KIA8_AKPM_280
PERANAN KOMITE AUDIT DALAM PENGUNGKAPAN INTERNET FINANCIAL REPORTING DI SEKTOR MANUFAKTUR INDONESIA
Uhti Aisyah Khumayroh1), Rida Prihatni2), I Gusti Ketut Agung Ulupui3)
1Universitas Negeri Jakarta email: [email protected]
2Universitas Negeri Jakarta email: [email protected]
3Universitas Negeri Jakarta email: [email protected]
Abstract
This study aims to analyze the impact of the Audit Committee on the disclosure of internet financial reporting. The Audit Committee is proxied by size, frequency of Audit Committee meetings, expertise of the Audit Committee in accounting or finance, and independent parties in the proportion of the Audit Committee. Internet financial reporting disclosures are measured by disclosure items presented in the Internet Disclosure Index (IDI) and equipped with POJK No.8/POJK.04/2015. The sample in this study was 92 companies, and the sample used in this study were manufacturing companies listed on IDX during 2017-2019. The statistical method used is panel data regression analysis. Based on the panel data regression test, it was found that only the competence of the audit committee had a significant effect on IFR. Meanwhile, the variables of audit committee size, audit committee meeting frequency, and audit committee independence have no influence on the disclosure of financial statements via the internet or IFR.
Keywords: IFR, Audit Committee, Size, Meeting Frequency, Competence, Independence
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Komite Audit terhadap pengungkapan pelaporan keuangan internet. Komite Audit diproksikan dengan ukuran, frekuensi rapat Komite Audit, keahlian Komite Audit di bidang akuntansi atau keuangan, dan pihak independen dalam proporsi Komite Audit. Pengungkapan pelaporan keuangan internet diukur dengan item pengungkapan yang disajikan dalam Internet Disclosure Index (IDI) serta dilengkapi
POJK No.8/POJK.04/2015
. Sampel dalam penelitian ini adalah 95 perusahaan, dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdafat di IDX selama tahun 2017-2019. Metode statistik yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Berdasarkan uj regresi data panel diperoleh hasil bahwa hanya kompetensi komite audit yang memiliki pengaruh signifikan terhadap IFR. Sedangkan variabel Ukuran komite audit, frekuensi rapat komite audit, dan independensi komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan melalui internet atau IFR.Kata Kunci: IFR, Komite Audit, Ukuran, Frekuensi Rapat, Kompetensi, Independensi
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital meningkatkan penggunaan internet dalam pelaporan keuangan di antara perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang berdampak pada tata kelola perusahaan yang berusaha untuk beradaptasi dalam penggunaan teknologi digital sehingga mempengaruhi arus bisnis dalam operasional perusahaan. Begitu juga persyaratan pelaporan kinerja perusahaan menjadi lebih kompleks seiring pertumbuhan bisnis melalui penyajian laporan keuangan yang dijadikan bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan (Dameuli & Anis, 2016). Kompleksitas laporan keuangan harus didukung dengan media yang berperan sebagai penunjang. Media yang digunakan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dalam penyampaian informasi oleh perusahaan, yaitu melalui website resmi yang dikelola oleh perusahaan, kegiatan ini disebut Internet Financial Reporting (IFR). IFR merupakan implementasi perusahaan sebagai upaya dalam meminimalisir asimetri informasi antara pihak manajemen perusahaan dengan stakeholder, selain itu IFR juga berperan sebagai sumber informasi yang akurat yang dapat digunakan oleh pihak luar. Implementasi dari IFR oleh perusahaan diklasifikasikan melalui pengungkapan laporan keuangan tahunan, laporan keuangan interim, atau informasi keuangan penting lainnya yang disajikan pada website perusahaan (Rizqiah & Lubis, 2017).
Pelaporan Keuangan Internet adalah distribusi informasi kinerja keuangan perusahaan melalui situs web entitas ke berbagai pengguna untuk pengambilan keputusan tepat waktu (Bananuka et al., 2019).
Pada sisi pemangku kepentingan bisnis, pengungkapan dan pelaporan keuangan berbasis IFR merupakan suatu kebutuhan yang penting dan harus disediakan oleh manajemen perusahaan.
Permasalahan transparansi informasi khususnya dihubungkan dengan IFR maka tidak terlepas dari adanya perbedaan persepsi antara manajemen dan shareholders (Riduan Abdillah, 2019). Teori agensi (agency theory) menjelaskan bahwa pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian pada suatu perusahaan akan menimbulkan masalah karena perbedaan kepentingan antara shareholders sebagai prinsipal dengan manajemen sebagai agen (Jensen & Meckling, 1976). Kualitas pelaporan keuangan yang baik berimplikasi pada informasi yang baik yang diberikan untuk mendukung investor membuat pengambilan keputusan yang baik (Zamroni & Aryani, 2018). Semakin besar peningkatan kualitas informasi, semakin kecil konflik agensi karena ketersediaan informasi kepada investor. Dengan demikian, teori keagenan lebih cocok untuk pengungkapan perusahaan. Teori keagenan dapat dipandang menjadi landasan teori yang menjelaskan kontrak antara beberapa pihak.
Literatur akuntansi yang ada menyatakan bahwa IFR dikenal sebagai pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), bukan karena isi pengungkapannya tetapi karena alat yang digunakan (Kurniawati, 2018). Penyajian informasi melalui IFR yang bersifat sukarela ini akan berdampak pada adanya disparitas praktik IFR. Berdasarkan penelitian Setiawan & Michael (2020) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 14,52% untuk indeks IFR pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2019 dari score checklist yang diminta, nilai rata-rata indeks IFR ini menunjukkan bahwa penerapan IFR yang dilakukan oleh perusahan publik di Indonesia belum mengarah pada implementasi yang maksimal.
