DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ALAM DI DAERAH DALAM RANGKA GMSP
Kedekatan dan kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan rakyat menjadi modal utama dalam pembangunan inti kekuatan pertahanan negara yang bersifat semesta. TNI sebagai tentara profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, dan dilengkapi secara baik dan dijamin kesejahteraannya oleh negara serta melaksanakan kebijakan politik negara (well trained and well equiped). Organisasi TNI Angkatan Darat memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan dan membina kekuatan tempur darat untuk kepentingan nasional aspek darat. Melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang pertahanan, menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain, melaksanakan tugas TNI dalam membangun dan mengembangkan kekuatan matra darat dan melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat. Menyimak amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman pada tahun 1946 dengan hal fundamental “Tentara” dan
“Masyarakat” seperti tidak bisa terpisahkan karena antara satu dengan lainnya saling berkaitan layaknya jiwa dan raga. Jati Diri TNI selain sebagai tentara profesional tetapi juga sebagai tentara pejuang, tentara nasional dan tentara rakyat.
TNI dalam kiprah pengabdiannya senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat, sesuai slogan “Terbaik Bagi Rakyat, Terbaik Bagi TNI” atau “Bersama Rakyat TNI Kuat, Bersama TNI Rakyat Sejahtera” dengan terus berupaya mewujudkan Kemanunggalan TNI- Rakyat sebagai senjata ampuh yang dahsyat dalam Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).
Melalui Binter dapat diwujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat yang tidak bisa dilakukan secara “instan” namun harus “konstan” dipersiapkan secara dini agar senantiasa terpelihara semangat bela negara, kesiapan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam dan Buatan maupun komponen lainnya yang tercakup dalam bagian Sishanta. Adanya kemanunggalan TNI-Rakyat akan bermuara pada ketahanan wilayah yang merupakan suatu kondisi dinamik masyarakat dimana suatu wilayah dalam segala aspek kehidupannya yang terpadu meliputi keuletan dan ketangguhan masyarakat dalam menangkal segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik langsung maupun tidak langsung untuk menjamin identitas, integritas kelangsungan hidup untuk mendapat ketahanan wilayah. Perlu era Revolusi Industri 4.0 atau yang sering disebut dengan cyber physical system merupakan revolusi yang menitikberatkan pada otomatisasi serta kolaborasi antara teknologi siber,
dengan ciri utama yang ada adalah penggabungan antara informasi serta teknologi komunikasi ke dalam bidang industri. Revolusi ini, mengubah banyak hal di berbagai sektor.
Dimana yang pada awalnya membutuhkan banyak pekerja untuk menjalankan operasionalnya, sekarang digantikan dengan penggunaan mesin teknologi. Yakni sebuah transformasi komprehensif dari segala aspek produksi yang terjadi di dunia industri melalui penggabungan antara teknologi digital serta internet dengan industri konvensional. Hal tersebut menyebabkan dinamika lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional, sehingga menuntut dan mendorong negara-negara di dunia untuk meningkatkan teknologi pertahanannya.
Pada perspektif geografis, wilayah Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera yang sangat strategis baik dari aspek geopolitik, geoekonomi maupun geopertahanan dan keamanan. Selain itu, dilihat dari aspek demografis, jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa merupakan potensi sumber daya manusia yang mampu menciptakan bonus demografi dan kekuatan yang luar biasa pada era globalisasi saat ini. Ditambah dengan aspek sumber kekayaan alam Indonesia dari Sabang sampai dengan Merauke yang kaya akan sumber minyak, gas, perkebunan, kehutanan, perikanan, pertambangan, dan lain-lain. Semua itu menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan super power di dunia.
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana alam, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia dan kemungkinan terjadinya bencana sangat sulit diperkirakan oleh masyarakat. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kondisi geografi Indonesia sangat variatif, terletak diantara empat lempeng yaitu Eurasia, Indo-Australia, Samudera Pasifik dan Filipina. Keempat lempeng tersebut bergerak dalam arah dan kecepatan yang berbeda dan dalam suatu saat tertentu menimbulkan bencana alam.
Keberadaan wilayah Indonesia diatas lempengan tersebut, terkait pula dengan adanya lingkaran gunung berapi yang aktif bergejolak pada setiap saat karena siklus alam, lingkarannya mengelilingi kepulauan Indonesia mulai dari utara wilayah Sumatra, pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara sampai ke arah timur dan utara di daerah Sulut, Maluku dan Papua. Dalam beberapa tahun belakangan ini di wilayah Indonesia banyak terjadi peristiwa- peristiwa bencana alam, yang diakibatkan oleh bencana tsunami, gunung meletus,
tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin topan, kebakaran hutan dan hunian serta beberapa bencana alam lainnya.
Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia No 34 Tahun 2004 tentang TNI pasal 7(2) bahwa Tentara Nasional Indonesia termasuk didalamnya TNI AD mempunyai tugas pokok dalam Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).Salah satu tugas TNI dalam Operasi Militer Selain Perang adalah tugas membantu penanggulangan bencana alam,pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan. Sesuai tugas tersebut TNI telah menerbitkan pedoman penanggulangan bencana alam berupa Perpang No 78/IX/2010 untuk dipedomani oleh seluruh satuan TNI dalam tugas membantu pemerintah dalam penanggulangan bencana alam termasuk didalamnya Satuan Komando Kewilayahan (Kodim) yang merupakan satuan terdepan di jajaran TNI AD yang langsung berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana peran satuan Komando Kewilayahan (Kodim) dalam membantu penanggulangan bencana alam di wilayah ? Seringnya terjadi bencana alam di daerah akan berdampak pada sistem pemerintahan dan perekonomian di wilayah dan hal ini sangat berhubungan erat dengan pembinaan teritorial yang dilakukan oleh satuan Komando kewilayahan.Oleh karena hal tersebut diperlukan peran yang lebih optimal dari Satuan Komando Kewilayahan dalam tugas membantu pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerah.
Salah satu sinergi yang harus dioptimalkan secara terus menerus adalah sinergi antara TNI AD dengan Pemerintah untuk melakukan upaya penanggulangan bencana alam baik di pusat maupun di daerah. TNI AD sebagai kekuatan pertahanan darat di Indonesia mengemban misi tidak hanya menangkal, menindak dan menghancurkan musuh semata, melainkan juga mengemban misi sipil (civic mission), berupa membantu pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di wilayah Indonesia. Hal ini sesuai dengan yang telah diamanatkan dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, khususnya di Pasal 7, ayat 2, butir 12, yang berbunyi: “membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan”. Hal inilah yang mendasari secara yuridis bagi TNI AD untuk terus berkomitmen membantu pemerintah dan pemerintah daerah dalam menanggulangi bencana alam bekerjasama dengan semua komponen bangsa lainnya.
Perwujudan Sinergitas Peran TNI AD Dalam Tahap Pra Bencana Alam di Daerah.
Kegiatan tahap pra bencana selama ini banyak dilupakan, padahal justru kegiatan tahap pra bencana sangatlah penting. Karena apa yang sudah dipersiapkan merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Sedikit sekali pemerintah bersama masyarakat maupun swasta memikirkan langkah-langkah/kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam menghadapi bencana atau bagaimana memperkecil dampak. Perwujudan sinergitas peran TNI AD dalam penanggulangan akibat bencana alam terdapat pengelolaan risiko yang merupakan pendekatan terstruktur dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan potensi bencana. Sinergitas yang melibatkan semua komponen bangsa lainnya, diperlukan kordinasi dan sinkronisasi sistem yang tidak mudah. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu seperti rencana yang telah disusun. Penyesuaian dan kemungkinan terjadinya risiko pasti akan dialami. Sumber daya nasional yang terbatas dalam mewujudkan sinergitas tersebut, perlu diprediksikan kemungkinan terjadinya (likelihood) serta konsekuensi dampak yang ditimbulkan (consequences). Implementasi dari dampak yang timbul dapat diketahui dengan adanya potensi bencana, mana yang harus menjadi prioritas untuk diantisipasi serta risiko yang dapat direspon secara tepat dengan konsekuensi sekecil mungkin. Bentuk risiko juga dapat dipertimbangkan dari beberapa aspek, seperti dukungan anggaran, operasional dan regulasi.
Penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai komponen bangsa, akan menemui berbagai risiko. Hal ini, dikaitkan dengan perbedaan budaya organisasi tiap komponen bangsa, mindset, sumber daya yang dimiliki serta Standard Operating/Operations Procedure yang digunakan. Secara ideal, maka dalam pelaksanaan penanggulangan bencana alam, harus memiliki daya interoperability yang efektif, baik dalam doktrin, strategi, Alutsista, logistik dan komunikasi. Apabila Alutsista dan sistem komunikasi masih menggunakan standarisasi yang berbeda maka inkoneksitas dapat diprediksi akan terjadi dan mempersulit komando dan pengendalian. Mengatasi hal yang demikian diperlukan protap-protap pada tataran operasional Regulasi merupakan aspek yang perlu dipertimbangkan. Hal ini terkait dengan suatu risiko akibat tidak berjalannya atau gagalnya proses internal, eksternal dan sistem. Kegagalan internal dikarenakan oleh adanya ego sektoral dalam mengartikan kewenangan mempertahankan negara. Kegagalan eksternal dipicu oleh adanya perubahan lingkungan strategis dan konteks strategis yang cepat dan sulit diprediksi. Kegagalan sistem lebih dipicu oleh karena mengkolaborasikan pertahanan militer dan nirmiliter harus didukung oleh undang-undang yang memadai. Potensi kontijensi terjadi ancaman, baik krisis dalam negeri maupun krisis yang diakibatkan dampak
lingkungan strategis maupun konteks strategis. Pilihannya adalah mengatasi risiko regulasi dengan merancang strategi kontijensi yang dilakukan oleh kementerian/lembaga dan Mabes TNI. ingkat kepedulian masyarakat, pemerintah daerah dan pemahamannya sangat penting pada tahapan ini. Dalam menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak akibat bencana. Persiapan lain dalam perencanaan tata ruang menempatkan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi non struktur).
