PERBANKAN DI INDONESIA
Sejarah perkembangan perbankan
• Zaman Babilonia
Praktek perbankan didominasi dengan transaksi peminjaman emas dan perak pada pedagang yang membutuhkan, dengan tingkat bunga 20% per bulan dan bank tersebut adalah Temples of Babylon.
• Praktik perbankan Yunani
Praktek perbankan yang berkembang antara lain adalah menerima simpanan dari masyarakat dan menyalurkan pada kalangan bisnis. Pihak bank mendapat penghasilan dari menarik biaya dari jasa penyimpan uang masyarakat dan mulai bermunculan bank-bank swasta.
• Masa Romawi
Praktik perbankan meliputi: praktik tukar-menukar uang,
menerima deposito, memberi kredit dan melakukan transfer dana.
Sejarah perkembangan perbankan modern
• Era perbankan modern dimulai pada abad-16 di Inggris, Belanda, dan Belgia. Pada awalnya para tukang emas bersedia menerima uang logam (emas dan perak) untuk disimpan dengan tanda bukti surat deposito yang disebut Goldsmith’s Note dan ini di gunakan sebagai alat
pembayaran. Ini awal munculnya uang kertas.
•
Perkembangannya muncul berbagai masalah yaitu pengaturan sistem keuangan yang berkaitan
dengan mekanisme penentuan volume uang yang beredar dalam perekonomian. Permasalahan inilah yang kemudian mendorong munculnya regulasi-
regulasi perbankan karena memang praktik
perbankan memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap volume uang.
Bentuk lembaga keuangan
Kegiatan
Lembaga Keuangan
Bank Bukan Bank
Penghimpun Dana
Secara langsung berupa simpanan dana masyarakat (tabungan, giro, deposito)
Secara tidak langsung dari masyarakat (kertas berharga, penyertaan, pinjaman/kredit dari lembaga lain
Hanya secara tidak langsung dari masyarakat (terutama melalui kertas berharga, dan bisa juga dari penyertaan, pinjaman/kredit dari lembaga lain)
Penyaluran Dana
Untuk tujuan modal kerja, investasi, konsumsi
Kepada badan usaha dan individu
Untuk jangka pendek.
Menengah dan panjang
Terutama untuk tujuan investasi
Terutama kepada badan usaha
Terutama untuk jangka menengah dan panjang.
Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia
No.792 tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan”, diberikan batasan kegiatannya di bidang keuangan yaitu, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat. Perbedaan lembaga tersebut:
5
Secti on
Materi
• Sistem Keuangan di Indonesia
• Pengertian Hukum Perbankan
• Kelembagaan Perbankan
• Kegiatan Usaha Bank
• Perkreditan dan Jaminan (Aspek hukum yang harus dikuasai dalam analisis kredit, Aspek Hukum dalam Perjanjian Kredit dan Bentuk-bentuk Pengikatan Jaminan)
6
Sistem Keuangan Indonesia : Berbasis Pasar atau Bank
?
Sistem keuangan yg efisien adalah sistem yg mampu menyalurkan sumber
dana kepada unit usaha yg paling produktif.
Untuk tujuan tersebut sistem keuangan harus mampu berfungsi sbg:
1. Sistem pembayaran;
2. Mekanisme yg mampu mengumpulkan sumber dana;
3. Mengelola ketidakpastian dan melakukan kontrol terhadap risiko;
4. Mekanisme penyediaan informasi untuk keputusan alokasi sumber daya;
5. Mekanisme untuk mengatasi akibat informasi yg tidak berimbang.
Sistem Keuangan di Indonesia
7
Dasar Hukum:
Dasar hukum : UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana
diubah dengan UU No. 10 tahun 1998.
Perbankan adalah:
Segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahannya.
Prinsip perbankan : kehati-hatian (prudential banking).
Fungsi : penghimpun & penyalur dana masyarakat sbg penunjang pelaksanaan pembangunan nasional.
Pengertian
Hukum Perbankan
8
Bank Indonesia:
Tugas Pokok Bank Indonesia:
1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran;
3. Mengatur dan mengawasi bank.
Ada wacana pengawasan bank BI atau OJK (Otoritas Jasa Keuangan) ?
Bank adalah:
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat daam bentuk kredit
dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
orang banyak.