Abdillah (2019) menemukan bahwa pada tahun 2017 masih ada 22.96% perusahaan manufaktur terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang belum dapat diakses website perusahaannya. Gunawan (2019) menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 16,78% perusahaan manufaktur terdaftar di BEI tahun yang website perusahaannya tidak dapat diakses. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat perusahaan yang belum memaksimalkan penerapan Internet Financial Reporting (IFR).
Kelengkapan informasi yang termuat pada laporan keuangan akan berpengaruh pada aspek- aspek yang perlu dipertimbangkan oleh pengguna laporan keuangan, hal ini terkait dengan kebijakan dari tata kelola perusahaan untuk menyesuaikan kriteria dari laporan keuangan yang melaporkan kejadian pada periode sebelumnya (Dameuli & Anis, 2016). Perusahaan di seluruh dunia menjadikan tata kelola perusahaan dan pelaporan keuangan internet sebagai suatu hal yang berpengaruh dalam aspek ekonomi yang didukung oleh perkembangan teknologi digital (Nassir Zadeh et al., 2018). Pada struktur corporate governance di Indonesia terdapat beberapa komite di bawah Dewan Komisaris salah satunya komite audit (Putri & Ulupui, 2017). Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap peran Komite Audit semakin meningkat dalam hal perannya dalam penyusunan laporan keuangan.
Pucheta-Martínez & Fuentes (2007) menemukan bahwa Komite Audit lebih dinamis dalam mereview laporan keuangan dan mengurangi perbedaan antara manajer dan auditor eksternal. Hal ini mengurangi kemungkinan perusahaan memiliki opini wajar dengan auditor eksternal yang diakibatkan oleh kesalahan akuntansi dan tidak adanya komitmen terhadap standar akuntansi.
Literatur sebelumnya menyatakan bahwa efektivitas Komite Audit akan tercermin sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh Komite Audit (Li et al., 2012; Buallay, 2018). Komite audit sebagai pelaksana tugas pengawasan dalam pengukuran efektivitas kinerjnya melalui karakteristik yang dimiliki seperti profesionalisme, kompetensi yang memadai serta kualifikasi yang dimiliki (Katutari et al., 2019)
Penelitian mengenai pengaruh karakteristik Komite Audit terhadap Internet Financial Reporting (IFR) diantaranya oleh Almatrooshi et al., (2016) menggunakan beberapa karakteristik, yaitu ukuran Komite Audit, frekuensi rapat Komite Audit, dan proporsi anggota Komite Audit independent. Dalam penelitian lain oleh (Zulfikar et al., 2018) memasukan karakteristik lain yaitu kompetensi Komite Audit di bidang keuangan. Karakteristik Komite Audit yang digunakan pada penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang berbeda-beda untuk setiap karakteristik yang digunakan, terdapat pengaruh dan tidak berpengaruh terhadap IFR. Pada penelitian kali ini menggunakan beberapa karakteristik yaitu ukuran Komite Audit, frekuensi rapat Komite Audit, kompetensi Komite Audit di bidang keuangan dan proporsi anggota Komite Audit independen.
Komite Audit sesuai fungsinya membantu dewan komisaris dalam melakukan pengawasan serta memberikan rekomendasi kepada manajemen dan dewan komisaris terhadap pengendalian yang telah berjalan sehingga dapat mencegah asimetri informasi (Diantari & Ulupui, 2016). Pelaksanaan tugas yang dijalankan memerlukan banyak pihak, semakin besar ukuran Komite Audit yang ditunjukkan dengan jumlah anggotanya, akan mendukung untuk tersedianya keahlian dan kemampuan yang beragam (Buallay, 2018). Ukuran Komite Audit dapat diartikan sebagai bagian yang mempengaruhi praktik pengungkapan perusahaan, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ghanem (2016) dan Zulfikar et al. (2018) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap IFR. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Almatrooshi et al., (2016) menyatakan sebaliknya.
Pertemuan atau rapat Komite Audit berfungsi sebagai media untuk melaksanakan berbagai perbaikan atau evaluasi yang dibutuhkan, termasuk memastikan kualitas laporan keuangan (Zulfikar et al., 2018). Suyono (2018) menyebutkan bahwa frekuensi pertemuan Komite Audit yang lebih sering memberikan mekanisme pengawasan dan pemantauan kegiatan keuangan yang lebih efektif, meliputi persiapan dan pelaporan informasi keuangan perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Almatrooshi et al., (2016); Ghanem (2016) dan Zulfikar et al. (2018) menyatakan bahwa frekuensi rapat Komite Audit berpengaruh positif terhadap IFR. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Salehi & Shirazi, 2016) menyatakan sebaliknya.
Kompetensi di bidang keuangan merupakan karakteristik yang berperan besar dalam peningkatan efisiensi kinerja Komite Audit (Buallay, 2018). Keahlian keuangan secara menyeluruh dapat meningkatkan kualitas IFR dan mengurangi perilaku oportunistik manajer (Puspitaningrum &
Atmini, 2012; Zulfikar et al., 2018). Penelitian yang dilakukan oleh Ghanem (2016) dan Zulfikar et al.
(2018) menyatakan bahwa Kompetensi Komite Audit dibidang keuangan berpengaruh terhadap IFR.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Rahadhian & Septiani (2014) menyatakan bahwa kompetensi Komite Audit yang semakin besar tidak berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat pengungkapan IFR.
Independensi Komite Audit sangat terkait dengan pengukuran kualitas laba, selain itu Komite Audit independen diharapkan memainkan peran kunci dalam pelaporan keuangan, audit dan tata kelola perusahaan (Buallay, 2018). Proporsi anggota Komite Audit yang independen sangat penting karena dapat meningkatkan fungsi dari Komite Audit itu sendiri (Zulfikar et al., 2018). Penelitian yang dilakukan oleh Ghanem (2016) dan Zulfikar et al. (2018) menyatakan bahwa proporsi anggota Komite Audit Independen berpengaruh positif terhadap IFR. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Almatrooshi et al., (2016) menyatakan bahwa proporsi anggota Komite Audit Independen tidak berpengaruh terhadap IFR. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang telah dijelaskan diatas, peneliti menemukan research gap berupa hasil yang kontradiksi atau masih terdapat perbedaan hasil pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya pada karakteristik Komite Audit. Maka peneliti bertujuan untuk menguji kembali terhadap unsur-unsur yang memiliki pengaruh pada IFR.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 – 2019 sebanyak 153 perusahaan
. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan purposive sampling sejumlah 95 perusahaan manufaktur, kriteria yang digunakan, yaitu:
1.
Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 – 20192.
Perusahaan yang laporan tahunannya dapat diakses atau diperoleh secara lengkap oleh peneliti selama tahun periode penelitian yaitu tahun 2017 - 2019 pada website perusahaan3.
Perusahaan Manufaktur yang website perusahaannya dapat diakses4.
Perusahaan manufaktur yang menyajikan laporan keuangan menggunakan mata uang rupiahTeknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder sebagai bahan penelitian yang akan diolah.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi yaitu menggunakan data-data yang telah tersedia dan melakukan analisis serta meneliti item- item yang diperlukan pada laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2017-2019. Data sekunder tersebut dapat diakses melalui laman website resmi masing-masing perusahaan manufaktur.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Internet Financial Reporting (Variabel Dependen)
Pengukuran IFR pada penelitian ini menggunakan Internet Diclosure Index (IDI) mengacu pada kerangka IDI yang dikembangakan oleh Spanos (2006). Lebih lanjut Abdelsalam & El- Masry (2008) menambahkan item ketepatan waktu pada pengukuran IFR. POJK No.8/POJK.04/2015 juga mengatur item-item yang perlu dicantumkan pada website perusahaan. Untuk menilai pengungkapan melalui praktik IFR pada penelitian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu 60% isi (content); 20% tampilan (presentation); dan 20% ketepatan waktu (timeliness) mengacu pada penelitian Rizqiah & Lubis (2017). Berikut aspek-aspek Internet Disclosure Index (IDI) pada tabel dibawah ini:
Tabel 1. Internet Disclosure Index (IDI)
No. Groups/categories No. of items
1 Financial Attributes 30
2 Corporate Governance Attributes 19 3 CSR and Environtmental attibutes 10 4 Investor Relations Attributes 8 5 Technological Futures Attributes 8 6 Accesibility (conveniance and usability
attributes)
12
Total 87
Sumber: (Spanos, 2006; Abdelsalam & El-Masry, 2008; POJK No.8/POJK.04/2015;
Rizqiah & Lubis, 2017)
Suatu perusahaan mengungkapkan suatu item informasi yang termasuk dalam indeks di
situs internetnya, mendapat skor satu. Jika perusahaan tidak mengungkapkan suatu item maka
diberikan skor nol. Indeks pengungkapan untuk setiap perusahaan dihitung dengan membagi
skor aktual yang diberikan dengan skor semaksimal mungkin yang sesuai untuk perusahaan
(Mokhtar, 2017).
Dimana n = 1 jika item diungkapkan atau 0 jika tidak diungkapkan; dan k = skor maksimum yang dapat diperoleh setiap perusahaan
Ukuran Komite Audit
Jumlah komite audit harus cukup dalam sebuah perusahaan karena jumlah komite audit akan memengaruhi efektivitas komite audit dalam melaksanakan tugasnya. Variabel ukuran komite audit dalam penelitian ini diukur dengan jumlah anggota di dalam komite audit sesuai dengan penelitian Kurniawan & Mutmainah (2020) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Frekuensi Rapat Komite Audit
Proksi yang digunakan untuk megetahui banyaknya frekuensi rapat komite audit dengan cara melihat total rapat yang telah dilaksanakan oleh komite audit pada laporan tahunan dalam satu periode pelaporan dan sesuai dengan pengukuran yang dilakukan oleh Chariri & Januarti (2017) dan Haji &
Anifowose (2016) pengukuran tersebut dihitung dengan rumus:
Kompetensi Komite Audit
Penelitian ini menilai kompetensi komite audit di bidang keuangan melalui kriteria yang dijadikan score untuk masing-masing komite audit diperusahaan. Adiati & Adiwibowo (2017) memberikan Score Per komite audit diantaranya sebagai berikut:
6 = Anggota komite audit memiliki audit gelar CPA, CA, Ph.D, Professor, Master dalam bidang keuangan dan akuntansi
5 = Anggota komite audit yang pernah bekerja di KAP big four (Ernest&Young, KPMG, Delloite, PwC).
4 = Anggota komite yang memiliki pengalaman bidang keuangan dan atau akuntansi.
3 = Anggota komite audit yang memiliki pengalaman sebagai dosen atau guru besar sebuah fakultas ekonomi’.
2 = Anggota dengan pengalaman di bidang bisnis yang lain dan memiliki latar belakang hukum.
1 = Anggota komite audit yang memiliki pengalaman di bidang bisnis selain perbankan.
0 = Aggota komite audit yang tidak memiliki pengalaman apapun.