Usaha-usaha untuk membangun struktur yang aman terhadap bencana dan melindungi struktur terhadap bencana (mitigasi struktur). Mitigasi bencana berbasis masyarakat.
Penguatan kelembagaan, baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta merupakan faktor kunci dalam upaya mitigasi bencana. Penguatan kelembagaan dalam bentuk:
kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen barak dan evakuasi bencana. Hal tersebut bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Perwujudan masyarakat atau komunitas yang berdaya dalam menghadapi bencana dapat diwujudkan melalui Siklus Pengurangan Risiko Berbasis Masyarakat/Komunitas. Untuk memperkuat Pemerintah Daerah sebelum/pra bencana dapat dilakukan melalui perkuatan unit/lembaga yang telah ada. Kegiatan dapat dilaksanakan dengan kepelatihan aparatnya serta melakukan koordinasi dengan lembaga antar daerah maupun tingkat nasional.
Peran TNI AD dalam pelaksanaan mitigasi selama ini mengacu kepada Prosedur Tetap. Penanganan bencana alam dengan membentuk Satgas Tim Pasukan Reaksi Cepat Penanganan Bencana (PRC PB) dan membentuk Posko Aju PRC PB ditiap-tiap daerah.
Adapun ketua PRC PB pejabat Komandan dari Satuan Komando Kewilayahan. Bila dicermati bersama Orgas yang dibentuk masih berlaku sama di seluruh daerah/wilayah Indonesia (belum terpetakan macam/jenis bencana ditiap-tiap daerah). Penyiapan daerah/wilayah dan perencanaan penangganan bencana alam serta pemetaan wilayah akan berpengaruh terhadap dampak yang timbulkan dalam kegiatan awal. ila dihadapkan dengan potensi bencana alam yang rutin terjadi di wilayah, maka ada dua alternatif yang harus dilakukan antara lain keterlibatan TNI AD ditambah peranannya, tidak hanya bertugas saat dan pasca bencana alam namun sudah mulai merencanakan dan menyiapkan awal, Satgas yang ada diubah menjadi Badan tersendiri yang diketuai oleh Kepala Staf sesuai strata.
Anggota tetap gabungan sesuai bidang dan bertugas sepanjang tahun anggaran serta mempunyai anggaran tersendiri.
Perwujudan Sinergitas Peran TNI AD Dalam Tahap Tanggap Darurat Bencana Alam di Daerah. Pada situasi keadaan darurat bencana sering tidak valid. Penanganan dan kesimpangsiuran informasi data korban maupun kondisi kerusakan mempersulit pengambilan kebijakan untuk penanganan darurat bencana. Sistem koordinasi juga sering kurang terbangun dengan baik. Penyaluran bantuan, distribusi logistik sulit terpantau dengan baik sehingga kemajuan kegiatan penanganan tanggap darurat kurang terukur dan terarah secara objektif. Situasi dan kondisi di lapangan belum tercipta mekanisme kerja Pos Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana yang baik, terstruktur dan sistematis.
Dalam kondisi Kedaruratan Bencana diperlukan institusi yang menjadi pusat Komando dan Koordinasi kedaruratan bencana sesuai lokasi dan tingkatan bencana yang terjadi. Pos Komando dan Koordinasi Tanggap Darurat Bencana dapat dilengkapi dengan Posko Lapangan Tanggap Darurat Bencana. Gugus tugas terdiri dari unit kerja yang saling terkait dan merupakan satu kesatuan sistem yang terpadu dalam penanganan kedaruratan bencana. Kegiatan saat terjadi bencana dilakukan segera saat kejadian bencana. Untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan terutama berupa, penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian. Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang harus dikelola dengan baik. Hal ini dilakukan agar setiap bantuan yang masuk dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat manfaat dan terjadi efisiensi.
Pada tahap tanggap darurat, TNI AD sudah berperan bersama- sama dengan instansi terkait sesuai fungsi dan dikendalikan oleh Pemda. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain Mengerahkan/memobilisasi personel dan sumber daya daerah yang ada, Mengkoordinasikan seluruh kegiatan penanganan di lapangan dengan mendirikan Posko dan mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) dari masing-masing instansi, Membantu evakuasi korban, memberikan pertolongan dan mengadakan pendataan korban, koordinasi dengan dinas kependudukan, Membantu mendirikan dapur umum dan pelayanan makan terhadap korban, koordinasi dengan dinas sosial, Mendirikan Posko bantuan korban terpadu dan membantu menyalurkan bantuan logistik serta pakaian, koordinasi dengan dinas perhubungan, Mengamankan tempat penampungan dan Posko tempat penampungan logistik, koordinasi dengan Satpol PP. Membantu membuat/menyediakan MCK, air bersih koordinasi dengan dinas PU, Membantu menangani/merawat kesehatan korban dengan tenaga medis, obat-obatan dan vaksinasi, koordinasi dengan dinas kesehatan, Membentuk network dan memberikan pelayanan melalui media, komunikasi, penyuluhan dan motivasi
kepada korban, koordinasi dengan dinas Infokom dan Kesra, Membantu memberikan pelajaran terbatas kepada korban bencana, koordinasi dengan dinas pendidikan.
