• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Media dalam Penyebaran Hoaks Politik: Studi Kasus Pilkada NTB 2024

N/A
N/A
Trimo Rizky

Academic year: 2025

Membagikan "Peran Media dalam Penyebaran Hoaks Politik: Studi Kasus Pilkada NTB 2024"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Media Massa dan Media Sosial dalam Menyebarluaskan Hoaks Politik: Studi Komparatif

Disusun oleh : Sashi Salma Dyta

Tulus Budi Aprilia Rosadilah Adika Pramudhawardani

Adi Chandra

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo Semarang Jln. Prof Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang 50185, Jawa Tengah, Indonesia

Abstrak

Penyebaran hoaks politik menjadi salah satu tantangan serius dalam menjaga kualitas demokrasi di era digital. Media, baik media massa maupun media sosial, memainkan peran strategis namun juga paradoksal dalam proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan peran kedua jenis media dalam menyebarluaskan hoaks politik, dengan mengambil kasus Pilkada NTB 2024 sebagai ilustrasi kontekstual. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka sebagai teknik utama dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil kajian menunjukkan bahwa media massa, meskipun memiliki struktur editorial dan mekanisme verifikasi, tetap berpotensi menyebarkan hoaks karena tekanan waktu dan kepentingan tertentu. Sementara itu, media sosial terbukti menjadi saluran paling cepat dan luas dalam mendistribusikan hoaks politik karena sifatnya yang terbuka, interaktif, dan tidak terkontrol. Interaksi antara keduanya memperkuat efek penyebaran disinformasi melalui saling amplifikasi. Rendahnya literasi media di kalangan masyarakat turut memperburuk situasi ini.

Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara media, masyarakat, dan pemerintah untuk meningkatkan verifikasi informasi, memperkuat literasi digital, serta menanamkan nilai-nilai etis dalam bermedia, termasuk nilai kejujuran dan kehati-hatian sebagaimana diajarkan dalam Islam.

Kata kunci: hoaks politik, media massa, media sosial, Pilkada NTB 2024, disinformasi, literasi digital, studi komparatif.

Pendahuluan

Dalam era digital yang ditandai oleh kemudahan akses dan distribusi informasi, penyebaran berita palsu atau hoaks telah menjadi tantangan besar yang mengancam kualitas demokrasi. Salah satu bentuk hoaks yang paling merusak adalah hoaks politik, karena dapat membentuk opini publik yang keliru, memperkuat polarisasi, dan menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilihan umum. Fenomena ini sering kali mencapai puncaknya

menjelang momentum politik seperti Pemilu dan Pilkada, ketika berbagai pihak berlomba memengaruhi opini publik melalui saluran-saluran informasi yang tersedia, baik media massa maupun media social (Hasan et al., 2023).

Media, sebagai aktor utama dalam ekosistem informasi, memainkan peran ganda dalam konteks penyebaran hoaks politik. Di satu sisi, media diharapkan menjadi pilar penjernih informasi dengan menyajikan berita yang akurat dan terverifikasi. Di sisi lain, tidak jarang media

(2)

justru ikut andil dalam memperluas jangkauan hoaks, baik secara langsung maupun tidak langsung. Media massa seperti televisi, radio, dan surat kabar memiliki struktur editorial yang idealnya mampu menyaring informasi palsu, namun pada kenyataannya tidak selalu efektif. Sementara itu, media sosial menghadirkan tantangan yang lebih kompleks karena sifatnya yang terbuka, cepat, dan minim kontrol terhadap konten, memungkinkan hoaks menyebar dalam hitungan menit ke jutaan orang tanpa proses penyuntingan (Haqiqy, 2024).

Perbedaan mekanisme kontrol dan karakteristik antara media massa dan media sosial membuat perbandingan antara keduanya menjadi penting, terutama dalam memahami bagaimana masing-masing berkontribusi terhadap arus hoaks politik.

Media massa cenderung terstruktur dan beroperasi di bawah standar jurnalistik, namun tetap bisa tergelincir menyebarkan disinformasi karena tekanan waktu atau kepentingan ekonomi-politik. Sebaliknya, media sosial memungkinkan setiap individu menjadi produsen informasi tanpa batasan profesional atau etika, menciptakan lanskap informasi yang sulit dikendalikan. Hal ini tampak jelas dalam kasus Pilkada NTB 2024, di mana hoaks terkait dukungan politik, hasil survei palsu, dan narasi provokatif menyebar luas baik melalui media daring resmi maupun platform digital seperti WhatsApp dan TikTok (Suhendra &

Pratiwi, 2024).