Kelembagaan Perbankan (1)
9
Bank Konvensional:
Bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan
berdasarkan jenisnya terdiri dari Bank Umum Konvensional dan Bank
Perkreditan Rakyat.
Bank Syariah:
Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah
dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.
Kelembagaan Perbankan (2)
10
SUBYEK HUKUM (CALON DEBITUR)
BADAN HUKUM:
•PT
•KOPERASI
•BUMN
•BUMD
•YAYASAN
NON BADAN HUKUM:
•CV
•FIRMA
•PERSEKUTUAN PERDATA
NASABAH DEBITUR
BADAN PERORANGAN
ORANG PERORANGAN
PERUSAHAAN DAGANG
Badan Usaha
BADAN USAHA
BUKAN BADAN HUKUM
BADAN HUKUM
BADAN HUKUM PUBLIK
Badan yang didirikan oleh negara dengan peraturan perundang-undangan yang kegiatannya
melaksanakan kegiatan publik dan mem-punyai
wewenang untuk
membuat peraturan yang mengikat publik, contoh : Instansi Pemerintah
BADAN HUKUM PERDATA
Badan yang didirikan oleh orang perorangan atau suatu badan
BADAN HUKUM PERDATA YANG MENJALANKAN
USAHA
BADAN HUKUM PERDATA YANG TIDAK MENJALANKAN
USAHA
misal : Yayasan, Perkumpulan (misal :IDI, IAI, PWI)
Firma, CV
Uang dalam pengertian sempit
• Uang dalam pengertian sempit adalah bentuk uang yang dianggap memiliki likuiditas paling tinggi.alam pengertian sempit Uang dalam
penghitunga teoritis sering kali diberi notasi M1.
Jenis uang tersebut adalah:
1. Uang kartal adalah uang resmi atau alat
pembayaran yang sah yang dikeluarkan oleh bank sentral atau Bank Indonesia berupa uang kertas dan uang logam yang biasa digunakan masyarakat untuk kegiatan ekonomi sehari- hari.
2. Uang giral adalah simpanan dana
masyarakat pada lembaga keuangan bank
berupa rekening giro.
Uang dalam pengertian luas
• Uang dalam pengertian luas bisa diartikan dalam dua kelompok, yaitu:
1. Notasi M2. Biasanya terdiri dari narrow money ditambah dengan rekening tabungan (saving deposit) dan rekening deposito berjangka (time deposit)
2. Notasi M3. Terdiri dari M2 ditambah dengan
seluruh simpanan dana masyarakat kepada
lembaga keuangan bukan bank.
Syarat uang
1. Dapat diterima secara umum. Bila uang tidak diterima dan
diketahui secara umum maka tidak mungkin digunakan sebagai alat pertukaran.
2. Memiliki nilai yang stabil. Bila uang tidak memiliki nilai yang stabil, orang tidak akan menaruh kepercayaan. Dalam
kenyataannya nilai uang slalu berubah. Meskipun demikian perlu dijaga agar perubahan tersebut tidak besar.
3. Jumlah yang beredar harus mencukupi kebutuhan. Kekuarangan suplai uang akan membahayakan kegiatan perekonomian. Oleh kerena itu, otoritas moneter perlu mementau perkembangan perekonomian sehingga elastisitas ketersediaan dana tetap terjaga.
4. Mudah dibawa untuk urusan setiap hari dan justru tidak menjadi hambatan untuk melaksanakn transaksi.
5. Tahan lama, dalam proses transaksi bisnis uang berpindah- pindah tangan maka harus dijamin agar nilai fisiknya mampu bertahan.
Peran uang 1. Alat tukar menukar. Sebagai alat untuk mempertemukan antara penjual dan pembeli.
2. Alat pengukur nilai. Digunakan sebagai alat yang dapat menunjukan nilai
barang dan jasa yang diperjual belikan, besarnya kekayaan seseorang.
3. Standar pembayaran masa depan yaitu digunakan sebagi pencicil utang.
4. Alat penimbun kekayaan atau daya beli. Uang sebagai salah satu alat
penimbun kekayaan karena keyakinan
bahwa bila uang digunakan pada masa
kini akan memiliki nilai masa kini dan
bila digunakan pada masa depan akan
memiliki nilai pada masa depan.