Maksud penulisan ini adalah memberikan gambaran tentang pelaksanaan tugas prajurit TNI AD khususnya satuan komando kewilayahan yang bersinergi dengan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam didaerah dengan tujuan sebagai bahan masukkan kepada pimpinan dalam menentukan kebijakan tentang tugas penanggulangan bencana alam,sedangkan ruang lingkup tulisan ini dibatasi pada peran Satuan Komando Kewilayahan dalam tugas membantu Pemerintah dalam penanggulangan bencana alam di daerah sehingga dapat dicapai nilai guna yaitu terwujudnya tugas pokok TNI AD melalui Operasi Militer Selain Perang sesuai Undang-Undang Republik Indonesia No 34 Tahun 2004 pasal 7 (2), (b) yaitu tugas bantuan kepada pemerintah dalam penanggulangan bencana yang terjadi di darat melalui koordinasi dengan semua unsur terkait mulai dari tahap Pra- Bencana,Tahap Saat Bencana (Tanggap Darurat) maupun pada tahap Pasca Bencana.
Penggunaan kekuatan tempur dilakukan bersama dengan institusi/organisasi lain yang memiliki jalur pertanggung jawaban dan tata kerja yang berbeda dari hierarki militer, walaupun belum terdapat kebijakan strategis yang mengaturnya. Keberadaan kebijakan ini penting dalam keterlibatan TNI pada operasi bantuan kemanusiaan yang seharusnya tidak lagi semata-mata atas keterpanggilan dan kepedulian serta budaya yang selalu ada di depan semata, melainkan atas dasar permintaan dan peraturan perundangan yang berlaku. TNI tidak pernah absen dalam membantu penanggulangan bencana banjir yang terintegrasi dengan institusi lainnya sebagai manifestasi tugas Operasi Militer Selain Perang, begitu juga yang dilakukan oleh TNI dalam penanggulangan bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten Bantul.
Data dan fakta terjadinya bencana alam di negara Republik Indonesia sesuai data autentik dari Badan Nasional Penangggulangan Bencana secara umum hampir seluruh wilayahnya merupakan negara dengan potensi bahaya (hazard potency) yang sangat tinggi dan beragam baik berupa bencana alam, bencana ulah manusia ataupun kedaruratan komplek. Ada 10 jenis bencana yang dihadapi Bangsa Indonesia hingga saat ini yakni: 1) Ancaman bencana alam gempa bumi. Fakta sejak jutaan tahun lalu, pulau-pulau eksotis nan kaya di Indonesia ditopang oleh lempengan kulit bumi yang aktif menjelajah dan merangsek tiap tahunnya. Pergerakan tiga lempeng inilah Indo-Australia, Euro-Asia dan Lempeng Pasifik yang membawa ancaman bencana alam gempa bumi. 2) Ancaman
bencana alam tsunami. Gempa bumi yang menggoyang dasar samudera akan menciptakan perubahan tampak muka dasar laut. Jika lempeng saling bertubrukan dan menghujam di dasar laut, maka cekungan atau celah akan tercipta, kemudian dari cekungan ini akan mengakibatkan gelombang pasang dahsyat yang mampu membawa gulungan ombak setinggi puluhan meter dengan kecapatan 500 km/jam. 3) Ancaman bencana alam gunung meletus. Masih berkaitan dengan kondisi kulit bumi negeri ini yang ramai akan aktivitas rutin pergerakan lempeng. Penunjaman dan tubrukan lempeng besar selama jutaan tahun silam telah membentuk alam Indonesia yang dipenuhi jejeran gunung api. Catatan terakhir sejumlah peneliti di Indonesia, negeri ini memiliki 500 gunung api dengan ancaman nyata 129 gunung api yang masih aktif dan bisa kapan saja bergejolak. Catatan sejarah letusan super dahsyat gunung Tambora, gunung Krakatau, serta super volcano Gunung Toba, dan yang sampai saat ini masih terjadi adalah Gunung Sinabung di Sumatra Utara, dan Gunung Merapi di Jogyakarta. 4) Ancaman bencana alam tanah longsor. Kondisi muka alam Indonesia yang rata-rata berbukit dan memiliki banyak lereng curam, membawa ancaman baru bencana alam tanah longsor atau gerakan tanah. Resiko bencana alam tanah longsor akan meningkat jika komunitas atau masyarakat sudah terlanjur menetap dan beraktivitas di lingkungan yang rawan pergerakan tanah. 5) Ancaman bencana alam banjir.