Interaksi antara media massa dan media sosial dalam penyebaran hoaks semakin memperumit situasi. Informasi yang awalnya muncul di media sosial bisa diangkat ke media massa tanpa verifikasi memadai, dan sebaliknya, berita dari media resmi dapat dimanipulasi atau dipelintir kembali ke media sosial dalam bentuk meme, potongan video, atau narasi emosional. Kombinasi ini membentuk ekosistem disinformasi yang saling

menguatkan. Oleh karena itu, memahami peran masing-masing media secara komparatif menjadi krusial untuk merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menangkal hoaks politik di masa mendatang (Septian, 2024).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara mendalam peran media massa dan media sosial dalam menyebarluaskan hoaks politik di Indonesia, dengan menjadikan Pilkada NTB 2024 sebagai studi kasus utama.

Kajian ini akan mengeksplorasi karakteristik penyebaran hoaks di masing-masing media, bentuk narasi yang digunakan, serta sejauh mana kedua jenis media tersebut memperkuat atau justru menanggulangi disinformasi. Dengan demikian, studi ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai dinamika penyebaran hoaks dalam lanskap media kontemporer Indonesia.

Melalui pendekatan kualitatif dan metode studi pustaka, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada kajian akademik mengenai hubungan antara media dan disinformasi politik, tetapi juga menawarkan pemahaman yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan, praktisi media, dan masyarakat umum. Temuan dari studi ini diharapkan dapat memperkuat upaya literasi digital, meningkatkan kesadaran etis dalam penyebaran informasi, serta mendukung pembentukan ekosistem media yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga integritas demokrasi Indonesia (Sari & Irwanti, 2025).

Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) sebagai metode utama. Studi dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, artikel media daring, laporan pemeriksa fakta, dan dokumen institusional yang

(3)

relevan dengan topik hoaks politik, media massa, dan media sosial. Pendekatan ini dipilih untuk memahami secara mendalam konsep-konsep teoretis dan temuan sebelumnya mengenai penyebaran hoaks serta peran media dalam dinamika politik, khususnya dalam konteks Pilkada NTB 2024.

Melalui studi pustaka, penelitian ini membandingkan secara konseptual peran media massa dan media sosial dalam menyebarluaskan hoaks politik. Fokus diarahkan pada identifikasi karakteristik, pola penyebaran, dan dampak dari masing-masing media, sebagaimana tercermin dalam literatur dan kasus-kasus faktual yang terjadi selama Pilkada NTB.

Metode ini memungkinkan analisis kritis tanpa pengumpulan data lapangan, namun tetap relevan dan kontekstual berdasarkan data sekunder yang tersedia (Priyantoro &

Triadi, 2024).

Pembahasan

Analisis Kasus Hoaks Politik dalam Pilkada NTB 2024

Fenomena hoaks dalam dunia politik menjadi salah satu tantangan besar dalam era digital saat ini. Hoaks politik dapat diartikan sebagai informasi yang tidak benar, menyesatkan, atau sengaja dipalsukan yang bertujuan untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap tokoh atau kelompok tertentu dalam konteks kekuasaan dan pemilu. Hoaks ini bisa berupa narasi yang tampak meyakinkan namun sebenarnya tidak berdasar, atau manipulasi data yang disajikan untuk mendiskreditkan lawan politik. Seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial dan platform komunikasi digital, penyebaran hoaks menjadi semakin mudah dan cepat, karena siapa pun bisa memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa harus melalui proses verifikasi. Dalam dunia politik, ini menjadi sangat berbahaya karena informasi

palsu tersebut dapat memengaruhi pilihan pemilih, membentuk opini publik yang tidak akurat, dan merusak proses demokrasi secara keseluruhan (Rohmah, 2024).

Di Indonesia, fenomena hoaks politik cenderung meningkat menjelang momen-momen krusial seperti Pemilu dan Pilkada. Hal ini diperparah oleh kondisi literasi digital masyarakat yang masih tergolong rendah, di mana banyak orang belum memiliki kebiasaan untuk memeriksa kembali keaslian informasi yang mereka terima sebelum menyebarkannya. Selain itu, adanya kepentingan politik dari kelompok atau individu tertentu juga menjadi faktor utama munculnya hoaks, di mana informasi palsu digunakan sebagai strategi untuk memengaruhi peta kekuatan politik. Dalam situasi seperti ini, hoaks bisa digunakan sebagai senjata untuk menyerang lawan atau memperkuat posisi calon tertentu di mata masyarakat. Dampaknya tidak hanya bersifat politik, tetapi juga sosial, karena informasi palsu yang beredar dapat menimbulkan konflik di tengah masyarakat, menciptakan ketegangan antarpendukung, serta menggerus kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.

