... 55

1. Pegawai Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya ... 55

2. Tokoh Masyarakat ... 56

C. Peran Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Dalam Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba ... 57

1. Implementor ... 57

2. Pengawasan ... 63

D. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba ... 65

1. Faktor Pendukung Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba ... 65

2. Faktor Penghambat Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba ... 70

BAB V PENUTUP ... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 76

(11)
(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Meningkatnya masalah persampahan diberbagai kota di Indonesia tidak lepas dari laju urbanisasi yang cukup tinggi di berbagai wilayah perkotaan yang tidak diimbangi dengan penyediaan infrastruktur persampahan yang memadai.

Kondisi ini tidak membaik dari tahun ke tahun. Permasalahan persampahan yang mengemuka secara nasional secara umum didominasi oleh wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan TPA sehingga dampaknya tidak saja terhadap pencermaran lingkungan tetapi juga terhadap kesehatan. Perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang pesat di daerah perkotaan mengakibatkan daerah pemukiman semakin luas dan padat. Peningkatan aktivitas manusia, lebih lanjut menyebabkan bertambahnya sampah.

Sistem pengelolaan persampahan di daerah perkotaan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena melihat dari timbulan sampah yang dihasilkan besar (kepadatan penduduk tinggi) dan tidak adanya lahan baik sebagai tempat pengolahan dimana akhirnya menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.

Persampahan merupakan masalah yang tidak dapat diabaikan, karena di dalam semua aspek kehidupan selalu dihasilkan sampah. Sampah akan terus bertambah seiring dengan banyaknya aktifitas manusia yang disertai dengan semakin besarnya jumlah penduduk.

(14)

Pengelolaan sampah meliputi pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir. Syarat yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya. Sehingga jelas bahwa pentingnya dalam pengelolaan sampah, karena melihat perkembangan waktu yang senantiasa diiringi dengan pertambahan penduduk yang berdampak terhadap jumlah timbulan sampah yang semakin meningkat sementara lahan yang ada tetap (Agil, 2010:1).

Sampah perkotaan merupakan salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian yang serius. Jumlah produksi sampah saat ini, dari tahun ketahun akan semakin membesar seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi. Permasalahan sampah menjadi sangat krusial, antara lain sampah tidak terangkut dan terjadi pembuangan liar, sehingga bisa mengganggu infrastruktur kota. Selain itu, permasalahan sampah dapat menimbulkan berbagai penyakit, bau tidak sedap dan mengurangi estetika lingkungan. Menurut Sejati (dalam Khoiriyah 2010:2), kerusakan lingkungan telah mengglobal karena perubahan iklim, timbul bencana, timbulnya pandemi penyakit, serta kelangsungan hidup manusia, tumbuhan, beserta binatang dan spesiesnya. Hal ini apabila tidak diatasi, bumi menjadi tidak nyaman untuk ditempati. Salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan yaitu sampah.

Para ilmuan hingga kini masih terus berdebat mengenai masalah lingkungan, meningkatnya aktivitas ekonomi, baik dalam bentuk banyaknya

(15)

industri yang beroperasi, laju eksploitasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang terus meningkat menyebabkan laju peningkatan jumlah dan kualitas limbah.

Demikian pun dengan peningkatan jumlah penduduk dapat memicu peningkatan kebutuhan pangan, sumber energi, perumahan serta kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Meningkatnya semua kebutuhan ini pada gilirannya akan meningkatkan jumlah limbah, baik domestik maupun industri yang dilepas ke lingkungannya.

Masalah lingkungan cukup memprihatinkan, rusaknya lingkungan karena adanya kegiatan ekonomi yang tinggi baik di sektor pertanian, industri, konsumsi energi dan pembuangan limbah sebagaimana yang terlihat sehari-hari limbah kemasan plastik, kaleng, kertas berserakan di jalan-jalan, di lorong-lorong, saluran drainase bahkan di laut. Tumpukan sampah tersebut dapat menciptakan tempat kehidupan tikus dan serangga lain serta bakteri yang dapat membahayakan kesehatan manusia bila berada di sekitar pemukiman penduduk.

Sampah merupakan salah satu permasalahan kompleks yang dihadapi, baik oleh negara-negara berkembang maupun negara-negara maju di dunia. Masalah sampah merupakan masalah yang umum dan telah menjadi fenomena universal di berbagai negara belahan dunia manapun, dengan titik perbedaannya terletak pada seberapa banyak sampah yang dihasilkan.

Hampir disetiap kabupaten/kota yang ada di Indonesia selalu dihadapkan dengan permasalahan sampah. Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat telah menimbulkan bertambahnya volume, jenis dan karakteristik sampah yang semakin beragam yang harus dikelola. Pengelolaan

(16)

sampah yang ada selama ini belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Oleh karena sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu (sumber timbulan) ke hilir (tempat pemrosesan akhir) agar dapat memberikan manfaat secara ekonomi, kehidupan yang sehat bagi masyarakat dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.

Definisi sampah, sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Yang termasuk jenis sampah adalah sampah rumah tangga (tidak termasuk tinja), sampah sejenis sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan fasilitas lainnya serta sampah spesifik. Yang terakhir ini adalah sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun, sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah dan sampah yang timbul secara tidak periodik.

Dalam rangka membatasi ruang lingkup penelitian, maka peneliti hanya akan menfokuskan pembahasan pada lingkup “Peran Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya Dalam Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Bulukumba” dimana selaku instansi pemerintahan yang bertanggung jawab sekaligus yang menangani

(17)

masalah sampah di Kabupaten Bulukumba, khususnya di Ibu Kota Kabupaten yakni Kecamatan Ujungbulu.

Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam mewujudkan suatu pembangunan yang berkualitas serta berkelanjutan haruslah senantiasa melibatkan seluruh stakeholder yang ada. Tidak mungkin suatu pembangunan akan berjalan dengan lancar jika tidak didukung oleh sebuah bentuk kerjasama yang baik, seperti halnya dengan pengelolaan masalah sampah yang harus dilakukan secara bersama-sama, baik itu pemerintah (Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya Kabupaten Bulukumba), masyarakat maupun pihak swasta. Keikutsertaan masyarakat dalam proses penanganan masalah sampah merupakan suatu bentuk kesadaran akan lingkungan sekitar sekaligus sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan.