Secara geografis, wilayah Indonesia berada dalam iklim tropis yang memiliki kecenderungan dua musim. Musim penghujan dan musim panas. Menjelang akhir tahun, perubahan musim akan bergejolak dan berubah-ubah secara ekstrim. Hujan lebat yang tiba-tiba melanda lebih dari intensitas biasanya akan meluapkan sungai dan saluran air. Terhambat dan kemudian meluap menjadi bencana alam banjir. Di negeri ini, bencana alam banjir masih menjadi momok menakutkan bagi kota-kota besar yang buruk drainasenya, seperti ibukota Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. 6) Ancaman bencana alam kekeringan. Selain bencana banjir, negeri ini pun ternyata memiliki kerentanan serupa akibat perubahan musim yang ekstrim, yaitu kekeringan. Kondisi bencana alam yang berupa berkuranganya persediaan air bersih sampai di bawah normal yang bersifat sementara, baik di atmosfer maupun di permukaan tanah. Penyebabnya biasanya adalah karena lenyapnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang disebabkan oleh fenomena El Nino. 7) Ancaman bencana alam kebakaran hutan dan lahan. Masih serupa dengan penyebab fenomena kekeringan, curah hujan yang minim di musim panas pun akan membawa ancaman baru kebakaran hutan dan lahan. Biasanya memang kebakaran hutan ataupun lahan disebabkan oleh tingkah laku manusia yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan. Kebakaran hutan dan lahan ini akan membawa dampak buruk bagi kualitas udara di
suatu wilayah. Contoh nyatanya adalah ketika kebakaran hutan bertubi-tubi melanda wilayah Pekanbaru, Riau, bahkan asap kebakaran hutannya sampai merambah hingga ke negeri seberang di Malaysia dan Singapura. 8) Ancaman bencana alam erosi.
Negeri ini pun tak luput dari bencana alam minor yang berwujud erosi. Pada dasarnya erosi adalah perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air, angin, es, pengaruh gaya berat atau organisme hidup. Proses erosi akan berakibat pada penipisan lapisan tanah, penurunan tingkat kesuburan, bahkan hingga mengakibatkan bencana tanah longsor. 9) Ancaman bencana alam gelombang ekstrim dan abrasi.
Perubahan iklim global yang tak dapat dielak membawa pengaruh juga bagi wilayah perairan laut yang membujur dari barat hingga timur di Indonesia. Mulai dari gelombang ekstrim hingga abrasi pesisir laut sudah jamak terjadi di wilayah perairan laut Indonesia. Gelombang laut ekstrim biasanya ditimbulkan oleh siklon tropis. Pantai utara pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Barat dan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi utara, Maluku, dan Irian Jawa memilki potensi besar terjadinya gelombang besar dan badai di tengah laut. 10) Ancaman bencana alam cuaca esktrim. Deretan ancama cuaca ekstrim seperti angin puting beliung, topan, dan badai tropis juga mulai menjadi masalah pelik di Indonesia. Perubahan iklim global yang mempengaruhi seluruh fenomena cuaca di dunia turut membawa ancaman baru berupa angin puting beliung atau badai tropis yang umumnya terjadi di musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Keterlibatan TNI dalam mengatasi dampak bencana alam selama ini adalah sebagai bentuk keterpanggilan dan kepedulian untuk ikut serta mengurangi beban masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena sesuai Undang-Undang yang berlaku, bahwa penempatan peran TNI dalam penanganan bencana alam adalah pada posisi membantu instansi lain sesuai permintaan. Namun kenyataannya kondisi di lapangan yang terjadi justru sebaliknya, seolah-olah aparat TNI sebagai pihak yang paling bertanggung jawab sehingga dengan keterbatasan yang ada dituntut untuk terjun ke lapangan membantu masyarakat yang terkena bencana. Dihadapkan dengan skala dan intensitas bencana yang cukup tinggi akhir-akhir ini, dirasakan tidak sebanding dengan kesiapan dan kemampuan TNI baik dari segi organisasi, personel maupun materiil yang dimiliki TNI saat ini.
Peranan TNI dalam penanganan bencana sangat penting, mengingat sistem organisasi yang dimiliki TNI terstruktur dengan baik, namun masyarakat masih menilai TNI lamban dalam bergerak. Sebenarnya yang terjadi adalah Kodim sebagai alat negara dalam setiap melaksanakan tugasnya harus melalui prosedur yang berlaku. Hal ini tentu saja
berbeda dengan elemen masyarakat umum yang spontanitas dapat langsung turun ke lapangan sesaat setelah bencana terjadi. TNI adalah salah satu contoh penanganan secara formal, sedangkan Ormas, LSM, Parpol dan masyarakat umum adalah contoh penanganan bencana secara spontan. Namun demikian, memang dirasakan masih perlu adanya upaya untuk mengoptimalkan kesiapan TNI dalam penanggulangan bencana alam khususnya aspek organisasi, personel dan materiil sehingga semakin mendekatkan diri dan menciptakan citra yang positif terhadap setiap masyarakat Indonesia.