Salah satu contoh nyata dari hoaks politik yang muncul dalam Pilkada NTB 2024 adalah beredarnya kabar yang menyebutkan bahwa Jenderal TNI (Purn) H.

Prabowo Subianto memberikan dukungan kepada salah satu pasangan calon, yaitu Dr.

Zulkieflimansyah dan Suhaili FT. Informasi ini menyebar luas di berbagai media sosial dan platform percakapan digital, sehingga menimbulkan kesan bahwa pasangan tersebut mendapat legitimasi dari tokoh nasional yang saat itu juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Presiden terpilih.

Namun, setelah dilakukan penelusuran oleh kelompok pemeriksa fakta independen, informasi tersebut tidak memiliki sumber yang sah dan tidak ditemukan dalam arsip pernyataan resmi tokoh yang bersangkutan.

(4)

Fakta ini menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak dapat dibuktikan kebenarannya, sehingga dapat dikategorikan sebagai hoaks yang sengaja dibuat untuk membentuk opini publik demi keuntungan politik tertentu (Priyantoro & Triadi, 2024).

Selain hoaks berbentuk klaim dukungan tokoh nasional, terdapat pula penyebaran informasi palsu yang mengatasnamakan lembaga survei independen, seperti kasus yang melibatkan Olat Maras Institute (OMI). Sebuah survei yang menunjukkan elektabilitas calon kepala daerah beredar luas di masyarakat, disertai dengan logo OMI, seolah-olah survei tersebut merupakan hasil riset resmi dari lembaga tersebut. Padahal, pihak OMI dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak pernah merilis survei tersebut dan bahwa data yang beredar telah mengalami manipulasi. Tindakan ini sangat merugikan karena masyarakat bisa saja mempercayai angka-angka dalam survei palsu itu, yang kemudian memengaruhi cara pandang dan pilihan politik mereka. Hoaks semacam ini menciptakan ilusi bahwa calon tertentu memiliki dukungan besar, padahal kenyataannya tidak demikian, sehingga secara tidak langsung merusak proses demokrasi yang jujur dan adil.

Penyebaran hoaks selama Pilkada NTB 2024 tidak hanya terbatas pada media sosial terbuka seperti Facebook dan Instagram, tetapi juga merambah ke aplikasi perpesanan seperti WhatsApp dan platform video pendek seperti TikTok. Karakter tertutup dari beberapa platform ini membuat penyebaran hoaks menjadi lebih sulit dilacak dan ditangani. Di sisi lain, pengguna di platform-platform tersebut cenderung lebih percaya pada informasi yang dibagikan oleh kerabat atau tokoh yang mereka ikuti, sehingga hoaks lebih mudah diterima dan disebarluaskan. Selain itu, situasi ini diperparah oleh fanatisme politik dari sebagian pendukung calon, yang dengan

mudah membenarkan informasi palsu selama hal tersebut mendukung kepentingan politik mereka. Akibat dari kondisi ini adalah terjadinya pembelahan di tengah masyarakat, meningkatnya ketegangan antarpendukung, serta menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap hasil pemilihan kepala daerah (Evanalia, 2022).

Peran Media dalam Penyebaran Hoaks Politik

Media massa, baik konvensional maupun sosial, memegang peran penting dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat luas. Namun, dalam konteks politik, peran ini seringkali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, media bisa menjadi sumber informasi yang bermanfaat, namun di sisi lain, media juga bisa menjadi saluran penyebaran hoaks politik yang merusak proses demokrasi. Media massa sering kali dianggap kredibel karena melibatkan jurnalis profesional, namun tekanan untuk mempublikasikan informasi dengan cepat serta persaingan bisnis kadang mengorbankan prinsip verifikasi. Dalam kasus Pilkada NTB 2024, beberapa media lokal memberitakan klaim dukungan dari tokoh nasional tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu, yang menunjukkan bahwa media massa pun tidak sepenuhnya kebal terhadap hoaks jika tidak menerapkan jurnalisme yang bertanggung jawab.