Lebih dari pada itu kita dapat melihat kondisi realitas yang ada, dimana keberhasilan Kabupaten Bulukumba untuk pertama kalinya meraih piala adipura sebagai lambang supremasi penghargaan kebersihan kabupaten/kota kategori kota kecil pada tahun 2012. Keberhasilan tersebut merupakan sebuah bukti nyata bahwa dengan cara peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan, mampu membawa sebuah bentuk prestasi yang membanggakan meskipun tanpa adanya suatu jalinan kerjasama yang tertuang dalam bentuk perjanjian/kesepakatan (hitam diatas putih) antara pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk dapat mewujudkan kondisi kota yang bersih serta untuk meraih penghargaan adipurta sebagai bentuk pengakuan nasional tidaklah mudah,

(18)

sebab pemberian penghargaan adipura untuk daerah-daerah yang dianggap sukses memperhatikan serta menjaga kebersihan lingkungan telah ada sejak tahun 1986 dan sempat diberhentikan pelaksanaannya pada tahun 1999, kemudian dihidupkan kembali pada tahun 2005 adalah rentang waktu yang sangat lama bagi Kabupaten Bulukumba untuk meraih penghargaan tersebut.

Usaha untuk menjaga kondisi kota agar tetap bersih serta meraih piala adipura sebagai pengakuan nasional tidak terlepas dari hubungan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Kedua elemen tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, apalagi pelibatan dan partisipasi masyarakat di dalam pembangunan dewasa ini sangat berpengaruh terhadap sukses atau tidaknya pembangunan tersebut.

Raihan penghargaan piala adipura di tahun 2012 ternyata tidak membuat segenap jajaran Pemda dan masyarakat berpangkutangan dan larut dalam kesenangan semata. Keberadaan piala adipura pertama justru mampu memacu semangat pemerintah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas pencapaian yang telah diraih sebelumnya. Disamping itu juga, jalinan kerja sama diantara keduanya yang semakin erat mampu menumbuhkan semangat kebersamaan yang kuat di dalam melaksanakan suatu pembangunan. Khusus pada pengelolaan sampah sekaligus peningkatan kualitas kebersihan lingkungan hasilnya dapat dicapai pada tahun 2013 dimana penghargaan piala adipura kedua dapat diraih kembali. Raihan secara berturut-turut tersebut adalah hasil usaha bersama antara pemerintah dan masyarakat yang masing-masing sadar akan

(19)

pentingnya kebersihan lingkungan.

Raihan piala adipura yang kedua pada tahun 2013 semakin memperkuat eksistensi Kabupaten Bulukumba dikanca nasional sebagai kabupaten yang mampu mengelolah dan menjaga kondisi kotanya agar tetap bersih. Raihan penghargaan yang kedua ini adalah sebuah bukti bahwa hubungan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat semakin erat, apalagi jika itu menyangkut masalah kebersihan. Hubungan yang baik, jalinan kerja sama yang erat serta profesional dalam menjalangkan fungsi masing-masing adalah kunci untuk mengelolah dan menjaga kondisi kota agar tetap bersih.

Raihan piala adipura secara berturut-turut selama dua tahun ditambah dengan raihan penghargaan sebagai kota sehat pada tahun 2011 dan 2013, oleh karena itu dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam hal penanganan sampah dan peningkatan kebersihan maka ditetapkanlah PERDA Kabupaten Bulukumba Nomor 6 Tahun 2013 Tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan sebagai payung hukum daerah di dalam menjaga kebersihan lingkungan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti mencoba untuk membuat suatu rumusan masalah sebagai titik fokus di dalam melakukan penelitian, yakni:

1. Bagaimana peran Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba ?

(20)

2. Apa sajakah faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peran Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba.

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bulukumba.

D. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan secara teoritis

Hasil penelitian ini merupakan sumbangan bagi khasanah ilmiah bidang Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik.

2. Kegunaan secara praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan strategi dalam rangka menangani masalah sampah di wilayah perkotaan.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Pemerintah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Peran berarti seperangkat tingkah laku yang diharapkan dapat dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat, dan dalam kata jadinya (peranan) berarti tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa (Amba, 1998 dalam Bahagia 2009:11).

Selanjutnya Amba, 1998 (dalam Bahagia 2009:11) menyatakan Peranan adalah suatu konsep yang dipakai sosiologi untuk mengetahui pola tingkah laku yang teratur dan relatif bebas dari orang-orang tertentu yang kebetulan menduduki berbagai posisi dan menunjukkan tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan peranan yang dilakukannya.

Levinson dalam Bahagia 2009:11, menyatakan bahwa peranan mencakup paling sedikit 3 (tiga) hal, yaitu:

1. Peranan adalah norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti menempatkan rangkaian peraturan yang mendukung seseorang dalam kehidupan masyarakat.

2. Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

3. Peranan dapat juga dikatakan sebagai perilaku individu yang penting dalam struktur sosial.

(22)

Peranan baru ada apabila ada kedudukan, jadi peranan merupakan aspek yang dinamis dari status atau aspek fungsional dari kedudukan. Bila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukanya, berarti orang tersebut telah menjalankan peranya. Jadi peranan yang dimaksud adalah tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai kedudukan. Stogli (dalam Nurholis) memandang konsep peranan sebagai pemikiran tentang yang diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu yang lebih dikaitkan dengan sifat-sifat probadi individu itu dari pada posisinya.

Wibawa (dalam Nurholis) menyatakan bahwa peranan adalah keseluruhan hubungan perilaku seseorang dilihat dari fungsi organisasi. Sedangkan Soekanto (dalam Nurholis) memberikan pengertian tentang peranan, peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukanya, maka ia menjalankan suatu peranan, pembedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, keduanya tidak dapat dipisahkan, karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya, tak ada peranan tanpa ada kedudukan, atau kedudukan tanpa peranan, sebagaimana halnya dengan kedudukan, peranan juga mempunyai 2 hal arti, seperti setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya.

Pemerintah atau “Government” dalam bahasa Inggris diartikan sebagai

“The authoritative direction and administration of the affairs of men/women in a

(23)

nation, state, city, etc”. Atau dalam bahasa Indonesia berarti “Pengarahan dan administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara, negara bagian, kota dan sebagainya”. Bisa juga berarti “The governing body of a nation, state, city, etc”. Atau lembaga atau badan yang menyelenggarakan pemerintahan negara, negara bagian, atau kota dan sebagainya (Sedarmayanti 2012:2).