Fungsi bank
1. Agen of trust (kepercayaan). Kepercayaan baik dalam hal menghimpun dana maupun penyalur dana.
2. Agen of development (mobilisasi dana untuk pembanguann ekonomi). Kegiatan
perekonomian masyarakat di sektor moneter dan di sektor rill tidak dapat dipisahkan.
3. Agent of services (mobilisasi dana untuk pembanguann ekonomi). Di samping
melakukan kegiatan penghimpun dan penyalur dana, bank juga memberikan jasa perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa tersebut antara lain berupa jasa pengiriman uang,
penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank dan penyelesaian tagihan.
Peran Bank Dan Lembaga Keuangan Bukan Bank
a. Pengalihan asset. Bank dan lembaga keuangan bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak yang
membutuhkan dana dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
b. Transaksi. Bank dan lembaga keuangan bukan bank
memberikan berbagai kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi barang dan jasa. Produk-produk yang dikeluarkan: giro, tabungan, deposito, saham dan
sebaginya. Merupakan pengganti uang sebagai alat pembayaran.
c. Likuiditas. Produk-produk yang dikeluarkan oleh bank masing- masing memiliki tingkat likuiditas yang berbeda-beda. Untuk kepentingan likuiditas para pemilik dana dapat menempatkan dananya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan.
d. Efisiensi. Bank dan lembaga keuangan bukan bank dapat menurunkan biaya transaksi dengan jangkauan pelayanan.
Kondisi perbankan di Indonesia sebelum Deregulasi
•
Fungsi utama perbankan pada masa penjajahan adalah:
1. Memobilisasikan dana dari investor untuk membiayai kebutuhan dana investasi dan modal kerja perusahaan-perusahaan besar milik kolonial.
2. Memberikan jasa-jasa keuangan kepada perusahaan-perusahaan besar milik kolonial, seperti giro, garansi bank, pemindahan dana dan lain-lain.
3. Membatu pemindahan dana jasa modal dari wilayah kolonial ke negara penjajah.
4. Sebagai tempat sementara dari dana hasil pemungutan pajak, baik pajak dari perusahaan-perusahan maupun dari masyarakat
pribumi, untuk kemudian dikirim ke negara penjajah.
5. Mengadminitrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah kolonial.
Fungsi Utama Perbankan Pada Masa Setelah Kemerdekaan
1) Memobilisasikan dana dari investor untuk
membiayai kebutuhan dana investasi dan modal kerja perusahaan-perusahaan besar milik
pemerintah dan swasta.
2) Memberikan jasa-jasa keuangan kepada perusahaan-perusahaan besar.
3) Mengadminitrasikan anggaran pemerintah untuk membiayai kegiatan pemerintah.
4) Meyalurkan dana anggaran untuk membiayai
program dan proyek pada sektor-sektor yang ingin
dikembangkan pemerintah.
Kondisi sesudah Deregulasi
• Paket 1 Juni 1983: penghapusan pagu kredit dan pembatasan aktiva, pengurangan KLBI maupun kebebasan bank menetapkan suku bunga simpanan dan pinjaman.
• Bank Indonesia sejak 1984 mengeluarkan SBI
• Bank Indonesia sejak 1985 mengeluarkan ketentuan perdagangan SBPU dan fasilitas diskonto oleh BI.
• Paket 27 Oktober 1988: penerahan dana masyarakat, efisiensi lembaga keuangan, pengendalian kenijakan moneter,
pengembangan pasar modal
• Paket 20 Desember 1988 Paket 25 Maret 1989: aturan
penyelenggaraan baru efek oleh swasta, alternatif sumber pembiayaan ,Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat
melakukan kegiatan perdagangan surat berharga, kartu kredit anjak piutang dan pembiayaan konsumen maupun kesempatan pendirian perusahaan asuransi kerugian, asuransi jiwa, reasuransi, broker
asuransi, adjuster asuranis dan aktuaria.
Lanjutan
•
Paket 25 Maret 1989: penyempurnaan paket sebelumnya maupun Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank dapat
memiliki net open position maksimum sebesar 25% dari modal sendiri.
•
Paket 29 Januari 1990: penyempurnaan program perkreditan kepada usaha kecil agar dilakukan secara luas oleh semua bank.