(Score)/(total)
Proporsi Anggota Komite Audit Independen
Independensi komite audit pada penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator persentase anggota komite audit yang independen terhadap jumlah seluruh anggota komite audit sesuai dengan penelitian Kurniawan & Mutmainah (2020). Independensi Komite Audit (ACINDP) diperoleh dari perhitungan:
Teknik Analisis
Penelitian ini menggunakan perangkat aplikasi Econometric Views (EViews 12) untuk melakukan analisis data. Proses data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Tahap pertama ialah menyunting data, yaitu melakukan cek atas data yang telah dikumpulkan agar sesuai dengan objektivitas penelitian. Tahap kedua ialah tabulasi data, yaitu memasukan data dalam tabel sesuai dengan setiap analisis yang ingin dilakukan. Tahap ketiga atau terakhir adalah melakukan proses data dengan menggunakan aplikasi EViews 12. Penelitian ini menggunakan model persamaan regresi data panel. Beberapa uji analisis data yang digunakan untuk menguji model persamaan regresi antara lain:
analisis deskriptif, uji pemilihan model, uji model panel, uji asumsi klasik, analisis regresi data panel, dan uji hipotesis. Rumus persamaan regresi data panel pada penelitian ini sebagai berikut:
IFR = β0+ β1UKA + β2FKA + β3KKA + β4IKA + ε
Keterangan simbol:
IFR = Internet Financial Reporting (IFR) β = Koefisien Regresi
UKA = Ukuran Komite Audit
FKA = Frekuensi rapat Komite Audit
KKA = Kompetensi Komite Audit di bidang keuangan IKA = Independensi Komite Audit
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Statistik Deskriptif
Tabel 2. Statistik Deskriptif
IFR UKA FKA KKA IKA
Mean 0.789439 3.070175 6.600000 37.37193 97.80716
Maximum 0.910000 5.000000 38.00000 78.00000 100.0000 Minimum 0.510000 2.000000 4.000000 10.00000 66.67000 Std. Dev. 0.055624 0.358972 4.872458 12.55363 7.868915
Observations 285 285 285 285 285
Sumber: Output Eviews 12 (2021)
Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui informasi berupaa angka dari setiap variabel. Berikut merupakan penjelasan dari hasil statistik deskriptif untuk setiap variabel yang digunakan dalam penelitian:
Internet Financial Reporting (IFR)
Pada penelitian ini, variabel dependen yang digunakan yaitu IFR yang diperoleh dari jumlah index yang terdapat pada Internet Financial Index (IDI). Berdasarkan hasil dari tabel analisis deskriptif di atas, dinyatakan bahwa nilai minimum yang diperoleh untuk score IFR adalah sebesar 0,51 atau 51 pada tahun 2017-2019 adalah miliki perusahaan Chitose Internasional Tbk, hal ini menunjukkan bahwa item-item yang diungkapkan pada website perusahaan sebanyak 44 dari total IDI sebanyak 87. Kemudian nilai maksimum yang diperoleh adalah score IFR milik PT Astra International Tbk sebesar 0,91 atau 91 pada tahun 2018-2019 yang menunjukkan bahwa index yang terpenuhi dari penyajian website perusahaan sebanyak 79 item dari total IDI 87. Nilai mean dari score variabel IFR adalah sebesar 0,78 atau 78 dan nilai standar deviasi sebesar 0,055. Nilai mean yang lebih besar dari standar deviasi menunjukkan bahwa sebaran data dapat dikatakan baik atau titik data dekat dari nilai rata-rata dan keragaman sampel luas.
Ukuran Komite Audit (UKA)
Penelitian ini menggunakan variabel ukuran komite audit yang diukur dengan jumlah komite audit yang dimiliki perusahaan. Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis statistik deskriptif pada ukuran
komite audit diperoleh nilai minimum sebesar 2 yaitu milik PT. Martina Berto Tbk dan PT Mustika ratu Tbk, yang menunjukkan jumlah komite audit yang dimiliki sebanyak 2 orang. Kemudian nilai maksimum dimiliki oleh PT Malindo Feedmill Tbk sebanyak 5 anggota komite audit yang dimiliki oleh perusahaan termasuk ketua komite audit. Nilai mean dari variabel ukuran komite audit diperoleh nilai sebesar 3,070 atau 3 orang anggota komite audit hal ini sesuai dengan POJK Nomor 55/POJK.04/2015 menyatakan bahwa komite audit sekurang- kurangnya terdiri dari 3 orang anggota baik yang berasal dari komisaris independen maupun pihak luar perusahaan dan diketuai oleh komisaris independent hal ini menandakan bahwa sebagian besar perusahaan manufaktur telah memenuhi peraturan yang berlaku. Dan nilai standar deviasinya adalah 0,35 lebih kecil dari nilai mean. Nilai mean yang lebih besar dari standar deviasi menunjukkan bahwa sebaran data dapat dikatakan baik atau titik data dekat dari nilai rata-rata dan keragaman sampel luas. Sehingga menunjukkan bahwa sebaran data menjadi semakin baik setelah uji outlier.
Frekuensi Rapat Komite Audit (FKA)
Frekuensi rapat komite audit yaitu merupakan banyaknya pertemuan tatap muka untuk membahas kinerja manajemen perusahaan. Berdasarkan tabel diatas, hasil analisis statistik deskriptif pada frekuensi rapat komite audit diperoleh nilai minimum sebesar 4 yang artinya rapat komite audit dilaksanakan 4 kali dalam satu tahun, jumlah perusahaan yang memiliki jumlah rapat sebanyak 4 kali adalah 51 perusahaan, hal ini menandakan bahwa 54% perusahaan manufaktur telah memenuhi peraturan berdasarkan POJK Nomor 55/POJK.04/2015, komite audit melaksanakan rapat secara rutin minimal satu kali dalam kurun waktu tiga bulan atau empat kali dalam setahun. Sedangkan nilai maksimum dari FKA sebesar 38 yaitu oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk tahun 2018. Nilai mean dari variabel FKA adalah sebesar 6.60 dan standar deviasinya sebesar 4,87 lebih kecil dari nilai mean, yang menandakan bahwa sebaran data dapat dikatakan baik atau titik data dekat dari nilai rata- rata dan keragaman sampel luas.
Kompetensi Komite Audit (KKA)
Kompetensi komite audit pada penelitian ini merupakan keahlian dan pengalam komite audit dibidang akuntansi dan keuangan yang diukur menggunakan score untuk masing-masing keahlian yang dimiliki oleh komite audit. Berdasarkan tabel di atas nilai minimum score yang diperoleh sebesar 10 yaitu milik PT Wijaya Karya Beton tahun 2018, hal ini menandakan bahwa komite audit yang dimiliki perusahaan tersebut tidak didominasi dengan latar belakangan akuntansi maupun keuangan.