Peran TNI AD Dalam Tahap Pasca Bencana Alam Saat Ini. Dalam tahap pasca bencana, TNI AD berperan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi korban maupun daerah bencana. Dalam kegiatan ini, posisi TNI AD juga masih sebatas ada jika diperlukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana/Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Kegiatan rehabilitasi merupakan upaya agar keadaan dapat berfungsi kembali seperti sebelumnya. Kegiatan rekonstruksi merupakan upaya untuk pembangunan kembali dengan keadaan yang lebih baik dari keadaan semula. Kegiatan tersebut meliputi: perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat korban bencana, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi dan resolusi konflik. Kegiatan rekonstruksi adalah: pembangunan kembali prasarana dan sarana umum, pembangunan kembali sarana sosial masyarakat, membangkitkan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat, peningkatan kondisi sosial ekonomi dan budaya, peningkatan fungsi pelayanan publik, atau peningkatan pelayanan umum dalam masyarakat.
Dari data dan fakta tersebut diatas terlihat bahwa belum ada keterpaduan tindakan dari segenap komponen bangsa dalam hal ini Pemerintah,Tentara Nasional Indonesia,dan masyarakat luas dalam hal penanggulangan bencana alam belum ada sinkronisasi antara Permendagri No 46/2008 dengan Perpang No 78/IX/2010 sehingga sering terjadi miskoordinasi dilapangan antar unsur terkait mengakibatkan penanganan pengungsi dan penyelamatan korban terlambat yang berdampak pada banyaknya korban jiwa dan kerugian harta benda serta kerusakan infrastruktur daerah. Bersama-sama dengan Pemda setempat melaksanakan kegiatan medis yakni terapi traumatis untuk mengembalikan kembali kejiwaan masyarakat yang mengalami trauma dan tekanan jiwa akibat bencana seperti Melaksanakan pembangunan infrastrukur dan fasilitas umum seperti sekolah, jalan, jembatan, sehingga aktivitas masyarakat segera pulih, Melaksanakan rekonstruksi ringan dengan membangun
fasilitas umum yang vital untuk masyarakat seperti MCK dan fasilitas kesehatan sehingga kegiatan masyarakat akan segera pulih kembali.
Dalam tahap pasca bencana yang berperan adalah Satkowil dibantu dengan Satbanpur. Adapun Satgas PRC PB akan ditarik saat tahap pasca bencana. Kegiatan yang selama ini dilakukan pada saat tahap rehabilitasi seperti, melakukan pendataan terhadap korban manusia serta kerugian-kerugian lain yang diakibatkan oleh bencana, elaksanakan pendataan terhadap sarana dan prasarana serta infrastruktur yang rusak
Sesuai dengan Permendagri No 46 tahun 2008 dan Perpang No. 78/IX/2010, satuan komando kewilayahan dalam hal ini Kodim mempunyai tugas membantu pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana alam di wilayah mulai dari tahap Pra-Bencana,Tahap Saat Bencana (Tanggap Darurat) maupun pada tahap pasca bencana. Dalam peningkatan peran satuan komando kewilayahan dalam penanggulangan bencana alam di wilayah, kemampuan satuan komando kewilayahan khususnya 5 (lima) kemampuan teritorial harus dimaksimalkan meliputi : Pertama, Kemampuan temu cepat dan lapor cepat; Kedua, Kemampuan manajemen teritorial; Ketiga, Kemampuan penguasaan wilayah; Keempat, Kemampuan perlawanan rakyat; Kelima, Kemampuan Komunikasi Sosial.
Kemudian satuan komando kewilayahan dalam hal ini Kodim juga harus memaksimalkan perannya dalam hal melakukan koordinasi lintas sektoral dengan instansi terkait agar didapat kesamaan tujuan dan tindakan dalam penanggulangan bencana alam di daerah. Koordinasi lintas sektoral yang dilakukan meliputi hal-hal yang berhubungan dalam kegiatan penanggulangan bencana antara lain; Pertama, Validitas organisasi BPBD dan Satgas PRCPB daerah; Kedua, Kesiapan anggaran penanggulangan bencana alam;
Ketiga, Kesiapan sarana dan prasarana; Keempat, kesiapan prosedur tetap penanggulangan bencana alam; Kelima, Pelaksanaan latihan dan uji siap penanggulangan bencana alam.
Peningkatan peran satuan komando kewilayahan dalam hal ini Kodim juga harus dioptimalkan pada manajemen bencana mulai dari tahap Pra-Bencana, Tahap Saat Bencana (Tanggap Darurat) maupun pada tahap pasca bencana karena kenyataan yang sering terjadi saat ini bahwa Kodim cenderung bertindak reaktif bukan antisipatif,hampir sama dengan pemadam kebakaran apabila ada suatu kejadian kebakaran di suatu tempat baru bergerak kesana untuk memadamkannya. Demikian juga dengan peran Kodim dalam
penanggulangan bencana harus bersifat proaktif/antisipatif agar peristiwa bencana alam dapat diminimalisir dalam hal kerugian personel dan materil maupun kerusakan infrastruktur.