Media sosial memainkan peran yang lebih dinamis dan cepat dalam menyebarkan hoaks politik. Platform seperti Facebook, Twitter, TikTok, dan WhatsApp menjadi tempat subur bagi beredarnya narasi palsu yang sering kali dibumbui dengan emosi dan provokasi. Algoritma media sosial yang mengutamakan keterlibatan pengguna mempercepat penyebaran informasi yang sensasional, meskipun tidak benar. Dalam Pilkada NTB 2024, banyak hoaks yang muncul dalam bentuk video potongan, meme, dan pesan berantai yang menyebarkan informasi palsu mengenai

(5)

calon kepala daerah atau survei yang dimanipulasi. Hal ini menyebabkan persepsi keliru di kalangan masyarakat dan memicu konflik antarpendukung yang fanatik, menjadikan media sosial sebagai alat efektif bagi aktor politik untuk mengarahkan opini publik dengan cara-cara yang tidak etis (Kartika & Mustika, 2023).

Salah satu faktor yang memperburuk penyebaran hoaks politik adalah rendahnya literasi media dan digital di masyarakat.

Banyak orang yang belum memiliki keterampilan dasar dalam memilah informasi, seperti mengenali sumber yang kredibel, mengecek tanggal terbit berita, atau membandingkan informasi dengan sumber lain. Ketika masyarakat tidak terbiasa melakukan verifikasi, hoaks yang tersebar melalui media sosial maupun media massa dapat dengan mudah diterima dan disebarkan lebih lanjut. Dalam Pilkada NTB, rendahnya kemampuan kritis ini menjadikan masyarakat rentan terhadap propaganda politik digital. Oleh karena itu, media memiliki peran penting tidak hanya dalam menyampaikan informasi yang benar, tetapi juga dalam mendidik masyarakat untuk lebih waspada terhadap informasi yang bersifat manipulatif. Media juga memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi publik mengenai cek fakta, etika berbagi informasi, dan bahaya hoaks politik, yang sangat relevan dengan nilai-nilai keislaman yang menekankan pentingnya kebenaran dan tanggung jawab sosial. Surah An-Nur ayat 15 mengingatkan umat Islam untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak diketahui kebenarannya, menegaskan bahwa menyebarkan hoaks bertentangan dengan ajaran agama (Santoso et al., 2025).

Studi Komparatif: Media Massa vs Media Sosial dalam Penyebaran Hoaks Politik

Dalam membandingkan peran media massa dan media sosial dalam penyebaran hoaks politik, penting untuk memahami

perbedaan fundamental antara keduanya dari sisi struktur, kontrol, dan mekanisme penyebaran informasi. Media massa seperti surat kabar, televisi, dan portal berita daring biasanya memiliki struktur redaksional yang ketat, di mana berita harus melalui proses penyuntingan dan verifikasi sebelum dipublikasikan. Meskipun demikian, dalam praktiknya media massa tetap bisa terjebak dalam penyebaran hoaks jika mereka mengutamakan kecepatan berita tanpa melakukan pengecekan fakta secara mendalam. Sebaliknya, media sosial bersifat lebih terbuka, tidak memiliki kontrol editorial terpusat, dan memungkinkan siapa saja untuk menyebarkan informasi, benar maupun salah, dalam waktu singkat dan kepada audiens yang sangat luas.

Dalam kasus Pilkada NTB 2024, perbedaan ini terlihat cukup jelas. Hoaks yang tersebar melalui media massa umumnya lebih terbatas dari segi jenis dan frekuensi. Media massa cenderung menyebarkan hoaks dalam bentuk berita yang tampak resmi, seperti klaim dukungan dari tokoh nasional atau hasil survei palsu yang disajikan seolah-olah sah. Sebagian media massa yang mempublikasikan informasi seperti ini melakukannya karena tekanan eksklusivitas atau karena kealpaan dalam verifikasi data. Sementara itu, di media sosial, hoaks menyebar dalam berbagai format—meme, video pendek, potongan pernyataan, hingga pesan berantai—dan dikemas secara emosional untuk meningkatkan potensi viralitasnya.

Informasi palsu yang beredar di media sosial juga sering kali mengalami modifikasi dari satu akun ke akun lain, sehingga memperumit pelacakan sumber aslinya (Suhendra & Pratiwi, 2024).