Dewasa ini masalah yang harus diatasi oleh pemerintah adalah masalah publik yaitu nilai, kebutuhan atau peluang yang tak terwujudkan. Meskipun masalah tersebut dapat diidentifikasi tapi hanya mungkin dicapai lewat tindakan publik yaitu melalui kebijakan publik (Nugroho dalam Kertya, 2010).

Karakteristik masalah publik yang harus diatasi selain bersifat interdependensi (berketergantungan) juga bersifat dinamis, sehingga pemecahan masalahnya memerlukan pendekatan holistik (holistic approach) yaitu pendekatan yang memandang masalah sebagai kegiatan dari keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan atau diukur secara terpisah dari yang faktor lainnya. Untuk itu, diperlukan kebijakan publik sebagai instrumen pencapaian tujuan pemerintah.

Setiap kebijakan publik mempunyai tujuan-tujuan baik yang berorientasi pencapian tujuan maupuan pemecahan masalah ataupun kombinasi dari keduanya.

Secara padat Tachjan ( dalam Kertya 2010) menjelaskan tentang tujuan kebijakan publik bahwa tujuan kebijakan publik adalah dapat diperolehnya nilai-nilai oleh publik baik yang bertalian dengan public goods (barang publik) maupun public service (jasa publik). Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan oleh publik untuk

(24)

meningkatkan kualitas hidup baik fisik maupun non-fisik.

Adapun proses kebijakan publik adalah serangkian kegiatan dalam menyiapkan, menentukan, melaksanakan serta mengendalikan kebijakan.

Efektivitas suatu kebijakan publik ditentukan oleh proses kebijakan yang melibatkan tahapan-tahapan dan variabel-variabel. Jones (dalam Kertya 2010) mengemukakan sebelas aktivitas yang dilakukan pemerintah dalam kaitannya dengan proses kebijakan yaitu: “perception/definition, aggregation, organization, representation, agenda setting, formulation, legitimation, budgeting, implementation, evaluation and adjustment/termination” (persepsi / definisi , agregasi , organisasi , representasi , pengaturan agenda , formulasi , legitimasi , penganggaran , pelaksanaan , evaluasi dan penyesuaian / terminasi).

Tachjan (dalam Kertya 2010) menyimpulkan bahwa pada garis besarnya siklus kebijakan publik terdiri dari tiga kegiatan pokok, yaitu:

1. Perumusan kebijakan

2. Implementasi kebijakan serta

3. Pengawasan dan penilaian (hasil) pelaksanaan kebijakan.

Jadi efektivitas suatu kebijakan publik sangat ditentukan oleh proses kebijakan yang terdiri dari formulasi, implementasi serta evaluasi. Ketiga aktivitas pokok proses kebijakan tersebut mempunyai hubungan kausalitas serta berpola siklikal atau bersiklus secara terus menerus sampai suatu masalah publik atau tujuan tertentu tercapai. Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu kebijakan atau program harus

(25)

diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan.

Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian luas merupakan alat administrasi publik dimana aktor, organisasi, prosedur, teknik serta sumber daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan. Van Meter dan Van Horn (dalam Kertya 2010) mendefinisikan implementasi kebijakan publik sebagai ”Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan untuk mencapai tujuan- tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan sebelumnya. Tindakan- tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usah-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan”. Tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan dan sasaran ditetapkan terlebih dahulu yang dilakukan oleh formulasi kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi kebijakan terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut.

Dalam konteks otonomi daerah, desentralisasi dimaksudkan agar daerah lebih mampu mengembangkan inisiatif dan kreativitas daerah dan sumberdayanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan

(26)

dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumberdaya nasional yang berkeadilan serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Namun kesemuanya itu perlu diimbangi dengan sistem pengawasan yang memadai agar tidak menimbulkan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) baru.

Dalam rangka pelaksanaan pekarjaan dan untuk mencapai tujuan dari pemerintah yang telah direncanakan maka perlu ada pengawasan, karena dengan pengawasan tersebut, maka tujuan yang akan dicapai dapat dilihat dengan berpedoman rencana yang telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pemerintah.

Dengan demikian pengawasan itu sangat penting dalam melaksanakan pekerjaan dan tugas pemerintahan, sehingga pengawasan diadakan dengan maksud untuk mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak lalu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru dan juga mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak (Edu: 2013).

Pengawasan secara umum diartikan sebagai suatu kegiatan administrasi yang bertujuan mengandalkan evaluasi terhadap pekerjan yang sudah diselesaikan apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Karena itu bukanlah dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah satu yang benar tetapi lebih diarahkan kepada upaya untuk melakukan koresi terhadap hasil kegiatan. Dengan demikian jika terjadi kesalahan atau penyimpangan-penyimpagan yang tidak sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, maka segera diambil langkah-langkah yang dapat meluruskan

(27)

kegiatan berikutnya sehingga terarah pelaksanaanya (Fabanyo 2011:21).

Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. “Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results”.

(Schermerhorn dalam Fabanyo 2011:22)

Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan . the process of ensuring that actual activities conform the planned activities. (Stoner, Freeman & Gilbert dalam Fabanyo 2011:22)

Menurut Winardi (dalam Fabanyo 2011:22) "Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan".

Sedangkan menurut Basu Swasta (dalam Fabanyo 2011:22) "Pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan".

Lebih lanjut menurut Komaruddin (dalam Fabanyo 2011:22) "Pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana, dan awal untuk langkah perbaikan terhadap penyimpangan dan rencana yang berarti".

Berdasarkan pada batasan pengertian tersebut di atas dapatlah ditarik suatu simpulan bahwa pengawasan adalah suatu usaha pimpinan yang menginginkan agar setiap pekerjan dilaksanakan seagimana mestinya. Dengan kata lain bahwa

(28)

tujuan pengawasan adalah untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya tentang objek yang diawasi, apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak.

Dalam rangka desentralisasi, menurut pasal 7 kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahana keamanan, peradilan, moneter dan fisikal, agama serta kewenangan bidang lain (meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standarisasi nasional).