Optimalisasi peran Kodim dalam tahap Pra-Bencana antara lain : Pertama, Pembentukan Satuan Tugas Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) daerah ditindaklanjuti dengan pembekalan/sosialisasi kepada seluruh personel satgas dilanjutkan latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut tentang prosedur tetap penanggulangan bencana alam; Kedua, Validasi data-data daerah/peta rawan bencana sesuai situasi dan kondisi terakhir wilayah; Ketiga, Penyiapan rute evakuasi dan titik-titik pengungsian; Keempat, Penyiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya; Kelima, Mengkoordinasikan dengan pemerintah daerah tentang kebutuhan anggaran dalam pelaksanaan penanggulangan bencana alam; Keenam, Melakukan koordinasi secara rutin dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap hari untuk mengetahui gejala-gejala alam kerawanan terjadinya bencana alam; Ketujuh, Mempelopori atau sebagai pengarah dalam setiap kegiatan mitigasi sebelum terjadinya bencana; Kedelapan, Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk antisipasi terjadinya bencana alam antara lain: a) rute-rute evakuasi apabila terjadi bencana; b) titik-titik relokasi pengungsi; c) sistem peringatan dini/early warning.
Optimalisasi peran satuan komando kewilayahan pada tahap tanggap darurat saat terjadinya bencana antara lain : Pertama, Membantu pemerintah daerah dalam mengarahkan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana agar segera bergerak ke lokasi terjadinya bencana; Kedua, Membantu Pemerintah Daerah dalam penentuan titik bekal dan titik distribusi di wilayah saat terjadinya bencana; Ketiga, Membantu pemerintah daerah dalam gelar seluruh sistem komunikasi pada saat terjadinya bencana; Keempat, Membantu pemerintah daerah dalam menentukan titik bekal dan titik distribusi; Kelima, Menentukan kedudukan pos komando utama dan pos komando taktis disekitar lokasi terjadinya bencana; Keenam, Membantu pemerintah daerah dalam penyaluran bantuan logistik baik makanan, baju, dan obat-obatan kepada korban bencana alam; Ketujuh, Membantu pemerintah daerah dalam pendataan kerugian baik personel maupun materil serta infrastruktur daerah sebagai data yang valid; Kedelapan, Membantu pemerintah daerah dalam pelaksanaan evakuasi dan relokasi pengungsi ke tempat atau tenda-tenda darurat yang telah disiapkan; Kesembilan, Membantu pemerintah daerah melakukan pencarian korban bencana alam di sekitar lokasi terjadinya bencana berkoordinasi dengan
Badan Search And Resque baik pusat maupun daerah; Kesepuluh, Mengerahkan seluruh potensi wilayah dan seluruh komponen masyarakat untuk ambil bagian ikut membantu dalam kegiatan tanggap darurat saat terjadinya bencana alam; Kesebelas, Melakukan pengamanan terhadap kemungkinan-kemungkinan penyalahgunaan wewenang dalam penyaluran bantuan bagi korban bencana alam.
Optimalisasi peran satuan komando kewilayahan pada tahap pasca bencana antara lain: Pertama, Pada tahap rehabilitasi fisik : a) Membantu pemerintah daerah dalam kegiatan pemulihan sarana dan prasarana pasca terjadinya bencana; b) Membantu pemerintah daerah dalam perbaikan dan penyiapan dapur lapangan,wc umum,dan lain-lain;
c) Membantu pemerintah daerah dalam penyiapan tenda-tenda darurat atau tempat tinggal semi permanen yang bersifat sementara yang bisa digunakan oleh pengungsi korban bencana alam; d) Membantu pemerintah daerah dalam kegiatan pengobatan dan perawatan terhadap korban. Kedua, Pada tahap rehabilitasi non-fisik antara lain: a) Membantu pemerintah daerah dalam memberikan penyuluhan dan bimbingan psikologi sosial kepada masyarakat korban terjadinya bencana alam; b) Membantu pemerintah daerah dalam memberikan informasi dan penerangan kepada masyarakat dan pengungsi korban bencana alam tentang situasi dan kondisi wilayah pasca terjadinya bencana; c) Membantu pemerintah daerah dalam melakukan kegiatan pengamanan terhadap pengungsi antisipasi penyusupan/infiltrasi orang-orang atau kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab yang akan memasukkan doktrin-doktrin sesat terhadap pengungsi yang sebagian besar dalam keadaan depresi. Ketiga, Pada tahap rekonstruksi,satuan komando kewilayahan membantu pemerintah daerah dalam penyusunan tata ruang wilayah dan infrastruktur yang akan dibangun atau diperbaiki.