Sedangkan nilai maksimum yaitu sebesar 78 yaitu PT Ekadharma International Tbk, hal ini menunjukkan komite audit perusahaan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan baik dari latar belakang pendidikan, kompetensi serta pengalaman kerja. Nilai mean pada penelitian ini sebesar 37 dari score maksimal yang dapat diraih yaitu 100. Standar deviasinya sebesar 12,55 lebih kecil dari nilai mean yang menandakan bahwa sebaran data dapat dikatakan baik atau titik data dekat dari nilai rata-rata dan keragaman sampel luas.
Independensi Komite Audit (IKA)
Independensi komite audit pada penelitian ini merupakan proporsi anggota komite audit yang tidak memiliki hubungan atau keterkaitan dengan perusahaan. Berdasarkan tabel diatas nilai minimum score yang diperoleh sebesar 66,67% yaitu Waskita Beton Precast tbk pada tahun 2018, PT Alakasa Industrindo Tbk, Asiaplast Industries Tbk dan Kalbe Farma Tbk tahun 2017-2019. Sedangkan nilai maksimum sebesar 100% dimiliki oleh 88 perusahaan sampel, yang artinya 93% perusahaan manufaktur memiliki komite audit independen dan tidak memiliki afiliasi dengan perusahaan terkait.
Nilai mean sebesar 97,80 dan nilai standar deviasi 7,86. Nilai standar deviasi yang lebih kecil dari mean menandakan bahwa sebaran data dapat dikatakan baik atau titik data dekat dari nilai rata-rata dan keragaman sampel luas.
Pengujian Model Uji Chow
Tabel 3. Hasil Uji Chow
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 15.769364 (66,130) 0.0000
Cross-section Chi-square 441.775760 66 0.0000
Sumber: Output Eviews 12 (2021)
Berdasarkan tabel 3 menunjukkan probabilitas dari chi-square sebear 0,0000 lebih rendah dari 0,05.
Maka sesuai kriteria keputusan maka pada model ini dipilih model Fixed effect. Karena pada uji chow yang dipilih menggunakan model fixed effect maka perlu melakukan pengujian lanjutan dengan uji hausman untuk menentukan model fixed effect atau ranom effect yang digunakan.
Uji Hausman
Tabel 4. Hasil Uji Hausman
Test Summary
Chi-Sq.
Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 29.993741 4 0.0000
Sumber: Output Eviews 12 (2021)
Berdasarkan tabel 4 hasil uji hausman menunjukkan nilai probabilitas chi-square sebesar 0,0000 lebih kecil dari 0,05, sesuai dengan kriteria jika probabilitas chi-square < 0,05 model yang digunakan adalah fixed effect model
Analisis Regresi Data Panel
Hasil dari uji model persamaan regresi data panel ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji hipotesis dari penelitian. Pengujian menggunakan perangkat aplikasi Eviews 12 dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 5. Model Regresi Data Panel
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.610843 0.183298 -3.332518 0.0010
UKA 0.006801 0.004805 1.415418 0.1584
FKA 0.040840 0.029966 1.362885 0.1744
KKA 0.034576 0.017113 2.020446 0.0446
IKA 0.011738 0.020442 0.574214 0.5664
Weighted Statistics
R-squared 0.248598 Mean dependent var 0.197548 Adjusted R-squared 0.224019 S.D. dependent var 0.013049 S.E. of regression 0.011495 Sum squared resid 0.028275 F-statistic 10.11440 Durbin-Watson stat 1.651364 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber: Output Eviews 12 (2021)
Berdasarkan hasil regresi data panel diatas, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Dalam persamaan regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan:
1. Nilai koefisien untuk konstanta diperoleh sebesar -0,610843. Hal ini menunjukkan bahwa variable dependen IFR akan bernilai -0,610843 jika variable independent dianggap tetap atau konstan.
2. Koefisien untuk variabel ukuran komite audit (UKA) diperoleh sebesar 0,006801. Hal ini menunjukkan bahwa jika variabel UKA mengalami kenaikan sebesar 1 (satuan) dan variabel lainnya dianggap tetap atau konstan, maka IFR akan mengalami kenaikan sebesar 0,006801.
Koefisien dari variabel UKA bernilai positif memiliki arti bahwa jika nilai UKA meningkat, maka nilai IFR juga akan mengalami peningkatan.
3. Koefisien untuk variabel frekuensi rapat komite audit (FKA) diperoleh sebesar 0,040840. Hal ini menunjukkan bahwa jika variable FKA mengalami kenaikan sebesar 1 (satuan) dan variabel lainnya dianggap tetap atau konstan, maka IFR akan mengalami kenaikan sebesar 0,040840.
Koefisien dari variabel FKA bernilai positif memiliki arti bahwa jika nilai FKA meningkat, maka nilai IFR juga akan mengalami peningkatan.
4. Koefisien untuk variabel kompetensi komite audit (KKA) diperoleh sebesar 0,034576. Hal ini menunjukkan bahwa jika variable KKA mengalami kenaikan sebesar 1 (satuan) dan variabel lainnya dianggap tetap atau konstan, maka IFR akan mengalami kenaikan sebesar 0,034576.
Koefisien dari variabel KKA bernilai positif memiliki arti bahwa jika nilai KKA meningkat, maka nilai IFR juga akan mengalami peningkatan.
Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Berdasarkan hasil dari analisis regresi linier berganda di atas diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0,224019. Angka ini menunjukkan bahwa variabel independen dalam penelitian ini, yang terdiri dari vaariabel UKA, FKA, KKA, IKA dapat memengaruhi IFR sebesar 0,224019 atau variabel independen pada penelitian ini mampu menjelaskan pengaruhnya sebesar 22,40% terhadap nilai tambah pasar. Sedangkan sebesar 77,60% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Uji Kelayakan Model (Uji F)
Hasil uji kelayakan model pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai F-Statistic sebesar 10,11440 dan nilai probabilitas F-Statistik sebesar 0,000000 dan kurang dari tingkat signifikansi 5%
atau 0,05. Maka, dapat disimpulkan bahwa model analisis regresi linier berganda ini layak digunakan dalam penelitian.