Pemerintah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan bidan pemerintahan yang meliputi pekerjaan umum, kesehatan pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi dan tenaga kerja (pasal 11). Secara lebih tegas UU ini mengatur bahwa kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan yang dikecualikan dalam pasal 7 dan yang diatur dalam pasal 9 (kewenangan propinsi sebagai daerah otonom dan kewenangan propinsi sebagai wilayah administrasi).

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah merupakan Undang-Undang pengganti dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun

(29)

1999. Dalam Undang-Undang ini, hubungan propinsi dan kabupaten dan kota ditata sedemikian rupa dengan memberikan kewenangan pengawasan kepada propinsi sebagai wakil pemerintah terhadap kabupaten kota.

Pemerintah daerah, baik kota ataupun metropolitan, secara tipikal harus menangani enam sektor perkotaan yang saling berhubungan, yaitu pertanahan, lingkungan, infrastruktur, perumahan, fasilitas sosial, dan pembangunan ekonomi.

Sektor pertanahan mencakup pemetaan, pendaftaran tanah, prosedur peralihan hak atas tanah. Lingkungan mencakup penanganan penggunaan sumber daya air, udara dan tanah secara berkesinambungan. Sektor infrastruktur mencakup air bersih, jalan dan jembatan, fasilitas komunikasi serta fasilitas sanitasi dan sampah.

Sedangkan sektor perumahan mencakup penyediaan perumahan bagi semua golongan masyarakat, pelayanan infrastruktur dasar kepada pengembang (developer), dan pengorganisasian pembiayaan pembangunan perumahan. Sektor pelayanan sosial mencakup pelayanan pendidikan, kesehatan, keamanan, rekreasi, dan program penanganan kaum miskin. Sektor terakhir yang sangat berpengaruh adalah sektor ekonomi, seperti sektor manufaktur, distribusi barang dan jasa, jasa konstruksi, jasa perbankan dan asuransi (Achmad, 2006:127).

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang disebut dengan Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Peranan Pemerintah Daerah dalam mendukung suatu kebijakan pembangunan bersifat partisipatif adalah sangat penting. Ini karena Pemerintah Daerah adalah instansi

(30)

pemerintah yang paling mengenal potensi daerah dan juga mengenal kebutuhan rakyat setempat (Soetrisno, 1995 dalam Bahagia 2009:12).

Dengan sistem manajemen pemerintah daerah yang efektif dan efisien, berkinerja tinggi, transparansi dan akuntabilitas, diharapkan dapat menciptakan kepemerintahan daerah yang baik (good local governance). Governance (kepemerintahan) meliputi tiga unsur, yaitu state (negara, pemerintah dan pemerintah daerah), private sector (sektor swasta atau dunia usaha), dan society (masyarakat), yang saling berinteraksi dan menjalangkan fungsinya masing- masing. Institusi pemerintahan berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kundusif, sektor swasta menyediakan lapangan pekerjaan dan menciptakan pendapatan sedangkan masyarakat berperan positif dalam interaksi sosial, ekonomi, dan politik termasuk mengajak kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktifitas produktif dan pemberdayaan masyarakat. Dengan menerapkan kepemerintahan daerah yang baik (good local governance), otonomi daerah yang luas dan bertanggung jawab akan tercipta dengan baik, maka fungsi pemerintahan daerah, yang meliputi: menjalangkan pemerintahan daerah yang efektif dan efeisien, melaksanakan pembangunan daerah secara merata, dan menyediakan pelayanan kepada masyarakat secara cepat, murah, mudah, dan berkualitas, akan terselenggara pula dengan baik (Rahardjo, 2011:5).

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, peranan dinas daerah sebagai unsur lini dan berhadapan langsung dengan masyarakat semakin

(31)

diperkuat. Fasilitas dan wibawa kedinasan untuk dinas daerah perlu ditingkatkan agar para penyelenggara pemerintahan daerah yang berkualitas tertarik untuk bekerja pada dinas daerah. Pemberdayaan Dinas Daerah merupakan prasyarat mutlak agar otonomi daerah dapat dilaksanakan secara nyata dan bertanggung jawab. Sebab pada dasarnya inti desentralisasi adalah pendelegasian kewenangan, sedangkan inti penyelenggaraan kewenangan terletak pada dinas daerah yang menangani kewenangan tersebut (Sadu, 2003: 27-28).

Sejalan dengan dilaksanakannya Otonomi Daerah (UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah) yang dititikberatkan pada daerah kabupaten / kota, pelayanan masyarakat diharapkan semakin cepat dan mudah. Hal ini dikarenakan lebih dekatnya pemerintah daerah dengan masyarakat, sehingga berbagai kebutuhan dan pelayanan yang diinginkan masyarakat dapat diketahui dan dipenuhi dengan segera. Salah satu urusan yang menjadi tanggung jawab pemerintah adalah masalah sampah. Saat ini Pemerintah telah menyusun kebijakan dan strategi nasional pengembangan sistem pengelolaan persampahan.

Kebijakan dan Strategi Nasional sebagaimana dimaksud di atas bertujuan untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan persampahan melalui rencana, program dan pelaksanaan kegiatan yang terpadu, efektif dan efisien.

Peran serta pemerintah dalam mengelolah sampah di wilayahnya saat ini menjadi sangat penting guna mereduksi jumlah sampah yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, salah satu cara penanganan sampah yang mengedepankan peran serta pemerintah di masyarakat adalah dengan

(32)

menyediakan fasilitas pengolahan sampah secara "breakdown area" artinya sampah yang dapat diolah langsung oleh para penghasil utama sampah harus diberikan ruang dan dikembangkan secara tepat guna.

Sesuai dengan UU NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH, pada Pasal 5 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Pada Pasal 9 Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota:

1. Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/kota mempunyai kewenangan:

a. menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi;

b. menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah;

c. melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain;

d. menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah;

e. melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir

(33)

sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; dan

f. menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.

2. Penetapan lokasi tempat pengolahan sampah terpadu dan tempat pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan sistem tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f diatur dengan peraturan menteri.

Sebagai pelaksana tugas atau yang bertanggung jawab mengenai masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Bulumba, Dinas Tata Ruang Dan Cipta Karya memiliki landasan hukum dalam melakukan pengelolaan tersebut, dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Bulukumba.