•
Paket 28 Februari 1991: penyempurnaan paket sebelumnya menuju penyelenggaraan lembaga keuangan dengan prinsip kehati-hatian, sehingga dapat tetep mempertahankan
keoercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan.
•
UU Nomer 7 Tahun 1992 tentang perbankan.
•
Paket 29 Mei 1993 berisi tentang penyempurnaan aturan
kesehatan bank
Ciri-ciri perbankan setelah diregulasi
1. Peraturan yang memberikan kepastian hukum.
2. Jumlah bank swasta bertambah banyak.
3. Tingkat persaingan bank yang semakin kuat
4. Sertifikat Bank Indonesia dan Surat Berharga Pasar Modal. Merupakan salah satu sumber alternatif penghimpun dana dan penyalura dana.
5. Kepercayaan masyarakat terhadap bank yang meningkat.
6. Mobilisasi dana melalui sektor perbankan yang
semakin besar.
Kondisi saat krisis ekonomi (akhir tahun 1990-an)
1) Tingkat kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap perbankan di Indonesia menurun drastis.
2) Sebagian besar bank dalam keadaan tidak sehat
3) Adanya spread negatif
4) Munculnya penggunaan peraturan perundangan yang baru
5) Jumlah bank menurun.
Peraturan dan perundangan baru
• Undang-undang Nomer 3 Tahun 2004 tentang Perubahaan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
• Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.
• Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/33/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Umum.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/34/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Umum Berdasarkan prinsip Syariah.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/35/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Perkreditan Rakyat.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/36/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Perkreditan Rakyat prinsip Syariah.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/37/KEP/DIR tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Persyaratan dan Tata Cara Pembukaan Kantor Cabang, Kator Cabang Pembantu, dan Kantor Perwakilan dari Bank Yang
Berkedudukan di Luar Negeri.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/50/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pembelian Saham Bank Umum.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/51/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Persyaratan dab Tata Cara Merger, Konsolidasi dan Akusisi Bank Umum.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/52/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Persyaratan dab Tata Cara Merger, Konsolidasi dan Akusisi Bank Perkreditan Rakyat.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank Umum.
• Surat Keputusan Direksi BI Nomor 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank Perkreditan Rakyat.
Kondisi terakhir
1. Selesainya penyusutan Arsitektur Pernbankan Indonesia (API).
2. Serangkaian rencana dan komitmen pemerintah, DPR dan Bank Indonesia untuk membentuk atau menyusun: lembaga penjamin simpanan, lembaga pengawas perbankan yang
idependen dan Otoritas jasa keuangan
3. Kinerja perbankan yang lebih menunjukan kondisi masa peralihan
4. Penyaluran dana masyarakat kearah yang lebih
mencerminkan bank sebagai perantara keuangan dengan
tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian.
Arsitektur Perbankan Indonesia
API
Pengertian
• API yaitu suatu kerangka dasar pengembangan sistem perbankan Indonesia 5 sampai 10
tahun kedepan
• VISI API
–
Menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien
–
Menciptakan kesetabilan sistem keuangan
–Mendorong pertumbuhan ekonomi nasional
Kronologis API
API merupakan kebutuhan mendesak perbankan Indonesia untuk memperkuat fundamental industri perbankan
Der. Perbankan 1980 an
Belum memiliki industri Perbankan yang kuat
Krisis Eko Basel Committee
Kebutuhan Stabil Keuangan Internasional
Upaya Penyehatan Perbankan Nasional
API
Basel 1997
On Banking Supervision (komite pengawasan Perbankan)
Berdiri 1995
Enam Pilar API
Untuk merealisasikan pencapaian visi API ditetapkan 6 pilar API sebagai berikut:
1. Menciptkan struktur perbankan domestik yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pemb.eko
nasional yang berkesinambungan
2. Menciptakan sistem pengaturan & pengawasan yang efektif &
mengacu pada standard internasional
3. Menciptakan idustri perbankan yang kuat & memiliki daya saing tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi resiko
4. Menciptakan tata kelola perusahaan yang baik Good Corporate Governance dalam rangka memperkuat kondisi internal
perbankan nasional
5. Mewujuidkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat
6. Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan.