Dari sisi pengaruh terhadap publik, media sosial memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dalam membentuk opini karena sifat komunikasinya yang lebih personal dan interaktif. Ketika informasi

(6)

dibagikan oleh teman, keluarga, atau figur publik yang dipercaya, audiens cenderung menerimanya tanpa keraguan, meskipun kebenarannya belum jelas. Selain itu, fitur-fitur media sosial seperti komentar, likes, dan share memperkuat persepsi bahwa sebuah informasi yang populer adalah benar, padahal belum tentu demikian. Sebaliknya, media massa meskipun dianggap lebih otoritatif, sering kali dibaca secara pasif dan kurang melibatkan emosi pengguna secara langsung. Oleh karena itu, meskipun penyebaran hoaks melalui media massa berpotensi merusak opini publik, efeknya tidak sekuat diseminasi hoaks melalui media sosial yang lebih bersifat horizontal dan komunitatif (Ummah & Putri, 2024)..

Dari perspektif penanggulangan, media massa memiliki keunggulan dalam hal kemampuan untuk melakukan koreksi publik secara formal. Ketika sebuah berita terbukti salah, redaksi media massa biasanya dapat menerbitkan ralat atau klarifikasi yang bisa dijangkau kembali oleh pembacanya.

Namun, di media sosial, meskipun klarifikasi telah dilakukan, jejak digital dari hoaks yang sudah tersebar sangat sulit dihapus, dan sering kali informasi yang benar tidak mendapat penyebaran sebesar informasi palsu. Ini menciptakan tantangan tersendiri dalam upaya memerangi hoaks, karena informasi palsu terus hidup dalam ruang digital meskipun sudah dibantah.

Perbedaan inilah yang menempatkan media sosial sebagai saluran penyebaran hoaks yang lebih kompleks dan sulit dikendalikan dibandingkan dengan media massa.

Dengan demikian, studi komparatif antara media massa dan media sosial menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berkontribusi dalam penyebaran hoaks politik, namun dalam bentuk, skala, dan dampak yang berbeda. Media massa menyebarkan hoaks dalam bentuk yang lebih formal dan terstruktur, sementara media sosial melakukannya secara masif,

cepat, dan emosional. Oleh karena itu, strategi penanggulangan hoaks harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing media. Pendekatan yang digunakan untuk menekan penyebaran hoaks di media massa tidak bisa serta-merta diterapkan di media sosial. Harus ada integrasi antara regulasi, literasi digital, serta kolaborasi lintas sektor untuk merespons tantangan ini secara efektif (Rahmawati et al., 2023).

Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam studi ini, dapat disimpulkan bahwa media massa dan media sosial sama-sama memiliki kontribusi yang signifikan dalam penyebaran hoaks politik, meskipun dengan karakteristik, mekanisme, dan dampak yang berbeda.

Media massa, meskipun memiliki struktur editorial, tetap dapat terlibat dalam penyebaran informasi palsu akibat kurangnya verifikasi, sementara media sosial dengan sifatnya yang terbuka dan cepat menyebarkan informasi cenderung lebih rawan menjadi sarana utama hoaks yang bersifat provokatif dan emosional.

Rendahnya literasi media masyarakat memperparah situasi ini, menjadikan publik rentan terhadap manipulasi informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya kolektif dari semua pihak—media, pemerintah, masyarakat sipil, dan tokoh agama—untuk meningkatkan literasi digital, memperkuat etika bermedia, dan menanamkan nilai-nilai kejujuran serta tanggung jawab, sebagaimana diajarkan dalam ajaran Islam, guna menjaga integritas demokrasi dari ancaman hoaks politik.

DAFTAR PUSTAKA

Bilqis, Z. M., Puspitasari, F. N., & Ananta, A. B. (2025). Dinamika Perilaku Politik Partai dalam Pembentukan Strategi Kampanye terhadap Stabilitas Politik di Era

(7)

Digital. Journal of Indonesian Social Studies Education, 3(1), 27-35.

Evanalia, S. (2022). Peran jurnalisme media sosial dalam mewujudkan demokrasi indonesia di era post truth. Jurnal Adhyasta Pemilu, 5(1), 32-43.

Haqiqy, F. K. (2024). Peran Coinex Indonesia Dalam Edukasi Dan Informasi Komunitas Crypto Melalui Media Sosial Telegram Dan X (Doctoral dissertation, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Yogyakarta).

Hasan, K., Utami, A., Izzah, N., &

Ramadhan, S. C. (2023).

Komunikasi di Era Digital: Analisis Media Konvensional Vs New Media pada Kalangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Angkatan 2021. Jurnal Komunikasi Pemberdayaan, 2(1), 56-63.