Uji Statistik t
Uji statistik t dilakukan untuk melihat pengaruh secara parsial UKA, FKA, KKA, dan IKA terhadap IFR dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. H1: Ukuran komite audit berpengaruh positif terhadap IFR
Hasil menunjukkan bahwa variabel UKA memiliki nilai probabilitas sebesar 0,1584 lebih besar dari 0.05 atau 5%. Maka dapat disimpulkan bahwa UKA tidak berpengaruh terhadap IFR. Tidak berpengaruh yang dihasilkan memiliki arti bahwa ukuran komite audit pada perusahaan manufaktur tahun 2017-2019 tidak mempengaruhi skor pelaporan keuangan melalui internet (IFR).
Karena nilai probabilitas UKA > 0,05 dan t statistik sebesar 1,415418, dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak.
2. H2: Frekuensi Rapat Komite Audit berpengaruh positif terhadap IFR
Hasil menunjukkan bahwa variabel FKA memiliki nilai probabilitas sebesar 0,1744 lebih besar dari 0.05 atau 5% dan nilai t statistik sebesar 1,362885. Maka dapat disimpulkan bahwa FKA tidak berpengaruh terhadap IFR. Tidak berpengaruh yang dihasilkan memiliki arti bahwa frekuensi rapat komite audit pada perusahaan manufaktur tahun 2017-2019 tidak mempengaruhi skor pelaporan
keuangan melalui internet (IFR). Karena nilai probabilitas FKA > 0,05 dan t statistik sebesar 1,362885, dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak
3. H3: Kompetensi Komite Audit di bidang akuntansi dan keuangan berpengaruh positif terhadap IFR
Hasil menunjukkan bahwa variabel KKA memiliki nilai probabilitas sebesar 0,0446 lebih kecil dari 0.05 atau 5%. Pengaruh positif yang dihasilkan dari nilai t statistik sebesar 2,020446 menunjukkan pengaruh positif terhadap IFR. Artinya jika perusahaan memiliki nilai KKA yang tinggi maka skor pengungkapan laporan keuagan melalui internet akan meningkat. Karena nilai probabilitas variabel KKA < 0,05 dan t statistik sebesar 2,020446 maka dapat disimpulkan bahwa H3 diterima
4. H4: Independensi Komite Audit berpengaruh positif terhadap IFR
Hasil menunjukkan bahwa variabel IKA memiliki nilai probabilitas sebesar 0,5664 lebih besar dari 0.05 atau 5%. Maka dapat disimpulkan bahwa KKA tidak berpengaruh terhadap IFR. Tidak berpengaruh yang dihasilkan memiliki arti bahwa kompetensi komite audit pada perusahaan manufaktur tahun 2017-2019 tidak mempengaruhi skor pelaporan keuangan melalui internet (IFR).
Karena nilai probabilitas KKA > 0,05 dan t statistik sebesar 0,574214, dapat disimpulkan bahwa H4 ditolak.
Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap IFR
Hasil uji t dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan internet atau IFR. jumlah komite audit yang besar akan menyebabkan tumpang tindih pendapat dalam monitoring terhadap agen dalam perumusan laporan keuangan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian (Almatrooshi et al., 2016) yang menyatakan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap IFR karena semakin besar dan luas ukuran dewan atau komite audit semakin bias pendapat yang dihasilkan sehingga pertimbangan untuk penyajian informasi pada website akan semakin besar sehingga memperkecil item-item yang akan disjaikan pada website tentang kinerja perusahaan. Hasil serupa oleh penelitian (Astuti, 2020) yang menyatakan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap IFR hal ini disebabkan oleh anggota komite audit yang banyak belum bisa memaksimalkan laporan yang dihasilan karena komite audit hanya bertugas untuk mengawasi sehingga tidak terlibat secara langsung terhadap teknis pengungkapan laporan.
Pengaruh Frekuensi Rapat Komite audit terhadap IFR
Hasil uji t dalam penelitian ini menunjukkan bahwa frekuensi rapat komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan internet atau IFR. Hasil sejalan dengan hasil penelitian (Astuti, 2020) yang menyatakan bahwa total rapat tidak mempunyai dampak terhadap IFR. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah rapat komite audit ialah sebuah kewajiban dalam rangka monitoring, sehingga frekuensi rapat yang dilakukan tidak menjamin bahwa monitoting melalu rapat dapat mempengaruhi dan menghasilakn laporan atau pengungkapan kinerja pada website perusahaan.
Hasil penelitian serupa oleh (Madi et al., 2014) Frekuensi pertemuan anggota komite audit tidak terkait secara signifikan dengan pengungkapan sukarela perusahaan, dengan demikian Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas komite audit tidak meningkatkan peran pemantauan komite tersebut atas praktik pengungkapan perusahaan.
Pengaruh Kompetensi Komite Audit
Hasil uji t dalam penelitian ini menunjukkan bawah kompetensi komite audit memiliki pengaruh positif terhadap IFR. hal ini berarti semakin besar kompetensi komite audit maka akan semakin tinggi score IFR. sebaliknya jika semakin kecil kompetensi komite audit di suatu perusahaan, maka akan semakin rendah score IFR. Komite audit yang ahli dalam pengalaman akuntansi dan pemahaman yang baik di bidang keuangan akan secara spesifik mengenali kecurangan yang terjadi dan memaksimalkan tugas komisaris sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang akurat.
Ketika laporan keuangan perusahaan berkualitas sesuai dengan standar dan memenuhi kriteria maka
perusahaan akan secara sukarela menyajikan laporan keuangan perusahaan dan informasi terkait melalui website perusahaan atau IFR unutk munjukkan kinerjanya.