Khusus di Kabupaten Bulukumba dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam hal penanganan sampah dan peningkatan kebersihan, maka ditetapkanlah PERDA Kabupaten Bulukumba Nomor 6 Tahun 2013 Tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan sebagai payung hukum daerah di dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan adanya PERDA tersebut diharapkan penanganan masalah sampah dapat dilakukan secara maksimal sehingga kondisi bersih benar-benar dapat terwujud.

(34)

Keberadaan beberapa PERDA tersebut boleh dikatakan hanyalah sebuah formalitas saja. Dengan adanya PERDA tersebut bukan berarti segala sesuatunya diserahkan kepada pemerintah, tetapi dukungan dari semua lapisan baik itu masyarakat, swasta maupun pemerintah setempat juga sangat berperan penting.

B. Peran Pemerintah Dalam Pelayanan Publik

Pelayanan publik pada dasarnya menyangkut aspek kehidupan yang sangat luas. Dalam kehidupan bernegara, maka pemerintah memiliki fungsi memberikan berbagai pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat, mulai dari pelayanan dalam bentuk pengaturan ataupun pelayanan-pelayanan lain dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan dan lainnya. Pemerintah pada hakekatnya adalah pelayan masyarakat, ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tapi juga untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya demi mencapai tujuan bersama ( Rasyid dalam Liata), karenanya birokrasi publik berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan layanan publik yang baik dan profesional. Dengan demikian pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.

Pelayanan publik dapat diartikan melayani kepentingan masyarakat umum dalam sebuah negara. Pelayanan publik artinya memberikan pelayanan (melayani) keperluan masyarakata umum dalam sebuah negara (The Liang Gie dalam Liata).

(35)

Menurut Moenir (dalam Liata) pelayanan publik adalah seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui sistem, prosedur dan metode tertentu melalui kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Sedangkan (Islamy dalam Liata) mengemukakan bahwa pemberian pelayanan harus berlandaskan pada beberapa prinsip pelayanan prima sebagai berikut di bawah ini meliputi:

1. Appropriateness, setiap jenis, produk, dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah harus relevan dan signifikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

2. Accesibility, setiap jenis, produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan harus dapat di akseskan sedekat dan sebanyak mungkin oleh pengguna pelayanan.

3. Continuity, setiap jenis, produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah harus secara terus-menerus tersedia bagi masyarakat pengguna jasa layanan.

4. Tehnicality, setiap jenis, produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan perintah harus ditangani oleh petugas yang benar-benar memiliki kecakapan teknis pelayanan tersebut berdasarkan kejelasan, ketetapan dan kemantapan aturan, sistem, prosedur dan instrumen pelayanan yang baku.

5. Profittability, setiap, jenis, produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah harus benar-benar dapat memberikan keuntungan

(36)

ekonomi dan sosial dan masyarakat.

6. Equitabily, setiap, jenis, produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah harus tersedia dan dapat diakses dan diberikan secara adil dan merata kepada segenap anggota masyarakat tampa kecuali.

7. Transprancy, setiap, jenis produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah dilakukan secara transparan sehingga masyarakat pegguna jasa layanan dapat menggunakan hak dan kewajiban atas pelayanan tersebut dengan baik dan benar.

8. Accountabiliy, setiap jenis produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan pemerintah harus dilaksanankan secara berhasil dan berdaya guna serta sesuai dengan biaya dan mamfaat sebagaimana yang diinginkan oleh masyarakat.

9. Effictiveness, and Efficienciy, setiap jenis produk, proses dan mutu pelayanan yang disediakan oleh pemerintah harus dilaksanakan secara berhasil dan berdaya guna serta sesuai dengan biaya dan manfaat sebagaimana yang diinginkan oleh masyarakat.

Kurangnya pelayanan publik yang diberikan pemerintah kepada masyarakat dikarenakan oleh:

1. Kurang adanya kesadaran terhadap tugas atau kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya, berkerja dan melayani seenaknya, maka terjadilah kesalahan atau kurang tepatnya hasil kerja pegawai.

2. Sistem, proses dan metode kerja yang tidak memadai, sehingga terjadi

(37)

kesimpang siuran penanganan tugas dan kewajiban yang telah dibebankan kepadanya.

3. Pengorganisasian tugas pelayanan yang belum serasi, sehingga terjadi kesimpangsiuran tugas yang ada.

4. Pendapatan pegawai yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, akibatnya pegawai mencari penambahan pendapatan dengan melaksanakan praktek penjualan jasa pelayanan pada jam kerja.

5. Kemampuan pegawai yang tidak memadai untuk tugas yang dibebankan kepadanya oleh atasan, akibatnya hasil kerja yang dicapai tidak memenuhi standar yang telah ditentukan.

Fasilitas pelayanan yang tidak memadai, menimbulkan keterlambatan mengwujudkan hasil kerja nyata, dan tampa tersedianya fasilitas yang mencukupi dalam organisasi maka pelayanan tidak terlaksana dengan maksimal. Setiap pekerjaan memerlukan fasilitas untuk memudahkan pelaksanaan tugas. Fasilitas disediakan guna mendukung perkerjaan manusia dalam mencapai tujuan organisasi yang diharapkan (Moenir dalam Liata). Lebih lanjut Widodo (dalam Liata) mengemukakan bahwa sebagai perwujudan dari apa yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh pelayanan publik agar berkualitas layanan menjadi baik, maka dalam memberikan layanan publik seharusnya sebagai berikut :

1. Mudah dalam pengurusan bagi yang berkepentingan. (prosedurnya sederhana).

(38)

2. Mendengar pelayan yang wajar.

3. Mendapat pelayanan yang sama tampa pilih kasih.

4. Mendapat perlakuan yang jujur dan terus terang (transpran).

Secara umum dapat di katakan bahwa setiap lembaga atau organisasi yang menjual jasa cenderung menawarkan pelayanannya yang lebih baik dari pada pesaingnya dengan harapan akan mendapat jumlah pelanggan yang banyak.

Mengingat pentingnya pelayanan ini, maka pihak manajemen sebuah lembaga atau organisasi tertentu harus menyiapakan tenaga pelaksana yang profesional di bidangnya, berdedikasi tinggi, dan mampu untuk melayani masyarakat dengan berbagai karakter yang berbeda. Karena pelayanan yang di berikan kepada masyarakat sangat erat kaitannya dengan besarnya tingkat kepuasan yang akan dirasakan oleh masyarakat. Amstrong (dalam Liata) Menyatakan bahwa perusahaan yang menyediakan pelayanan yang bermutu tinggi biasanya berprestasi jauh lebih baik ketimbang pesaingnya yang kurang berorientasi pada pelayanan. Untuk menentukan kebutuhan pelayanan bagi masyarakat tidak bisa hanya sekedar memantau keluhan lewat saluran telepon bebas pulsa atau kartu yang berisi komentar.