Dalam tahap tanggap darurat bencana, kegiatan difokuskan pada penanganan dampak buruk yang ditimbulkan akibat bencana, meliputi: penyelamatan, evakuasi korban, harta benda dan pengungsian.23 Pada masa tanggap darurat, peran TNI AD menjadi lebih kompleks. Kegiatan Bintahwil antara lain elaksanakan pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi kerusakan akibat bencana alam dan kemungkinan Sumber Daya Buatan (SDB) yang perlu disiapkan. Langkah ini penting untuk dilakukan agar kegiatan penanganan korban bencana dapat segera ditangani dengan cepat dan tepat, Memberikan petunjuk teknis, mengirimkannya, dan mengarahkan Satgas PRC PB yang terdiri dari unsur kesehatan, intelijen, perhubungan/komunikasi dan tim evakuasi, Memberikan petunjuk teknis, mengirimkannya, dan mengarahkan Satgas PRC PB yang terdiri dari unsur
kesehatan, intelijen, perhubungan/komunikasi dan tim evakuasi. Binkomsos. Dilaksanakan oleh aparat kewilayahan yang ada dengan memberikan penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat yang terkena dampak bencana. Melaporkan kejadian bencana dan penanggulangannya kepada Komando Atas agar selalu dapat dimonitor dan diketahui perkembangannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Bhakti TNI. Dengan karya bhakti yang melibatkan seluruh unsur TNI dikoordinir Dansat Kowil dalam rangka mengurangi dampak bencana bagi masyarakat korban bencana. Kegiatan yang dilakukan antara lain Memberikan pertolongan pertama (evakuasi) kepada korban bencana, menyiapkan tempat dan dapur umum serta Rumah Sakit lapangan, Menyiapkan tempat penampungan/pengungsian sementara bagi korban bencana (balai desa, balai kecamatan, sekolah-sekolah, gudang-gudang dan lain-lain), Mengamankan daerah yang terkena bencana, Menginventarisir dan menerima serta menyalurkan bantuan dan mempertanggungjawabkan bantuan-bantuan yang diterirna serta melaporkannya kepada Komando Atas.
Dari semua uraian diatas, penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut : Pertama, Dilakukan sinkronisasi antara Permendagri No 46/2008 dan Perpang No.
78/IX/2010 agar didapatkan kejelasan tentang tugas TNI AD khususnya Kodim dalam pengerahan Satgas PRCPB baik pada tahap pra-bencana, tahap tanggap darurat, maupun pada tahap pasca bencana; Kedua, Penanggulangan bencana alam dimasukkan dalam program latihan satuan komando kewilayahan; Ketiga, Dandim secara rutin mengkomunikasikan dengan pemerintah daerah tentang kesiapan sarana, prasarana dan anggaran serta mensosialisasikan dan mempelopori kegiatan antisipatif berupa latihan/uji siap penanggulangan bencana alam berkoordinasi dengan BPBD dan unsur terkait lainnya.
Perwujudan Sinergitas Peran TNI AD Dalam Tahap Pasca Bencana Alam di Daerah.
Kegiatan tahap pasca bencana, dilaksanakan perbaikan kondisi masyarakat yang terkena dampak bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana. Pada tahap ini titik berat kegiatannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegiatan yang dilaksanakan harus memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabilitasi fisik saja.
Tetapi juga perlu diperhatikan rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi.
Dari tulisan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa : 1) Konsep kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan di organisasi militer pada era Revolusi 4.0 adalah gaya kepemimpinan militer transformasional dan digital karena perilaku kepemimpinan militer transformasional dan digital di era Revolusi Industri 4.0 yang penuh inovasi ini sangat diperlukan terutama untuk melaksanakan fungsi utama TNI AD yakni Binter merupakan kegiatan yang dilakukan oleh prajurit TNI AD dalam interaksinya dengan masyarakat, selaras juga dengan karakteristik model kepemimpinan Panglima besar Soedirman yaitu pemimpin sebagai bapak, pelatih, guru, kawan dan komandan; 2) Karakter kepemimpinan militer transformasional dalam yaitu (pengaruh ideal), (motivasi inspirasi), (stimulasi intelektual), dan (konsiderasi individu), sedangkan karakteristik kepemimpinan militer digital, antara lain: tanggungjawab, hasil, distribusi informasi, tujuan dan penilaian, kesalahan dan konflik, perubahan, dan inovasi; 3) Parameter keberhasilan kepemimpinan transformasional dalam penyelenggaraan binter yakni terciptanya kondisi satuan yang ideal dalam rangka melaksanakan tugas pokok.
Demikian essay tentang Sinergitas Tni Ad Dalam Penanggulangan Bencana Alam Di Daerah Dalam Rangka Gmsp, semoga bermanfaat bagi setiap upaya perbaikan dan peningkatan Kodim menghadapi bencana alam di masa yang akan datang. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu mohon kritikan yang sifatnya membangun dari semua pihak demi perbaikan dalam penulisan selanjutnya.
Bantul, April 2024 Penulis,
Muhidin, S.H., M.I.P.
Letnan Kolonel Inf Nrp 11040020331181
PERAN KODIM
SAAT INI PENANGGULANG
AN BENCANA ALAM
PERAN KODIM YANG OPTIMAL PROSES
-UU NO 34 TAHUN 2004 -UU NO 24 TAHUN 2007 -PERPANG NO 78/IX/2010
- KEMAMPUAN KODIM - KOORDINASI LINTAS
SEKTORAL
- MANAJEMEN BENCANA ALAM
SINERGITAS TNI AD
DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ALAM DI DAERAH DALAM RANGKA GMSP
Oleh :
Muhidin, S.H., M.I.P.
Letnan Kolonel Inf Nrp 11040020331181
Bantul, April 2024