Tantangan Perbankan Nasional
1. Pertumbuhan Kredit Perbankan Rendah
• Pertumbuhan ekonomi tinggi perlu di imbangi oleh pertumbuhan kredit yang tinggi pula
• Penyaluran kredit belum optimal padahal bank berperan sebagai perantara keuangan
2. Struktur Perbankan Belum Optimal
• Terkonsentrasi pada 11 Bank besar yang menguasai 75% aset perbankan
• Bank kecil memiliki kemampuan operasional, manajemen dan tata kelola yang terbatas
3. Pemenuhan Kebutuhan Layanan Perbankan Rendah
• Masyarakat menuntut kualitas pelayanan dan akses perbankan semakin tinggi dan berkualitas
• Antisipasi efek samping ( Tindak kejahatan dan Penipuan )
4. Pengawasan Bank Perlu ditingkatkan
• Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) suatu saat diharapkan lebih mengefektifkan pengawasan bank dan lembaga keuangan
5. Kapabilitas Perbankan Masih Lemah ukurannya menggunakan:
• Good Corporate Governance ( Tata Kelola Perusahaan Prima )
• COR Banking Skills
• Peningkatan Prinsip Kehati-hatian
• Manajemen resiko dan keahlian pokok perbankan
6. Profitabilitas & Efisiensi Bank Tidak Mampu Bertahan keadaan seperti ini disebabkan oleh:
• Faktor marjin ( Suku bunga rendah )
• Biaya Operasional Relatif Tinggi
– Profitabilitas & Efisiensi memungkinkan bank berkembang menghadapi siklus bisnis
– Semakin banyak nasabah namun tidak proporsional menyebabkan biaya rata-rata meningkat
7. Perlindungan Nasabah Masih Harus Ditingkatkan
• Tantangan perbankan dan masyarakat adalah
menciptakan standard yang jelas dalam mekanisme pengaduan nasabah
• Transparasi
8. Perkembangan Teknologi Informasi
• Perkembangan teknologi informasi menaikkan tingkat dan variasi resiko
Transparansi Produk
Pengaduan Nasabah
MEDIASI PERBANKANPBI No.8/5/PBI/2006 jo PBI No.10/1/PBI/2008
Program Kegiatan API (2004-2013)
1. Penguatan Struktur Perbankan Nasional
2. Peningkatan Kualitas Pengaturan Perbankan 3. Peningkatan Fungsi Pengawasan
4. Peningkatan Kualitas Manajemen & Operasi Perbankan
5. Pengembangan Infrastruktur Perbankan 6. Peningkatan Perlindungan Nasabah
(keterangan lebih lanjut pada slide berikutnya)
1. Penguatan Struktur Perbankan Nasional
Tujuan
•
Penguatan permodalan bank
•
Mengelola Resiko
•
Teknologi Informasi
•
Pertumbuhan Kredit
Untuk mencapai tujuan tersebut dilaksanakan dengan:
1. Penambahan modal baru melalui pemegang saham baru atau ivestor baru
2. Merjer untuk mencapai persyaratan modal minimum baru
3. Penerbitan saham baru atau Secondary offering di pasar modal 4. Subordinate Loan ( penerbitan pinjaman sub ordinasi )
• Waktu 10 – 15 tahun kedepan
mewujudkan terciptanya struktur perbankan yang optimal
• Ilustrasi struktur perbankan indonesia sesuai dengan Visi API
(Dijelaskan pada slide berikutnya)
Waktu 10-15 tahun kedepan diharapkan akan tercipta struktur perbankan yang optimal
2-3 Bank
Int (kate
gori moda l
>Rp.5
3-5 Bank Nas0T
(kategori Modal Rp 30-50 T)
(kategori Modal Rp10-30 T) DAE, KOP, RIT, dll
(kategori Modal Rp.0,1-10 T) BPD, B.Dg.KEG
2. Peningkatan Kualitas Pengaturan Perbankan
• Target BI 5 tahun kedepan akan sejajar dengan negara lain dalam penerapan International Best Practice
• Tahun 2006, BI telah memiliki sistem
penyusunan kebijakan perbankan yang
efektif
3. Peningkatan Fungsi Pengawasan
Target Bank Indonesia 2 tahun kedepan akan melakukan pengawasan yang lebih
efektif dan sejajar dengan negara lain
4. Peningkatan Kualitas Manajemen &
Operasional Perbankan
Target Bank Indonesia 5 tahun kedepan, internal perbankan akan memiliki
kemampuan dalam menghadapi resiko
yang lebih baik
5. Pengembangan Infatruktur Perbankan
• Target 3 Tahun kedepan Bank Indonesia, tersedia
– kredit Bureu
– Lembaga Pemeringkat Kredit
– SKIM Penjamin Kredit
6. Peningkatan Perlindungan Nasabah
Target untuk 5 tahun kedepan Bank Indonesia, akan tersedia:
•
Standard Pengaduan
•
Lembaga Mediasi Independen
•
Transparansi
•
Edukasi Nasabah
Sehingga pada akhirnya nanti akan
meningkatkan kepercayaan nasabah pada
sistemperbankan.