Pemerintah pada hakekatnya ialah pelayan bagi masyarakat, pemerintah terwujud untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat bukan masyarakat yang melayani pemerintah. Pelayanan publik yang profesional dapat diwujudkan oleh pemerintah jika adanya akuntabilitas dan respontabilitas pemberi layanan dalam hal ini aparatur pemerintah sediri. Salah satu tugas pemerintah yang terpenting

(39)

adalah memberikan pelayanan umum kepada masyarakat sebagus mungkin.

Namun tak jarang pula khususnya di Indonesia, belum semua aparat pemerintah menyadari arti pentingnya pelayanan. Layanan diberikan oleh pemerintah melalui aparatnya (pegawai/petugas) untuk memenuhi kepentingan umum atau kepentingan perorangan, yang bertumpu pada hak dasar sebagai warga negara.

Bentuknya bisa dalam layanan lisan, layanan dalam bentuk tulisan dan layanan dalam bentuk perbuatan. Ketiga bentuk layanan ini saling terkait, yang hasilnya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan bagi mereka yang dilayani (Moenir dalam Liata). Layanan lisan harus sesuai dengan norma, budaya dan tingkah laku yang berlaku di Indonesia. Layanan tulisan ada dua jenis, yaitu layanan dalam bentuk petunjuk yang harus dan perlu diketahui umum dan dalam bentuk surat menyurat. Layanan bentuk surat menyurat hendaknya mengikuti pedoman yang tata persuratan yang baik bersifat umum maupun khusus. Adapun layanan bentuk perbuatan, perlu disertai dengan kesungguhan, ketrampilan dalam pelaksanaan pekerjaan dan disiplin agar memenuhi syarat dan memuaskan bagi mareka yang berkepentingan.

Bentuk pelayanan terdiri dari pelayanan prosedural dan pelayanan struktural, disamping itu juga pelayanan dibutuhkan layanan prima (Ruslan, dalam Liata), mengatakan pelayanan prima adalah bagaimana upaya meningkatkan kemampuan personil perusahaan agar dapat menumbuhkan didikan dan memberikan pelayanan sebaik-bainya kepada pelanggan. Karakteristik pelayanan umum menurut SK MENPAN No. 81/1993 memuat pedoman dasar bagi tata

(40)

laksana pelayanan umum oleh Lembaga pemerintah pada masyarakat. Semua layanan umum diharapkan dapat mengandung unsur-unsur :

1. Kesederhanaan : pelayanan umum harus mudah, cepat, lancar tidak berbelit-belit, mudah dipahani, dan mudah dilaksanakan.

2. Kejelasan dan kepastian dalam hal prosedur pelayanan, persyaratan pelayanan, unit dan pejabat yang bertanggung jawab, hak dan kewajiban petugas maupun pelanggan dan pejabat yang menangani keluhan.

3. Keamanan proses dan hasil pelayanan harus aman dan nyaman, serta memberikan kepastian hukum.

4. Keterbukaan: segala sesuatu tentang proses pelayanan harus disampaikan secara terbuka kepada masyarakat, diminta maupun tidak diminta.

5. Efesien tidak perlu terjadi duplikasi persyaratan oleh beberapa pelayanan sekaligus.

6. Ekonomis biaya pelayanan ditetapkan secara wajar dengan mempertimbngkan nilai layanan, daya beli masyarakat dan peraturan perungdangan lainya.

Masyarakat sebagai pihak yang ingin memperoleh pelayanan tentunya mendambakan pelayanan yang baik dan memuaskan. Menurut Moenir (dalam Liata) pelayanan publik yang secara umum didambakan yaitu :

1. Adanya kemudahan dalam pengurusan kepentingan dengan pelayanan

(41)

yang cepat.

2. Memperoleh pelayanan yang sewajarnya tampa sindiran yang nadanya mengarah pada permintaan sesuatu, baik alasan dinas atau untuk kesejahteraan.

3. Mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan terhadap kepentingan yang sama.

4. Pelayanan yang jujur dan terus terang.

Adapun tugas dan wewenang pemerintah pada pasal 6 dan 7 yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah adalah:

Pasal 6: Tugas Pemerintah dan pemerintahan daerah.

1. Menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.

2. Melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan dan penanganan sampah.

3. Memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah

4. Melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah.

5. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengolahan sampah.

6. Memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang pada

(42)

masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; dan 7. Melakukan koordinasi antar lembaga pemerintah, masyarakat, dan dunia

usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah.

Pasal 7: Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, Pemerintah mempunyai kewenangan:

1. Menetapkan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah.

2. Menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengelolaan sampah.

3. Memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antar daerah, kemitraan, dan jejaring dalam pengelolaan sampah.

4. Menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah; dan

5. Menetapkan kebijakan penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah.

Sedangkan dalam Pasal 9 wewenang pemerintah Kabupaten/Kota adalah:

1. Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/kota mempunyai kewenangan:

a. Menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi.

b. Menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah.

c. Melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang

(43)

dilaksanakan oleh pihak lain.

d. Menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah.

e. Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; dan

f. Menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.

2. Penetapan lokasi tempat pengolahan sampah terpadu dan tempat pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan sistem tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f diatur dengan peraturan menteri.

C. Konsep Pengelolaan Sampah

Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau dibuang (Hendargo, dalam Fian Afandi 2010:12). Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 pasal (1) Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Definisi lain dikemukakan oleh Hadiwiyoto (dalam Fian Afandi 2010:12), Sampah adalah sisa-sisa bahan yang

(44)

telah mengalami perlakuan baik telah diambil bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi ekonomi sudah tidak ada harganya serta dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian alam.