Penelitian yang menunjukkan kompetensi komite audit dibidang keuangan berpengaruh positif terhadap IFR diantaranya oleh (Yap et al., 2011; Ghanem, 2016; Zulfikar et al., 2018; Astuti, 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Yap et al. (2011) menunjukkan hasil komite audit dengan kualifikasi keuangan dan akuntansi secara signifikan dikaitkan dengan visibilitas pelaporan Internet (IFR). Temuan ini menunjukkan bahwa komite audit yang kompeten dan profesional akuntansi menetapkan praktik pelaporan yang baik untuk menciptakan praktik organisasi yang homogen dalam menanggapi perkembangan teknologi. Lebih lanjut (Ghanem, 2016) menyatakan bahwa keahlian komite audit merupakan faktor penting untuk meningkatkan efektivitas komite audit terhadap pengungkapan IFR. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Zulfikar et al., 2018) menunjukkan bahwa keahlian Komite Audit di bidang keuangan berhubungan positif dengan kualitas laporan keuangan.
Keahlian keuangan komite audit merupakan background yang dimiliki oleh komite audit guna menunjang keefektifan pelaksanaan kinerja dari komite audit.
Sejalan dengan penelitian (Astuti, 2020) menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan akuntansi atau keuangan berdampak signifikan positif kepada pengungkapan sukarela. Komite audit yang ahli dalam pengalaman akuntansi dan pemahaman yang baik di bidang keuangan akan secara spesifik mengenali kecurangan yang terjadi dan memaksimalkan tugas komisaris sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang akurat.
Pengaruh Independensi Komite terhadap IFR
Hasil uji t dalam penelitian ini menunjukkan bahwa independensi komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan internet atau IFR. Dari hasi riset membuktikan bahwa hipotesis ditolak karena tidak dapat menyakinkan bahwa akan melakukan pengungkapan sesuai ketentuan. Hal ini sesuai dengan penelitian (Astuti, 2020) yang menyatakan bahwa independensi komite audit tidak berpengaruh terhadap IFR hal ini disebabkan komite audit ialah kelompok dari tata kelola perusahaan jika tingkat kesadaran atas pentingnya tata kelola perusahaan semakin tinggi maka mengakibatkan tingkat komite audit indepeden mulai mencapai homogen yang menimbulkan tidak banyaknya pengaruh yang material proposi komite audit independent.
KESIMPULAN
Berdasarkan uj regresi data panel diperoleh hasil bahwa hanya kompetensi komite audit yang memiliki pengaruh signifikan terhadap IFR. Sedangkan variabel Ukuran komite audit, frekuensi rapat komite audit, dan independensi komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan melalui internet atau IFR
IMPLIKASI
Apabila dilihat dari kesimpulan penelitian, kompetensi komite audit di bidang keuangan berpengaruh positif pada Internet Financial Reporting. Dengan demikian perusahaan dalam pemilihan komite audit diharapkan untuk menjadikan kompetensi dibidang akuntansi dan keuangan sebagai syarat utama, dalam rangka memaksimalkan peran dari komite audit itu sendiri
SARAN
Dari penelitian ini terdapat beberapa saran yang diajukan peneliti yaitu:
1. Perusahaan disarankan untuk meningkatkan kepercayaan stakeholder pada perusahaan dengan cara meningkatkan transparansi Internet Financial Reporting (IFR)
2. Penelitian selanjutnya bisa memasukkan faktor-faktor corporate governance lain seperti struktur kepemilikan ke dalam model penelitian, agar pengaruh dari struktur kepemilikan yang juga mempengaruhi kebijakan internet financial reporting perusahaan ini tidak diabaikan
KETERBATASAN PENELITIAN
Dari penelitian terdiri beberapa keterbatasan penelitian yaitu:
1. Objek riset hanya perusahaan- perusahaan publik sector manufaktur yang diuraikan dalam Bursa Efek Indonesia.
2. Pengumpulan data yang dilakukan pada riset ini hanya dimulai dari tahun 2017 sampai tahun 2019.
REFERENSI
Abdelsalam, O., & El-Masry, A. (2008). The impact of board independence and ownership structure on the timeliness of corporate internet reporting of Irish-listed companies. Managerial Finance, 34(12), 907–918. https://doi.org/10.1108/03074350810915842
Adiati, Y., & Adiwibowo, A. (2017). Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Kinerja Perusahaanperbankan Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013 - 2015. Diponegoro Journal of Accounting, 6(4), 363–377.
Almatrooshi, S. A. S., Al-Sartawi, A. M. A. M., & Sanad, Z. (2016). Do audit committee characteristics of Bahraini listed companies have an effect on the level of internet financial reporting? Corporate Ownership and Control, 13(3), 131–148.
https://doi.org/10.22495/cocv13i3p12
Astuti, E. (2020). Analisis Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Pengungkapan Sukarela.
Journal of Global Business and Management Review, 2(1), 1.
https://doi.org/10.37253/jgbmr.v2i1.788
Bananuka, J., Night, S., Ngoma, M., & Najjemba, G. M. (2019). Internet financial reporting adoption:
Exploring the influence of board role performance and isomorphic forces. Journal of Economics, Finance and Administrative Science, 24(48), 266–287. https://doi.org/10.1108/JEFAS-11-2018- 0120
Buallay, A. (2018). Audit committee characteristics: an empirical investigation of the contribution to intellectual capital efficiency. Measuring Business Excellence, 22(2), 183–200.
https://doi.org/10.1108/MBE-09-2017-0064
Dameuli, M., & Anis, I. (2016). Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Kepemilikan Keluarga Terhadap Internet Financial Reporting. Jurnal Akuntansi Trisakti, 3(1), 73.
https://doi.org/10.25105/jat.v3i1.4916
Diantari, P. R., & Ulupui, I. A. (2016). Pengaruh Komite Audit, Proporsi Komisaris Independen, Dan Proporsi Kepemilikan Institusional Terhadap Tax Avoidance. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 16(1), 702–732.
Ghanem, H. Bin. (2016). The effect of board of directors and audit committee effectiveness on Internet financial reporting : evidence from Gulf Co-Operation Council countries. Journal of Accounting in Emerging Economies.