Tahap-Tahap Implementasi
I. Penguatan Struktur Perbankan Nasional
Memperkokoh Permodalan Bank
a. Syarat Modal Minimum Rp.100 M
b. Syarat Pendirian Bank Baru Modal Rp. 3 T
Memperkuat Daya Saing BPR
a. Tingkat Linkage Program Bank Umum & BPR b. Pembukanan Kantor Cab. BPR dipermudah c. Fasilitas Bentuk Jasa Bersama BPR
Meningkatkan Akses Kredit
a. Fasilitas Bentuk Skema Penjamin Kredit
b. Mendorong Penyaluran Kredit Sektor Usaha Tertentu
II. Peningkatan Kualitas Pengatur Perbankan
Memformat Proses Sindikasi Dalam Bank Umum AT.
Kebijakan Perbankan melalui:
a. Melibatkan pihak ke III dalam tiap pembuatan kebijakan perbankan
b. Membentuk Panel Ahli Perbankan
c. Fasilitas Pembentuk Lembaga Riset Perbankan di Daerah dan Pusat
Implementasi Secara Bertahap untuk 25 Basel Core
Principles for Effektive Banking Supervision
III. Peningkatan Fungsi Pengawasan, melalui:
1. Meningkatkan koordinasi antara lembaga pengawasan
a. Dengan melakukan koordinasi & kerjasama secara reguler
2. Melakukan konsolidasi sektor perbankan Bank Indonesia
a. Konsolidasi fungsi pengawas dan pemeriksa b. Reorganisasi struktur perbankanBank Indonesia
c. Pembentukan tim enforcement & tim khusus pemeriksa spesialis
3. Meningkatkan Kompetensi Pemeriksa Bank
4. Mengembangkan Sistem Pengawasan Berbasis Resiko
a. Desain model berbasis resiko untuk pengawasan
5. Meningkatkan Efektifitas Enforcement
a. Sempurnakan proses investigasi kejahatan perbankan b. Meningkatkan transparasi pengawasan dan enforcement c. Tingkat perlindungan hukum bagi pengawasan bank
IV. Peningkatan Manajemen & Operasi Bank
1. Meningkatkan Good Corporate Governance, melalui:
a. Menetapkan standard minimum untuk GCG b. Mendorong Bank untuk Go Public
2. Meningkatkan Kualitas Manajemen Resiko Perbankan, melalui:
a. Syarat sertifikasi manajemen resiko
3. Meningkatkan Kemampuan Operasi Bank, melalui:
a. Mendorong Bank-bank untuk menggunakan fasilitas opersi untuk menekan biaya
b. Faislitas kebutuhan pendidikan dalam rangka peningkatan operasional bank
V. Pengembangan Infrastruktur Perbankan, melalui:
1. Mengembangkan Biro Kredit ( Credit Bureu )
a. Melakukan inisiatif pembentukan Credit Bureau
2. Mengoptimalkan Penggunaan Badan Pemeringkat Kredit
(Credit Rating Agencies )
a. Syarat rating bagi obligasi yang diterbitkan oleh bank
VI. Peningkatan Perlindungan Nasabah
1. Menyusun Standard Mekanisme Pengaduan Nasabah
a. Menetapkan persyaratan minimum dalam mekanisme pengaduan konsumen
2. Membentuk Lembaga Mediasi Independen
a. Memfasilitasi pendirian lembaga mediasi perbankan
3. Menyusun Transparansi Informasi Produk
a. Memfasilitasi penyusunan standard minimum transparansi informasi produk bank
4. Promosikan Edukasi Untuk Konsumen
a. Mendorong bank-bank untuk melakukan edukasi pada konsumen tentang produk-produk finansial