Pada setiap kegiatan yang menggunakan sumber daya, sampah selalu dihasilkan. Sampah terkumpul di dalam lingkungan dan sangat tergantung pada kemampuan lingkungan untuk menghasilkannya, jumlah sampah akan semakin bertambah dan tidak sepenuhnya dapat diserap oleh lingkungan. Menurut Hadiwiyoto (dalam Fian Afandi 2010:13), ditinjau dari segi keseimbangan lingkungan, kesehatan, keamanan dan pencemaran, sampah dapat menimbulkan gangguan sebagai berikut: tumpukan sampah dapat menimbulkan kondisi fisik dan kimia yang tidak sesuai dengan lingkungan yang normal, biasanya dapat menyebabkan kenaikan suhu dan perubahan pH tanah. Keadaan ini dapat mengganggu keadaan sekitarnya. Sampah dapat menimbulkan pencemaran udara karena selama proses pembusukan menimbulkan gas-gas beracun, bau tak sedap, daerah becek dan lumpur terutama pada saat musim penghujan. Akan terjadi kekurangan O2 di tempat pembuangan sampah, keadaan ini disebabkan karena selama proses perombakan sampah menjadi senyawa sederhana diperlukan O2 yang diambil dari udara sekitarnya sehingga mengganggu kehidupan flora dan fauna. Tumpukan sampah menjadi media berkembang biaknya hewan pembawa penyakit terutama lalat, serangga, tikus dan anjing. Secara estetika sampah dapat digolongkan sebagai bahan yang dapat mengganggu pemandangan dan keindahan

(45)

lingkungan.

Jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri, sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya. Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut :

1. Sampah Organik

Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa – sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung , sayuran, kulit buah, daun dan ranting.

2. Sampah Anorganik

Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non- hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi : sampah logam dan produk – produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai oleh alam/mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan kaleng,

(46)

(Gelbert dkk, 1996 dalam Artiningsih 2008:20).

Menurut Gilbert dkk, 1996 dalam Artiningsih 2008:19, terdapat berbagai sumber timbulan sampah:

1. Sampah dari pemukiman penduduk, pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu keluarga yang tinggal disuatu bangunan atau asrama. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu, plastik dan lainnya.

2. Sampah dari tempat-tempat umum dan perdagangan tempat-tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan melakukan kegiatan. Tempat-tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa-sisa makanan, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya.

3. Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah yang dimaksud di sini misalnya tempat hiburan umum, pantai, masjid, rumah sakit, bioskop, perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya yang menghasilkan sampah kering dan sampah basah.

4. Sampah dari industri, dalam pengertian ini termasuk pabrik – pabrik sumber alam perusahaan kayu dan lain – lain, kegiatan industri, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang

(47)

dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering abu, sisa-sisa makanan, sisa bahan bangunan.

5. Sampah Pertanian, sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang daerah pertanian, misalnya sampah dari kebun, kandang, ladang atau sawah yang dihasilkan berupa bahan makanan pupuk maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari sumber- sumber sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari - hari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah.

Berdasarkan keadaan fisiknya sampah dikelompokkan atas : 1. Sampah basah (garbage)

Sampah golongan ini merupakan sisa-sisa pengolahan atau sisa sisa makanan dari rumah tangga atau merupakan timbulan hasil sisa makanan, seperti sayur mayur, yang mempunyai sifat mudah membusuk, sifat umumnya adalah mengandung air dan cepat membusuk sehingga mudah menimbulkan bau.

2. Sampah kering (rubbish)

Sampah golongan ini memang diklompokkan menjadi 2 (dua) jenis a. Golongan sampah tak lapuk.

Sampah jenis ini benar-benar tak akan bisa lapuk secara alami, sekalipun telah memakan waktu bertahun-tahun, contohnya kaca dan mika.

b. Golongan sampah tak mudah lapuk.

(48)

Sekalipun sulit lapuk, sampah jenis ini akan bisa lapuk perlahan-lahan secara alami. Sampah jenis ini masih bisa dipisahkan lagi atas sampah yang mudah terbakar, contohnya seperti kertas dan kayu, dan sampah tak mudah lapuk yang tidak bisa terbakar, seperti kaleng dan kawat (Gelbert dkk., 1996 dalam Artiningsih 2008:21).

Pengelolaan adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya, yang menuntut suatu perencanaan diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja yang tertentu (Prajudi, dalam Fian Afandi 2010:15). Dari limbah yang dihasilkan dapat dilakukan penanganan dengan beberapa kemungkinan yaitu daur ulang menjadi bahan baku pada suatu proses produksi (kertas, karton, plastik, logam, botol dan sebagainya), diolah menjadi kompos (umumnya dari jenis sampah organik), ditumpuk di tempat pembuangan sampah akhir.

Neolaka (dalam Rama 2013) berpendapat bahwa pengelolaan sampah merupakan upaya menciptakan keindahan dengan cara mengolah sampah yang dilaksanakan secara harmonis antara rakyat dan pengelola atau pemerintah secara bersama-sama. Sedangkan menurut Alex (dalam Rama 2013) pengelolaan sampah adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendauran ulang atau pembuangan dari material sampah.

Menurut Undang Undang Nomor 18 tahun 2008, tentang Pengelolaan sampah, dalam pasal (3), pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistimatis menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penangan

(49)

sampah. Dalam amanah ini, disebutkan bahwa pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab azas berkelanjutan, asas mamfaat, asas keadilan. Asas kesadaran, kebersamaan, keselamatan, dan memiliki nilai ekonomi.

Menurut Arif, 2010: 70 ada tiga tahap dalam pengelolaan sampah:

1. Tahap pengumpulan dan penyimpanan di tempat sumber

Sampah yang ada di lokasi sumber (kantor, rumah tangga, hotel, dan sebagainya) ditempatkan dalam tempat penyimpanan sementara, dalam hal ini tempat sampah. Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan dalam tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahannya. Dari tempat penyimpanan ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam dipo (rumah sampah). Dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga.

2. Tahap pengangkutan

Dari dipo, sampah diangkut ke tempat pembuangan akhir atau pemusnahan sampah dengan menggunakan truk pengangkut sampah yang disediakan oleh pemerintah (Dinas).

3. Tahap pemusnahan

Di dalam tahap pemusnahan sampah ini, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain:

a. Sanitary Landfiil

Sanitary Landfiil adalah sistem pemusnahan yang paling baik. Dalam

(50)

metode ini, pemusnahan sampah dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang dilakukan selapis demi selapis. Dengan demikian sampah tidak berada di ruang terbuka dan tentunya tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat.

b. Incineration

Incineration atau insinerasi merupakan satu metode pemusnahan sampah dengan cara membakar sampah secara besar-besaran dengan menggunakan fasilitas pabrik.