Ghozali, I., & Ratmono, D. (2017). Analisis Multivariat dan Ekonometrika dengan Eviews 10 (2nd ed.). Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gunawan, A. (2019). Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Kualitas Informasi Internet Financial Reporting Dengan Kepemilikan Saham Publik Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Ekonomi Dan Sosial, 10(1), 1–10.
Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). THEORY OF THE FIRM: MANAGERIAL BEHAVIOR, AGENCY COSTS AND OWNERSHIP STRUCTURE Michael. Journal of Financial Economics, 3, 305–360. https://doi.org/10.1177/0018726718812602
Katutari, R. A., Nur, E., & Yuyetta, A. (2019). Pengaruh Kepemilikan Institusi, Karakteristik Dewan Komisaris Dan Komite Audit Terhadap Profitabilitas. Diponegoro Journal of Accounting, 8(3), 1–12.
Kurniawan, K. F., & Mutmainah, S. (2020). Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Waktu Pelaporan Keuangan. Jurnal Akuntansi Dan Governance Andalas, 3(1), 30–49.
Kurniawati, Y. (2018). Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Pada Internet Financial Reporting ( IFR ) Di Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Dalam Bursa Efek Surabaya (BES). Media Komunikasi Ekonomi Dan Manajemen, 16(2), 289–299.
Li, J., Mangena, M., & Pike, R. (2012). The effect of audit committee characteristics on intellectual capital disclosure. British Accounting Review, 44(2), 98–110.
https://doi.org/10.1016/j.bar.2012.03.003
Madi, H. K., Ishak, Z., & Manaf, N. A. A. (2014). The Impact of Audit Committee Characteristics on Corporate Voluntary Disclosure. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 164, 486–492.
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.11.106
Nassir Zadeh, F., Salehi, M., & Shabestari, H. (2018). The relationship between corporate governance mechanisms and internet financial reporting in Iran. Corporate Governance (Bingley), 18(6), 1021–1041. https://doi.org/10.1108/CG-06-2017-0126
Peraturan OJK Nomor 8/POJK.04/2015 Tentang Situs Web Emiten atau Perusahaan Publik, (2015).
https://www.ojk.go.id/id/kanal/pasarmodal/regulasi/peraturan-ojk/Pages/Peraturan-OJK-Nomor- 8-POJK-04-2015-tentang-Situs-Web-Emiten-atau-Perusahaan-Publik.aspx
Pucheta-Martínez, M. C., & Fuentes, C. de. (2007). The Impact of Audit Committee Characteristics on the Enhancement of the Quality of Financial Reporting: an empirical study in the Spanish context. International Journal of Economics and Accounting, 15(6), 100.
https://doi.org/10.1504/ijea.2011.038965
Puspitaningrum, D., & Atmini, S. (2012). Corporate Governance Mechanism and the Level of Internet Financial Reporting: Evidence from Indonesian Companies. Procedia Economics and Finance, 2(Af), 157–166. https://doi.org/10.1016/s2212-5671(12)00075-5
Putri, I. gusti A. M. A. D., & Ulupui, I. G. K. A. (2017). Pengantar Corporate Governance. CV.
Sastra Utama.
Rahadhian, A., & Septiani, A. (2014). ANALISIS PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP TINGKAT PENGUNGKAPAN INTERNET CORPORATE ( Studi Empiris pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) pada Tahun 2013 ). Diponegoro Journal of Accounting, 3(4), 1–12.
Riduan Abdillah, M. (2019). Pengaruh Strategi Bisnis terhadap Internet Financial Reporting dan Agency Cost sebagai Variabel Intervening. DINAMIKA EKONOMI Jurnal Ekonomi Dan Bisnis,
12(1), 1–18. https://journal.stienas-
ypb.ac.id/plugins/generic/pdfJsViewer/pdf.js/web/viewer.html?file=https%3A%2F%2Fjournal.s tienas-ypb.ac.id%2Findex.php%2Fjdeb%2Farticle%2Fdownload%2F168%2F204%2F
Rizqiah, R. N., & Lubis, A. T. (2017). PENERAPAN INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) PADA BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Islam, 5(1), 63–81. https://doi.org/10.25105/mraai.v16i2.1643
Salehi, M., & Shirazi, M. (2016). Audit committee impact on the quality of financial reporting and disclosure: Evidence from the Tehran Stock Exchange. Management Research Review, 39(12), 1639–1662. https://doi.org/10.1108/MRR-09-2015-0198
Setiawan, A. S., & Michael, M. (2020). Level Teknologi, Foreign Ownership, dan Implementasi Internet Financial Reporting. Jurnal ASET (Akuntansi Riset), 12(2), 317–331.
https://ejournal.upi.edu/index.php/aset/article/view/25494
Spanos, L. (2006). Corporate Reporting on the Internet in a European Emerging Capital Market: the Greek Case. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences, 7, 1–23.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.914468
Suyono, E. (2018). Peran Komite Audit dalam Meningkatkan Kualitas Pengungkapan Laporan Keuangan : Bukti Empiris di Bursa Efek Negara-negara Teluk. Jurnal Visioner & Strategis, 7(1), 7–16.
Yap, K. H., Saleh, Z., & Abessi, M. (2011). Internet financial reporting and corporate governance in Malaysia. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(10), 1273–1289.
Zamroni, M., & Aryani, Y. A. (2018). Initial Effects of Mandatory XBRL Adoption across the Indonesia Stock Exchange`s Financial Information Environment. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 22(2), 181–197. https://doi.org/10.26905/jkdp.v22i2.2092
Zulfikar, R., Nofianti, N., & Faozy, A. N. (2018). PENGARUH KOMISARIS INDEPENDEN DAN KARAKTERISTIK KOMITE AUDIT TERHADAP INTERNET FINANCIAL REPORTING DISCLOSURE Rudi Zulfikar*, Nana Nofianti**, Azy Nur Faozy***. Akuisisi, Journal Akuntansi, XIV(Ii), 110–121.