Kartika, I. M., & Mustika, I. P. B. (2023).

Peran Generasi Muda Dalam Menangkal Hoax Di Media Sosial Untuk Membangun Budaya Demokrasi Indonesia. JOCER:

Journal of Civic Education Research, 1(2), 29-40.

Maharani, A. PERAN MEDIA SOSIAL DALAM PARTISIPASI POLITIK:

ANALISIS PERBANDINGAN

PEMILU TAHUN 2019 DAN 2024 DI INDONESIA (Bachelor's thesis, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Priyantoro, L., & Triadi, I. (2024). Upaya Pencegahan Politik Uang dan Hoaks Dalam Pemilu di Indonesia: Analisis Yuridis dan Implementasinya. Media Hukum Indonesia (MHI), 2(2).

Rahmawati, A., Astuti, D. M., Harun, F. H.,

& Rofiq, M. K. (2023). Peran Media Sosial Dalam Penguatan Moderasi

Beragama Di Kalangan

Gen-Z. J-ABDI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(5), 905-920.

Rohmah, N. N. M. (2024). Lansia Menyikapi Misinformasi: Bentuk, Strategi dan Upaya Penanggulangan Hoaks dalam Konteks Pemilu 2024 di Nusa Tenggara Barat. Journal of Islamic Communication Studies, 2(1), 20-32.

Samosir, K. M. R. (2024). Perbandingan Eksistensi Media Arus Utama Televisi dan Media Sosial Sebagai Sumber Berita Terpercaya di

Lingkungan Masyarakat

(Jabodetabek) (Doctoral dissertation, Universitas Kristen Indonesia).

Santoso, B., Rochman, R., Yuswiyanto, T.,

& Hamid, L. (2025). EFEKTIVITAS

MEDIA DAKWAH ISLAM

DALAM MENANGGULANGI

BERITA HOAKS. Al-Idaroh: Media

Pemikiran Manajemen

Dakwah, 5(1), 17-30.

Sari, S. B., & Irwanti, M. (2025). MEDIA SOSIAL DAN KOMUNIKASI POLITIK: KAJIAN SISTEMATIK TENTANG EFEK PESAN PADA PEMILU DAN PILKADA. Retorika:

Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik, 2(1), 301-312.

Septian, G. D. (2024). Systematic Literature-Review: Analisis Komparasi Media Sosial dalam Penyebaran Informasi. Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi), 8(3), 771-780.

Suhendra, S., & Pratiwi, F. S. (2024, October). Peran Komunikasi Digital dalam Pembentukan Opini Publik:

Studi Kasus Media Sosial. In Iapa Proceedings Conference (pp.

293-315).

Ummah, I. K., & Putri, P. I. D. (2024).

Swipe & Scroll Bijak Melawan Hoaks Pemilu 2024 di Sosial

(8)

Media. Jurnal Visi Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 38-51.

Referensi

Dokumen terkait

Tesis yang berjudul : “PERAN INDIVIDU DALAM PENYEBARAN DAN PENERIMAAN INFORMASI MUAMALAT MOBILE (Studi Kasus Proses Penyebaran & Penerimaan Ide-Ide Muamalat Mobile di

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosialisasi komunikasi politik melalui media massa Pasangan Mochtar Mohammad-Rahmat Effendi dalam Pilkada Walikota Bekasi Periode

Artikel ini mengkaji peran media sosial dalam komunikasi politik dengan mengambil kasus Pilkada DKI 2017.. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian dilakukan dengan

Peran media sosial yang di era sekarang lebih penting karena bisa mempengaruhi partisipasi politik masyarakat di kelurahan pulogebang pilkada DKI Jakarta 2017

”Partisipasi Politik Perempuan Dalam Pilkada Kabupaten Pacitan Tahun 2015 (Studi Kasus Kelompok Yasinan Putri Desa Ploso Kabupaten Pacitan)”. Skripsi, Program Studi

Penyebaran informasi palsu ini sering disebut dengan istilah Hoaks atau misinformasi dan disinformasi, yakni berita atau informasi bohong yang beredar di media sosial

2016.”Partisipasi Politik Perempuan Dalam Pilkada Kabupaten Pacitan Tahun 2015 (Studi Kasus Kelompok Yasinan Putri Desa Ploso Kabupaten Pacitan)”. Skripsi, Program Studi

Riset ini berfokus pada peran Humas Polres Kediri Kota dalam menciptakan keamanan dan ketertiban pada Pilkada 2024 melalui strategi komunikasi