Dalam pengelolaan sampah agar tidak menimbulkan dampak maka sangat diharapkan peran aktif pemerintah dengan pelibatan masyarakat untuk turut peduli menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah yang telah digunakan. Bahwa dengan kepedulian yang tinggi, menyeluruh yang diiringi seruan, himbauan dan sosialisasi persuasif yang digagas pemerintah, dapat membuahkan hasil maksimal dalam penanganan pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah yang efektif dan efisien tentunya memerlukan siklus pendekatan menyeluruh, mulai sumber, dari tingkat proses produksi suatu kegiatan (barang dan jasa) sampai pada akhir proses pengelolaannya, dan pengepakan, pengiriman dan akhir pemusnahannya melalui kebijakan Regulai “3 R” Reuse, Reduce dan Recyle. Dalam pasal (20) UU Nomor 18 tahun 2008, mengenai pengurangan sampah perlu mendapat perhatian karena keberadaan sampah dalam jumlah yang banyak jika tidak dikelola secara baik dan benar akan menimbulkan gangguan dan dampak terhadap lingkungan. Salah satu solusi

(51)

pengelolaan sampah, sebagaimana termaktub dalam UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah Pembatasan timbulan sampah, Pendauran ulang sampah; dan/atau, Pemanfaatan kembali sampah atau biasa disebut dengan sistem 3R (reuse, reduce, dan recycle).

Rencana pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan sumber sampah, lokasi, pergerakan/peredaran, dan interaksi peredaran sampah dalam suatu lingkungan wilayah. Penanganan sampah yang tepat, selain dapat menjadi jalan keluar dari masalah keterbatasan lahan untuk penumpukan/pembuangan sampah, juga dapat memberikan manfaat atau nilai ekonomis. Pengelolaan Sampah terpadu 3R berbasis masyarakat merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sampah. Paradigma baru tersebut lebih ditekankan kepada metode pengurangan sampah yang lebih arif dan ramah lingkungan. Metode tersebut lebih menekankan kepada tingkat perilaku konsumtif dari masyarakat serta kesadaran terhadap kerusakan lingkungan akibat bahan tidak terpakai lagi yang berbentuk sampah. Pengurangan sampah dengan metode 3R berbasis masyarakat lebih menekankan kepada cara pengurangan sampah yang dibuang oleh individu, rumah, atau kawasan seperti RT ataupun RW.

Konsep 3R adalah paradigma baru dalam pola konsumsi dan produksi disemua tingkatan dengan memberikan prioritas tertinggi pada pengelolaan limbah yang berorientasi pada pencegahan timbulan sampah, minimisasi limbah dengan mendorong barang yang dapat digunakan lagi dan barang yang dapat didekomposisi secara biologi (biodegradable) dan penerapan pembuangan limbah

(52)

yang ramah lingkungan. Pelaksanaan 3R tidak hanya menyangkut masalah sosial dalam rangka mendorong perubahan sikap dan pola pikir menuju terwujudnya masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tetapi juga menyangkut pengaturan (manajemen) yang tepat dalam pelaksanaannya. Prinsip pertama Reduce adalah segala aktifitas yang mampu mengurangi dan mencegah timbulan sampah. Prinsip kedua Reuse adalah kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Prinsip ketiga Recyle adalah kegiatan mengelola sampah untuk dijadikan produk baru. Untuk mewujudkan konsep 3R salah satu cara penerapannya adalah melalui pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat, yang diarahkan kepada daur ulang sampah (recycle). Hal ini dipertimbangkan sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya, karena adanya potensi pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku kompos dan komponen non organik sebagai bahan sekunder kegiatan industri seperti plastik, kertas, logam, gelas,dan lain-lain.

Prinsip dasar pengelolaan sampah yang ramah lingkungan mesti diawali oleh perubahan cara pandang dan perlakuan terhadap sampah. Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir, sudah saatnya ditinggalkan dan diganti dengan paradigma baru, yakni memandang sampah sebagai sumber daya yang bernilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan kembali, seperti pembuatan Kompos. Salah satu cara menanggulangi timbulan sampah adalah dengan menerapkan prinsip 3R (Reuse-Reduce-Recycle), dan itu mesti dimulai dengan membangun kebiasaan memilah sampah. Namun mengajak

(53)

masyarakat memilah sampah sangat sulit karena menyangkut kebiasaan, budaya, pemahaman dan ketidakpedulian sebagian masyarakat yang sangat rendah.

D. Kerangka Pikir

PERAN

DINAS TATA RUANG DAN CIPTA KARYA KABUPATEN BULUKUMBA

1. IMPLEMENTOR 2. PENGAWASAN

FAKTOR PENDUKUNG

A. PARTISIPASI MASYARAKAT B. LAHAN TPA YANG LUAS

FAKTOR PENGHAMBAT A. SUMBER DAYA MANUSIA B. SARANA DAN PRASARANA

TERKELOLAHNYA SAMPAH

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Panitia Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkungan Dinas Cipta dan Tata Ruang Kabupaten Pelalawan Kegiatan Semenisasi Jalan Lingkungan dan

PELAKSANAAN PENGHITUNGAN DAN PEMOTONGAN PPH PASAL 21 PADA DINAS TATA RUANG DAN CIPTA. KARYA

SKPD : DINAS TATA RUANG, KEBERSIHAN, PERTAMANAN, PEMAKAMAN DAN PEMADAM KEBAKARAN KAB. Kompleks Perkantoran

Penyusunan Laporan Akutanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas PU Cipta Karya & Tata Ruang Provinsi Jawa Timur 2013, merupakan tindak lanjut atas

perencanaan strategis SI/TI yang mendukung strategi bisnis yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan SI/TI yang diperlukan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten

Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat

Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Panitia Pengadaan Barang dan Jasa dilingkungan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Pelalawan Kegiatan Pembangunan / Peningkatan

Penelitian ini membahas bagaimana pelayanan persampahan yang diberikan oleh Dinas Cipta Karya Penataan Ruang dan Kebersihan Kabupaten Pandeglang dan mengevaluasi apa